PENGUMUMAN KONSTITUSI KERAJAAN (2)
Kerajaan Surga secara mutlak berhubungan dengan roh kita. Berkat pertama dalam pasal 5 adalah berkat dalam roh kita: “Berbahagialah orang yang miskin di dalam roh” (5:3, Tl.). Jadi, aspek pertama Kerajaan Surga yang tercakup da-lam pasal ini berhubungan dengan roh insani kita.
Ada beberapa terjemahan dari ayat 3 yang sangat kurang sekali, seperti, “Berbahagialah orang yang berpikir sederha-na”, dan “Berbahagialah orang yang rendah hati.” Banyak orang Kristen yang tidak memahami apa yang Tuhan Yesus katakan mengenai miskin di dalam roh. Tidak hanya demi-kian, mereka juga tidak mengetahui bahwa Kerajaan Surga merupakan masalah di dalam roh. Jika kita tidak mengenal roh kita, berarti kita “putus” dengan Kerajaan Surga, karena Kerajaan Surga berhubungan dengan roh kita.
Ketika Tuhan Yesus berbicara di atas gunung, Ia mengetahui situasi sebenarnya dari pendengar-Nya, pendengar yang terdiri dari orang-orang Galilea. Orang-orang Galilea telah terisi dengan konsepsi agama yang tradisional. Bahkan wanita amoral dari Samaria dalam Yohanes 4 pun memiliki sejumlah konsepsi yang agamis. Percakapannya dengan Tuhan Yesus menyingkapkan fakta ini. Jika wanita kelas rendah yang sedemikian ini saja telah terisi dengan konsepsi-konsepsi agamis, apalagi para nelayan Galilea. Tiga kali setahun me-reka pergi ke Yerusalem untuk merayakan hari raya, dan tinggal di sana paling sedikit satu minggu. Fakta ini menun-jukkan kepada kita bahwa para nelayan Galilea tersebut bukanlah bejana yang kosong. Selama Tuhan Yesus berada di bumi, semua orang, baik orang Yahudi, Romawi, maupun Yunani, telah terisi penuh. Orang Yahudi terisi oleh konsepsi agamis yang tradisional, pengetahuan Alkitab, dan ajaran-ajaran hukum Taurat. Mereka memahami semua hal me-ngenai Kota Kudus, Bait Suci, dan sistem pelayanan imamat yang kudus. Mereka mengetahui semua hal mengenai mez-bah, kurban, hari raya, ketentuan, dan peraturan-peraturan. Semua itu adalah berkat luaran. Kita tidak perlu memper-hatikan orang Yunani dan Romawi, karena orang Yahudi yang berdiri di hadapan Tuhan Yesus pun telah terisi dengan konsepsi tradisional mereka.
Tuhan Yesus datang sebagai Raja baru untuk memulai suatu zaman yang baru. Dengan datang sebagai Raja baru, Allah memulai suatu ekonomi yang baru. Zaman baru Allah berhubungan dengan satu Persona yang ajaib. Secara kiasan, ekonomi baru ini adalah Persona ini. Janganlah beranggapan bahwa Kerajaan Surga itu sebagai sesuatu yang terpisah dari Kristus. Tidak, Kerajaan Surga adalah Kristus itu sen-diri. Tanpa Raja, kita tidak akan memiliki kerajaan. Kita tidak akan dapat memiliki Kerajaan Surga tanpa Kristus. Ketika orang-orang Farisi bertanya kepada Tuhan Yesus kapan Kerajaan Allah akan datang, Ia menjawab, “Sebab se-sungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk. 17:21). Perkataan Tuhan kepada orang-orang Farisi ini menunjuk-kan bahwa Ia sendirilah kerajaan itu. Di mana Yesus berada, di situ pula kerajaan berada. Kerajaan Allah adalah persona Raja. Karena itu, ketika kita memiliki Raja, kita juga me-miliki kerajaan.
Ketika Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes pergi ke Yerusalem untuk menghadiri perayaan, Yohanes Pembaptis sedang melayani di padang gurun di luar Yerusalem. Tentu saja keempat murid ini tertarik kepadanya. Akhirnya, mereka bertemu dengan Tuhan Yesus dan beroleh selamat di tepi Sungai Yordan. Tuhan Yesus dibaptis di Sungai Yordan, sama seperti keempat murid tersebut, dan ia diurapi di sana. Empat puluh hari setelah pengurapan itu, Tuhan Yesus dicobai. Masa empat puluh hari itu juga merupakan pencobaan bagi ke-empat murid yang baru. Tuhan Yesus melampaui pencobaan tersebut, tetapi keempat murid-Nya gagal, dan melupakan keselamatan di tepi Sungai Yordan serta berbalik ke Laut Galilea untuk mencari nafkah. Yang dua bekerja sebagai nelayan, sedangkan lainnya menambal jala, membuktikan bahwa mereka telah gagal. Meskipun mereka telah beroleh selamat, tetapi mereka berbalik kepada keadaan mereka yang lampau. Karena itu, mereka telah gagal.
Raja baru dipimpin ke padang gurun di mana ia mem-peroleh kemenangan atas musuh. Setelah memenangkan peperangan melawan Iblis, Raja baru datang ke Laut Galilea, membuat Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes terheran-heran. Di tepi Laut Galilea itulah Tuhan Yesus berkontak dengan mereka untuk kali kedua. Seperti yang telah kita lihat dalam berita kedua belas, pertama-tama keempat murid ini dibawa kepada Tuhan, dan mereka melihat-Nya sebagai Anak Domba Allah. Tetapi untuk kali keduanya, Tuhan mengun-jungi mereka dengan ramah sebagai Terang yang besar. Alkitab sangat ekonomis dalam melukiskan panggilan ter-hadap keempat murid ini. Petrus dan Andreas sedang menjala ikan, dan Yakobus serta Yohanes sedang menambal jala mereka. Tiba-tiba, orang yang mereka jumpai empat puluh hari sebelumnya itu menampakkan diri sebagai terang yang besar yang bercahaya atas mereka. Setelah bercahaya atas mereka, Raja baru berkata, “Ikutlah Aku”, dan keempat mu-rid tersebut mengikuti-Nya. Akhirnya, keempat murid ter-sebut mempengaruhi orang lain untuk mengikuti Tuhan Yesus, dan orang banyak tertarik kepada-Nya.
Ketika Tuhan Yesus naik ke puncak gunung, murid-murid-nya datang kepada-Nya dan berada pada lingkaran yang di dalam, menjadi pendengar langsung dari pengumum-an Raja baru. Hal pertama yang Ia katakan ialah, “Berba-hagialah orang yang miskin di dalam roh.” Perkataan ini merupakan kelanjutan dari pemberitaan Tuhan dalam 4:17, di mana Ia berkata, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Dalam pemberitaan-Nya, Tuhan menanggulangi angan-angan, pikiran. Ia seolah-olah berkata, “Kalian harus ber-tobat. Kalian harus memiliki perubahan dalam pikiran ka-lian, yaitu dalam mentalitas kalian. Pikiran kalian perlu diubah.” Tentu saja Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes memiliki perubahan yang sejati dalam pengertian mereka. Pada waktu mereka menjadi pendengar langsung dari peng-umuman Raja baru di lingkaran bagian dalam, tidak terdapat masalah yang berkaitan dengan pikiran mereka. Pikiran mereka telah mengalami perubahan.
Pengubahan pikiran kita membuat kita bisa masuk ke dalam kerajaan, dan kerajaan masuk ke dalam kita. Pikiran bukanlah penerima maupun ruang yang di dalam batiniah, melainkan pintu gerbang. Penerima, yaitu ruang batiniah, adalah roh kita. Jadi, pikiran kita adalah pintu gerbang, dan roh kita adalah ruang yang di dalam. Kita harus mena-namkan perkataan Tuhan dalam 4:17, “Bertobatlah, sebab Ke-rajaan Surga sudah dekat!” dengan perkataan-Nya dalam 5:3, “Berbahagialah orang yang miskin di dalam roh, karena me-rekalah yang punya Kerajaan Surga” (Tl.). Pikiran yang te-lah berubah merupakan pintu gerbang yang melaluinya Ke-rajaan Surga masuk ke dalam kita. Ketika kerajaan masuk, kerajaan tertanam ke dalam roh kita. Kerajaan masuk melalui pintu gerbang, yaitu pikiran kita, dan sampai pada roh kita. Jadi, yang menerima dan menyimpan kerajaan adalah roh kita, bukan pikiran kita. Karena itu, roh kita adalah penerima dan wadah Kerajaan Surga.
Dalam pemberitaan para penginjil yang mengetahui ra-hasia Injil, pertama-tama mereka menanggulangi pikiran orang, kemudian baru menanggulangi roh orang. Pemberi-taan Injil harus dapat menanggulangi pikiran para pende-ngar, yaitu cara berpikir mereka. Ini menyebabkan mereka bertobat, memiliki perubahan dalam pikiran, dan cara hidup mereka. Segera setelah seseorang bertobat, pemberita Injil yang benar akan memintanya untuk berdoa dan menyeru nama Tuhan. Ini bukan penanggulangan pikiran, melainkan penanggulangan roh. Begitu seseorang memakai rohnya untuk berdoa dan menyeru nama Tuhan, Tuhan segera masuk ke dalam rohnya, melewati pintu gerbang pikiran, dan sampai pada rohnya.
Tuhan Yesus, yang telah masuk ke dalam roh kita melalui pikiran, itulah Raja. Kerajaan ada bersama Dia. Ketika Raja masuk ke dalam roh seseorang, berarti kerajaan juga masuk ke dalam roh orang tersebut. Mulai saat ini, baik Raja maupun kerajaan tinggal di dalam rohnya. Dalam ajaran agama Kristen yang telah merosot hari ini, sedikit sekali ditunjukkan bahwa Kristus yang masuk ke dalam roh kita adalah Raja beserta kerajaan. Ketika Ia masuk ke dalam roh Anda, kerajaan datang bersama Dia. Sekarang kita tidak hanya memiliki Juruselamat di dalam roh kita; kita juga memiliki Raja beserta kerajaan.
Sepanjang tahun, saya telah menekankan pentingnya 2 Timotius 4:22, “Tuhan menyertai rohmu.” Saya selalu meng-gunakan ayat ini dalam masalah hayat. Tetapi, sekarang kita harus juga nampak, ketika kita nampak bahwa Tuhan Yesus menyertai roh kita, berarti kerajaan ada bersama dengan roh kita. Tuhan Yesus ini bukan hanya Juruselamat dan hayat, tetapi juga Raja dan kerajaan. Hari ini kita boleh men-deklarasikan, “Di dalam rohku, aku memiliki Juruselamat, hayat, Raja, dan kerajaan!” Ketika kita bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, hayat, dan Raja serta kerajaan, Ia masuk ke dalam roh kita dan tertanam di sana. Karena itu, sekarang di dalam roh kita memiliki Juruselamat, hayat, dan Raja serta kerajaan. Kita menerima Dia yang sedemikian ini ke dalam kita melalui pertobatan dalam pikiran kita dan kemiskinan dalam roh kita.
Ketika saya hidup dan berperilaku dalam keadaan saya yang jauh dan jatuh dari Allah, saya terisi dengan filsafat dan agama. Saya tidak hanya berjalan pada arah yang keliru, tetapi juga terisi dengan konsepsi dan pikiran yang tidak berharga. Ketika saya mendengarkan pemberitaan Injil, saya memiliki perubahan dalam pikiran saya; pikiran saya telah diubah. Meskipun demikian, saya masih penuh dengan ba-nyak konsepsi yang filosofis dan agamis. Jadi, saya tidak hanya perlu memiliki perubahan dalam pikiran saya, tetapi juga perlu menjadi miskin di dalam roh. Miskin di dalam roh kita berarti membuka roh kita. Membuka roh kita ialah ter-buka dari kedalaman insan kita dan dihampakan dari semua hal lain, sehingga Tuhan Yesus dapat masuk ke dalam roh kita. Ketika Ia masuk ke dalam saya, Ia datang sebagai Raja dan kerajaan. Karena itu, jika Anda miskin di dalam roh, An-dalah yang punya Kerajaan Surga. Meskipun mungkin Anda telah berpaling dalam kehidupan Anda dan sekarang Anda berdiri di hadapan Tuhan, tetapi bagaimana dengan roh Anda? Apakah roh Anda terbuka kepada-Nya, atau apakah roh Anda terisi oleh hal-hal lain? Apakah Anda masih penuh dengan konsepsi-konsepsi yang filosofis dan agamis? Orang-orang Yunani mungkin penuh dengan filsafat Plato, orang-orang China penuh dengan ajaran-ajaran Konghucu, dan orang-orang Yahudi penuh dengan ajaran-ajaran Musa. Ka-rena Raja dan kerajaan hendak masuk ke dalam Anda, maka Anda harus miskin di dalam roh. Ini berarti Anda harus ter-buka dari kedalaman insan Anda, dan membuang semua kon-sepsi, opini, serta pikiran-pikiran yang telah memenuhi Anda. Ketika Anda telah mengosongkan roh Anda, Raja beserta kerajaan akan masuk ke dalam Anda. Dengan demikian Andalah yang punya Kerajaan Surga.
Perhatikanlah keterangan waktu dari predikat dalam ayat 3: “Berbahagialah orang yang miskin di dalam roh, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga” (Tl.). Kita harus mengubah kata gantinya dan mengatakan, “Berbaha-gialah kita yang miskin di dalam roh, karena kitalah yang punya Kerajaan Surga.” Sekali kita memahami makna dari ayat ini, kita akan nampak bahwa tidaklah benar jika di-ajarkan bahwa kerajaan ditangguhkan sampai masa seribu tahun. Kata “punya” dalam ayat ini membuktikan bahwa Kerajaan Surga adalah hak kita saat ini. Alangkah bahagia-nya miskin di dalam roh! Jika kita miskin di dalam roh, maka kitalah yang punya Kerajaan Surga. Jika Anda mene-rima perkataan ini ke dalam Anda, maka Anda tidak akan seperti yang dulu. Ayat yang satu ini lebih baik daripada seratus berita. Haleluya, kitalah yang punya Kerajaan Surga! Kita benar-benar bahagia dan diberkati. Diberkati dan ber-bahagialah kita yang miskin di dalam roh, karena kitalah yang punya Kerajaan Surga.
B. Orang yang Berdukacita Akan Dihibur
Meskipun kita harus sangat gembira karena mendengar bahwa hari ini kita telah berada dalam Kerajaan Surga, namun dalam ayat berikutnya Tuhan Yesus menyuruh kita untuk berdukacita. Ayat 4 mengatakan, “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Seolah-olah tidak logis jika dikatakan bahwa orang yang berdukacita itu diberkati dan bahagia. Tetapi, jika kita berdoa selama bebe-rapa waktu dengan Roh yang penuh oleh Raja dan kerajaan, kita akan mulai berdukacita karena situasi yang negatif hari ini. Seluruh suasana dunia bersifat negatif terhadap ekonomi Allah. Iblis, dosa, diri, kegelapan, dan keduniawian, mendominasi semua orang di bumi. Kemuliaan Allah dihina, Kristus ditolak, Roh Kudus terhalang, gereja menjadi ter-lantar, diri menjadi bobrok, dan seluruh dunia jahat. Karena itu, Allah menghendaki kita berduka atas suasana seperti itu. Karena kerajaan ada di dalam kita, maka kita tunduk, dikendalikan, dan diatur oleh Raja yang di dalam. Jika kita berada di bawah pengaturan ini, ketika kita melihat situasi dan kondisi dunia hari ini, kita akan berkeluh kesah dan berdukacita.
Tetapi, dukacita ini merupakan suatu berkat, karena Tuhan berkata bahwa siapa yang berdukacita “akan dihibur”. Jika kita berduka menurut Allah dan ekonomi-Nya, kita akan dihibur dengan jalan diberi upah Kerajaan Surga. Kita akan nampak pemerintahan surgawi Allah atas seluruh suasana yang negatif. Sering kali saya mengalami berduka dan dihi-bur. Janganlah kecewa. Kita harus berduka, tetapi kita penuh dengan pengharapan. Raja segera datang, musuh akan dikalahkan, dan bumi akan direbut kembali oleh Kristus. Cepat atau lambat, kita akan dihibur. Bukankah merupakan suatu hiburan ketika kita melihat demikian banyaknya orang dalam Pemulihan Tuhan yang menuntut Tuhan dan kera-jaan-Nya? Sungguh hal ini merupakan suatu hiburan bagi saya! Jika Anda tidak pernah mengalami berduka dalam roh Anda, maka Anda tidak akan dapat merasakan bagaimana manis dan nikmatnya melihat demikian banyak orang yang hanya memperhatikan Kerajaan Tuhan. Karena alasan inilah kita mengasihi semua orang saleh yang terkasih dalam Pe-mulihan Tuhan. Semua gereja dengan semua orang salehnya yang menuntut merupakan hiburan yang nyata bagi setiap roh yang berduka.
C. Orang yang Lemah Lembut
Akan Mewarisi Bumi
Urutan dalam ayat-ayat ini sangat bermakna. Pertama-tama kita miskin di dalam roh untuk menerima Raja beserta kerajaan dan diisi oleh-Nya. Kemudian kita berdukacita atas situasi yang menyedihkan dan kita dihibur. Setelah itu, kita memperoleh perkataan tentang lemah lembut. Ayat 5 me-ngatakan,“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.”Beberapa penerjemah menga-takan bahwa kata Yunani “bumi” seharusnya diterjemahkan “tanah”. Tetapi baik kita menerjemahkan kata ini sebagai bumi maupun tanah, kata ini menunjukkan dunia yang ter-takluk pada masa yang akan datang. Hari ini bumi meru-pakan kerajaan duniawi yang berada di bawah kekuasaan Iblis. Tetapi saatnya akan tiba, Tuhan, Sang Raja, akan mem-peroleh kembali dunia ini. Wahyu 11:15 mengatakan, “Peme-rintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai Raja sampai selama-lamanya.” Dunia yang dikatakan di sini ialah bumi dalam ayat 5.
Dalam Matius 5:5 Tuhan mengatakan bahwa orang yang lemah lembut akan memiliki (mewarisi) bumi. Orang-orang yang miskin di dalam roh dalam ayat 3 dan yang ber-dukacita dalam ayat 4, sekarang ada orang-orang yang lemah lembut dalam ayat 5. Banyak orang Kristen tidak memahami apa yang dimaksud dengan lemah lembut di sini. Lemah lembut bukan hanya berarti ramah, rendah hati, dan patuh. Lemah lembut di sini juga berarti tidak melawan penentang-an dunia, melainkan menanggungnya dengan rela. Lemah lembut berarti tidak meronta, tidak melawan. Jika kita le-mah lembut, rela menanggung penentangan dunia zaman ini, kita akan mewarisi bumi dalam zaman yang akan da-tang, seperti yang diwahyukan dalam Ibrani 2:5-8 dan Lukas 19:17, 19.
Hari ini, siapa yang merebut, dialah yang mendapatkan tanah. Jika Anda tidak merebut, Anda tidak akan memper-oleh wilayah satu pun. Itulah sebabnya mengapa banyak ter-jadi peperangan hari ini. Bangsa-bangsa berperang satu sama lain untuk memperoleh lebih banyak wilayah bagi diri mereka sendiri. Cara manusia untuk memperoleh tanah ialah dengan cara berperang, tetapi cara Kerajaan Surga ialah dengan ke-lemahlembutan. Beberapa orang muda menyerukan slogan tentang memperoleh tanah. Cara untuk memperoleh tanah bukan dengan slogan, seruan, maupun peperangan. Caranya ialah dengan kelemahlembutan. Berbahagialah mereka yang lemah lembut, karena mereka akan mewarisi bumi. Anda orang yang suka melawan, ataukah orang yang lemah lem-but? Jika Anda ingin mewarisi bumi, Anda harus lemah lembut. Saat Tuhan Yesus datang lagi, Ia akan memperoleh kembali bumi ini. Tetapi ketika Ia ditangkap, dicobai, dan di-salibkan di Gunung Golgota, Ia lemah lembut. Ketika dipaku di atas salib, Ia tidak melawan. Dalam setiap aspek Ia lemah lembut, lemah lembut sampai kepada kesudahannya. Akhir-nya, bumi akan diperoleh bukan oleh orang-orang yang me-lawan, melainkan oleh orang-orang yang lemah lembut. Be-berapa minggu yang lalu seorang penentang mengatakan kepada salah seorang saudara kita, “Kami akan menghenti-kan kalian!” Waktu akan menunjukkan siapa yang akan ber-henti. Orang-orang yang melawan akan berhenti, tetapi orang-orang yang lemah lembut tidak akan berhenti. Sebaliknya mereka akan mewarisi bumi. Iblis selalu melawan, tetapi Tuhan Yesus tidak pernah melawan. Sebaliknya, Dia lemah lembut. Dalam hal ini kita nampak bahwa kehendak Allah berlawanan dengan usaha manusia. Jika Anda ingin mem-peroleh bumi, Anda harus lemah lembut. Jika Anda tidak memperoleh satu wilayah pun, ini berarti Anda kurang lemah lembut. Orang-orang muda, kalian harus lemah lembut di kampus kalian. Saya tahu bahwa ini adalah bahasa surgawi. Tetapi Tuhan Yesus tidak mengatakan, “Berbahagialah orang yang melawan, karena mereka akan memperoleh bumi. Orang yang berperang akan memperoleh bumi!” Jangan ber-kata, “Mari kita rebut bumi dengan cara berperang.” Tidak, sebaliknya Anda harus berkata, “Mari kita peroleh bumi de-ngan kelemahlembutan.” Mungkin Anda mengira bahwa kelemahlembutan itu berhubungan dengan hal-hal materi. Tetapi jika Anda memperhatikan hal ini dengan cermat, Anda akan nampak bahwa kelemahlembutan itu tidak ber-hubungan dengan benda materi yang di luar, melainkan berhubungan dengan sesuatu yang di dalam, yaitu berhu-bungan dengan apa adanya diri kita.
D. Orang yang Lapar dan Haus Akan Kebenaran Akan Dipuaskan
Dalam ayat 6 Tuhan berkata, “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan” (Tl.). Kebenaran di sini menyatakan tingkah laku kita yang benar. Kebenaran ini berhubungan dengan apa ada-nya batiniah kita. Hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa kita diberi tahu agar lapar dan haus akan kebenaran, sehingga kita dipuaskan.
Untuk memahami ayat 6 kita juga harus memperhati-kan ayat 20. Ayat 20 mengatakan,“Aku berkata kepadamu: Jika kebenaranmu tidak melebihi kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Tl.). Dalam ayat 3 dan 20 kita nampak dua aspek Kerajaan Surga. Dalam ayat 3 kata kerjanya berbentuk waktu sekarang(present tense), sedang-kan dalam ayat 20 kata kerjanya berbentuk waktu yang akan datang (future tense). Di satu pihak, Kerajaan Surga adalah milik kita; di pihak lain, kita akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Jika kita miskin di dalam roh, realitas Ke-rajaan Surga adalah milik kita hari ini. Tetapi kita masih perlu masuk ke dalam Kerajaan Surga. Ingatlah kedua aspek Kerajaan Surga: Realitas kehidupan gereja hari ini, dan ma-nifestasi dalam bagian atas Kerajaan Seribu Tahun pada masa yang akan datang. Jika kita benar-benar miskin di dalam roh, menuntut Kristus, maka realitas Kerajaan Surga adalah milik kita. Kemudian pada masa Kerajaan Seribu Tahun, kita akan masuk ke dalam manifestasi Kerajaan Surga. Tetapi, untuk masuk ke dalam manifestasi Kerajaan Surga kita memerlukan kebenaran yang melebihi kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Kita perlu lapar dan haus akan kebenaran, menuntut kebenaran yang sedemikian ini, sehingga kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga (ayat 6, 10, 20). Jika kita lapar dan haus akan kebenaran, Allah akan mengaruniakan kebenaran yang kita cari, agar kita dapat dipuaskan. Jika kita mencari kebenaran yang unggul ini, kebenaran ini akan diberikan kepada kita.
Kebenaran kita tidak hanya harus benar di hadapan Allah, tetapi juga di hadapan manusia. Kebenaran para ahli Taurat lebih rendah, karena kebenaran tersebut adalah ke-benaran yang berdasarkan hukum Taurat. Kebenaran kita tidak seharusnya berdasarkan hukum Taurat yang lama, melainkan berdasarkan hukum Taurat yang baru. Sebagai-mana kita nampak, hukum Taurat yang baru ini lebih tinggi daripada hukum Taurat yang lama. Hukum Taurat yang lama mengatakan, “Engkau tidak boleh membunuh.” Tetapi hukum Taurat Baru mengatakan, “Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum” (ayat 22). Melalui contoh ini kita nampak bahwa kebenaran kita harus lebih tinggi daripada kebenaran orang-orang Farisi. Kita tidak hanya dilarang membunuh, tetapi kita bahkan tidak boleh marah terhadap saudara kita. Kebenaran ini berada pada taraf yang tertinggi.
Hayat alamiah kita tidak mampu mencapai kebenaran ini. Kebenaran subyektif yang di dalam ini pastilah Kristus. Hanya Kristus yang dapat memenuhi tuntutan-tuntutan hukum Taurat yang baru. Ketika saya membaca Matius 5 semasa saya masih muda, saya merasa kecewa dan berkata, “Aku tidak dapat melakukannya. Aku akan berhenti saja.” Tetapi semakin saya bertumbuh, saya semakin menyadari bahwa saya memiliki satu hayat di dalam saya yang dapat melakukan hal tersebut. Tetapi, Raja ini memerlukan kerja sama kita. Kita bekerja sama dengan cara lapar dan haus. Kita bekerja sama dengan berkata, “Oh, Tuhan Yesus, aku lapar dan haus akan Dikau. Tuhan, aku mau diisi oleh-Mu.” Jika Anda lapar dan haus sedemikian, Anda akan dipuaskan.
Kebenaran dalam ayat 6 adalah Kristus. Kebenaran ini adalah kebenaran yang unggul, yaitu kebenaran yang berada pada taraf yang paling tinggi, yang hanya dapat dicapai oleh Kristus. Karena Tuhan adalah Dia yang menghasilkan kebenaran yang paling tinggi, maka kita harus menuntut-Nya. Kita perlu berdoa, “Tuhan, buatlah aku menjadi lapar. Berilah aku nafsu makan atas Dikau. Berilah aku hasrat untuk menuntut kebenaran yang unggul.” Jika Anda menuntut kebenaran seperti itu, Anda akan dipuaskan. Anda akan memperoleh apa yang Anda tuntut.
E. Orang yang Berbelaskasihan
Akan Beroleh Belas Kasihan
Ayat 7 mengatakan, “Berbahagialah orang yang berbe-laskasihan, karena mereka akan beroleh belas kasihan.” Ber-sikap benar atau adil berarti memberikan kepada seseorang apa yang sepatutnya diterimanya, sedangkan berbelaskasihan adalah memberi seseorang apa yang tidak sepatutnya ia dapatkan. Demi Kerajaan Surga, kita bukan hanya perlu ber-sikap adil atau benar, melainkan juga berbelaskasihan. Menerima belas kasihan adalah menerima apa yang tidak sepatutnya kita dapatkan. Jika kita berbelaskasihan kepada orang lain, Tuhan akan membelaskasihani kita (2 Tim. 1:16, 18), terutama di takhta penghakiman-Nya (Yak. 2:12-13).
Benar berarti menanggulangi diri sendiri dengan serius dan ketat. Kita harus benar dalam memperlakukan diri sendiri, tidak seharusnya memberikan celah apa pun ke-pada diri sendiri. Tetapi, kepada orang lain kita harus ber-belaskasihan. Jika kita rajin menuntut kebenaran yang unggul, kita akan berbelaskasihan terhadap orang lain. Da-lam penuntutan kita, kita akan menemukan bahwa manusia alamiah kita lemah, mudah sekali gagal. Jika Anda tidak menyadari keadaan manusia alamiah Anda yang kasihan itu, Anda tidak akan pernah berbelaskasihan kepada orang lain. Anda tidak akan berbelaskasihan kepada mereka, ma-lahan akan menghakimi mereka pada saat mereka gagal atau jatuh. Alasan mengapa Anda menghakimi mereka ialah karena Anda tidak mengenal diri sendiri. Jika Anda me-ngenal diri sendiri, ketika seseorang gagal, Anda akan ber-kata, “Tuhan, belas kasihanilah aku dan saudaraku. Kami semua adalah bejana yang lemah dan tidak dapat memenuhi tuntutan-tuntutan-Mu. Tuhan, meskipun saudaraku telah menyakiti hatiku, aku tetap berbelaskasihan kepadanya.” Jika Anda tidak pernah gagal, Anda tidak akan berbelaska-sihan. Jika Anda selalu sukses dalam pencarian kekudusan dan kesempurnaan, Anda tidak akan pernah bersimpati kepada orang lain ketika orang lain gagal. Anda akan selalu menyalahkan mereka. Tetapi jika Anda mengetahui betapa lemahnya dan betapa banyaknya kesalahan yang telah Anda lakukan, Anda akan berbelaskasihan kepada orang lain.
Dalam ayat 7 ada satu janji untuk kita. Janji itu ialah siapa yang berbelaskasihan akan beroleh belas kasihan. Jika hari ini Anda menghakimi saudara Anda tanpa belas kasihan, Anda tidak akan memperoleh belas kasihan di depan takhta penghakiman Kristus. Karena Anda menghakimi orang lain tanpa belas kasihan, Kristus pun akan menghakimi Anda tanpa belas kasihan. Tetapi jika Anda berbelaskasihan kepada saudara Anda, Tuhan akan berbelaskasihan kepada Anda di depan penghakiman-Nya. Jadi, orang-orang kerajaan serius dan ketat dalam memperlakukan diri sendiri, tetapi sangat berbelaskasihan dalam memperlakukan orang lain. Sekali lagi, ini bukanlah perkara yang di luar, melainkan perkara yang berhubungan dengan insan batiniah kita.
F. Orang yang Suci Hatinya Akan Melihat Allah
Ayat 8 mengatakan, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Benar adalah terhadap diri sendiri; berbelaskasihan adalah terhadap orang lain; sedangkan suci hati (murni) adalah terhadap Allah. Ter-hadap diri sendiri, kita harus serius dan ketat. Terhadap orang lain, kita harus berbelaskasihan, memberikan lebih banyak daripada yang layak mereka terima. Terhadap Allah, kita harus suci hati, tidak menuntut apa pun selain Dia. Pahala bagi orang yang suci hatinya ialah melihat Allah. Allah itu pahala kita. Tidak ada pahala yang lebih besar dari-pada Allah sendiri. Kita memperoleh pahala ini melalui serius dan ketat terhadap diri sendiri, berbelaskasihan terhadap orang lain, dan suci hati terhadap Allah.
Suci hati berarti hanya memiliki satu tujuan, satu sa-saran, yaitu merampungkan kehendak Allah bagi kemuliaan Allah (1 Kor. 10:31). Ini adalah untuk Kerajaan Surga. Roh kita adalah organ untuk menerima Kristus (Yoh. 1:12; 3:6), sedangkan hati kita adalah tanah tempat Kristus bertumbuh sebagai benih hayat (13:19). Demi Kerajaan Surga, kita perlu miskin di dalam roh, kosong di dalam roh, agar kita dapat menerima Kristus. Demikian pula, kita perlu suci hati, me-miliki satu tujuan, agar Kristus dapat bertumbuh di dalam kita tanpa halangan. Jika kita suci hati dalam mencari Allah, kita akan melihat Allah. Melihat Allah adalah pahala bagi orang yang suci hatinya. Berkat ini untuk hari ini, juga untuk zaman yang akan datang.
.
G. Orang yang Membawa Damai
Akan Disebut Anak-anak Allah
Ayat 9 mengatakan, “Berbahagialah orang yang mem-bawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Iblis, si pemberontak, adalah penghasut semua pemberon-takan. Demi Kerajaan Surga, di bawah pemerintahan sur-gawinya, kita harus menjadi orang yang membawa damai di antara orang-orang (Ibr. 12:14).
Dalam ketujuh berkat pertama ini kita nampak bahwa kita tidak seharusnya menjadi penentang atau pengacau; sebaliknya, kita harus menjadi pembawa damai, selalu ber-damai dengan orang lain. Jika kita menjadi orang yang mem-bawa damai, kita akan disebut anak-anak Allah. Anak-anak Iblis membuat kekacauan, tetapi anak-anak Allah membuat perdamaian. Sebagai anak Allah, Tuhan Yesus berdamai de-ngan Allah dan manusia. Sekarang, sebagai anak-anak Allah, kita harus mengikuti Dia, yaitu membawa damai. Dengan demikian kita akan disebut anak-anak Allah.
Bapa kita adalah Allah sumber damai sejahtera (Rm. 15:33, 16:20), memiliki hayat yang penuh damai dengan sifat yang pendamai. Sebagai orang-orang yang dilahirkan dari Dia, jika kita ingin menjadi orang-orang yang membawa damai, kita harus berjalan dalam hayat ilahi-Nya dan berdasarkan sifat ilahi-Nya. Dengan demikian, kita akan mengekspresikan hayat dan sifat-Nya dan disebut anak-anak Allah.
H. Orang yang Dianiaya karena Kebenaran
Akan Ikut Mengambil Bagian dalam Kerajaan Surga
Ayat 10 mengatakan,“Berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga” (Tl.). Seluruh dunia berada di bawah cengkeraman si jahat (1 Yoh. 5:19) dan dipenuhi dengan ketidakbenaran. Setiap aspek dari dunia penuh dengan ketidakbenaran. Jika kita lapar dan haus akan kebenaran, kita akan dianiaya karena kebenaran. Demi Kerajaan Surga kita perlu mem-bayar harga karena kebenaran yang kita cari. Jika kita be-nar, kita akan mengalami penghakiman, tentangan, dan di-aniaya. Karena itu, kita akan menderita aniaya. Banyak kaum saleh yang sekuatnya mencari kebenaran, hasilnya mereka mengalami aniaya. Dalam lingkungan mereka, bisnis, mau-pun pekerjaan mereka, terdapat banyak sekali hal yang tidak benar. Karena mereka berhasrat bertindak benar atau adil dalam situasi itu, akibatnya mereka menderita aniaya.
Ayat ini mengatakan bahwa siapa yang dianiaya karena kebenaran adalah orang yang berbahagia, “Karena merekalah yang punya Kerajaan Surga.” Jika kita mencari kebenaran dengan membayar harga, Kerajaan Surga akan menjadi milik kita: kita berada di dalam realitasnya sekarang, dan kita diberi pahala berupa manifestasinya dalam zaman yang akan datang. Telah kita tunjukkan bahwa berdasarkan ayat 20, untuk berada dalam Kerajaan Surga kita memerlukan ke-benaran yang unggul, yaitu kebenaran dalam taraf paling tinggi. Untuk memasuki manifestasi Kerajaan Surga, kita memerlukan kebenaran semacam ini. Karena itu, kita per-lu lapar dan haus akan kebenaran serta menderita aniaya karenanya.
I. Orang yang Dicela, Dianiaya, dan Difitnah
karena Kristus Akan Menerima Upah yang Besar di Surga
Dalam ayat 11 Raja baru berkata, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” Aniaya dalam ayat 10 dika-renakan kebenaran, yaitu karena kita mencari kebenaran; sedangkan aniaya dalam ayat 11 langsung karena Kristus, Raja baru, yaitu karena kita mengikuti Dia.
Ketika kita hidup untuk Kerajaan Surga berdasarkan sifat rohaninya dan menurut prinsip surgawinya, kita akan dicela, dianiaya, dan difitnah, terutama oleh kaum agamawan, yang berpegang pada konsepsi-konsepsi agama tradisional mereka. Kaum agamawan Yahudi melakukan hal-hal itu ter-hadap para rasul pada masa awal Kerajaan Surga (Kis. 5:41; 13:45, 50; 2 Kor. 6:8; Rm. 3:8). Demikian pula hari ini. Jika Anda benar-benar menuntut Kristus, banyak orang da-lam “denominasi” akan bangkit melawan Anda. Inilah yang kita derita hari ini. Kita menderita celaan, aniaya, dan fit-nahan. Akhir-akhir ini sebuah perusahaan penerbitan yang terkenal baik, menerbitkan sebuah buku yang menghubung-kan kita dengan agama Hindu. Betapa jahatnya fitnah ini! Celaan dan aniaya ini menimpa kita karena kita tidak me-lihat tradisi, melainkan memperhatikan Kristus dan firman Suci Alkitab.
Dalam ayat 12 Tuhan Yesus mengatakan kata-kata hiburan kepada mereka yang dianiaya karena Dia: “Bersu-kacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” Upah bahagia yang kesembilan ini menunjukkan bahwa hasil dari delapan bahagia yang di atas juga merupakan upah. Upah ini besar dan berada di surga; ini adalah upah surgawi, bukan upah bumiah.