NENEK MOYANG DAN STATUS RAJA (2)
D. Abraham
Silsilah dalam Injil Matius dimulai dengan Abraham, tetapi silsilah dalam Lukas 3 menelusur kembali kepada Adam. Injil Matius tidak membahas Adam dan keturunannya, Injil Lukas yang membahasnya. Mengapa ada perbedaan ini? Apa maksudnya? Injil Lukas adalah kitab tentang penyelamatan Allah, sedangkan Injil Matius tentang kera-jaan. Penyelamatan Allah bagi bangsa ciptaan dan bangsa yang telah jatuh, diwakili oleh Adam, tetapi Kerajaan Surga hanya untuk umat pilihan Allah, bangsa terpanggil, diwakili oleh Abraham. Sebab itu, Injil Matius dimulai dari Abraham, sedangkan Injil Lukas menelusur kembali kepada Adam.
1. Terpanggil
Dalam sepuluh setengah pasal pertama dari Kitab Kejadian, Allah berusaha bekerja di atas diri bangsa ciptaan, tetapi tidak berhasil. Bangsa ciptaan telah gagal. Umat manusia telah jatuh begitu rupa, sehingga mereka semua berontak melawan Allah sampai puncaknya. Mereka mendi-rikan Menara Babel dan Kota Babel untuk mengekspresi-kan pemberontakan mereka (Kej. 11:1-9). Sebab itu, Allah melepaskan bangsa ciptaan yang telah jatuh, dan memanggil seseorang yaitu Abraham, keluar dari bangsa itu. Abraham dipanggil Allah untuk menjadi bapa atau pemimpin bangsa yang lain. Abraham dipanggil keluar dari tempat yang penuh pemberontakan dan berhala, tempat di mana semua orang bersatu dengan Iblis (Kej. 12:1-2; Ibr. 11:8). Sejak Allah me-manggil Abraham keluar dari Babel (kemudian disebut Babilon) untuk masuk ke tanah Kanaan, Allah telah mele-paskan bangsa Adam dan menaruh seluruh perhatian-Nya pada bangsa yang terpanggil ini, dengan Abraham sebagai kepalanya. Inilah bangsa yang terpanggil, bangsa yang di-ubah, bukan bangsa yang menuruti alamiah, melainkan menuruti iman.
Kerajaan Allah adalah untuk bangsa ini. Kerajaan Allah tidak mungkin untuk bangsa yang jatuh. Jadi, dalam mem-bahas Kerajaan Surga, Matius memulainya dengan Abraham. Karena Injil Lukas membahas penyelamatan Allah, (sudah tentu penyelamatan ditujukan kepada bangsa yang jatuh), maka penuturan silsilahnya menyusur kembali ke Adam. Se-telah mengalami penyelamatan dalam Injil Lukas, dengan spontan kita dipindahkan dari bangsa yang jatuh ke bangsa yang terpanggil. Tadinya kita ini keturunan Adam, sekarang kita keturunan Abraham. Galatia 3:7 dan 29 mengatakan bahwa siapa yang percaya dalam Yesus Kristus, adalah anak Abraham. Anak siapakah Anda? Anak Adam atau anak Abraham? Kita adalah orang Yahudi yang sejati (Rm. 2:29). Nenek moyang kita adalah Abraham. Kita adalah satu kelompok dengan dia. Apabila kita bukan keturunan Abraham, tentu kita tidak ada bagian dalam Injil Matius, bahkan tidak ada bagian dalam Kitab Galatia yang singkat itu, karena Kitab Galatia ditulis untuk keturunan Abraham. Bila kita ini keturunan Abraham, barulah mempunyai andil dalam Kitab Galatia. Puji Tuhan! Kita adalah anak-anak Abraham!“Lagi pula, jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan ahli waris menurut janji Allah” (Gal. 3:29).
Abraham adalah orang yang dipanggil keluar oleh Allah. Kata Yunani untuk gereja (ekklesia) berarti “orang-orang yang terpanggil keluar”. Jadi, kita di dalam gereja juga adalah orang-orang yang terpanggil keluar. Abraham di-panggil keluar dari Babel, tempat pemberontakan dan tempat berhala, dan memasuki tanah permai yang melambangkan Kristus. Kita semua dulu berada di Babel — jatuh, pembe-rontak, dan menyembah berhala. Seluruh umat manusia hari ini berada di Babel. Kita tadinya di sana, namun pada suatu hari Allah memanggil kita keluar dan menaruh kita ke dalam Kristus, tanah yang tinggi. Kita dipanggil oleh Allah ke dalam “Persekutuan dengan anak-Nya, Yesus Kristus, Tuhan kita” (1 Kor. 1:9). “Tetapi untuk mereka yang dipang-gil, . . . Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1 Kor. 1:24).
2. Dibenarkan karena Iman
Abraham, sebagai orang yang terpanggil, dibenarkan karena iman (Kej. 15:6; Rm. 4:2-3). Umat yang jatuh bersandar pada pekerjaan mereka, tetapi umat yang terpanggil percaya kepada pekerjaan Allah, bukan kepada pekerjaan mereka sendiri. Dalam pandangan Allah, tidak seorang pun yang telah jatuh bisa dibenarkan melalui perbuatan (Rm. 3:20). Itulah sebabnya kaum yang terpanggil, yakni yang dipanggil keluar oleh Allah dari bangsa yang jatuh, tidak memper-cayai usaha mereka sendiri, melainkan mempercayai peker-jaan anugerah Allah. Abraham dan semua kaum beriman juga demikian. “Jadi, mereka yang hidup dari iman, mere-kalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu” (Gal. 3:9). Berkat dalam janji Allah, yakni “Roh yang telah dijanjikan itu” (Gal. 3:14), adalah untuk orang yang percaya. Karena iman, kita menerima Roh itu, yang adalah realitas dan realisasi Kristus (Gal. 3:2). Jadi, Abraham dengan kita, keduanya disatukan dan diikat kepada Kristus demi iman. Justru melalui percaya kepada pekerjaan anuge-rah Allah, maka umat yang dipanggil oleh Allah dibenarkan oleh-Nya dan berbagian dalam Kristus, bagian mereka yang kekal itu.
3. Hidup oleh Iman
Ibrani 11:8 mengatakan bahwa Abraham dipanggil, dan dengan iman ia menjawab panggilan itu. Selanjutnya, ayat 9 menyatakan bahwa karena iman pula ia tinggal di tanah per-mai. Sebagai orang yang dipanggil oleh Allah, Abraham bukan saja dibenarkan oleh iman, tetapi juga hidup oleh iman. Sebagai orang yang dipanggil oleh Allah, ia tidak seharusnya hidup dan bertindak oleh dirinya lagi. Dia harus hidup dan bertindak oleh iman. Abraham hidup dan bertindak oleh iman berarti ia menolak dirinya, melupakan dirinya, menge-sampingkan dirinya, dan hidup oleh “Orang” lain. Apa saja yang ia miliki secara alamiah, haruslah disingkirkan.
Bila kita bandingkan Kejadian 11:31 dan 12:1 dengan Kisah Para Rasul 7:2-3, kita nampak bahwa ketika Allah me-manggil Abraham di Ur-Kasdim, ia sangat lemah. Abraham tidak mengambil inisiatif untuk meninggalkan Babel, ma-lahan ayahnya, Terah yang melaksanakan hal tersebut. Hal ini memaksa Allah mengambil ayahnya. Dalam Kejadian 12:1, Allah memanggil dia pula dan menyuruh dia bukan hanya meninggalkan “negerinya” dan “sanak saudaranya”, bahkan “rumah bapanya”, yang berarti tidak membawa seorang pun bersamanya. Tetapi sekali lagi Abraham lemah seperti kita sehingga mengajak Lot, keponakannya (Kej. 12:5).
Orang yang bagaimanakah Abraham? Abraham adalah orang yang dipanggil keluar, yang tidak lagi hidup dan ber-tindak oleh dirinya, serta yang meninggalkan dan melupa-kan segala sesuatu yang dimilikinya secara alamiah. Ini justru berita dari Kitab Galatia. Galatia 3 mengatakan bahwa kita ini anak-anak Abraham, dan kita harus hidup demi iman, bukan demi usaha-usaha kita. Galatia 2:20 mengatakan bahwa “hidup oleh iman” berarti “bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Aku yang alamiah, yang berasal dari umat yang jatuh, telah disa-libkan dan dikuburkan. Jadi, bukan aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalamku. Inilah Abraham. Jika kita orang Yahudi sejati, keturunan sejati Abraham, kita harus meninggalkan segala sesuatu dan hidup oleh iman. Kita ha-rus melupakan semua yang bisa kita lakukan dan menolak semua apa adanya dan milik kita secara alamiah. Ini tidaklah mudah.
Orang-orang Kristen sangat menghargai Abraham. Tetapi janganlah memandang Abraham terlalu tinggi. Dia tidaklah setinggi itu. Dia dipanggil, namun dia tidak berani meninggalkan Babel; ayahnyalah yang mengajaknya keluar. Hal ini memaksa Allah untuk menyingkirkan ayahnya. Kemudian Abraham mengandalkan keponakannya, Lot. Sesudah itu, ia menaruh kepercayaan kepada hambanya, Eliezer (Kej. 15:2-4). Allah seolah-olah berkata, “Abraham, Aku tidak suka melihat ayahmu bersamamu. Aku tidak suka melihat keponakanmu bersamamu. Aku tidak suka melihat Eliezer bersamamu. Aku tidak menghendaki kamu bersandar kepada siapa pun. Kamu harus bersandar kepada-Ku. Jangan mengandalkan apa yang kaumiliki secara alamiah.” Inilah percaya kepada Allah, bertindak di dalam Dia, dan hidup oleh Dia. Bukan aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalamku.
Jika kita adalah orang Yahudi sejati, berarti kita adalah Abraham yang sejati. Untuk menjadi Abraham, kita harus percaya kepada Tuhan. Percaya kepada Tuhan adalah ber-gaul atau berhubungan dengan Tuhan. Abraham dipanggil keluar dari umat yang jatuh dan bergaul dengan Tuhan. Se-mua anak Abraham harus demikian juga bergaul dan berhu-bungan dengan Kristus. Jika Anda milik Kristus, Anda adalah keturunan Abraham. Dengan kata lain, jika kita adalah ke-turunan Abraham, kita adalah milik Kristus, dan bergaul de-ngan Kristus. Untuk bergaul dengan Kristus, kita harus menolak diri kita dan menerima Kristus sebagai segala sesu-atu. Inilah artinya percaya kepada Kristus, dan kepercayaan ini adalah kebenaran dalam pandangan Allah. Jangan berusa-ha melakukan sesuatu! Percaya saja kepada Kristus!
Bangsa yang jatuh selalu suka melakukan sesuatu, bekerja dan berupaya. Tetapi Allah berfirman, “Keluarlah dari sana. Kamu adalah bangsa yang terpanggil. Jangan mencoba apa-apa lagi! Jangan melakukan apa-apa lagi! Jangan me-ngerjakan apa-apa lagi! Lupakan masa lalumu. Lupakan apa adamu. Lupakan apa yang mampu kaulakukan, dan lupakan pula apa yang kaumiliki. Lupakanlah segalanya dan letak-kanlah seluruh kepercayaanmu di dalam Aku. Aku adalah tanah permaimu. Tinggallah di dalam Aku! Hiduplah demi Aku.” Inilah Abraham-Abraham yang riil, orang-orang Galatia yang riil. Sebagai anak-anak Allah, mereka percaya kepada Allah dan melupakan diri mereka. Inilah orang-orang yang membentuk generasi atau silsilah Kristus. Kita semua wajib menjadi Abraham-Abraham, melupakan masa lalu kita, me-lepaskan apa adanya kita dan apa yang kita miliki, sambil meletakkan kepercayaan kita di dalam Kristus, tanah permai kita. Hari ini tindakan kita, hidup kita, harus ditempuh demi iman kepada Kristus. Jika demikian, sebagai ahli-ahli waris janji Allah, yang mewarisi janji Roh itu, kita bisa mengambil bagian di dalam Kristus sebagai berkat Allah.
Sampai pada jangka waktu tertentu, Tuhan meminta Abraham mempersembahkan Ishak, yang Allah karuniakan kepadanya menurut janji-Nya, sebagai kurban bakaran. Tuhan telah mengaruniakan Ishak kepada Abraham; kini dia harus mengembalikan Ishak kepada Tuhan. Tuhan telah menugaskan dia untuk mengusir Ismael (Kej. 21:10, 42); sekarang Tuhan menuntut dia untuk menyembelih Ishak, anaknya.
Bisakah Anda melaksanakan ini? Pelajaran ini sangat sulit. Namun, inilah jalan untuk mengalami Kristus. Bulan lalu atau minggu lalu Anda mungkin telah mengalami Kristus secara khusus, tetapi hari ini Tuhan berkata, “Persembahkanlah pengalaman itu. Itu memang pengalaman yang riil atas Kristus, tetapi jangan dipertahankan!” Sekali lagi, pelajarannya adalah: Jangan mempercayai apa yang Anda miliki; bahkan kepada apa yang telah Allah karuniakan kepada Anda. Bila Allah telah memberi Anda sesuatu, itu harus dikembalikan kepada-Nya. Inilah hidup demi iman dari hari ke hari. Hidup di hadirat Tuhan demi iman berarti kita tidak menahan sesuatu, bahkan benda-benda yang Allah ka-runiakan. Pemberian terbaik yang Allah karuniakan harus dikembalikan kepada-Nya. Janganlah menahan sesuatu untuk disandari; bersandarlah kepada Tuhan saja dan bersandarlah sepanjang waktu. Abraham telah berbuat demikian. Akhirnya dia hidup dan bertindak dalam hadirat Allah demi iman.
E. Ishak
Matius 1:2 mengatakan, “Abraham mempunyai anak, Ishak.” Apakah butir yang mencolok di sini mengenai Ishak? Ishak dilahirkan dari janji (Gal. 4:22-26, 28-31; Rm. 9:7-9). Dia adalah ahli waris satu-satunya (Kej. 21:10, 12; 22:2a, 12b, 16-18), dan dia mewarisi janji Kristus (Kej. 26:3-4).
Allah menjanjikan Abraham seorang anak. Sara, yang ingin membantu Allah memenuhi janji-Nya, mengajukan usul kepada Abraham. Sara seolah-olah berbicara, “Lihatlah, Abraham, Allah telah berjanji akan memberimu keturunan, seorang ahli waris yang mewarisi tanah permai ini. Tetapi pandanglah dirimu — hampir berumur satu abad! pandang-lah aku — sudah terlampau tua! Mustahil aku melahirkan seorang anak. Kita harus berbuat sesuatu untuk membantu Allah mencapai tujuan-Nya. Padaku ada seorang hamba pe-rempuan bernama Hagar. Dia sungguh baik. Kamu pasti bisa mendapatkan seorang anak melalui dia” (Kej. 16:1-2). Ini adalah konsepsi alamiah yang sangat menggoda. Sering kali, konsepsi alamiah kita mengajukan usul-usul yang menyeret kita keluar dari roh. Sering pula konsepsi alamiah kita mengatakan, “Kerjakan dengan cara ini. Di sini ada sumber yang baik.” Namun, sesungguhnya usul yang seperti ini akan membawa kita keluar dari janji Allah!
Abraham menerima usul Sara (Kej. 16:2-4). Hasilnya ialah Ismael (Kej. 16:15). Ismael yang mengerikan itu masih di sini sampai hari ini! Bertindak menurut usul Sara tidak membantu Allah, malahan menggagalkan Abraham untuk mencapai tujuan Allah. Ini bukan perkara yang sepele.
Pelajaran yang kita dapatkan dari sini adalah, sebagai umat yang dipanggil, apa saja yang kita kerjakan berda-sarkan diri sendiri akan menghasilkan Ismael. Apa pun yang kita kerjakan berdasarkan diri sendiri dalam hidup gereja, bahkan dalam penginjilan, hanya akan menghasilkan Ismael. Jangan menghasilkan Ismael! Akhiri diri Anda! Bukankah Anda telah menyeberangi Efrat, sungai besar itu? Ketika Anda dipanggil keluar dari Babel, Anda menyeberangi sungai besar itu dan terkubur di sana. Janganlah hidup berdasar-kan diri sendiri atau mengerjakan sesuatu berdasarkan diri sendiri. Anda harus berkata, “Tuhan, aku ini bukan apa-apa. Tanpa Engkau, aku tidak mampu berbuat apa-apa. Tanpa Engkau melakukan sesuatu, aku pun tidak mau melakukan apa-apa. Kalau Engkau beristirahat, aku juga beristirahat. Tuhan, aku letakkan kepercayaanku di dalam-Mu.” Hal ini mudah dikatakan, namun sulit untuk dipraktekkan dalam hidup sehari-hari kita.
Ingatlah apa adanya seorang Abraham: orang terpanggil yang tidak melakukan apa-apa berdasarkan dirinya. Allah harus menunggu sampai Abraham dan Sara habis (Kej. 17:17, lihat Rm. 4:19). Ia menunggu sampai kekuatan alamiah mereka mati sama sekali, sampai mereka sadar bahwa mereka tidak mampu melahirkan seorang anak.
Abraham masih ingin mempertahankan dan bersandar kepada Ismael, namun Allah menolak dia (Kej. 17:18-19). Kita juga suka mempertahankan dan bersandar kepada pe-kerjaan kita sendiri, namun Allah tidak pernah mau mene-rimanya. Akhirnya, Allah menyuruh Abraham mengusir Ismael dengan ibunya (Kej. 21:10-12). Ini sulit dilaksanakan oleh Abraham. Tetapi dia harus belajar pelajaran hidup tanpa mengandalkan dirinya, tidak melakukan sesuatu berdasarkan dirinya, menghentikan daya upayanya sendiri. Ia memiliki seorang anak, namun ia harus melepaskannya. Inilah pela-jaran Abraham dan pelajaran dalam Kitab Galatia.
Berbagian dalam Kristus menuntut kita tidak meng-andalkan diri sendiri atau apa saja yang mampu kita laku-kan. Usaha atau pekerjaan kita sendiri selalu menghalangi kita mengambil bagian dalam Kristus, sebagaimana yang dilakukan Ismael terhadap Ishak dalam mewarisi janji Allah. Untuk mempercayai janji Allah, kita harus membuang semua apa adanya kita dan milik kita. Tanpa meninggal-kan segala sesuatu dari hayat alamiah kita, mustahil kita dapat menikmati Kristus. Janji Allah akan tiba setelah ke-kuatan alamiah kita habis. Setelah Ismael diusir, Ishak me-miliki posisi penuh untuk mengambil bagian dalam berkat janji Allah. Pengakhiran usaha alamiah kita, penghentian akan apa yang mampu kita lakukan atau apa yang telah kita kerjakan adalah “Ishak”, yang mewarisi berkat yang dijan-jikan Allah, yang adalah Kristus. Kita telah dibaptis ke dalam Kristus (Gal. 3:27). Setelah diakhiri dalam Kristus, kita sekarang adalah milik-Nya serta memiliki Dia sebagai bagian kita. Jadi, kitalah keturunan Abraham, umat yang dipanggil oleh Allah, dan ahli-ahli waris seturut janji-janji Allah (Gal. 3:29).
Apakah Ishak? Ishak adalah hasil dari hidup dan bertin-dak demi iman. Inilah Kristus. Ishak merupakan lambang yang lengkap dari Kristus yang mewarisi seluruh kekayaan Bapa. Kita semua harus mengalami Kristus secara demikian; bukan dengan perbuatan, perjuangan, atau usaha kita, mela-inkan hanya dengan bersandar kepada-Nya. Percaya atau bersandarnya kita kepada Dia akan menghasilkan Ishak. Hanya Ishak yang merupakan unsur sejati dari generasi Kristus. Bukan semua anak Abraham secara daging adalah anak-anak Allah; hanya yang lahir dari Ishak saja yang ada-lah anak-anak Allah (Rm. 9:7-8). Itulah sebabnya, Allah menganggap Ishak sebagai satu-satunya anak Abraham (Kej. 21:10, 12; 22:2a, 12b, 16-18), satu-satunya ahli waris yang mewarisi janji tentang Kristus (Kej. 26:3-4).
Hari ini, kita adalah ras Abraham, namun kita hidup seperti Ismael atau seperti Ishak? Jalan Ismael adalah men-capai tujuan Allah berdasarkan kekuatan dan pekerjaan kita sendiri. Jalan Ishak ialah meletakkan diri kita ke dalam Allah, percaya bahwa Dialah yang mengerjakan segala se-suatu untuk menggenapkan tujuan-Nya bagi kita. Keduanya jauh berbeda. Ismael tidak ada hubungannya dengan Kristus. Apa saja yang kita lakukan, dan apa saja yang kita coba rampungkan, tidak ada hubungannya dengan Kristus. Kita harus memiliki Ishak. Untuk memiliki Ishak kita harus meng-usir Ismael, mengakhiri pekerjaan kita, dan menempatkan diri kita ke dalam pekerjaan Allah. Bila kita membiarkan Dia memenuhi janji-Nya terhadap kita, kita akan memiliki Ishak.
F. Yakub
Ayat 2 juga mengatakan “Ishak mempunyai anak, Yakub.” Ishak dan Ismael adalah saudara sebapa, tetapi lain ibu. Yakub dan Esau lebih intim lagi. Mereka saudara kembar. Yakub berarti pengganti. Ia menggantikan orang lain, menaruh me-reka di bawah dirinya, dan memanjat melampaui mereka. Esau keluar dari rahim, Yakub memegang tumit Esau. Yakub seolah-olah berkata, “Esau, jangan keluar! Tunggu aku, biar aku yang keluar dulu!” Yakub adalah pemegang tumit yang sejati. Nama Yakub juga bermakna pemegang tumit, peram-pas. Kalahkan yang lain! Letakkan mereka di bawah kaki Anda dengan muslihat. Itulah Yakub.
Karena Allah telah memilih dia, maka segala usahanya itu sia-sia. Yakub memerlukan visi. Sebenarnya dia tidak perlu merampas orang lain, karena Allah telah memilih dia sebagai yang pertama. Bahkan sebelum si kembar lahir, Allah sudah memberi tahu ibunya bahwa yang lebih muda akan menjadi yang pertama, dan yang lebih tua akan menjadi yang kedua. Seperti ada tertulis, “Aku mengasihi Yakub, te-tapi membenci Esau” (Mal. 1:2-3; Rm. 9:13).
Sayang sekali, Yakub tidak menyadari hal ini. Seandainya dia tahu, dia tidak akan pernah berusaha melakukan sesuatu. Sebaliknya, dia akan berkata kepada Esau, “Kalau kamu mau mendahului, jalan saja. Bagaimanapun kamu berusaha untuk menjadi yang pertama, aku tetap menjadi yang pertama. Kamu tidak mungkin bisa mengalahkan aku, karena Allah telah memilih aku.” Namun, Yakub tidak pa-ham akan hal ini. Bahkan, setelah ia dewasa, ia masih belum menyadari hal ini. Sebab itu, ia tetap tidak henti-hentinya merampas. Ke mana saja ia pergi, ia selalu merampas. Dia merampasi saudaranya (Kej. 25:29-33; 27:18-38) dan paman-nya (Kej. 30:37—31:1). Ia merencanakan dan “mencuri” dari Laban, pamannya. Hanya saja, jerih payahnya itu sia-sia belaka. Boleh jadi Allah berkata, “Yakub yang bodoh. Kamu tidak perlu berbuat begitu. Aku akan memberimu lebih ba-nyak daripada yang telah kamu peroleh.” Tetapi Yakub tetap bergumul. Meskipun dia adalah keturunan Abraham, tetapi dilihat dari perjuangan dan alamiahnya, dia sepenuhnya adalah keturunan Iblis. Bisakah Anda nampak hal ini? Se-cara posisi ia adalah anak Abraham, tetapi secara sifat atau watak, ia adalah anak Iblis.
Apakah yang diperlukan Yakub? Dia memerlukan pe-nanggulangan Allah. Sebab itu, Allah membangkitkan Esau, saudaranya, dan kemudian Laban, pamannya, untuk menanggulangi dia. Allah bahkan membangkitkan empat orang istri ditambah dua belas pembantu laki-laki dan pem-bantu perempuan. Banyak sekali penderitaan dalam hidup Yakub, namun penderitaan itu berasal dari pergumulannya, bukan dari pilihan Allah. Semakin banyak bergumul, semakin banyak Yakub menderita. Boleh jadi kita menertawai Yakub, namun kita sendiri persis seperti dia. Semakin kita mencoba dan berusaha melakukan sesuatu, semakin banyak masalah kita.
Di dalam Kristus, pertama-tama kita memerlukan hayat Abraham. Kita perlu melupakan apa adanya kita, hidup oleh Kristus dan percaya kepada Dia. Kedua, di dalam Kristus kita tidak memerlukan Ismael — perbuatan kita, melainkan Ishak — pekerjaan-Nya. Ketiga, kita tidak memerlukan Yakub, me-lainkan Israel. Kita tidak memerlukan Yakub yang alamiah, melainkan Israel yang berubah, pangeran Allah.
Sadarkah Anda bahwa ini sama sekali bukan tergantung pada Anda? Bila Anda mendengar ini, Anda mungkin berka-ta, “Jika tidak tergantung padaku, tetapi tergantung pada Allah, maka aku akan menghentikan usahaku.” Bagus. Kalau Anda bisa menghentikan usaha Anda, saya mendorong Anda melakukannya. Katakan kepada alam semesta bahwa Anda telah mendengar bahwa ini tergantung pada Dia, dan Anda telah menghentikan usaha Anda. Jika Anda bisa menghen-tikannya, berhentilah. Saya berani menjamin, semakin Anda berhenti, tentu akan lebih baik. Semakin Anda berhenti, Dia akan semakin bergerak. Cobalah saja. Katakan kepada Tuhan, “Tuhan, aku berhenti berusaha!” Tuhan akan berkata, “Itu bagus! Penghentianmu itu membukakan pintu bagi-Ku untuk melakukan sesuatu. Aku akan membakarmu. Kamu mungkin berhenti berusaha, namun Aku akan membakar kamu!”
Kita semua telah dipilih. Di satu aspek, kita ini tertangkap. Apa yang bisa kita lakukan? Kita tidak mungkin bisa meloloskan diri. Ini mutlak adalah rahmat Tuhan. Kita tidak memilih jalan ini. Saya jelas tidak memilih jalan ini, namun saya ada di sini. Apa yang bisa saya lakukan? Apa yang bisa saya katakan? Kita mustahil dapat meloloskan diri karena Allah telah memilih kita.
Jika kita membaca Roma 9, kita akan menemukan bahwa hal ini tergantung pada Dia, bukan kita. Dia adalah dan tetap adalah sumbernya. Puji Tuhan atas belas kasihan-Nya yang mencapai kita! Tidak ada seorang pun dapat menolak belas kasihan-Nya. Kita bisa saja menolak pekerjaan-Nya, namun kita tidak mungkin menolak belas kasihan-Nya (Kel. 33:19; Rm. 9:15). Kita telah dipilih untuk berhubungan dengan Kristus dan mengambil bagian di dalam Dia sebagai berkat kekal Allah, betapa belas kasihan-Nya ini. Di satu aspek, kita adalah Abraham, di aspek yang lain kita adalah Ishak, dan di aspek yang lain lagi kita adalah Yakub. Kemudian, di aspek yang keempat, kita akan menjadi Israel. Jadi, kita memiliki Abraham, Ishak, dan Yakub.
Silsilah Kristus adalah masalah hak kesulungan, dan hak kesulungan terutama mengacu kepada hubungan de-ngan Kristus dan partisipasi dalam Kristus. Penyerobotan Yakub tidak dibenarkan, namun penuntutannya terhadap hak kesulungan tentu saja dihargai oleh Allah. Esau me-mandang rendah hak kesulungan dan menjual haknya de-ngan murah (Kej. 25:29-34). Sebab itu, ia kehilangan hak kesulungan dan tidak dapat memperolehnya kembali, seka-lipun dengan menyesal dan menangis (Kej. 27:34-38; Ibr. 12:16-17). Dia kehilangan berkat untuk berbagian dalam Kristus. Ini seharusnya menjadi peringatan bagi kita. Yakub menghormati dan menuntut hak kesulungan, dan ia pun memperolehnya. Ia mewarisi berkat yang dijanjikan Allah, berkat mengenai Kristus (Kej. 28:4, 14).
G. Yehuda
Ayat 2 juga mengatakan, “Yakub mempunyai anak, Yehuda dan saudara-saudaranya.” Putra Yakub yang pertama ialah Ruben. Ruben seharusnya mewarisi hak kesulungan, ba-gian anak sulung. Hak kesulungan meliputi tiga unsur: dua bagian atas tanah, jabatan imam, dan jabatan raja. Ruben adalah putra sulung, namun ia kehilangan hak kesulungan-nya karena kecemarannya (Kej. 49:3-4; 1 Taw. 5:1-2). Dua bagian atas tanah itu beralih ke tangan Yusuf. Ini tentunya disebabkan oleh kemurnian Yusuf (Kej. 39:7-20). Dia adalah putra terdekat yang paling mengerti hati ayahnya (Kej. 37:2-3, 12-17). Kedua putranya, Manasye dan Efraim, masing-masing menerima satu bagian dari tanah itu (Yos. 16 dan 17). Jadi melalui kedua anaknya, ia mewarisi dua bagian atas tanah permai.
Jabatan imamat beralih kepada Lewi (Ul. 33:8-10). Lewi sangat memahami hati Allah. Untuk memenuhi hasrat Allah, Lewi melupakan orang tuanya, saudara-saudaranya, dan anak-anaknya, hanya memperhatikan hasrat Allah. Dengan demikian, dia menerima bagian imamat dari hak kesulungan.
Jabatan raja, bagian lain dari hak kesulungan, diberikan kepada Yehuda (Kej. 49:10; 1 Taw. 5:2). Jika kita membaca Kitab Kejadian, kita pasti menemukan alasannya. Ketika Yusuf dianiaya oleh saudara-saudaranya, Yehuda menjaganya (Kej. 37:26). Ia pun memperhatikan Benyamin di saat penderitaan (Kej. 43:8-9; 44:14-34). Saya yakin, inilah sebabnya jabatan raja jatuh kepada Yehuda.
Hari ini kita adalah “jemaat anak-anak sulung” (Ibr. 12:23). Hak kesulungan kita pun tersusun dari tiga unsur ini: bagian ganda atas Kristus, imamat, dan jabatan raja. Kita berada di dalam Kristus, dan kita bisa menikmati Dia dalam bagian ganda. Kita pun imam-imam dan raja-raja Allah. Namun, banyak orang Kristen telah kehilangan hak kesulungan mereka. Mereka telah diselamatkan, dan tidak mungkin binasa, namun mereka telah kehilangan bagian khusus mereka atas Kristus. Jika kita ingin menikmati bagian khusus atas Kristus, kita harus memelihara hak kesulungan kita.
Semua orang Kristen juga dilahirkan kembali sebagai imam-imam (Why. 1:6); tetapi hari ini banyak yang telah kehilangan imamat mereka. Mereka tidak bisa berdoa, sebab mereka kehilangan posisi doa mereka. Bila kita mau meme-lihara imamat kita, kita harus seperti Lewi, melupakan ayah kita, saudara kita, dan anak-anak kita, serta hanya memperhatikan kepentingan Allah. Hasrat Allah yang harus diutamakan, bukan sanak keluarga kita. Jika hasrat Allah menduduki tempat utama di hati kita, niscaya kita bisa dekat dengan Dia dan memelihara imamat kita.
Semua orang Kristen juga dilahirkan kembali sebagai raja-raja (Why. 5:10), namun banyak pula yang telah kehi-langan jabatan raja mereka. Ketika Tuhan Yesus kembali, semua orang kudus yang menang akan bersama-sama Dia menjadi imam-imam Allah dan meraja bersama Kristus (Why. 20:4-6). Pada saat yang sama, mereka akan menikmati wa-risan bumi ini (Why. 2:26).
Ibrani 12:16-17 memperingatkan kita agar jangan kehi-langan hak kesulungan kita seperti Esau. “Demi sepiring makanan” Esau “menjual hak kesulungannya”. Akhirnya, ia menyesal karena telah menjualnya terlalu murah, namun ia tidak dapat menariknya kembali. Kita semua perlu waspada. Kita memiliki posisi mempunyai hak kesulungan dan kita justru telah memilikinya, namun pemeliharaannya ter-gantung pada apakah kita menjaga diri dari keduniawian dan kecemaran. Kita telah nampak, Esau kehilangan hak kesulungannya karena nafsunya dalam hal makan, sedang-kan Ruben kehilangan hak kesulungannya karena pence-maran hawa nafsunya. Tetapi Yusuf mewarisi bagian ganda atas tanah dikarenakan kemurniannya; Lewi memperoleh imamat karena dengan mutlak memisahkan diri bagi Tuhan, sedangkan Yehuda mendapatkan jabatan raja oleh karena perhatiannya terhadap saudara-saudaranya yang menderita. Kita perlu memelihara diri kita dalam kemurnian untuk mendapat bagian khusus atas kenikmatan terhadap Kristus. Kita perlu dengan mutlak memisahkan diri kita bagi Tuhan, dengan sebuah hati yang memperhatikan hasrat Tuhan me-lebihi segala hal. Kita perlu dengan kasih memperhatikan saudara-saudara kita yang menderita. Jika kita seperti itu, tentu kita akan mempertahankan hak kesulungan kita. Bagian khusus atas kenikmatan terhadap Kristus, imamat, dan jabatan raja akan menjadi milik kita. Bahkan hari ini kita dapat menikmati Kristus dua kali lipat. Kita bisa ber-doa, kita bisa berkuasa, dan kita pun bisa memerintah. Kemudian, ketika Tuhan Yesus kembali, kita akan bersama-sama Dia menikmati warisan atas bumi ini. Kita akan men-jadi imam-imam yang terus-menerus berkontak dengan Allah dan menjadi raja-raja yang memerintah manusia.
Karena Yehuda mendapat bagian jabatan raja dari hak kesulungan, maka ia mendatangkan Kristus yang rajani (Kej. 49:10), dan Kristus Pemenang (Why. 5:5; Kej. 49:8-9). “Sebab telah diketahui semua orang bahwa Tuhan kita ber-asal dari suku Yehuda” (Ibr. 7:14).
Abraham, Ishak, Yakub, dan Yehuda adalah rekan kerja (mitra) Kristus. Jika kita memiliki kehidupan keempat generasi ini — iman Abraham, warisan Ishak, penanggulangan Yakub, serta perhatian kasih Yehuda — maka kita adalah rekan kerja Kristus dalam silsilah-Nya.
H. Saudara-Saudaranya
Ketika silsilah ini menyebutkan Ishak dan Yakub, tidak disebutkan “dan saudara-saudaranya”; hanya ketika menye-butkan Yehuda barulah disebutkan “dan saudara-saudaranya.” Ismael, saudara Ishak, maupun Esau, saudara Yakub, kedua-duanya ditolak oleh Allah. Tetapi kesebelas saudara Yehuda semuanya dipilih, tidak ada seorang pun di antara mereka yang ditolak oleh Allah. Yehuda dan kesebelas saudaranya menjadi nenek moyang kedua belas suku yang membentuk bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah bagi Kristus. Maka, saudara-saudara Yehuda dihubungkan dengan Kristus. Itulah sebabnya mereka juga termasuk dalam silsilah Kristus.