PENGURAPAN RAJA (4)
III. DIUJI
Dalam berita ini kita tiba pada masalah ujian terhadap Raja yang baru dilantik (4:1-11). Setelah diurapi, Tuhan di-cobai. Urutan dalam administrasi Allah selalu pemilihan, pengurapan, dan pengujian. Ini bisa kita ilustrasikan dengan kehidupan pernikahan. Sebelum menikah, tentu saja Anda mengadakan pemilihan. Di antara sekian banyak orang, Anda memilih satu orang. Setelah pemilihan, tibalah pada pe-resmian nikah, dan setelah peresmian nikah sampailah pada pengujian. Hampir setiap pasangan yang menikah pasti meng-alami pengujian. Meskipun kita telah berhasil dalam peres-mian nikah, belum tentu kita berhasil dalam menempuh ujian pernikahan.
Setelah sang Raja Surgawi diurapi dan dilantik, Dia dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun untuk diuji. Dia pergi ke padang gurun bukan atas maksud-Nya sendiri, melainkan dibawa oleh Roh Kudus yang turun di atas-Nya. Dalam kehidupan pernikahan, Allah juga membawa kita ke dalam ujian. Ada sejumlah saudara saudari muda yang me-ngeluh kepada Allah, “Tuhan, sebelum aku menikah, aku telah banyak berdoa kepada-Mu. Akhirnya Engkau memberi tahu aku bahwa kehendak-Mu ialah supaya aku menikah de-ngan dia; dia adalah orang yang Engkau sediakan bagiku. Tuhan, Engkau tahu pada mulanya aku tidak tertarik, na-mun dalam kuasa kedaulatan-Mu, Engkau mengatur kami bersama. Namun lihatlah situasi hari ini. Lihatlah pada orang yang Engkau berikan kepadaku. Engkau yang salah atau aku yang salah?” Baik Tuhan maupun Anda tidak melakukan kesalahan. Ini adalah ujian Tuhan.
Saya yakin bahwa semua pernikahan itu berada di bawah kedaulatan Tuhan; termasuk juga mereka yang seolah-olah salah jodoh. Tanpa seizin kedaulatan Allah takkan ter-jadi apa pun pada anak-anak Allah. Kita tahu bahwa segala sesuatu bekerja sama demi kebaikan kita (Rm. 8:28), ter-masuk pula yang seolah-olah salah jodoh. Siapa yang tahu, apakah pernikahan yang benar itu? Saya mempunyai peng-alaman bertahun-tahun dalam kehidupan pernikahan. Empat puluh lima tahun yang lalu, saya bisa memberi tahu orang lain dengan pasti, jelas, dan tegas apakah pernikahan yang benar itu. Namun jika hari ini Anda mengajukan pertanyaan ini, saya akan menjawab, “Saya tidak dapat memahami ini sampai kita memasuki kekekalan. Setelah pengalaman de-mikian banyak tahun dalam kehidupan pernikahan, saya benar-benar tidak paham apakah pernikahan yang benar itu.” Namun saya telah mempelajari bahwa setiap pernikahan itu berada di bawah kuasa kedaulatan Allah. Jadi, kita se-mua memiliki pernikahan yang benar. Wahai para saudara, istri kalian justru adalah orang yang tepat bagi Anda. Dan saudari-saudari, suami kalian adalah orang yang tepat bagi Anda. Baik Anda percaya atau tidak akan hal ini, Anda tidak dapat melarikan diri dari situasi Anda. Setelah kaum muda dan orang-orang setengah baya menikah selama bertahun-tahun, boleh jadi mereka berpendapat bahwa mereka telah melakukan kesalahan dan bila mereka melakukannya lagi, maka mereka akan melakukannya secara berlainan. Saya bisa menjamin Anda bahwa sekalipun Anda bisa melaku-kannya berkali-kali, Anda tetap merasa bahwa Anda telah melakukan kesalahan. Hampir semua orang yang mau me-nikah berpikir bahwa mereka sudah melaksanakan pilihan yang tepat, namun setelah beberapa tahun, mungkin sudah berkali-kali mereka merasa bahwa mereka telah salah. Se-babnya tak lain, Allah telah meletakkan kita ke dalam ujian kehidupan pernikahan.
Tuhan menguji kita bukan hanya dalam kehidupan per-nikahan, bahkan dalam hidup gereja (church life). Ketika per-tama kali kita masuk dalam hidup gereja, kita mengalami masa bulan madu hidup gereja. Kita menikmati kemuliaan hidup gereja, dan setiap hal itu indah. Namun, cepat atau lambat kita akan diletakkan dalam ujian. Setiap saudara yang berada dalam kepenatuaan akan diuji, dan ujian itu biasanya datang dari penatua-penatua yang lain. Mungkin pada mu-lanya dalam lokalitas Anda, Anda adalah satu-satunya orang yang lebih tua. Anda lalu mencari beberapa orang lain untuk membantu Anda, dan akhirnya bertambah dua orang. Setelah beberapa bulan, semuanya saling menguji. Tuhanlah yang menyediakan ini. Dalam ekonomi Allah, setelah kita diten-tukan untuk sesuatu, kita selalu akan diuji. Bila Tuhan Yesus memerlukan ujian, apalagi kita.
Selama bertahun-tahun saya tidak bisa memahami sepenuhnya potongan firman ini. Meskipun saya telah mendengar sejumlah berita atas bagian ini, tak seorang pun di antara mereka yang menaruh hati atasnya. Untuk memahami sepenuhnya, kita perlu nampak bahwa dalam ekonomi Allah kita selalu akan diuji setelah kita diurapi dan ditentukan untuk sesuatu. Bahkan Tuhan Yesus pun tidak terkecuali. Seperti yang akan kita lihat, prinsipnya semua ujian itu sama.
A. Dibawa oleh Roh
Dalam 4:1 mengatakan, “Lalu Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.” Setelah dibaptis dalam air dan diurapi dengan Roh Allah, Yesus sebagai manusia bergerak menurut pimpinan Roh. Ini menunjukkan bahwa ministri Raja-Nya dalam keinsanian-Nya dilakukan menuruti Roh.
Pertama-tama, Roh membawa Raja yang telah diurapi untuk dicobai oleh Iblis. Pencobaan ini adalah suatu ujian untuk membuktikan bahwa Dia bersyarat menjadi Raja Ke-rajaan Surgawi. Iblis dalam bahasa Yunaninya diterjemahkan diabolos, artinya pendakwa, pemfitnah (Why. 12:9-10). Iblis, yaitu Satan, mendakwa kita di hadapan Allah dan memfitnah kita di hadapan manusia.
B. Berpuasa Selama Empat Puluh Hari
Empat Puluh Malam
Ayat 2 mengatakan Tuhan berpuasa empat puluh hari empat puluh malam. Empat puluh hari empat puluh malam adalah masa pengujian dan penderitaan (Ul. 9:9, 18; 1 Raj. 19:8). Raja yang baru diurapi dipimpin oleh Roh untuk berpuasa sejangka waktu agar Dia dapat masuk ke dalam ministri rajani-Nya.
C. Pencobaan si Pencoba
1. Mengubah Batu Menjadi Roti
Ujian pertama adalah masalah penghidupan insani, yaitu masalah nafkah. Sanak saudara kita, terutama generasi yang lebih tua, selalu memperhatikan tentang bagaimana mencari nafkah. Mereka mungkin berkata, “Mengasihi Tuhan itu ti-dak salah, tetapi jangan mengasihi Dia dengan fanatik. Kamu harus memperhatikan kebutuhanmu untuk mencapai peng-hidupan yang baik.” Ketika pada tahun 1933 saya dibebani oleh Tuhan dan ditarik untuk meninggalkan pekerjaan saya, ipar saya berkata, “Kamu telah mempunyai mata pencaha-rian yang baik. Dan kamu mampu membiayai keluargamu serta membantu yang lain. Kamu dapat berkhotbah pada hari Minggu dan menghadiri sidang pada malam hari. Mengapa harus melepaskan mata pencaharianmu? Banyak yang me-mimpikan pekerjaan seperti ini, tetapi tidak ada kesempatan memperolehnya. Sedangkan kamu malahan akan melepas-kannya. Kami khawatir bagaimana kamu mampu menempuh kehidupan selanjutnya. Kami tidak tahu bagaimana kamu akan memelihara istri dan anak-anakmu.” Saya tidak men-dengarkan nasihat mereka; mereka tidak bisa mencegah saya meninggalkan mata pencaharian saya untuk melayani Tuhan sepenuh waktu. Sering kali ipar saya bahkan me-nyuruh anak perempuannya yang kecil menyelinap ke dapur untuk melihat apakah kami ada makanan. Mereka khawatir kalau kami kelaparan. Masalah penghidupan memang sa-ngat menyentuh kita, bahkan Tuhan Yesus pun diuji atas masalah ini.
Tuhan dibawa berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam. Setelah empat puluh hari empat puluh malam ini, Ia lapar, dan si pencoba datang kepada-Nya sambil ber-kata, “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti” (ayat 3). Terhadap usul ini Tuhan men-jawab, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Banyak orang Kristen mengira bahwa selama Tuhan berpuasa, Dia tentu tidak ma-kan apa-apa. Namun ayat ini mewahyukan bahwa selama Tuhan Yesus berpuasa, Dia pun makan. Secara lahiriahnya Ia berpuasa, namun secara rohaninya Ia makan.
Di sini kita nampak satu prinsip penting. Dalam ministri dan ekonomi Tuhan, jika kita tidak tahu bagaimana meren-dahkan keperluan jasmani kita dan memperhatikan keper-luan rohani, kita tidak bersyarat bagi ministri-Nya. Agar bersyarat dalam ministri Tuhan, kita harus diuji. Kita harus mengorbankan keperluan jasmani kita. Tempat tinggal yang baik, makanan yang lezat, dan pakaian yang indah, semua-nya tak lain hanyalah keperluan sekunder. Makan makanan rohani itulah yang primer. Begitu dibaptis, Tuhan Yesus di-bawa ke dalam situasi di mana Dia bisa mendeklarasikan kepada seluruh alam semesta bahwa Dia bukan untuk ke-butuhan jasmani, melainkan hanya untuk kebutuhan rohani. Selama empat puluh hari empat puluh malam Dia menga-baikan semua makanan jasmani, melupakan tuntutan jas-mani. Sebaliknya, Dia memperhatikan keperluan rohani. Meskipun Dia tidak makan untuk mempertahankan tubuh jasmani-Nya, tetapi Ia makan banyak untuk memelihara roh-Nya. Perkiraan setan tentang Tuhan Yesus tidak makan se-lama hari-hari di padang gurun itu mutlak salah. Sementara Dia berpuasa terhadap makanan jasmani, Dia makan ma-kanan rohani. Inilah ujian dalam masalah penghidupan kita.
Banyak istri tidak tahan akan ujian ini. Setiap istri sangat memperhatikan keamanannya. Mereka ingin makanan yang enak, gaun yang indah, dan rumah yang baik. Dengan kata lain, mereka damba akan penghidupan yang baik. Ini merupakan suatu problem bagi para saudara. Meskipun saudara-saudara ini berminat mengikuti jalan gereja, tetapi istri mereka tidak mau mengikutinya, sebab tidak ada ja-minan penghidupan yang baik. Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa ketika kali pertama kita mulai mengambil jalan gereja, istri kita mengatakan, “Bagaimana dengan masa depan kita? Bagaimana penghidupan kita? Bagaimana ma-kanan, baju, dan rumah kita?” Inilah ujian yang harus kita hadapi jika kita mau mengambil jalan gereja dan jalan eko-nomi Allah.
Ujian pertama yang harus kita lalui ialah ujian me-ngenai penghidupan kita. Kita harus memelihara makanan rohani lebih banyak daripada makanan jasmani. Baik kita hidup atau mati, itu perkara sekunder. Kita hanya memper-hatikan makanan rohani kita, sehingga roh kita pesta akan firman Allah, yaitu Allah sendiri.
Banyak pendeta, misionaris, dan guru Alkitab yang nampak jalan gereja dan telah membicarakannya dengan saksama. Namun mereka menyadari bahwa jalan ini sempit sehingga mereka merasa khawatir akan apa yang akan terjadi dengan penghidupan mereka apabila mereka menempuh jalan ini. Istri orang-orang yang terkasih ini benar-benar tidak setuju jika suami mereka mengambil jalan yang sempit ini. Mereka paham bahwa standar penghidupan mereka akan menjadi rendah jika suami mereka menempuh jalan gereja.
Empat puluh lima tahun yang lalu di China, jalan ini benar-benar sempit, dan setiap hari kami diuji tentang peng-hidupan kami. Saat ke saat hanya satu dolar yang menjaga kami dari kelaparan. Untuk mengambil jalan sempit ini, kami hidup bersandar iman di dalam Allah. Meskipun sangat sulit, kami tetap hidup bersandar iman selama bertahun-tahun. Saya dapat bersaksi bahwa kami pesta akan Allah dan firman-Nya selama masa ujian ini, lebih-lebih ketika standar penghidupan kami makin menurun. Pengalaman kami sama seperti pengalaman Tuhan Yesus di padang gu-run. Dia pergi ke padang gurun bukan atas pilihan-Nya sen-diri, juga bukan atas kesenangan-Nya sendiri, melainkan di-bawa oleh Roh Kudus. Demikian pula, kita dibawa oleh Allah ke dalam padang gurun penghidupan gereja. Lima puluh tahun yang lalu, gereja benar-benar berada di bawah padang gurun, hampir setiap hari kami diuji akan apa yang akan kita makan pada malam harinya. Namun, saat itu justru saat kita menikmati pesta akan firman Allah. Di satu pihak kita tidak mempunyai makanan jasmani untuk dimakan, tetapi di lain pihak kita pesta akan firman yang kaya dan limpah.
Sama prinsipnya hari ini dalam hidup gereja (church life). Dalam menempuh jalan gereja, ujian pertama ialah kita akan menghadapi penurunan standar penghidupan kita. Inilah ujian dalam bidang penghidupan jasmani kita. Se-tiap orang yang menempuh jalan gereja ini akan diuji atas masalah penghidupan sehari-hari. Kita akan diuji untuk menunjukkan kepada seluruh alam semesta bahwa perha-tian kita bukanlah pada makanan lahiriah, melainkan ma-kanan rohaniah. Berhari-hari di padang gurun, Yesus tidak memperhatikan makanan lahiriah-Nya, melainkan makanan rohaniah-Nya. Dia puasa secara jasmani, tetapi Dia makan firman Allah. Di Padang gurun Dia tidak hidup dari roti saja, melainkan dari firman Allah.
a. Dicobai untuk Melepaskan Status Insani-Nya
dengan Jalan Mengukuhkan Diri-Nya
sebagai Anak Allah
Sekarang kita tiba pada butir ujian yang pertama. Pada saat pembaptisan Kristus, Bapa membuka surga sambil mendeklarasikan, “Inilah Anak-Ku yang terkasih” (3:17). Suara dari langit mendeklarasikan bahwa manusia kecil dari Nazaret ini adalah Putra (Anak) terkasih Allah Bapa. Segera setelah deklarasi ini, Roh Kudus membawa manusia ini ke padang gurun untuk diuji dan melihat apakah Dia memper-hatikan kehidupan jasmani-Nya ataukah kehidupan rohani-Nya. Kemudian, berdasarkan deklarasi Allah Bapa, si pen-coba datang untuk mencobai manusia ini dengan berkata, “Jika engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti” (ayat 3). Iblis seolah-olah berkata, “Kami mendengar deklarasi Allah Bapa pada waktu empat puluh hari yang lalu bahwa Engkau adalah Anak yang terkasih. Sekarang jika memang Engkau Anak Allah, perbuatlah se-suatu untuk membuktikannya. Cukuplah dengan mengata-kan, batu, Aku mau kau menjadi roti. Jika Engkau adalah Anak Allah, Engkau harus membuktikannya kepada diri-Mu dan kepadaku, juga kepada setiap orang di seluruh alam se-mesta ini dengan berbuat sesuatu yang tak dapat dilakukan oleh orang lain.”
Raja yang baru diurapi berpuasa dalam keinsanian-Nya, berdiri pada kedudukan sebagai manusia. Di pihak lain, Dia juga adalah Anak Allah, seperti yang telah dinyatakan oleh Allah Bapa pada saat Dia dibaptis. Untuk merampung-kan ministri-Nya bagi Kerajaan Surga, Dia harus menga-lahkan musuh Allah, Iblis, Satan. Hal ini harus dilakukan-Nya sebagai manusia. Karena itu, Dia berdiri sebagai manusia untuk menghadapi musuh Allah. Mengetahui hal ini, Iblis mencobai Dia agar Dia meninggalkan kedudukan-Nya sebagai manusia dan mempertahankan kedudukan-Nya se-bagai Anak Allah. Empat puluh hari sebelumnya, Allah Bapa telah menyatakan dari surga bahwa Dia adalah Anak terkasih Bapa. Pencoba yang licik itu mengambil pernya-taan Allah Bapa sebagai dasar untuk mencobai Dia. Jika Dia mempertahankan kedudukan-Nya sebagai Anak Allah di hadapan musuh, Dia akan kehilangan kedudukan untuk mengalahkan musuh.
Mengubah batu menjadi roti tentu saja merupakan suatu mukjizat. Ini diajukan oleh Iblis sebagai suatu pen-cobaan. Sering kali pikiran yang menghendaki terjadinya mukjizat dalam suasana tertentu merupakan suatu cobaan dari Iblis. Pencobaan Iblis atas manusia yang pertama, Adam, berhubungan dengan perkara makan (Kej. 3:1-6). Di sini, pencobaannya atas manusia yang kedua, Kristus, juga berhubungan dengan perkara makan. Perkara makan se-lalu merupakan perangkap yang dipakai oleh Iblis untuk menjerat manusia, menyebabkan manusia dicobai dalam hal yang bersifat pribadi.
b. Mengalahkan si Pencoba
dengan Berdiri pada Posisi Manusia
Ayat 4 mengatakan, “Tetapi Yesus menjawab, ‘Ada ter-tulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.’” Si pencoba mencobai Raja yang baru untuk mempertahankan kedudukan-Nya sebagai Anak Allah. Tetapi Dia menjawab dengan perkataan Alkitab, “manusia . . . ,” yang menunjukkan bahwa Dia berdiri pada kedudukan manusia untuk menanggulangi mu-suh. Setan-setan menyebut Yesus sebagai Anak Allah (8:29), tetapi roh-roh jahat tidak mengakui bahwa Yesus datang dalam tubuh daging (1 Yoh. 4:3), karena dengan mengakui Yesus sebagai manusia, mereka menyatakan bahwa mereka sudah kalah. Meskipun setan-setan mengakui Yesus sebagai Anak Allah, Iblis tidak akan membiarkan manusia mem-percayai Dia sebagai Anak Allah, karena dengan berbuat demikian, manusia akan beroleh selamat (Yoh. 20:31).
Kata “manusia” adalah kata yang mematikan yang di-ucapkan Tuhan Yesus terhadap si pencoba. Tuhan seolah-olah berkata, “Iblis (Satan), jangan mencobai Aku supaya mempertahankan kedudukan sebagai Anak Allah. Di sini Aku adalah manusia. Kalau Aku hanya sebagai Anak Allah, Aku pasti tidak ada di sini, dan Aku pun tidak akan pernah kau cobai. Satan, Aku tahu bahwa kau tidak takut terhadap Anak Allah, tetapi takut kepada manusia. Manusia pertama yang Allah ciptakan untuk mengalahkanmu dan mengge-napkan kehendak-Nya telah kaukalahkan. Karena itu, Allah mengutus Aku sebagai manusia kedua untuk mengalahkan-mu. Kini kamu mencobai Aku supaya Aku meninggalkan kedudukan-Ku sebagai manusia untuk menerima kedudukan-Ku sebagai Anak Allah. Tetapi ketahuilah, hai Iblis, di sini Aku adalah manusia.”
Meskipun setan-setan berseru, “Anak Allah”, namun roh-roh jahat tidak mengakui Yesus datang sebagai manusia. Mereka mengakui bahwa Dia adalah Anak Allah, tetapi ti-dak mengakui Dia sebagai manusia. Roh-roh jahat tidak menghendaki siapa pun percaya bahwa Kristus adalah Anak Allah, karena begitu seseorang percaya, ia akan diselamat-kan. Mereka tidak berani mengakui Yesus sebagai manusia; sebab bila mereka mengakui, mereka akan dikalahkan. Untuk menanggulangi setan-setan, Yesus adalah Anak manusia; untuk menyelamatkan kita, orang-orang yang berdosa, Dia adalah Anak Allah. Begitu kita percaya Dia adalah Anak Allah, kita diselamatkan. Namun bila setan-setan mengakui Dia sebagai Anak manusia, mereka akan dikalahkan. Sebab itu, Tuhan Yesus dengan kuat mengambil kedudukan se-bagai manusia untuk mengalahkan Iblis. Dalam ujian yang pertama ini Iblis dikalahkan, karena Yesus berdiri pada ke-dudukan sebagai manusia.
Raja yang baru diurapi menghadapi pencobaan musuh bukan hanya dengan perkataan-Nya sendiri, tetapi dengan firman Alkitab, yang dikutip dari Ulangan 8:3. Perkataan ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus mengambil firman Allah dalam Alkitab sebagai makanan-Nya dan Dia hidup berda-sarkan firman itu. Dalam bahasa Yunani, “firman” dalam ayat 4 adalah rhema. Rhema, mengacu kepada firman yang seketika (instan), berbeda dengan logos, mengacu kepada firman yang tetap (konstan). Dalam pencobaan ini, semua firman yang dikutip oleh Tuhan dari Kitab Ulangan adalah logos, firman yang tetap dalam Alkitab. Tetapi ketika Dia mengutip firman itu, firman itu menjadi rhema, firman yang seketika yang diterapkan pada keadaan-Nya.
Alkitab adalah hembusan Allah (2 Tim. 3:16 Tl.). Karena itu, firman dalam Alkitab adalah firman yang keluar dari mulut Allah.
2. Menjatuhkan Diri dari Bubungan Bait
a. Dicobai untuk Menunjukkan bahwa Allah Pasti Melindungi-Nya
Ayat 5 mengatakan, “Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di puncak Bait Allah.” Pen-cobaan pertama Iblis terhadap Raja baru berhubungan dengan perkara penghidupan manusia. Setelah kalah dalam hal ini, Iblis beralih ke pencobaan yang kedua, perkara agama, dengan mencobai Raja baru untuk memamerkan bahwa Dia adalah Anak Allah, melalui menjatuhkan diri-Nya dari bu-bungan Bait Allah. Dalam ayat 6 Iblis berkata kepada-Nya, “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menerima Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk pada batu.” Tuhan Yesus tidak perlu melakukan hal ini. Ini ha-nyalah suatu pencobaan yang membujuk Dia untuk mema-merkan bahwa sebagai Anak Allah, Dia mampu bertindak dengan mukjizat. Pikiran untuk melakukan hal-hal yang berbau mukjizat dalam agama adalah pencobaan Iblis.
Ujian kedua mengenai keagamaan. Hal-hal mencengang-kan dalam agama adalah mukjizat-mukjizat. Menurut kon-sepsi manusia, agama yang tidak memiliki mukjizat itu tidak memiliki kekuatan. Agama yang sangat kuat adalah agama yang penuh dengan mukjizat. Sebab itu Iblis membawa Raja yang baru ke bubungan bait dan mencobai Dia untuk men-jatuhkan diri, dan berkata bahwa malaikat-malaikat akan melindungi Dia. Jangan mengira bahwa Anda tidak pernah mempunyai pikiran untuk melakukan hal semacam ini. Dalam kehidupan sehari-hari saya sering berpikir ingin me-lakukan perkara-perkara untuk menunjukkan kepada kha-layak ramai bahwa saya adalah seorang yang ajaib dan saya memiliki kekuatan-kekuatan gaib. Tidakkah Anda mem-punyai konsepsi demikian dalam kehidupan kristiani Anda? Kadang-kadang kita diuji pada saat perlu melakukan sesuatu, dan di saat lain kita diuji ketika tidak ada keperluan untuk melakukan sesuatu. Dalam perkara ini, Yesus tidak perlu menjatuhkan diri-Nya dari bubungan bait.
Memang kadang-kadang diperlukan juga keajaiban. Su-atu kali ipar saya yang termuda menderita sakit parah. Saat itu saya dicobai pamer diri dengan berdoa bagi kesembuhan-nya. Saya berpikir, “Sekarang adalah waktu bagi saya mem-buktikan kepada saudara-saudara ipar saya dan sanak fa-milinya bahwa saya adalah seorang yang menakjubkan. Saya akan berdoa dan saudara ipar saya akan sembuh. Bukankah Alkitab mengatakan bahwa Yesus menyembuhkan, dan Dia itu sama, baik kemarin, hari ini, dan sampai selamanya, dan kita pun harus berdoa bagi orang lain? Jika saya melakukan keajaiban ini atas diri ipar saya, maka mertua perempuan saya akan yakin bahwa saya adalah seorang super. Dalam pandangan mertua perempuan saya, saya terlalu agamawi, sehari-hari hanya membicarakan Allah, Kristus, dan iman. Saya berkhayal apa yang akan terjadi seandainya saya mendatangi ipar saya dan berkata, ‘Tuhan Yesus, sembuh-kanlah dia’, dan dia pun segera bangun. Bukan saja disem-buhkan, saya pun pasti diagungkan. Alangkah ajaibnya saya dalam pandangan mertua saya!” Apakah itu pengurapan Tuhan, peranan atau pimpinan Tuhan, ataukah pencobaan? Yang pasti itu adalah pencobaan. Tidakkah Anda pun me-miliki pencobaan demikian pada waktu yang lampau?
Banyak orang Kristen muda mempunyai konsepsi ganjil mengenai melakukan mukjizat. Boleh jadi banyak yang me-ngatakan, “Karena aku adalah pengikut Tuhan, aku memiliki penyertaan-Nya, Dia adalah Imanuel-Ku, maka aku harus melakukan sesuatu untuk menampakkan kepada yang lain bahwa Allah menyertai aku.” Saya tahu seorang saudara yang mempunyai pemikiran demikian. Untuk meyakinkan bahwa Tuhan menyertai dia, dia minta Tuhan memberinya dua ratus ribu dolar dalam batas waktu tertentu. Ia berkata, “Tuhan Engkau harus menunjukkan kepada orang banyak bahwa Engkau adalah satu denganku. Engkau harus memperlihat-kan kepada mereka bahwa apa pun yang aku minta dalam nama-Mu, Engkau akan memberikannya. Tuhan, aku minta dua ratus ribu dolar. Dalam beberapa hari ini, Engkau ha-rus memberikannya kepadaku.” Saudara itu berpuasa, tidak tidur, dan mulai berdoa bagi sejumlah uang tersebut. Doa macam apakah ini? Ini tidak lain menjatuhkan diri dari bubungan bait untuk memperagakan diri sendiri. Dalam prinsipnya, kita semua pernah melakukan hal ini beberapa kali. Setiap orang Kristen telah dicobai secara demikian.
Seandainya Iblis tidak mencobai kita dalam masalah penghidupan kita, ia pasti mencobai kita dalam masalah keagamaan. Anda mungkin mendambakan menjadi tokoh agama, diakui sebagai orang yang kuat. Orang lain harus berjalan turun dari bubungan bait, tetapi Anda, orang yang ajaib, yang lebih kuat dari yang lain, mampu melompati. Dengan melakukan ini Anda menjadi orang besar dalam ke-kristenan. Semua agamawan “besar” adalah orang-orang yang menyerah pada godaan ini. Jika Anda ingin menjadi ter-mashyur dalam agama Kristen, berhasil diakui sebagai orang yang “super”, maka Anda telah menyerah pada godaan ini. Anda telah dikalahkan oleh musuh. Namun, apabila Anda berhasrat mengalahkan musuh dalam ujian ini, Anda harus tidak meloncat dari bait; sebaliknya Anda harus berjalan me-nuruninya selambat mungkin; supaya orang lain mengira Anda lemah dan tidak berkekuatan. Tetapi Anda harus mem-beri tahu diri sendiri, “Aku tidak berjalan dalam kekuatan, aku berjalan dalam hayat; aku tidak memperhatikan ke-kuatan, aku memperhatikan hayat.” Mudah sekali menga-takan hal ini, tetapi sulit untuk melaksanakannya. Ketika ada kesempatan, meskipun Anda mungkin tidak meloncat dari bubungan bait, Anda pasti berlari menuruninya, untuk memperlihatkan bahwa Anda adalah pelari yang baik, mampu berlari lebih cepat daripada yang lain. Namun demikian, apa-bila kita ingin mengalahkan musuh, kita harus tidak menjadi apa-apa. Jangan pernah melakukan sesuatu untuk membuk-tikan bahwa Anda mampu. Biarlah orang-orang mengira Anda tidak ada apa-apanya. Sesungguhnya, aku bukan apa-apa, Kristusku itulah segala sesuatu. Jika Anda mengambil kedudukan bukan apa-apa, Anda akan membunuh musuh. Anda pasti membunuh si pencoba.
b. Mengalahkan si Pencoba dengan Tidak Mencobai Allah
Ketika Iblis mencobai Yesus untuk menjatuhkan diri dari bubungan bait, Yesus berkata kepadanya, “Ada pula ter-tulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Mat. 4:7). Karena pertama kali Tuhan Yesus telah mengalah-kannya dengan jalan mengutip Alkitab, si pencoba meniru cara-Nya dan dalam pencobaannya yang kedua, ia mencobai Dia juga dengan mengutip Alkitab, namun secara licik. Mengutip ayat Alkitab mengenai satu aspek dari suatu hal menuntut kita memperhitungkan aspek lainnya juga, untuk diselamatkan dari tipuan si pencoba. Inilah yang dilakukan Raja baru di sini untuk menghadapi pencobaan kedua dari si pencoba. Sering kali kita perlu memberi tahu si pencoba, “Ada pula tertulis.”
Tuhan Yesus mengalahkan Iblis (Satan) dalam penco-baan pertama dengan jalan mengutip Alkitab. Jadi, dalam pencobaan kedua, si pencoba juga mengutipnya. Seolah-olah dia berkata, “Yesus, Kau mengutip Alkitab. Aku pun paham Alkitab. Biarlah aku mengutip sebuah ayat untuk-Mu.” Te-tapi Tuhan Yesus berkata, “Ada pula tertulis.” Kata “ada pula” ini sangat kuat. Jangan mengira Anda mampu mengutip Alkitab dan musuh tidak. Iblis tahu banyak tentang Alkitab daripada Anda. Sebab itu penjagaan terbaik ialah memiliki kata “ada pula” sebagai persediaan atau penegasan. De-mikian, dalam pencobaan kedua, musuh akan dikalahkan pula.
Tuhan Yesus berkata kepada Iblis, “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu” (Mat. 4:7). Jangan mencobai Allah. Jangan pergi ke bubungan bait dan menjatuhkan diri. Jika kebetulan Anda menemukan diri Anda di sana, Anda harus mencari cara untuk menuruninya. Namun Anda tidak boleh dengan sengaja pergi ke sana. Kalau Anda berada di sana karena kesalahan, mintalah Tuhan mengampuni Anda dan menolong Anda menuruninya selangkah demi selangkah. Namun janganlah menjatuhkan diri Anda untuk pamer. Anda bukanlah siapa-siapa. Tuhan Yesus mengatasi si pencoba de-ngan tidak menerima usulnya untuk mencobai Allah.
3. Menyembah Iblis
a. Dicobai untuk Memperoleh Kerajaan Dunia serta Kemegahannya
Ayat 8-9 mengatakan, “Setelah itu Iblis membawa-Nya ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya, ‘Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.’” Setelah kalah da-lam pencobaannya mengenai agama, Iblis mengajukan pen-cobaannya yang ketiga kepada Raja baru, kali ini mengenai kemuliaan dunia ini. Iblis telah memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dan kemegahannya. Urutan pencoba-an si licik selalu datang secara demikian: pertama, berhu-bungan dengan penghidupan manusia; kedua, berhubungan dengan agama; dan ketiga, berhubungan dengan kemegahan duniawi. Dalam banyak pencobaan, ketiga perkara ini pasti ada. Pencobaan ketiga adalah masalah kemegahan dunia, pro-mosi, ambisi kedudukan, dan cita-cita hari depan. Semuanya ini adalah kemegahan dunia.
Lukas 4:6 mengatakan bahwa kerajaan dunia beserta kemegahannya telah diserahkan kepada Iblis; karena itu, Iblis dapat memberikannya kepada siapa saja yang dike-hendakinya. Sebelum kejatuhannya, Iblis adalah penghulu malaikat yang ditunjuk oleh Allah sebagai penguasa dunia (Yeh. 28:13-14). Karena itu, dia disebut “penguasa dunia ini” (Yoh. 12:31), yang menguasai semua kerajaan dunia ini dan kemegahannya. Karena ingin disembah, dia memamerkan semua ini untuk mencobai Raja yang baru diurapi. Raja yang Surgawi mengalahkan pencobaan ini, tetapi antikristus yang akan datang tidak demikian (Why. 13:2, 4).
Pencobaan ini meliputi masalah ambisi dan promosi. Bahkan di antara kaum saleh, ada yang berhasrat untuk menjadi penatua. Inilah hasrat akan kemegahan duniawi. Keinginan Anda untuk menjadi penatua adalah ambisi Anda. Inilah kemegahan dunia. Ketika Anda dicobai secara demi-kian, Anda harus menyadari bahwa di balik pencobaan ini si pencoba ingin memperoleh penyembahan Anda. Iblis memberi tahu Tuhan Yesus bahwa jika Ia mau menyembahnya, dia akan memberikan seluruh kerajaan dunia beserta keme-gahannya kepada-Nya. Di balik setiap ambisi terdapat berhala yang tersembunyi. Jika Anda berambisi untuk memiliki posisi, promosi ataupun nama, ada berhala di balik ambisi-ambisi itu. Bila Anda tidak menyembah berhala, Anda pasti tidak akan menampakkan ambisi Anda. Untuk berbagian dalam kemegahan dunia, Anda harus menyembah berhala. Tanpa menyembah berhala, Anda tidak mungkin memiliki kedudukan. Kapan saja Anda mencari kedudukan tertentu, lubuk batin Anda tahu bahwa Anda menyembah satu ber-hala. Inilah sebabnya, rasul berkata bahwa keserakahan adalah penyembahan berhala (Kol. 3:5).
Misalnya, ada saudara-saudara yang datang dalam hidup gereja empat tahun lebih lambat daripada Anda sudah men-jadi penatua, dan Anda merasa bahwa Anda telah diabaikan. Bila Anda mengeluh atas hal ini, dan bertanya mengapa mereka dijadikan penatua sedangkan Anda tidak, ini mem-buktikan bahwa Anda mencari kemegahan duniawi. Mungkin tiga dari kelompok sepuluh saudari diangkat sebagai pe-muka dalam pelayanan penting. Bila tujuh yang lain tidak merasa apa-apa atas hal ini, mereka telah beroleh keme-nangan. Namun bila mereka menanyakan mengapa yang tiga ini diangkat, ini menandakan bahwa mereka mencari kemegahan yang sia-sia, kemegahan dari zaman ini. Dalam hal ini kita semua lemah. Jika keinginan akan ambisi dan kedudukan saja mampu mendesak dan masuk ke dalam hidup gereja, maka terhadap hal-hal lain, kita perlu lebih berwaspada.
b. Mengalahkan si Pencoba dengan Menyembah Allah, Hanya Berbakti Kepada-Nya
Dalam ayat 10 Tuhan Yesus berkata, “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Dalam bahasa Yunani, Iblis (Satan) berarti seteru. Satan bu-kan hanya musuh Allah di luar Kerajaan Allah, tetapi juga seteru Allah dalam Kerajaan Allah, tempat ia memberontak kepada Allah. Raja baru menghardik Iblis atas apa yang dipamerkannya dan mengalahkan dia dengan berdiri pada kedudukan manusia untuk menyembah dan melayani Allah semata. Menyembah atau melayani apa pun selain Allah untuk mendapatkan keuntungan merupakan pencobaan dari Iblis, agar dia bisa mendapatkan penyembahan. Tuhan seolah-olah berkata kepada Iblis, “Iblis, sebagai seorang manusia, Aku, Yesus, menyembah Allah dan hanya berbakti kepada-Nya saja. Kau adalah musuh Allah, dan Aku tidak pernah menyembahmu. Aku tidak mengharapkan kemegahan dunia ataupun kerajaan dunia. Iblis, enyahlah dari hadapan-Ku!”
Jika kita merenungkan pengalaman kita, kita akan nam-pak bahwa semua pencobaan itu tercakup dalam tiga aspek ini: pencobaan atas masalah penghidupan, pencobaan atas mukjizat agama, dan pencobaan di ruang lingkup kemegahan dunia. Sepanjang hari kita dicobai dalam aspek penghidupan, agama, dan kedudukan duniawi. Namun Tuhan Yesus meng-atasi setiap aspek pencobaan musuh. Dia berkata, “Peng-hidupan-Ku itu sekunder. Aku tidak peduli akan kekuatan agama, kemegahan duniawi pun bukan apa-apa bagi-Ku. Yang Aku tahu hanyalah firman Allah dan Allah sendiri. Aku hanya memperhatikan menyembah Allah saja.” Jadi, sebagai orang yang lulus ujian, Tuhan Yesus bersyarat menjadi Raja Surgawi.
D. Hasilnya
Ayat 11 mengatakan,“Sesudah itu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.” Pencobaan Iblis terhadap manusia yang pertama, Adam, ber-hasil, tetapi pencobaannya terhadap manusia kedua, Kristus, sama sekali gagal. Ini menunjukkan bahwa Iblis tidak akan mendapat tempat dalam Kerajaan Surga Raja baru. Setelah Tuhan Yesus mengalahkan Iblis, para malaikat datang dan melayani Raja yang sudah dicobai sebagai manusia yang menderita (lihat Luk. 22:43).
Bukan hanya Sang Raja, bahkan segenap umat kera-jaan harus mengatasi masalah penghidupan sehari-hari mereka, kekuatan agama, dan kemegahan duniawi. Jika kita tidak dapat mengalahkan ketiga pencobaan ini, kita akan berada di luar kerajaan. Jika kita mau menjadi umat keraja-an, ketiga hal ini harus kita letakkan di bawah kaki kita. Jika kita membunuh ketiga pencobaan ini dengan berkata, “Aku tidak peduli penghidupanku, kekuatan agama, ataupun kedudukan duniawi”, maka Iblis tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kita.
Kita tidak seharusnya merasa khawatir terhadap peng-hidupan kita sehari-hari. Ingatlah contoh Rasul Paulus. Paulus berkata, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam setiap keadaan dan dalam sega-la hal tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan lapar, baik dalam keadaan berkelimpahan maupun dalam keadaan berkekurangan” (Flp. 4:12). Seolah-olah Paulus ber-kata, “Bukan masalah bagiku miskin atau berkelimpahan. Aku dapat hidup baik kurang maupun cukup. Masalah penghidupanku sehari-hari tidak merisaukan aku.”
Tidak hanya demikian, kita pun tidak memperhatikan kekuatan agama, sebaliknya kita seharusnya lemah, seba-gaimana Yesus Kristus lemah ketika Dia ditangkap dan di-salibkan. Jika Dia tidak lemah, siapakah yang mampu me-nangkap Dia dan menyalibkan Dia? Ketika Dia ditangkap, diadili, dan disalibkan, Ia tidak memamerkan kekuatan-Nya. Ia menolak untuk menunjukkan kekuatan agama. Sebaliknya, Ia lemah sepenuhnya. Paulus berkata bahwa Kristus “disa-libkan oleh karena kelemahan”; ia pun mengatakan, “Kami lemah di dalam Dia” (2 Kor. 13:4). Banyak orang jahat menantang Paulus dengan berkata, “Kalau kau benar-benar rasul Kristus, kau harus berbuat sesuatu untuk membuk-tikannya.” Namun ketika Paulus di penjara, Tuhan tidak me-lakukan suatu mukjizat bagi dia.
Situasi Paulus sama seperti situasi Yohanes Pembaptis, yang juga di penjara. Setelah dijebloskan sejangka waktu, Yohanes mengutus murid-muridnya untuk bertanya kepada Tuhan, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Mat. 11:3). Yohanes seolah-olah berkata, ”Jika Engkau adalah Orang yang akan datang, me-ngapa Engkau tidak berbuat sesuatu bagiku? Tidakkah Kau tahu bahwa aku, pelopor, dan pengenal-Mu dipenjarakan? Bukankah Kau berkuasa penuh? Bukankah Engkau ini Kristus yang Mahakuasa? Jika demikian, berbuatlah se-suatu bagiku.” Dalam jawaban-Nya, Tuhan berkata, “Berba-hagialah orang yang tidak menolak Aku” (11:6). Seolah-olah Tuhan berkata, “Benar, Aku mampu berbuat sesuatu, namun Aku tidak ingin melakukan sesuatu bagimu. Meskipun eng-kau adalah pengenal-Ku, pelopor-Ku, Aku tidak ingin berbuat sesuatu bagimu. Aku lebih ingin kau dipenggal. Yohanes, apakah engkau tersandung oleh-Ku?” Pengalaman Saudara Watchman Nee adalah ilustrasi yang mirip untuk hal ini. Dia dipenjarakan sejak tahun 1952 sampai wafat pada tahun 1972. Selama masa dua puluh tahun itu, Tuhan tidak ber-buat sesuatu baginya secara ajaib.
Betapa perlunya kita mengatasi ketiga macam pencobaan ini: pencobaan penghidupan, pencobaan kekuatan agama, dan pencobaan kemuliaan yang sia-sia. Jika kita mengalahkan hal-hal ini, kita benar-benar adalah umat kerajaan yang mengikuti Raja Surgawi kita. Jika kita membunuh ketiga pencobaan ini dengan berkata, “Aku tidak peduli penghi-dupanku, kekuatan agama, ataupun kedudukan duniawi”, maka setan tidak dapat berbuat sesuatu terhadap kita. Haleluya, Raja Surgawi kita telah mengalahkan si pencoba, mengalahkannya dalam ketiga pencobaan ini!