← Daftar isi Kekuasaan dan Ketaatan · bab 7/10

KEKUASAAN TUBUH

"Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan semua anggota tubuh itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus . . . . Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. Andaikata kaki berkata: Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Andaikata telinga berkata: Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh"

(1 Kor. 12:12-21)

"Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatkannya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Sesungguhnya Aku aku berkata kepadamu: Apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga, dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga"

(Mat. 18:15-18)

TUBUH ADALAH TEMPAT EKSPRESI TERTINGGI DARI KEKUASAAN

Ekspresi tertinggi dari kekuasaan Allah ada di dalam Tubuh Kristus -- gereja. Walaupun Allah telah menetapkan sistem kekuasaan di dalam dunia, tetapi tidak ada satu pun dari hubungan dalam pemerintahan, atau antara ayah dengan anak, suami dengan istri, dan tuan dengan hamba, dapat menyatakan kekuasaan dengan sempurna. Walaupun Allah telah menetapkan banyak kekuasaan di bumi, semua itu tidak lebih dari sistem kekuasaan yang ditetapkan oleh Allah. Manusia mungkin menaati sistem kekuasaan itu di luaran tanpa menaatinya di dalam. Misalnya, pemerintah mengumumkan suatu undang-undang, rakyat dapat menaatinya dari dalam hati mereka, atau menaati tetapi bukan dari dalam hati mereka; tidak ada yang tahu siapa yang menaati dengan kesungguhan hati atau sebaliknya. Demikian pula, tidak ada yang tahu apakah ketaatan seorang anak kepada orang tuanya berasal dari dalam hatinya atau hanya ketaatan secara luaran dan perbuatan saja. Maka, ketaatan kepada kekuasaan tidak bisa diwakili dengan ketaatan anak kepada orang tua, atau ketaatan hamba kepada majikannya, dan lebih-lebih tidak bisa diwakili oleh ketaatan rakyat kepada pemerintahnya. Tanpa ketaatan, tentu saja tidak dapat didirikan kekuasaan Allah; ada ketaatan luaran namun tidak ada ketaatan yang di dalam, juga belum dapat mendirikan kekuasaan Allah. Di samping itu, ketaatan-ketaatan semacam itu adalah didasari hubungan antar manusia: yaitu hubungan antar orang tua dengan anak, antar majikan dengan hamba; orang tua bisa dipisahkan dengan anak, majikan bisa dipisahkan dengan hamba. Maka, kita tidak menemukan ketaatan yang mutlak dan sempurna dalam hubungan antar pihak-pihak tersebut.

Hanya Kristus dan gereja yang memiliki ekspresi tertinggi dari kekuasaan dan ketaatan. Allah tidak menetapkan gereja sebagai suatu organisasi, melainkan menjadikannya Tubuh Kristus. Kita mengira gereja adalah perkumpulan kaum beriman yang memiliki kepercayaan yang sama, atau merupakan suatu perkumpulan dalam kasih. Tetapi Allah melihat secara berbeda. Gereja bukan hanya suatu perkumpulan dalam iman atau kasih, melainkan suatu Tubuh. Gereja adalah Tubuh Kristus, dan Kristus adalah Kepala gereja. Orang tua dan anak, majikan dan hamba, atau bahkan suami dan istri, dapat dipisahkan, tetapi tubuh tidak dapat dipisahkan dengan kepala, keduanya selamanya bersatu. Demikian pula Kristus dan gereja tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Pada Kristus dan gereja terdapat ketaatan yang mutlak, kekuasaan yang mutlak, yang jauh melebihi semua kekuasaan dan ketaatan lain. Walaupun orang tua mengasihi anak-anaknya, namun mereka bisa berbuat salah; mereka bisa menyalahgunakan kekuasaan mereka. Pemerintah bisa memberikan perintah yang salah. Kekuasaan seorang majikan juga bisa salah. Dalam dunia, tidak hanya tidak ada ketaatan yang sempurna, kekuasaan pun tidaklah sempurna. Karena itu, Allah harus menetapkan kekuasaan yang sempurna dan ketaatan yang sempurna, yaitu Kristus dan gereja, Kepala dan Tubuh. Ada orang tua yang melukai anaknya, ada suami yang menyakiti istrinya, ada majikan yang melukai hambanya, ada pemerintah yang menyakiti rakyatnya. Tetapi tidak ada kepala yang menyakiti tubuhnya sendiri. Sebab itu, kekuasaan kepala tidak bisa salah, melainkan sempurna. Kemudian, lihatlah ketaatan tubuh kepada kepala, ketaatan itu pun sempurna. Asalkan kepala memiliki satu keinginan, jari akan bergerak, tidak perlu perkataan, tidak perlu paksaan, semuanya berlangsung dengan harmonis. Kehendak Allah adalah agar kita taat dengan sempurna. Kita harus dibawa oleh Allah kepada satu keadaan yang seperti tubuh taat kepada kepala. Hanya dengan demikianlah Allah dipuaskan. Ini tidak bisa diwakili oleh suami dan istri atau lainnya. Kekuasaan berasal dari Dia, ketaatan juga berasal dari Dia. Kekuasaan dan ketaatan adalah satu perkara. Tidak seperti dunia, kekuasaan dan ketaatan adalah dua hal yang berbeda. Untuk menggerakkan tubuh, kepala tidak perlu mengerahkan tenaga untuk memberikan perintah, begitu pikiran muncul, tubuh akan bergerak. Ada ketaatan yang sempurna dalam hubungan kepala dengan tubuh. Jika kita hanya dapat taat sampai tahap anak-anak taat kepada orang tua, atau istri taat kepada suami, Allah tidak akan puas. Allah menginginkan ketaatan kita seperti tubuh taat kepada kepala. Ketaatan ini bukan ketaatan karena paksaan, seperti yang tampak dalam bangsa-bangsa, melainkan ketaatan tubuh kepada kepala. Asalkan kepala memiliki sedikit pikiran (maksud), segera ada ketaatan yang harmonis.

Jika di hadapan Allah Anda sering taat, Anda akan mengetahui bahwa perintah Allah dan kehendak Allah sepenuhnya berbeda. Perintah adalah perkataan dari mulut Allah, dan kehendak adalah suatu pikiran yang berasal dari hati Allah. Perintah perlu diucapkan, tetapi kehendak belum tentu perlu diutarakan. Tuhan Yesus taat tidak hanya kepada perkataan Allah, tetapi juga kepada kehendak-Nya. Kapan saja ada kehendak Allah, Tuhan bergerak dan bertindak. Allah harus menggarapkan ke dalam Kristus dan gereja suatu hubungan antara Kristus dengan Bapa. Allah harus bekerja di dalam kita sampai kita dapat taat kepada Kristus dengan cara yang sama seperti Kristus taat kepada Allah. Dalam bagian pertama dari pekerjaan-Nya, Allah membuat diri-Nya menjadi Kepala Kristus. Dalam bagian kedua dari pekerjaan-Nya, Allah menjadikan Kristus Kepala gereja. Allah akan bekerja sampai ada ketaatan, bahkan tanpa memerlukan penanggulangan dari Roh Kudus, begitu Dia memiliki satu keinginan, kita bisa segera taat. Dalam bagian ketiga dari pekerjaan Allah, Allah akan membuat kerajaan-kerajaan di bumi menjadi Kerajaan Tuhan dan Kristus-Nya. Bagian pertama telah rampung, bagian ketiga masih belum datang. Hari ini kita berada di bagian kedua. Jika pekerjaan dalam bagian kedua belum rampung, bagian ketiga tidak dapat dimulai. Apakah kita di sini taat dan memberikan jalan yang bebas hambatan kepada Allah, atau kita tidak taat dan memberikan gangguan kepada Allah? Dalam alam semesta ini, Allah "belum" mendapatkan kekuasaan, kecuali Dia telah mendapatkan tempat yang menampilkan kekuasaan-Nya dengan sempurna, dan tempat itu adalah gereja. Gereja adalah bagian tengah, adalah titik peralihan. Sebab itu, kemuliaan yang Allah berikan kepada kita juga adalah kemuliaan yang paling banyak. Tanpa melihat kekuasaan, tidak akan ada jalan untuk maju. Jika perkara ini tidak terbereskan di dalam kita, perkara ini tidak mungkin terbereskan dalam diri orang lain. Kita semua mengemban tanggung jawab untuk menampilkan kekuasaan.

TUBUH TAAT KEPADA KEPALA

DENGAN SANGAT SPONTAN DAN HARMONIS

Hari ini Allah telah menyiapkan segalanya. Tubuh dan Kepala sudah memiliki hayat dan sifat yang sama. Sebab itu, ketaatan sangatlah spontan, sebaliknya, tidak taat adalah suatu keadaan yang aneh. Misalnya, tangan diangkat menurut keinginan kepala, tidak ada yang aneh dalam hal ini. Tetapi jika tangan tidak dapat bergerak, hal ini adalah suatu keanehan, jangan-jangan tangan itu sedang sakit. Roh hayat yang Allah berikan kepada kita sama dengan yang ada di dalam Tuhan, hayat dan sifat yang Allah berikan kepada kita sama dengan yang ada di dalam Tuhan. Di sini kembali tidak ada kemungkinan ketidak-harmonisan dan ketidak-taatan. Gerakan tubuh kita ada yang terjadi melalui kesadaran, ada juga yang terjadi tanpa kesadaran. Keesaan tubuh dengan kepala tidak hanya tergantung pada ketaatan yang sadar, juga pada ketaatan yang tidak disadari. Seperti halnya bernafas. Sesekali kita bernafas dalam-dalam dengan sadar, namun ada pula pernafasan biasa yang spontan dan tidak kita sadari. Misalnya lagi, jantung yang berdenyut tanpa kita sadari; tidak perlu diperintah, jantung itu sudah berdenyut sendiri. Inilah ketaatan dalam hayat. Agar tubuh taat kepada kepala, tidak perlu ribut-ribut, tidak ada paksaan dan tidak ada gesekan (perselisihan), Semuanya berlangsung dengan harmonis. Tidaklah cukup jika seseorang hanya taat kepada perintah. Dalam perintah ada kehendak, dan dalam kehendak ada hukum hayat. Taat kepada hukum hayat, barulah ketaatan itu sempurna. Jika ketaatan tidak seperti ketaatan tubuh kepada kepala, itu tidak bisa disebut ketaatan. Banyak orang menampilkan ketaatan mereka disertai rasa terpaksa, itu tidak terhitung sebagai ketaatan.

Tuhan telah menaruh kita ke dalam Tubuh. Di sini, kesatuannya adalah sempurna, ketaatannya juga sempurna. Pikiran Roh Kudus pun "dapat diatur" oleh anggota-anggota Tubuh, ini benar-benar ajaib! Tidak mungkin memisahkan dua anggota tubuh, dan menjadikan masing-masing anggota itu satu satuan yang utuh. Suatu keharmonisan terjalin di antara anggota-anggota itu secara spontan, bahkan tidak perlu memikirkan ketaatan ini. Keharmonisannya jauh melampaui pengutaraan manusia dan ketaatannya kepada kekuasaan adalah ketaatan yang paling sempurna. Karena itu, kita tidak bisa menjadi anggota tubuh yang sakit, yang membuat ribut dan menimbulkan gesekan. Kita hidup di dalam susunan kekuasaan Allah, seharusnya ada ketaatan yang sangat spontan. Gereja tidak hanya merupakan tempat persekutuan bagi saudara dan saudari, juga merupakan tempat ekspresi kekuasaan.

MENOLAK KEKUASAAN

DALAM ANGGOTA BERARTI MENOLAK KEPALA

Kekuasaan dalam Tubuh kadang-kadang tidak dinyatakan secara langsung, melainkan secara tidak langsung. Tubuh tidak hanya taat kepada kepala, anggota-anggotanya pun saling menaati dan saling membantu. Tangan kiri dan tangan kanan tidak memiliki persekutuan yang langsung satu sama lain, kepalalah yang menggerakkan tangan kanan dan juga menggerakkan tangan kiri. Tangan kiri tidak mengendalikan tangan kanan, tangan kanan juga tidak mengendalikan tangan kiri. Tangan tidak memerintahkan mata untuk melihat. Tangan hanya memberitahu kepala, kemudian kepala menyuruh mata melihat. Tidak peduli berapa jauhnya anggota itu dari kepala, hubungan mereka dengan kepala tetap sama, dan semua pekerjaan mereka berhubungan kembali dengan kepala. Jika mataku melihat, tanganku bekerja, atau kakiku berjalan, aku akan berkata, "Aku melihat, aku bekerja, dan aku berjalan." Sebab itu, sering kali keputusan anggota tubuh merupakan keputusan kepala. Kekuasaan anggota adalah kekuasaan kepala. Tangan tidak dapat melihat sendiri; ia memerlukan keputusan mata. Tidaklah benar jika tangan meminta kepala untuk melihat atau menyuruh dirinya sendiri untuk melihat; hal-hal itu mustahil terjadi. Tetapi sering kali inilah kesulitan yang terdapat di antara anak-anak Allah. Itulah sebabnya kita harus menerima anggota lain sebagai wakil kekuasaan Kepala. Fungsi tangan hanyalah sebagai tangan, fungsi kaki hanyalah sebagai kaki, dan fungsi mata hanyalah sebagai mata. Kita harus menerima fungsi anggota lain sebagai fungsi kita. Kita tidak bisa menolak fungsi para anggota. Jika kaki menolak tangan, berarti ia menolak kepala. Jadi, kita menerima kekuasaan para anggota berarti kita menerima kekuasaan Kepala. Setiap anggota adalah kekuasaanku dalam persekutuan. Meskipun fungsi tangan besar, dalam hal berjalan tangan harus menerima fungsi kaki. Tangan tidak bisa merasakan warna, untuk itu dia memerlukan kekuasaan mata. Fungsi anggota-anggota tubuh adalah kekuasaan dari anggota-anggota tubuh itu.

KEKUASAAN ADALAH KEKAYAAN KRISTUS

Hari ini, tidaklah mungkin setiap anggota serupa dengan seluruh tubuh. Sebab itu, setiap orang harus berdiri pada kedudukannya sebagai anggota, menerima fungsi dari anggota yang lain. Ketika anggota yang lain melihat dan mendengar, itu berarti aku melihat dan mendengar. Menerima fungsi anggota adalah menerima kekayaan Kepala. Tidak ada satu anggota yang berdiri sendiri; aku hanya satu anggota. Satu anggota tidak dapat melakukan pekerjaan Tubuh. Apa yang dilakukan anggota lain adalah apa yang dilakukan oleh Tubuh, juga merupakan apa yang dilakukan oleh setiap anggota. Keadaan hari ini ialah: Mata sudah melihat, tetapi tangan berkata bahwa dia belum melihat, dan kini dia sedang menunggu untuk melihat. Manusia ingin dirinya sendiri yang memiliki segala sesuatu dan mampu melakukan apa saja, ia tidak ingin menerima suplai para anggota. Hal demikian membuatnya miskin, akibatnya gereja juga terseret ke dalam kemiskinan. Kekuasaan adalah kekayaan Kristus. Menerima fungsi dari orang lain (yang berarti menerima kekuasaan mereka), adalah menerima kekayaan seluruh Tubuh. Jika Anda taat kepada kekuasaan setiap anggota, Anda akan memperoleh kekayaan setiap anggota. Jika Anda menolak kekuasaan, Anda akan miskin. Bila mata terang, seluruh tubuh akan terang; bila telinga mendengar, seluruh tubuh mendengar.

Kita selalu mengira kekuasaan adalah untuk menekan kita, memukul kita, dan untuk mempermalukan kita. Tetapi Allah tidak memiliki pikiran semacam itu; pikiran kitalah yang salah. Allah memakai kekuasaan untuk memenuhi apa yang kurang di dalam kita. Tujuan Allah mendirikan kekuasaan-Nya adalah untuk memberikan kekayaan-Nya kepada kita, dan untuk memenuhi kekurangan semua anggota yang lemah. Allah tidak bisa menunggu sampai Anda mencapai satu tingkat tertentu atau setelah sepuluh tahun berlalu, baru menunjukkan kepada Anda sesuatu. Kalau demikian, Anda harus menempuh hari-hari yang panjang dalam kegelapan dan penderitaan, dan sejumlah besar orang akan Anda pimpin masuk ke dalam kegelapan; benar-benar seperti orang buta memimpin orang buta. Betapa besar kerugian yang akan diderita oleh Allah! Itulah sebabnya Allah pertama-tama bekerja dengan tuntas pada diri orang-orang yang dipakai-Nya, kemudian Dia memberikan orang-orang itu kepada Anda sebagai kekuasaan Anda, agar Anda belajar taat, dan agar Anda bisa menerima apa yang tidak pernah Anda terima sebelumnya. Demikianlah kekayaan mereka akan menjadi milik Anda. Jika Anda menyia-nyiakannya, mungkin Anda harus melewati lima puluh tahun tanpa mencapai apa yang telah mereka pelajari.

Kasih karunia Allah kepada kita bersifat ganda. Di satu pihak, kasih karunia itu diberikan kepada kita secara langsung, namun ini tidak sering terjadi. Di pihak lain, ada kekayaan yang tidak langsung, yaitu Allah di dalam gereja telah mengatur saudara dan saudari di depan Anda untuk menjadi kekuasaan Anda. Melalui keputusan mereka menjadi keputusan Anda, Anda dapat menerima kekayaan mereka tanpa harus melalui penderitaan yang mereka lalui. Dalam gereja ada banyak kasih karunia yang Allah berikan kepada orang lain, bukan kepada Anda. Setiap bintang memiliki kemuliaannya sendiri. Sebab itu, kekuasaan adalah kekayaan gereja. Semua kekayaan perorangan adalah kekayaan untuk banyak orang. Memberontak berarti menempuh jalan menuju kemiskinan. Menolak kekuasaan adalah menolak jalan menerima kasih karunia dan kekayaan.

WAKIL FUNGSI MERUPAKAN WAKIL KEKUASAAN

Tidak seorang pun berani mengatakan bahwa dia tidak mau taat kepada kekuasaan Tuhan. Tetapi kekuasaan dari anggota yang berkoordinasi dengan Allah, juga harus kita taati. Kita harus sadar, bahwa semua anggota ada sangkut pautnya. Jika kita tidak menerima bantuan dari anggota lain, kita berada dalam pemberontakan. Adakalanya Tuhan memakai satu anggota secara langsung; adakalanya Tuhan memakai satu anggota untuk menyuplai anggota lain. Ketika kepala menyuruh mata melihat, seluruh tubuh menerima penglihatan dari mata sebagai penglihatan mereka sendiri, karena ketika mata melihat, berarti seluruh tubuh melihat. Wakil fungsi ini juga merupakan wakil kekuasaan, juga merupakan kekuasaan Kepala. Jika suatu anggota mengira mereka dapat melihat sendiri, mereka berada dalam pemberontakan. Kita tidak bisa begitu bodoh sehingga berpikir kita ini serba bisa.

Jangan lupa, Anda adalah satu anggota belaka. Anda perlu menerima fungsi anggota lain. Ketika kita taat kepada kekuasaan dari fungsi penglihatan, kita tidak akan bersekatan dengan Kepala, karena suplai itu terdapat dalam kekuasaan. Siapa memiliki karunia, dia adalah satu ministri, dan siapa menjadi satu ministri, dialah kekuasaan. Selain mata, tidak ada yang dapat melihat. Jika Anda ingin melihat, Anda harus taat kepada kekuasaan mata dan menerima suplai darinya. Ministri yang ditetapkan Allah adalah kekuasaan-Nya. Tidak seorang pun boleh menolaknya. Setiap orang mau menerima kekuasaan langsung Allah. Tetapi Allah memiliki lebih banyak kekuasaan tak langsung (yaitu wakil kekuasaan) untuk kita taati, agar kita bisa menerima suplai rohani.

MEMILIKI HAYAT,

KETAATAN ADALAH PERKARA YANG MUDAH

Bagi orang yang belum percaya dan orang Israel, ketaatan merupakan satu perkara yang sulit, ini dikarenakan mereka tidak memiliki hubungan dalam hayat. Namun karena kita memiliki hubungan hayat, kita justru sulit untuk tidak taat, karena di dalam kita adalah satu, mengambil bagian dalam hayat yang sama dan Roh Kudus yang sama. Roh Kudus mengatur segalanya. Jika ada ketaatan yang bersifat timbal balik, kita akan mengalami keadaan yang menyenangkan dan perhentian seumur hidup. Jika kita memikul semua beban seorang diri, hal itu akan merupakan pekerjaan yang melelahkan. Jika beban itu dibagi-bagi di antara anggota-anggota, hal itu akan merupakan sesuatu yang melegakan. Jika kita mau dibatasi oleh Tuhan, kita akan memiliki perhentian yang sejati. Jadi, taat kepada kekuasaan anggota adalah pembebasan yang besar. Kalau kita berdiri pada kedudukan orang lain, kita akan merasakan tekanan yang besar. Bagi kita, ketaatan bersifat spontan, dan ketidaktaatan merupakan satu hal yang ganjil. Mengapa kita harus saling menelan? Mengapa kita harus saling mengeritik? Bagi kita, hal itu seharusnya merupakan hal yang aneh.

Tuhan telah mengajar kita untuk tidak hanya belajar taat dalam keluarga dan dalam dunia, tetapi juga di dalam Tubuh, dalam gereja. Jika kita belajar dengan baik dalam Tubuh, kita akan belajar dengan baik di mana saja. Ini adalah satu-satunya tempat untuk mulai. Jadi, gereja adalah tempat pengujian, juga tempat penyempurnaan. Jika kita tidak baik-baik belajar di sini, apa saja yang dilakukan di tempat lain tidak akan berhasil. Jika pelajaran ini dipelajari dengan baik di dalam gereja, persoalan kerajaan akan terbereskan, persoalan di dunia akan terbereskan dan persoalan dalam alam semesta akan terbereskan pula.

Dulu, kekuasaan merupakan sesuatu yang terlalu obyektif bagi kebanyakan orang, demikian juga dengan ketaatan. Hari ini, kekuasaan telah menjadi perkara hayat, telah menjadi suatu perkara yang batiniah. Dalam Tubuh Kristus, kekuasaan dan ketaatan berjumpa dalam satu Tubuh, dan keduanya telah menjadi sesuatu yang subyektif, hidup dan bersatu. Inilah ekspresi tertinggi dari kekuasaan Allah. Kekuasaan dan ketaatan ada dalam satu Tubuh, dan dibawa ke puncak yang paling tinggi. Mari kita disempurnakan di sini. Kalau tidak, kita tidak ada jalan untuk maju. Tempat untuk berjumpa dengan kekuasaan adalah di dalam Tubuh. Kepala (sebagai sumber kekuasaan) ada di dalam gereja. Anggota (yang berfungsi menurut kadar setiap bagian, dengan suplai timbal balik antara yang mewakili kekuasaan dan yang taat kepada kekuasaan) juga ada di dalam gereja. Kalau di sini kita tidak berjumpa dengan kekuasaan, maka tiadalah harapan bagi kita berjumpa dengan kekuasaan di tempat lainnya.