← Daftar isi Matius (1) · bab 8/16

PENGURAPAN RAJA (1)

Matius 3:1—4:11 berkenaan dengan pengurapan raja. Bagian Injil Matius ini terbagi dalam tiga bagian: Raja di-perkenalkan (3:1-12), Raja diurapi (3:13-17), dan Raja dicobai (4:1-11). Dalam berita ini dan berita berikutnya kita akan membicarakan tentang diperkenalkannya sang Raja.

I. DIPERKENALKAN

A. Yang Memperkenalkan

Matius 3 mencakup tentang perkenalan dan pengurapan Raja. Dalam pasal ini pertama-tama Yohanes Pembaptis, pe-ngenal Raja, memperkenalkan dirinya sendiri. Matius 3:1 mengatakan, “Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea.”

1. Dilahirkan sebagai Imam

Yohanes Pembaptis dilahirkan sebagai imam (Luk. 1:5, 13). Dalam Pelajaran-Hayat Kejadian kita nampak bahwa hak kelahiran sulung meliputi tiga hal: dua bagian atas tanah, jabatan imam, dan jabatan raja. Ruben, anak sulung Yakub, sebenarnya menerima ketiga hak kelahiran sulung ini. Na-mun oleh karena kecemarannya, ia kehilangan hak kelahiran sulung. Akibatnya, dua bagian atas tanah diberikan kepada Yusuf, jabatan imam diberikan kepada Lewi, dan jabatan raja diberikan kepada Yehuda. Fungsi utama jabatan imam ialah membawa manusia kepada Allah dan fungsi utama jabatan raja ialah membawa Allah kepada manusia. Menurut Alkitab, imam membawa manusia kepada Allah sehingga mereka dapat memperoleh berkat Allah. Inilah pelayanan imamat. Raja ialah yang mewakili Allah dan membawakan Allah kepada orang. Jadi, ministri raja adalah membawa Allah kepada manusia agar manusia bisa mendapatkan Allah. Melalui lalu lintas datang dan pergi, manusia dan Allah, Allah dan manusia, mempunyai persekutuan yang riil, komu-nikasi yang sejati. Akhirnya, manusia dan Allah menjadi satu. Inilah ministri imam dan raja.

Ministri pertama dalam Perjanjian Lama ialah jabatan imam. Setelah ada jabatan imam, ada jabatan raja. Semua kitab sebelum 1 Samuel ialah kitab-kitab imamat. Tetapi mu-lai 1 Samuel, bagian kedua Perjanjian Lama adalah jabatan raja. Dalam Kitab 1 Samuel, Samuel mewakili jabatan imam dan Daud mewakili kerajaan. Samuel sebagai imam mem-bawa masuk Daud sang raja. Jabatan imam membawa ma-suk jabatan raja. Sama halnya dengan hidup gereja hari ini. Kalau kita imam-imam yang sejati, kita akan menjadi raja-raja, sebab jabatan imam selalu membawa masuk jabatan raja. Mula-mula kita adalah imam yang membawa orang-orang ke hadapan Allah. Kemudian kita menjadi raja mem-bawa Allah kepada mereka.

Setiap penginjil yang sejati adalah raja. Kalau Anda bukan raja, Anda tidak bersyarat mengabarkan Injil. Dalam Matius 28:18 dan 19, Tuhan Yesus, Raja kerajaan itu ber-kata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Di sini Tuhan memberi tahu murid-murid untuk pergi dengan membawa kuasa-Nya. Mereka yang pergi dengan kuasa ini adalah raja-raja dalam Kerajaan Surga. Tidak di-sangsikan, Ia membagikan kekuasaan ini untuk kita. Karena itu, kita harus pergi dan menjadikan semua bangsa murid-murid Tuhan, mengabarkan Injil untuk menaklukkan kaum pemberontak. Ketika kita pergi mengabarkan Injil, kita harus pergi sebagai raja.

Banyak orang Kristen tidak mengetahui rahasia Allah dalam ekonomi-Nya. Ketika Anda berbeban memberitakan Injil, Anda pertama-tama harus melaksanakan fungsi imam. Untuk mengabarkan Injil, Anda pertama-tama harus pergi kepada Allah sebagai imam dan membawa orang kepada Dia. Melalui jabatan imam, Anda akan diberi kuasa dan diurapi, lalu Anda akan keluar dari hadirat Allah sebagai raja. Pem-beritaan Injil yang tepat ialah pengedaran surat perintah raja, pengucapan perintah raja. Perhatikanlah pemberitaan Petrus pada hari Pentakosta. Sekalipun ia seorang pemuda nelayan Galilea, ia pun seorang raja. Setiap penginjil yang tepat haruslah seorang raja.

Kita telah nampak bahwa imam membawa masuk raja. Peristiwa ini pertama mengenai Samuel membawa masuk Raja Daud. Dalam Matius 3 kita nampak Samuel yang lain, Yohanes Pembaptis yang dilahirkan sebagai imam suku Lewi. Matius 3 mempersaksikan keselarasan Alkitab, sebab di sini kita nampak seorang dari suku imam, suku Lewi, membawa masuk seorang dari suku raja, suku Yehuda. Dalam Matius 3, Yohanes tampil sebagai Samuel dan Yesus tampil sebagai Daud. Di padang gurun, Yohanes membawa manusia kepada Allah. Jadi, ia sesungguhnya seorang imam yang sejati. Ke-tika ia membawa orang kepada Allah, sang Raja datang, dan Yohanes memperkenalkan Dia kepada manusia. Raja ini membawa Allah kepada manusia. Yohanes membawa manu-sia kepada Allah dan Yesus membawa Allah kepada manusia.

Sebagai orang berdosa, kita datang kepada Allah melalui ministri Yohanes. Melalui bertobat, kita masuk ke hadirat Allah. Inilah ministri imam, ministri Yohanes Pembaptis. Kita semua telah masuk ke hadirat Allah melalui Yohanes. Yohanes yang membawa kita kembali kepada Allah. Kemu-dian Raja Daud baru, Yesus Kristus, membawa Allah kepada kita. Melalui ministri pertobatan Yohanes dan ministri pe-nyaluran hayat Yesus, kita semua telah menjadi imam dan raja. Hari ini kita adalah penerus imam yakni Yohanes Pembaptis dan penerus raja, yaitu Yesus Kristus. Jika Anda seorang Kristen yang wajar, Anda pertama-tama ialah Yohanes hari ini dan kedua ialah Yesus hari ini. Anak-anak muda, ketika Anda pergi ke kampus, Anda harus sebagai imam-imam yang sejati. Anda perlu berkata, “Tuhan, belas kasihanilah orang-orang ini. Oh, Tuhan, ingatlah semua orang muda ini. Aku membawa mereka kepada-Mu.” Inilah jabatan imam, ministri Yohanes Pembaptis. Setelah Anda membawa orang kepada Allah, dalam satu aspek, Anda se-rentak menjadi Kristus yang membawakan Allah kepada mereka sehingga mereka dapat memperoleh Allah. Inilah jabatan imam dan jabatan raja hari ini.

2. Melepaskan Posisi Imam Lahiriah

Sekalipun Yohanes Pembaptis dilahirkan sebagai seorang imam, tetapi ia melepaskan posisi imam lahiriah. Dengan posisi lahiriah kelahirannya, ia bukan seorang imam yang sejati, melainkan seorang yang bertokoh imam, imam dalam bayangan. Dalam Matius 3:1 Yohanes datang berkhotbah di padang gurun sebagai imam sejati. Khotbah Yohanes Pem-baptis merupakan permulaan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Ia berkhotbah tidak di dalam Bait Suci, kota kudus, di mana umat beragama dan berkebudayaan menyembah Allah me-nurut peraturan-peraturan kitab mereka; melainkan di pa-dang gurun, secara “liar”, tidak mempertahankan peraturan lama apa pun. Ini menunjukkan bahwa penyembahan Allah secara kuno menurut Perjanjian Lama telah disingkirkan dan yang baru segera dibawa masuk. Padang gurun di sini me-nunjukkan bahwa cara baru Perjanjian Baru Allah berla-wanan dengan agama dan kebudayaan. Ini menunjukan pula bahwa yang usang tidak ada yang tersisa dan sesuatu yang baru segera dibangun.

Zaman (masa) hukum ini diakhiri dengan kedatangan Yohanes Pembaptis (11:13; Luk. 16:16). Setelah Yohanes Pembaptis, mulailah pemberitaan Injil damai sejahtera (Kis. 10:36-37). Pemberitaan Yohanes ialah permulaan Injil (Mrk. 1:1-5). Jadi, zaman anugerah (kasih karunia) dimulai dengan Yohanes.

Tidak satu pun, baik Yohanes, imam baru, maupun Yesus, Raja baru yang ada di dalam cara yang usang. Me-nurut cara usang, imam-imam berada dalam Bait Suci di kota kudus, mengenakan jubah imam, makan makanan imam dan meneliti tata cara imam. Tetapi dengan kedatangan Yohanes Pembaptis, semuanya telah diakhiri. Itu bukan rea-litas, melainkan bayangan. Kini mengikuti Yohanes Pem-baptis, imam yang sejati, realitas telah datang. Sebagai imam yang sejati, Yohanes datang untuk memalingkan orang kepada Allah. Inilah ministrinya.

3. Hidup dalam Cara yang Berlawanan dengan Agama dan Kebudayaan

Yohanes menggenapkan ministrinya dengan menempuh hidup dalam cara yang mutlak berlawanan dengan agama dan kebudayaan dan di luar agama dan kebudayaan. Ayat 4 mengatakan, “Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan.” Yohanes terlahir sebagai imam. Menurut peraturan hukum Taurat, dia seharusnya memakai pakaian imam yang ter-buat dari kain lenan halus (Kel. 28:4, 40-41; Im. 6:10; Yeh. 44:17-18), dan makan makanan imam, yang terutama ter-buat dari tepung halus dan daging dari kurban yang diper-sembahkan kepada Allah oleh umat-Nya (Im. 2:1-3; 6:6-18, 25-26; 7:31-34). Namun yang dilakukan Yohanes berbeda sama sekali. Dia memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makan belalang dan madu hutan. Semua benda itu tidaklah beradab, tidak berkebudayaan, dan tidak sesuai dengan peraturan agama. Bila seorang imam memakai jubah bulu unta, itu merupakan pukulan yang sangat hebat bagi pikiran agamawi, karena unta dianggap najis menurut per-aturan orang Lewi (Im. 11:4). Di samping itu, Yohanes tidak tinggal di kota yang berkebudayaan, melainkan di padang gurun (Luk. 3:2). Semuanya itu menunjukkan bahwa dia sepenuhnya telah meninggalkan zaman Perjanjian Lama, yang sudah merosot menjadi satu agama yang bercampur dengan kebudayaan manusia. Maksudnya adalah memperkenalkan ekonomi Perjanjian Baru Allah, yang hanya tersusun oleh Kristus dan Roh hayat.

Kita telah nampak bahwa pada zaman Yohanes, masalah menjadi imam adalah masalah agama. Seorang imam harus memakai jubah imam, makan makanan imam, dan tinggal di rumah imam. Begitu seseorang menjadi imam, orang-orang akan menganggapnya sebagai seorang yang beribadah, se-orang yang ada di dalam agama. Tetapi di sini, dalam Matius 3, kita nampak seorang imam yang sejati. Dia tidak tinggal di rumah imam, sebaliknya tinggal di padang gurun, tempat yang “liar” di mana tidak ada agama dan tidak ada kebuda-yaan. Di padang gurun dia menempuh hidup yang “liar”, makan belalang dan madu hutan. Madu yang dia makan bu-kanlah madu yang telah diproses secara modern dan dijual di toko-toko pada hari ini, melainkan madu liar. Yohanes se-orang imam sejati hidup sedemikian “liar”. Namun, jika Anda mencoba menirunya, itu munafik.

Yohanes benar-benar berada di luar agama dan kebuda-yaan. Ia tidak hanya makan makanan liar, tetapi juga memakai jubah bulu unta. Perhatikanlah, Alkitab tidak me-ngatakan bahwa ia memakai kulit unta yang agak rapi, me-lainkan bulu unta; kalau memakai kulit unta masih sedikit rapi, tetapi bulu unta pasti terurai kacau. Tidak hanya de-mikian, ikat pinggang kulitnya tentu tidak halus. Yohanes benar-benar “liar”. Namun imam yang sejati ini adalah orang yang memperkenalkan Raja.

Sejak zaman Yohanes Pembaptis sampai hari ini, sejumlah besar orang telah dibawa kembali kepada Allah melalui ministri Yohanes. Setiap kali kita menganjuri orang-orang agar bertobat, kita harus ingat Yohanes Pembaptis.

Ministri Yohanes Pembaptis berada di luar agama mau-pun kebudayaan. Ketika Yohanes dilahirkan, di Yerusalem ada dua hal utama—agama Ibrani dan kebudayaan Yunani, Roma. Namun Yohanes tidak tinggal di Yerusalem, kota ke-diaman orang tuanya. Dia meninggalkan Yerusalem dan pergi ke padang gurun di mana tidak ada agama maupun kebudayaan, segala sesuatunya alamiah. Yohanes menunai-kan ministrinya di padang gurun, membawa orang kepada Allah dan memperkenalkan seorang Raja yang mewakili Allah. Inilah suatu bukti kuat yang menunjukkan bahwa selama masa Yohanes, zaman telah berubah dari era yang lama ke era yang baru, dari masa bayang-bayang dan lam-bang ke masa realitas. Imam-imam yang memakai jubah imam, makan makanan imam, dan tinggal dalam rumah imam membakar kemenyan dan wangi-wangian serta mela-kukan fungsi-fungsi imam, tidak pernah membawa seorang pun kepada Allah. Tetapi Yohanes yang “liar”, tidak ber-agama, dan tidak berkebudayaan ini membawa banyak orang kepada Allah. Dia juga memperkenalkan seorang Raja me-reka. Raja inilah yang membawakan Allah kepada umat yang bertobat.

Ketika Raja ini diperkenalkan kepada orang-orang dan orang-orang sungguh-sungguh dibawa kembali kepada Allah, maka datanglah kerajaan. Raja beserta dengan umat-Nya adalah kerajaan. Kerajaan ada karena ada raja dan rakyat. Perjanjian Baru dimulai dengan jabatan imam yang sejati yang membawa masuk kerajaan yang sejati. Imam sejati membawa masuk Raja yang sejati; hal ini mendatangkan kerajaan.

Pemberitaan Yohanes ialah, “Bertobatlah, sebab Kera-jaan Surga sudah dekat!” (ayat 2). Semua orang harus ber-tobat sebab kerajaan sudah datang dan karena Raja sudah ada. Kita perlu bertobat agar Raja mendapatkan kita dan kita menjadi umat-Nya. Setelah kita bertobat, Raja menda-patkan kita dan kita mendapatkan Dia. Melalui Raja men-dapatkan kita dan kita mendapatkan Dia, kita dan Raja menjadi kerajaan. Kerajaan segera mengikuti Raja. Jika Anda menerima Raja dan Ia pun mengambil Anda sebagai umat-Nya, pada saat itu juga kerajaan datang. Apa sebabnya ke-rajaan belum datang? Sebab Anda belum menerima Raja, dan Raja belum mendapatkan Anda. Karena Anda masih jauh dari Dia, Raja belum bisa mendapatkan Anda, maka kera-jaan belum ada di sini. Sebaliknya di suatu tempat, Ia menunggu Anda bertobat. Jika Anda bertobat, Raja akan mendapatkan Anda, Anda akan mendapatkan Raja, dan kera-jaan akan ada di sini.

Hari ini banyak orang Kristen yang memberitakan Injil tidak mengerti prinsip ilahi dalam ekonomi Allah. Jika kita ingin menjadi penginjil yang sejati, pertama-tama kita harus menjadi Yohanes Pembaptis. Ini berarti bahwa kita harus menjadi imam, bukan imam formal, ataupun imam dalam bayang-bayang, melainkan imam yang sejati, imam dalam realitas. Setelah kita menjadi imam-imam demikian, kita pun harus menjadi Yesus Kristus. Ini berarti bahwa kita harus menjadi raja-raja yang membawakan Allah kepada orang lain. Ketika kita pergi kepada Allah untuk mendoakan orang lain, kita adalah imam-imam yang membawa mereka kepada Allah. Sedangkan ketika kita keluar dari hadirat Allah kemudian pergi kepada orang-orang, kita adalah raja-raja yang membawakan Allah kepada mereka. Kalau kita berbuat demikian, mereka akan bertobat kepada Raja, Raja akan mendapatkan mereka, dan kerajaan akan terwujud.

Hidup gereja yang wajar hari ini ialah kerajaan. Kita semua telah bertobat, Raja telah mendapatkan kita dan ke-rajaan ada di sini beserta kita. Haleluya, kerajaan ada di sini, sekarang ini juga! Semua ini tergantung pada pengenal.

Beban saya dalam berita ini adalah menitikberatkan masalah pengenal. Apakah Anda hari ini pengenal Kristus? Jika ya, Anda harus jelas apakah Anda masih berada dalam agama dan kebudayaan atau tidak. Kita semua harus berada di padang gurun, dalam suatu lingkungan yang “liar”, bukan dalam lingkungan yang agamawi ataupun berkebudayaan. Lingkungan yang wajar ialah di luar agama dan kebudayaan, namun penuh dengan penyertaan Allah.

Ketika Yohanes berada di padang gurun, ia adalah sebuah magnet besar yang menarik sejumlah banyak orang kepa-danya. Karena itu, Matius 3:5 mengatakan, “Lalu datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan seluruh daerah sekitar Yordan.” Karena daya tariknya, banyak orang datang kepada Yohanes Pembaptis. Saya ber-harap anak-anak muda yang pergi ke kampus-kampus akan berdiri sebagai magnet. Jika Anda magnet yang demikian, orang-orang lain akan mengerumuni Anda. Mula-mula Anda akan menjadi imam yang diangkat Allah membawa orang ke hadirat-Nya. Kemudian Anda akan dapat membawakan Raja surgawi ke dalam mereka. Pada saat itu, Anda tidak hanya membawakan Raja ke dalam orang lain, bahkan pada hakikatnya Anda adalah raja. Dengan demikian, Anda akan memerintah orang lain, sehingga banyak orang kembali kepada Kristus. Dengan cara demikian, Kristus akan men-dapatkan orang dan mereka akan mendapatkan Dia. Kemu-dian kerajaan segera muncul di kampus-kampus. Inilah jalan yang wajar untuk melaksanakan pemberitaan Injil.

B. Tempat Perkenalan

Kita telah nampak bahwa tempat perkenalan tidak di kota kudus ataupun di Bait Suci, melainkan di padang gurun. Ayat 1 mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis datang ber-khotbah di padang gurun dan ayat 3 mengatakan, “Sesung-guhnya dialah yang dimaksudkan Nabi Yesaya ketika ia berkata, ‘Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun.’” Yohanes Pembaptis memulai ministrinya di padang gurun adalah menurut nubuat. Ini membuktikan bahwa ma-suknya ekonomi Perjanjian Baru Allah yang dibawakan oleh Yohanes bukan secara kebetulan, melainkan telah direnca-nakan dan diberitahukan jauh sebelumnya oleh Allah mela-lui Nabi Yesaya. Hal ini memberi isyarat bahwa Allah ber-tujuan agar ekonomi Perjanjian Baru-Nya dimulai dengan cara yang mutlak baru.

Jika Anda menelusuri sejarah beberapa abad yang lam-pau, Anda akan nampak bahwa setiap kebangkitan keme-nangan terjadi di tempat-tempat semacam “padang gurun”. Ketika John Wesley dan George Whitefield dibangunkan sebagai penginjil dua abad yang lalu, mereka terutama meng-adakan pemberitaan di ujung-ujung jalan. Dalam biografi-nya, ternyata George Whitefield sering berkhotbah di kaki bukit padang gurun, padahal saat itu gereja di Inggris mempunyai peraturan yang melarang pemberitaan firman kudus di luar “tempat suci”. Bagaimanapun, Allah memba-ngunkan George Whitefield dan John Wesley untuk melaku-kan khotbah mereka di luar “tempat suci”. Prinsip hari ini harus sama. Tetapi ini bukan berarti kita harus mencontoh Yohanes Pembaptis secara lahiriah, ini hanya berarti bahwa kita tidak boleh mengambil jalan agama atau jalan kebuda-yaan. Sebaliknya, kita harus menempuh jalan yang penuh dengan hadirat Allah. Kita tidak harus berada di dalam kota kudus atau di Bait Suci, melainkan di tempat di luar agama serta kebudayaan, yaitu di tempat yang penuh dengan ha-dirat Allah. Saya berharap anak-anak muda akan membawa masalah ini kepada Tuhan dan berdoa, “Tuhan, jadikanlah kami Yohanes Pembaptis hari ini. Tuhan, bawalah kami ke padang gurun sambil menunjukkan kepada kami bagaimana menjadi imam sejati untuk membawa orang-orang kepada-Mu dan bagaimana membawa Engkau ke dalam mereka sebagai Raja mereka.”

Injil Matius sama sekali berbeda dengan Injil Yohanes. Injil Yohanes adalah sebuah kitab hayat, sedangkan Injil Matius adalah kitab kerajaan. Dalam Yohanes, Yesus adalah hayat, tetapi dalam Matius, Dia adalah Raja. Menurut Injil Matius, Yesus yang kita terima adalah Raja. Ketika kita me-renungkan Injil Matius, kita harus seluruhnya dan sedalam-dalamnya terkesan bahwa kita kini berada di dalam kerajaan. Segala sesuatu yang tertulis dalam kitab ini bersangkutan dengan kerajaan, karena itu kita harus menelaah kitab ini dari sudut kerajaan, memandang setiap pasal dan bahkan se-tiap ayat dari perspektif kerajaan.

Pertobatan yang diserukan dalam pasal 3 adalah untuk kerajaan. Anda harus bertobat sebab Anda tidak dalam ke-rajaan, Anda tidak di bawah kekuasaan Allah. Anda harus bertobat sebab Anda belum takluk kepada kekuasaan Kristus atau datang di bawah pemerintahan kerajaan-Nya. Walau mungkin Anda tidak merasa berdosa, tetapi asalkan Anda ti-dak dalam kerajaan, Anda seorang pemberontak. Asal saja Anda tidak berhubungan dengan pemerintahan kerajaan Kristus, Anda berada dalam pemberontakan dan harus ber-tobat. Harus bertobat karena tidak berada di dalam kera-jaan! Hari ini orang-orang Kristen yang sejati telah beroleh selamat, tetapi masih banyak orang yang tidak berada di dalam kerajaan. Jadi, orang-orang Kristen semacam ini juga harus bertobat. Asal Anda tidak berada di bawah pemerin-tahan Kristus, Anda harus bertobat. Jika Anda tidak dengan riil berada di dalam Kerajaan surga, tidak di bawah pengu-asaan surgawi, Anda harus bertobat. Tidak peduli betapa rohani, kudus, atau baiknya Anda, satu-satunya perkara yang menjadi masalah ialah apakah Anda di bawah penguasaan surgawi atau tidak. Jika tidak, berarti Anda tidak di dalam kerajaan, Anda harus bertobat. Kalau Anda tidak dalam ke-rajaan, Anda dalam pemberontakan. Anda menganggap diri Anda alkitabiah, ortodoks, dan suci, tetapi sesungguhnya Anda memberontak. Bahkan kerohanian Anda pun merupa-kan suatu bentuk pemberontakan menentang pemerintahan kerajaan Kristus. Perhatian Anda untuk kerohanian Anda, bukan untuk pemerintahan kerajaan Kristus. Ini menunjuk-kan bahwa Anda berada dalam pemberontakan, tidak berada dalam kerajaan. Harus bertobat karena pemberontakan Anda! Harus bertobat karena tidak berada dalam kerajaan dan ti-dak di bawah pemerintahan kerajaan dan kekuasaan Kristus!

Inilah pemikiran dasar Injil Matius.

Janganlah mengira bahwa Injil Matius hanya untuk orang yang tidak percaya, orang luar, atau kafir. Banyak di antara kita yang belum pernah mendengarkan Injil Matius. Saya tidak tahu Injil macam apa yang pernah Anda dengar, tetapi Anda benar-benar tahu bahwa Anda perlu mendengar Injil Matius, Injil kerajaan yang menuntut Anda untuk ber-tobat dari ketidakbenaran Anda di bawah pemerintahan kerajaan Kristus. Kita semua harus bertobat kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, ampunilah aku. Bahkan sampai hari ini aku masih dalam pemberontakan. Aku tidak berada di bawah kekuasaan-Mu, pemerintahan surgawi-Mu. Tuhan, aku mengakui bahwa aku hanya dikuasai oleh diriku. Tuhan, berilah aku pertobatan sejati karena pemberontakanku, dan karena ketidakberadaanku di bawah kekuasaan-Mu.” Kita semua perlu bertobat. Puji Tuhan, Yohanes Pembaptis dan ministri imamat ini tetap bersama kita! Di satu pihak, ima-mat ini membawa kita kepada Allah, di lain pihak memper-kenalkan Raja surgawi yang membawa Allah kepada kita. Ketika kita menerima Raja ini, Ia mendapatkan kita dan kerajaan berada di sini. Inilah Injil Matius.