ALLAH MENGHENDAKI MANUSIA TAAT KEPADA WAKIL KEKUASAAN SISTEM KEKUASAAN YANG DITETAPKAN ALLAH
1. Dalam Dunia
"Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah"
(Rm. 13:1)
"Tunduklah, karena Tuhan, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada para penguasa yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik"
(1 Ptr. 2:13-14)
Dalam alam semesta, Allah adalah sumber segala kekuasaan. Semua kekuasaan di bumi ditetapkan oleh Allah, mereka mewakili kekuasaan Allah dan memiliki kekuasaan Allah. Allah sendiri telah menetapkan sistem-sistem kekuasaan guna mengekspresikan diri-Nya, agar ketika manusia berjumpa dengan kekuasaan, ia berjumpa dengan Allah sendiri. Bila ada penyertaan Allah, manusia dapat mengenal Allah melalui penyertaan-Nya. Bila tidak ada penyertaan Allah, manusia juga dapat mengenal Allah melalui berjumpa dengan kekuasaan-Nya. Di taman Eden, ketika penyertaan Allah ada di sana, manusia dapat mengenal Allah; ketika tidak ada penyertaan Allah, manusia tetap dapat mengenal Allah melalui mengingatkan dirinya terhadap perintah Allah (yang berupa larangan memakan buah tertentu). Di dunia ini, sedikit sekali manusia yang langsung berjumpa dengan Allah. (Ini berbeda dengan fakta bahwa di dalam gereja, bila seseorang hidup di dalam roh, ia dapat berkontak dengan Allah). Karena itu, penyertaan diri Allah yang paling banyak dirasakan oleh manusia ialah di dalam perintah-perintah-Nya. Hanya penggarap kebun anggur yang bodohlah yang memerlukan penampakan pemilik kebun anggur itu secara pribadi. Sebenarnya, hamba dan putra pemilik kebun anggur itu sudah cukup mewakili pemiliknya (Mrk. 12:1-9).
Ada orang ditetapkan Allah untuk memberi perintah dan menjadi kekuasaan bagi Allah. Semua orang yang memegang kekuasaan ditetapkan oleh Allah. Karena itu, semua kekuasaan yang Allah tetapkan harus ditaati. Hari ini Allah telah mempercayakan kekuasaan kepada manusia. Sesudah Allah mempercayakan kekuasaan kepada manusia, maka di bumi ini, banyak orang yang menjadi kekuasaan yang ditetapkan oleh Allah guna mengekspresikan kekuasaan-Nya. Jika kita ingin belajar taat kepada Allah, kita harus tahu, kepada siapa kekuasaan Allah dipercayakan. Jika kita menganggap bahwa kekuasaan Allah hanya ada pada diri Allah saja, maka lebih dari lima puluh persen dari hari-hari kita mungkin terisi dengan pelanggaran terhadap kekuasaan Allah. Hari ini, berapa banyak orang yang pada dirinya kita nampak kekuasaan Allah? Tidak ada perkara memilih di antara kekuasaan langsung Allah dan wakil kekuasaan Allah. Kita tidak hanya harus taat kepada kekuasaan langsung Allah, juga harus taat kepada wakil kekuasaan-Nya; karena tidak ada kekuasaan yang tidak berasal dari Allah.
Mengenai kekuasaan di bumi, Paulus tidak hanya memberikan perkataan yang positif tentang ketaatan, tetapi juga memberikan peringatan yang negatif, bahwa melawan kekuasaan berarti melawan perintah Allah sendiri. Jika manusia melawan wakil kekuasaan Allah, berarti melawan kekuasaan Allah sendiri. Dalam Alkitab, kekuasaan hanya memiliki satu hakiki, tidak ada kekuasaan yang tidak berasal dari Allah. Melawan kekuasaan berarti melawan Allah. Allah tidak akan mengendorkan perkara demikian. Orang-orang yang menentang pasti menerima hukumannya sendiri; tidak mungkin orang memberontak tanpa menerima hukuman. Karena itu, begitu manusia melawan kekuasaan, berarti dia menantang maut. Dalam hal kekuasaan, manusia tidak ada pilihan.
Pada masa Adam, Allah menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada manusia dan mengatakan, "Taklukkanlah (kuasailah) bumi." Ketika itu manusia hanya menguasai binatang-binatang. Setelah peristiwa air bah, barulah Allah menyerahkan kekuasaan untuk mengatur manusia kepada Nuh. Allah berkata, "Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia." Sejak itu mulailah Allah menyerahkan kekuasaan mengatur manusia kepada manusia. Sejak Nuh, Allah telah mendirikan suatu pemerintahan, dan meletakkan manusia di bawah pemerintahan itu.
Ketika umat Allah keluar dari Mesir dan sampai di padang gurun, dalam catatan Keluaran 20, kita nampak ada 10 perintah beserta peraturan tentang perbuatan (kelakuan). Di antaranya dikatakan, "Janganlah engkau berkata jahat tentang seorang pemimpin bangsamu." Ini membuktikan bahwa Allah menaruh mereka di bawah kekuasaan pemimpin mereka. Maka, pada zaman Musa sudah dapat dilihat, bila orang Israel menentang kekuasaan, berarti menentang Allah.
Bangsa-bangsa di bumi memiliki pemimpin. Walaupun mereka tidak percaya kepada Allah dan walaupun seluruh negaranya adalah kerajaan Iblis, tetapi prinsip pemerintahan tetap ditentukan oleh Allah. Kerajaan Israel adalah Kerajaan Allah. Raja Daud ditetapkan oleh Allah, namun raja Persia juga Allah akui, ditetapkan oleh-Nya. Ketika Tuhan di bumi, Tuhan juga taat kepada pemerintah, taat kepada wewenang penguasa. Karena itu Tuhan juga membayar pajak dan mengatakan apa yang menjadi milik Kaisar, harus diberikan kepada Kaisar. Ketika Tuhan Yesus diadili, dan karena Imam Besar bersumpah demi Allah, Ia pun harus taat. Tuhan mengakui bahwa mereka adalah kekuasaan di bumi. Di bumi, Tuhan tidak pernah melakukan revolusi.
Dalam Roma 13, Paulus menampakkan kepada kita, bahwa pemimpin adalah hamba-hamba Allah. Waktu itu, pemerintahan adalah pemerintahan Roma. Dalam pandangan manusia, kita tidak seharusnya taat kepada penjajah dari luar. Namun Paulus tidak menyuruh kita menentang kekuasaan asing itu. Kita tidak hanya harus taat kepada kekuasaan negara dan bangsa kita sendiri, juga harus taat kepada kekuasaan pemerintah tempat kita masing-masing. Juga tidak boleh karena kita adalah warga negara tertentu, lalu kita tidak taat kepada pemerintah negara setempat. Karena hukum (taurat) bukanlah membuat orang yang melakukan kebaikan merasa takut, melainkan membuat orang yang melakukan kejahatan merasa takut. Tidak peduli bagaimana berbedanya hukum dan peraturan berbagai negara di dunia ini, semua itu berasal dari hukum Allah dan prinsip dasarnya adalah memberi penghargaan kepada yang baik dan memberi hukuman kepada yang jahat. Semua kekuasaan tentu ada hukumnya masing-masing, dan fungsi kekuasaan itu adalah untuk memelihara dan melaksanakan hukum peraturan itu, yaitu supaya yang berbuat baik diberi pujian dan yang berbuat jahat diberi hukuman, karena dia tidak memegang pedang dengan sia-sia. Walaupun ada juga pemerintahan yang menjunjung tinggi orang jahat dan menekan orang baik, tetapi ia harus mengubah fakta itu: orang jahat diberi nama baik dan orang baik disebut jahat. Bagaimanapun dia tidak dapat mengatakan, "Karena dia adalah orang jahat, maka kita harus menjunjungnya, atau karena ia adalah orang baik, kita harus menghukumnya." Kita harus mengakui pemerintahan yang mana pun, pada prinsipnya adalah memberi penghargaan kepada yang baik dan menghukum yang jahat. Ini tidak dapat diubah. Bagaimanapun tetap harus memelihara prinsip Allah itu. Pada suatu hari, ketika Antikristus datang dan menunggang-balikkan seluruh kekuasaan, itulah hari-hari pada akhir zaman. Ketika itu, barulah benar-benar yang jahat dianggap sebagai yang baik, dan yang baik dianggap jahat. Orang yang baik dibunuh, orang yang jahat berkuasa.
Ada 4 butir yang menyatakan manusia taat kepada kekuasaan, yaitu:
1) Berilah pajak kepada orang yang berhak menerima pajak,
2) Bayarlah cukai kepada orang yang berhak menerima cukai,
3) Berilah rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut, dan
4) Berilah hormat kepada yang berhak menerima hormat.
Orang Kristen taat kepada hukum bukan hanya karena takut dihukum, lebih-lebih karena hati nurani di hadapan Allah. Jika tidak taat, maka di hadapan Allah, hati nurani akan menegur. Karena itu harus belajar taat kepada kekuasaan di tempat kita berada. Anak-anak Allah tidak boleh sembarangan mengeritik pemerintah, memfitnah pemerintah, bahkan polisi di jalan-jalan raya pun ditentukan oleh Allah, mereka adalah hamba-hamba Allah yang khusus menangani hal tertentu. Karena itu, kalau mereka ingin memungut pajak (retribusi), bagaimana sikap kita? Apakah kita menganggap mereka sebagai kekuasaan Allah? Maukah kita taat? Bila manusia belum berjumpa dengan kekuasaan Allah, dia tidak akan taat. Semakin ingin taat, semakin merasa sulit. Dalam 2 Petrus 2:10 dikatakan, "Terutama mereka yang menuruti hawa nafsunya yang mencemarkan diri dan menghina pemerintahan Allah. Mereka begitu berani dan angkuh, sehingga tidak segan-segan menghujat makhluk-makhluk yang mulia,"
Tidak sedikit orang, karena memfitnah atau menghujat, mereka kehilangan kekuatan dan mengalami kebocoran hayat. Manusia tidak dapat terjerumus ke dalam keadaan tanpa pemerintah. Bagaimana Allah menanggulangi pemerintah yang tidak adil? Hal itu tidak perlu kita urus. (Dalam berdoa, kita berdoa mohon Allah mengendalikan dengan keadilan-Nya, ini berada pada kedudukan yang lain). Setiap ketidaktaatan terhadap kekuasaan berarti tidak taat kepada kekuasaan Allah. Jika kita tidak taat, berarti kita membantu prinsip Antikristus. Pada suatu hari, ketika kehendak yang ilegal itu bergerak, kita sebagai penghalang atau sebagai pembantunya?
2. Dalam Keluarga
"Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu"
(Ef. 5:22-24)
"Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena demikianlah yang benar. Hormatilah ayahmu dan ibumu -- ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: Supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi"
(Ef. 6:1-3)
"Hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang berkenan kepada Tuhan. Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan"
(Kol. 3:18, 20, 22)
Allah juga mendirikan kekuasaan-Nya di dalam keluarga. Kebanyakan anak-anak Allah kurang memperhatikan masalah keluarga. Tetapi, surat-surat kiriman (Efesus dan Kolose merupakan surat yang bermutu rohani paling tinggi), tidaklah mengabaikan masalah keluarga, khususnya menyinggung tentang ketaatan di dalam keluarga. Karena jika hal ini diabaikan, maka pelayanan kepada Allah akan menghadapi kesulitan. Walaupun surat 1 dan 2 Timotius khusus membicarakan pekerjaan, namun juga menyinggung masalah keluarga, agar masalah keluarga itu tidak mempengaruhi masalah pekerjaan. Surat 1 Petrus khusus membicarakan kerajaan. Namun, bila seseorang memberontak dalam keluarga, itu sudah berarti memberontak kepada kerajaan. Jika manusia telah berjumpa dengan kekuasaan, maka berkuranglah banyak kesulitan di dalam keluarga.
Allah telah mendirikan suami menjadi wakil kekuasaan Kristus dan mendirikan istri menjadi wakil gereja. Kalau istri belum nampak kekuasaan di balik wakil kekuasaan yang diwakili oleh suaminya, (yaitu kekuasaan yang didirikan oleh Allah), maka sukarlah baginya untuk taat kepada suaminya. Istri harus nampak, ini bukan masalah suaminya, melainkan kekuasaan Allah. Dalam Titus 2:4-5 dikatakan, "Perempuan-perempuan muda harus taat kepada suaminya, agar firman Allah jangan dihujat orang." Satu Petrus 3:1 mengatakan, "Hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan istrinya." Ayat 5-6 mengatakan, bahwa perempuan-perempuan yang kudus, yang bersandar dan berharap kepada Allah, berdandan dengan hal ini, yaitu taat kepada suaminya sendiri, sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menyebutnya tuan.
Dalam Efesus 6 dikatakan, "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan," sebab Allah telah menetapkan orang tua sebagai kekuasaan. Dan dikatakan, "Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi." Ini merupakan perintah yang mengandung janji. Di dalam kesepuluh hukum, ini merupakan yang pertama yang mengandung pahala khusus. Orang menghormati orang tuanya, akan beroleh kebahagiaan dan panjang umur di bumi. Ada orang mati muda, mungkin ini dikarenakan ia tidak taat kepada orang tuanya. Ada juga, saudara yang keadaannya tidak benar terhadap orang tuanya, ia sering sakit, sampai dia taat, barulah tubuhnya sehat kembali. Kolose 3:20 mengatakan, "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang berkenan kepada Tuhan." Orang yang dapat taat di bawah kekuasaan orang tua, terlebih dulu ia nampak kekuasaan Allah.
Hamba-hamba harus taat kepada tuan mereka, seperti taat kepada Tuhan. Sikapnya harus takut dan gentar, tidak boleh hanya di hadapan tuan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi harus dengan tulus hati sama seperti taat kepada Kristus. Sebagai hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah. Baik kelihatan atau tidak kelihatan harus tetap dilakukan. Bukan berdasarkan kepada penglihatan saja sebagai ruang lingkup, melainkan berdasarkan ketulusan hati, seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia. Sebab yang kita layani adalah Kristus, Tuhan sendiri. Satu Timotius 6:1 mengatakan, "Semua orang yang menanggung beban perbudakan hendaknya menganggap tuan mereka layak mendapat segala penghormatan, agar nama Allah dan ajaran kita jangan dihujat orang." Titus 2:9-10 mengatakan, "Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah, jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita." Memelihara kekuasaan Tuhan pada diri sendiri, barulah orang lain akan memelihara kekuasaan Tuhan pada diri kita. Ketika Paulus dan Petrus mengucapkan kata-kata ini, itu adalah pada masa kerajaan Romawi sedang hebat-hebatnya melakukan jual beli budak. Jadi, sistem perbudakan itu benar atau tidak adalah perkara lain, tetapi seorang hamba harus taat kepada tuannya itu adalah ketetapan Allah.
3. Dalam Gereja
"Kami minta kepadamu, Saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan menegur kamu; dan supaya kamu sungguh-sungguh menunjang mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain"
(1 Tes. 5:12-13)
"Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar"
(1 Tim. 5:17)
"Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain"
(1 Ptr. 5:5)
". . . Saudara-saudara. Kamu tahu bahwa Stefanus dan keluarganya adalah orang-orang yang pertama-tama bertobat di Akhaya, dan bahwa mereka telah mengabdikan diri kepada pelayanan orang-orang kudus. Karena itu, taatilah orang-orang yang demikian dan setiap orang yang turut bekerja dengan berjerih payah"
(1 Kor. 16:15-16)
Di dalam gereja, Allah juga mendirikan kekuasaan-Nya, yaitu di atas diri penatua-penatua yang baik pimpinannya dan mereka yang dengan jerih lelah berkhotbah dan mengajar. Allah memerintahkan semua orang taat kepada orang-orang yang demikian. Dan semua orang muda harus taat kepada yang tua. Satu Petrus 5 menyinggung tentang orang yang tua secara jasmaniah. Stefanus dalam 1 Korintus 16 adalah orang pertama yang percaya Tuhan di Akhaya (Ini adalah lebih tua dalam hal beroleh selamat). Ia pun sangat rendah hati dan rela melayani kaum saleh. Maka rasul berkata, orang yang demikian harus dihormati dan ditaati.
Dalam gereja, Allah pun menghendaki perempuan taat kepada laki-laki. Dalam 1 Korintus 11:3 dikatakan, "Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah." Allah telah mengatur laki-laki sebagai kekuasaan, sebagai wakil Kristus; mengatur perempuan untuk taat, sebagai wakil gereja. Karena itu, perempuan harus mengenakan tanda wibawa di atas kepalanya karena malaikat. Dan perempuan diharuskan taat kepada suami mereka. Dalam 1 Korintus 14:34-35 dikatakan, "Perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan jemaat." Mungkin ada saudari yang bertanya, "Bagaimanakah kalau suamiku tidak tahu?" Jika Allah menyuruh Anda bertanya kepadanya, tanyakanlah kepadanya. Sampai satu saat, ia pasti tahu. Karena ia sering ditanya oleh Anda, ia mau tak mau akan menuntut pengetahuan untuk menjawab Anda. Dengan demikian, Anda tidak saja membantu diri Anda sendiri, juga membantu suami Anda. Satu Timotius 2:11-13 pun mengatakan, "Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri. Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa."
Di tengah-tengah anak-anak Allah, haruslah berikatpinggangkan kerendahan hati dan saling menaati. Ada orang yang sengaja ingin menonjolkan kedudukan dan kekuasaannya, ini adalah hal yang paling rendah dan memalukan.
Allah tidak hanya mendirikan kekuasaan-Nya dalam alam semesta ini, Allah pun mendirikan kekuasaan-Nya di dalam dunia rohani. Maka dalam 2 Petrus 2:10-11 tercantum, "Terutama mereka yang menuruti hawa nafsunya yang mencemarkan diri dan menghina pemerintahan Allah. Mereka begitu berani dan angkuh, sehingga tidak segan-segan menghujat mahkluk-mahkluk yang mulia, padahal malaikat-malaikat sendiri, yang sekalipun lebih kuat dan lebih berkuasa daripada mereka, tidak memakai kata-kata hujat, kalau malaikat-malaikat menuntut hukuman atas mereka di hadapan Allah." Di sini terdapat satu perkara yang sangat penting. Dalam alam semesta rohani ada pemerintah dan ada tingkatan kedudukan. Allah telah meletakkan para malaikat di bawah mereka. Meskipun ada di antara yang memerintah dan yang berkedudukan itu telah gagal, namun para malaikat tetap tidak berani menghujat mereka. Sebab dahulu, pada suatu waktu, mereka pernah menjadi kekuasaan yang membawahi para malaikat. Hari ini mereka telah jatuh, Anda hanya dapat mengatakan fakta, tidak dapat menambah dengan keputusan. Kenyataan yang ditambah dengan keputusan itulah yang disebut hujat. Kitab Yudas ayat 9 mengatakan, "Bahkan pemimpin malaikat, Mikhael, dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa, tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan, melainkan berkata: Kiranya Tuhan membentak engkau!" Sebab Allah pernah sekali menetapkan Iblis sebagai penghulu malaikat. Dan Mikhael adalah penghulu malaikat yang pernah tunduk di bawah otoritasnya. Pada suatu hari, Musa akan dibangkitkan; mungkin terjadi di atas gunung perubahan. Ketika itu Mikhael taat kepada Allah dan mencari mayat Musa, namun ia dihalang-halangi oleh Iblis. Mikhael bisa saja dengan roh berontak menanggulangi roh pemberontak, dan ia mungkin dengan keras mencaci maki Iblis. Namun Mikhael tidak berani. Dia hanya berani mengatakan, "Kiranya Tuhan membentak engkau." (Manusia berbeda dengan malaikat, sebab Allah tidak pernah meletakkan manusia di bawah kekuasaan Iblis. Dulu kita jatuh ke dalam cengkramannya (kekuatannya), tetapi kita tidak di bawah kekuasaannya) Daud pernah sekali taat di bawah wakil kekuasaan Allah, yaitu Saul. Prinsip ini pun sama, karena itu Daud tidak berani menggulingkan kekuasaan Saul yang terdahulu. Di sini kita nampak betapa berwibawanya kedudukan wakil kekuasaan. Wakil kekuasaan tidak boleh dihujat, siapa menghujat, akan kehilangan kekuatan rohani.
Bila Anda pernah berjumpa dengan kekuasaan, maka di mana pun Anda berada, Anda akan nampak kekuasaan Allah itu. Ke mana pun Anda pergi, masalah yang pertama adalah Anda harus taat kepada siapa, Anda harus mendengar perkataan siapa. Orang Kristen harus mempunyai dua perasaan: pertama, perasaan dosa, dan yang kedua, perasaan kekuasaan. Sekalipun hanya dua orang saudara berada di suatu tempat, berunding dan berargumentasi, masing-masing boleh berbicara, tetapi ketika mengambil keputusan, hanya seorang saja. Kisah Para Rasul 15 mencantumkan suatu konperensi besar. Setiap orang boleh berdiri berbicara, baik yang tua maupun yang muda, setiap saudara boleh mengusulkan sesuatu. Setelah Petrus dan Paulus berbicara, maka bangkitlah Yakobus untuk mengambil keputusan. Petrus dan Paulus hanya dapat membeberkan fakta, namun yang mengambil keputusan adalah Yakobus. Di sini kita lihat, bahkan di antara para penatua dan rasul pun ada urutannya. "Aku adalah yang terhina (terkecil) di antara para rasul". Rasul pun ada yang besar dan ada yang kecil. Ini bukan ada orang tertentu yang mengatur kita, melainkan kita sendiri harus tahu di mana kedudukan kita. Inilah kesaksian yang paling indah, satu lukisan yang paling indah; inilah yang paling ditakuti oleh Iblis, dan yang membuat runtuh kerajaan Iblis. Bila kita semua sudah berjalan di atas jalan ketaatan, segeralah Allah menghakimi dunia ini.
KITA HARUS DENGAN TENTERAM MENAATI WAKIL KEKUASAAN
Allah telah mendirikan kekuasaan bagi-Nya sendiri, dan hal ini mengandung resiko yang sangat besar! Jika wakil kekuasaan yang ditetapkan-Nya itu salah mewakili, betapa besarnya kerugian yang harus Allah derita! Namun Allah dengan tenteram telah mendirikan kekuasaan-Nya. Karena itu, adalah jauh lebih mudah bagi kita untuk dengan tenteram menaati wakil kekuasaan, daripada Allah yang dengan tenteram mendirikan wakil kekuasaan-Nya. Kalau Allah berani dan dengan tenteram menyerahkan kekuasaan-Nya kepada orang, masakan kita tidak berani dengan tenteram menaatinya? Allah dengan tenteram mendirikan kekuasaan-Nya, kita pun harus dengan tenteram menaatinya. Seandainya salah, bukanlah aku yang salah, melainkan kekuasaan itulah yang salah. Tuhan berkata bahwa pemerintah di dunia ini harus ditaati oleh semua orang. Karena akibat kesulitannya pada diri Allah jauh lebih besar daripada diri kita. Kalau Allah berani mempercayai seseorang, kita pun harus berani mempercayainya, Allah dengan tenteram mempercayai seseorang, kita lebih-lebih harus dengan tenteram mempercayai seseorang.
Lukas 9:48 mengatakan, "Siapa saja yang menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan siapa saja yang menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku." Tuhan mewakili Bapa, itu tidak ada kesulitan, sebab Bapa telah mempercayai Dia. Kita percaya kepada-Nya, berarti percaya kepada Bapa. Namun, anak-anak ini, di dalam pandangan Tuhan pun telah menjadi wakil Tuhan. Tuhan dapat mempercayai anak-anak ini, sebab itu dikatakan, siapa yang menyambut anak-anak ini dalam nama Tuhan, berarti menyambut Tuhan. Lukas 10:16 mencantumkan, ketika Tuhan mengutus murid-murid-Nya pergi, Tuhan berkata, "Siapa saja yang mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan siapa saja yang menolak kamu, ia menolak Aku; dan siapa saja yang menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku." Di sini kita nampak, secara luaran para murid yang berbicara, memerintah, menentukan, dan sebagainya, namun semua dipandang sebagai mewakili Tuhan. Tuhan tenteram sedemikian rupa sehingga menyerahkan kekuasaan-Nya ke atas diri murid-murid-Nya. Mereka berbicara demi nama Tuhan, itu diakui oleh Tuhan. Orang yang menolak murid, berarti menolak Tuhan. Tuhan dapat dengan mutlak tenteram mempercayai mereka, Tuhan tidak berkata, "Kalian tidak boleh sembarangan berbicara, tidak boleh salah mengucapkan kata-kata." Tuhan tidak kuatir sedikit pun terhadap kemungkinan bersalahnya mereka. Tuhan mempunyai iman, mempunyai keberanian, dengan tenteram menyerahkan kekuasaan kepada murid-murid-Nya.
Tidak demikian dengan orang-orang Yahudi. Mereka ragu, bimbang. Mereka berkata, "Bagaimana mungkin ada keadaan yang demikian, bagaimana mengetahui bahwa apa yang Engkau katakan itu benar. Kita harus banyak mempertimbangkan." Mereka tidak berani percaya dan sangat takut. Misalkan Anda menjadi pimpinan di sebuah instansi, dan Anda mengutus seseorang pergi, serta berkata kepadanya, "Pergilah, lakukanlah sekehendak hatimu; apa yang kaulakukan itu akan kuakui. Orang yang mendengar engkau berarti mendengar aku." Kalau demikian, Anda tentu juga menyuruh dia setiap hari membuat laporan pekerjaan, sebab kuatir kalau-kalau dia telah salah bertindak. Namun Tuhan dapat demikian mempercayai kita, dan menyuruh kita menjadi wakil-Nya. Ini sungguh-sungguh suatu kepercayaan yang sangat besar! Karena Tuhan telah demikian mempercayai wakil kekuasaan-Nya, maka kita harus lebih mempercayai kekuasaan itu.
Mungkin ada orang yang berkata, "Bagaimanakah kalau kekuasaan itu salah?" Kalau Allah berani mempercayai orang yang menjadi kekuasaan, maka kita pun harus berani menaatinya. Bersalah atau tidaknya orang yang menjadi kekuasaan, tidak ada hubungannya dengan kita. Dengan perkataan lain, salah atau benarnya seseorang yang menjadi wakil kekuasaan, dia sendiri yang harus bertanggung jawab secara langsung kepada Allah. Orang yang taat kepada kekuasaan, hanya tahu taat dengan mutlak. Salah karena taat tidak akan dianggap dosa oleh Tuhan, sebab kesalahan atau dosa itu akan Tuhan tuntut kepada wakil kekuasaan itu. Tanpa ketaatan itulah pemberontakan, dan ini harus ditanggung oleh orang yang seharusnya taat kepada kekuasaan. Jadi, di antara kekuasaan tidak terdapat unsur manusia. Jika kita hanya taat kepada manusianya, maka hilanglah makna kekuasaan. Lagi pula, karena Allah terlebih dahulu telah mendirikan wakil kekuasaan-Nya, Ia pasti memelihara (mempertahankan) kekuasaan-Nya di kemudian hari. Salah atau tidak salahnya seseorang, itu adalah urusan orang lain. Aku salah atau tidak salah, itu adalah urusanku sendiri. Jadi, masing-masing harus bertanggung jawab di hadapan Allah.
MENOLAK WAKIL KEKUASAAN BERARTI MENOLAK ALLAH SENDIRI
Dalam Lukas 20:9-16 terdapat perumpamaan yang mengatakan tentang wakil kekuasaan. Allah menyewakan kebun anggur-Nya kepada penggarap. Allah sendiri tidak datang untuk menagih uang sewa. Pertama, kedua, dan ketiga kalinya, Ia mengutus hamba-hamba-Nya datang dan untuk keempat kalinya Ia mengutus Anak-Nya datang, semuanya itu adalah wakil-wakil-Nya. Allah ingin melihat apakah manusia mau taat kepada wakil kekuasaan-Nya. Memang Allah boleh menagih sendiri, namun Ia mengutus hamba-Nya untuk menagih. Dalam pandangan Allah, siapa menolak hamba-Nya, berarti menolak diri-Nya. Kita tidak dapat mendengar perkataan Allah, tetapi tidak mendengar perkataan wakil-Nya. Kita taat kepada kekuasaan Allah sendiri, juga taat kepada wakil kekuasaan-Nya. Di dalam Alkitab, selain Kisah Para Rasul 9:15 yang merupakan kekuasaan langsung Tuhan, baik dalam Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama, semua kekuasaan Tuhan sudah Tuhan serahkan kepada wakil kekuasaan-Nya. Maka dapat dikatakan, hampir semua kekuasaan sudah diserahkan kepada manusia. Banyak orang mengira, jika demikian berarti taat kepada manusia. Namun bila Anda telah berjumpa dengan kekuasaan, Anda akan tahu, ini adalah wakil kekuasaan Allah. Seorang yang taat kepada kekuasaan Allah yang langsung tidak perlu merendahkan diri, tetapi orang yang taat kepada wakil kekuasaan, harus merendahkan diri, harus melewati penghancuran dan harus sama sekali meletakkan daging, barulah dapat menerima dan menuruti wakil kekuasaan itu. Kita harus selalu nampak bahwa Allah sendiri tidak datang menagih uang sewa, melainkan mengutus wakil-wakil-Nya untuk menagih uang sewa. Bagaimana sikap kita terhadap Allah? Apakah kita menunggu Dia sendiri yang datang? Kalau Dia sendiri yang datang, itu sudah bukan untuk menagih sewa. Dia datang untuk menghakimi.
Tuhan pernah menunjukkan kepada Paulus bahwa dia melawan Tuhan, berarti dia menendang duri dengan kakinya sendiri. Pertama kali dia nampak terang, juga nampak kekuasaan. Paulus berkata, "Tuhan, apakah yang harus kuperbuat?" Di sini Paulus sendiri yang langsung meletakkan dirinya di bawah kekuasaan Tuhan. Akan tetapi, saat itu juga Tuhan meletakkan Paulus di bawah wakil kekuasaan-Nya. Kata Tuhan, "Bangunlah dan pergilah ke dalam kota. Di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kau perbuat." Mulai saat itulah Paulus mengenal kekuasaan. Dia tidak berkata, "Aku senang sekali berjumpa dengan Engkau sendiri, Tuhan, beritahukanlah apa yang harus aku lakukan." Sejak kali pertama, Tuhan sudah meletakkan Paulus di bawah wakil kekuasaan. Tuhan tidak mau langsung memberitahukan sesuatu kepada Paulus. Sejak kita percaya Tuhan sampai hari ini, berapa banyak wakil kekuasaan yang kita taati? Berapa kali kita taat kepada wakil kekuasaan? Dulu kita tidak mempunyai terang, namun hari ini kita harus nampak dengan serius perkara wakil kekuasaan Allah ini. Lima sampai sepuluh tahun lamanya kita membicarakan hal ketaatan, namun sudah berapa kali kita benar-benar taat kepada kekuasaan yang tidak langsung ini? Yang Allah perhatikan bukanlah kekuasaan langsung dari diri-Nya sendiri, melainkan kekuasaan yang tidak langsung yang didirikan-Nya itu. Semua orang yang tidak taat kepada kekuasaan yang tidak langsung, berarti tidak taat kepada kekuasaan Allah yang langsung.
Demi memudahkan pemahaman, kita terpaksa membedakan kekuasaan yang langsung dan wakil kekuasaan. Namun dalam pandangan Allah, kekuasaan hanya ada satu. Kita tidak boleh meremehkan kekuasaan dalam keluarga, kekuasaan dalam gereja, dan segala wakil kekuasaan yang ada. Walaupun Paulus telah buta matanya, namun dia seolah-olah dengan mata yang terbuka menantikan kedatangan Ananias. Dia melihat kedatangan Ananias bagaikan melihat kedatangan Tuhan; dia mendengarkan perkataan Ananias bagaikan mendengarkan perkataan Tuhan. Wakil kekuasaan begitu serius, sehingga bila Anda berdosa kepadanya, Anda akan berurusan dengan Allah. Bila Anda tidak ingin mendapatkan terang dari wakil kekuasaan, dan hanya ingin mendapatkan terang dari diri Tuhan sendiri, ini adalah mustahil. Paulus tidak berkata, "Kornelius memanggil Petrus datang, maka aku pun harus mohon kepada Allah memanggil Petrus atau Yakobus datang. Aku tidak mau Ananias, seorang saudara yang kecil ini, menjadi kekuasaanku." Jika kita menolak wakil kekuasaan, dan ingin langsung menaati Allah, itu tidak mungkin. Sebab bila kita menolak wakil kekuasaan, berarti kita menolak kekuasaan itu sendiri. Orang yang bodohlah yang senang melihat wakil kekuasaan itu gagal. Tidak menyukai wakil kekuasaan Allah berarti tidak menyukai Allah sendiri. Sikap manusia yang pemberontak memang senang kepada kekuasaan Allah yang langsung, dan memberontak kepada wakil kekuasaan yang Allah dirikan.
ALLAH MENGHORMATI WAKIL KEKUASAAN-NYA
Kitab Bilangan 30 mencantumkan tentang bernazarnya seorang perempuan. Perempuan yang masih muda dan berada di rumah, nazar-nazarnya baru berlaku bila orang tuanya tidak berkata apa-apa. Tetapi bila orang tuanya atau ayahnya melarang, maka nazarnya tidak berlaku. Bila ia telah bersuami, nazarnya baru berlaku bila suaminya tidak berkata apa-apa. Bila suaminya melarang, maka nazarnya menjadi batal. Di sini kita lihat, ketika wakil kekuasaan mengizinkan, maka kekuasaan langsung akan menggenapkan. Sebaliknya bila wakil kekuasaan melarang, maka kekuasaan langsung akan membatalkan atau tidak melakukannya. Allah senang akan wakil kekuasaan dan Allah menghormati wakil kekuasaan-Nya. Seorang istri di bawah kekuasaan suaminya, jika suaminya tidak mengizinkan, maka nazarnya tidak akan diberlakukan oleh Allah. Allah hanya ingin ia taat kepada kekuasaan. Namun jika wakil kekuasaan bertindak salah, Allah akan menanggulanginya; Allah akan menyuruhnya menanggung dosa istrinya, dan ini tidak ada hubungannya dengan istrinya yang taat kepada kekuasaan. Bagian kitab ini menunjukkan bahwa manusia tidak dapat melampaui wakil kekuasaan untuk menaati kekuasaan langsung. Allah telah menyerahkan kekuasaan-Nya, maka Dia sendiri tidak melampaui wakil kekuasaan-Nya; Dia sendiri harus menerima pembatasan dari wakil kekuasaan-Nya. Allah menetapkan sesuai dengan ketetapan wakil kekuasaan-Nya, dan membatalkan sesuai dengan pembatalan wakil kekuasaan-Nya. Allah ingin memelihara wakil kekuasaan-Nya. Karena itu, di bawah wakil kekuasaan, kita hanya ada satu jalan, yaitu taat.
Seluruh kitab Perjanjian Baru memelihara (mempertahankan) wakil kekuasaan. Hanya Kisah Para Rasul yang mencatat bagaimana mahkamah agama telah menganiaya Petrus dan melarang Petrus memberitakan Injil demi nama Tuhan. Petrus berkata, "Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia." Ini adalah saat wakil kekuasaan dengan jelas-jelas melanggar perintah Allah dan berdosa kepada status Tuhan, barulah wakil kekuasaan itu boleh ditolak. Jadi, hanya dalam keadaan itu baru bisa mengatakan perkataan yang demikian. Selain itu, dalam keadaan yang bagaimana pun, kita harus taat kepada wakil kekuasaan. Kita tidak dapat membabi buta. Kita tidak dapat menggenapkan ketaatan dengan pemberontakan.