CONTOH PEMBERONTAKAN DALAM PERJANJIAN LAMA (1)
I. KEJATUHAN ADAM DAN HAWA
"Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati"
(Kej. 2:16-17)
"Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: Tentu Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan? Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati. Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat. Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan memakannya dan diberikan juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya"
(Kej. 3:1-6)
"Jadi, sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang banyak orang telah menjadi berdosa, demikian pula melalui ketaatan satu orang banyak menjadi orang benar"
(Rm. 5:19)
Kejatuhan Umat Manusia Dikarenakan Tidak Taat kepada Kekuasaan
Mari kita melihat kisah Adam dan Hawa dalam Kejadian 2 dan 3. Setelah Adam diciptakan, Allah berpesan beberapa hal kepadanya dan memerintahkan dia agar jangan makan buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat. Kita harus nampak, di sini tidak saja ada masalah larangan untuk makan buah, tetapi juga Allah meletakkan Adam di bawah kekuasaan dan menghendaki dia taat kepada kekuasaan. Allah menyerahkan segala sesuatu yang telah diciptakan di bawah kekuasaan Adam, menghendakinya menguasainya, menghendakinya menjadi penguasa. Namun pada waktu bersamaan, Allah pun meletakkan Adam di bawah kekuasaan Allah dan menghendaki Adam taat kepada kuasa Allah. Hanya orang yang taat kepada kekuasaan baru dapat menjadi kuasa.
Dalam urutan penciptaan Allah, Allah terlebih dulu menciptakan Adam kemudian baru Hawa. Allah menetapkan Adam menjadi kuasa dan menghendaki Hawa taat di bawah kekuasaan Adam. Di antara kedua orang ini, Allah telah menetapkan seorang menjadi kuasa dan seorang taat kepada kuasa. Dalam ciptaan lama dan ciptaan baru, urutan merupakan dasar kekuasaan. Siapa yang diciptakan lebih dulu, dialah kuasa; dan siapa yang diselamatkan lebih dulu, dialah kuasa. Karena itu, ke mana pun kita pergi, pikiran kita yang pertama adalah mencari orang-orang yang harus kita taati. Di mana pun kita berada, kita harus melihat kekuasaan dan harus taat kepada kekuasaan.
Kejatuhan manusia berasal dari ketidak-taatan kepada kekuasaan Allah. Tanpa bertanya dulu kepada Adam, Hawa sudah memutuskan sendiri; melihat buah itu indah dipandang dan enak dimakan, ia lalu memutuskan dan bertindak sendiri. Sebelum ia mengulurkan tangannya untuk memetik buah itu, ia terlebih dulu menggunakan pikiran otaknya, menerima godaan itu dengan otaknya, kemudian mengulurkan tangannya memetik; ia telah bertindak sebagai kepala. Jadi, perbuatan Hawa memakan buah itu bukan berasal dari ketaatan, melainkan dari keputusannya sendiri. Dia tidak saja melanggar perintah Allah, tetapi juga tidak taat kepada kekuasaan Adam. Memberontak kepada wakil kekuasaan Allah berarti memberontak kepada Allah sendiri. Setelah Adam mendengar perkataan Hawa, ia juga mengambil buah itu. Perbuatan Adam lebih celaka lagi, karena ia melanggar perintah yang diucapkan langsung oleh Allah. Adam tidak taat kepada kekuasaan Allah, itu berarti ia telah memberontak.
Semua Pekerjaan Seharusnya Dilakukan Karena Taat
Masalah pertama bagi kita yang hidup di bumi ini bukan bolehkah kita melakukan sesuatu, melainkan apakah hal itu kita lakukan karena taat. Bukan masalah kita melakukan atau tidak melakukan, melainkan masalah apa yang kita taati. Tanpa ketaatan tidak ada pekerjaan, tidak ada pelayanan. Ketika Adam memakan buah itu, masalah pertama yang harus ditanyakan adalah apakah hal itu taat kepada Allah. Jadi, semua pekerjaan orang Kristen harus dikerjakan berdasarkan ketaatan. Tidak ada yang berasal dari inisiatif kita sendiri, segalanya hanya berupa "tanggapan". Tidak ada satu tindakan pun yang aktif, semuanya pasif. Dengan kata lain, semua harus berasal dari Allah, bukan berasal dari diri sendiri.
Hawa tidak saja berada di bawah kekuasaan Allah, tetapi juga berada di bawah kekuasaan Adam, yaitu kekuasaan yang didirikan oleh Allah. Hawa harus taat kepada perintah dan kekuasaan ganda. Demikian pula kita hari ini. Hawa hanya melihat buah itu enak dimakan. Dia tidak tahu, dalam hal makan itu, dia taat kepada siapa. Sejak semula Allah menghendaki manusia taat, tidak menghendaki manusia mengajukan gagasannya sendiri. Tetapi perbuatan Hawa tidak berasal dari ketaatan, melainkan berasal dari idenya sendiri. Dia tidak taat kepada pengaturan Allah, juga tidak taat kepada kekuasaan Allah. Sebaliknya, dia menentukan bagi dirinya sendiri sehingga melanggar Allah dan jatuh. Jatuh adalah bertindak tanpa ketaatan. Tindakan yang bukan didasari ketaatan adalah pemberontakan.
Semakin bertambah ketaatan seseorang, semakin berkuranglah perbuatannya. Ketika seseorang baru mulai mengikuti Tuhan, ia memiliki banyak perbuatan, namun sedikit ketaatan. Tetapi ketika ia semakin maju ke depan, perbuatannya akan semakin berkurang, sampai pada akhirnya yang ada hanya ketaatan. Banyak orang, begitu menjumpai suatu perkara, jika senang, mereka bekerja; jika tidak senang, mereka diam, sedikit pun tidak bergerak. Mereka tidak peduli apakah itu taat atau tidak. Karena itu, banyak pekerjaan yang dilakukan berdasarkan diri sendiri, bukan dilakukan karena mendengar firman Tuhan dan taat.
Benar atau Salah Tergantung pada Diri Allah
Manusia tidak seharusnya melakukan sesuatu berdasarkan pengetahuan tentang benar dan salah, melainkan melakukan sesuatu karena ketaatan. Prinsip membedakan baik dan jahat adalah prinsip hidup berdasarkan benar dan salah. Sebelum Adam dan Hawa makan buah itu, penilaian benar dan salah mereka ada pada diri Allah. Bila mereka tidak hidup di hadapan Allah, mereka tidak tahu apa-apa. Penilaian benar dan salah mereka hanyalah Allah itu sendiri. Namun setelah manusia memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, manusia mendapatkan sumber lain di luar Allah untuk membedakan yang benar dan yang salah. Karena itu, setelah manusia jatuh, manusia tidak perlu lagi mencari Allah, dia sudah merasa cukup dengan dirinya sendiri. Manusia bisa membedakan benar dan salah tanpa Allah. Itulah kejatuhan. Pekerjaan penebusan ialah membalikkan kita, sehingga kita berpaling kepada Allah untuk membedakan yang benar dan salah.
Orang Kristen Harus Taat kepada Kekuasaan
Kekuasaan apa pun berasal dari Allah, karena Allahlah yang menetapkan segala sesuatu. Jika Anda menelusuri kekuasaan ke atas, akhirnya Anda akan bertemu dengan Allah. Allah berada di atas semua kekuasaan, segala kekuasaan berada di bawah Allah. Bila Anda menjamah kekuasaan Allah, Anda akan menjamah Allah sendiri. Pekerjaan Allah pada dasarnya bukan dilaksanakan dengan kekuatan, melainkan dengan kekuasaan. Ia menopang segala sesuatu dengan firman-Nya yang penuh kuasa. Ia menciptakan segala sesuatu dengan firman kekuasaan-Nya. Firman-Nya adalah kekuasaan-Nya. Kita tidak tahu bagaimana kekuasaan Allah bekerja. Namun kita tahu bahwa Allah merampungkan segala sesuatu melalui kekuasaan-Nya.
Perwira yang hambanya sakit tahu bahwa, ada kekuasaan di atas dirinya yang harus ia taati, dan ada pula orang-orang yang di bawahnya yang harus taat kepadanya. Karena itu, ia hanya perlu minta Tuhan mengatakan sepatah kata, dan ia percaya bahwa perkara itu akan beres. Ia tahu bahwa semua kekuasaan ada di dalam tangan Tuhan, ia percaya kepada kekuasaan Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan berkata bahwa Dia tidak pernah melihat iman yang lebih besar daripada iman perwira itu. Berhadapan dengan kekuasaan Allah berarti berhadapan dengan Allah. Hari ini, alam semesta dipenuhi dengan kekuasaan yang ditetapkan oleh Allah. Semua orbit di alam semesta ditetapkan oleh-Nya; semua jalan di dunia juga ditetapkan oleh-Nya. Sebab itu, semua berada di bawah kekuasaan-Nya. Di mana saja, jika menentang kekuasaan Allah berarti menentang Allah sendiri. Orang Kristen harus taat kepada kekuasaan.
Taat kepada Kekuasaan adalah Pelajaran Pertama Bagi Seorang Pekerja
Kedudukan kita, di satu pihak, berada di bawah kekuasaan orang lain, dan di pihak lain, ada orang lain di bawah kekuasaan kita. Selain Allah sendiri, setiap orang, termasuk Tuhan Yesus, harus taat kepada kekuasaan di bumi. Kita harus nampak kekuasaan di mana saja. Baik di rumah atau di sekolah, ada kekuasaan. Bila Anda melihat seorang polisi di jalan, meskipun Anda mungkin tahu dia tidak pandai, pendidikannya tidak setinggi pendidikan Anda, tetapi Anda harus menganggapnya sebagai kekuasaan yang ditunjuk Allah. Bila beberapa saudara berkumpul, mereka segera tahu siapa yang lebih tinggi dari siapa; setiap orang harus tahu di mana kedudukannya. Seorang pekerja harus tahu siapa kekuasaan di atasnya. Ada orang yang tidak pernah tahu siapa yang memegang kekuasaan di atasnya. Mereka tidak pernah taat kepada siapa pun. Kita tidak seharusnya berpegang pada benar atau salah, baik atau jahat. Ke mana saja kita pergi, kita harus tahu lebih dulu siapa yang memegang kekuasaan. Jika Anda tahu siapa yang harus Anda taati, Anda akan dengan spontan tahu kedudukan apa yang seharusnya Anda tempati dalam Tubuh, dan Anda akan berdiri pada kedudukan yang tepat. Tetapi hari ini banyak orang Kristen yang tidak pernah memikirkan soal ketaatan, karena itu segalanya kacau, tidak berada pada kedudukan yang seharusnya. Ketaatan adalah pelajaran pertama bagi orang yang hendak melayani, juga adalah bagian terbesar dari pekerjaan.
Harus Memulihkan Ketaatan
Sejak Adam jatuh, urutan dalam alam semesta menjadi rusak. Kita tidak bisa berdasarkan diri sendiri berusaha membedakan baik dan jahat. Sebaliknya, kita harus taat kepada kekuasaan. Manusia cenderung untuk membedakan baik dan jahat berdasarkan dirinya sendiri. Dia merasa ini baik, itu tidak baik, seolah-olah penilaian manusia lebih jelas daripada penilaian Allah. Itu adalah keadaan kebodohan dan kejatuhan manusia; itu harus disingkirkan dari antara kita, karena itu adalah pemberontakan.
Ketaatan yang kita lihat tidaklah cukup. Ada orang mengira, kalau sudah dibaptis dan sudah meninggalkan sekte, itu sudah cukup. Sebenarnya itu belum cukup. Tidak sedikit siswa siswi menganggap Allah telah menyiksa diri mereka dengan menuntut mereka taat kepada guru mereka. Tidak sedikit pula istri-istri yang mengira Allah telah menekan mereka dengan menuntut mereka taat kepada suami-suami yang tidak bisa mereka taati. Hari ini banyak orang Kristen hidup di dalam pemberontakan. Mereka belum belajar langkah yang paling dasar dalam ketaatan.
Ketaatan di dalam Alkitab adalah ketaatan kepada kekuasaan yang ditetapkan Allah. Ketaatan yang diberitakan pada hari-hari yang lampau sungguh terlalu dangkal! Ketaatan adalah suatu prinsip dasar. Jika hal ketaatan ini tidak kita bereskan dengan baik, maka segalanya tidak bisa kita lakukan dengan baik. Iman adalah prinsip beroleh hayat, sedangkan taat adalah prinsip menempuh hidup. Semua perpecahan dan sekte dalam gereja hari ini berasal dari pemberontakan. Untuk memulihkan kekuasaan, ketaatan harus dipulihkan dulu. Banyak orang terbiasa menjadi kepala sehingga mereka tidak pernah tahu apa itu ketaatan. Tetapi kita harus belajar taat dan ketaatan harus menjadi reaksi kita.
Allah tidak pernah menyembunyikan sesuatu dari kita mengenai kekuasaan. Di dalam gereja, baik langsung maupun tidak langsung, Allah telah menunjukkan kepada kita bagaimana kita harus taat kepada kekuasaan. Banyak orang hanya tahu taat kepada Allah, tapi tidak tahu taat kepada kekuasaan. Karena semua kekuasaan berasal dari Allah, maka setiap orang harus taat kepada kekuasaan. Semua kesulitan adalah dikarenakan manusia hidup di luar kekuasaan Allah.
Tanpa Kekuasaan Kepala, Tidak Ada Keesaan Tubuh
Jalan yang ditempuh Allah hari ini adalah jalan pemulihan keesaan Tubuh Kristus. Jika kita mengharapkan Tubuh menjadi esa, pertama harus ada hayat Kepala; kedua harus ada kekuasaan Kepala. Tanpa hayat Kepala, tidak ada Tubuh. Demikian pula, tanpa kekuasaan Kepala, tidak akan ada keesaan Tubuh. Kita harus membiarkan hayat Kepala berkuasa, supaya Tubuh menjadi esa. Allah tidak saja menghendaki kita taat kepada diri-Nya sendiri, tetapi juga menghendaki kita taat kepada semua wakil kekuasaan. Setiap anggota Tubuh harus belajar saling menaati. Tubuh memang satu. Kepala dan Tubuh juga adalah satu. Bila kekuasaan Kepala dapat dilaksanakan, barulah kehendak Allah dapat terlaksana. Allah menghendaki gereja-Nya menjadi kerajaan-Nya.
Beberapa Butir dalam Belajar Taat kepada Kekuasaan
Seorang yang melayani Allah, cepat atau lambat akan berjumpa dengan kekuasaan, baik dalam alam semesta, baik dalam masyarakat, baik dalam keluarga maupun dalam gereja. Tanpa berjumpa dengan kekuasaan Allah, bagaimana seseorang bisa taat kepada Allah. Ini bukanlah masalah teori atau doktrin. Jika ini adalah masalah teori atau doktrin, tentu akan abstrak bagi kita. Ada pula orang yang mengira bahwa taat kepada kekuasaan adalah satu perkara yang sangat sulit. Tetapi asal saja ia berjumpa dengan Allah, hal taat tidak lagi sulit. Tanpa belas kasihan Allah, tidak ada seorang pun dapat taat kepada kekuasaan Allah. Karena itu, ada beberapa butir yang harus kita pelajari:
1. Harus ada roh ketaatan.
2. Harus ada latihan ketaatan.
Ada orang yang seperti manusia liar, tidak bisa taat. Hari ini, telah ada seorang kepala dalam setiap keluarga, kiranya, kita semua belajar taat dan menerima latihan dengan berdiri di atas kedudukan yang wajar. Orang yang pernah belajar atau pernah menerima latihan tidak akan merasa terkekang di manapun ia ditempatkan; dengan sendirinya ia bisa menampilkan ketaatan tanpa kesulitan.
3. Harus belajar menjadi wakil kekuasaan.
Setiap pekerja Allah tidak saja harus belajar taat kepada kekuasaan, tetapi juga harus tahu bahwa dalam gereja dan dalam keluarga, Allah pun menghendakinya menjadi wakil kekuasaan. Ketika Allah mempercayakan banyak hal kepada Anda, dan jika Anda sudah belajar taat di bawah kekuasaan Allah, Anda akan merasa bahwa diri Anda tidak memiliki sesuatu apa pun. Di pihak lain, ada orang yang hanya belajar taat, ketika Allah membawanya bekerja ke suatu tempat, ia tidak bisa menjadi kuasa. Karena itu, tidak hanya harus belajar taat kepada kekuasaan, harus pula belajar bagaimana menjadi kuasa, belajar berdiri di atas kedudukan yang tepat. Hari ini banyak kerugian yang diderita oleh gereja karena banyaknya orang yang tidak mau taat; di pihak lain, gereja juga dirugikan karena banyaknya orang yang tidak bisa menjadi kuasa dengan berdiri di atas kedudukannya yang wajar.