← Daftar isi Matius (1) · bab 5/16

NENEK MOYANG DAN STATUS RAJA (5)

II. KELAHIRAN-NYA

Dalam berita ini kita akan melihat kelahiran Kristus. Berhubung kelahiran Kristus sama sekali merupakan suatu misteri, maka cukup sulit untuk membicarakannya. Pertama-tama, kita perlu melihat beberapa hal yang berhubungan de-ngan persiapan bagi kelahiran Kristus.

A. Berdasarkan Kuasa Kedaulatan Allah

Kelahiran Kristus dipersiapkan dan digenapkan ber-dasarkan kuasa kedaulatan Allah (1:18; Luk. 1:26-27). Ber-dasarkan kuasa kedaulatan-Nya, Allah menikahkan Yusuf dengan Maria untuk melahirkan Kristus sebagai pewaris sah atas takhta Daud. Pernikahan adalah sebuah misteri. Tidak-lah mudah menyatukan dua orang, terutama mengenai kelahiran Kristus. Menyatukan Yusuf dan Maria itu bukan-lah masalah yang sederhana. Mari kita memeriksa sejarahnya yang ada di sini. Menurut silsilah Kristus dalam Injil Matius, Yusuf adalah keturunan Zerubabel, seorang tawanan yang telah dipulangkan. Zerubabel, pemimpin suku Yehuda dan keturunan dari keluarga raja yang membawa para tawanan dari Babilon ke Yerusalem (Ezr. 2:2). Akhirnya, ia pun me-mimpin dalam membangun kembali Bait Suci (Ezr. 3:8; 5:2). Yusuf adalah keturunannya. Seandainya tidak ada tawanan-tawanan yang dipulangkan, di manakah Yusuf akan di-lahirkan? Tentunya di Babilon. Demikian pula dengan Maria yang adalah keturunan dari tawanan yang dipulangkan. Jika nenek moyang Yusuf dan Maria tetap di Babilon dan me-reka dilahirkan di sana, bagaimana Yesus bisa dilahirkan oleh Maria di Betlehem? Kini kita dapat melihat kuasa kedaulatan Allah dalam hal mengembalikan para leluhur Yusuf dan Maria.

Berdasarkan kuasa kedaulatan-Nya, Allah menempatkan Yusuf dan Maria di dalam satu kota, yakni Nazaret (Luk. 1:26; 2:4). Seandainya mereka tinggal berjauhan satu sama lain, pasti sulit bagi mereka untuk menikah. Yusuf dan Maria bukan hanya keturunan dari tawanan-tawanan yang dipulangkan, malahan hidup di kota kecil yang sama. Ini memungkinkan mereka berdekatan dan menikah.

Lebih lanjut lagi, ketika kita memeriksa silsilah-silsilah dalam Matius dan Lukas, kita akan menemukan bahwa Yusuf adalah keturunan dari garis raja, garis Salomo (ayat 6-7), sedang Maria adalah keturunan garis kaum awam, garis Natan (Luk. 3:31). Meskipun Yusuf dan Maria menikah, namun Yesus dilahirkan dari Maria, bukan dari Yusuf. Ke-lihatannya dari luar Dia dilahirkan dari Yusuf, padahal dari Maria (1:16). Hal ini mutlak merupakan kuasa kedaulatan Allah.

Sebagaimana telah kita lihat dalam berita sebelumnya, kutukan yang tercantum dalam Yeremia telah membuat keturunan Yekhonya gagal memenuhi syarat untuk mewarisi takhta Daud (Yer. 22:28-30). Jika Yesus benar-benar dila-hirkan oleh Yusuf, pasti Dia tidak memenuhi syarat terha-dap takhta Daud. Karena Yusuf masih tetap pada garis raja, maka dalam pandangan manusia, dia adalah keturunan raja. Melalui pernikahan Maria, ibu Yesus, dengan Yusuf, Yesus secara luaran memiliki hubungan dengan garis raja. Sekali lagi, kita nampak kuasa kedaulatan Allah. Allah menda-patkan seorang perempuan muda, yang juga dari keturunan Daud, untuk melahirkan Kristus. Yesus dilahirkan darinya dan benar-benar keturunan Daud yang memenuhi syarat atas hal mewarisi takhta Daud.

Berdasarkan pengaturan kedaulatan ini, Yesus merang-kap sebagai orang biasa, juga sebagai pewaris takhta raja. Inilah alasannya Dia memiliki dua silsilah, yang satu di dalam Lukas, yang menjelaskan status-Nya yang awam, se-dang yang lain di dalam Matius, menjelaskan status raja-Nya. Status-Nya yang awam berasal dari Maria, sedangkan status raja-Nya berasal dari Yusuf. Demikianlah Yesus dila-hirkan berdasarkan kuasa kedaulatan Allah. Tidak seorang pun di antara kita yang dilahirkan di bawah kuasa kedaulatan semacam ini. Hanya Yesus semata yang mempunyai syarat menikmati pengaturan kedaulatan serupa ini.

B. Melalui Ketaatan Maria

Menurut Lukas 1:26-28, kelahiran Kristus terjadi melalui ketaatan Maria. Di sini saya ingin menyampaikan sepatah kata kepada kaum muda. Bagi seorang perempuan muda seperti Maria alangkah sulitnya untuk menerima amanat mengandung seorang anak. Andaikata saya ini dia, saya pasti berkata, “Tuhan, kalau hamba disuruh melakukan yang lain, hamba mau saja. Tetapi Engkau menghendaki hamba mengandung seorang anak! Secara manusia ini sulit diterima; baik secara moral maupun etika. Hamba tidak be-rani menerima!” Membaca catatan ini memang mudah. Namun, seandainya seorang saudari muda di antara kita menerima amanat seperti itu malam ini, bisakah ia mene-rimanya? Ini bukan masalah yang tanpa arti. Mungkin Maria sudah mengatakan, “Gabriel, bukankah kau tahu bahwa aku telah dipinang oleh seorang laki-laki? Bagai-mana aku mengandung seorang anak?” Siapakah di antara kita yang mau menerima amanat sedemikian ini? Bila se-orang malaikat berkata demikian kepada Anda, bisakah Anda menerimanya?

Setelah mendengar kata-kata malaikat, Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38). Ini kelihatannya se-derhana, tetapi harganya sangat tinggi. Untuk melahirkan Kristus, Maria telah membayar harga yang sangat tinggi — harga atas seluruh dirinya. Melahirkan Kristus tidaklah mudah, tidaklah murah. Kalau kita mau melahirkan Kristus, kita harus membayar harga. Maria telah membayar harga.

Yusuf segera bereaksi, ia bermaksud menceraikan Maria secara diam-diam (ayat 19). Demikian Maria berada dalam keadaan yang sulit. Saya dapat meyakinkan Anda bahwa ka-pan kala Anda menerima amanat untuk melahirkan Kristus, Anda akan menemukan diri Anda terbentur pada kesulitan. Semua malaikat akan memahami Anda, tetapi tidak seorang manusia pun mau mengerti. Jangan sekali-kali mengharap-kan seseorang seperti malaikat Gabriel. Setiap orang akan salah paham terhadap Anda. Malahan justru orang yang pa-ling dekat dengan Anda yang paling salah paham. Namun demikian, kelahiran Kristus sebagian besar digenapkan me-lalui ketaatan Maria.

C. Dari Kekuatan Roh Kudus

Akan tetapi, ketaatan Maria tidaklah langsung berkaitan dengan terkandungnya Yesus. Keterkandungan Yesus itu langsung berkaitan dengan Roh Kudus (ayat 18, 20; Luk. 1:35). Tanpa Roh Kudus, ketaatan Maria tidak akan berarti apa-apa. Tidak peduli seberapa jauhnya ketaatan kita, tanpa adanya Roh Kudus, pasti tidak berarti apa-apa. Jangan memandang ketaatan kita terlalu tinggi. Ketaatan kita kecil artinya; itu sekadar memberi kesempatan bagi kekuatan Roh Kudus untuk masuk ke dalam kita guna merampungkan sesuatu.

D. Dengan Ketaatan dan Koordinasi Yusuf

Meskipun telah ada kuasa kedaulatan Allah, ketaatan Maria, dan kekuatan Roh Kudus, namun masih perlu ada ketaatan dan koordinasi Yusuf (ayat 19-21, 24-25). Apa yang akan terjadi seandainya Yusuf tetap menuntut untuk berce-rai? Ia sedang merencanakan itu. Tetapi, dia adalah orang yang dipilih Allah bagi kelahiran Kristus. Sebab itulah ia ti-dak bersikap kasar dan terburu-buru; malahan ia menaruh banyak pertimbangan dan berkepala dingin. Saat itu Yusuf masih muda. Karena itu, saya ingin sekali mengambil ke-sempatan ini untuk berkata satu dua patah kata kepada kaum muda: Jangan mengambil keputusan terlalu cepat atau bertindak terlalu tergesa-gesa. Perlahanlah sedikit agar Tuhan memiliki kesempatan untuk masuk. Setidak-tidaknya, tangguhkanlah masalah ini semalam saja. Pada malam itu, malaikat akan datang dan berbicara kepada Anda. Ini telah terjadi pada Yusuf. Ketika ia sedang mempertimbangkan hal ini, malaikat Tuhan muncul kepadanya dalam mimpi (ayat 20). Yusuf pun menaati perkataan malaikat.

Andaikata Anda telah bertunangan dengan seorang gadis muda dan mengetahui bahwa dia sedang hamil, maukah Anda tetap menerima dia? Menerima perempuan macam ini sungguh memalukan. Jadi, bukan hanya Maria yang ber-korban, Yusuf pun ikut berkorban. Melahirkan Kristus me-minta dia banyak berkorban, yakni membuat dia menderita malu.

Butir-butir yang telah kita bahas sekian jauh dalam berita ini barulah butir-butir yang kecil. Sekarang mari kita melihat butir-butir yang utama.

E. Menggenapkan Nubuat-nubuat

Kelahiran Kristus merupakan perwujudan besar atas nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama. Nubuat pertama dalam Perjanjian Lama ialah Kejadian 3:15. Kejadian 1 dan 2, belum ada nubuat, melainkan pasal 3, yaitu setelah keja-tuhan manusia, setelah ular menggarapkan dirinya ke dalam manusia melalui perempuan, barulah Allah memberi janji. Ketika memberi janji ini, Allah seolah-olah berkata, “Ular, kamu telah masuk melalui perempuan. Sekarang Aku hendak menanggulangimu melalui keturunan perempuan ini.” Jadi, janji mengenai keturunan perempuan ini adalah nubuat per-tama dalam Alkitab.

Dalam Matius 1:22-23 janji ini dipenuhi oleh seorang anak dara yang mengandung seorang anak. Anak ini adalah keturunan perempuan. Dalam Galatia 4:4 Paulus menga-takan bahwa Kristus dilahirkan di bawah hukum dan juga dilahirkan dari perempuan. Kristus datang bukan hanya menggenapkan hukum, bahkan menggenapkan janji tentang keturunan perempuan yang akan meremukkan kepala ular.

Dari Kejadian kita maju ke Yesaya 7:14, di sana terda-pat nubuat lain tentang Kristus, “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki.” Penggenapan atas janji ini telah membawa Allah ke dalam manusia. Haleluya, Allah telah menjadi manusia!

F. Allah Menjadi Daging

Memang sulit sekali menemukan sebuah ayat yang mengatakan bahwa Allah menjadi manusia. Yang Alkitab katakan adalah demikian: “Firman itu adalah Allah . . . Firman itu telah menjadi daging” (Yoh. 1:1, 14 Tl.). Manu-sia itu istilah yang sopan, tetapi daging tidak. Kalau saya berkata, Anda adalah manusia, Anda pasti merasa senang. Tetapi kalau saya berkata, Anda adalah daging, Anda pasti tidak senang; sebab kata daging ini bukanlah istilah yang positif. Dalam 1 Timotius 3:16 Paulus berkata, “Agunglah rahasia . . . Allah menyatakan diri-Nya dalam daging”(Tl.). Meskipun daging bukanlah istilah yang baik, namun Alkitab mencantumkan bahwa Allah menampilkan diri dalam da-ging.

Tidaklah mudah memahami arti daging yang dimaksudkan oleh Alkitab. Daging, dalam Alkitab, paling tidak mempunyai tiga arti. Pertama, dari aspek yang baik, daging mengacu kepada tubuh jasmani (Yoh. 6:55). Tubuh kita mempunyai daging, tulang, darah, dan kulit. Ini yang jas-mani. Kedua, daging mengacu kepada tubuh kita yang telah jatuh. Allah tidak menciptakan daging yang telah jatuh; Ia menciptakan tubuh. Ketika manusia jatuh, racun Iblis telah diinjeksikan ke dalam tubuh manusia, sehingga tubuh ma-nusia dirusak dan menjadi daging. Karena itu, Roma 7:18 mengatakan, “Sebab aku tahu bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai yang bersifat daging, tidak ada sesuatu yang baik.” Ini mengacu kepada tubuh yang telah jatuh, yaitu tubuh yang berdosa (Rm. 6:6), disebut daging. Segala hawa nafsu manusia berasal dari daging ini. Sebab itulah Perjan-jian Baru memakai istilah “hawa nafsu daging” (Ef. 2:3). Ketiga, daging, khususnya dalam Perjanjian Baru berarti manusia yang telah jatuh. Roma 3:20 “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena mela-kukan hukum Taurat.” Dalam ayat ini daging ialah manusia yang telah jatuh.

Tetapi Yohanes 1:14 mengatakan, “Firman itu (Allah) telah menjadi daging” (Tl.). Sebagaimana telah kita lihat, daging berarti manusia yang telah jatuh. Lalu, bagaimanakah kita menerangkan Yohanes 1:14? Firman itulah Allah, dan Firman menjadi daging. Agunglah rahasia ibadah, Allah me-nyatakan diri dalam daging. Alkitab menerangkan bahwa Allah menjadi daging dan daging itu bukanlah manusia yang tercipta, melainkan manusia yang telah jatuh. Bisakah kita mengatakan bahwa Allah menjadi manusia yang telah jatuh? Ini benar-benar hal yang menyulitkan.

Ada dua ayat yang dapat membantu kita. Yang pertama ialah Roma 8:3 yang mengatakan bahwa Allah mengutus “Anak-Nya sendiri sebagai manusia yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa” (Tl.: dalam rupa daging dosa). Ayat ini tidak menyebut “daging yang berdosa”; melainkan “dalam rupa daging dosa.” Ayat lain ialah Yohanes 3:14,

“Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, de-mikian juga Anak Manusia harus ditinggikan.” Ular yang ditinggikan di atas tiang di padang gurun sesungguhnya bukanlah ular yang beracun, melainkan ular tembaga yang dibuat serupa dengan ular asli (Bil. 21:9). Yohanes 3:14 adalah percakapan Tuhan dengan Nikodemus. Tuhan mem-beri tahu dia bahwa sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian pula Dia sendiri harus ditinggi-kan di atas salib. Sewaktu Yesus di atas salib, di mata Allah, Dia berada di dalam bentuk dan rupa seekor ular. Namun, sebagaimana perihal ular tembaga di padang gurun, tidak ada racun di dalam Dia, karena Dia bukan dilahirkan oleh orang yang telah jatuh. Ia dilahirkan dari seorang anak dara.

Kini kita harus membedakan dengan jelas antara dua butir: Kristus terkandung oleh Roh Kudus dan dilahirkan oleh seorang anak dara. Sumber-Nya adalah Roh Kudus, unsur-Nya adalah ilahi. Melalui anak dara Maria sebagai perantara, Ia mengenakan daging dan darah, sifat insani, mengambil “rupa daging”, “rupa manusia” (Flp. 2:7). Tetapi, tidak mempunyai sifat dosa dari daging yang telah jatuh. Ia tidak mengenal dosa (2 Kor. 5:21), Ia tidak berdosa (Ibr. 4:15). Ia memiliki daging, tetapi itu “dalam rupa daging dosa”. Dari luar, Ia kelihatan dalam bentuk manusia yang telah jatuh, padahal tidak ada unsur kejatuhan di dalam sifat-Nya. Kelahiran-Nya justru dalam prinsip yang sama. Dilihat dari luar, Dia itu putra Yusuf; sebenarnya, Dia itu putra Maria.

Mengapa Tuhan Yesus dipandang sebagai bentuk ular oleh Allah ketika Dia di atas salib? Sebab, sejak hari ke-jatuhan manusia (Kej. 3:1), ular telah berada di dalam ma-nusia, sehingga setiap manusia menjadi ular. Menurut Matius 3:7 dan 23:33, Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus menyebut orang-orang “keturunan ular beludak”, yaitu ular-ular berbisa, menandakan bahwa umat yang telah jatuh adalah keturunan ular berbisa. Kita semua adalah ular-ular kecil. Jangan sekali-kali mengira Anda itu baik. Sebelum Anda diselamatkan, Anda adalah ular berbisa. Inilah sebab-nya mengapa Tuhan Yesus mati di atas salib, Ia bukan hanya seorang manusia, tetapi juga berada di dalam ular. Di mata Allah, bagi kita semua umat yang bersifat ular, Ia meng-ambil bentuk ular dan mati di atas salib. Mungkin Anda tidak pernah mendengar bahwa Yesus mengenakan bentuk ular, yaitu serupa dengan daging yang berdosa. Anda telah mendengar bahwa Yesus adalah Allah dan Dia mengenakan bentuk manusia, tetapi tidak pernah mendengar bahwa Dia pun mengenakan bentuk ular. Alangkah ajaibnya Dia itu!

Kita adalah daging yang telah jatuh, dan Yesus datang ke dalam daging supaya Ia bisa membawakan Allah ke dalam manusia. Di dalam Dia, persona ilahi Allah telah dibaurkan dengan keinsanian. Kelahiran Kristus tidak hanya menghasilkan seorang Juruselamat, tetapi juga membawa Allah ke dalam manusia. Meskipun umat manusia telah jatuh, namun Allah sedikit pun tidak berbagian dalam sifat kejatuhan ini. Allah hanya mengenakan rupa daging yang telah jatuh, dan melalui ini Ia membaurkan diri-Nya dengan keinsanian. Kita tidak boleh memandang Yesus seperti orang pada umumnya. Kita harus menyadari bahwa Yesus adalah Allah yang berbaur dengan manusia yang telah jatuh, mengenakan rupa manusia, tetapi tanpa sifat dosa manusia. Inilah kelahiran Kristus.

G. Yehova (TUHAN) Menjadi Yesus

Sang ajaib yang dilahirkan secara ajaib ini adalah Yehova. Tetapi Dia bukan hanya Yehova — Dia adalah Yehova dengan sesuatu yang lain. Sebutan Yesus artinya “Yehova Penyelamat (Juruselamat)” atau “keselamatan Yehova” (Mat. 1:21). Persona yang ajaib inilah keselamatan yang Yehova berikan kepada manusia. Dia sendiri itulah keselamatan. Karena Yehova sendiri menjadi karunia keselamatan, Dia itulah Sang Penyelamat.

Jangan mengira bahwa kita menyeru “Yesus” itu sekadar menyebut nama seorang manusia. Yesus bukan hanya seorang manusia; Ia pun Yehova keselamatan kita, Yehova Sang Penyelamat kita. Ini memang sederhana, tetapi sangat dalam. Kapan kala Anda menyeru Yesus, alam semesta menyadari bahwa Anda sedang menyeru Yehova sebagai penyelamat Anda, Yehova sebagai keselamatan Anda.

Orang-orang Yahudi percaya kepada Yehova, namun ti-dak percaya kepada Yesus. Di satu pihak, mereka memiliki Yehova, tetapi mereka tidak memiliki keselamatan atau Penyelamat. Kita memiliki lebih daripada yang dimiliki orang-orang Yahudi, karena kita mempunyai Yehova Sang Penyelamat, Yehova keselamatan kita. Inilah sebabnya me-ngapa kita mempunyai perasaan yang begitu ajaibnya ke-tika menyeru Yesus. Bahkan ketika Anda mengucapkan bahwa Anda membenci Yesus, tetap di dalam Anda ada suatu perasaan. Apabila Anda mengucapkan, “Aku benci kepada Abraham Lincoln”, tidak ada perasaan apa-apa. Bila Anda berkata, “Aku benci Yesus”, pasti timbul perasaan. Abraham Lincoln tidak ada sangkut-pautnya dengan Anda, lain dengan Yesus. Banyak yang telah mengucapkan, “Aku benci Yesus”, akhirnya malahan tertawan oleh Yesus. Siapa saja yang menyeru nama Yesus pasti diselamatkan. Kapan Anda me-nyinggung nama Yesus, Anda akan tersentuh oleh-Nya. Da-lam pemberitaan Injil, membantu orang menyeru Yesus itu baik sekali. Asalkan mereka menyeru Yesus, sesuatu pasti akan terjadi.

Yesus merupakan nama yang ajaib karena Yesus itulah Yehova. Dalam Kejadian 1 kita tidak menemukan nama Yehova. Kita hanya menemukan nama Allah: “Pada mulanya Allah menciptakan . . .” Elohim — Allah — adalah sebutan bagi Allah Pencipta. Nama Yehova, yang tidak digunakan hingga Kejadian 2, digunakan secara khusus ketika Allah berhubungan dengan manusia. Nama Yesus adalah sesuatu yang ditambahkan kepada Yehova — yaitu, Yehova kesela-matan kita, Yehova Penyelamat kita.

Yesus itulah Yosua sejati (Bil. 13:16; Ibr. 4:8). Yosua dalam bahasa Ibraninya sama dengan Yesus, dan Yesus ada-lah terjemahan bahasa Yunani dari Yosua. Musa membawa umat Allah keluar dari Mesir, tetapi Yosua yang membawa mereka ke dalam perhentian. Sebagai Yosua kita yang sejati, Yesus membawa kita ke dalam perhentian. Matius 11:28-29 memberi tahu kita bahwa Yesus adalah perhentian dan Dia mengajak kita memasuki diri-Nya sebagai perhentian. Ibrani 4:8-9 dan 11 juga membicarakan Yesus sebagai Yosua sejati kita. Yosua dalam teks Perjanjian Lama men-jadi Yesus dalam teks bahasa Yunani dalam Surat Ibrani. Yesus yang disebut dalam Ibrani 4 adalah Yosua kita.

Memisahkan Yesus dari Yosua itu amatlah sulit, karena Yesus ialah Yosua, dan Yosua ialah Yesus. Hari ini, Yesus itulah Yosua sejati kita yang membawa kita ke dalam per-hentian, perhentian di tanah permai. Dia bukan hanya pe-nyelamat yang menyelamatkan kita dari dosa, tetapi juga Yosua yang membawa kita ke dalam perhentian, tanah permai. Kapan kala kita menyeru nama-Nya, Ia menyela-matkan kita dari dosa serta membawa kita ke dalam per-hentian, ke dalam kenikmatan atas diri-Nya sendiri. Dalam kidung terdapat sebuah syair tentang menyebut nama Yesus ribuan kali sehari. Semakin banyak Anda menyebut “Yesus”, semakin baik. Kita harus belajar menyebut nama Yesus se-panjang waktu. Yesus keselamatan kita, Yesus pun perhen-tian kita. Siapa saja yang menyeru nama Tuhan Yesus, pasti diselamatkan dan memasuki perhentian.

H. Allah Itu Imanuel

Dalam 1:23 kita menjumpai nama ajaib yang lain — Imanuel. Yesus adalah nama yang diberikan oleh Allah, se-dangkan Imanuel adalah nama pemberian manusia kepada-Nya. Imanuel artinya “Allah menyertai kita.” Yesus Sang Juruselamat adalah Allah yang menyertai kita. Tanpa Dia, kita tidak mungkin menjumpai Allah; sebab Allah adalah Dia, dan Dia adalah Allah. Tanpa Dia, kita tidak akan me-nemukan Allah, sebab Dia adalah Allah sendiri yang berin-karnasi untuk tinggal di tengah-tengah kita (Yoh. 1:14).

Yesus bukan hanya Allah, Dia adalah Allah menyertai kita. “Kita” mengacu kepada umat yang diselamatkan. Kita adalah “kita” yang dikatakan di sini. Hari lepas hari, kita memiliki Imanuel. Dalam Matius 18:20 Yesus mengatakan bahwa kapan saja dua atau tiga orang berhimpun dalam nama-Nya, Ia pasti bersama-sama dengan mereka. Inilah Imanuel. Kapan saja kita, umat Kristen, berhimpun bersa-ma, Ia ada di tengah-tengah kita. Dalam Matius 28:20, ayat terakhir dari Injil ini, Yesus memberi tahu murid-murid-Nya,

“Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” Yesus sebagai Imanuel ada di sini hari ini. Menurut Matius, Yesus datang dan tidak pernah pergi lagi. Ia telah di-makamkan di dalam kubur selama tiga hari, tetapi Dia datang di dalam kebangkitan dan tidak pernah pergi lagi. Ia menyertai kita sebagai Imanuel.

Ketika kita menyeru Yesus, kita merasakan bahwa Allah menyertai kita. Kita menyeru Yesus, kita mendapatkan Allah. Kadang-kadang, kita sebagai orang Kristen sungguh “bodoh”. Kita menyeru Yesus dan menemukan Allah, namun kita bi-ngung apakah Yesus itu Allah. Yesus itu betul-betul Allah! Dia bukan hanya Allah — Dia adalah Allah menyertai kita. Ketika kita menyeru Yesus, kita mendapatkan Yehova, kita mendapatkan Juruselamat, kita mendapatkan keselamatan, dan kita mendapatkan Allah menyertai kita. Kita menda-patkan Allah di tempat di mana kita berada.

I. Allah Yehova

Terlahir dalam Daging sebagai Raja

Yesus ini, yang adalah Allah Yehova, dilahirkan dalam daging menjadi Raja untuk mewarisi takhta Daud (1:20; Luk. 1:27, 32-33). Injil Matius adalah sebuah kitab yang membahas kerajaan dan Kristus sebagai Rajanya, Mesiasnya. Ketika Anda menyeru Yesus, Anda mendapatkan Yehova, Juruselamat, keselamatan, Allah, dan akhirnya Raja. Sang Raja memerintah. Ketika kita menyeru Yesus, segera kita mendapatkan Dia yang berkuasa atas kita. Jika pada dinding rumah Anda tergantung gambar-gambar ataupun foto-foto yang tidak pantas dan Anda menyeru Yesus, Dia segera men-jadi Raja Anda, berkata, “Singkirkan itu!”

Yesus, Sang Raja akan mendirikan Kerajaan-Nya di dalam Anda dan menyelenggarakan takhta Daud di dalam hati Anda. Semakin Anda menyeru Yesus, semakin pula ada kuasa pemerintahan. Jika Anda tidak percaya, saya anjurkan Anda mencobanya. Serulah nama Yesus sepuluh menit dan perhatikan apa yang terjadi. Sang Raja akan melaksanakan pemerintahan-Nya atas Anda dan merepotkan Anda. Pada malam pertama Dia mungkin berkata bahwa sikap Anda terhadap orang lain tidak pernah sangat baik, lebih-lebih terhadap suami atau istri Anda, sehingga Anda harus dikua-sai atau diatur. Serulah nama-Nya, pasti Anda akan diatur oleh kuasa-Nya.

Yesus adalah persona yang ajaib. Dia itu Yehova, Allah, Juruselamat, dan Raja. Sang Raja telah lahir, bahkan hari ini berada di sini. Setiap hari, pagi, dan sore, kita meng-apresiasi Kristus sebagai Juruselamat kita, Raja kita, bahkan Raja di raja.

Ketika tidak ada seorang pun yang mampu mengatur Anda, sang Raja di raja ini pasti mampu mengatur Anda. Ketika tidak ada seorang pun yang mampu mengontrol Anda — baik orang tua, suami, istri, maupun anak-anak Anda — Sang Raja di raja ini akan melakukan sesuatu. Cukup me-nyeru nama Yesus saja. Dengan demikian, Anda akan menik-mati Yehova, Juruselamat, keselamatan, penyertaan Allah, juga jabatan raja Yesus. Yesus, Sang Raja akan lahir di batin Anda, dan Ia akan mendirikan Kerajaan-Nya di dalam Anda. Inilah Yesus Kristus yang kita temukan dalam Injil Matius.

Kristus di dalam Injil Matius adalah Raja Penyelamat juga Juruselamat Raja yang mendirikan kerajaan surgawi di dalam kita dan di atas kita. Matius 1 bukan sekadar me-nampakkan kepada kita asal usul Raja ini, tetapi juga mem-perlihatkan penyertaan Raja ini. Nama Raja ini ialah Yesus. Kapan saja kita menyeru nama-Nya, pasti kita merasakan bahwa Dia sedang berkuasa di dalam kita melalui penyela-matan-Nya. Ia mendirikan kerajaan surgawi di dalam kita. Haleluya, inilah Kristus kita!