PENGUMUMAN KONSTITUSI KERAJAAN (4)
Dalam berita ini kita akan melihat bagian kedua mengenai pengaruh umat kerajaan (5:13-16) yang menyangkut pengaruh umat Kerajaan Surga atas dunia. Umat kerajaan ialah garam bagi bumi yang telah rusak dan terang bagi dunia yang gelap.
III. MENGENAI PENGARUH
UMAT KERAJAAN ATAS DUNIA
Setelah mewahyukan hakiki umat kerajaan, selanjutnya membicarakan mengenai pengaruh mereka. Urutannya di sini sangat bermakna. Jika umat kerajaan tidak mempunyai hakiki yang dikiaskan dalam Matius 5:3-12, mereka tidak akan berpengaruh terhadap dunia. Pengaruh umat kerajaan berasal dari hakiki mereka, berasal dari apa adanya mereka. Apabila kita, umat kerajaan, umat gereja, miskin dalam roh kita, maka Kerajaan Surga akan mempunyai tempat dalam batin kita. Kemudian kita bisa berdukacita, lemah lembut, lapar serta dahaga akan kebenaran, berbelaskasihan, suci dalam hati, pendamai, menderita aniaya, dan mendapat celaan karena Kristus. Kalau kita adalah umat yang demikian, kita pasti akan mempunyai pengaruh yang besar terhadap umat di sekeliling kita. Dengan spontan kita akan mempengaruhi bumi yang rusak dan dunia yang gelap.
Karena kekurangan pengaruh kehidupan gereja yang wajar, maka seluruh dunia rusak dan berada dalam kege-lapan. Bila Anda bepergian ke seluruh dunia, mempelajari, dan menelaah situasi di berbagai negara, Anda akan nampak bahwa dua tempat yang sangat buruk ialah Perancis dan Swedia; negara tanpa pengaruh hidup gereja yang wajar. Hari ini, sebagai persiapan kedatangan Tuhan, sungguh sa-ngat perlu bagi semua negara yang gelap dan rusak ini dibawa ke dalam pengaruh kehidupan gereja yang wajar.
Dalam ayat 13 Tuhan mengatakan, “Kamu adalah garam dunia (bumi)”, dan dalam ayat 14 Ia mengatakan, “Kamu adalah terang dunia.” Menurut teks bahasa Yunaninya, kata ganti di sini berbentuk jamak. “Kamu” dalam dua ayat ini tidak mengacu kepada individu, melainkan umat yang kor-porat. Kebanyakan pembaca menerapkan ayat-ayat ini pada aspek individu. Mereka yang mempunyai sembilan berkat yang dikatakan dalam ayat 3-12 adalah umat korporat, bukan individual. Sebab itu, firman Tuhan tentang garam dan terang bukan mengenai individu. Secara individual, satu pun di antara kita tidak dapat menjadi garam yang wajar atau terang yang wajar. Dalam ayat 14 Tuhan mengibaratkan kita seperti sebuah kota, bukan batu-batu yang individual. Ini jelas mewahyukan bahwa firman Tuhan di sini bukan di-tujukan pada individu, melainkan bagi umat korporat yang dibangunkan bersama di atas taraf yang tinggi. Tuhan tidak mengatakan, “Kamu adalah terang-terang dunia.” Ia menyatakan, “Kamu adalah terang dunia.” “Kamu” yang jamak hanyalah satu terang.
Janganlah mengira pengaruh umat kerajaan atas dunia ini suatu perkara individual. Kalau Anda berusaha menjadi rohani secara individual, Anda tidak akan berhasil. Bahkan kalaupun Anda dapat mencapai suatu taraf kerohanian, Anda akan menjadi kanker. Semua kerohanian yang indi-vidualistis ialah kanker yang menyerap gizi seluruh tubuh bagi diri sendiri. Kanker bukan disebabkan oleh hama pe-nyakit, melainkan disebabkan oleh sel-sel dalam tubuh yang memisahkan diri dari sel-sel tubuh lainnya dan hanya mem-perhatikan diri sendiri. Bila Anda ingin menjadi rohani individualistik, Anda akan menjadi kanker. Kita semua perlu mendengar peringatan ini.
Sekitar dua puluh lima tahun yang lalu, saya mulai nampak bahwa kerohanian bukan suatu masalah individual, melainkan mutlak masalah korporat. Sebagai contoh kese-hatan jasmani. Kesehatan tubuh kita bukanlah masalah anggota tubuh masing-masing, melainkan suatu masalah korporat. Kita tidak mengatakan bahwa telinga kita sehat, melainkan tubuh kita sehat. Jika telinga Anda tidak sehat, tubuh Anda pasti tidak sehat pula. Sebab itu, kesehatan ialah masalah seluruh tubuh.
Ketika saya masih muda, saya menerima firman Tuhan dalam ayat-ayat tentang garam dan terang ini secara indivi-dualistik, mengira bahwa saya pribadi harus menjadi garam dan terang. Tetapi kini saya nampak bahwa menjadi garam ialah perkara korporat. Kita perlu dikesankan oleh fakta bah-wa umat kerajaan, yang keseluruhannya adalah korporat, adalah garam dan terang. Jika kita memisahkan diri kita dari hidup gereja, kita takkan lagi dapat menjadi garam dan terang.
Baik garam maupun terang menunjukkan umat kerajaan yang korporat. Hari ini umat gereja adalah umat kerajaan. Menyangkut pendisiplinan dan pelatihan, kita adalah umat kerajaan. Tetapi menyangkut hayat dan karunia, kita adalah umat gereja. Yang disinggung dalam ayat-ayat ini adalah perkara pelatihan dan pendisiplinan. Karena itu, ini bersangkutan dengan umat kerajaan. Umat kerajaan sebagai satu keseluruhan, sebagai tubuh yang korporat, adalah garam dan terang.
Dalam ayat 13 Tuhan mengatakan tentang bumi dan dalam ayat 14 Ia mengatakan tentang dunia. Ada perbedaan antara bumi dan dunia, dua kata ini bukan sinonim. Yang diciptakan oleh Allah ialah bumi dan yang muncul dari hasil perusakan Iblis ialah dunia. Bagi bumi yang diciptakan Allah, umat kerajaan ialah garam. Tetapi bagi dunia yang telah di-rusak Iblis, mereka adalah terang. Kita adalah garam bumi dan terang dunia.
A. Menjadi Garam Bumi
1. Membunuh dan Menyingkirkan Kuman-kuman Penyakit Perusakan dari Bumi
Bila kita mengatakan bahwa kita adalah garam, berarti kita melakukan pengaruh kita atas bumi yang diciptakan Allah untuk melestarikan dalam kondisi semula. Bumi yang diciptakan Allah telah jatuh. Dalam suatu arti, bumi telah membusuk dan rusak. Garam membunuh kuman-kuman dan menyingkirkan kerusakan ini. Setiap dokter dapat memberi tahu Anda bahwa garam membunuh kuman-kuman, me-nyingkirkan kerusakan, dan melindungi benda-benda tetap dalam kondisi semula. Dalam hakikinya, garam merupakan unsur yang membunuh kuman-kuman perusak dan menying-kirkannya. Jadi, melalui fungsi pembunuh dan pelindung, garam memulihkan bumi kepada kondisi semula atau me-lestarikannya dalam kondisi semula. Jadi, fungsi garam ialah memelihara apa yang telah diciptakan oleh Allah. Seluruh bumi menjadi semakin rusak. Kita wajib menggunakan pe-ngaruh kita atas bumi yang rusak ini. Terhadap bumi yang rusak, umat Kerajaan Surga adalah unsur yang mencegah bumi dari kerusakan penuh.
2. Kemungkinan Menjadi Tawar
Dalam ayat 13 Tuhan berkata, “Kamu adalah garam du-nia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia di-asinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” Bagi umat kerajaan, menjadi tawar berarti mereka kehilangan fungsi mengasinkan. Mereka menjadi sama seperti orang dunia dan tidak berbeda dengan orang yang tidak per-caya. Menjadi sama seperti orang dunia itu berlawanan dengan hakiki yang diwahyukan dalam ayat 3-12. Ini berarti kita tidak lagi miskin dalam roh, berdukacita karena situasi yang negatif, lemah lembut, lapar, dan dahaga akan kebe-naran, berbelaskasihan, suci hati dalam mencari Allah, pem-buat damai, mau teraniaya demi kebenaran, dan mau dicela karena Kristus. Ini berarti bahwa kita hidup, berjalan, dan berperilaku seperti orang dunia. Jika keadaan kita demikan, kita menjadi tawar dan garam itu kehilangan fungsinya.
Istri Lot merupakan suatu ilustrasi untuk hal ini (Kej. 19:26). Ia menjadi tiang garam, yang menunjukkan garam yang kehilangan fungsinya. Bila garam menjadi tiang, ia tak dapat berfungsi, terutama disebabkan kehilangan fungsinya. Fakta bahwa istri Lot menjadi tiang garam merupakan suatu peringatan yang keras bagi kita agar tidak kehilangan per-bedaan antara kita dengan dunia. Kita tidak boleh kehilangan rasa kita. Kita harus mempertahankan fungsi asin membu-nuh kuman-kuman, menyingkirkan kerusakan, dan memeli-hara segala sesuatu kepada kondisi semula atau memulihkan segala sesuatu kepada kondisi ciptaan Allah mereka.
Di mana saja umat kerajaan berada, haruslah meng-gunakan pengaruh asin terhadap sekitar mereka. Dalam ling-kungan tetangga, kita harus menunaikan fungsi kita untuk membunuh kuman-kuman. Tetapi jika kita menjadi sama seperti orang dunia, kita kehilangan fungsi dan rasa kita. Karena kita kehilangan rasa kita, kita tak lagi mempunyai fungsi asin, dan kita tidak akan dapat menunaikan fungsi asin kita. Kalau kita mempunyai hakiki umat kerajaan yang diwahyukan dalam sembilan berkat, kita benar-benar akan asin. Kita akan asin terhadap keluarga dan besan kita. Bila kita miskin dalam roh, berdukacita, lemah lembut, benar, berbelaskasihan, dan suci hati dalam menuntut Allah, kita akan mempunyai fungsi asin. Tidak perlu mencela me-reka atau menunjuk kesalahan dan perbuatan salah mereka. Mereka akan menjadi asin oleh kehadiran kita. Adakalanya orang-orang jahat tertentu akan menyingkir dari kita, sebab kita begitu asin. Inilah apa yang diartikan membunuh kuman-kuman bumi yang telah busuk ini.
Kehendak hati Tuhan ialah memulihkan bumi kepada kondisi semula. Walaupun kita tidak dapat nampak perkara ini pada zaman sekarang, tetapi kita akan melihatnya dalam zaman yang akan datang. Bila Kerajaan Seribu Tahun da-tang, seluruh bumi akan diasinkan. Semua kuman di bumi ini akhirnya akan terbunuh, dan seluruh bumi tidak hanya akan diperoleh Kristus, tetapi juga akan dikembalikan kepada kondisi ciptaan Allah. Pekerjaan ini akan dirampungkan oleh umat kerajaan.
Dalam ayat 13 Raja mengatakan bahwa garam yang kehilangan rasanya akan dibuang dan diinjak-injak orang. Di-buang berarti diletakkan di luar Kerajaan Surga (Luk. 14:35). Diinjak-injak orang berarti diperlakukan seperti debu yang tidak berguna.
B. Sebagai Terang Dunia
1. Sebagai Kota yang di Atas Gunung
Ayat 14 mengatakan,“Kamu adalah terang dunia.” Te-rang adalah sinar pelita yang menerangi orang yang berada dalam kegelapan. Bagi dunia yang gelap, umat Kerajaan Surga sepertilah terang, mengenyahkan kegelapan dunia. Dalam hakikinya, umat kerajaan adalah garam yang menyembuhkan; dalam perilakunya, mereka adalah terang yang memancar.
Sebagai terang yang memancar, umat kerajaan seperti sebuah kota yang terletak di atas gunung; kota yang tidak dapat disembunyikan. Akhirnya, ini akan rampung dalam kota kudus, Yerusalem Baru (Why. 21:10-11, 23-24). Selama bertahun-tahun saya merasa dipersulit oleh ilustrasi Tuhan tentang kota yang terletak di atas gunung. Bahkan hingga saya masuk dalam hidup gereja, saya tetap tidak mengerti bagaimana terang dapat dikiaskan oleh kota yang terbangun. Setelah saya berada dalam pembangunan gereja secara riil, saya baru nampak bahwa hanya dengan cara dibangunkan bersama, barulah umat kerajaan dapat menjadi kota yang terletak di atas gunung. Kota ini menjadi terang yang me-mancar. Di Anaheim, kaum saleh berkelompok saling berte-tangga. Jika praktek-praktek ini menjadi umum dan kaum saleh dalam kelompok-kelompok ini dibangun bersama, maka setiap kelompok akan menjadi bagian kota terang yang ter-letak di atas puncak gunung.
Dalam ketiga pasal ini Tuhan Yesus tidak mengguna-kan istilah “gereja”. Tetapi istilah “kerajaan” banyak kali di-gunakan dalam pasal-pasal ini, yang sesungguhnya me-nunjukkan gereja. Kerajaan yang disebutkan dalam Matius 5, 6, 7 ialah aspek gereja mengenai pemerintahan dan pe-latihan. Gereja ialah aspek karunia dan hayat untuk kera-jaan, dan kerajaan ialah aspek pemerintahan dan pelatihan bagi gereja. Sebab itu, firman Tuhan dalam pasal-pasal ini mengenai kerajaan sesungguhnya menunjukkan pemerin-tahan dan pelatihan dalam gereja.
Sebagaimana kita telah nampak, banyak orang Kristen memahami pasal-pasal ini secara individual. Mereka keba-nyakan belum nampak bahwa pengumuman ini bukan untuk individu-individu, melainkan untuk umat korporat. Kita tahu bahwa pengumuman konstitusi adalah untuk umat korporat, sebab terang yang ini bukan persona yang individu, melainkan kota yang terbangun. Ini menunjukkan bahwa umat kerajaan perlu terbangun. Jika kaum saleh da-lam gereja di tempat Anda tidak terbangun, melainkan berserakan, terpecah belah, dan terpisah-pisah, maka tidak ada kota di sana. Asalkan tidak ada kota, di sana pun tidak ada terang, sebab terang itu adalah kota; terang bukan mengacu kepada orang beriman individu. Terang adalah kota korporat yang terbangun sebagai satu keseluruhan untuk menerangi orang-orang yang berada di sekitarnya. Hari ini, dalam kalangan kekristenan secara umum, tidak bisa dite-mukan hal ini. Tetapi setiap gereja lokal dalam pemulihan Tuhan haruslah menjadi kota yang terbangun.
Dalam Kitab Wahyu, gereja-gereja adalah kaki pelita emas (Why. 1:20). Prinsip kota dan kaki pelita adalah sama: tidak ada yang individu. Keduanya korporat. Kaki pelita seperti kota, bukan orang beriman yang individu, melainkan gereja. Bila Anda di luar gereja, Anda bukan bagian dari kaki pelita. Untuk menjadi bagian dari kaki pelita, Anda harus dibangun dalam gereja lokal. Gereja lokal yang adalah kaki pelita diibaratkan oleh Tuhan sebagai kota terbangun yang terletak di atas puncak gunung. Bila kita terbangun di lokal kita, kita akan berada di atas gunung. Tetapi bila kita berserakan, terpecah belah, dan terpisah, kita akan berada di lembah yang rendah. Di setiap lokal seharusnya hanya ada satu kaki pelita, satu kota yang terletak di atas gunung. Untuk ini, kita harus memelihara kesatuan dan tetap meru-pakan satu kesatuan, Tubuh yang korporat, sehingga kita akan dapat bersinar. Tetapi jika kita terpecah belah, kita tidak lagi bersinar. Tidak ada penyinaran dalam kekristenan hari ini karena sudah begitu terpecah belah. Banyak perpe-cahan dalam kekristenan. Namun dalam pemulihan Tuhan, bagaimanapun kita harus kembali kepada kesatuan yang unik, yakni Tubuh yang korporat. Ketika kita benar-benar dibangun bersama, kita akan menjadi kota di atas gunung yang menyinari semua orang di sekitar kita.
2. Sebagai Pelita di Atas Kaki Pelita
Ayat 15 mengatakan,“Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.” Penyinaran terang itu ada dua aspek. Di aspek pertama terang itu diibaratkan sebagai kota yang menyinari orang luar. Di aspek kedua, terang itu seperti pelita di atas kaki pelita menyinari semua yang ada di dalam rumah. Kita telah nampak bahwa kota itu ialah gereja yang terbangun. Tetapi rumah itu apa? Anda mungkin mengira bahwa rumah di sini juga menunjukkan gereja. Namun, tidak perlu menaf-sirkan rumah di sini dalam cara ini. Menurut konteks, butir yang terutama menjelaskan bahwa penyinaran terang mempu-nyai dua aspek: aspek lahiriah dan aspek batiniah. Terang sebagai kota di atas gunung menyinari orang luar, sedangkan pelita yang menyala di atas kaki pelita menerangi mereka yang berada dalam rumah. Sebagai kota, terang menyinari orang, tetapi sebagai lampu dalam rumah, terang menyinari ke dalam orang. Ini menunjukkan bahwa pengaruh kita atas orang lain tidak boleh hanya di lahir, tetapi juga di batin.
Untuk menyinari orang lain secara lahiriah, kita perlu dibangun, sedangkan menyinari orang secara batiniah, kita perlu tanpa selubung apa pun. Seperti sebuah kota di atas gu-nung, terang tidak dapat disembunyikan dan sebagai pelita di atas kaki pelita, terang tidak seharusnya disembunyikan.
Dalam ayat 15 Tuhan mengatakan tentang meletakkan pelita di bawah tempayan (gantang). Pelita yang diletakkan di bawah gantang tidak dapat memancarkan sinar keluar. Umat kerajaan sebagai pelita yang bercahaya seyogianya tidak ditutup oleh gantang, suatu kekhawatiran yang menyangkut masalah makan (nafkah) — Mat. 6:25. Kita tidak boleh ditutupi oleh gantang, sebaliknya kita harus berada di atas kaki pelita.
Dengan hikmat Tuhan mengatakan agar pelita itu tidak ditutup oleh gantang. Pada zaman dahulu gantang adalah suatu takaran untuk biji-bijian, sesuatu yang berhubungan dengan makanan, yang sudah tentu menyangkut masalah nafkah. Jadi, menutup pelita di bawah gantang menunjukkan kekhawatiran tentang nafkah kita. Jika kita sebagai orang Kristen khawatir akan nafkah kita dan akan banyaknya uang yang kita peroleh, kekhawatiran ini akan menjadi suatu gantang yang menutupi terang kita.
Umat kerajaan pertama-tama melakukan pengaruh atas semua orang secara lahiriah, dari luar. Namun kita masih perlu mempengaruhi mereka dari batin. Jika gereja secara keseluruhan hidup bersama sebagai kota yang di atas gunung, maka mereka yang mengelilinginya akan akan berada di bawah penyinaran gereja yang terbangun itu. Tetapi ini ha-nyalah penyinaran dari luar. Gereja perlu pula memberi pe-ngaruh lainnya, pengaruh penyinaran yang masuk ke dalam orang. Jadi, kota di atas gunung melambangkan penyinaran dari luar dan pelita dalam rumah melambangkan penyinaran dari dalam. Penyinaran kita seharusnya tidak hanya di luar orang, bahkan di dalam mereka. Untuk menerangi orang lain secara lahiriah, kita wajib dibangunkan sebagai suatu kota di atas gunung. Tetapi untuk menyinari mereka secara bati-niah, kita perlu keluar dari dalam selubung kita. Ini menun-jukkan bahwa umat kerajaan hidup tanpa kekhawatiran dan tanpa memperhatikan keberadaan mereka. Mereka hanya memperhatikan Kristus dan gereja. Hari demi hari mereka adalah umat yang girang, umat yang memuji, umat yang berhaleluya. Ketika tetangga kita, keluarga, dan teman se-kelas kita berhubungan dengan kita, mereka dapat merasa-kan bahwa kita tidak ada kekhawatiran. Kita tidak khawatir akan hidup kita, akan apa yang kita makan atau apa yang kita pakai. Hari demi hari, siang dan malam, umat kerajaan hanya memperhatikan Kristus dan gereja.
Dari pengalaman kita tahu bahwa ketidakkhawatiran kita bisa menggerakkan orang. Jika setiap kali orang yang berkontak dengan Anda merasakan bahwa Anda selalu ber-gembira dan menikmati Tuhan, ia akan benar-benar ter-jamah. Orang dunia selalu dipenuhi dengan kekhawatiran dan tercengkeram dengan segala macam kerisauan, dan se-nantiasa takut sewaktu-waktu kehilangan pekerjaan mereka atau kesulitan-kesulitan dengan atasan mereka. Tetapi umat kerajaan, umat haleluya, mereka yang tidak dapat tertutup oleh gantang, hanya memperhatikan dan membicarakan Kristus dan gereja. Dengan menjadi umat yang demikian, kita menjamah hati orang lain dan menyinari mereka dari dalam. Penyinaran ini menembusi mereka.
Penyinaran lahiriah umat kerajaan bersifat umum dan semua masyarakat dapat melihatnya. Masyarakat dapat nam-pak sekelompok orang yang terbangun, terletak di atas pun-cak gunung, dan bersinar. Sebaliknya penyinaran batiniah adalah khusus. Seorang dari saudara sepupu Anda mungkin terjamah oleh ketidakkhawatiran Anda dan oleh wajah Anda yang berseri-seri. Ketika ia berkontak dengan Anda, ia tidak pernah mendengar Anda berbicara tentang bagaimana Anda mendapatkan nafkah. Sebaliknya, ia selalu mendengar Anda memuji Tuhan dan menyatakan betapa ajaibnya hidup gereja. Ini merupakan terang yang menembus batinnya dan me-nyinari batinnya. Melalui penyinaran terang ini, ia akan ter-taklukkan. Ini bukan penyinaran biasa dari luar, melainkan penyinaran khusus dari dalam. Bila kita adalah umat rajani yang wajar, kita akan memiliki dua ganda penyinaran ini. Kita akan sebagai kota di atas puncak gunung yang mene-rangi semua orang yang berada di sekeliling kita; dan di antara mereka kita akan menjadi umat yang berhaleluya, umat yang tidak ada kekhawatiran mengenai nafkah. Dengan jalan inilah kita menyinari mereka dari dalam. Penerangan yang batiniah ini menembus batin orang dan membuat me-reka percaya.
3. Memuliakan Bapa di Surga
Pada akhirnya, kedua aspek penyinaran kita akan me-muliakan Bapa. Ayat 16 mengatakan,“Demikianlah hendak-nya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.”Sebutan Bapa membuktikan bahwa murid-murid, para pendengar Raja baru, dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12; Gal. 4:6). Pekerjaan baik di sini adalah perilaku umat kerajaan. Melalui perilaku ini, orang-orang dapat melihat Allah dan dibawa kepada-Nya. Penyi-naran kita akan memuliakan Bapa, sebab penyinaran ini mengekspresikan apa adanya Allah. Memuliakan Allah Sang Bapa adalah memberi-Nya kemuliaan. Kemuliaan adalah Allah yang terekspresi. Ketika umat kerajaan mengeks-presikan Allah dalam perilaku dan perbuatan baik mereka, orang-orang melihat Allah dan memuliakan Allah. Allah yang tersembunyi adalah Allah sendiri. Tetapi ketika Allah di-ekspresikan, itulah kemuliaan Allah. Jika sebagai umat kerajaan kita memiliki terang yang bersinar, Allah akan di-ekspresikan dalam penyinaran ini, dan semua orang yang di sekeliling kita akan nampak kemuliaan sehingga Allah terekspresikan. Bila orang lain nampak Allah dalam penyi-naran kita, itulah suatu kemuliaan bagi Allah.
Kita sebagai umat kerajaan, adalah terang dunia. Se-bagai terang, kita seperti kota di atas gunung dan seperti pelita yang bercahaya dalam rumah. Dari luar dan dalam kita bercahaya mengekspresikan Allah, membiarkan Allah mem-punyai kemuliaan dalam pandangan orang lain. Kiranya kita memancarkan pengaruh yang sedemikian kepada mereka yang berada di sekitar kita.
?