← Daftar isi Matius (1) · bab 12/16

PERMULAAN MINISTRI RAJA

Sekarang kita sampai pada bagian yang sangat penting dari Injil Matius, yaitu bagian mengenai ministri Raja (4:12—11:30). Dalam berita ini kita akan memperhatikan permulaan ministri (4:12-25). Setelah Tuhan diurapi, Ia dicobai untuk membuktikan bahwa Ia memenuhi syarat, dan kemudian Ia mulai menunaikan ministri.

I. PERMULAAN MINISTRI

A. Setelah Yohanes Pembaptis Dipenjarakan

Dalam 4:12 mengatakan, “Tetapi waktu Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.” Meskipun Yohanes Pembaptis melayani di padang gurun, bu-kan dalam Bait Suci di kota suci, tetapi pelayanannya masih dilakukan di Yudea, tidak jauh dari barang-barang yang “suci”. Karena orang-orang menolak Yohanes, Tuhan Yesus menyingkir ke Galilea untuk memulai ministri-Nya, jauh dari Bait Suci dan kota suci. Hal ini terjadi dalam ke-daulatan Tuhan untuk menggenapkan nubuat dalam Yesaya 9:1-2.

Menurut konsepsi manusia, Yesus seharusnya memulai ministri-Nya dari Bait Suci di kota suci, yaitu Yerusalem. Tetapi datanglah berita yang mengatakan bahwa pendahulu-Nya, yaitu Yohanes Pembaptis, telah dipenjarakan. Ini me-rupakan tanda bagi Raja baru bahwa Yerusalem telah menjadi tempat penolakan. Karena itu, Ia tidak seharusnya memulai ministri kerajaan-Nya di sana.

Atas ekonomi-Nya, Allah menghendaki suatu perubahan yang mutlak, yakni perubahan dari ekonomi yang lama ke ekonomi yang baru. Ekonomi yang lama telah menghasil-kan agama luaran, Bait Suci luaran, kota luaran, dan sistem penyembahan luaran. Segala sesuatu dalam ekonomi yang lama disusun secara luaran. Dalam ekonomi-Nya yang baru Allah membuang semuanya itu dan memulai suatu permu-laan yang baru. Situasi di bawah kedaulatan Allah sesuai de-ngan perubahan dalam ekonomi Allah ini. Karena Yerusalem telah menolak pengenal Raja baru itu, maka Tuhan Yesus sa-dar bahwa Ia tidak seharusnya memulai ministri-Nya di sana. Di Yerusalem tidak ada sambutan bagi-Nya.

Meskipun Raja Baru ini adalah Putra Allah dan telah di-urapi dengan Roh Allah, tetapi di sini tidak dikatakan bahwa Ia berdoa mengenai ke mana Ia harus pergi melayani. Kita juga tidak diberi tahu bahwa Ia memiliki perasaan yang dalam agar Ia pergi ke arah utara, jauh dari Yerusalem. Se-baliknya, Tuhan memperhatikan suasana sekitar-Nya, se-hingga Ia memperoleh petunjuk yang jelas ke mana Ia harus pergi. Jangan beranggapan bahwa kita dapat sedemikian rohani sehingga kita tidak memerlukan petunjuk-petunjuk (tanda-tanda) dari keadaan sekitar kita. Bahkan Raja dari Kerajaan Surgawi pun, yaitu Putra Allah yang diurapi dengan Roh Kudus, bergerak sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang berhubungan dengan keadaan sekitarnya. Konsepsi Tuhan tidaklah alamiah dan agamawi. Tidak hanya demikian, kon-sepsi-Nya pun tidak berdasarkan sejarah masa lampau. Jika berdasarkan sejarah, sebagai Raja yang diurapi, Ia harus pergi ke ibu kota, Yerusalem, karena Yerusalemlah tempat yang tepat bagi Raja. Tetapi, karena pendahulu-Nya, yaitu pengenal-Nya, telah dipenjarakan, maka Ia pergi ke Galilea. Menurut anggapan manusia, sangatlah janggal bahwa Raja baru yang diurapi meninggalkan ibu kota, dan pergi ke suatu daerah yang dipandang rendah untuk memulai ministri kerajaan-Nya. Ia bahkan tidak pergi ke selatan, yaitu ke Hebron, tempat Daud dinobatkan, dan Ia juga tidak pergi ke Bersyeba, tempat Abraham pernah tinggal. Tetapi Ia pergi ke Galilea.

Dengan merenungkan pergerakan Tuhan setelah pe-menjaraan Yohanes Pembaptis, kita seharusnya belajar ber-usaha untuk tidak menjadi rohani secara adikodrati. Yesus tidaklah rohani secara adikodrati. Kita juga harus belajar untuk tidak berjalan menurut sejarah masa lampau ataupun pengertian manusia. Berdasarkan sejarah dan konsepsi ma-nusia, Raja orang Yahudi harus berada di Yerusalem dan duduk di atas takhta. Tetapi Yesus tidak semata-mata ber-gerak menurut petunjuk rohani, juga tidak menurut sejarah masa lampau atau konsepsi alamiah manusia. Ia bergerak menurut keadaan sekitar yang sesuai dengan ekonomi Allah. Dengan demikian, secara spontan Ia telah menggenapkan nubuat dalam Yesaya 9:1-2. Meskipun secara permukaan kelihatannya Tuhan bergerak menurut keadaan dan tidak menurut roh, tetapi pergerakan-Nya merupakan penggenapan nubuat dalam Kitab Suci.

Dalam bergerak bersama-sama dengan Tuhan, kita harus menghindari dua macam ekstrem. Ekstrem pertama ialah ekstrem adikodrati. Beberapa orang mengatakan bahwa me-reka tidak perlu memperhatikan keadaan sekitar mereka, karena mereka memiliki Roh. Sedangkan ekstrem lainnya terlalu banyak memperhatikan sejarah dan kecenderungan alamiah. Namun dalam Matius 4, Raja baru tidak semata-mata bergerak sesuai dengan apa yang disebut pimpinan rohani, juga tidak menurut sejarah atau kecenderungan alamiah. Sebaliknya, Ia bergerak bersama-sama dengan eko-nomi Allah sesuai dengan petunjuk-petunjuk dalam suasana sekitar-Nya. Ia pergi ke Galilea, ke tanah Zebulon dan tanah Naftali untuk bersinar sebagai Terang yang besar bagi bangsa yang diam dalam kegelapan dan negeri yang dinaungi maut (4:15-16).

Apa pun yang terjadi, baik terhadap Yohanes maupun Tuhan Yesus, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Dengan sangat berani Yohanes keluar untuk melayani pada umur 30 tahun, lama sebelum ia dipenjarakan. Mungkin sulit bagi Anda untuk percaya bahwa Yohanes Pembaptis dapat dipenjarakan. Rasanya tidak ada alasan untuk pemenjaraan tersebut. Sekali lagi, pemenjaraannya disebabkan karena suasana. Yohanes dipenjarakan oleh Raja Herodes, bukan oleh pemimpin-pemimpin Yahudi. Kekuasaan yang agamawi dan politis, agama Yahudi, dan pemerintah Romawi, bekerja sama bagi tercapainya kehendak Allah. Pemenjaraan Yohanes Pembaptis pada waktu itu adalah kedaulatan yang sesuai dengan ekonomi Allah. Alasannya ialah akan datang saatnya bahwa setiap ministri pengenalan harus berhenti. Seandainya Yohanes Pembaptis tidak dipenjarakan, sulit sekali meng-hentikan ministrinya. Karena Yohanes adalah pengenal, maka ministrinya tidak boleh diteruskan. Dalam Yohanes 3 kita nampak bahwa murid-murid Yohanes Pembaptis bersaing dengan ministri Raja Baru (ayat 26). Ministri pengenal ber-saing dengan ministri Raja. Karena itu, ministri pengenal harus berhenti dan cara menghentikannya ialah dengan me-masukkan diri Yohanes sendiri ke dalam penjara, dan mem-biarkannya dipenggal.

Mungkin Anda mengatakan bahwa Allah tidak akan sedemikian kejamnya dengan membiarkan hal itu terjadi. Tetapi kadang-kadang Allah mengizinkan hal-hal seperti ini terjadi. Tentu saja Allah melahirkan Anda, menyiapkan Anda, mengangkat Anda, mengubah Anda, dan kemudian secara besar-besaran memakai Anda. Tetapi setelah ia memakai Anda, mungkin Ia berkata, “Pergilah ke penjara dan diamlah di sana untuk dihukum mati.” Apakah Anda dapat mene-rima ini? Mungkin Anda akan berkata, “Ini sama sekali tidak adil. Allah tidak seharusnya mengizinkan hal ini terjadi.” Tetapi pada waktu lampau Allah telah berkali-kali membi-arkan hal yang demikian terjadi, dan saya yakin Ia pasti akan mengizinkannya lagi. Jika Ia mengizinkan hal ini terjadi pada Anda, Anda harus hanya berkata, “Amin.” Ja-nganlah Anda mengutus beberapa murid Anda untuk mene-gur Kristus dengan mengatakan, “Apakah Engkau Kristus, Tuhan Mahakuasa yang kulayani? Jika benar, mengapa Engkau tidak melakukan sesuatu untuk menolongku dari penjara?” Raja akan menjawab, “Aku tidak akan menolongmu dari situ. Engkau harus mati. Engkau harus diakhiri. Biar-lah Raja yang baru berada di atas takhta.” Yohanes Pembaptis dan ministrinya diakhiri, karena Raja yang baru telah ada di sana. Ketika Raja baru ada di sini, tidak seharusnya ada persaingan.

B. Dimulai dari Galilea

Raja baru ini memulai ministri-Nya bukan di kota kudus ataupun Bait Suci, melainkan di Galilea, bahkan di Laut (LAI: Danau) Galilea. Pendahulu-Nya melayani di tepi sungai, di padang gurun, tetapi Ia memulai ministri-Nya di dekat Laut Galilea. Galilea adalah tempat dengan penduduk cam-puran, orang Yahudi dan orang bukan Yahudi. Karena itu, tempat ini disebut “Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain”, dan diremehkan oleh orang-orang Yahudi ortodoks (Yoh. 7:41, 52). Raja baru yang diangkat memulai ministri rajani-Nya untuk Kerajaan Surga di tempat yang diremehkan seperti itu, jauh dari ibukota negara, Yerusalem yang terhormat dengan Bait Suci, pusat agama ortodoks. Ini menyiratkan bahwa ministri Raja yang baru diurapi adalah untuk Kerajaan Surgawi yang berbeda dengan kerajaan Daud yang bumiah (Kerajaan Mesias). Yohanes Pembaptis melayani di tepi sungai, karena ia dipersiapkan untuk menguburkan setiap orang yang datang kepadanya untuk bertobat. Raja baru melayani di sekitar Laut Galilea. Dalam Alkitab, Sungai Yordan melambangkan penguburan dan kebangkitan, yaitu pengakhiran dan per-tumbuhan. Tetapi Laut Galilea melambangkan dunia yang telah dirusak oleh Iblis. Jadi, Yordan adalah tempat pengu-buran, sedangkan Laut Galilea adalah dunia yang telah rusak.

Pada bagian firman ini terdapat empat murid yang dipanggil oleh Yesus: Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. Tahukah Anda di mana dan kapan keempat murid ini ber-oleh selamat? Jawaban dari pertanyaan ini ada dalam Injil Yohanes 1. Ketika Yohanes Pembaptis sedang melayani, Andreas dibawa kepada Tuhan Yesus (Yoh. 1:35-37, 40). Ke-mudian Andreas bertemu dengan Petrus, saudaranya, dan membawanya kepada Tuhan (Yoh. 1:40-42). Ketika Tuhan bertemu dengan Petrus, Ia mengganti namanya dari Simon menjadi Kefas, yang berarti batu karang (Yoh. 1:42). Karena itu, dalam Yohanes 1, Petrus dan Yohanes bertemu dengan Tuhan Yesus. Saya percaya bahwa mereka telah beroleh se-lamat pada saat di tepi Sungai Yordan itu. Hal yang sama terjadi pula pada Yakobus dan Yohanes. Dari dua murid Yohanes Pembaptis yang disebutkan dalam Yohanes 1:35, yang seorang adalah Rasul Yohanes. Yohanes ini juga mem-bawa Yakobus, saudaranya, kepada Tuhan. Karena itu, ke-empat murid yang disebutkan dalam Matius 4 telah diakhiri, ditumbuhkan, dan diselamatkan di tepi Sungai Yordan dalam Yohanes 1. Tetapi, mungkin mereka tidak sepenuhnya me-ngerti apa yang telah terjadi pada diri mereka.

Saya yakin semua ini terjadi sebelum Tuhan dicobai, yaitu ketika Yohanes sedang melayani di tepi Sungai Yordan. Setelah itu, mereka kembali ke Galilea untuk melanjutkan pekerjaan mereka sebagai nelayan. Mungkin mereka telah lupa akan apa yang telah terjadi pada diri mereka di Sungai Yordan. Mereka kembali pada pekerjaan mereka yang lama di sekitar laut. Tetapi Tuhan Yesus tidak melu-pakan mereka. Setelah Ia dicobai, Ia memulai ministri-Nya dan menyusul mereka. Hal ini sama dengan sebagian besar di antara kita. Pertama-tama kita datang kepada Tuhan, Ia melakukan banyak perkara atas diri kita, tetapi kita tidak menyadari makna dari perkara-perkara tersebut. Mungkin saja tepi sungai Anda adalah di Kanada atau China. Setelah bertemu dengan Tuhan di tepi sungai, Anda datang ke Laut Galilea untuk mencari nafkah, melakukan pekerjaan Anda sebagai nelayan, dan lupa akan apa yang telah Tuhan la-kukan atas diri Anda di tepi sungai. Banyak di antara kita yang lupa akan apa yang telah Tuhan lakukan atas diri kita dulu di tepi Sungai Yordan, dan berusaha sedapat mung-kin memperoleh uang dengan bekerja di sekitar Laut Galilea kita, yaitu di dunia yang jahat dan telah dirusak oleh Iblis. Tetapi pada suatu hari, terjadi kejutan bagi kita bahwa Dia yang telah menyelamatkan kita di tepi sungai itu dengan sengaja datang ke Laut Galilea kita sebagai Raja baru yang telah ditetapkan, untuk mendapatkan kita.

C. Sebagai Terang yang Besar yang Bercahaya dalam Kegelapan

Ketika Tuhan datang kepada kita di Laut Galilea kita, ada sesuatu yang berbeda mengenai Dia. Dalam Yohanes 1, pengenal Kristus menyatakan, “Lihatlah Anak Domba Allah!” Ketika Yohanes menyatakan bahwa Kristus adalah Anak Domba Allah, dua orang dari murid-muridnya, yaitu Andreas dan Yohanes, mengikuti Tuhan Yesus. Akhirnya, sebagai-mana kita tahu, saudara Andreas, yaitu Petrus, dan saudara Yohanes, yaitu Yakobus, juga dibawa kepada Tuhan dan ber-oleh selamat. Meskipun demikian, Raja memiliki tujuan dan Ia memerlukan Anda sebagaimana Ia memerlukan Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. Karena itu tiba-tiba Anak Domba Allah menampakkan diri di tempat keempat orang itu bekerja mencari nafkah. Tetapi saat ini Ia tidak datang sebagai Anak Domba — Ia datang sebagai Terang yang besar.

Ayat 16 mengatakan,“Bangsa yang diam dalam kege-lapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Yohanes Pembaptis adalah pelita yang menyala dan berca-haya (Yoh. 5:35). Tetapi Raja ini adalah Terangnya. Pada fak-tanya, Ia bukan hanya Terang, tetapi juga Terang yang besar. Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes tidak menyadari bahwa mereka berada dalam kegelapan ketika bekerja di dekat Laut Galilea mencari nafkah. Mereka berada dalam naungan maut. Inilah gambaran mengenai situasi hari ini. Banyak orang Kristen yang bertemu dengan Tuhan Yesus di tepi-tepi sungai dan beroleh selamat. Tetapi kemudian me-reka tidak memperhatikan pengalaman mereka itu; seba-liknya, mereka lebih memperhatikan pekerjaan. Karena itu, mereka pergi ke Laut Galilea untuk mencari nafkah. Me-reka tidak mengetahui bahwa dengan pergi ke Laut Galilea untuk mencari nafkah, mereka telah masuk ke dalam kege-lapan dan naungan maut. Semua orang yang bergumul men-cari nafkah di kota-kota besar seperti Los Angeles, New York, dan Chicago, berada dalam kegelapan dan negeri yang dina-ungi maut. Puji Tuhan, Raja baru tidak tinggal di Yerusalem! Ia datang ke tepi Laut Galilea, dan Ia masih datang ke tepi Laut Galilea hari ini, berjalan menyusur pantai untuk men-dapatkan kita. Saat ini Ia datang bukan sebagai Anak Domba yang kecil, melainkan sebagai Terang yang besar. Ketika Petrus dan Andreas sedang menjala ikan, terang besar ini bercahaya atas mereka. Ketika Tuhan berdiri dan bercahaya atas mereka, mungkin Ia berkata, “Petrus dan Andreas, apa yang sedang kalian lakukan di sini? Tidak ingatkah kalian bahwa Aku pernah bertemu kalian di dekat Sungai Yordan? Petrus, tidak ingatkah kamu bagaimana Aku mengubah namamu?” Hari itu di tepi Laut Galilea, Terang yang besar bercahaya atas mereka.

Pengalaman kita sama dengan pengalaman mereka. Kita telah diselamatkan di tepi Sungai Yordan. Tetapi kemudian kita lupa atas apa yang telah terjadi pada kita, dan pergi ke Laut Galilea untuk mencari nafkah. Sewaktu kita bekerja, Dia yang telah bertemu dengan kita sebagai Anak Domba Allah di tepi Sungai Yordan itu datang dan bercahaya atas kita. Sewaktu Ia bercahaya atas kita, Ia bertanya, “Apa yang sedang kamu lakukan di sana?” Saya dapat bersaksi bahwa pada suatu hari hal ini terjadi pada diri saya. Sewaktu saya bekerja di Laut Galilea untuk mencari nafkah, tiba-tiba suatu terang bersinar atas saya, dan Tuhan berkata, “Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Tidak ingatkah kamu akan apa yang telah terjadi di tepi sungai? Mungkin kamu lupa, tetapi Aku tidak.” Kemudian datang panggilan, “Ikutlah Aku”, dan saya mengikuti Dia. Pada prinsipnya, saya yakin bahwa sebagian besar di antara kita telah memiliki peng-alaman semacam ini. Anda diselamatkan di tepi sungai oleh Anak Domba Allah, tetapi Anda dipanggil di tepi Laut Galilea oleh cahaya Terang yang besar. Meskipun mungkin mudah bagi Anda untuk melupakan apa yang telah terjadi di tepi sungai tersebut, tetapi Anda tidak akan dapat melupakan saat-saat ketika Terang yang besar bercahaya atas Anda di Laut Galilea.

Meskipun catatan ini sangat sederhana, tetapi cerita yang sebenarnya tidaklah sederhana. Bagi Tuhan, memanggil Anda bukanlah masalah yang sederhana. Pertama-tama, Ia harus menemui Anda di beberapa tepi sungai. Kemudian, Ia harus datang kepada Anda di beberapa tepi laut. Pada suatu hari ketika Anda sedang bekerja, ruangan di mana Anda duduk diterangi, suatu Terang yang besar bercahaya atas Anda, dan Tuhan bertanya kepada Anda, “Apa yang sedang kamu lakukan di sini hari demi hari?” Ketika hal ini ter-jadi pada beberapa saudara tertentu, mereka menjatuhkan pena mereka dan berkata, “Apa yang aku lakukan di sini?” Selanjutnya Tuhan bertanya, “Tidak ingatkah kamu akan apa yang Kulakukan bagimu di tepi sungai? Sekarang kamu harus mengikuti-Ku.” Janganlah membaca catatan dalam Matius 4 hanya dalam cara yang obyektif. Kita harus mem-baca pasal ini dan bahkan keseluruhan Alkitab dalam cara yang subyektif dan menerapkannya pada diri kita sendiri. Puji Tuhan, banyak sekali di antara kita yang telah memi-liki pengalaman pada dua tempat — di tepi sungai dan di tepi laut.

Ministri Raja baru untuk Kerajaan Surga bukan dimulai dengan kuasa bumiah, melainkan dengan terang surgawi, yaitu Raja itu sendiri sebagai terang hayat yang memancar dalam naungan maut. Ketika Tuhan yang sebagai terang me-mulai ministri-Nya, Ia tidak menggunakan kekuatan dan ke-kuasaan. Ia sama dengan manusia pada umumnya, yaitu berjalan menyusur pantai. Tetapi sewaktu Ia datang kepada keempat murid itu di Laut Galilea, Ia bercahaya atas me-reka sebagai Terang yang besar, yang bercahaya dalam kegelapan dan negeri yang dinaungi maut. Pada saat itu, Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, diterangi dan ditarik. Telah kita tunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis adalah mag-net yang besar. Tetapi Tuhan Yesus adalah magnet yang paling besar daripada semuanya. Ketika Ia bercahaya atas keempat murid itu, mereka tertarik dan tertawan. Mereka segera meninggalkan pekerjaan mereka dan mengikuti Orang Nazaret kecil ini.

Dalam Matius 4 tidak terdapat catatan seperti yang terdapat dalam Lukas 5, yaitu catatan mengenai mukjizat-mukjizat yang dilakukan Tuhan ketika Petrus dipanggil. Te-tapi, dalam Matius 4 terdapat terang yang besar yang me-narik keempat murid tersebut. Tarikan ini bukan berasal dari apa yang Tuhan Yesus lakukan, melainkan dari apa adanya Dia. Ia adalah terang yang besar, magnet yang be-sar, dengan kekuatan untuk menarik dan menawan orang. Dengan cara yang sedemikian inilah Tuhan menarik dan me-nawan keempat murid yang pertama itu. Tidak ada seorang pun yang mengikuti Tuhan oleh karena apa yang Ia lakukan yang bisa diandalkan dan setia. Orang-orang yang bisa dian-dalkan adalah orang-orang yang ditangkap oleh apa adanya Tuhan. Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes ditarik dan ditawan di pantai, bukan karena melihat apa yang Tuhan lakukan, melainkan karena melihat apa adanya Tuhan. Karena mereka telah tertarik dan tertawan, maka mereka menjadi pengikut Tuhan Yesus yang setia sampai akhir. Akhirnya, mereka semua mati martir, karena mereka meng-ikuti Raja Kerajaan Surgawi.

Tidak hanya demikian, Tuhan Yesus memanggil keempat murid ini bukannya untuk memulai suatu pergerakan maupun revolusi. Sebaliknya, Ia menarik murid-murid ini kepada diri-Nya sendiri bagi berdirinya Kerajaan Surga.

D. Memberitakan Pertobatan untuk Kerajaan Surga

Ayat 17 mengatakan,“Sejak itu Yesus mulai membe-ritakan, ‘Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!’” Raja baru melanjutkan pemberitaan perintis-Nya, Yohanes Pembaptis, yaitu pemberitaan pertobatan untuk Kerajaan Surga, sebagai pendahuluan Injil Kerajaan.

E. Memanggil Empat Murid

1. Petrus dan Andreas

Ayat 18 mengatakan,“Ketika Yesus sedang berjalan me-nyusur Danau (Laut) Galilea, Ia melihat dua orang ber-saudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau (laut), sebab mereka penjala ikan.”Ministri Raja baru bukan dila-kukan di ibu kota, melainkan di tepi laut. Ministri perintis-Nya di tepi sungai untuk menguburkan orang yang agamis dan mengakhiri agama mereka. Ministri Raja baru dimulai di tepi laut untuk mendapatkan orang-orang yang tidak agamis, orang-orang yang tinggal di sekitar laut, dan bukan di tempat kudus, dan menjadikan mereka penjala manusia untuk men-dirikan Kerajaan Surga.

Ayat 19-20 mengatakan, “Yesus berkata kepada mereka, ‘Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala ma-nusia.’ Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan meng-ikuti Dia.”Sewaktu muda, ketika saya membaca bagian firman ini, saya tidak memahami mengapa nelayan-nelayan ini tiba-tiba mengikuti orang Nazaret yang berkata, “Ikutlah Aku.” Saya mengira bahwa mereka telah kehilangan akal. Tetapi setelah bertahun-tahun membaca firman dan memperhatikan pengalaman saya, saya mulai mengerti. Sebelum ini, Andreas, salah seorang dari dua murid Yohanes Pembaptis, telah membawa Petrus kepada Tuhan di tempat Yohanes memberitakan (Yoh. 1:35-36, 40-42). Itulah kali pertama Andreas dan Petrus bertemu dengan Tuhan. Di sini, Tuhan menemui mereka untuk kali kedua, di tepi Laut Galilea. Mereka tertarik oleh Tuhan sebagai terang yang besar yang bersinar dalam kegelapan maut, kemudian mengikuti Dia untuk mendirikan Kerajaan Surga dalam terang hayat.

Ketika Petrus dan Andreas dipanggil oleh Tuhan, me-reka sedang menebarkan jala ke laut. Tuhan memanggil mereka untuk mengikuti-Nya dan berjanji akan menjadi-kan mereka penjala manusia. Mereka meninggalkan jala mereka, dan mengikuti Raja Kerajaan Surga untuk menjadi penjala manusia. Akhirnya, Petrus menjadi penjala besar per-tama untuk mendirikan Kerajaan Surga pada hari Pentakosta (Kis. 2:37-42; 4:4).

2. Yakobus dan Yohanes

Hal yang sama juga terjadi pada Yakobus dan Yohanes (Mat. 4:21-22). Ketika mereka dipanggil oleh Tuhan, mereka sedang menambal jala mereka di dalam perahu. Begitu Tuhan memanggil mereka, mereka meninggalkan perahu dan ayah mereka serta mengikuti Dia. Yohanes dan saudaranya, sebagaimana Petrus dan Andreas, tertarik oleh Tuhan dan mengikuti Dia. Akhirnya, Yohanes menjadi penambal yang sejati, menambal lubang dalam gereja dengan ministri hayat-nya (lihat ketiga suratnya dan Wahyu 2 dan 3).

Panggilan kepada keempat murid itu merupakan permulaan dari ministri kerajaan Raja baru yang telah di-urapi. Ini merupakan dasar bagi berdirinya Kerajaan Surga. Keempat murid ini menjadi empat orang yang utama dari ke-dua belas rasul. Petrus dan Andreas adalah pasangan yang pertama, Yakobus dan Yohanes adalah pasangan yang kedua. Jadi, keempat murid pertama yang ditangkap oleh Tuhan Yesus menjadi keempat batu fondasi utama Kerajaan Allah, yaitu empat dari dua belas fondasi Yerusalem Baru (Why. 21:14).

F. Menarik Banyak Orang

1. Dengan Berkeliling ke Seluruh Galilea

Ayat 23 mengatakan,“Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan mem-beritakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang di antara bangsa itu dari segala penyakit dan kele-mahan mereka.” Yesus memperluas ministri-Nya dengan berkeliling ke daerah Galilea.

2. Dengan Mengajar di Rumah-rumah Ibadat

Ayat 23 mengatakan bahwa Yesus mengajar di rumahrumah ibadat di Galilea. Rumah ibadat adalah tempat bagi orang-orang Yahudi untuk membaca dan mempelajari Kitab Suci (Luk. 4:16-17; Kis. 13:14-15). Raja kerajaan surgawi memegang kesempatan untuk mengajar di sana.

3. Dengan Memberitakan Injil Kerajaan Allah

Dari permulaan ministri-Nya, Raja Surgawi memberitakan Injil Kerajaan Allah. Injil dalam kitab ini disebut “Injil Kerajaan”. Ini tidak hanya mencakup pengampunan dosa (Luk. 24:47) dan penyaluran hayat (Yoh. 20:31), tetapi juga mencakup Kerajaan Surga (Mat. 24:14) dengan kuasa zaman yang akan datang (Ibr. 6:5), kuasa untuk mengusir setan dan menyembuhkan penyakit (Yes. 35:5-6; Mat. 10:1). Pengampunan dosa dan penyaluran hayat adalah untuk kerajaan.

4. Dengan Menyembuhkan Berbagai Penyakit dan Orang yang Dirasuk Setan

Sewaktu Tuhan berkeliling di seluruh Galilea, Ia me-nyembuhkan berbagai penyakit di antara banyak orang. Tuhan Yesus memperluas ministri-Nya dengan melakukan keempat perkara ini: berkeliling, mengajar, memberitakan, dan menyembuhkan. Dalam pekerjaan Injil hari ini kita juga harus berkeliling, mengajar, memberitakan, dan me-nyembuhkan. Kita memerlukan keempat perkara ini; kita tidak boleh mengabaikan maupun memandang rendah pe-nyembuhan. Kita tidak boleh mengikuti pelaksanaan ke-kristenan fundamental yang hanya memiliki sedikit sekali penyembuhan, ataupun kekristenan Pentakosta yang terlalu banyak menekankan hal ini, bahkan memiliki penyembuhan yang keliru, yang hanya berupa pertunjukan. Janganlah kita mengikuti kedua ekstrem itu, sebaliknya kita harus berjalan pada langkah Tuhan Yesus yang berkeliling, meng-ajar, memberitakan, dan menyembuhkan. Janganlah berang-gapan bahwa kita tidak mempercayai mukjizat. Kita percaya sepenuhnya pada mukjizat. Kita mengikuti pimpinan Tuhan untuk berkeliling, memberitakan, dan menyembuhkan.

Dengan bercahaya sebagai terang yang besar, Tuhan menawan keempat nelayan muda itu untuk menjadi muridmurid-Nya. Keempat murid ini berkeliling bersama Raja ke seluruh Galilea sebagaimana Ia mengajar, memberitakan, dan menyembuhkan. Hasilnya ialah banyak orang yang mengikuti-Nya (ayat 25) bagi Kerajaan Surga. Inilah per-mulaan berdirinya Kerajaan Surga. Hal ini sama sekali berbeda dengan cara dunia. Tuhan tidak memulai suatu per-gerakan politik atau membentuk suatu partai politik. Ia tidak mengadakan pergerakan macam apa pun. Dalam hal mem-beritakan Injil, kita tidak boleh memakai sistem politik ataupun cara agama. Kita harus mengikuti cara Tuhan Yesus, yaitu bercahaya atas orang lain dan menarik mereka melalui apa adanya kita. Kemudian kita harus berkeliling, mengajar, memberitakan, dan menyembuhkan. Cara ini akan menarik banyak orang.