← Daftar isi Matius (1) · bab 15/16

PENGUMUMAN KONSTITUSI KERAJAAN (3)

Untuk memiliki bangsa atau kerajaan yang baik, harus ada umat yang baik. Negara yang baik memerlukan bangsa yang baik. Jadi, dalam konstitusi Kerajaan Surgawi, pertama-tama Tuhan Yesus mewahyukan orang yang bagaimana yang hidup dalam Kerajaan Surga.

APA ADANYA BATINIAH UMAT KERAJAAN

Kesembilan berkat (bahagia) dalam 5:3-12 berhubungan dengan hakiki umat kerajaan. Bagaimana manusia kita tergantung pada hakiki kita. Setiap aspek dari kesembilan berkat ini terutama bukan berhubungan dengan hal-hal ma-teri luaran, melainkan dengan apa adanya batiniah kita. Di samping apa adanya batiniah kita, ayat-ayat ini juga sedikit menyinggung tentang ekspresi yang di luar. Sebagai contoh, mengenai kebenaran. Jika Anda membaca ayat-ayat ini de-ngan saksama, Anda akan nampak bahwa kebenaran di sini bukan hanya merupakan masalah kelakuan yang di luar. Se-baliknya, kebenaran adalah mengalirnya apa adanya batiniah kita, yaitu ekspresi batiniah kita. Jadi, bagian pertama dari konstitusi ini (5:1-12) berhubungan dengan apa adanya batiniah umat kerajaan.

SEMBILAN KATA PENTING

Dalam memperhatikan hakiki umat kerajaan seperti di-wahyukan dalam ayat-ayat ini, kita perlu mengingat sembilan kata penting yang terdapat dalam kesembilan berkat (ba-hagia) di atas: miskin di dalam roh, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, berbelaskasihan, suci hati, suka berdamai, dianiaya, dan dicela. Kata-kata pen-ting ini mewahyukan bagaimana seharusnya macam umat kerajaan itu. Mereka harus selalu miskin di dalam roh, ber-duka atas situasi saat ini, lemah lembut dalam menghadapi tentangan, serius dan ketat terhadap diri sendiri, berbelas-kasihan terhadap orang lain, suci di hadapan Allah, suka berdamai dengan semua orang, dianiaya karena kebenaran, dan dicela karena Kristus. Keseluruhan dari sembilan kata ini merupakan hakiki umat kerajaan.

MISKIN DI DALAM ROH DAN BERDUKACITA

Rangkaian ayat-ayat ini sangatlah bermakna. Pertama-tama kita harus miskin di dalam roh, kemudian barulah kita dapat berdukacita. Jika kita tidak miskin di dalam roh, kita tidak akan memiliki daya muat bagi Raja untuk masuk dan mendirikan kerajaan-Nya di dalam insan batiniah kita. Jika kita tidak memiliki Kerajaan Surgawi didirikan di dalam kita, kita tidak akan dapat menyadari betapa negatif dan me-nyedihkannya dunia ini. Tetapi ketika Tuhan Yesus dapat mendirikan kerajaan-Nya di dalam kita, dan ketika kapasitas penuh dari keseluruhan insan kita, bahkan kedalaman dari insan kita, yaitu roh kita, tersedia untuk-Nya, kita akan me-nyadari bahwa bumi itu gelap, bobrok, dan penuh dengan dosa. Secara spontan kita akan berdukacita atas situasi yang menyedihkan hari ini. Karena alasan inilah, maka Tuhan Yesus pertama-tama tidak membicarakan tentang berdukacita dan kemudian barulah miskin di dalam roh, melainkan Ia menempatkan perkara miskin di dalam roh pa-da urutan yang pertama. Hanya ketika kita miskin di dalam roh, barulah kita dapat berduka.

BERDUKACITA DAN LEMAH LEMBUT

Jika kita miskin di dalam roh dan berdukacita atas si-tuasi orang lain yang kasihan, secara spontan kita akan menjadi lemah lembut. Bahkan jika ibu mertua Anda ber-ada dalam keadaan yang kasihan, janganlah Anda mengatai-nya. Bahkan keadaan istri Anda yang tercinta pun mungkin tidak positif dalam pandangan Tuhan. Jika hati dan minatnya tidak tertuju kepada Tuhan, dan ia tidak memperhatikan Kerajaan Tuhan, maka keadaannya sangatlah kasihan. Anda memiliki Tuhan Yesus dengan Kerajaan Surgawi-Nya di da-lam roh Anda, tetapi bagaimana dengan istri Anda? Mungkin Anda berada dalam surga yang tertinggi, tetapi ia berada dalam neraka yang terendah. Demikian pula, perhatikanlah anak-anak Anda. Mungkin Anda mengasihi Tuhan secara penuh, tetapi anak-anak Anda sama sekali tidak mengasihi Tuhan. Karena itu, Anda harus berdukacita atas ibu mer-tua Anda, istri Anda, dan anak-anak Anda. Anda juga harus berdukacita atas keluarga Anda, rekan Anda, dan tetangga-tetangga Anda. Di manakah ada orang yang benar-benar bagi Tuhan? Lihatlah keadaan dunia yang kasihan hari ini, ter-masuk agama Kristen. Para pedagang hanya memperhatikan uang, para pelajar hanya memperhatikan pendidikan mereka, dan para pekerja hanya memperhatikan jabatan serta kedu-dukan mereka. Ketika kita miskin di dalam roh, kita akan berdukacita atas seluruh situasi ini. Kita akan berdukacita atas suasana dan orang-orang di sekitar kita.

Karena kita berdukacita atas orang lain, maka kita tidak akan pernah berebut dengan mereka. Karena tidak berebut dengan mereka, secara spontan kita akan menjadi lemah lembut terhadap mereka. Jika Anda belum lemah lembut ter-hadap istri Anda, ini menunjukkan bahwa Anda belum men-jadi milik Kerajaan Surga, dan hal-hal lain masih mendiami Anda. Jika Anda telah didiami sepenuhnya oleh Kerajaan Surgawi, Anda akan berduka atas istri Anda dan menjadi le-mah lembut terhadap setiap orang yang keadaannya kasihan. Jika Anda adalah seorang pelajar, Anda akan lemah lembut terhadap guru-guru dan teman-teman sekelas Anda. Anda akan lemah lembut terhadap orang lain, karena Anda me-miliki perasaan yang dalam mengenai situasi Anda yang kasihan. Karena Anda telah berdoa bagi mereka dengan ber-duka sedemikian, maka ketika Anda berkontak dengan me-reka, Anda akan menjadi lemah lembut.

PERKATAAN MENGENAI KELEMAHLEMBUTAN

Izinkan saya mengatakan sedikit lagi tentang kelemah-lembutan. Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa kita bukan berperang melawan daging dan darah, melainkan me-lawan Iblis, musuh Allah. Siang malam kita harus berperang melawan Iblis, musuh Allah. Tetapi, kita tidak berperang melawan orang, bahkan terhadap orang yang menentang pun kita tidak melawan. Terhadap semua manusia, termasuk musuh dan penentang, kita harus lemah lembut. Meskipun kita berperang melawan Iblis dan kerajaan di udara, kita ti-dak berperang melawan manusia. Sebaliknya, kita menga-sihi mereka. Kaum muda, janganlah kalian pergi ke kampus untuk bertengkar dengan para mahasiswa. Janganlah ber-kata, “Kita harus mengalahkan para mahasiswa dan mere-but tanahnya!” Jangan pergi ke kampus untuk berperang — pergilah ke sana untuk bersikap lemah lembut. Kita perlu menjadi lemah lembut, sehingga bahkan jika seorang peng-aniaya menampar pipi kanan kita, kita berikan pula pipi kiri kita. Lemah lembut berarti tidak menentang atau mem-berikan perlawanan. Tetapi, sewaktu kita memberikan pipi kiri kita kepada penganiaya, kita harus berdoa, “Tuhan, ikat-lah kuasa kegelapan!” Ketika kita lemah lembut terhadap orang lain, kita pasti berperang melawan kuasa kegelapan. Musuh kita bukanlah manusia; musuh kita adalah Iblis dan malaikat-malaikatnya, kekuasaan jahat di udara.

LAPAR DAN HAUS AKAN KEBENARAN

Kapan kala kita lemah lembut terhadap orang lain, kita harus lapar dan haus akan kebenaran. Kita sendiri harus benar terhadap semua orang. Kita harus benar terhadap orang tua kita, suami atau istri kita, anak-anak kita, mertua dan saudara ipar kita, keluarga kita, dan tetangga-tetangga kita. Umat Kerajaan Surgawi memiliki kebenaran sedemikian ini. Jangan beranggapan bahwa jika kita berduka dan lemah lembut, kita boleh kendur. Tidak, kita harus lapar dan haus akan kebenaran.

BENAR (ADIL) TERHADAP DIRI SENDIRI, BERBELASKASIHAN TERHADAP ORANG LAIN

Meskipun kita harus adil, serius terhadap diri sendiri, tetapi kita harus belajar berbelaskasihan terhadap orang lain dan tidak menuntut mereka. Sangatlah keliru bila orang Kristen menuntut orang lain. Jika Anda benar-benar serius dan ketat terhadap diri sendiri, Anda akan mengetahui bagai-mana berbelaskasihan terhadap orang lain. Tanpa terlebih dulu benar terhadap diri Anda sendiri, jangan berpikir untuk membelaskasihani orang lain. Setiap orang yang kendur selalu berbelaskasihan terhadap orang lain, karena mereka telah ber-belaskasihan terhadap diri mereka sendiri. Jika seseorang bangun kesiangan setiap pagi, maka ia akan berbelaskasihan terhadap orang lain yang bangun siang hari. Belas kasihan sedemikian ini bukan berbelaskasihan yang benar, melainkan mutlak keliru. Tidak seorang pun yang kendur mengetahui bagaimana cara berbelaskasihan terhadap orang lain. Hanya orang yang serius dan ketat, yaitu orang yang benar, yang mengetahui bagaimana cara berbelaskasihan. Jika Anda ingin berbelaskasihan terhadap orang lain sesuai dengan berkat yang kelima di atas, pertama-tama Anda harus benar terha-dap diri Anda sendiri sesuai dengan berkat yang keempat.

Kita harus benar (adil) dan serius (ketat) terhadap diri sendiri, dan jangan sekali-kali memberi celah kepada diri sendiri. Tetapi bila orang lain melukai perasaan kita, dan de-ngan demikian menyingkapkan kekurangan mereka sendiri, kita harus berbelaskasihan terhadap mereka. Semua orang yang membenarkan diri sendiri selalu menghakimi orang lain dan tidak membiarkan orang lain lewat. Perkataan yang dikatakan oleh Tuhan di atas gunung sama sekali berbeda dengan hal tersebut. Terhadap diri sendiri kita harus benar dan ketat, serius, dan jernih. Tetapi, terhadap orang lain, kita harus berbelaskasihan. Terhadap diri-Nya sendiri Allah adalah benar. Tetapi jika Dia memperlakukan kita dengan sepenuh-nya benar (adil), kita akan mati terbunuh. Sebagai manusia berdosa yang telah jatuh, kita sungguh-sungguh memerlukan hati belas kasihan Allah. Kita juga harus belajar bersikap benar terhadap diri sendiri, dan berbelaskasihan terhadap orang lain. Masalah benar terhadap diri sendiri dan berbelas-kasihan terhadap orang lain terutama bukanlah masalah ke-lakuan yang di luar; melainkan sikap yang di dalam, yaitu insan batiniah kita.

Sebagai saudara yang memegang pimpinan, baik sebagai penatua dalam gereja maupun sebagai saudara dalam peru-mahan saudara, mungkin Anda merasakan betapa sulitnya untuk bertindak serius dan ketat terhadap diri sendiri dan berbelaskasihan terhadap orang lain. Misalnya, mungkin se-tiap orang diharuskan sudah berada di rumah pada waktu tertentu. Jika terlambat pulang dari waktu yang telah diten-tukan, berarti tidak benar. Demikian pula, tidaklah benar jika kita mengganggu orang lain. Tetapi ada beberapa anak muda begitu pulang ke rumah, segera dengan seenaknya sen-diri melempar sepatu mereka. Saya kenal dengan seorang teman sekerja, yaitu seorang pendeta dan guru Alkitab, yang biasa melemparkan kaus kakinya tanpa memperhatikan di mana seharusnya kaus kaki itu ditaruh. Pada suatu hari, saya dengan saudara tersebut bertamu ke rumah seseorang. Nyonya rumahnya adalah orang yang sangat cermat. Ia mengatakan kepada saya mengenai kecerobohan saudara ter-sebut. Bagi saya hal ini sangat memalukan! Beberapa saudara yang tinggal di perumahan saudara boleh jadi melakukan hal yang sama.

Ada beberapa saudara yang mungkin merasa tidak se-nang disuruh mencuci piring, karena itu, mereka tidak dengan tuntas membersihkan piring-piring cucian. Ini berarti tidak benar. Tidaklah dibenarkan jika kita mengambil keun-tungan dari orang lain, yaitu melanggar hak mereka. Tidak membersihkan piring-piring dengan tuntas berarti mengambil keuntungan dari orang lain. Jika Anda adalah orang sede-mikian, Anda bukanlah orang yang benar. Jika Anda adalah seorang pemimpin dalam perumahan saudara, Anda harus memperlakukan diri sendiri dengan serius dalam hal waktu, obrolan, kebisingan, mencuci piring, dan hal-hal lainnya. Janganlah Anda mengatakan bahwa hal-hal ini terlalu ba-nyak. Mungkin Anda merasa hal-hal ini terlalu banyak, te-tapi tidak demikian bagi Kristus yang hidup di dalam Anda. Dalam segala sesuatu yang Anda lakukan, Anda harus serius dan ketat terhadap diri Anda sendiri.

Namun demikian, sebagai seorang saudara yang meme-gang pimpinan dalam perumahan saudara atau di suatu as-pek dalam hidup gereja, Anda harus berbelaskasihan. Kadang-kadang seorang pemimpin memperingatkan seorang saudara yang ceroboh dalam hal mencuci piring dengan berkata, “Ini merupakan peringatan pertama bagi Anda. Setelah peringatan kedua, Anda harus pindah dari sini.” Ingatlah perkataan Tuhan Yesus tentang berapa kali kita harus mengampuni saudara kita (Mat. 18:21-22). Bahkan jika saudara tersebut tidak dengan sungguh-sungguh mencuci piring, setelah berkali-kali Anda peringatkan, Anda tetap harus berbelaskasihan terhadapnya. Ini bukan berarti bahwa Anda harus menuju ke ekstrem yang bertentangan dan berkata, “Aku tahu bahwa aku harus berbelaskasihan terhadap saudara ini. Karena itu, mulai saat ini, aku tidak akan mengatakan kepadanya tentang bagaimana mencuci piring. Biarlah ia mencuci de-ngan cara yang ia sukai. Aku harus sabar menghadapinya untuk merawatnya.” Sikap ini pun tidak benar. Anda harus memperhatikan saudara yang sedemikian ceroboh hari demi hari. Biarlah ia kembali mencuci piring. Tetapi setiap ia tidak serius mencuci piring, Anda harus bersabar dan ber-belaskasihan terhadapnya.

Mudah sekali bagi kita untuk ketat atau sebaliknya, ceroboh. Tetapi kita harus belajar di satu pihak menjadi orang yang serius, dan di pihak lain berbelaskasihan. Kalau kita bersikap serius terhadap seseorang, pada saat yang sama, kita harus berbelaskasihan kepadanya. Inilah pelajaran yang harus dipelajari oleh para penatua. Umat kerajaan adalah orang-orang yang benar (adil), juga berbelaskasihan. Ketika Anda benar (adil), Anda harus benar (adil) dengan mutlak; dan ketika Anda berbelaskasihan, Anda harus penuh belas kasihan. Meskipun benar (adil) dan berbelaskasihan merupakan dua kutub yang berlawanan, tetapi keduanya bertemu di dalam pengalaman Anda. Kebenaran (keadilan) Anda harus datang bersama-sama dengan belas kasihan Anda.

SUCI HATI DAN MELIHAT ALLAH

Berdasarkan rangkaian berkat dalam Matius 5, suci hati datang setelah pernyataan belas kasihan terhadap orang lain. Hal ini juga sesuai dengan pengalaman kita. Jika Anda tidak adil (benar) terhadap diri sendiri, tidak berbelaskasihan terhadap orang lain, Anda akan merasa sulit menjadi orang yang suci hati terhadap Allah. Untuk menjadi suci hati di hadapan Allah, Anda harus serius dan ketat dalam memper-lakukan diri sendiri, dan berbelaskasihan dalam memperla-kukan orang lain. Secara logika, hal ini sepertinya tidak beralasan. Tetapi, pengalaman riil kita membuktikan hal ini. Jika Anda tidak adil (benar) terhadap diri Anda sendiri, tidak berbelaskasihan terhadap orang lain, Anda tidak akan suci hati terhadap Allah. Saya yakin bahwa setidak-tidaknya ada beberapa orang di antara kita di dalam gereja yang me-miliki pengalaman tentang apa yang saya katakan di sini. Bertahun-tahun kita telah belajar serius dan ketat terhadap diri sendiri dan tidak memberi celah sedikit pun. Tetapi kita juga belajar berbelaskasihan terhadap orang lain, terutama terhadap orang-orang yang agak lemah. Hasilnya, kita akan dengan suci hati mencari Allah. Ketika kita adil (benar) terhadap diri sendiri, berbelaskasihan terhadap orang lain, kita akan melihat Allah. Tetapi jika kita kendur ter-hadap diri sendiri dan menghakimi orang lain, kita akan buta, dan kita tidak dapat melihat Allah. Jika Anda memaaf-kan diri sendiri, tetapi menghakimi orang lain, hati Anda tidaklah suci. Hati yang suci terhadap Allah hanya datang dari perlakuan yang adil (benar) terhadap diri sendiri, dan perlakuan yang berbelaskasihan terhadap orang lain.

Bahkan di dalam gereja pun, sejumlah kaum saleh terten-tu selalu memaafkan diri sendiri, namun menuntut orang lain. Sebagai contoh, boleh jadi mereka memaafkan keterlam-batan bangun mereka di pagi hari dengan berkata bahwa tadi malam mereka menerima interlokal. Tetapi jika mere-ka mendengar bahwa seorang saudara tertentu tidak datang bermunajat pagi, mereka akan berkata, “Mengapa ia tidak datang? Sebagai pemimpin dalam perumahan saudara, ia seharusnya bangun lebih pagi.” Mata orang yang seperti ini buta, menunjukkan bahwa hatinya tidak suci. Kita harus adil (benar) terhadap diri sendiri dan berbelaskasihan terhadap orang lain. Jika orang lain kendur, bermalas-malasan, atau ceroboh, kita boleh mengingatkan mereka dengan cara yang layak. Meskipun demikian, kita harus tetap berbelaskasihan terhadap mereka. Kadang-kadang tidak peduli bagaimana seriusnya kita harus memperlakukan orang lain, tetapi belas kasihan tetap harus ditunjukkan kepada mereka. Jika kita serius terhadap diri sendiri dan berbelaskasihan terhadap orang lain, kita akan memiliki hati yang suci di hadapan Allah, yaitu hati yang tulus terhadap Dia. Pahala dari me-miliki hati yang suci ialah melihat Allah. Saya jamin bahwa jika Anda mau mempraktekkan serius dan ketat terhadap diri sendiri dan berbelaskasihan terhadap orang lain, Anda akan melihat Allah.

PEMBAWA DAMAI

Anda juga akan menjadi orang yang suka damai. Orang yang serius dan ketat terhadap dirinya sendiri, berbelas-kasihan terhadap orang lain, dan suci hati terhadap Allah, adalah pembawa damai. Mereka tidak senang menyakiti atau melukai perasaan orang. Sebaliknya, mereka suka berdamai dengan orang lain. Menjadi seorang pembawa damai bukan berarti menjadi orang yang bermain politik. Bermain politik berarti berdusta dan berpura-pura. Kita harus jujur, tidak politis. Ingatlah, Yerusalem Baru itu berbentuk persegi, bukan bulat. Kita sebagai orang Kristen harus demikian. Meskipun kita jujur, kita tetap berbelaskasihan terhadap orang lain. Ini memungkinkan kita menjadi suci hati di hadapan Allah, dan melihat Allah. Jika kita menjadi orang yang sedemi-kian, secara spontan kita akan menjadi orang yang membawa damai. Kita tidak bertengkar dengan orang lain dan melukai mereka, tetapi kita selalu memelihara perdamaian dengan mereka. Inilah yang dimaksud dengan menjadi seorang pem-bawa damai.

ANAK-ANAK ALLAH

Mereka yang membawa damai akan disebut anak-anak Allah. Ini berarti bahwa orang-orang yang berada di sekitar kita akan berkata, “Orang-orang ini tidak hanya anak-anak manusia, melainkan juga anak-anak Allah.” Semua anak manusia berperang satu sama lain, tetapi anak-anak Allah, seperti Bapa Surgawi mereka, penuh perdamaian dan se-lalu berdamai dengan orang lain. Roma 12:18 mengatakan, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hidup-lah dalam damai dengan semua orang!” Tetapi, pemeliharaan perdamaian ini tidak hanya merupakan perilaku yang di luar. Itu politik. Perdamaian kita harus berasal dari hakiki kita. Kita memiliki hakiki yang membuat kita serius dan ketat terhadap diri sendiri, berbelaskasihan terhadap orang lain, dan suci hati terhadap Allah. Karena kita memiliki hakiki ini, maka secara spontan kita akan memelihara perdamaian de-ngan orang lain. Ini bukanlah perdamaian yang politis; me-lainkan perdamaian yang mengalir keluar secara spontan dari sifat kita. Ini akan menyebabkan orang lain berkata, “Inilah anak-anak Allah.”

MENERIMA ANIAYA KARENA KEBENARAN

Jika kita memiliki hakiki yang sesuai dengan apa yang diwahyukan dalam ayat-ayat ini, beberapa orang dalam masya-rakat akan menganiaya kita. Penganiayaan ini terjadi karena dua alasan: karena kebenaran dan karena Kristus. Berkat ke-delapan berkaitan dengan penganiayaan karena kebenaran (ayat 10), sedangkan berkat kesembilan berkaitan dengan penganiayaan karena Kristus (ayat 11-12). Mengapa orang lain akan menganiaya kita karena kebenaran dan karena Kristus? Semua itu hanya karena kita miskin di dalam roh, memperhatikan situasi negatif dari dunia hari ini dan berdu-kacita karenanya, lemah lembut terhadap lawan dan penen-tang, serius dan ketat terhadap diri sendiri, dan berdamai dengan semua orang. Karena itu, masyarakat yang jahat akan menganiaya kita karena kebenaran. Karena kita mau setia dan jujur, maka mereka menganiaya kita.

Jika kita menderita aniaya karena kebenaran, kitalah yang punya Kerajaan Surga. Menderita karena kebenaran merupakan syarat berbagian dalam Kerajaan Surga. Jika kita tidak tinggal dalam kebenaran, kita akan berada di luar kerajaan. Tetapi jika kita tinggal dalam kebenaran, kita akan berada dalam kerajaan, karena kerajaan secara mutlak adalah masalah kebenaran. Di dalam kerajaan tidak terda-pat kesalahan, ketidakadilan, maupun perkara kegelapan; segala sesuatunya benar dan terang. Inilah hakiki kerajaan. Ketika kita miskin di dalam roh, Kerajaan Surga akan masuk ke dalam kita; dan ketika kita tinggal dalam kebenaran, Kerajaan Surga akan berdiam di dalam kita. Dalam dua kea-daan ini, kitalah yang punya Kerajaan Surga. Jika kita ingin menerima Kerajaan Surga, kita harus miskin di dalam roh kita, dan jika kita ingin Kerajaan Surga tinggal di dalam kita, kita harus tinggal dalam kebenaran. Tetapi jika Anda ingin tinggal dalam kebenaran, bersiaplah menghadapi peng-aniayaan. Anda akan dianiaya karena kebenaran.

DICELA KARENA KRISTUS

Keseluruhan dunia ini, baik dunia politik, agama, pen-didikan, perdagangan, maupun perindustrian berlawanan de-ngan Kristus. Karena itu, jika Anda hidup oleh Kristus, untuk Kristus, dan dengan Kristus, Anda akan dicela dan difitnah. Orang-orang akan menyebarkan desas-desus tentang Anda. Mungkin Anda bekerja dalam bidang pendidikan, tetapi ka-dang-kadang Anda menolak bekerja sama dalam hal-hal ter-tentu yang terdapat di sana, melainkan lebih suka mengikuti jalan Kristus. Beberapa orang mungkin bekerja dalam bidang ekonomi atau bekerja dalam bidang perdagangan. Tetapi ke-tika mereka bekerja pada bidang ini, mereka hidup oleh Kristus dan untuk Kristus, dan bergerak dengan Kristus. Orang lain dalam lapangan kerja Anda akan bangkit dan menganiaya Anda, mencela serta memfitnah Anda. Namun demikian, Anda harus menderita ini karena Kristus.

KRISTUS DENGAN KERAJAAN

Masing-masing berkat di atas memiliki pahala. Pahala pertama ialah Kerajaan Surga; pahala kedua adalah dihibur; pahala ketiga ialah bumi; pahala keempat ialah dipuaskan; pahala kelima beroleh belas kasihan; pahala keenam ialah melihat Allah; Pahala ketujuh disebut anak Allah; pahala ke-delapan adalah Kerajaan Surga; dan pahala kesembilan adalah Kristus. Jika kita memiliki Kristus, kita memiliki Kerajaan Surga; jika kita tidak memiliki Kristus, kita tidak akan me-miliki Kerajaan Surga. Jadi, berkat yang nyata adalah Kristus dengan kerajaan-Nya. Untuk mengambil bagian dalam berkat ini kita perlu miskin di dalam roh, berdukacita atas situasi negatif, lemah lembut dalam menghadapi penentangan, serius dan ketat terhadap diri sendiri, berbelaskasihan terhadap orang lain, suci hati terhadap Allah, berdamai dengan semua orang, menderita aniaya karena kebenaran, dan menderita celaan karena Kristus. Inilah hakiki umat kerajaan. Akhir-nya, umat kerajaan merupakan realitas kerajaan. Inilah ke-rajaan, yaitu kehidupan gereja hari ini. Gereja hari ini ialah realitas kerajaan.