← Daftar isi Kekuasaan dan Ketaatan · bab 9/10

EKSPRESI PEMBERONTAKAN MANUSIA (2)

III. PIKIRAN

"Karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus, dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bilamana ketaatan kamu telah menjadi sempurna"

(2 Kor. 10:4-6)

Hubungan Antara Pikiran dengan Alasan

Pemberontakan manusia tidak hanya ternyata dalam tutur kata dan alasannya, juga ternyata dalam pikirannya. Manusia mengucapkan perkataan yang memberontak karena di dalam dirinya ada alasan pemberontak, dan alasan itu ternyata dalam pikirannya. Sebab itu, pikiran adalah pusat pemberontakan manusia.

Dua Korintus 10:4-6 adalah kutipan yang sangat penting dalam Alkitab, karena menunjukkan bagian mana dari diri manusia yang harus taat kepada Kristus. Ayat 5 membicarakan tentang menawan setiap pikiran dan menaklukkannya, agar taat kepada Kristus. Pemberontakan manusia adalah pemberontakan pikiran. Paulus berkata, kita harus meruntuhkan benteng-benteng, mematahkan setiap siasat dan merubuhkan setiap kubu yang menentang pengenalan akan Allah. Kata "siasat" dalam bahasa aslinya berarti "beralasan". Manusia memakai alasan untuk membentengi pikirannya. Alasan itu harus diruntuhkan dan pikiran harus ditawan. Alasan harus dibuang, tetapi pikiran perlu ditangkap/ditawan. Hari ini, alasan adalah benteng manusia dan pikiran manusia tertawan di dalamnya. Sebab itu, peperangan rohani adalah terlebih dulu memerangi benteng itu, kemudian baru merebut kembali pikiran. Pikiran manusia mustahil bisa taat kepada Allah tanpa meruntuhkan alasannya. Semua alasan menghalangi manusia untuk mengenal Allah. "Kubu-kubu" dalam bahasa aslinya mengandung arti "bangunan yang tinggi". Dalam pandangan Allah, alasan manusia adalah bangunan yang tinggi, suatu penghalang yang besar terhadap pengenalan akan Allah. Begitu manusia beralasan, pikirannya terkepung, dan dia tidak mungkin taat kepada Allah lagi. Ketaatan adalah perkara pikiran. Bila alasan ditampilkan, terwujudlah perkataan. Bila alasan tersembunyi, alasan itu mengitari pikiran sehingga manusia tidak bisa taat. Paulus tidak menanggulangi alasan dengan alasan. Alasan manusia begitu serius, sehingga tidak bisa dikalahkan selain dengan memeranginya. Pikiran manusia, dengan alasannya, hanya dapat ditanggulangi dengan persenjataan rohani, yakni dengan kuasa Allah. Inilah peperangan antara kita dengan Allah, kita menjadi musuh-Nya. Pikiran manusia yang beralasan diwarisi dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, betapa besarnya persoalan yang ditimbulkan pikiran semacam ini bagi Allah. Iblis membelenggu kita dengan berbagai macam alasan, sehingga kita menjadi tawanan alasan dan tidak dapat dimiliki oleh Allah, bahkan membuat kita menjadi musuh Allah.

Kejadian 3 adalah penjelasan dari 2 Korintus 10. Di sana Iblis beralasan dengan Hawa. Ketika Hawa melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan, ia pun beralasan. Dia tidak taat kepada Allah karena mempunyai alasan. Begitu beralasan, pikiran manusia segera terperangkap ke dalam alasan itu. Alasan dan pikiran berjalan beriringan. Alasan selalu berusaha menjerat pikiran. Begitu pikiran terjerat, manusia tidak dapat lagi taat kepada Kristus. Sebab itu, jika kita ingin taat kepada Allah, kita harus menjamah kuasa Allah, harus merubuhkan kubu-kubu alasan.

Tertawannya Pikiran dan Didapatkan Kembali

Dalam bahasa Yunani, kata yang diterjemahkan sebagai pikiran adalah "noema". Istilah ini dipakai enam kali dalam Perjanjian Baru; Filipi 4:7; 2 Korintus 2:11; 3:14; 4:4; 10:5; dan 11:3. Istilah "pikiran" ini berarti (maksud hati). Hati adalah organ, dan opini adalah kegiatan/aktivitas, adalah produk pikiran manusia. Manusia menyatakan dirinya melalui kemerdekaan pikiran dan opini. Untuk melindungi kebebasanku, aku akan berkata bahwa semua opini dan maksudku adalah benar, baik, tepat, dan tidak bisa disanggah; demikianlah aku harus membentenginya dengan banyak alasan. Manusia menolak percaya Tuhan, biasanya karena satu atau dua alasan yang digunakannya untuk membentengi dirinya. Misalnya, ada yang mengatakan mereka akan percaya bila sudah tua, atau mereka tidak melihat teladan yang baik pada diri orang Kristen yang sudah percaya Tuhan, atau mereka harus menunggu orang tua mereka meninggal baru bisa percaya Tuhan, dan sebagainya. Juga banyak alasan bagi orang Kristen untuk tidak mengasihi Tuhan. Yang menjadi murid akan berkata bahwa mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan atau tugas sekolah mereka. Yang sudah bekerja akan berkata bahwa mereka terlalu sibuk dengan bisnisnya, atau mereka sedang tidak enak badan dan sebagainya. Jika Allah tidak menghancurkan benteng-benteng itu, manusia tidak mungkin bisa dibebaskan. Iblis menggunakan alasan sebagai benteng untuk mengurung manusia di dalamnya. Manusia dikepung dengan benteng alasan ini. Berdasarkan dirinya sendiri, manusia tidak dapat meloloskan diri menghirup kemerdekaan. Ketaatan kepada Kristus hanya mungkin terlaksana melalui kekuasaan Allah yang merebut pikiran kembali sehingga menjadi budak Allah.

Untuk mengenal kekuasaan, manusia harus menghancurkan alasan lebih dulu. Bila manusia nampak Allah seperti yang tercatat dalam Roma 9, semua alasan akan teruntuhkan. Bila benteng Iblis sudah rubuh, tidak ada lagi alasan, maka pikiran didapatkan kembali sehingga taat kepada Kristus. Manusia tidak cukup hanya berjumpa dengan kekuasaan dalam pembicaraannya, tidak cukup hanya menyingkirkan segala alasan, pikiran pun harus ditangkap dan ditaklukkan sehingga taat kepada Kristus. Bila pikiran sudah ditaklukkan, barulah manusia dapat sungguh-sungguh taat kepada Kristus.

Untuk mengetahui apakah seseorang sudah pernah berjumpa dengan kekuasaan atau tidak, kita perlu nampak apakah orang itu sudah mengalami pemberesan dalam tutur katanya, dalam alasannya, dan dalam opininya. Begitu seseorang berjumpa dengan kekuasaan, lidahnya tidak akan sembrono, alasannya tidak akan berani dilontarkan, dan yang lebih dalam dari itu, opininya tidak lagi ada. Umumnya manusia memiliki banyak opini, dan memakai banyak alasan bagaikan kubu-kubu untuk memperkuat opininya. Sampai suatu hari, kekuasaan Allah datang untuk merubuhkan kubu-kubu yang didirikan Iblis melalui alasan, menawan pikiran manusia, demikianlah manusia akan dengan rela menjadi budak Allah dan taat kepada Kristus, tanpa opini apa pun. Inilah baru penyelamatan yang tuntas.

Orang yang tidak pernah berjumpa dengan kekuasaan, selalu ingin menjadi penasihat Allah. Pikirannya tidak ditawan oleh Allah. Bila dia pergi ke suatu tempat, pikiran pertama yang muncul dalam dirinya adalah "memperbaiki". Bila pikiran tidak pernah ditanggulangi, banyak alasan akan muncul; ini belum mengalami penghancuran. Sebab itu, pikiran kita harus dikerat dalam-dalam, sehingga pikiran kita bisa ditawan kembali kepada Allah. Hanya dengan demikian kita baru dapat melihat kekuasaan Allah, dan kita tidak akan berani bersembunyi di balik alasan-alasan kita dan menyatakan opini kita dengan sembrono.

Di seluruh dunia ada dua yang tahu segala sesuatu. Yang satu adalah Allah, dan yang lain adalah "aku". Aku adalah penasihat, aku tahu segala sesuatu. Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa pikiran belum ditawan dan tidak mengenal kekuasaan. Orang yang kubu alasannya sudah dihancurkan oleh kekuasaan Allah, pikirannya ditawan oleh Allah; dia dapat taat kepada Kristus, dapat tidak beropini, bahkan tidak tertarik untuk mengeluarkan opini. Pikirannya akan menjadi budak Allah, dia tidak akan menjadi orang yang bebas lagi, dia hanya ingin taat saja. (Kebebasan yang alamiah adalah mangsa Iblis. Kebebasan semacam ini harus ditumpas). Hanya ada dua tempat yang mengizinkan pemakaian pikiran. Yang satu adalah di bawah kendali alasan, dan yang lain adalah di bawah kendali kekuasaan Kristus. Sebenarnya tidak ada kebebasan memilih dalam dunia. Kita ditawan oleh alasan, atau ditawan oleh Tuhan, kita menjadi budak Iblis atau menjadi budak Allah.

Untuk mengetahui apakah seorang saudara pernah berjumpa dengan kekuasaan atau tidak, kita perlu melihat pertama-tama apakah dia mengucapkan perkataan yang memberontak. Kedua, kita perlu melihat apakah dia beralasan di hadapan Allah, dan ketiga, apakah dia mengeluarkan opini. Di hadapan Tuhan, kita tidak hanya perlu memperhatikan melenyapkan alasan kita; ini hanya aspek negatifnya. Melenyapkan alasan bertujuan agar pikiran dapat ditawan kepada ketaatan terhadap Kristus dan agar tidak berani lagi menyatakan opini diri sendiri. Tadinya aku memberikan banyak alasan berdasarkan opiniku sendiri. Hari ini semua alasanku sudah lenyap, siapa yang menawan aku, orang itulah yang kutaati. Seorang tawanan tidak memiliki kebebasan. Sekalipun dia menyatakan opininya, itu tidak ada gunanya. Seorang tawanan tidak bisa mengutarakan opininya sendiri, ia hanya dapat menerima opini. Demikian pula, jika kita ditawan oleh Tuhan, kita tidak mengutarakan opini atau pendapat lagi; sebaliknya, kita hanya menerima opini Allah.

Peringatan Bagi Orang yang Beropini

1. Paulus -- Paulus adalah orang yang pandai, bertalenta, berhikmat, dan berpendidikan. Dia cakap dan mahir dalam pekerjaannya, dan melayani Allah dengan kegairahannya sendiri. Ketika dia dalam perjalanan ke Damsyik dengan satu rombongan orang untuk menangkapi orang-orang Kristen, tiba-tiba suatu terang yang besar menyorotinya, membuatnya rebah ke tanah. Pada saat itu, semua opini sirna, semua cara dan kepintarannya hilang. Dia tidak kembali ke Tarsus, juga tidak kembali ke Yerusalem. Perjalanannya ke Damsyik tidak hanya bubar, segala alasannya pun tersingkir. Banyak orang, ketika menghadapi kesulitan, mereka bisa segera mengambil arah lain; jika satu jalan buntu, mereka akan mencoba jalan lain; namun mereka masih berjalan berdasarkan cara dan opini mereka sendiri. Banyak orang begitu bodoh, meskipun Allah telah memukulnya, mereka tidak juga jatuh, Mereka hanya jatuh pada perkara itu, mereka belum terpukul dalam alasan mereka, pikiran mereka masih belum tertawan kembali. Banyak orang telah dihadang dalam perjalanan mereka ke Damsyik, namun mereka masih memiliki jalan menuju Tarsus, atau ke Yerusalem. Tidak demikian dengan Paulus. Begitu ia terpukul, segalanya berlalu baginya, tidak ada lagi yang perlu dikatakan, tidak ada lagi yang perlu dipertimbangkan. Dia tidak tahu apa-apa lagi. Dia bertanya kepada Tuhan, "Tuhan, apa yang harus kuperbuat?" Di sini ada seorang yang taat dari dalam hatinya, pikirannya telah ditawan oleh Tuhan. Saulus, yang dulu adalah orang yang menonjol dan istimewa ke mana pun dia pergi, kini karena sudah berjumpa dengan kekuasaan Allah, semua opininya sirna. Tanda terbesar dari seorang yang pernah berjumpa dengan Allah adalah tidak adanya opini dan kepandaian. Kita perlu memohon belas kasihan Allah, agar kita tidak tahu apa-apa di dalam terang. Orang yang sudah berjumpa dengan kekuasaan Allah akan rebah di hadapan Allah, dan dengan spontan tidak akan ada lagi opini. Paulus berkata, bahwa dia adalah orang yang ditawan oleh Allah. Kini bukanlah waktunya untuk menyatakan opini, kita hanya perlu mendengar dan taat.

2. Raja Saul -- Saul ditolak oleh Allah, bukan karena ia mencuri, melainkan karena ia mempersembahkan kurban kepada Allah dari lembu dan domba yang dianggapnya paling baik. Ini adalah opininya, ia mencoba menyenangkan Allah dengan pikirannya sendiri. Pikirannya tidak ditawan, karena itu ia ditolak oleh Allah. Kita tidak dapat mengatakan Saul tidak bergairah melayani Allah. Dia tidak berdusta. Binatang-binatang itu adalah lembu dan domba yang terbaik. Persoalannya adalah dia memutuskan hal itu berdasarkan opininya sendiri (1 Sam. 15). Sebab itu, seorang hamba Allah tidak dapat menyatakan opininya sendiri, dia hanya dapat melaksanakan kehendak Allah. Kita hanya memiliki satu minat, yaitu "Tuhan, apa yang Kaukehendaki kuperbuat?" Kalau sikap kita bukan demikian, kita sepenuhnya keliru. Taat mengalahkan kurban persembahan. Tidak ada tempat bagi manusia untuk menyatakan opininya di hadapan Allah. Ketika raja Saul melihat begitu banyak lembu dan domba yang tambun, dia ingin mengambil sebagian untuk dipersembahkan. Hatinya tertuju kepada Allah, tetapi ketaatannya kurang. Memiliki hati yang tertuju kepada Allah tidak dapat menggantikan "Aku tidak berani mengatakan apa-apa". Lemak kurban bakaran tidak dapat menggantikan sikap "tidak berkata apa-apa" di hadapan Tuhan. Allah memerintahkan Saul agar mengenyahkan semua orang Amalek beserta lembu dan dombanya, namun Saul tidak mau melakukannya. Di kemudian hari, orang Amaleklah yang membunuhnya dan pemerintahannya pun berakhir. Orang yang mengajukan usul untuk menyelamatkan orang Amalek, pada akhirnya akan dibunuh oleh orang Amalek.

3. Nadab dan Abihu -- Nadab dan Abihu menjadi orang-orang yang memberontak juga dalam perkara kurban persembahan. Mereka tidak taat kepada kekuasaan ayah mereka, sebaliknya memprakarsai opini mereka sendiri. Mereka melakukan dosa menentang Allah, yaitu dosa mempersembahkan api asing, suatu perkara melangkahi ministri Allah. Meskipun mereka tidak mengatakan apa-apa, juga tidak bersungut-sungut atau beralasan, mereka membakar ukupan menurut kemauan dan perasaan mereka sendiri. Mereka mengira pelayanan semacam ini adalah suatu perkara yang baik, jika mereka keliru, mereka pikir, ini hanyalah suatu kekeliruan dalam pelayanan. Bagi mereka, ini bukan dosa yang serius. Tetapi tidak disangka, mereka langsung ditolak oleh Allah, dan langsung mati.

Ada Ketaatan, Baru Ada Kesaksian Kerajaan

Allah tidak memperhatikan kegairahan kita menginjil, atau kerelaan kita menderita; Allah memperhatikan apakah kita adalah orang yang taat. Tidak beropini, tidak beralasan, tidak mengucapkan perkataan hujat, sebaliknya mutlak taat kepada Allah; inilah awal dari Kerajaan, adalah hari kemuliaan, hari yang telah dinanti-nantikan oleh Allah sejak dasar bumi diletakkan. Meskipun Allah memiliki Anak Sulung yang sudah taat, yang menjadi buah bungar, namun Allah masih menunggu semua anak-Nya diserupakan dengan Anak-Nya. Jika di bumi ini ada gereja yang sungguh-sungguh taat kepada kekuasaan Allah, maka muncullah kesaksian Kerajaan, dan Iblis akan dikalahkan. Iblis tidak takut kepada pekerjaan kita, asal kita berdiri pada prinsip pemberontakan dan bertindak bebas dengan tekad atau kemauan kita sendiri, Iblis akan tertawa.

Menurut hukum Taurat Musa, tabut perjanjian harus dipikul oleh orang-orang Lewi. Tetapi ketika orang Filistin mengirim kembali tabut perjanjian itu kepada orang Israel, mereka mengirimkannya dengan kereta lembu. Ketika Daud ingin membawa tabut perjanjian ke kota Daud, dia tidak mencari kehendak Allah lebih dulu, sebaliknya, dia melakukan menurut opini sendiri dan menarik tabut perjanjian itu dengan kereta lembu. Ketika lembu-lembu itu tergelincir, tabut perjanjian itu hampir jatuh, Uza segera mengulurkan tangannya untuk menahan tabut itu. Saat itu juga Uza dipukul oleh Allah dan mati. Sekalipun tabut perjanjian itu tidak jatuh, tabut itu ada di dalam kereta lembu, bukan di atas bahu orang-orang Lewi. Ketika orang Lewi mengangkat tabut perjanjian menyeberangi sungai Yordan, gelombang air sungai itu tinggi sekali, tetapi tabut perjanjian itu tetap tenang dan aman. Hal ini memberitahu kita satu hal: Allah tidak suka manusia mengajukan usul, manusia selamanya harus taat kepada Allah. Hanya bila Allah mengosongkan kita sepenuhnya, barulah kehendak-Nya bisa terlaksana tanpa hambatan. Jika kita datang dengan opini manusia kita, pelayanan kita kepada Allah tidak akan ada jalan. Setiap hal haruslah Allah yang berkuasa, bukan karena opini atau rencana manusia. Opini manusia harus diruntuhkan dengan tuntas. Pikirannya harus ditutup, tidak diperkenan mengajukan opini. Dulu ada kebebasan dalam hidup demi diri sendiri, namun kini pikiran telah ditawan Allah, tidak ada lagi kebebasan. Dengan demikian, baru dapat taat kepada Kristus, baru memiliki kebebasan yang sejati, kebebasan yang ada di dalam Tuhan.

Dua Korintus 10:6 mengatakan, "Dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bilamana ketaatan kamu telah menjadi sempurna." Hanya bila pikiran ditawan Allah, barulah ketaatan kita menjadi sempurna. Setiap orang yang masih dapat bertingkah dan mengajukan opini di hadapan Allah, belum sepenuhnya taat. Tuhan sudah siap. Bila ketaatan kita sempurna, Dia akan bangkit dan menghukum orang-orang yang durhaka. Jika kita mau berbalik dengan tuntas dan takut terhadap opini dan usul kita sendiri, ketaatan kita akan sempurna dan Allah akan menyatakan kekuasaan-Nya di bumi ini. Jika gereja tidak bisa taat, dunia pun lebih tidak bisa taat. Jika gereja tidak taat, tidak ada gunanya mengharapkan orang lain taat kepada Injil. Jika ada gereja yang taat, baru ada orang-orang yang taat kepada Injil. Kita semua harus belajar dibatasi, mulut kita harus ditanggulangi sehingga berhenti berbicara; otak kita harus ditanggulangi sehingga berhenti beralasan; pikiran kita harus ditanggulangi sehingga tidak mengajukan opini. Jika kita berbuat demikian, jalan kemuliaan terbentang di depan kita, dan Allah akan mengekspreikan kekuasaan-Nya di bumi.