← Daftar isi Matius (1) · bab 3/16

NENEK MOYANG DAN STATUS RAJA (3)

Apa saja yang tercatat dalam Perjanjian Lama berkaitan dengan Kristus. Seluruh Perjanjian Lama merupakan se-buah catatan tentang Kristus baik secara langsung maupun tidak langsung. Bila kita ingin memahami silsilah Kristus, kita harus kembali ke Perjanjian Lama dan membacanya dengan cermat. Jika demikian, kita akan memahami bahwa Perjanjian Lama tidak lain adalah sebuah catatan tentang Kristus. Ini membuktikan bahwa seluruh Alkitab adalah se-buah wahyu tentang Kristus.

Dari silsilah Kristus kita telah nampak bahwa leluhur-Nya mencakup segala macam orang: yang rendah, yang tinggi, yang baik, yang buruk, nenek moyang, raja-raja, rakyat jelata, tawanan, orang-orang yang terpulih, dan bah-kan perempuan yang jelek reputasinya. Namun, kita harus sadar, ada beberapa prinsip yang menentukan di sini. Dari hidup orang-orang ini, kita dapat menemukan beberapa prin-sip yang mengatur hubungan kita dengan Kristus. Leluhur Kristus meliputi segala macam orang, tetapi tidak terlepas satu dengan yang lainnya. Tidak peduli siapa kita atau dari mana kita berasal, kita bisa tercakup di dalam leluhur Kristus, asalkan kita memenuhi prinsip-prinsipnya. Meskipun kita sudah nampak hal ini, ini belum cukup, karena masih banyak orang yang harus kita bahas.

I. Tamar

Yang pertama akan kita bahas adalah Tamar. Tamar mengandung melalui perbuatan sumbang bersama ayah mer-tuanya (Kej. 38:6-27). Dari segi moral, hal itu tercela, dan dari segi etika, juga mengerikan. Tidak ada seorang pun akan membenarkan hal tersebut. Saya telah mempelajari Kitab Kejadian selama bertahun-tahun, tetapi ketika membaca pasal 38, hati saya masih merasa sakit. Dari satu aspek, apa yang Tamar lakukan benar-benar tidak baik. Namun dialah yang benar. Kesalahan bukan pada dirinya, melainkan pada pihak ayah mertuanya. Yehuda sendiri mengakui bahwa Tamar lebih benar daripadanya (Kej. 38:26). Mungkin Anda menga-takan bahwa tidak ada dalih yang bisa diterima dalam per-buatan Tamar; perbuatan zina itu selalu melibatkan kedua belah pihak. Meskipun Tamar mungkin bertanggung jawab sampai tingkat tertentu, tetapi dia itu benar, dan menaruh perhatian pada hak kesulungan.

Karena kita berasal dari latar belakang yang berbeda serta kekurangan pengertian akan hak kesulungan dan ke-kurangan pengertian akan maknanya bagi orang-orang zaman itu, maka saya perlu mengutarakan sesuatu tentang hal ini. Pada zaman Tamar, hak kesulungan itu besar sekali artinya (Kej. 38:6-8). Sebagaimana telah saya ungkapkan pada berita yang lalu, hak kesulungan meliputi dua bagian atas tanah, jabatan imam, dan jabatan raja. Dua bagian atas tanah mengacu kepada kenikmatan ganda atas Kristus. Tanah adalah Kristus dan dua bagian atas tanah bukanlah kenikmatan yang biasa dan umum atas Kristus, melainkan sesuatu yang khusus, sesuatu yang luar biasa dalam kenikmatan atas Kristus. Jabatan imam dan jabatan raja juga berhubungan dengan Kristus. Bagi generasi-generasi di bawah Abraham, hak kesulungan sepenuhnya merupakan perihal mewarisi Kristus. Dalam Efesus 2:12 dikatakan bahwa ketika kita masih belum beriman, kita tanpa Kristus. Tetapi, dengan percaya kepada Tuhan Yesus, kita telah dibawa ke dalam hak kesulungan. Kita telah diletakkan ke dalam Kristus. Kristus sudah menjadi bagian kita, dan Ia bahkan menjadi dua bagian kita. Melalui Dia, di dalam Dia, dan dengan Dia, kita memiliki jabatan imam dan jabatan raja. Kristus sendiri adalah tanah permai kita, jabatan imam kita, dan jabatan raja kita.

Sekarang kita bisa mengerti mengapa Tamar begitu menginginkan hak kesulungan. Dia tahu bahwa bila ia diku-cilkan, ia akan terputus dari janji Allah. Janji Allah adalah janji tentang diri-Nya menjadi bagian bagi umat pilihan-Nya di dalam Kristus. Tamar tidak mau kehilangan berkat ini.

Tamar adalah istri anak sulung Yehuda. Anak sulung itu seharusnya mewarisi hak kesulungan. Namun suami Tamar jahat dalam pandangan Tuhan, sehingga Tuhan menying-kirkan dia (Kej. 38:7). Tuhan juga membunuh putra kedua dari Yehuda (Kej. 38:8-10). Menurut peraturan kuno, Yehuda seharusnya menetapkan anaknya yang lain untuk menikahi Tamar supaya melahirkan anak untuk mewarisi hak kesu-lungan. Tetapi Yehuda tidak memenuhi tanggung jawabnya. Boleh dikatakan, Yehuda membohongi Tamar (Kej. 38:11-14). Tetapi Tamar tidak menyerah, bahkan menggunakan cara yang kurang pantas untuk mendapatkan hak kesulungan itu. Entah itu pantas atau kurang pantas, Tamar telah berbuat sebisanya untuk memperoleh hak kesulungan.

Memiliki hak kesulungan itu adalah memperoleh Kristus. Untuk memperoleh Kristus kita harus siap menempuh jalan yang tampaknya bukan paling baik.

Saya ingin menyampaikan cerita untuk menjelaskannya, tetapi cobalah memahaminya; jangan sampai terjadi salah paham. Dulu, ketika saya menginjil di China, beberapa pe-muda tergerak untuk percaya kepada Tuhan Yesus dan mau dibaptis. Akan tetapi, orang tua mereka yang beragama lain, sangat menentang. Begitu mereka mendengar bahwa anak-anak mereka akan dibaptis, mereka dilarang keluar rumah. Orang-orang muda itu terus berdoa untuk hal ini. Akhirnya mereka membohongi orang tua mereka, dengan alasan bahwa mereka harus pergi ke sekolah mengerjakan tugas selama se-tengah hari. Itu jelas suatu kebohongan, karena mereka tidak ke sekolah, melainkan ke balai sidang untuk dibaptis. Walau-pun itu bohong, itu adalah bohong yang murni, yang mengan-dung tujuan yang sangat menyenangkan Allah. Bila Anda ingin mendapatkan Kristus, janganlah terlampau memper-hatikan caranya. Jangan terlampau agamawi, jangan terlalu menuruti aturan dan ketentuan. Dapatkan saja Kristus! Anda harus mendapatkan Kristus! Dengan cara apa saja, dapat-kanlah hak kesulungan.

Dengan cara yang tidak pantas, Tamar telah memperoleh hak kesulungan. Tetapi dalam catatan ilahi dalam Alkitab, nama Tamar bukanlah nama buruk. Rut 4:12 menunjukkan bahwa nama Tamar itu kudus. Dalam ayat ini tua-tua mengatakan, “Keturunanmu kiranya menjadi seperti ketu-runan Peres yang dilahirkan Tamar bagi Yehuda . . .”Se-butan Tamar kudus karena ia tidak memperhatikan hal-hal dosa, ia hanya memperhatikan hak kesulungan. Maknanya bagi kita hari ini ialah asal kita memperhatikan Kristus dan mencari Kristus, segala cara yang bisa membuat kita men-dapatkan Kristus adalah baik.

J. Peres dan Zerah

Dari Tamar kita beralih ke Peres, putranya (ayat 3). Tamar mengandung anak kembar (Kej. 38:27-30). Ketika saat melahirkan tiba, yang satu, Zerah, berusaha sekuatnya untuk keluar lebih dulu, namun tidak berhasil. Ia mengulurkan tangannya dan ibu bidan mengikatnya dengan seutas benang merah, menunjukkan bahwa dia akan menjadi yang sulung. Akan tetapi, Peres telah mendahului dia menjadi yang sulung. Jadi, yang pertama menjadi yang terakhir, dan yang terakhir menjadi yang pertama. Sang bidan terkejut. Ini merupakan contoh yang baik yang memperlihatkan jalan memperoleh hak kesulungan. Peres mewarisi hak kesulungan. Manusia tidak memilih dia, tetapi Allah mengutus dia. Ini membuk-tikan bahwa ini bukan tergantung pada usaha manusia, melainkan tergantung pada pilihan Allah. Kisah sang ibu memberi tahu kita satu sisi: kita wajib memikirkan hak kesulungan dan berusaha sekuatnya untuk mendapatkan-nya; kisah sang putra memberi tahu kita sisi yang lain: walaupun kita bisa berusaha untuk mendapatkan hak ke-sulungan, sebenarnya ini adalah masalah pilihan Allah, bu-kan daya upaya kita (lihat Rm. 9:11).

Saya teringat kisah mengenai D. L. Moody. Pada suatu hari, seorang siswa di institut Alkitabnya datang mengha-dap sambil berkata, “Tuan Moody, setelah membaca Perjan-jian Baru aku paham bahwa semua orang yang diselamat-kan adalah orang-orang yang dipilih dan yang ditentukan oleh Allah sebelum dunia dijadikan. Sekarang aku ada ma-salah. Jika aku menginjil dan meyakinkan orang-orang untuk percaya, mungkin aku melakukan kesalahan, yakni memaksa orang-orang yang bukan pilihan Allah. Lalu apakah yang harus aku perbuat?” Moody menjawab, “Anakku, te-ruskan sebisamu untuk memberitakan. Ketika orang-orang masuk melalui pintu, dari luar mereka akan nampak tulisan di atasnya: Siapa mau boleh datang. Tetapi setelah mereka masuk, mereka akan menoleh dan membaca tulisan di atas pintu: Dipilih sebelum dunia dijadikan.” Kisah Tamar berarti, “Siapa yang mau boleh datang”. Tamar mau dan Tamar pun datang. Tetapi kisah anaknya berarti, “Anda dipilih sebelum dunia dijadikan.” Mungkin Anda adalah Tamar hari ini, yang berjuang dan bekerja untuk mendapatkan hak kesulungan. Namun begitu Anda mendapatkannya, Anda menoleh dan nampak bahwa Anda sudah dipilih sebelum dunia dijadikan. Hak kesulungan bukan tergantung pada kita, tetapi pada pilihan-Nya.

K. Rahab

Mari kita lebih lanjut melihat Rahab (Mat. 1:5). Rahab adalah seorang perempuan sundal di Yerikho (Yos. 2:1), kota yang dikutuk oleh Allah untuk selamanya (Yos. 6:26). Mes-kipun ia adalah pelacur di tempat seperti itu, tetapi ia telah menjadi leluhur Kristus. Bagaimana seorang pelacur dapat menjadi leluhur Kristus? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus menemukan prinsipnya. Kecuali Rahab dan kelu-arganya, dan semua miliknya, semua orang Yerikho dibina-sakan. Dia diselamatkan karena dia berpaling kepada Allah dan umat-Nya. Setelah dia berpaling kepada Allah dan kepa-da umat-Nya (Yos. 6:22-23, 25; Ibr. 11:31), dia menikah dengan Salmon, seorang pemimpin suku Yehuda yang ter-kemuka, juga pengintai yang diutus Yosua untuk mengintai Yerikho. Pada saat itu Salmon mengenal Rahab, dan di satu aspek juga menyelamatkan dia. Akhirnya, Rahab menikah dengannya, mereka melahirkan Boas, orang yang saleh.

Sekarang kita harus memperhatikan prinsip yang me-ngendalikan kesatuan kita dengan Kristus. Prinsip pertama ialah tidak peduli bagaimana latar belakang kita, kita harus berpaling kepada Allah dan umat-Nya. Kedua, kita harus menikah dengan orang yang tepat; bukan secara fisik, me-lainkan secara rohani. Setelah kita berpaling kepada Allah dan umat-Nya, kita harus disatukan, dibangun, dan dilibat-kan dengan orang-orang yang tepat. Ketiga, kita harus meng-hasilkan buah yang tepat. Kemudian, kita akan berbagian dalam hak kesulungan Kristus.

Hari ini banyak orang Kristen seakan-akan telah kehilangan hak kesulungannya. Mereka tidak memiliki Salmon dan Boas. Bila Anda ingin memiliki Salmon dan Boas, Anda harus berbaur dengan kaum beriman yang tepat, dan kepala suku yang tepat dalam suku yang terkemuka. Kemudian, Anda perlu menghasilkan buah yang tepat, Boas, yang akan menjadi leluhur Daud. Kita harus berpaling kepada Tuhan, dan kita harus berpaling kepada umat Tuhan; kita juga harus memperhatikan bagaimana terlibat dengan orang lain. Bila kita terlibat dengan orang yang tepat, kita pasti akan menghasilkan buah yang tepat. Ini dapat melindungi kita da-lam kenikmatan yang penuh atas hak kesulungan Kristus.

L. Boas

Jika kita ingin mengetahui kisah tentang Boas, kita harus membaca Kitab Rut, suatu kisah yang baik. Dalam kitab tersebut Boas melambangkan Kristus, sedangkan Rut melambangkan gereja. Kitab Rut mengatakan bahwa Boas menebus Rut dan menebus hak kesulungan baginya. Ini berarti Kristus sebagai Boas kita yang sejati, telah menebus kita dan menebus hak kesulungan kita.

Boas menebus warisan sanaknya dan menikahi jandanya (Rut 4:1-17), karena itu ia menjadi leluhur Kristus yang ke-namaan, rekan Kristus yang besar. Sebagai seorang saudara dan seorang Boas, Anda wajib memperhatikan hak kesu-lungan Kristus untuk yang lain, bukan hanya hak kesulung-an Anda sendiri. Dengan kata lain, Anda jangan memper-hatikan kenikmatan Anda sendiri atas Kristus, tetapi juga memperhatikan kenikmatan orang lain atas Kristus.

Rut adalah menantu Naomi. Sewaktu kita membaca kisahnya, kita nampak bahwa Naomi telah kehilangan kenikmatan, hak kesulungan. Namun menurut ketentuan Allah, ada satu jalan untuk memulihkan hak kesulungan itu, yaitu dengan menebusnya. Tetapi yang menebus harus orang lain. Prinsipnya sama dengan hidup gereja hari ini. Bila saya kehilangan hak kesulungan, maka saudara-saudara boleh menebusnya untuk saya. Sering kali, beberapa orang dari kaum saleh yang terkasih kehilangan kenikmatannya atas Kristus. Di satu aspek, mereka menjadi Naomi atau Rut. Jika demikian, Anda perlu menjadi Boas, yang mampu menebus hak kesulungan yang telah hilang dan menikahi orang-orang yang ditebus.

Andaikata saya ini Rut yang telah kehilangan suami. Kehilangan suami berarti kehilangan kenikmatan atas hak kesulungan. Saya memiliki hak kesulungan, namun saya kehilangan kenikmatan atas hak kesulungan. Jadi, saya me-merlukan Anda, sebagai saudara saya, yang menebus hak kesulungan saya. Tetapi Anda perlu sedikit lebih kaya di dalam Kristus. Anda perlu mempunyai sesuatu untuk mene-bus hak kesulungan saya. Kemudian Anda bayar harganya untuk memperoleh kembali hak kesulungan saya, lalu Anda menikahi saya. Ini berarti Anda terlibat dengan saya. Keter-libatan rohani semacam ini akan melahirkan Obed, kakek Daud. Boas menjadi salah seorang leluhur Kristus yang besar. Dari segi rohani, dia adalah orang yang menikmati bagian yang terbesar dan terkaya dari Kristus. Bila seorang saudara menjadi Boas saya, dia akan menjadi orang yang mempunyai kenikmatan yang besar atas Kristus. Karena dia menebus hak kesulungan saya dan begitu terlibat dengan saya, keterlibatan kita di dalam Tuhan akhirnya akan menghasilkan kenikmatan penuh atas Kristus.

Dalam hidup gereja hari ini kita memerlukan sejumlah Boas. Kitab Rut mengatakan bahwa ada sanak saudara lain yang bahkan lebih dekat dengan Rut daripada Boas. Akan tetapi orang itu egois, hanya memperhatikan hak kesu-lungannya sendiri. Dia takut kalau-kalau memperhatikan hak kesulungan orang lain akan merugikan hak miliknya. Begitulah keadaan hari ini. Beberapa saudara seharusnya memperhatikan saya, Rut yang malang, namun mereka egois dalam kenikmatan rohani atas Kristus. Bahkan dalam kenik-matan rohani atas Kristus itu mungkin saja kita menjadi egois. Tetapi, Boas itu murah hati dan telah membayar harga untuk menebus hak kesulungan saya. Semua ini menunjuk-kan bahwa kita tidak boleh hanya memperhatikan hak kesulungan kita sendiri, tetapi juga hak kesulungan orang lain. Hari demi hari kita harus memperhatikan kenikmatan orang lain atas Kristus. Semakin kita melakukan hal ini, semakin baik.

M. Rut

Kini kita akan melihat Rut (1:5). Mungkin kita menga-takan bahwa Rut benar-benar seorang perempuan yang baik, tetapi dia memiliki kekurangan yang besar. Ia sendiri me-mang tidak terlibat dalam perbuatan sumbang, namun dia itu berasal dari perbuatan sumbang. Rut berasal dari suku Moab (Rut 1:4). Moab adalah anak Lot, hasil perbuatan sum-bang Lot dengan putrinya (Kej. 19:30-38). Menurut Ulangan 23:3, bangsa Moab tidak diperbolehkan masuk ke dalam jemaah Tuhan bahkan sampai keturunan kesepuluh. Jadi, Rut adalah perkecualian, dia tidak hanya diterima oleh Tuhan, bahkan menjadi orang yang menakjubkan, yang mengambil bagian dalam kenikmatan atas Kristus.

Walaupun sebagai seorang bangsa Moab, Rut dilarang masuk ke dalam jemaah Tuhan, Rut tetap mencari Allah dan umat-Nya (Rut 1:15-17; 2:11-12). Ini mewahyukan prinsip yang sangat kuat; tidak peduli siapa kita atau apa latar be-lakang kita, asal kita memiliki hati yang mencari Allah dan umat Allah, kita berada pada posisi yang diterima ke dalam hak kesulungan Kristus. Rut menikah dengan Boas, orang yang beribadah di antara umat Allah, dan melahirkan Obed, kakek Raja Daud.

Ibu Boas ialah Rahab, seorang bangsa Kanaan, sedangkan istrinya, Rut, adalah seorang bangsa Moab. Keduanya adalah orang kafir, namun mereka terkait dengan Kristus. Ini merupakan bukti yang kuat bahwa Kristus bukan hanya terkait dengan orang Yahudi, tetapi juga dengan orang kafir, bahkan dengan orang-orang kafir yang kelas rendah dan hina.

Mungkin Anda telah dilahirkan dari sumber dan latar belakang yang menyedihkan, tetapi jangan sedih atau ke-cewa karena itu. Lupakan saja hal itu! Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada dilahirkan dari Moab. Tetapi asal Anda mempunyai niat mencari Allah dan mencari umat Allah, dan asal Anda terlibat dengan orang-orang yang tepat seperti Boas, Anda akan masuk ke dalam bagian ganda ke-nikmatan atas Kristus.

N. Isai

Kita lanjutkan dengan Isai (ayat 5-6). Meskipun Alkitab tidak banyak berbicara tentang Isai, tetapi apa yang dikatakan Alkitab mengenai dia itu sangatlah penting. Yesaya 11:1 menubuatkan bahwa Kristus akan menjadi “suatu tunas dari tunggul Isai dan taruk yang akan tumbuh dari pangkal-nya.” Kristus berasal dari Isai. Yesaya 11:10 mengatakan bahwa Kristus adalah akar dari Isai, yang menunjukkan bahwa Isai berasal dari Kristus. Isai adalah orang yang se-penuhnya berasal dari Kristus; dia juga orang yang menda-tangkan Kristus. Kristus berasal darinya dan ia pun berasal dari Kristus. Kristus itu taruknya (cabangnya) dan Kristus itu pangkalnya (akarnya). Kita perlu terang dari Tuhan agar dapat memahami hal-hal ini.

Apakah Isai? Isai adalah salah seorang yang melahirkan Kristus, orang yang menunaskan Kristus dengan berakar dalam Kristus. Ketika Anda menunaskan Kristus, jangan lupa bahwa Kristus bukan hanya cabang Anda, tetapi juga akar Anda. Kristus bercabang dari Anda dan Anda terbit dari Kristus. Kristus itu sumber kita, juga hasil kita. Ini berarti kita esa dengan Kristus dan sangat erat berkait dengan-Nya. Kita di dalam Dia dan Dia di dalam kita. Ia lahir dari kita dan kita berakar di dalam Dia. Haleluya! Inilah jenis orang yang menikmati hak kesulungan Kristus.

Kita semua sepatutnya menjadi Boas, Rut, Isai, dan Tamar. Kita seharusnya menjadi orang ini dan kemudian orang itu. Akhirnya kita akan berkata, “Puji Tuhan atas se-mua orang! Keadaan orang-orang itu sama dengan keadaanku. Keadaan Tamar sama seperti keadaanku. Kondisi yang baik maupun kondisi yang jelek semuanya sama dengan keada-anku. Akulah Tamar, Peres, Rahab, Boas, Rut, dan Isai. Haleluya!” Setelah Isai, akhirnya kita adalah Daud.

O. Daud

Daud adalah anak kedelapan dari ayahnya, yakni yang bungsu. Ini sangat bermakna. Angka delapan melambangkan kebangkitan, permulaan baru. Hari kedelapan adalah hari yang pertama dari minggu berikutnya — ini menandakan sesuatu yang baru, sesuatu dari kebangkitan. Ketika Samuel hendak mengurapi raja umat Allah, Isai mengajukan tujuh orang anaknya kepada dia. Samuel memandang mereka dan berkata, “Semuanya ini bukan pilihan Tuhan.” Ketika Samuel mengetahui bahwa masih ada yang kedelapan, Daud, ia langsung mengurapi Daud (1 Sam. 16:10-13). Ini berarti kita yang dipilih dan diselamatkan bukanlah orang-orang pada minggu pertama; melainkan orang-orang dalam hari pertama pada minggu yang berikutnya. Kita semua adalah anak-anak yang kedelapan.

Daud adalah yang terakhir dari keturunan nenek moyang, yang berjumlah empat belas keturunan. Daud adalah penutup dari bagian nenek moyang dalam silsilah Kristus.

Daud juga adalah yang pertama dari angkatan raja-raja. Dalam silsilah ini, hanya Daud yang disebut “Raja”, karena melalui dialah kerajaan dan jabatan raja didatangkan. Ia adalah penutup satu zaman dan pembuka zaman berikutnya. Ia menjadi tanda batas kedua zaman itu. Ia adalah akhir dari yang satu dan awal dari yang lain, karena ia amat limpah dalam kenikmatan atas Kristus. Untuk memiliki kenikmatan yang kaya atas Kristus, sering kali kita perlu menjadi akhir dari situasi tertentu dan awal dari situasi yang lain. Namun, banyak orang yang terkasih tidak dapat menjadi akhir maupun awal. Akhirnya, mereka bukanlah apa-apa. Dalam hidup gereja, kita memerlukan Daud-Daud, orang-orang yang lebih kuat untuk menyelesaikan situasi-situasi tertentu dan membuka situasi-situasi yang lain. Kita memerlukan seseorang untuk menutup generasi nenek mo-yang dan membuka generasi raja-raja. Kita harus kuat, kita harus menjadi anak kedelapan, kita harus menjadi Daud.

Daud adalah orang yang berkenan di hati Allah (1 Sam. 13:14). Allah sendiri memberi tahu Saul bahwa Ia akan mengganti Saul, kerena Ia sudah menemukan seorang yang berkenan di hati-Nya. Dalam seumur hidupnya, Daud tidak melakukan kesalahan apa pun, kecuali satu kesalahan yang besar: ia membunuh satu orang dan mengambil istrinya. Da-lam satu perbuatan, Daud melakukan dua dosa yang besar, yakni pembunuhan dan perzinaan. Allah sendiri yang meng-hukum hal tersebut. Alkitab mengatakan bahwa Daud dalam sepanjang hidupnya benar di mata Allah, kecuali dalam satu hal itu (1 Raj. 15:5).

P. Istri Uria (Batsyeba)

Daud membunuh Uria dan mengambil istrinya, Batsyeba. Batsyeba adalah istri orang Het, orang kafir (2 Sam. 11:3). Ia kawin lagi akibat perzinaan (2 Sam. 11:26-27).

Q. Salomo

Setelah Daud melakukan pembunuhan dan perzinaan, dia ditegur oleh nabi Natan, yang khusus diutus Allah untuk menegur dia (2 Sam. 12:1-12). Setelah ditegur, Daud bertobat. Mazmur 51 adalah mazmur penyesalan Daud. Daud bertobat dan Allah mengampuni dia (2 Sam. 12:13). Ada penyesalan dan ada pengampunan. Ada tiga hal di sini: pelanggaran, pertobatan, dan pengampunan. Bila kita menjajarkan ketiga hal ini, hasilnya adalah Salomo. Mula-mula ada pelanggaran dan pertobatan, ditambah pengampunan. Setelah itu, ada Salomo (2 Sam. 12:24), orang yang membangun Bait Allah. Salomo adalah hasil bukan hanya dari pelanggaran dan pertobatan, tetapi pelanggaran, pertobatan, dan pengampunan Allah. Di sini kita nampak dua pernikahan. Yang satu pernikahan Daud dengan Batsyeba. Yang kedua adalah pernikahan rohani, yaitu pernikahan antara pelanggaran dan pertobatan Daud dengan pengampunan Allah. Pengampunan Allah menikah dengan pelanggaran dan pertobatan Daud. Pernikahan ini membuahkan seorang yang bernama Salomo, yang membangun Bait Allah. Gereja selalu dibangun oleh orang semacam ini, yakni Salomo, yang dihasilkan dari pe-langgaran dan pertobatan manusia dengan pengampunan Allah.

Setelah Daud menerima pengampunan Allah, dan sukacita keselamatannya dipulihkan, ia berdoa bagi Sion dan pembangunan tembok Yerusalem untuk menguatkan kerajaannya (Mzm. 51:18). Akhirnya, sebagai hasil dari pengampunan Allah terhadap dosanya, Allah memberinya seorang anak untuk membangun Bait Allah bagi penyertaan Allah sebagai pusat Kota Yerusalem.

Semoga Tuhan menunjukkan kepada kita hal-hal yang tidak terungkapkan oleh kata-kata manusia. Seandainya Anda adalah orang yang baik, yang tidak pernah membunuh orang lain, tidak pernah melakukan pelanggaran, dan tidak pernah perlu bertobat, maka Allah tidak perlu mengampuni Anda. Kalau demikian, tidak akan ada Salomo dan Bait Allah tidak pernah dibangun. Seperti telah kita nampak, pembangunan Bait Allah terwujud dari pelanggaran dan pertobatan manusia ditambah pengampunan Allah.

Suatu hari saya berkata kepada Tuhan, “Tuhan, pelang-garanku dan pertobatanku memerlukan pengampunan-Mu. Tetapi, Tuhan, Engkau lebih tahu daripada aku bahwa peng-ampunan-Mu juga memerlukan pelanggaranku. Pelanggar-anku memerlukan pengampunan-Mu, dan pengampunan-Mu memerlukan pelanggaranku. Kalau aku tidak melakukan pe-langgaran, Engkau tidak dapat menyalurkan pengampunan-Mu.” Ketika saya berkata demikian kepada Tuhan, seolah-olah Dia berkata, “Ya. Karena pelanggaran dan pertobatanmu, Aku memiliki kesempatan untuk menyalurkan pengampunan-Ku. Aku senang sekali karenanya.” Tetapi kita tidak seha-rusnya berkata, “Mari kita berbuat jahat agar yang baik datang.” Kita harus berusaha sebaik mungkin. Tetapi tidak peduli betapa giatnya kita mencoba berbuat apa saja dengan benar dalam pandangan Tuhan, lambat atau cepat sesuatu akan terjadi. Tiba-tiba, kita bisa mencelakai, merampas milik orang lain, melanggar. Namun, setelah melakukan pelang-garan, kita lalu bertobat. Kalau kita bertobat, Allah akan siap mengampuni kita. Kemudian, kita akan melahirkan seorang anak dan menamainya Salomo. Nama Salomo berarti “damai” (2 Sam. 12:24; 1 Taw. 22:9). Tetapi Salomo juga me-miliki nama lain, “Yedija” (2 Sam. 12:25), yang berarti “yang dikasihi Tuhan”. Bagi kita, Salomo berarti “damai”, tetapi bagi Tuhan, ia berarti “yang dikasihi Tuhan”. Anak ini akan men-jadi orang yang akan membangun rumah Allah, gereja hari ini.

Kita perlu benar dalam pandangan Allah setiap waktu. Tetapi kita harus tahu bahwa kebenaran kita tidak berguna bagi pembangunan gereja. Namun, kita tidak seharusnya mengatakan, “Biarkan aku melakukan kesalahan!” Keta-huilah, sekalipun kita berusaha melakukan kesalahan, kita akan menemukan bahwa kita tidak dapat melakukan kesa-lahan. Saya tidak tahu, kedaulatan macam apakah ini. Tetapi suatu hari kita justru melakukan sesuatu yang menakutkan. Semua saudara akan menggeleng-gelengkan kepala, tidak percaya kita bisa melakukan hal semacam itu. Namun, kita sudah melakukannya! Kemudian kita perlu membaca Mazmur 51, membuatnya menjadi mazmur kita, pergi kepada Tuhan, dan berkata, “Tuhan, aku bertobat. Hanya kepada-Mulah aku telah bersalah. Ampunilah aku!” Setelah bertobat, kita akan melakukan pernikahan lain, pernikahan pelanggaran dan pertobatan kita dengan pengampunan Allah. Pernikahan ini akan menghasilkan Salomo, yang penuh damai bagi kita dan yang dikasihi oleh Tuhan. Orang ini akan membangun gereja, Bait Allah. Pada saat itu, kita akan sangat berguna dalam pembangunan gereja.

Mungkin Anda berkata, “Lalu hari ini bagaimana? Apa yang harus kita lakukan — menunggu orang semacam itu datang?” Tidak, jangan menunggu. Penantian kita tidak ada artinya. Kita seharusnya berjalan atau hidup dalam penyer-taan Tuhan dan membiarkan Tuhan yang melakukannya. Seperti yang dikatakan Charles Wesley dalam salah satu kidungnya, “Semuanya karena rahmat!” Ya, ini sepenuhnya soal rahmat Allah. Lupakan latar belakang Anda, keadaan Anda, atau apa yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Anda hanya perlu bersandar dalam rahmat Tuhan yang berdaulat. Kalau Anda mengasihi Dia dan umat-Nya, Ia akan mengerjakan segala sesuatu. Ia akan memberi Anda kenikmatan yang penuh atas hak kesulungan Kristus.

Ayat-ayat dalam silsilah Kristus sangat sulit dimengerti. Ayat-ayat itu bukan susu atau daging, melainkan tulang. Kalau kita meluangkan waktu 1-2 jam mendoakan ayat-ayat tersebut, dan mendoakan butir-butir yang dibahas dalam berita ini, kita akan nampak lebih banyak lagi. Kita akan nampak bahwa kita perlu menjadi orang dengan hati yang sungguh-sungguh mencari atau memperhatikan Allah dan umat-Nya. Lalu kita akan menjadi Boas, Rut, Obed, Isai, Daud, dan akhirnya Salomo hari ini, yang membangun rumah Allah.