← Daftar isi Kekuasaan dan Ketaatan · bab 4/10

PENGENALAN DAUD TERHADAP KEKUASAAN

"Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kau pandang baik. Maka Daud bangun, lalu memotong punca jubah Saul dengan diam-diam. Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul; lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: Dijauhkan TUHANlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN"

(1 Sam. 24:5-7)

"Tetapi kata Daud kepada Abisai: Jangan musnahkan dia, sebab siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi TUHAN, dan bebas dari hukuman? Kiranya TUHAN menjauhkan dari padaku untuk menjamah orang yang diurapi TUHAN"

(1 Sam. 26:9,11)

"Kemudian berkatalah Daud kepadanya: Bagaimana? Tidakkah engkau segan mengangkat tanganmu memusnahkan orang yang diurapi TUHAN?"

(2 Sam. 1:14)

Daud Menerima Takhta Tanpa Membayar Harga Pemberontakan

Pada saat kerajaan Israel didirikan, Allah secara resmi menetapkan kekuasaan-Nya di bumi. Setelah orang-orang Israel memasuki tanah Kanaan, mereka meminta seorang raja dari Allah. Lalu Allah mengutus Samuel mengurapi Saul menjadi raja yang pertama. Saul adalah orang yang dipilih Allah. Allah menetapkan dia sebagai kuasa, yaitu sebagai wakil kekuasaan Allah. Namun, setelah dia menjadi raja, dia tidak taat kepada kekuasaan Allah, malah merusak kekuasaan Allah. Dia enggan membunuh raja Amalek serta lembu domba yang baik. Dia telah membangkang kepada Allah, tidak mendengar sabda Allah. Karena itu, Allah mengesampingkan Saul dan mengurapi Daud. Namun Daud adalah orang di bawah kekuasaan Saul. Dia adalah rakyat Saul, lalu menjadi tentara di dalam markas Saul, kemudian bahkan menjadi menantu Saul. Kedua orang ini telah menerima pengurapan dari Allah. Tetapi Saul pernah beberapa kali ingin membunuh Daud. Sekarang di tengah-tengah bani Israel terdapat dua raja. Yang satu telah dibuang, namun masih duduk di atas takhta, satu lagi telah dipilih, namun belum naik takhta. Saat ini, yang merasa paling sulit adalah Daud.

Dalam 1 Samuel 24 tercatat, Saul mengejar-ngejar Daud sampai ke padang gurun En-Gedi, dan Saul masuk ke dalam gua untuk buang air besar, sedangkan Daud dengan pengikut-pengikutnya sedang berada dalam gua itu. Pengikut-pengikut Daud mengusulkan agar Saul dibunuh. Namun Daud menolak, ia tidak berani menggerakkan tangannya untuk memberontak kepada penguasa. Walaupun Daud telah diurapi Allah dan ditinjau dari kedudukan kerajaan, Daud berada di atas kedudukan yang sesuai dengan rencana dan kehendak Allah. Siapa yang dapat menentang dia menjadi raja? Apa salahnya kalau Daud membantu dirinya menjadi raja? Itu akan berarti ia membantu Allah untuk menggenapkan rencana-Nya. Bukankah hal ini baik? Tetapi Daud sangat merasakan bahwa ia tidak dapat melakukan hal itu. Jika ia membunuh Saul, berarti ia memberontak kepada kuasa Allah, karena urapan Allah masih ada di atas tubuh Saul. Walaupun Saul telah dibuang, namun dia masih sebagai sang terurap, dia masih sebagai yang ditetapkan Allah. Meskipun saat itu kalau Saul mati terbunuh, Daud dapat segera menggantikannya menjadi raja, dan itu tidak sampai membuat kehendak Allah tertunda lama, namun Daud adalah seorang yang menyangkal diri; dia lebih rela terlambat menjadi raja dan lebih baik membiarkan rencana Allah tertunda, ia tidak mau menjadi pemberontak. Karena itu, akhirnya dia dapat menjadi kuasa Allah.

Allah pernah sekali menetapkan Saul menjadi raja, dan Daud pernah sekali taat di bawah kekuasaannya. Maka, jika Daud membunuh Saul, itu berarti dia memperoleh kedudukan raja dengan pemberontakan sebagai harga. Kalau demikian, ia akan jatuh ke dalam kedudukan pemberontak. Daud tidak berani berbuat demikian. Hal ini seprinsip dengan tidak beraninya Mikhael mencela atau menghardik Iblis dengan kata-kata hujatan (Yud. 9). Karena itu, kekuasaan adalah perkara yang luar biasa seriusnya.

Ketaatan Lebih Tinggi daripada Pekerjaan Kita

Hari ini orang yang mau melayani Allah harus taat kepada kekuasaan. Ketaatan melampaui pekerjaan kita. Walaupun seandainya Daud telah membereskan seluruh negaranya dengan baik, jika tanpa taat di bawah kekuasaan Allah, itu masih tidak berguna dan ia akan tetap seperti Saul. Saul dalam Perjanjian Lama, karena menyayangi lembu domba yang baik, tidak mau membasminya, malah ingin mempersembahkannya sebagai kurban, itu sama dengan prinsip pemberontakan Yudas yang telah menjual Yesus dengan 30 dinar. Memberi persembahan tidak dapat menutupi pemberontakan. Jika Daud ingin menggenapkan kehendak Allah, menggenapkan rencana Allah, dan dia membunuh Saul, maka dia segera boleh melayani Allah. Tetapi Daud tidak berani berbuat demikian. Dia menunggu Allah yang bekerja. Dia rela taat. Daud hanya memotong jumbai jubah Saul, tetapi setelah memotongnya, hatinya berdebar-debar (tertegur). Perasaannya sangat peka, seperti perasaan kaum beriman dalam Perjanjian Baru. Yang kita persalahkan tidak hanya membunuh orang, bahkan dengan pisau kecil memotong baju orang pun tidak benar, itu adalah membangkang. Kritik-kritik di belakang atau sikap yang tidak sedap dipandang, atau protes di dalam hati, walaupun bukan membunuh, itu tidak beda dengan memotong jumbai jubah. Semua itu berasal dari roh pemberontak.

Daud adalah orang yang dari dalam batinnya mengenal kekuasaan Allah. Berkali-kali dia dikejar Saul, namun dia tetap tunduk di bawah kekuasaan Allah, dan menyebut Saul sebagai tuan, yang terurap dari Yehovah. Ini menunjukkan satu perkara yang penting, yaitu taat kepada kekuasaan bukan taat kepada orangnya; taat kepada minyak urapan yang ada pada diri orang itu, yang diterimanya ketika dia dilantik menjadi kuasa. Daud mengenal minyak urapan pada diri Saul dan mengakui dia sebagai yang diurapi Allah, karena itu dia hanya melarikan diri, tidak berani mengulurkan tangan membunuhnya. Saul tidak taat kepada perintah Allah, dibuang oleh Allah, ini adalah urusannya dengan Allah. Sedangkan Daud taat kepada sang terurap, ini adalah urusan Daud yang harus dipertanggung-jawabkannya kepada Allah.

Daud Mutlak Memelihara Kekuasaan Allah

Allah ingin mutlak memelihara kekuasaan-Nya, Allah ingin memulihkan perkara ini. Baiklah kita lihat lagi kisah yang tercatat dalam 1 Samuel 26. Keadaan atau kejadian yang sama terjadi di padang gurun Zif dan pencobaan untuk kedua kalinya tiba. Ketika itu Saul sedang tidur. Daud masuk ke tempat Saul berbaring dan Abisai hendak membunuh Saul, tetapi Daud tetap tidak mengizinkan Abisai mencelakai Saul. Daud bahkan berkata, siapa membunuh orang yang diurapi TUHAN, tidak akan bebas dari hukuman. Ini adalah untuk kedua kalinya Daud tidak membunuh Saul. Ia hanya mengambil tombak dan kendi Saul. Kali ini lebih maju daripada sebelumnya. Ia tidak mengambil barang yang melekat pada dirinya, hanya mengambil barang yang di luar dirinya. Dia lebih senang tidak menyelamatkan nyawanya sendiri untuk menaati kekuasaan Allah dan memelihara kekuasaan Allah.

Dalam 1 Samuel 31 dan 2 Samuel 1, tercatat Saul membunuh diri. Ada seorang pemuda Amalek datang melapor jasa kepada Daud, mengatakan bahwa Saul telah mati terbunuh. Namun sikap Daud tetap mutlak menolak dirinya sendiri dan taat kepada kuasa Allah. Dia berkata kepada orang itu, "Tidakkah engkau segan mengangkat tanganmu memusnahkan orang yang diurapi TUHAN", Kemudian ia menyuruh orang membunuh orang muda yang memberi laporan itu.

Karena Daud memelihara kekuasaan Allah, maka Daud disebut Allah sebagai orang yang sesuai dengan hati Allah. Kerajaan Daud berlanjut terus hingga sekarang. Bahkan Tuhan Yesus pun menjadi keturunan Daud. Hanya orang yang taat kepada kekuasaan baru bisa menjadi kuasa. Ini adalah perkara yang sangat serius. Karena itu, kita harus mencabut dosa pemberontakan. Jika kita ingin menjadi kuasa, kita harus lebih dulu taat kepada kekuasaan. Ini adalah satu-satunya perkara yang paling penting. Tanpa ini tidak ada jalan. Gereja adalah lembaga yang taat. Dalam gereja kita tidak takut ada orang yang lemah, yang paling ditakutkan ialah adanya orang-orang yang memberontak. Kita harus dari lubuk batin kita taat di bawah kekuasaan Allah, barulah gereja bisa diberkati. Jalan yang di depan tergantung pada kita; kita di sini adalah untuk menempuh hari-hari yang serius.