← Daftar isi Kekuasaan dan Ketaatan · bab 3/10

CONTOH PEMBERONTAKAN DALAM PERJANJIAN LAMA (2)

II. PEMBERONTAKAN HAM

"Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur. Setelah ia minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya. Maka Ham, bapa Kanaan itu, melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya di luar. Sesudah itu Sem dan Yafet mengambil sehelai kain dan membentangkannya pada bahu mereka berdua, lalu mereka berjalan mundur; mereka menutupi aurat ayahnya sambil berpaling muka, sehingga mereka tidak melihat aurat ayahnya. Setelah Nuh sadar dari mabuknya dan mendengar apa yang dilakukan anak bungsunya kepadanya, berkatalah ia: Terkutuklah Kanaan, hendaklah ia menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya. Lagi katanya: Terpujilah TUHAN, Allah Sem, tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya. Allah meluaskan kiranya tempat kediaman Yafet, dan hendaklah ia tinggal dalam kemah-kemah Sem, tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya."

(Kej. 9:20-27)

Kegagalan Wakil Kekuasaan adalah

Ujian Bagi Orang yang Harus Taat kepada Kekuasaan

Pada taman yang pertama, Adam telah jatuh. Pada taman yang kedua, Nuh juga jatuh. Allah menyelamatkan Nuh sekeluarga karena Nuh benar. Dalam rencana Allah, Nuh adalah kepala keluarganya. Keluarga Nuh telah diletakkan Allah di bawah kekuasaan-Nya. Allah pun telah menetapkan Nuh sebagai kepala di bumi pada masa itu.

Namun pada suatu hari, Nuh minum arak dari anggur hasil kebun anggurnya dan mabuk. Dia telanjang di dalam kemahnya. Ketika anaknya yang bungsu, Ham, melihat ayahnya telanjang, ia keluar dan menceritakan hal itu kepada kedua saudaranya. Menurut tindakan atau perbuatan, hal tersebut adalah kesalahan Nuh. Dia seharusnya tidak minum arak anggur dan mabuk. Akan tetapi Ham tidak melihat seriusnya kekuasaan. Ayahnya adalah kuasa yang didirikan Allah di dalam keluarganya. Namun daging lebih suka melihat kekuasaan tersingkap dan mendapat malu, demikian akan ada kebebasan dari keterikatan. Ketika Ham melihat ayahnya lalai, ia sama sekali tidak menaruh perasaan malu dan sedih, juga tidak mau menutupi hal itu. Ini membuktikan bahwa di dalamnya ada roh pemberontakan. Bersamaan dengan itu, dia malah keluar memberitahukan hal itu kepada saudara-saudaranya, menceritakan keburukan ayahnya, dengan demikian ia melakukan perbuatan durhaka. Namun perhatikanlah bagaimana Sem dan Yafet menangani hal ini. Mereka berjalan mundur masuk ke dalam kemah ayahnya. Mereka memalingkan muka, tidak mau melihat aib ayahnya dan menutupi ayahnya dengan kain yang mereka bentangkan pada bahu mereka. Kegagalan Nuh menjadi suatu ujian bagi Sem, Ham, Yafet juga Kanaan (anak Ham), menyatakan siapakah yang taat dan siapakah yang memberontak. Kegagalan Nuh telah menyingkapkan pemberontakan Ham.

Setelah Nuh sadar dari mabuknya, dia lalu bernubuat, bahwa keturunan Ham akan menerima kutuk dan ia akan menjadi hamba (budak) saudara-saudaranya. Dalam Alkitab, orang yang pertama menjadi budak adalah Ham. Frasa "Kanaan menjadi budak" dikatakan sebanyak tiga kali. Ini berarti, orang yang tidak taat kepada kekuasaan harus menjadi budak, yang terus-menerus harus tunduk kepada kekuasaan. Mengenai Sem, ia pasti diberkati. Tuhan Yesus dilahirkan dari keturunan Sem. Keturunan Yafet adalah pemberita Kristus. Hari ini, bangsa-bangsa yang mengabarkan Injil adalah keturunan Yafet. Orang pertama yang menerima kutuk setelah air bah ialah Ham. Keturunannya akan menjadi hamba turun-temurun, yaitu harus taat di bawah kekuasaan. Maka, setiap orang yang belajar melayani Tuhan harus menjumpai kekuasaan. Manusia tidak dapat melayani Allah dengan roh yang durhaka.

III. NADAB DAN ABIHU MEMPERSEMBAHKAN API ASING

"Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka. Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN" (Im. 10:1-2).

Sebab Musabab Penghangusan

Kasus Nadab dan Abihu sangat serius! Mereka bisa menjadi imam karena mereka termasuk keluarga Harun dan karena keadaan keluarga ini benar di hadapan Allah, bukan karena keadaan pribadi mereka masing-masing. Allah memang telah menetapkan Harun menjadi imam dan minyak urapan itu ada di atas kepala Harun. Maka atas segala perkara persembahan dan pelayanan, Harun adalah pemeran utama, sedangkan anak-anaknya hanya sebagai pembantu yang melakukan perkara-perkara selain mezbah sesuai dengan perintah Harun. Allah tidak bermaksud menyuruh anak-anak Harun menjadi imam secara bebas, melainkan menghendaki mereka berada di bawah kekuasaan Harun. Kitab Imamat 8 mencatat Harun dan anak-anaknya sebanyak 12 kali. Pada pasal 9 dikatakan bahwa Harun mempersembahkan kurban, sedang anak-anaknya di sampingnya, membantunya. Jika Harun tidak bergerak, anak-anaknya juga seharusnya tidak bergerak. Semua harus di bawah nama Harun, bukan nama anak-anaknya. Jika anak-anaknya mempersembahkan kurban menurut kemauan mereka sendiri, hal itu disebut api asing. Namun Nadab dan Abihu, anak-anak Harun, mengira mereka sendiri juga bisa mempersembahkan kurban. Tanpa pesan Harun, mereka mempersembahkan api asing. Mempersembahkan api asing berarti melayani Allah tanpa menurut perintah dan tidak menghormati kekuasaan. Mereka melihat ayah mereka mempersembahkan kurban dengan begitu sederhana, nampaknya tidak ada istimewanya. Lalu mereka mengira bahwa mereka juga dapat melakukannya, demikianlah mereka mengambil alih hal itu. Mereka hanya memandang dapat tidaknya perkara itu dilakukan tanpa memandang siapakah kekuasaan Allah.

Pelayanan Harus Berasal dari Allah

Karena itu, ada satu hal yang sangat serius di sini. Melayani Allah dan mempersembahkan api asing adalah dua hal yang mirip, padahal keduanya sangat berbeda! Pelayanan kepada Allah berasal dari Allah. Jika manusia melayani Allah karena ketaatan kepada kekuasaan-Nya, ia diperkenan Allah. Sebaliknya, api asing berasal dari manusia, berdasarkan kegairahan manusia, tidak perlu mematuhi kehendak Allah atau taat kepada kekuasaan Allah; akibatnya adalah maut. Seringkali semakin kita melayani dan bekerja, semakin banyak kematian yang kita hadapi. Dalam keadaan seperti itu kita perlu mohon Allah menerangi agar kita nampak, sebenarnya kita berada dalam prinsip pelayanan atau dalam prinsip api asing?

Pekerjaan Allah adalah Koordinasi Kekuasaan

Ketika Nadab dan Abihu bertindak di luar Harun, mereka bertindak di luar Allah, karena pekerjaan Allah adalah koordinasi kekuasaan. Allah menghendaki mereka melayani di bawah kekuasaan Harun. Dalam Perjanjian Baru, ada Barnabas dan Paulus, Paulus dan Timotius, Petrus dan Markus. Dalam contoh-contoh itu, di satu pihak kita nampak penanggungjawab, yang memimpin; di pihak lain ada pembantu, yang mengikuti. Dalam pekerjaan Allah, ada sebagian orang yang telah Allah angkat menjadi kuasa, ada pula orang yang Allah angkat menjadi orang-orang yang harus taat kepada kekuasaan. Allah menghendaki kita menjadi imam menurut aturan Melkisedek. Demikian pula, kita harus melayani Allah di bawah koordinasi urutan kekuasaan.

Begitu orang yang tidak seharusnya menjadi kepala tampil memegang pimpinan, itulah pemberontakan dan itulah maut. karena itu, jika seseorang melayani Allah tanpa menjamah kekuasaan, pelayanannya adalah "persembahan api asing". Orang yang berkata, "Si anu bisa melakukannya, aku pun bisa," itu adalah pemberontakan. Allah tidak hanya memperhatikan ada tidaknya api, tetapi juga memperhatikan sifat dari api itu. Pemberontakan bisa mengubah sifat api. Semua yang tidak melalui perintah Allah dan yang tidak diperintahkan Harun, adalah api asing. Yang Allah perhatikan bukanlah kurban persembahan, tetapi masalah mempertahankan (memelihara) kekuasaan. Karena itu, manusia harus mengikuti, harus selalu berada dalam kedudukan sebagai pelengkap. Wakil kekuasaan mengikuti Allah; orang-orang yang taat kepada kekuasaan mengikuti wakil kekuasaan itu. Perkara rohani atau pekerjaan rohani bukanlah pelayanan perorangan yang bebas, melainkan Tubuh yang korporat berkoordinasi dalam pelayanan. Unit pelayanan adalah koordinasi, bukan perorangan. Ketika Nadab dan Abihu bermasalah dengan Harun, berarti mereka bermasalah dengan Allah. Mereka tidak dapat mengabaikan Harun dan bekerja sendirian. Orang yang melanggar kekuasaan akan dibakar hangus oleh api Allah. Bahkan Harun pun tidak mengetahui betapa seriusnya perkara ini. Namun Musa tahu keseriusan melanggar kekuasaan Allah. Tidak sedikit orang yang mengira dirinya melayani Allah. Namun mereka bertindak secara individual, tanpa taat di bawah kekuasaan apa pun. Banyak orang yang berdosa tanpa menyadari bahwa mereka telah melanggar kekuasaan Allah. Karena itu, yang disebut "penginjilan bebas" yang dilakukan umat Kristen di China pada masa lampau sebenarnya, merupakan suatu kerugian besar bagi gereja.

IV. KECAMAN HARUN DAN MIRYAM

"Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kusy yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kusy. Kata mereka: Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman? Dan kedengaranlah hal itu kepada Musa. Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi. Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan. Maka keluarlah mereka bertiga. Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya. Lalu berfirmanlah Ia: Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa? Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap mereka, lalu pergilah Ia. Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta! Lalu kata Harun kepada Musa: Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami. Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya. Lalu berserulah Musa kepada TUHAN: Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia. Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: Sekiranya ayahnya meludahi mukanya, tidakkah ia mendapat malu selama tujuh hari? Biarlah dia selama tujuh hari dikucilkan ke luar tempat perkemahan, kemudian bolehlah ia diterima kembali. Jadi dikucilkanlah Miryam ke luar tempat perkemahan tujuh hari lamanya, dan bangsa itu tidak berangkat sebelum Miryam diterima kembali" (Bil. 12:1-15).

Mengecam Wakil Kekuasaan Menimbulkan Murka Allah

Harun dan Miryam adalah kakak lelaki dan kakak perempuan Musa. Dalam keluarga, Musa memang harus tunduk di bawah kekuasaan Harun dan Miryam. Namun dalam panggilan dan pekerjaan Allah, Harun dan Miryam harus taat di bawah kekuasaan Musa. Harun dan Miryam tidak senang Musa memperistri perempuan Kusy, lalu bangkit menyerang dan mengecam Musa. Kata mereka, "Sungguhkah TUHAN berfirman dangan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga ia berfirman?" Orang Kusy adalah orang Afrika, keturunan Ham, karena itu tidak seharusnya Musa memperistri orang Kusy. Miryam lebih tua daripada Musa, jika ia berdiri di atas hubungan keluarga, dia boleh saja mencela adiknya. Tetapi ketika ia membuka mulut mengecam Musa, ia telah menjamah pekerjaan Allah dan telah melanggar kedudukan Musa. Dalam pekerjaan-Nya, Allah telah meletakkan wakil kekuasaan di tangan Musa. Maka perbuatan mereka mengecam Musa karena masalah keluarga, adalah kesalahan besar.

Allah mengangkat Musa untuk memimpin bani Israel keluar dari Mesir. Namun Miryam merendahkan Musa. Karena itu, Allah tidak berkenan kepada Miryam. Anda boleh menanggulangi saudara Anda, namun Anda tidak boleh mencela kekuasaan Allah. Harun dan Miryam tidak mengenal kekuasaan Allah. Mereka menyimpan hati yang memberontak dengan berdiri di atas kedudukan alamiah. Musa tidak menjawab. Dia tahu, kalau dia yang ditetapkan Allah sebagai kekuasaan, dia tidak perlu dibela oleh siapa pun. Siapa yang mengecam dia, akan menjamah maut. Dia tidak perlu membuka mulut. Asalkan Allah yang memberi dia kekuasaan, dia tidak perlu berbicara. Singa tidak perlu dilindungi, karena dia adalah kekuasaan. Musa terlebih dulu tunduk di bawah kekuasaan Allah, baru dia bisa mewakili Allah sebagai kekuasaan. Dia adalah seorang yang paling lembut hatinya di atas muka bumi. Kekuasaan yang diwakili oleh Musa adalah kekuasaan Allah. Semua kekuasaan adalah pemberian Allah, karena itu tidak ada seorang pun yang dapat merebut.

Perkataan yang memberontak itu pun membubung ke atas dan didengar oleh Allah. Ketika Harun dan Miryam menyerang Musa, mereka menyerang Allah yang ada di atas diri Musa, karenanya Allah murka. Begitu manusia menyentuh wakil kekuasaan, berarti menyentuh Allah yang di dalam orang itu. Begitu seseorang menyerang wakil kekuasaan, ia telah menyerang Allah.

Kekuasaan adalah Pilihan Allah Bukan yang Digapai oleh Manusia

Allah memanggil mereka bertiga berdiri di depan Kemah Pertemuan. Maka keluarlah Harun dan Miryam dengan berani, mereka merasa memiliki alasan yang tepat, mereka juga mengira akhirnya Allah pun memanggil mereka, "Musa, engkau memperistri perempuan Kusy dan telah mengakibatkan kekacauan di dalam keluarga. Kami mempunyai banyak perkataan yang akan kami katakan kepada Allah." Namun Allah berkata, "Musa adalah hamba-Ku, yang setia dalam segenap rumah-Ku. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku, Musa?". Kekuasaan rohani bukanlah sesuatu yang digapai oleh manusia, melainkan berasal dari pilihan Allah. Perkara rohani sepenuhnya berbeda dengan prinsip duniawi.

Kekuasaan adalah Allah itu sendiri dan sekali-kali tidak boleh kita langgar. Siapa pun yang mengecam Musa berarti mengecam pilihan Allah. Kita tidak boleh meremehkan pilihan Allah.

Pernyataan Pemberontakan adalah Penyakit Kusta

Ketika murka Allah menyala, tiang awan itu meninggalkan Kemah Pertemuan. Penyertaan Allah lenyap. Miryam segera terkena kusta. Ini bukan penyakit menular, melainkan hajaran Allah. Terkena kusta tidak lebih baik daripada memperistri perempuan Kusy. Begitu pemberontakan yang di dalam ternyata, itulah penyakit kusta. Orang yang berpenyakit kusta harus dikucilkan. Manusia tidak dapat menghampirinya dan ia kehilangan persekutuan.

Ketika Harun melihat Miryam terkena kusta, ia lalu memohon Musa untuk menjadi pengantara agar Allah menyembuhkan dia. Allah menyuruh mengurung Miryam di luar perkemahan selama tujuh hari, baru kemudian boleh kembali lagi. Dia harus menanggung malu selama tujuh hari seperti bila ayahnya meludahi mukanya, dia akan dipermalukan tujuh hari. Setelah tujuh hari barulah perkemahan itu boleh berangkat. Bila di antara kita terdapat pemberontakan atau pengecaman, penyertaan Allah akan lenyap dan perkemahan tidak dapat bergerak. Sebelum kata-kata kecaman itu dihakimi, tiang awan Allah tidak akan turun. Bila masalah kekuasaan tidak diselesaikan, semua perkara lainnya menjadi hampa.

Taat kepada Kekuasaan Allah yang Langsung,

Juga Taat kepada Wakil Kekuasaan Allah

Kebanyakan orang mengira dirinya sudah taat kepada Allah. Mereka tidak tahu bahwa mereka masih perlu taat kepada wakil kekuasaan Allah. Orang yang benar-benar taat akan nampak kekuasaan Allah dalam setiap lingkungan, dalam keluarga, dan dalam berbagai lembaga (instansi). Allah berkata, "Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku?". Setiap kali timbul perkataan kecaman, kita harus memperhatikannya baik-baik. Kita tidak boleh ceroboh, mengira kita boleh berkata sembarangan. Bila ada kecaman, itu membuktikan di dalam ada roh pemberontakan. Kecaman adalah bertunasnya pemberontakan. Hendaklah kita takut akan Allah dan tidak berbicara sembarangan. Hari ini, banyak orang mengecam orang-orang yang di depan mereka, banyak orang mengecam saudara-saudara pewajib dalam gereja, mereka tidak tahu betapa seriusnya perkara ini! Suatu hari, jika gereja menerima anugerah, saat itu tidak akan ada lagi hubungan dengan orang-orang yang mengecam hamba Allah, tidak akan ada yang berbicara dengan orang-orang itu, karena orang-orang itu telah terkena kusta. Semoga Allah merahmati kita, sehingga kita nampak, hal ini bukan bermasalah dengan saudara kita, melainkan bermasalah dengan kekuasaan yang ditetapkan oleh Allah. Kalau kita telah bertemu dengan kekuasaan, barulah kita tahu, betapa banyaknya hal-hal yang kita lakukan yang merupakan dosa terhadap Allah. Sejak saat itu, konsepsi kita terhadap dosa barulah berubah. Kita akan memiliki pandangan Allah terhadap dosa. Dosa yang Allah hakimi adalah pemberontakan manusia.

V. PEMBERONTAKAN PENGIKUT KORAH, DATAN, DAN ABIRAM

Pembacaan Alkitab: Bilangan 16 (seluruh pasal)

Pemberontakan Korporat

Pengikut Korah adalah orang Lewi, yang mewakili suku rohani. Datan dan Abiram adalah suku Ruben, yang mewakili para pemimpin. Di samping itu, ada 250 orang yang ternama -- semuanya adalah tokoh-tokoh. Orang-orang ini berkumpul bersama untuk memberontak. Mereka menyerang Musa dan Harun serta berkata, "Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu adalah orang-orang kudus, . . . mengapakah kamu meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN?"(Bil. 16:1-3). Mereka tidak menghormati Musa dan Harun. Mungkin perkataan mereka itu mereka katakan dengan penuh kejujuran, namun mereka tidak nampak kekuasaan TUHAN. Mereka mengira ini adalah masalah pribadi, mengira di antara umat Allah tidak terdapat kekuasaan. Mereka menyerang Musa, bukan karena hubungan Musa dengan Allah atau hubungan Musa dengan perintah Allah. Setelah Musa mendengar dakwaan yang begitu serius, ia tidak gusar atau marah, sebaliknya, ia segera bersujud di hadapan TUHAN (ayat 4). Ia tidak berdasarkan dirinya sendiri melakukan sesuatu. Ia juga tidak mencoba menggunakan kekuasaan, sebab kekuasaan adalah milik Allah. Ia menyuruh para pengikut Korah menunggu sampai pagi. Esok pagi TUHAN akan membuktikan siapa yang menjadi milik-Nya, dan siapakah yang kudus (ayat 5). Dia menjawab roh yang tidak wajar dengan roh yang wajar.

Apa yang dikatakan pengikut Korah sepenuhnya berdasarkan alasan, semuanya adalah dugaan. Tetapi Musa berkata bahwa TUHAN akan menjelaskan semuanya; semuanya adalah perkara pilihan dan perintah TUHAN. Ini bukan masalah Musa, melainkan masalah TUHAN. Mereka mengira bahwa mereka hanya menentang Musa dan Harun, sama sekali tidak menentang Allah. Mereka tidak berniat memberontak terhadap Allah, mereka ingin tetap melayani Allah. Mereka hanya meremehkan Musa dan Harun. Tetapi Allah tidak bisa dipisahkan dengan wakil kekuasaan-Nya. Manusia tidak dapat mempunyai satu sikap terhadap Allah lalu mempunyai sikap lain terhadap Musa dan Harun. Tidak ada seorang pun yang dapat di satu pihak menolak wakil kekuasaan Allah, dan di pihak lain menerima Allah. Bila mereka taat kepada kekuasaan Musa dan Harun, berarti mereka taat kepada Allah. Musa tidak meninggikan diri karena kuasa yang Allah berikan kepadanya. Dia merendahkan diri di bawah kekuasaan Allah. Dengan lembut dia berkata kepada mereka, "Ambillah perbaraan-perbaraan . . . bubuhlah api ke dalamnya dan taruhlah ukupan di atasnya, di hadapan TUHAN pada esok hari, dan orang yang akan dipilih TUHAN, dialah yang kudus" (ayat 6-7a). Musa sudah tua. Dia tahu akibat perbuatan itu, dan ia mengeluh, katanya, kalian orang-orang Lewi. Allah sudah begitu meninggikan kalian, tetapi kalian tidak puas. Kalian bukan menyerang aku, melainkan menyerang TUHAN (ayat 7b-11).

Ketika itu Datan dan Abiram tidak di tempat. Kemudian Musa menyuruh orang memanggil mereka. Tetapi mereka menolak dan berkata, Engkau memimpin kami keluar dari suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya (tanah Mesir) untuk membiarkan kami mati di padang gurun. Masakan engkau dapat mengelabui mata kami? (ayat 12-14). Sikap mereka memberontak, sama sekali tidak percaya kepada janji Allah. Yang mereka perhatikan adalah berkat duniawi. Mereka telah lupa akan kesalahan mereka sendiri, yakni mereka sendiri yang tidak mau masuk ke tanah Kanaan. Sekarang mereka malah memberontak kepada Musa dengan perkataan yang keras.

Allah Akan Menyingkirkan Semua Pemberontakan dari Antara Umat-Nya

Saat itu, Musa menjadi marah. Ia tidak berkata-kata kepada mereka, sebaliknya ia berdoa kepada Allah (ayat 15). Seringkali pemberontakan manusia memaksa Allah bangkit mengadakan penghakiman. Umat Israel pernah mencobai Allah sepuluh kali dan tidak percaya Allah lima kali, semua itu diampuni. Namun pada pemberontakan kali ini, Allah harus keluar mengadakan penghakiman. Berfirmanlah TUHAN, "Pisahkanlah . . . supaya kuhancurkan mereka" (ayat 20-21) Allah akan menyingkirkan pemberontakan dari antara umat-Nya. Musa dan Harun segera bersujud di depan Allah dan berkata, "Satu orang saja berdosa, masakan Engkau murka terhadap segenap perkumpulan ini?" (ayat 22). Allah mendengar doa Musa dan Harun. Dia hanya menjatuhkan hukuman atas pengikut Korah. Orang Israel tidak hanya harus mendengar dan menaati kuasa yang ditetapkan Allah, bahkan Allah sendiri bersaksi di hadapan umat Israel, bahwa Ia sendiri menerima perkataan wakil kekuasaan-Nya.

Pemberontakan adalah prinsip alam maut. Begitu mereka memberontak, pintu alam maut terbuka, tanah terbuka dan menelan Korah, Datan, Abiram, keluarga mereka dan seluruh milik mereka. Mereka hidup-hidup dijerumuskan ke dalam alam maut (ayat 31-33). Pintu alam maut tidak bisa mengalahkan gereja. Namun roh pemberontakan bisa membuka pintu alam maut. Gereja tidak dapat menang dikarenakan di dalam gereja ada orang-orang yang memberontak. Bila tidak ada pemberontakan, tanah tidak akan menganga. Setiap dosa melepaskan maut, namun pemberontakan melepaskan maut lebih hebat lagi. Hanya ketaatan kepada kekuasaan yang bisa menutup pintu alam maut dan melepaskan hayat.

Orang yang Taat Mengandalkan Iman, Tidak Mengandalkan Teori

Ketika orang-orang yang memberontak berkata bahwa Musa tidak memimpin mereka ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, dan tidak membagikan kepada mereka ladang dan kebun anggur sebagai pusaka mereka, perkataan ini memang beralasan. Karena pada waktu itu mereka sedang berada di padang gurun, belum sampai ke tempat yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Namun perhatikan, begitu manusia bertindak dan menilai berdasarkan doktrin dan berdasarkan apa yang dilihat oleh mata jasmani mereka, mereka akan menempuh jalan doktrin. Tetapi orang yang taat kepada kekuasaan, akan memasuki tanah Kanaan berdasarkan iman. Jalan rohani sekali-kali tidak dapat ditempuh orang yang senang berteori dan beralasan. Tetapi oprang yang berdasarkan iman menerima pimpinan tiang awan dan tiang api, serta Musa sebagai wakil kekuasaan, akan menikmati kelimpahan rohani. Tanah terbelah dan menelan para pemberontak. Itulah jalan maut yang mengantar para pemberontak dengan cepat ke alam maut. Orang-orang yang tidak mau taat kepada kekuasaan, mempunyai mata yang tajam; tetapi sayang, yang mereka lihat hanyalah kegersangan padang gurun. Hanya orang-orang yang seolah-olah buta, yang meraba-raba maju ke depan berdasarkan iman, tidak menghiraukan kegersangan di depan mata, dapat masuk ke tanah Kanaan. Sebab jalan rohani harus berdasarkan mata iman untuk memandang janji berkat yang akan datang. Karena itu, manusia harus berjumpa dengan kekuasaan dan menerima pembatasan Allah dan juga menerima pimpinan wakil kekuasaan. Jika orang hanya nampak ayah, kakak, atau kakak perempuannya, ia masih belum mengenal apakah kekuasaan. Akibatnya, ia tidak berjumpa dengan Allah. Pendek kata, masalah kekuasaan adalah masalah wahyu di dalam batin, bukan masalah ajaran luaran.

Menularnya Pemberontakan

Ada dua macam pemberontakan yang tercantum dalam Bilangan 16. Dari ayat 1 sampai 40 tertera pemberontakan para pemimpin, sedangkan dari ayat 41 sampai 50 tertera pemberontakan seluruh umat. Roh pemberontakan itu bisa menular. Terhukumnya 250 orang tidak cukup sebagai peringatan bagi seluruh umat. Dengan mata kepala sendiri mereka melihat api yang keluar dari Allah membinasakan kedua ratus lima puluh orang yang membakar ukupan. Namun mereka tetap memberontak. Bahkan mereka menuduh Musa yang membunuh mereka. Musa dan Harun tidak dapat menyuruh bumi menganga, Allahlah yang membukanya. Musa tidak dapat menyuruh api menghanguskan orang, Yehovalah yang menurunkan api yang menghakimi orang-orang itu. Mata manusia hanya nampak manusia yang di depannya, tidak mengenal bahwa kuasa itu berasal dari Allah. Orang-orang yang demikian begitu besar nyalinya, sekali pun nampak penghukuman, mereka tetap tidak gentar, itu dikarenakan mereka tidak mengenal kekuasaan. Betapa bahayanya hal ini. Sebab itu, pada saat seluruh umat melawan Musa dan Harun, cahaya kemuliaan Allah muncul, membuktikan bahwa kekuasaan berasal dari Allah. Allah keluar melaksanakan penghukuman. Tulah berjangkit dan dari umat itu tewas sebanyak 14.700 jiwa. Perasaan rohani Musa sangat peka, ia segera menyuruh Harun mengambil perbaraan dan membubuhkannya dengan api dari mezbah, ditambah dengan ukupan, lalu dibawa ke hadapan Allah untuk mengadakan pendamaian bagi mereka. Harun berdiri di tengah-tengah orang hidup dan orang mati, maka tulah pun berhenti.

Allah bisa tahan terhadap sungut-sungut umat-Nya sebanyak sepuluh kali di padang gurun. Namun Allah tidak dapat tahan bila orang bangkit menentang kekuasaan-Nya. Ada banyak dosa yang dapat Allah tahan dan maafkan. Namun, pemberontakan tidak dapat Allah biarkan, karena pemberontakan ada dalam prinsip maut dan prinsip Iblis. Karena itu, dosa pemberontakan lebih serius daripada dosa apa pun. Setiap kali ada orang menentang kekuasaan, Allah segera menjatuhkan hukuman. Betapa seriusnya hal ini!