← Daftar isi Kekuasaan dan Ketaatan · bab 8/10

EKSPRESI PEMBERONTAKAN MANUSIA (1)

Di manakah sebenarnya ekspresi pemberontakan manusia? Pertama, pada tutur kata; kedua, pada alasan; dan ketiga, pada pikiran. Karena itu, jika kita ingin terlepas dari pemberontakan, haruslah kita menanggulangi ketiga perkara tersebut. Jika tidak, kita akan sulit untuk menanggulanginya dengan sesungguhnya.

I. TUTUR KATA

"Terutama mereka yang menuruti hawa nafsunya yang mencemarkan diri dan menghina pemerintahan Allah. Mereka begitu berani dan angkuh, sehingga tidak segan-segan menghujat makhluk-makhluk yang mulia, (pemerintahan, Tl) padahal malaikat-malaikat sendiri, yang sekalipun lebih kuat dan lebih berkuasa daripada mereka, tidak memakai kata-kata hujat, kalau malaikat-malaikat menuntut hukuman atas mereka di hadapan Allah. Tetapi mereka itu sama dengan hewan yang tidak berakal, sama dengan binatang yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan. Mereka menghujat apa yang tidak mereka ketahui, sehingga oleh perbuatan mereka yang jahat, mereka sendiri akan binasa . . ."

(2 Ptr. 2:10-12)

"Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka"

(Ef. 5:6)

"Kendati demikian, orang-orang tukang mimpi ini juga mencemarkan tubuh mereka dan menghina kekuasaan Allah serta menghujat semua yang mulia di surga. Bahkan pemimpin malaikat, Mikhael, dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa, tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan, melainkan berkata: Kiranya Tuhan membentak engkau! Akan tetapi, mereka menghujat segala sesuatu yang tidak mereka ketahui dan justru apa yang mereka ketahui dengan nalurinya seperti binatang yang tidak berakal, itulah yang mengakibatkan kebinasaan mereka"

(Yud. 8-10)

"Hai kamu keturunan ular berbisa, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati"

(Mat. 12:34)

Tutur Kata adalah Jalan Keluar dari Hati

Jika seseorang adalah pemberontak, dari mulutnya pasti akan mengalir keluar kata-kata pemberontakan, cepat atau lambat, mulutnya pasti akan menuturkan kata-kata pemberontakan. Sebab apa yang memenuhi hatinya, akan diucapkan oleh mulutnya. Jika seseorang ingin mengenal kekuasaan, dia harus terlebih dulu berjumpa dengan kekuasaan. Jika seseorang belum pernah berjumpa dengan kekuasaan, bagaimana pun, dia tidak akan dapat taat. Hanya mendengar ajaran tentang ketaatan tidaklah berguna. Harus pernah sekali berjumpa dengan Allah, sehingga dasar kekuasaan Allah terdiri di atas dirinya. Dengan demikian ketika dia berbicara, asalkan ada satu kata yang merupakan perkataan yang tidak taat kepada kekuasaan, bahkan sebelum dia mengucapkan kata-kata itu, di dalamnya sudah merasakan tidak benar, merasakan bahwa dirinya telah melampaui batas, dan di dalam terdapat suatu penghalang. Jika seseorang dengan sembarangan mengucapkan kata-kata pemberontakan, sedangkan di dalamnya tidak ada perasaan larangan, itu menunjukkan bahwa orang itu belum pernah berjumpa dengan kekuasaan. Manusia berbicara dalam pemberontakan jauh lebih mudah daripada melakukan sesuatu dalam pemberontakan.

Lidah merupakan sesuatu yang paling sulit diatur, maka manusia yang tidak taat kepada kekuasaan akan dengan cepat melontarkan kata-kata dengan lidahnya. Ketika berhadapan muka mengatakan, "Ya", tetapi di belakang mengecam; berhadapan tidak mengatakan apa-apa, tetapi di belakang banyak perkataan; sebab menggunakan mulut sangat mudah. Hari ini di dalam dunia, semua manusia memberontak. Paling-paling hanya melayani di depan mata dan taat di depan mata saja. Namun di dalam gereja tidak seharusnya ada ketaatan hanya di depan mata, melainkan harus dari dalam hati. Ingin melihat hati taat atau tidak, lihatlah mulutnya dulu, taat atau tidak. Allah menghendaki hati kita taat. Bagaimanapun kita harus berjumpa dengan kekuasaan, kalau tidak, pasti ada masalah; cepat atau lambat akan meletus.

Hawa dengan Sembarangan Menambahkan Firman Allah

Ketika Hawa digoda dalam catatan Kejadian 3, ia menambahkan kata-kata "jangan . . . raba". Kita harus memperhatikan, betapa seriusnya hal ini. Orang yang mengenal kekuasaan Allah, pasti tidak berani menambahkan perkataan Allah. Perkataan Allah sudah cukup jelas. "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, janganlah kaumakan buahnya." Allah tidak mengatakan, "Tidak boleh diraba," ini adalah tambahan dari Hawa. Orang yang dengan sembarangan mengubah perkataan Allah, menambahkan atau mengurangi perkataan Allah, itu membuktikan bahwa ia belum berjumpa dengan kekuasaan, ia pasti adalah pemberontak, belum pernah menerima pendidikan. Misalnya, pemerintah mengutus seseorang untuk mengatakan sesuatu di suatu tempat. Orang itu harus baik-baik mengingat perkataannya, tidak berani menambah-nambahkan sesuatu. Walaupun Hawa setiap hari berjumpa dengan Allah, namun ia tidak mengenal kekuasaan, karena itu, ia sembarangan berbicara, mengira menambahkan atau mengurangi perkataan Allah itu tidak mengapa. Orang yang melayani tuannya yang di bumi saja tidak berani sembarangan menambahkan atau mengurangi perkataan tuannya, apa lagi kita yang melayani Allah? Jika seseorang berbicara dengan sembarangan, itu membuktikan dia adalah seorang pemberontak.

Ham Menyebarkan Kegagalan Ayahnya

Mari kita lihat lagi pernyataan dari anak-anak Nuh. Ham melihat ayahnya telanjang, lalu ia memberitahukan hal itu kepada Yafet dan Sem. Orang yang tidak taat, dalam hatinya selalu mengharapkan kekuasaan gagal. Ham menemukan kesempatan, lalu menyebarkannya kesalahan ayahnya. Ini membuktikan dia tidak taat kepada kekuasaan ayahnya. Di waktu-waktu yang biasa, dia tertekan, dan taat secara terpaksa. Sekarang, dia telah melihat kelemahan dan kesalahan ayahnya, segera dia menyebarkannya kepada kedua saudaranya. Banyak saudara saudari yang senang mengeritik orang, senang membongkar atap orang, ini dikarenakan tidak ada kasih. Di sini, Ham tidak saja tidak memiliki kasih, juga tidak memiliki ketaatan. Inilah ekspresi pemberontakan.

Miryam dan Harun Mencela Musa

Bilangan 12 mencatat Miryam dan Harun mencela Musa, mereka melibatkan urusan keluarga ke dalam pekerjaan. Dalam panggilan Allah, Musa adalah yang "berdiri sendiri", sedangkan Miryam dan Harun adalah "pelengkap". Ini adalah ketetapan Allah. Namun kedua orang itu tidak taat, lalu dengan perkataan mencela. Jika kita mengenal kekuasaan, kita akan dapat menutup banyak mulut, juga dapat menutup banyak masalah. Begitu berjumpa dengan kekuasaan, segala masalah alamiah akan berlalu. Miryam seolah-olah tidak mengatakan perkataan yang keterlaluan. Dia hanya mengatakan, "Masakan Allah hanya berbicara kepada Musa, bukan juga kepada kita?" Namun pengertian Allah terhadap perkataannya itu adalah menghujat. Mungkin masih banyak kata-kata yang belum diucapkan mereka, bagaikan es batu yang sepersepuluh saja yang muncul di permukaan, masih ada sembilan per sepuluh yang tertutup dibawah permukaan air. Asalkan dalam manusia ada roh pemberontak, meskipun diucapkan dalam perkataan yang halus, Allah sudah tahu. Ekspresi pemberontakan terdapat pada perkataan. Kata-kata itu, tidak peduli berat atau ringan, tetap adalah pemberontakan.

Perkumpulan Korah Menyerang Musa

Dalam catatan Bilangan 16, kita lihat peristiwa pemberontakan pengikut Korah dan 250 orang pemimpin. Ini lebih-lebih diekspresikan melalui tutur kata mereka. Apa yang terkandung dalam hati mereka, itu jugalah yang keluar dari mulut mereka, bahkan mereka mencaci maki. Walaupun Miryam mencela, namun masih ada batasnya, karena itu ia masih dapat dipulihkan. Tetapi pengikut Korah ini sama sekali tidak mengenal batas, tumpah keluar bagaikan air bah. Pemberontakan ada tingkatannya. Ada orang yang mau menderita malu, ia masih dapat dipulihkan. Tapi jika orang sama sekali bebas, sama sekali tidak terikat, maka ia telah membuka pintu bagi alam maut, dan alam maut akan menelannya. Mereka tidak hanya mengecam, bahkan menyerang dengan terang-terangan, serius sedemikian rupa sehingga Musa sujud di hadapan Allah. Betapa kerasnya perkataan mereka! "Kalian telah berkuasa sendiri, kalian telah meninggikan diri sendiri, melampaui umat Allah. Kami hanya mengakui bahwa Yehovah berada di antara umat-Nya. Sebab seluruh umat adalah suci. Kami tidak mengakui kekuasaanmu. Kamulah yang mengangkat diri sendiri." Di sini kita nampak, hanya mau mendengar kekuasaan langsung Allah, tetapi tidak mau mendengar wakil kekuasaan Allah, itu adalah prinsip pemberontakan.

Orang yang taat kepada kekuasaan, pasti akan membatasi mulutnya, tidak berani sembarangan. Ketika Paulus diadili dalam catatan Kisah Para Rasul 23, ia sebagai rasul, juga sebagai nabi. Ia berdiri di atas kedudukan nabi, dan berkata kepada Ananias, Imam Besar itu, "Allah akan menampar engkau, hai tembok yang dikapur putih!" Namun di aspek lain, Paulus pun adalah seorang Yahudi. Ketika ia tahu bahwa Ananias adalah Imam Besar, ia segera taat, dan perkataannya beralih, "Janganlah engkau berkata jahat tentang seorang pemimpin bangsamu." Ia sangat berhati-hati dalam berbicara, ia mengendalikan mulutnya sendiri.

Pemberontakan Berkaitan dengan Menuruti Hawa Nafsu Daging

Manusia memberontak, juga mempunyai hubungan khusus dengan mengumbar hawa nafsu daging. Dua Petrus 2:10 terlebih dulu mengatakan tentang hawa nafsu daging, kemudian mengatakan tentang menghina pemerintahan Allah. Jadi, menghina perintahan Allah ternyata dalam hal menghujat, yaitu ternyata dalam kata-kata yang memberontak.

Orang yang bagaimana, tentu tinggal di antara orang yang bagaimana dan bergaul dengan orang yang bagaimana pula. Orang yang memberontak selalu bersama dengan orang yang menuruti hawa nafsu daging; orang yang memberontak selalu bersama dengan orang yang menghamburkan hawa nafsu; orang yang memberontak selalu bersama dengan orang yang menghina pemerintahan Allah. Jadi, menuruti daging, menghamburkan hawa nafsu, dan menghina pemerintahan Allah, dalam pandangan Allah adalah sama. Orang yang demikian adalah orang yang begitu berani dan angkuh, yang menghujat kemuliaan, dan yang tidak merasa takut. Namun orang yang mengenal Allah akan mengkhawatirkan mereka. Mulut mempunyai keinginannya, yaitu senang mengutarakan kata-kata kecaman. Jika Anda mengenal Allah, Anda akan menyesal dan membenci, karena Anda tahu, bahwa Allah membenci hal-hal itu. Malaikat-malaikat pernah sesaat berada di bawah pemerintah-pemerintah yang ditetapkan oleh Allah, karena itu tidak berani dengan hujat untuk mengatai mereka, juga tidak berani menanggulangi roh yang tidak berdiri pada kedudukannya, dengan cara yang tidak berdiri pada kedudukan pula. Sebab itu, di hadapan Allah, kita juga tidak dapat mengatai orang dengan kata-kata hujat. Kita harus memperhatikan, kadang-kadang dalam berdoa pun mungkin kita menggunakan kata-kata hujat. Daud dapat mengatakan Saul adalah orang yang diurapi, ini menyatakan bahwa dirinya adalah orang yang berdiri pada posisinya. Kekuatan Iblis didirikan di atas dasar yang bukan kedudukannya, tetapi malaikat-malaikat mau berdiri pada kedudukan yang semestinya. Petrus mengambil peristiwa itu sebagai contoh untuk diperlihatkan kepada kita, demikianlah sikap para malaikat di surga, kita lebih-lebih harus demikian.

Ada dua penyebab hilangnya kekuatan orang Kristen. Pertama, karena dosa; kedua, karena tutur kata hujat. Lebih banyak perkataan hujat, lebih banyak pula kekuatan yang hilang. Jika seorang di dalam hatinya tidak taat, namun belum diucapkan dalam bentuk perkataan, kekuatannya masih belum terlalu hilang. Namun pengaruh perkataan kepada kekuasaan, jauh lebih besar, lebih besar daripada apa yang kita pikirkan.

Pikiran dan kelakuan manusia dalam pandangan Allah adalah sama; asalkan ada pikiran itu, sudahlah berdosa dalam hal itu. Namun di aspek lain, Matius 12:34-37 mengatakan, "Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati . . . pada hari penghukuman, menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum." Ini menunjukkan kepada kita bahwa perkataan dan pikiran ada bedanya. Jika tanpa perkataan, masih dapat ditutupi, tetapi begitu keluar perkataan, segalanya akan tersingkap. Maka, tidak taat dalam hati masih lebih baik daripada diungkapkan dalam perkataan. Hari ini kekuatan orang Kristen yang bocor dari mulut tidak lebih sedikit daripada yang bocor dari kelakuan. Sebenarnya, lebih banyak yang bocor dari mulut. Orang-orang yang memberontak adalah orang-orang bermasalah dengan mulutnya. Jadi, orang yang tidak dapat mengendalikan dirinya dalam hal bertutur kata, ia tidak akan dapat mengendalikan dirinya dalam hal apa saja.

Allah dengan Perkataan yang Paling Berat Menegur Pemberontak

Mari kita baca lagi 2 Petrus 2:12, "Tetapi mereka itu sama dengan hewan yang tidak berakal, sama dengan binatang yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan." Ini adalah perkataan yang paling berat di dalam Alkitab. Tidak ada kata-kata teguran sedemikian keras di tempat lainnya. Mengapa dikatakan seperti hewan? Sebab mereka tanpa akal, tanpa perasaan. Dalam Alkitab, kekuasaan adalah perkara yang paling inti, sebab itu dalam pandangan Allah, hujat merupakan dosa yang paling berat. Mulut kita tidak boleh sembarangan berkata. Jika seseorang telah berjumpa dengan Allah, mulutnya pasti terkendali, tidak berani menghujat yang mulia. Begitu berjumpa dengan kekuasaan, hatinya akan memiliki perasaan kekuasaan. Sama halnya kita berjumpa dengan Tuhan, segera memiliki perasaan berdosa.

Kesulitan dalam Gereja Sering Dikarenakan Perkataan Hujat

Terpecahnya kesatuan gereja dan terusaknya kekuasaan gereja, sering dikarenakan perkataan ceroboh dari mulut manusia. Sebagian besar problema dalam gereja hari ini berasal dari perkataan hujat, hanya sebagian kecil yang benar-benar berasal dari kesulitan yang sesungguhnya. Sebagian besar dari dosa-dosa di dalam dunia juga berasal dari dusta. Jika di dalam gereja perkataan-perkataan hujat disingkirkan, sebagian besar dari kesulitan akan lenyap. Kita perlu mengaku dosa di depan Tuhan, mohon pengampunan-Nya. Perkataan-perkataan yang jahat perlu diakhiri dengan tuntas dalam gereja. Dari satu mata air tidak dapat keluar dua macam air. Dari satu mulut tidak boleh keluar perkataan kasih dan perkataan yang mengecam (hujat). Kiranya Allah mengawasi mulut kita, dan bukan hanya mulut kita, tetapi juga hati kita, sehingga semua perkataan dan pikiran yang mengecam bisa dihentikan. Kiranya perkataan hujat lenyap dari antara kita mulai saat ini.

II. ALASAN

"Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, -- supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya -- dikatakan kepada Ribka: Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda, seperti ada tertulis: Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau. Jika demikian, apa yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! Sebab Ia berfirman kepada Musa: Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan, dan akan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati. Jadi, hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada belas kasihan Allah. Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: Itulah sebabnya Aku mengangkat engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyurkan di seluruh bumi. Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia mengeraskan hati siapa yang dikehendaki-Nya. Sekarang kamu akan berkata kepadaku: Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkan-Nya? Sebab siapa yang menentang kehendak-Nya? Siapakah engkau , hai manusia, maka engkau membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: Mengapa engkau membentuk aku demikian? Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu bejana untuk tujuan yang mulia dan yang lain untuk tujuan yang biasa? Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap bejana-bejana kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan -- justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas bejana-bejana belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan, yaitu kita, yang telah dipanggil-Nya bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain"

(Rm. 9:11-24)

Kata-kata Kecaman Berasal dari Alasan

Pemberontakan manusia ternyata dalam tutur katanya, ternyata dalam alasannya, dan ternyata dalam pikirannya. Orang yang tidak mengenal kekuasaan, akan mengeluarkan kata-kata kecaman, dan itu berasal dari alasan, ia merasa mempunyai alasan. Karena Nuh telanjang, maka Ham mempunyai alasan untuk mencelanya. Miryam mengatai Musa karena dia mengawini perempuan Kusy, ini adalah satu fakta dan beralasan pula. Namun orang yang taat kepada kekuasaan dan yang hidup di bawah kekuasaan, tidak akan hidup di dalam alasan. Misalkan juga, pengikut Korah dan 250 orang pemimpin yang mengatakan bahwa seluruh umat adalah kudus suci dan Yehovah pun berada di tengah-tengah mereka, mengapa Musa dan Harun meninggikan diri melampaui umat TUHAN? Pemberontakan orang-orang itu pun beralasan. Perkataan kecaman sering berasal dari alasan. Datan dan Abiram lebih-lebih mempunyai alasan yang penuh. Mereka berkata kepada Musa, "Kamu tidak membawa kami ke tempat yang berlimpah-limpah dengan susu dan madu, dan tidak memberikan kepada kami sawah ladang dan kebun anggur sebagai tanah pusaka kami. Di sini adalah padang gurun. Kamu hanya ingin mengelabui mata kami. Masakan kamu hendak mencungkil mata kami?" Ini berarti, bahwa mata kami dapat melihat dengan jelas. Semakin berpikir, mereka semakin beralasan. Alasan itu memang tidak tahan pikiran. Semakin dipikir, alasan itu semakin menjadi-jadi. Orang-orang dunia semua hidup di dalam alasan. Kalau kita juga hidup di dalam alasan, kita tidak ada bedanya dengan orang dunia.

Harus Menanggalkan Alasan untuk Mengikuti Tuhan

Kita sungguh-sungguh perlu menutup mata dan mengikuti Tuhan tanpa alasan. Sebenarnya, kehidupan kita ini berdasarkan alasan atau berdasarkan kekuasaan? Banyak orang, begitu disoroti oleh terang Tuhan, matanya segera menjadi buta. Meskipun mereka memiliki mata, namun seakan-akan tidak memilikinya. Begitu terang menyorot, semua alasan lenyap. Begitu Paulus diterangi dalam perjalanan ke Damsyik, ia benar-benar buta. Sejak saat itu, dia tidak lagi beralasan. Mata Musa tidak buta, tetapi dia seperti orang yang tidak memiliki mata. Bukannya dia tidak mempunyai alasan, dia mempunyai banyak alasan. Tetapi karena dia taat kepada Allah, semua alasan dikesampingkan. Orang yang taat kepada kekuasaan tidak bertindak berdasarkan penglihatan. Orang yang melayani Allah harus "buta", harus terlepas dari hidup berdasarkan alasan. Alasan dalam hati adalah penyebab pertama pemberontakan. Kalau kita tidak dengan tuntas menanggulangi perkara beralasan, maka perkataan kita tidak akan terkendali. Kalau kita tidak diselamatkan Tuhan terlepas dari beralasan, cepat atau lambat, alasan akan menghasilkan kata-kata hujat.

Betapa sulitnya seseorang terlepas dari hidup berdasarkan alasan. Kita adalah makhluk yang beralasan (rasional), bagaimana mungkin kita tidak beralasan dengan Allah? Ini adalah perkara yang sangat sulit. Kita sudah beralasan sejak masih muda. Sebelum kita percaya Tuhan sampai sekarang, prinsip dasar hidup kita adalah alasan. Bagaimana kita dapat menghentikannya sekarang? Ini benar-benar meminta "nyawa" daging kita! Jadi ada dua macam orang Kristen: yang satu hidup pada tingkatan alasan, dan yang lain hidup pada tingkatan kekuasaan. Orang harus taat begitu ada perintah. Pada tingkatan mana kita hidup? Ketika Allah memberikan perintah, apakah kita mempertimbangkannya dulu; kita taat bila alasannya tidak memadai dan kita tidak mau taat, bila alasannya tidak memadai? Oh, ini adalah ekspresi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat tidak hanya membuat kita membedakan hal-hal dalam diri kita, juga hal-hal yang ditetapkan oleh Allah, semuanya harus melewati alasan dan penilaian diri sendiri. Aku dapat beralasan dan bahkan menilai Allah, inilah prinsip Iblis. Iblis ingin menjadi sama dengan Allah. Orang-orang yang mengenal Allah hanya memiliki ketaatan, pada mereka tidak ada alasan. Ketaatan dan beralasan tidak pernah bersatu. Jika seseorang ingin belajar taat, dia harus membuang alasan. Dia hanya bisa hidup bersandarkan kekuasaan Allah, atau hidup bersandarkan alasan. Dia tidak bisa hidup bersandarkan kedua-duanya. Tuhan Yesus sepenuhnya menempuh hidup yang menyingkirkan alasan di bumi. Apa alasan dari penghinaan, siksaan, dan penyaliban yang diderita-Nya? Tetapi Dia taat di bawah kekuasaan Allah. Dia tidak mempedulikan alasan. Dia hanya taat. Dia tidak bertanya tentang yang lain. Betapa sederhananya orang yang hidup di bawah kekuasaan. Burung-burung di udara dan bunga bakung di padang menempuh hidup yang sederhana. Semakin seseorang hidup di bawah kekuasaan, semakin sederhana hidupnya.

Allah Tidak Pernah Beralasan

Dalam Roma 9 Paulus mencoba membuktikan kepada orang-orang Yahudi bahwa Allah juga telah memanggil orang-orang kafir, bangsa-bangsa lain. Dia mengatakan, tidak semua keturunan Abraham dipilih, hanya Ishak yang dipilih. Dan tidak semua keturunan Ishak dipilih, hanya Yakub yang dipilih Allah. Karena segalanya tergantung pada pemilihan Allah, tidak dapatkah Allah memilih orang kafir juga? "Allah akan menaruh belas kasihan kepada siapa Dia mau menaruh belas kasihan dan akan bermurah hati kepada siapa Dia mau bermurah hati." Allah mengasihi Yakub yang licik, tetapi membenci Esau yang jujur. Dia juga mengeraskan hati Firaun. Lalu, dipandang dari sudut manusia, apakah Allah tidak adil? Kita harus sadar, bahwa Allah duduk di takhta kemuliaan-Nya, dan manusia berada di bawah kekuasaan-Nya. Siapakah kita, selain orang yang fana, rendah, dan tidak lebih dari debu? Bagaimana kita dapat beralasan dengan Allah?

Dia adalah Allah. Dia memiliki kekuasaan untuk melakukan banyak hal. Anda tidak bisa mengikuti Allah di satu pihak, sedangkan di pihak lain memaksa Dia mendengarkan alasan Anda. Jika Anda ingin melayani Dia, Anda harus membuang semua alasan. Setiap orang yang telah berjumpa dengan Allah, harus membuang semua alasannya. Kita hanya dapat berdiri pada kedudukan taat, kita tidak dapat berdiri pada kedudukan perantara, atau bertindak sebagai penasihat Allah. Allah berkata, "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan. Betapa indahnya kata "akan (mau)" ini. Kita harus menyembah Allah untuk hal ini. Allah sama sekali tidak beralasan. Allah mau melakukan ini, Dia senang melakukan ini, Dia adalah Allah yang mulia. Paulus melanjutkan perkataannya, "Jadi, hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada belas kasihan Allah." Allah berfirman kepada Firaun, "Aku mengangkat engkau, supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau." Selanjutnya dikatakan, "Allah mengeraskan hati siapa yang dikehendaki-Nya." Mengeraskan tidak berarti menyuruhnya berdosa. Perkataan itu berarti "membiarkan" seperti yang dicatat dalam bab 1. Sampai di sini Paulus merasakan, bahwa nantinya akan ada banyak alasan, "Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkan-Nya? Sebab siapa yang menentang kehendak-Nya?" Alasan ini sangat sah, banyak orang yang akan menyetujuinya. Paulus juga tahu bahwa perkataan ini cukup beralasan dan bisa dipahami. Tetapi dia menjawab, "Siapakah engkau, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: Mengapa engkau membentuk aku demikian?" Paulus tidak menjawab alasan itu. Sebaliknya, dia bertanya, "Siapakah engkau?" Paulus tidak mengatakan, "Perkataan macam apa yang kalian katakan?" Tidak. Sebaliknya, dia bertanya, "Orang macam apakah kamu, sehingga kamu berani membantah Allah?" Ketika Allah melaksanakan kekuasaan-Nya, Dia tidak perlu membicarakannya dengan Anda lebih dulu, Dia tidak perlu usul atau saran Anda. Yang diminta-Nya dari Anda hanyalah ketaatan Anda kepada-Nya. Asalkan Anda berkata, "Ini adalah pekerjaan Allah", semuanya akan baik.

Manusia selalu mencoba beralasan. Tetapi renungkanlah, apakah keselamatan kita didukung oleh alasan? Dalam hal beroleh selamatnya diri kita, sama sekali tidak ada alasan. Saya tidak berkehendak, tidak berusaha, dan juga tidak berlari mengejarnya. Tetapi saya beroleh selamat. Ini adalah perkara yang paling tidak beralasan. Tetapi Allah mau menaruh belas kasihan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Penjunan (tukang keramik) dapat membuat suatu bejana yang terhormat dan suatu bejana yang tidak terhormat dari suatu gumpalan tanah yang sama. Di sini hanya ada masalah kekuasaan, tidak ada masalah alasan. Persoalan dasar dari manusia hari ini adalah: manusia masih berada di bawah prinsip pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, prinsip alasan. Jika Alkitab penuh dengan alasan, maka kita bisa selalu beralasan. Tetapi dalam Roma 9, Allah telah dengan khusus membuka sebuah jendela dari surga untuk menyoroti kita. Dia tidak beralasan dengan kita, Dia hanya bertanya, "Siapakah engkau?"

Nampak Kemuliaan Allah akan Melepaskan Kita dari Alasan

Tidaklah mudah bagi manusia untuk terlepas dari perkataan hujat, lebih-lebih terlepas dari alasan. Ketika saya masih muda, saya selalu terganggu oleh tindakan Allah yang tidak beralasan. Suatu hari, ketika saya membaca Roma 9, saya untuk pertama kalinya menjamah kekuasaan Allah. Saya mulai melihat siapakah diri saya. Saya adalah ciptaan-Nya. Alasan saya paling-paling hanya merupakan ketegaran (pembangkangan) di hadapan-Nya. Allah yang jauh di atas segalanya tidak dapat didekati dalam kemuliaan-Nya. Jika kita nampak satu per sejuta bagian dari kemuliaan-Nya saja, kita akan rebah ke tanah dan membuang semua alasan kita. Hanya orang yang hidup jauh dari Allah yang bisa sombong, dan hanya orang yang hidup dalam kegelapan yang tinggal dalam alasan. Tidak ada satu orang pun di seluruh dunia yang dapat melihat dirinya sendiri dengan terang obornya sendiri. Hanya bila Tuhan memberi kita sedikit terang, dan mewahyukan kepada kita sedikit kemuliaan-Nya, kita akan jatuh dan rebah seperti orang mati, seperti yang dialami rasul Yohanes.

Kiranya Allah membelas kasihani kita, sehingga kita nampak bahwa sampai hari ini betapa tidak layak dan rendahnya diri kita, bagaimana mungkin kita berani berbantah-bantah dengan Allah? Ketika ratu dari selatan datang mengunjungi raja Salomo, dan raja Salomo memperlihatkan sedikit dari kemegahannya kepadanya, ratu itu tercengang dan terbanglah semangatnya. Di sini ada satu Orang yang lebih besar daripada Salomo. Apakah alasanku yang sangat kecil itu tidak bisa disingkirkan? Adam berdosa karena dia makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Sejak saat itu dan seterusnya, alasan telah berakar di dalam diri manusia. Tetapi asal kemuliaan Tuhan sedikit saja menyoroti kita, kita akan nampak bahwa kita tidak lebih dari seekor anjing mati, segumpal tanah liat. Semua alasan kita akan lenyap dalam kemuliaan-Nya. Semakin lama seseorang hidup dalam kemuliaan, semakin sedikitlah alasannya. Di pihak lain, semakin Anda melihat seseorang beralasan, Anda akan tahu bahwa dia tidak pernah melihat kemuliaan.

Selama tahun-tahun ini saya telah belajar satu perkara -- pekerjaan Allah tidak pernah dilakukan berdasarkan alasan. Bahkan sekalipun saya tidak mengerti sama sekali apa yang Tuhan lakukan, saya tetap harus menyembah-Nya karena saya adalah hamba-Nya. Jika segala yang dilakukan-Nya sudah saya pahami dan ketahui, mungkin saya layak menjadi orang yang duduk di takhta. Begitu saya nampak Dia jauh di atas diri saya, bahwa hanya Dialah yang Mahatinggi, dan saya harus rebah ke tanah, semua alasan segera lenyap. Sejak hari ini, kekuasaan hanya merupakan fakta, bukan alasan atau benar dan salah. Orang-orang yang mengenal Allah pasti akan mengenal dirinya sendiri. Dan begitu seseorang mengenal dirinya sendiri, semua alasan akan lenyap.

Jalan untuk mengenal Allah adalah ketaatan. Setiap orang yang tinggal dalam alasan, tidak mengenal Allah. Hanya orang yang dengan rela taat kepada kekuasaanlah yang dapat dengan sungguh-sungguh mengenal Allah. Semua pengetahuan tentang yang baik dan jahat yang kita warisi dari Adam harus disingkirkan. Sejak kini, ketaatan kita akan menjadi lebih mudah.

"Akulah TUHAN" adalah Alasan

Dalam Imamat 18-22, setiap kali Tuhan memerintahkan orang Israel melakukan sesuatu, di antara perintah-perintah itu Dia menyisipkan perkataan, "Akulah TUHAN." Tidak ada satu pun kata "karena". Aku berkata demikian, karena Aku adalah TUHAN. Tidak ada alasan yang lain. "Akulah TUHAN" adalah alasannya. Jika Anda nampak hal ini, sejak kini Anda tidak akan hidup berdasarkan alasan lagi. Anda harus berkata kepada Allah, "Di masa lalu aku telah menempuh hidup berdasarkan pikiran dan alasanku. Hari ini, aku berlutut dan menyembah-Mu. Asalkan sesuatu berasal dari-Mu, cukuplah. Aku mau menyembah-Mu." Setelah Paulus jatuh rebah dalam perjalanan ke Damsyik, semua alasan lenyap dari dirinya. Begitu terang menyorot, manusia segera jatuh. Perkataan pertama yang keluar dari mulut Paulus adalah, "Tuhan, apa yang harus kuperbuat?" Dia segera menjadi taat. Semua orang yang mengenal Allah, tidak akan beralasan. Ketika terang menghakimi, alasan pun lenyaplah.

Jika manusia beralasan dengan Allah, berarti dia berkata bahwa pekerjaan Allah memerlukan usul atau saran dari manusia. Inilah pikiran orang yang paling bodoh. Allah tidak perlu memberitahu kita alasan dari segala perkara yang dilakukan-Nya. Jalan Allah lebih tinggi daripada jalan kita. Jika kita menarik Allah ke bawah sampai ke tingkat alasan, kita tidak akan memiliki Allah lagi, karena Allah tidak lagi berbeda dengan kita. Jika kita beralasan, tidak akan ada lagi penyembahan. Bila ketaatan tidak ada, penyembahan pun tidak ada. Bila hal itu terjadi, diri atau ego manusia akan menjadi hakim Allah dan bahkan menganggap diri sediri sebagai Allah. Apa bedanya tukang keramik dengan gumpalan tanah liat? Perlukah tukang keramik minta izin dari tanah liat itu untuk melakukan sesuatu? Kiranya penyataan kemuliaan Allah membuat semua alasan kita lenyap.