KETAATAN PUTRA
"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa!"
(Flp. 2:5-11)
"Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan air mata kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya, Ia telah didengarkan. Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar taat dari apa yang telah diderita-Nya dan sesudah Ia disempurnakan, Ia menjadi sumber keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya"
(Ibr. 5:7-9)
Tuhan Menciptakan Ketaatan
Firman Allah mengatakan kepada kita bahwa Tuhan Yesus pada mulanya esa dengan Bapa. Pada mulanya ada Firman, sama dengan pada mulanya ada Allah. Firman itulah Allah. Firmanlah yang telah menciptakan langit dan bumi. Pada mulanya Allah memiliki kemuliaan; kemuliaan yang tak dapat dihampiri oleh manusia, dan yang juga merupakan kemuliaan Putra. Bapa dan Putra adalah setara, sama kuasa, dan juga serentak ada. Namun di dalam persona-Nya, Bapa berbeda dengan Putra. Ini bukan perbedaan dalam hal sifat asasi, melainkan dalam pengaturan ke-Allahan. Karenanya Alkitab mengatakan, Tuhan tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan. "Mempertahankan" di sini berarti "memaksakan". Jadi, kesetaraan Tuhan dengan Allah bukan suatu paksaan, bukan pula yang disusupkan, sebab Tuhan sesungguhnya memiliki kesetaraan dengan Allah.
Filipi 2:5-7 merupakan satu potongan, dan ayat 8-11 merupakan potongan yang lain. Potongan yang di depan mengatakan, "Ia mengosongkan diri-Nya sendiri," dan potongan yang di belakang mengatakan, "Ia merendahkan diri-Nya sendiri." Jadi di sini terdapat dua kali merendahkan diri, yaitu Ia telah mengosongkan diri-Nya di dalam ke-Allahan, dan telah merendahkan diri-Nya pula di dalam keinsanian. Ketika Tuhan datang ke bumi, Ia telah menuangkan, mengosongkan kemuliaan, kekuasaan, derajat, dan rupa ke-Allahan-Nya, sehingga Ia tidak dikenal oleh orang yang tanpa wahyu, dan tidak diakui sebagai Allah; orang menganggap-Nya sebagai manusia biasa saja. Dalam ke-Allahan-Nya, Tuhan sendiri memilih menjadi Putra, taat di bawah kekuasaan Bapa, karena itu Tuhan berkata, "Bapa-Ku lebih besar daripada-Ku."Kedudukan Anak adalah Tuhan sendiri yang memilih. Dalam ke-Allahan penuh dengan keharmonisan. Allah yang setara dengan senang hati mengatur Bapa sebagai Kepala, Putra sebagai yang menaati. Allah mewakili kekuasaan, sedangkan Kristus mewakili ketaatan.
Sebagai manusia, kalau kita mau taat, sangatlah sederhana, asalkan mau merendahkan diri, sudah dapat taat. Namun bagi Tuhan, tidak begitu mudah untuk taat. Ketaatan Tuhan lebih sulit daripada Ia menciptakan langit dan bumi, oleh karena Dia harus mengosongkan kekuasaan, kemuliaan, dan sebagainya dari ke- Allahan-Nya. Ia terlebih dulu harus mengenakan rupa seorang hamba, barulah Ia layak beroleh ketaatan. Maka ketaatan adalah ciptaan Putra Allah.
Sebenarnya, Putra dan Bapa sama-sama mulia. Namun, Tuhan datang ke bumi ini, pada satu pihak Dia melepaskan kekuasaan-Nya, dan di pihak lain, Ia mengambil ketaatan. Dia mengarahkan hati-Nya untuk mengambil rupa seorang hamba, terbatas oleh waktu dan ruang sebagai manusia. Namun bukan itu saja, Tuhan sendiri merendahkan diri, mutlak taat. Ketaatan dalam ke-Allahan adalah perkara yang paling ajaib dalam alam semesta. Ia taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib, kematian yang menyakitkan dan mengaibkan. Akhirnya, Allah meninggikan Dia mengatasi segala sesuatu. Orang yang merendahkan diri akan ditinggikan. Inilah prinsip Allah.
Orang yang Penuh dengan Kristus Pasti Penuh dengan Ketaatan
Semula, tidak perlu ada ketaatan dalam ke-Allahan. Tetapi karena Tuhan menciptakan ketaatan, maka Bapa menjadi Kepala Kristus dalam ke-Allahan. Kekuasaan dan ketaatan adalah penetapan Allah. Kedua hal itu sudah ada sejak semula. Karena itu, orang yang mengenal Tuhan dengan sendirinya akan taat. Orang yang tidak mengenal Allah atau Kristus tidak akan tahu apa yang dimaksud dengan kekuasaan atau ketaatan. Kristus adalah prinsip ketaatan, orang-orang yang menerima ketaatan berarti menerima prinsip Kristus. Karena itu, orang yang dipenuhi dengan Kristus pasti dipenuhi dengan ketaatan.
Hari ini banyak orang bertanya, "Mengapa aku harus taat?" Atau mungkin mereka berkata, "Aku adalah seorang saudara, kamu juga seorang saudara. Lalu, mengapa aku harus taat kepadamu?" Sebenarnya, manusia tidak berhak mengucapkan perkataan itu, hanya Tuhan yang bersyarat mengatakannya. Tetapi Tuhan tidak pernah mengatakan perkataan semacam itu, bahkan pikiran semacam itu pun tidak ada di dalam benak-Nya. Kristus mewakili ketaatan, bahkan ketaatan yang sempurna, sebagaimana kekuasaan Allah adalah kekuasaan yang sempurna. Hari ini ada orang mengira dirinya mengenal kekuasaan, tetapi ia tidak mau taat. Kita hanya dapat memohon belas kasihan Allah bagi orang semacam itu.
Cara Tuhan Keluar dari KeAlllahan-Nya dan Mendapatkan Kembali KeAllahan-Nya
Mengenai ke-Allahan-Nya, Tuhan setara dengan Allah. Tetapi Dia menjadi Tuhan karena pemberian Allah kepada-Nya. Yesus Kristus dijadikan Tuhan, hal ini terjadi setelah Dia mengosongkan diri-Nya dalam ke-Allahan-Nya. KeAllahan Tuhan Yesus adalah sesuatu yang dimiliki-Nya berdasarkan hakiki-Nya; status-Nya sebagai Allah adalah kedudukan-Nya yang semula; tetapi Dia mendapat kedudukan sebagai Tuhan berdasarkan apa yang telah dilakukan-Nya. Ketika Dia mengesampingkan ke-Allahan-Nya untuk memelihara sepenuhnya prinsip ketaatan, kemudian naik ke surga, Allah menjadikan-Nya sebagai Tuhan. Berdasarkan diri-Nya sendiri, Dia adalah Allah; berdasarkan apa yang dicapai-Nya, Dia adalah Tuhan. Semula, status sebagai Tuhan tidak ada dalam ke-Allahan.
Bagian dari surat Filipi 2 ini sangat sulit dijelaskan dan sering menimbulkan perdebatan. Tetapi bagian ini justru merupakan bagian yang paling ilahi. Hari ini kita harus melihat bagian ini dengan menanggalkan sepatu kita dan berdiri di tanah yang kudus. Alkitab menampakkah kepada kita, pada mulanya ada pertemuan antar persona ke-Allahan, yang merencanakan hendak menciptakan alam semesta. Dalam rencana itu, persona ilahi ke-Allahan sepakat dan mencapai satu pengertian bahwa Bapa menjadi wakil kekuasaan. Tetapi jika hanya ada kekuasaan dan tidak ada ketaatan, maka kekuasaan itu tidak dapat didirikan; karena kekuasaan bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Sebab itu dalam alam semesta harus ada ketaatan. Dua macam makhluk diciptakan di alam semesta. Makhluk pertama adalah malaikat -- yang berwujud roh. Makhluk kedua adalah manusia -- yang berwujud jiwa. Hikmat Allah sejak dini sudah nampak pemberontakan malaikat dan kejatuhan manusia, dan kekuasaan Allah tidak bisa dibangun di tengah malaikat atau di atas keturunan Adam. Maka dalam ke-Allahan diambillah satu keputusan yang sangat harmonis, bahwa kekuasaan ditetapkan lebih dulu di dalam ke-Allahan. Sejak itulah ada perbedaan antara Bapa dengan Putra. Kemudian, pada suatu hari, Putra mengosongkan diri-Nya dengan sukarela menjadi manusia ciptaan untuk menjadi wakil ketaatan kepada kekuasaan. Makhluk ciptaan itulah yang memberontak. Sebab itu, ketaatan dari makhluk itu pula yang seharusnya mengokohkan kekuasaan Allah. Yang berdosa dan memberontak adalah manusia, maka sekarang, kekuasaan Allah harus didirikan melalui ketaatan seorang manusia. Itulah sebabnya Tuhan harus datang ke bumi menjadi manusia dan dalam segala perkara menjadi sama seperti makhluk ciptaan.
Kelahiran Tuhan adalah kedatangan Allah. Dia tidak mempertahankan kekuasaan-Nya sebagai Allah. Sebaliknya, Dia mengambil keterbatasan manusia, bahkan keterbatasan seorang hamba, dengan menjadi manusia. Ini adalah perkara yang paling riskan bagi Tuhan, karena begitu Tuhan melangkah keluar dari ke-Allahan-Nya, ada satu kemungkinan Dia tidak bisa kembali kepada wujud Allah itu. Jika dalam posisi-Nya sebagai Putra, Dia tidak mau taat, meskipun Dia dapat menuntut kembali keilahian-Nya, namun prinsip ketaatan akan rusak selamanya. Ketika Tuhan melangkah keluar, hanya ada dua jalan bagi-Nya untuk kembali. Yang pertama adalah menjadi manusia yang wajar, mutlak dan tanpa syarat taat dalam keadaan yang bagaimanapun, tanpa pernah memberontak, taat selangkah demi selangkah, dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah perkara kembali-Nya dan penetapan diri-Nya sebagai Tuhan. Kedua, jika Dia merasa menjadi hamba itu sukar, bahwa kelemahan dan keterbatasan daging sangat memberati-Nya, sehingga Dia tidak bisa taat, maka Dia bisa memaksakan diri untuk kembali dengan kemuliaan kekuasaan ilahi-Nya. Tetapi Tuhan menolak jalan kedua, yakni jalan yang tidak seharusnya Ia tempuh. Dia menetapkan hati-Nya untuk merendahkan diri-Nya menempuh jalan ketaatan, bahkan taat sampai mati. Karena Dia sudah mengosongkan diri-Nya, maka Dia tidak akan mengisi lagi diri-Nya. Dia tidak mau mengubah pikiran-Nya sehingga menempuh jalan itu secara "plin-plan". Karena Dia sudah mengosongkan diri-Nya dari semua kemuliaan dan kekuasaan ilahi, dan sudah melangkah dari tempat itu untuk datang sebagai hamba, maka Dia tidak mau kembali kecuali melalui jalan ketaatan. Dia harus menyelesaikan perjalanan-Nya dengan taat sampai mati dalam kedudukan sebagai manusia, dan setelah itu barulah Dia kembali. Kini Dia dapat kembali, karena Dia sudah merampungkan ketaatan yang sempurna dan murni. Penderitaan demi penderitaan menimpa diri-Nya, tetapi Dia mutlak taat; sedikit pun tidak mengeluarkan reaksi atau pemberontakan. Itulah sebabnya Allah meninggikan Dia dan membawa-Nya kembali sebagai Tuhan dalam ke-Allahan. Ini bukan pengisian kembali apa yang telah dikosongkan-Nya, melainkan dibawanya seorang Manusia oleh Bapa ke dalam ke-Allahan -- Putra menjadi Yesus (Manusia), kembali ke dalam ke-Allahan. Kini kita tahu kemustikaan dari nama Yesus. Di alam semesta tidak ada seorang pun yang seperti Dia. Ketika Tuhan di kayu salib mengatakan "Sudah selesai (genap)",itu bukan hanya berarti keselamatan sudah genap, bahkan segala yang diucapkan-Nya sudah genap. Karena itu, Dia mendapatkan nama di atas segala nama, agar dalam nama Yesus semua lutut akan bertelut dan semua lidah akan mengaku, "Yesus Kristus adalah Tuhan". Sejak saat itu, Dia tidak hanya Allah, Dia juga adalah Tuhan. Status-Nya sebagai Tuhan menyiratkan hubungan-Nya dengan Allah; ini menyatakan pahala yang Ia terima di hadapan Allah. Status-Nya sebagai Kristus menyatakan hubungan-Nya dengan gereja.
Singkatnya, ketika Tuhan menanggalkan ke-Allahan-Nya, Dia tidak ingin kembali dengan menggunakan ke-Allahan-Nya; sebaliknya, Dia ingin ditinggikan dalam kedudukan persona-Nya sebagai manusia. Inilah cara Allah memelihara prinsip ketaatan-Nya. Tidaklah patut jika kita memiliki sedikit saja jejak pemberontakan. Kita harus mutlak tunduk kepada kekuasaan. Ini adalah perkara yang besar. Kembalinya Tuhan Yesus ke surga adalah melalui menjadi manusia, mengenakan rupa manusia dan taat, demikianlah Ia ditinggikan oleh Allah. Kita harus menghadapi perkara ini secara langsung. Dalam seluruh Alkitab, hampir-hampir tidak ada satu bagian lain yang semisterius bagian ini. Tuhan menyatakan "selamat tinggal" kepada ke-Allahan, tidak mau kembali berdasarkan ke-Allahan-Nya, karena Dia telah mengenakan tubuh daging. Dalam diri-Nya tidak ada sedikit pun ketidaktaatan, sebab itu Dia ditinggikan oleh Allah dalam keinsanian-Nya. Dia keluar untuk meninggalkan kemuliaan-Nya, Dia kembali untuk mendapatkan kembali kemuliaan-Nya. Semua hal itu dirampungkan oleh Allah. Sebab itu, kita perlu memiliki pikiran yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Kita semua harus menempuh jalan Tuhan, mengambil prinsip ketaatan-Nya sebagai prinsip kita untuk taat, dan belajar taat seorang terhadap yang lain. Orang yang mengenal prinsip ini akan nampak bahwa tidak ada satu dosa yang lebih buruk daripada pemberontakan, dan tidak ada perkara yang lebih penting daripada ketaatan. Bila Anda telah nampak prinsip ketaatan, barulah Anda bisa melayani Allah. Hanya dengan taat seperti teladan Tuhan, barulah prinsip Allah terpelihara. Begitu ada pemberontakan, itu berarti telah berada di dalam prinsip Iblis.
Belajar Taat Melalui Penderitaan
Ibrani 5:8 memberitahu kita, bahwa ketaatan didapatkan Tuhan melalui penderitaan, penderitaan membawakan ketaatan kepada-Nya. Meskipun ada penderitaan tetapi tetap taat, inilah baru ketaatan yang sejati. Kegunaan seseorang bukan terletak pada ketiadaan penderitaan (kesulitan), melainkan dalam penderitaan itu dia sudah belajar taat. Hanya orang-orang yang taat kepada Allah yang berguna. Jika hati kita tidak lembut, penderitaan tidak akan berarti. Jalan kita adalah jalan yang penuh dengan berbagai penderitaan. Orang yang menuntut kemudahan dan kenikmatan, tidak akan berguna. Kita semua harus belajar taat dalam penderitaan. Ketika Tuhan datang ke bumi, Dia tidak membawa ketaatan. Ketaatan itu dipelajari-Nya melalui penderitaan.
Keselamatan bukan hanya membawakan sukacita, juga mendatangkan ketaatan. Jika seseorang hanya mencari sukacita, yang dialaminya tidak akan berlimpah. Hanya orang yang taat yang akan mengalami kelimpahan keselamatan. Kalau tidak, kita telah mengubah sifat keselamatan. Kita perlu taat, seperti Tuhan yang taat. Tuhan menjadi sumber keselamatan kita melalui ketaatan. Allah menyelamatkan kita dengan harapan agar kita taat kepada kehendak-Nya. Bila seseorang berjumpa dengan kekuasaan Allah, ketaatan akan menjadi perkara yang sederhana, mengenal kehendak Allah juga akan menjadi perkara yang sederhana, karena Tuhan yang taat dalam segala hal sudah memberikan hayat ketaatan-Nya kepada kita.
BAB6
CARA ALLAH MENDIRIKAN KERAJAAN-NYA
"Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar taat dari apa yang telah diderita-Nya dan sesudah Ia disempurnakan, Ia menjadi sumber keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya"
(Ibr. 5:8-9)
"Kamilah saksi dari peristiwa-peristiwa itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Alah kepada semua orang yang menaati Dia"
(Kis. 5:32)
"Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata, "Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?"
(Rm. 10:16)
"Dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak menaati Injil Yesus, Tuhan kita."
(2 Tes. 1:8)
"Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu."
(1 Ptr. 1:22)
Tuhan Belajar Taat Melalui Penderitaan
Allah mendirikan prinsip ketaatan pada diri Tuhan, karena itu melalui diri-Nya pula Allah mendirikan kekuasaan-Nya. Dalam bab ini kita akan melihat bagaimana Allah mendirikan kerajaan-Nya melalui ketaatan ini. Ketika Tuhan datang ke bumi, Dia datang dengan tangan kosong. Dia tidak membawa ketaatan. Dia belajar ketaatan melalui penderitaan yang dialami-Nya, dan menjadi pokok keselamatan kekal bagi semua orang yang taat. Ketaatan-Nya di bumi, bahkan sampai mati di kayu salib, dipelajari-Nya melalui penderitaan demi penderitaan, dan melalui semua penderitaan itulah Dia merampungkan pelajaran-Nya. Tuhan keluar dari kebebasan ke-Allahan untuk menjadi manusia, seorang manusia yang lemah dan banyak menderita. Setiap penderitaan yang dialami Tuhan, menghasilkan buah ketaatan bagi-Nya. Semua penderitaan Tuhan tidak menghasilkan sungut-sungut atau keluhan. Namun, banyak orang Kristen meskipun telah melewati penderitaan dalam hidup bertahun-tahun lamanya, masih juga belum belajar taat. Bagi mereka, walaupun penderitaan bertambah, ketaatan tidak ikut bertambah. Ketika penderitaan datang, sering terdengar suara keluhan dari mulut mereka. Inilah tanda tidak belajar taat. Tuhan mengalami segala macam penderitaan. Dalam segala hal ketaatan-Nya ternyata. Sebab itu, ketaatan-Nya menjadi pokok keselamatan kita. Melalui ketaatan Tuhan, banyak orang menerima kasih karunia. Ketaatan Tuhan adalah bagi Kerajaan Allah. Tujuan penebusan adalah untuk perluasan Kerajaan Allah.
Allah Ingin Mendirikan Kerajaan-Nya
Pernahkah Anda menyadari, berapa besar pengaruh kejatuhan malaikat dan manusia bagi alam semesta, dan berapa besar persoalan yang ditimbulkan hal itu bagi Allah? Allah ingin makhluk ciptaan-Nya menerima kekuasaan-Nya. Tetapi kedua makhluk itu menolak kekuasaan Allah sehingga Allah tidak dapat mendirikan kekuasaan-Nya atas makhluk ciptaan. Namun, Allah tidak ingin menarik balik kekuasaan-Nya. Allah dapat menarik balik penyertaan-Nya, tetapi Dia tidak akan menarik balik sistem kekuasaan-Nya. Di mana ada kekuasaan Allah, di situ Allah mendapat tempat yang utama. Karena itu, di satu pihak, Allah memelihara sistem kekuasaan-Nya; di pihak lain, Dia mendirikan kerajaan-Nya. Meskipun Iblis memberontak terhadap kekuasaan Allah, dan meskipun manusia setiap hari melanggar kekuasaan-Nya dengan memberontak terhadap-Nya, Allah tidak akan membiarkan pemberontakan ini berlangsung terus. Dia akan mendirikan kerajaan-Nya sendiri. Mengapa Alkitab menyebut Kerajaan Allah sebagai Kerajaan Surga? Karena pemberontakan bukan hanya sesuatu yang terjadi di dunia, malaikat di surga pun memberontak.
Bagaimana Tuhan mendirikan Kerajaan Allah? Dia melakukannya dengan ketaatan. Apa pun yang Tuhan lakukan di bumi tidak lain adalah ketaatan. Tidak ada satu pun yang dilakukan-Nya yang bertentangan dengan kekuasaan Allah, semua dilakukan-Nya dalam ketaatan, dalam kerja sama yang sempurna dengan kekuasaan Allah. Dalam suasana inilah Tuhan mendirikan Kerajaan Allah dan melaksanakan kekuasaan-Nya. Gereja hari ini juga seharusnya membiarkan kekuasaan Allah menempuh jalan yang bebas hambatan dan mengekspresikan kerajaan-Nya melalui ketaatan.
Allah Menghendaki Gereja Menjadi Kerajaan Allah Lebih Dulu
Setelah Adam jatuh, Allah memilih Nuh dan keluarganya dalam zamannya. Setelah air bah, keluarga ini juga jatuh, dan Allah memilih Abraham sebagai bapa banyak bangsa. Kerajaan Allah hendak didirikan melalui dirinya. Sesudah itu Ia memilih Ishak dan Yakub. Kemudian, keturunan Yakub menderita di Mesir. Dalam penderitaan itu, jumlah mereka berlipat ganda. Lalu Allah mengutus Musa untuk memimpin mereka keluar dari Mesir guna mendirikan sebuah kerajaan. Karena sekelompok orang yang memberontak di antara mereka, Allah memimpin mereka melewati padang gurun untuk mengajarkan ketaatan kepada mereka sebelum Dia mendirikan kerajaan. Tetapi mereka masih memberontak terhadap Allah di padang gurun. Akibatnya, semuanya mati di padang gurun. Bahkan meskipun generasi kedua masuk ke tanah Kanaan, mereka masih belum taat sepenuhnya, mereka tidak mengusir semua penduduk asli Kanaan. Pada zaman Saul, raja yang pertama ini tidak mampu mendirikan kerajaan karena pemberontakan. Setelah Daud dipilih dan menjadi taat kepada kekuasaan Allah, barulah kita mendapatkan raja pertama yang sesuai dengan hati Allah. Tetapi pada saat itu dalam kerajaan masih ada pemberontakan. Allah memerintahkan bahwa tempat nama-Nya disebutkan adalah Yerusalem, tetapi orang-orang Israel memilih Gibeon dan mendirikan mezbah di sana. Karena kurang taat, meskipun sudah ada raja, kerajaan itu tidak ada isinya. Maka, sebelum Daud memerintah, ada kerajaan tanpa manusia. Pada zaman Daud, ada kerajaan dengan manusianya, tetapi tanpa isi kerajaan. Sebab itu, Kerajaan Allah masih belum berdiri.
Tuhan datang ke bumi untuk mendirikan Kerajaan Allah. Injil memiliki dua aspek: aspek individu dan aspek korporat. Secara individu, Injil memberikan hidup kekal kepada orang yang percaya. Secara korporat, Injil memanggil orang untuk bertobat, agar bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah. Pandangan Allah tertuju kepada kerajaan. Dalam doa Tuhan, pada awal dan akhir doa-Nya disebutkan kerajaan. Pada awal doa itu dikatakan, "Datanglah Kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga." Kerajaan Allah adalah lingkungan (wilayah) di mana kehendak-Nya terlaksana tanpa hambatan. Pada akhir doa itu dikatakan, "Karena Engkaulah yang empunya kerajaan, dan kuasa, dan kemuliaan." Ketiga hal ini: kerajaan, kekuasaan, dan kemuliaan berhubungan satu sama lain. Wahyu 12:10 memuat satu frasa yang mengatakan bahwa sekarang tibalah Kerajaan Allah. Itu berarti sekarang tibalah kekuasaan Kristus. Kerajaan adalah wilayah kekuasaan. Tuhan berfirman, "Lihatlah, Kerajaan Allah ada di tengah-tengah kamu."(Dia tidak mengatakan kerajaan ada di dalam kamu). Perkataan ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah Kerajaan Allah. Bila Tuhan Yesus berada di tengah-tengah kalian, berarti Kerajaan Allah ada di tengah-tengah kalian; karena di dalam-Nya kekuasaan Allah sepenuhnya terlaksana (Luk. 17:21). Kerajaan Allah ada pada diri Tuhan, kerajaan ini juga ada pada gereja, karena hayat Tuhan telah diberikan kepada gereja, kerajaan-Nya pun berkembang dan berdiri melalui gereja. Dari zaman Nuh, Allah sudah mendirikan kerajaan, tetapi itu hanyalah kerajaan manusia, bukan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah dimulai dari Tuhan Yesus, tetapi saat itu betapa kecil dan sempitnya wilayahnya. Hari ini, sebiji gandum sudah menghasilkan banyak biji gandum. Hari ini, wilayah Kerajaan Allah tidak terbatas pada diri Tuhan saja, melainkan juga ada di dalam diri banyak orang yang percaya.
Tujuan Allah bukan hanya agar kita menjadi gereja, tetapi juga agar gereja menjadi Kerajaan Allah. Gereja harus menjadi wilayah Kerajaan Allah, tempat Allah melaksanakan kekuasaan-Nya. Maka, Allah tidak hanya ingin mendapatkan beberapa orang saja, melainkan ingin mendapatkan seluruh gereja yang bebas pemberontakan, yang mutlak taat, yang mutlak bagi Allah, sehingga kekuasaan-Nya dapat dilaksanakan dengan sempurna. Dengan demikianlah kekuasaan didirikan di antara ciptaan Allah. Allah tidak hanya ingin manusia tunduk kepada kekuasaan-Nya secara langsung, Ia pun ingin manusia taat kepada kekuasaan yang ditunjuk-Nya, wakil kekuasaan-Nya. Yang Allah minta bukan hanya sedikit ketaatan, melainkan ketaatan yang sempurna.
Injil Bukan Hanya Menghendaki Manusia Percaya,
Lebih-lebih Menghendaki Manusia Taat
Alkitab tidak hanya membicarakan iman, juga membicarakan ketaatan. Kita bukan hanya orang dosa, kita pun anak-anak durhaka. Dalam Roma 10:16 kita nampak ketaatan kepada Injil. Percaya kepada Injil sebenarnya berarti taat kepada Injil. Dua Tesalonika 1:8 mengatakan, "Dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak menaati Injil Yesus, Tuhan kita." Orang-orang yang tidak taat adalah orang-orang yang memberontak. Kata-kata "yang tidak taat kepada kebenaran" dalam Roma 2:8, juga berarti pemberontakan. Kepada orang-orang itu Allah akan menumpahkan murka dan amarah. Satu Petrus 1:22 mengatakan, "Telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran." Jadi, kita nampak keselamatan dikarenakan ketaatan. Percaya berarti taat. Seorang murid dalam iman seharusnya merupakan seorang murid dalam ketaatan. Tidak hanya harus ada iman, juga harus ada ketaatan di bawah kekuasaan Tuhan. Ketika Paulus diterangi, dia berkata, "Tuhan, apakah yang harus kuperbuat?" Dia tidak hanya percaya kepada Tuhan, tetapi juga taat kepada Tuhan. Pertobatan Paulus tidak hanya membuatnya mengenal kasih karunia, juga membuatnya taat kepada kekuasaan. Ketika dia digerakkan oleh Roh Kudus untuk nampak kekuasaan Injil, dia mengakui Yesus sebagai Tuhan.
Allah telah memanggil kita bukan hanya untuk mendapatkan hayat demi iman, juga untuk memelihara kekuasaan-Nya melalui ketaatan. Rencana Allah dalam gereja adalah agar kita taat kepada Kekuasaan-Nya dan kepada kekuasaan yang didirikan-Nya (dalam keluarga, pemerintah, sekolah, gereja, dan sebagainya), bukan menunjukkan secara khusus orang-orang tertentu yang harus Anda taati, tetapi begitu Anda berjumpa dengan kekuasaan Allah di dalam Tuhan, Anda harus belajar taat kepada kekuasaan itu.
Banyak orang dapat taat dan tunduk jika mereka berada di bawah orang tertentu, tetapi terhadap orang lain mereka tidak dapat taat, ini berarti mereka tidak nampak kekuasaan. Taat kepada manusianya, itu tidak berguna, yang perlu ialah melihat kekuasaan. Semua sistem ditetapkan agar kita belajar taat. Orang yang pernah menjamah kekuasaan, begitu ada sedikit ketidak-taatan, dalam batinnya segera merasa bahwa ia telah memberontak lagi. Orang-orang yang tidak mengenal kekuasaan, tidak menyadari betapa pemberontaknya diri mereka. Sebelum Paulus diterangi, dia tidak tahu bahwa dia menendang galah rangsang. Begitu seseorang diterangi, pertama-tama dia akan nampak kekuasaan, kemudian dia akan nampak lebih banyak lagi kekuasaan. Saat itu Paulus bertemu dengan seorang saudara kecil, Ananias. Dia tidak melihat orangnya, dia tidak bertanya siapakah Ananias, apakah dia terpelajar. Dia belajar mengenal bahwa Ananias adalah kekuasaan yang diutus, wakil kekuasaan. Karena itu, Paulus taat kepadanya. Betapa mudahnya taat bila seseorang sudah berjumpa dengan kekuasaan.
Allah akan Membuat Bangsa-bangsa Menjadi Kerajaan-Nya Melalui Gereja
Jika gereja tidak mau menerima kekuasaan Allah, Allah tidak ada jalan untuk mendirikan Kerajaan-Nya. Allah terlebih dulu mendapatkan kerajaan di atas diri Tuhan Yesus, kemudian mendirikan kerajaan-Nya di dalam gereja, dan terakhir, kerajaan-Nya akan didirikan di seluruh bumi. Karena itu, pada suatu hari akan terdengar satu deklarasi: "Kerajaan dunia telah menjadi Kerajaan Tuhan kita dan Kristus-Nya" (Why. 11:15, Tl). Antara kerajaan dalam diri Tuhan Yesus secara individu, dan kerajaan dunia menjadi Kerajaan Tuhan kita dan Kristus-Nya, terdapat gereja. Setelah kerajaan didirikan dalam diri Tuhan Yesus, barulah kerajaan itu bisa didirikan dalam gereja, setelah kerajaan didirikan di dalam gereja, barulah kerajaan dunia bisa menjadi Kerajaan Allah. Tanpa Tuhan Yesus, tidak ada gereja, tanpa gereja, tidak ada perluasan Kerajaan Allah.
Ketika Tuhan di bumi, Dia taat, bahkan dalam perkara yang kecil. Misalnya, dalam hal membayar pajak, Dia tidak mengabaikannya. Ketika tidak ada uang, keping uang diambil dari mulut ikan untuk membayarnya. Dia juga berkata, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." Meskipun Kaisar adalah pemberontak, tetapi karena dia telah didirikan oleh Allah, maka orang harus mematuhinya. Setelah ketaatan kita sempurna, Tuhan akan menghakimi orang-orang durhaka. Ketika kita taat, kerajaan akan diperluas ke seluruh bumi, banyak orang akan memiliki perasaan yang peka terhadap dosa, dan tidak memiliki perasaan pemberontakan. Manusia tidak hanya harus memiliki kesadaran terhadap dosa, terlebih lagi harus memiliki kesadaran terhadap kekuasaan. Tanpa kesadaran akan dosa, orang tidak dapat menjadi orang Kristen, tanpa kesadaran akan kekuasaan, orang tidak dapat menjadi orang yang taat.
Gereja Harus Taat kepada Kekuasaan Allah
Kita harus tahu bagaimana taat di dalam gereja. Tidak ada satu kekuasaan pun dalam gereja yang boleh kita abaikan. Allah ingin melihat Kerajaan muncul dari gereja, Dia ingin semua kekuasaan dilaksanakan melalui gereja. Bila gereja taat, bumi akan tunduk kepada kekuasaan Allah. Jika gereja tidak mau membiarkan Kerajaan Allah terlaksana, Kerajaan Allah tidak akan terlaksana di antara bangsa-bangsa. Sebab itu, gereja adalah jalan bagi Kerajaan. Jika tidak, gereja akan menjadi penghalang bagi Kerajaan.
Hari ini, jika gereja tidak bisa taat kepada Allah hanya karena sedikit kesulitan, bagaimana Kerajaan Allah dapat ternyata? Bila seseorang beralasan dengan orang lain, berdebat dengan sesamanya, bagaimana Kerajaan Allah dapat datang? Kita sudah menunda-nunda waktu Allah. Kita harus menyingkirkan segala kedurhakaan, agar Allah memiliki jalan bebas hambatan. Bila gereja taat, bangsa-bangsa akan taat. Karena itu, gereja mengemban tanggung jawab yang sangat besar dan berat. Bila hayat Allah, kehendak Allah, dan perintah Allah terlaksana di dalam gereja, Kerajaan pun datanglah.