PENGUMUMAN KONSTITUSI KERAJAAN (1)
Dalam berita ini kita sampai pada pengumuman konstitusi kerajaan yang tercatat dalam Matius 5, 6, dan 7. Sepanjang tahun, ketiga pasal ini disalah-artikan atau disalahgunakan oleh banyak orang Kristen. Saya harap, dalam berita mengenai ketiga pasal ini kita semua nampak makna yang sesungguhnya dari bagian firman ini.
Salah satu hal yang paling sulit untuk dipahami oleh kaum beriman ialah Kerajaan Surga. Kerajaan Surga tidak-lah sesuai dengan konsepsi yang alamiah dan agamis. Seba-gaimana kita nampak, Kerajaan Surga menunjukkan sesu-atu yang sangat khusus. Untuk memahami Kerajaan Surga, kita harus lepas dari konsepsi tradisional yang kita peroleh dari latar belakang kita dalam agama Kristen. Tidak ada satu pun ajaran-ajaran mengenai Kerajaan Surga yang kita terima dalam latar belakang kita yang sesuai dengan firman murni. Kita telah berkali-kali mempelajari masalah Kera-jaan Surga ini selama 50 tahun lebih. Buku pertama yang saya terbitkan mengenai subyek ini dikeluarkan pada tahun 1936. Sejak saat itu, kita mulai membahas subyek ini. Jadi, kita memiliki jaminan yang penuh bahwa apa yang kita nampak dalam Alkitab mengenai Kerajaan Surga itu akurat. Tetapi, apa yang kita nampak ini agak berbeda dengan kon-sepsi tradisional mengenai kerajaan. Karena itu, kita harus mengeluarkan banyak waktu untuk nampak perkara ini de-ngan jelas dalam pasal-pasal ini.
Matius 5, 6, dan 7 boleh disebut sebagai konstitusi Kerajaan Surga. Setiap bangsa memiliki konstitusi. Tentu saja Injil Matius, kitab mengenai Kerajaan Surga, pasti juga memiliki konstitusi. Dari perkataan yang dikatakan oleh Raja baru sebagai konstitusi Kerajaan Surga dalam ketiga pasal ini, kita nampak wahyu tentang kehidupan rohani dan prinsip-prinsip surgawi mengenai Kerajaan Surga. Sifatnya tunggal, tetapi prinsipnya jamak. Konstitusi Kerajaan Surga terdiri atas tujuh bagian: hakiki umat kerajaan (5:1-12); pengaruh umat kerajaan (5:13-16); hukum umat kerajaan (5:17-48); perbuatan benar umat kerajaan (6:1-18); kekayaan materi umat kerajaan (6:19-34); prinsip umat kerajaan da-lam memperlakukan orang lain (7:1-12); dan dasar kehidupan dan pekerjaan umat kerajaan (7:13-29). Bagian pertama (Mat. 5:3-12), menggambarkan sifat dasar (hakiki) umat Kerajaan Surga yang berada di bawah sembilan berkat. Bagian ini membentangkan orang-orang yang hidup dalam Kerajaan Surga. Umat kerajaan juga harus mempunyai pengaruh atas dunia. Hakiki orang-orang kerajaan, hakiki kerajaan, mem-punyai pengaruh atas dunia. Orang-orang kerajaan juga me-miliki hukum. Hukum ini bukanlah hukum yang lama, hukum Musa, sepuluh perintah; hukum ini adalah hukum Kerajaan Surga yang baru. Orang-orang kerajaan adalah orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan benar dan memiliki sikap yang tepat berkaitan dengan kekayaan ma-teri. Karena umat kerajaan masih berada di bumi dalam masyarakat manusia, konstitusi Kerajaan Surga tersebut mewahyukan prinsip bagaimana mereka harus memperla-kukan orang lain. Akhirnya, pada bagian terakhir dari kon-stitusi ini, kita nampak dasar kehidupan dan pekerjaan sehari-hari umat kerajaan. Semua aspek umat kerajaan tersebut tercakup dalam ketujuh bagian konstitusi Kerajaan Surga ini.
I. TEMPAT DAN PARA PENDENGAR
A. Di Atas Gunung
Matius 5:1 mengatakan, “Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit (gunung), dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.” Raja baru ini memanggil pengikut-pengikut-Nya di tepi laut, tetapi untuk menyampaikan konstitusi Kerajaan Surga, Dia naik ke atas gunung. Ini menunjukkan bahwa demi realisasi Kera-jaan Surga, kita perlu pergi ke tempat yang lebih tinggi ber-sama-Nya.
Pengumuman konstitusi Kerajaan Surga di atas gunung ini sangat bermakna. Laut melambangkan dunia yang telah dirusak oleh Iblis. Ketika kita ditangkap oleh Tuhan, kita berada di dunia yang telah dirusak oleh Iblis dan sedang ber-usaha mencari nafkah. Tetapi setelah Tuhan menangkap kita, Ia memimpin kita ke gunung yang tinggi, yang melam-bangkan Kerajaan Surga. Ini menunjukkan bahwa Kerajaan Surga bukan didirikan di tepi laut, tetapi di atas gunung. Dalam Alkitab, gunung kadang-kadang melambangkan Kerajaan Surga. Sebagai contoh, menurut Daniel 2:34-35, sebuah batu yang terungkit lepas tanpa perbuatan tangan manusia meremukkan patung yang tinggi, dan kemudian menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi. Gunung ini melambangkan Kerajaan Seribu Tahun. Karena itu, dalam Alkitab gunung melambangkan kerajaan, khususnya Kerajaan Surga.
Tidak hanya demikian, dibawa naik ke atas gunung me-nunjukkan bahwa jika kita hendak mendengarkan peng-umuman konstitusi Kerajaan Surga, kita tidak seharusnya berada pada dataran yang rendah, melainkan naik ke gu-nung yang tinggi. Untuk mendengarkan konstitusi ini kita harus berada pada dataran yang tinggi. Di tepi laut Tuhan berkata, “Ikutlah Aku.” Tetapi untuk mengumumkan kon-stitusi Kerajaan Surga, Ia membawa mereka ke puncak gu-nung. Mengikuti Tuhan mungkin agak mudah, tetapi mende-ngarkan konstitusi bagi berdirinya Kerajaan Surga menuntut kita naik ke puncak gunung yang tinggi.
B. Kepada Murid-murid-Nya
Ayat 1 mengatakan, “. . . dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.” Ketika Raja baru duduk di gunung, murid-Nya (bukan orang banyak) datang kepada-Nya untuk menjadi pendengar-Nya. Akhirnya, bukan hanya orang Yahudi yang percaya, bahkan orang bukan Yahudi (28:19) menjadi murid-murid-Nya. Kemudian murid-murid itu disebut orang Kristen (Kis. 11:29). Jadi, perkataan Raja baru yang dikatakan di atas gunung dalam Matius 5, 6, dan 7 mengenai konstitusi Kerajaan Surga dikatakan kepada kaum beriman Perjanjian Baru, bukan kepada orang-orang Yahudi Perjanjian Lama.
Dalam ayat 1 dan 2 kita nampak bahwa Tuhan mengajar murid-murid-Nya, bukan mengajar orang banyak. Orang ba-nyak yang mengerumuni-Nya berada pada lingkaran yang di luar, tetapi murid-murid-Nya berada pada lingkaran yang di dalam. Meskipun mungkin Anda berada di atas gunung, te-tapi Anda harus berada pada lingkaran bagian dalam, karena konstitusi kerajaan tersebut bukanlah untuk orang-orang yang berada pada lingkaran yang di luar, tetapi untuk orang-orang yang berada pada lingkaran yang di dalam.
Menurut sejarah, pernah timbul suatu perdebatan yang besar mengenai kepada siapakah pengumuman ini ditujukan, kepada orang Yahudi, orang kafir (bukan Yahudi), ataukah kaum beriman. Berdasarkan pelajaran kita, kita nampak bahwa konstitusi ini bukan diberikan kepada orang Yahudi maupun orang kafir, melainkan kepada kaum beriman Per-janjian Baru. Tidak diragukan lagi bahwa murid-murid ter-sebut adalah kaum beriman Yahudi pada saat pengumuman konstitusi itu diberikan. Tetapi, ketika mereka berada di atas gunung mendengarkan pengumuman konstitusi kerajaan, mereka tidak mewakili orang-orang Yahudi, melainkan me-wakili kaum beriman Perjanjian Baru dalam 28:12, Tuhan memberi tahu murid-murid-Nya agar pergi dan mengajar semua bangsa, yaitu orang kafir (bukan Yahudi). Ini berarti bahwa semua bangsa hendak dijadikan murid-murid-Nya. Karena itu, baik kaum beriman Yahudi maupun bukan Yahudi adalah murid-murid. Para pendengar di atas gunung itu se-bagian besar terdiri atas orang Yahudi, yang mewakili semua murid.
II. MENGENAI HAKIKI UMAT KERAJAAN
Sekarang kita sampai pada bagian pertama dari kon-stitusi ini, yaitu bagian mengenai hakiki umat kerajaan. Mungkin tidak banyak orang Kristen yang telah nampak bahwa Matius 5:1-12 mewahyukan hakiki umat kerajaan. Semua orang Kristen harus menjadi umat kerajaan. Tetapi situasi hari ini tidaklah normal. Banyak orang beriman yang tidak berada pada taraf setinggi umat kerajaan. Umat kera-jaan adalah pemenang. Menjadi seorang pemenang bukanlah menjadi sesuatu yang istimewa, melainkan sesuatu yang nor-mal. Jadi, setiap orang beriman harus menjadi bagian dari umat kerajaan.
Ayat-ayat ini menggambarkan sembilan aspek hakiki umat kerajaan. Mereka adalah orang-orang yang miskin di dalam roh, yang berduka atas keadaan saat ini, yang lemah lembut dalam menanggung tentangan, yang lapar dan haus akan kebenaran, yang bermurah hati, yang suci (murni) hatinya, yang membawa damai, yang menderita aniaya ka-rena kebenaran, dan yang dicela serta difitnah. Setiap aspek dimulai dengan kata “diberkati” (berbahagialah). Sebagai contoh, ayat 3 mengatakan, “Berbahagialah orang yang mis-kin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga.” Kata “diberkati” ini dalam bahasa Yunaninya me-miliki arti “diberkati dan berbahagia”. Sejumlah terjemahan menggunakan kata berbahagia sebagai pengganti kata di-berkati. Tetapi, kita tidak seharusnya menggunakan kata “berbahagia” dalam cara yang tidak tepat. Berkat dan ba-hagia di sini bukanlah suatu hal yang remeh, melainkan suatu hal yang berbobot. Ketika Anda mendengar perkataan, “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh”, Anda tidak seharusnya bersorak dan melompat-lompat. Berbahagia dalam ayat ini adalah sesuatu yang dalam.
A. Miskin di Dalam Roh
untuk Menerima Kerajaan Surga
Dalam ayat 3 Raja baru berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di dalam roh, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga” (Tl.). Meskipun telah banyak orang yang membicarakan berkat-berkat dalam ayat-ayat ini, tetapi be-lum pernah saya mendengar seorang pun yang membicara-kan roh dalam ayat 3 ini. Terjemahan ayat 3 dalam versi Mandarin sangatlah kurang. Terjemahan itu mengatakan, “Berbahagialah orang yang rendah hati.” Meskipun para sar-jana yang menerjemahkan versi Mandarin pada umumnya telah melakukan tugas mereka dengan baik, tetapi mereka tidak nampak perbedaan antara hati dan roh. Ayat lain dalam pasal ini, yaitu ayat 8, membicarakan tentang kesucian hati. Karena itu, terjemahan Mandarin mengatakan rendah hati dan suci hati. Sebelum kita masuk ke dalam gereja, banyak di antara kita yang tidak nampak perbedaan antara hati dan roh. Kerajaan Surga pertama-tama berhubungan dengan roh kita.
Roh dalam ayat 3 bukan mengacu kepada Roh Allah, melainkan roh insani kita, bagian yang paling dalam dari diri kita, yaitu organ untuk berkontak dengan Allah dan me-mahami hal-hal rohani. Miskin di dalam roh bukan berarti memiliki roh yang miskin. Memiliki roh yang miskin sangat-lah menyedihkan. Tetapi jika kita miskin di dalam roh, kita bahagia. Miskin di dalam roh bukan hanya mengacu kepa-da rendah hati, tetapi juga dikosongkan di dalam roh, dalam kedalaman diri manusia kita, tidak berpegang pada hal-hal lama dari zaman yang lama, tetapi dibongkar untuk mene-rima hal-hal yang baru, hal-hal Kerajaan Surga. Kita perlu menjadi miskin, dikosongkan, dan dibongkar dalam bagian apa adanya kita yang satu ini, sehingga kita dapat mema-hami dan memiliki Kerajaan Surga. Ini menyiratkan bahwa Kerajaan Surga bersifat rohani, bukan bersifat materi.
Kita harus mengosongkan roh kita dari semua hal usang yang memenuhinya. Roh orang-orang Yahudi juga penuh; roh mereka sepenuhnya terisi dengan perkara-perkara agama mereka. Orang-orang Yunani penuh dengan filsafat mereka. Pernah saya bekerja dengan seorang Yunani yang sa-ngat membanggakan bahasa dan filsafat Yunani. Meskipun pikiran dan roh orang-orang Yunani telah terisi, tetapi ber-dasarkan pengalaman saya bersama mereka, orang-orang Yunani agak mudah dihampakan. Mereka tidak keras kepala. Hari ini banyak juga orang Kristen yang rohnya terisi. Jika Anda berbicara dengan mereka yang berada dalam deno-minasi, Anda akan merasakan bahwa roh mereka terisi. Hampir semua macam orang Kristen hari ini rohnya terisi oleh hal-hal lain selain Allah. Ketika Tuhan Yesus membe-ritakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (4:17), tidak banyak orang yang dapat menerima perkataan-Nya, karena roh mereka telah terisi hal-hal lain. Minuman yang terbaik diberikan, tetapi bejana mereka telah terisi. Jadi, mereka tidak dahaga. Kapan kala roh kita terisi, kita tidak mempunyai daya muat dalam bejana kita, bahkan untuk minuman yang terbaik sekalipun. Karena itu, ketika Tuhan berbicara kepada murid-murid-Nya di atas gunung, kata pembuka dari pengumuman-Nya ialah kita harus miskin di dalam roh, yaitu roh kita harus dihampakan dari segala sesuatu.
Bertahun-tahun yang lalu saya pernah mengunjungi beberapa pertemuan Kaum Saudara di negara ini. Ketika saya melihat orang-orang itu, hati saya sakit dan roh saya hancur. Alangkah matinya! Setiap orang kekeringan. Di tem-pat pertama saya diundang, saya mengatakan kepada mereka bahwa mereka tidak membutuhkan ajaran-ajaran. Saya memberi tahu mereka bahwa mereka telah memiliki ajaran-ajaran yang cukup, dan apa yang mereka perlukan ialah hayat dan roh. Perkataan saya ini melukai perasaan mereka. Mereka tidak mendengarkan perkataan saya tentang hayat dan roh; mereka hanya mendengarkan apa yang saya kata-kan mengenai doktrin. Segera setelah pemberitaan tersebut selesai, pemimpin mereka datang kepada saya dan menegur saya, katanya, “Saudara Lee, ajaran Anda benar-benar ke-liru. Tadi Anda mengatakan kepada kami bahwa kami tidak memerlukan doktrin. Tentu saja kami memerlukan doktrin! Bukankah Alkitab adalah kitab doktrin?” Saya tidak men-jawab sepatah kata pun, tetapi saya berpikir, “Orang yang malang, jika engkau senang doktrin, pergilah kepada doktrin dan mati di sana.” Kemudian saya diundang untuk ber-bicara pada perhimpunan Kaum Saudara lainnya. Situasi dan reaksi pada saat itu sama dengan sebelumnya. Adanya reaksi seperti itu dikarenakan orang-orang yang berada dalam per-himpunan Kaum Saudara tidak miskin di dalam roh. Se-baliknya, roh mereka terisi dengan apa yang disebut doktrin-doktrin Brethren. Semua doktrin ini sama dengan hutan mati yang hanya berfungsi untuk mematikan mereka.
Kita semua perlu memperhatikan perkataan Tuhan tentang miskin di dalam roh kita dan berkata, “Tuhan, ham-pakan aku. Kosongkanlah rohku. Aku tidak ingin menyimpan apa pun dalam rohku selain diri-Mu. Aku mau semua daya muat dalam rohku terpakai oleh-Mu.”
Ayat 3 mengatakan bahwa orang-orang yang miskin di dalam roh akan berbahagia, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. Banyak orang Kristen yang ingin masuk surga, tetapi hampir tidak seorang pun yang ingin berada dalam Kerajaan Surga. Sungguh suatu hal yang keliru jika kita ingin masuk surga. Hati Allah bukan tertuju kepada sur-ga, melainkan pada Kerajaan Surga. Berbahagialah mereka yang miskin di dalam roh, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga.
Kerajaan Surga adalah istilah khusus yang digunakan oleh Matius, menunjukkan bahwa Kerajaan Surga berbeda de-ngan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah disebutkan dalam ketiga kitab Injil lainnya. Kerajaan Allah menunjukkan pemerin-tahan umum Allah dari zaman azali sampai zaman abadi, meliputi kekekalan tanpa awal sebelum dunia dijadikan, nenek moyang yang terpilih (termasuk Adam saat masih di Taman Eden), bangsa Israel dalam Perjanjian Lama, gereja dalam Perjanjian Baru, Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang (termasuk bagian surgawinya, manifestasi Kerajaan Surga, dan bagian bumiahnya, Kerajaan Mesias), dan langit baru dan bumi baru dengan Yerusalem Baru dalam keke-kalan tanpa akhir. Kerajaan Surga adalah bagian khusus dalam Kerajaan Allah, bagian yang hanya terdiri atas gereja hari ini dan bagian surgawi dari Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang. Karena itu, dalam Perjanjian Baru, khu-susnya dalam ketiga Injil yang lain, Kerajaan Surga, sebagai bagian dari Kerajaan Allah, juga disebut “Kerajaan Allah”. Dalam Perjanjian Lama secara umum, Kerajaan Allah sudah ada bersama bangsa Israel (21:43); secara khusus, Kerajaan Surga masih belum datang dan hanya sudah dekat ketika Yohanes Pembaptis datang (31:1-2; 11:11-12).
Menurut Injil Matius, ada tiga aspek mengenai Kera-jaan Surga: realitasnya, penampilannya, dan manifestasinya. Realitas Kerajaan Surga ialah isi batiniah Kerajaan Surga dalam sifat surgawinya dan sifat rohaninya, seperti yang diwahyukan oleh Raja baru di atas gunung dalam pasal 5—7. Penampilan Kerajaan Surga adalah keadaan luar Kerajaan Surga dalam nama, seperti yang diwahyukan oleh Raja baru di tepi laut dalam pasal 13. Manifestasi Kerajaan Surga adalah kedatangan riil Kerajaan Surga dalam kuasa, seperti yang diungkapkan oleh Raja di Bukit Zaitun dalam pasal 24—25. Realitas dan penampilan Kerajaan Surga ada pada gereja hari ini. Realitas Kerajaan Surga adalah hidup gereja yang normal (Rm. 14:17), yang berada dalam penampilan Kerajaan Surga, yang dikenal sebagai kekristenan. Manifes-tasi Kerajaan Surga adalah bagian surgawi dari Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang, yang mengacu kepada Ke-rajaan Bapa dalam 13:43; bagian bumiah dari Kerajaan Seribu Tahun adalah Kerajaan Mesias, yang mengacu kepada Kera-jaan Anak Manusia dalam 13:41, dan yang merupakan Kemah Daud yang dipugar, kerajaan Daud (Kis. 15:16). Dalam bagian surgawi dari Kerajaan Seribu Tahun, yaitu Kerajaan Surga yang ternyata dalam kuasa, kaum beriman pemenang akan memerintah bersama Kristus selama seribu tahun (Why. 20:4, 6). Dalam bagian bumiah dari Kerajaan Seribu Tahun, yaitu Kerajaan Mesias di bumi, sisa orang Israel yang beroleh selamat akan menjadi imam dan akan mengajar bangsa-bangsa untuk menyembah Allah (Za. 8:20-23).
Jika kita miskin di dalam roh, Kerajaan Surga adalah milik kita. Sekarang kita berada dalam realitasnya dalam zaman gereja, dan kita akan berbagian dalam manifestasinya dalam zaman kerajaan.
Berdasarkan ajaran dalam keempat kitab Injil, terdapat perbedaan yang penting antara Kerajaan Surga dengan Kera-jaan Allah. Jika Anda ingin memahami Injil Matius, Anda harus membedakan antara Kerajaan Surga dengan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah pengaturan yang ilahi. Peng-aturan Allah adalah dari masa azali ke masa abadi. Jadi, Kerajaan Allah menunjukkan pemerintahan ilahi, yaitu peng-aturan Allah. Di antara masa azali dan masa abadi, kita memiliki nenek moyang (termasuk Adam saat masih di Taman Eden), bangsa Israel, gereja, dan Kerajaan Seribu Tahun. Kerajaan Seribu Tahun terbagi menjadi bagian surgawi dan bagian bumiah. Bagian surgawi disebut Kerajaan Bapa, dan bagian bumiah disebut Kerajaan Anak Manusia serta Kerajaan Mesias, yaitu Kerajaan Daud yang dibangunkan kembali (dipulihkan). Segala sesuatu yang ada mulai dari Taman Eden, Adam, sampai Yerusalem Baru, tercakup dalam Ke-rajaan Allah. Kerajaan ini berlangsung dari masa azali ke masa abadi.
Kerajaan Surga ialah bagian dari Kerajaan Allah, seperti halnya California ialah bagian dari Amerika Serikat. Karena Kerajaan Surga merupakan bagian dari Kerajaan Allah, maka kadang-kadang disebut Kerajaan Allah. Sebagai contoh, California, bagian dari Amerika Serikat, kadangkadang disebut Amerika Serikat. Meskipun California boleh disebut Amerika Serikat, tetapi Amerika Serikat tidak dapat disebut California. Demikian pula, meskipun Kerajaan Surga boleh disebut Kerajaan Allah, Kerajaan Allah tidak dapat disebut Kerajaan Surga.
Matius 21:43 menunjukkan bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari bangsa Israel, ini menunjukkan bahwa sebe-lumnya Kerajaan Allah telah ada pada mereka. Jika belum, bagaimana mungkin Kerajaan Allah dapat diambil dari me-reka? Meskipun Kerajaan Allah telah ada di sana, tetapi Yohanes Pembaptis berkata, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat. 3:2). Di satu pihak, Kerajaan Allah ada di sana; di pihak lain, Kerajaan Surga belum ada di sana. Bahkan ketika Tuhan berkata kepada orang-orang Yahudi dalam pasal 21 mengenai Kerajaan Allah yang akan diambil dari mereka, Kerajaan Surga hanya sudah dekat saja. Pada hari Pentakostalah Kerajaan Surga datang. Karena itu, dalam perumpamaan yang pertama dalam pasal 13, yaitu perumpamaan mengenai seorang penabur, Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa hal Kerajaan Surga adalah seum-pama seorang penabur, karena Ia telah menjadi penabur tersebut sebelum hari Pentakosta. Pentakosta adalah peng-genapan dari perumpamaan kedua mengenai lalang. Jadi, dalam menyatakan perumpamaan itu Tuhan Yesus berkata, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama . . .” Melalui semua ini kita nampak bahwa Kerajaan Allah telah ada sebelum Ke-rajaan Surga datang.
Kerajaan Surga terdiri atas dua bagian. Bagian pertama yaitu gereja, dan bagian kedua yaitu bagian atas Kerajaan Seribu Tahun. Semua orang Kristen hari ini berada dalam gereja. Tetapi hanya para pemenanglah yang akan berada pada bagian atas, yaitu bagian surgawi dari Kerajaan Seribu Tahun. Apa yang kita miliki dalam gereja hari ini ialah realitas Kerajaan Surga, yaitu manifestasi. Manifestasi ke-rajaan tidak akan terjadi sebelum masa seribu tahun. Mani-festasi Kerajaan Surga akan tertampak pada bagian atas Kerajaan Seribu Tahun.
Berbahagialah orang-orang yang miskin di dalam roh, ka-rena merekalah yang punya Kerajaan Surga (perhatikanlah bahwa Tuhan tidak mengatakan “karena merekalah yang punya Kerajaan Allah.”) Ketika kita menjadi miskin di dalam roh kita, berarti kita telah siap untuk menerima Raja Sur-gawi. Ketika ia masuk, ia membawa Kerajaan Surga ber-sama-Nya. Segera setelah menerima Raja Surgawi, kita berada di dalam gereja, tempat realitas Kerajaan Surga. Jika kita adalah para pemenang, pada kedatangan-Nya kembali Tuhan akan membawa kita ke dalam manifestasi Kerajaan Surga. Untuk memiliki Kerajaan Surga pertama-tama kita harus berpartisipasi dalam hidup gereja yang layak, normal; dan kedua kita mewarisi manifestasi Kerajaan Surga dalam bagian atas dari Kerajaan Seribu Tahun. Inilah makna dari perkataan, “karena merekalah yang punya Kerajaan Surga.” Orang-orang Kristen yang mundur, mereka akan kehilangan realitas Kerajaan Surga pada masa kini dan manifestasi Ke-rajaan Surga pada masa yang akan datang. Alangkah ba-hagianya menjadi orang yang miskin di dalam roh! Jika kita miskin di dalam roh, kitalah yang mempunyai Kerajaan Surga. Haleluya atas berkat utama dan Kerajaan Surga ini! Betapa baiknya jika kita miskin di dalam roh kita!