← Daftar isi Kejadian (8) · bab 9/16

DIMATANGKAN ASPEK MEMERINTAH DARI ISRAEL YANG MATANG (3)

Dalam berita ini sampailah kita pada Kejadian 41, yang menyingkapkan lebih banyak detail riwayat hidup Yusuf. Seperti telah kita tunjukkan, Yusuf mewakili aspek memerintah dari hayat yang matang. Sebagai wakil hayat yang semacam ini, ia merupakan lambang Kristus yang unggul. Jarang sekali ditemukan dalam Perjanjian Lama lambang Kristus yang lengkap dan penuh seperti ini. Karena itu, Yusuf di satu pihak mewakili aspek memerintah dari hayat yang matang, di pihak lain, ia melambangkan Kristus sepenuhnya. Keseluruhan catatan atas riwayat Yusuf ada dua garis: garis lambang Kristus dan garis rahasia hayat yang memerintah. Dalam berita ini, kita akan lebih lanjut melihat Yusuf lambang Kristus; dalam berita selanjutnya, kita akan melihat rahasia hayat yang memerintah. Dalam berita di depan, kita telah nampak aspek-aspek dari Yusuf yang melambangkan Kristus. Dalam berita ini, kita nampak aspek-aspek yang lainnya.

9) Dibangkitkan dari Penjara Maut

Yusuf melambangkan Kristus sebagai Yang dibangkit-kan dari penjara maut (Kej. 41:14; Kis. 2:24). Kristus bukan-nya ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara; melainkan dengan rela Ia berjalan ke dalam penjara, yaitu dengan sukarela Ia menuju ke penjara maut. Ketika Ia masuk ke dalam maut dengan sukarela, pintu alam maut, yang merupakan kekuatan maut, kekuasaan kegelapan, segera bangkit dan berupaya menahan-Nya di sana untuk selamanya. Tetapi seperti yang dikatakan dalam Kisah Para Rasul 2:24, Ia tidak mungkin ditahan oleh maut. Kristus tinggal di dalam penjara maut selama tiga hari. Dalam hari-hari itu, kuasa maut telah dengan sekuat tenaga mencoba memenjarakan Dia. Tetapi Kristus tidak mungkin ditahan oleh maut, karena Dia adalah kebangkitan (Yoh. 11:25). Apakah yang lebih berkuasa — maut atau kebangkitan? Sudah pasti kebangkitan lebih berkuasa daripada maut. Karena itu, maut tidak mampu menahan Kristus, yang bukan hanya hayat, tetapi juga kebangkitan. Karena itu, Kristus melangkah keluar dari maut. Bagi-Nya, melangkah keluar dari maut ini adalah kebangkitan-Nya. Sebagaimana Yusuf dibebaskan dari penjara, demikian juga Kristus dibebaskan dari penjara maut.

Semua orang Kristen harus sangat mengenal tiga hal: inkarnasi Kristus, penyaliban Kristus, dan kebangkitan Kristus. Saya percaya bahwa kita yang di dalam gereja sudah mengenal ketiga hal ini.

10) Naik Takhta Mendapatkan Kekuasaan

Yusuf juga melambangkan Kristus sebagai Yang naik takhta mendapatkan kekuasaan (Kej. 41:40-44; Mat. 28:18; Kis 2:36; Why. 3:21). Pada hari yang sama Yusuf dikeluarkan dari penjara dan dilantik ke atas takhta sebagai penguasa yang sebenarnya atas seluruh tanah Mesir. Demikian juga, setelah Kristus dibangkitkan, Ia juga naik takhta mendapatkan kekuasaan. Kisah Para Rasul 2:36 mengatakan bahwa Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan telah dijadikan Tuhan dan Kristus. Pada hari Pentakosta, Rasul Petrus seolah berkata kepada orang-orang Israel yang telah menolak Tuhan, “Dia yang telah kalian tolak, kalian taruh di kayu salib, dan kalian bunuh, telah Allah bangkitkan dari kematian. Tidak hanya demikian, Allah pun telah menjadikan Dia sebagai Tuhan atas segala sesuatu.” Ini ditujukan kepada perihal naik takhtanya Kristus. Alangkah agungnya perkara ini!

11) Mendapatkan Kemuliaan

Ketika Kristus naik takhta, Ia mendapatkan kemuliaan (Ibr. 2:9). Dalam hal ini, Yusuf juga melambangkan Kristus, karena ketika ia dibebaskan dari penjara, ia mendapatkan kemuliaan (Kej. 41:42). Penentang-penentang Yusuf selain menjual dia, memandang rendah dia, juga menjebloskan dia ke dalam penjara. Dalam pasal 41, penjara disebut liang tutupan di bawah tanah. Keadaan penjara di bawah tanah zaman Yusuf itu jauh lebih buruk daripada keadaan penjara-penjara zaman sekarang di negeri ini. Penjara di mana Yusuf dijebloskan merupakan sebuah liang tutupan bawah tanah. Orang-orang yang menaruhnya di sana bermaksud agar ia benar-benar menderita. Tetapi Allah telah mengangkat dia, menempatkan dia di atas takhta, bahkan memberinya kemuliaan. Mungkin Anda tidak tahu bagaimana kita dapat membuktikan bahwa Yusuf menerima kemuliaan. Buktinya ialah fakta bahwa padanya dikenakan pakaian yang mewah dan disuruh mengendarai kereta Firaun yang kedua (Kej. 41:42-43). Dia memakai pakaian kain lenan yang indah, terlihat kontras dengan ia dilucuti oleh saudara-saudaranya dari jubahnya yang berwarna-warni itu (Kej. 37:23). Ketika orang banyak melihat dia mengenakan jubah yang indah itu dan duduk di atas kereta Firaun, tentu mereka tahu bahwa di sana ada orang yang berada dalam kemuliaan.

12) Menerima Karunia (Pemberian)

Setelah Yusuf dibebaskan dari penjara dan naik takhta, ia menerima karunia (pemberian) (Kej. 41:42). Kristus juga menerima karunia (Kis. 2:33). Banyak orang Kristen yang tahu bahwa Kristus telah dibangkitkan, naik ke surga, dan dimahkotai dengan kehormatan dan kemuliaan, namun sedikit yang tahu bahwa setelah Kristus naik ke surga, naik takhta, dan dimuliakan, juga menerima karunia. Kisah Para Rasul 2:33 menyatakan bahwa Kristus telah menerima Roh Kudus yang dicurahkan oleh Bapa, yang tadinya memang sudah dijanjikan oleh Bapa. Apa yang diterima Kristus dari Bapa merupakan suatu karunia. Pada zaman kuno, berabad-abad sebelum Kristus, perkara yang sama prinsipnya terjadi pada diri Yusuf. Yusuf bukan hanya dimuliakan, tetapi juga menerima pemberian-pemberian. Dalam pemuliaannya, Yusuf diberi tiga benda: cincin emas, beberapa jubah, dan kalung emas. Cincin dikenakan pada jarinya, kalung digantungkan pada lehernya, dan jubah menutupi seluruh tubuhnya. Ketiga benda ini menyajikan gambar yang sempurna atas apa yang telah diterima Kristus pada kenaikan-Nya ke surga, yaitu pemberian-pemberian yang Ia salurkan kepada gereja. Ketika anak yang hilang itu pulang ke rumah, ia menerima dua pemberian, yakni cincin di jarinya dan jubah di tubuh-nya (Luk. 15:22). Waktu itu ia tidak menerima kalung emas, yang akan diberikan kemudian.

Efesus 1:13 mengatakan bahwa kita telah dimeteraikan dengan Roh Kudus. Ini menunjukkan bahwa Roh Penyela-matan diumpamakan sebagai meterai. Kita tahu bahwa kita telah diselamatkan karena kita telah dibubuhi meterai. Lima puluh tahun yang lalu saya membeli sebuah Alkitab yang bersampul kulit dan berpinggiran emas. Begitu saya mendapatkannya, saya segera membubuhkan meterai saya di atasnya sebagai tanda bahwa Alkitab ini milik saya. Saya khawatir kalau-kalau Alkitab ini nanti hilang, saya tidak dapat membuktikan bahwa ini milik saya. Bila Alkitab ini telah saya beri cap, maka saya dapat membuktikan kalau ini memang milik saya. Demikian pula, sebelum kita diselamatkan, kita berada di tengah-tengah khalayak umum. Tetapi pada hari kita menerima Tuhan Yesus, kita sudah dimeteraikan. Meterai penyelamatan kita adalah Roh Kudus Allah. Sejak itu dan seterusnya, kita mempunyai meterai di atas diri kita. Seandainya Alkitab saya berbicara, “Aku tidak menyukai Witness Lee. Aku lebih senang menjadi milik orang lain.” Tetapi cap saya yang di atas Alkitab akan mencegahnya menjadi milik orang lain. Sama juga, mungkin kita sudah merasa tidak ingin menjadi milik Tuhan, kita ingin ikut setan. Tetapi bagaimanapun halnya, seseorang yang telah beroleh selamat dan dimeteraikan tidak akan pernah dapat meloloskan diri dari Tuhan. Sekalipun Anda bisa masuk ke dalam neraka, Anda akan tetap membawa meterai ini.

Orang-orang Mesir kuno menggunakan cincin mereka sebagai meterai. Barang apa saja yang mereka meteraikan dengan cincin mereka, itu merupakan barang yang penting bagi mereka. Jadi cincin, meterai yang diterima oleh Yusuf, melambangkan Roh Kudus yang diterima oleh Kristus. Ketika Kristus naik ke surga dan naik takhta, Ia menerima Roh Kudus dari Bapa, yang bisa digunakan sebagai meterai yang dibubuhkan ke atas semua orang beriman-Nya. Kapan saja seseorang berseru kepada-Nya, orang itu akan dibubuhi meterai-Nya.

Sebagai orang yang telah beroleh selamat, Anda mem-punyai meterai yang hidup di atas diri Anda. Sekalipun Anda pergi ke kasino di Las Vegas, Anda tetap memiliki meterai ini, dan meterai inilah yang akan membuat Anda merasa bahwa Anda ini milik Yesus, sehingga tidak seharusnya Anda berada di tempat seperti itu. Sebagai Yusuf kita, Kristus telah menerima meterai dari Bapa, dan dengan meterai itu Ia telah memeteraikan kita. Sekarang meterai ini ada di dalam diri kita dan di atas diri kita.

Pemberian kedua yang Yusuf terima ialah jubah. Kita, kaum beriman, sekurang-kurangnya memerlukan dua buah jubah, yang satu untuk keselamatan dan yang lain untuk kemenangan, untuk pahala. Anak yang hilang dalam Lukas 15 hanya menerima satu jubah, karena ia hanyalah sebagai orang yang beroleh selamat. Ia masih belum menjadi pemenang. Setelah kita diselamatkan dan menerima jubah kebenaran yang membenarkan kita, kita masih perlu terus menempuh kehidupan yang menang. Jika demikian, selain jubah keselamatan, kita akan menerima jubah yang lainnya lagi.

Sering saya tegaskan bahwa ratu dalam Mazmur 45 mempunyai dua jubah (ayat 14-15). Yang satu berhubungan dengan kebenaran obyektif, untuk keselamatan kita; sedangkan yang lainnya berhubungan dengan kebenaran subyektif, untuk kemenangan kita. Perjanjian Baru mewahyukan bahwa kaum beriman harus mempunyai dua jubah. Jubah yang pertama terdapat pada Lukas 15, sedang yang kedua terdapat pada Wahyu 19. Bagi kita, jubah keselamatan adalah untuk dibenarkan di hadapan Bapa. Tetapi untuk menghadiri pesta perkawinan Anak Domba, kita perlu jubah yang lain-nya. Kedua jubah ini adalah Kristus. Yang pertama, jubah keselamatan, adalah Kristus yang obyektif, yaitu Kristus yang dikenakan pada kita (Gal. 3:27), Kristus yang dikaruniakan kepada kita untuk menjadi kebenaran kita (1 Kor. 1:30). Ketika anak yang hilang itu pulang ke rumah, ia tidak layak duduk bersama ayahnya yang adil. Ia memerlukan jubah kebenaran untuk menutupi dirinya dan menjadikan-nya layak. Jubah ini adalah Kristus yang obyektif yang menjadi kebenaran kita, yang membenarkan kita di hadapan Allah yang adil. Setelah kita dibenarkan, kita perlu memperhidupkan Kristus. Bila Kristus diperhidupkan melalui kita, Ia menjadi kebenaran subyektif kita, bukan sekadar sesuatu yang dikenakan pada kita, bahkan sesuatu yang diperhidupkan melalui kita. Inilah Kristus yang subyektif selaku jubah kedua. Kristus telah dikaruniakan kepada kita sebagai kedua jubah ini.

Kristus kita adalah kebenaran yang sejati di depan Allah. Selain Kristus, tidak ada kebenaran lain dalam alam semesta ini. Dalam alam semesta ini hanya ada Satu yang memuaskan seluruh tuntutan keadilan Allah, dan yang satu-satunya ini ialah Kristus. Meski kedengarannya tidak logis, namun kebenaran ini telah diberikan kepada Kristus. Anda mungkin heran bagaimana Kristus dapat menjadi kebenaran, dan kebenaran ini diberikan kepada-Nya. Ini perkataan Alkitab, dan kita perlu belajar mengutarakan perkataan Alkitab. Kebenaran satu-satunya di alam semesta ini adalah Kristus; kebenaran ini telah diberikan kepada Kristus sehingga Ia bisa dikenakan ke atas kaum beriman-Nya. Kristus adalah kebenaran dan telah diberikan kepada kita secara obyektif untuk pembenaran kita. Kebenaran yang telah diberikan kepada-Nya oleh Bapa ini telah diteruskan oleh-Nya kepada kita. Tidak hanya demikian, secara terus-menerus Ia memberikan diri-Nya kepada kita agar kita bisa memperhidupkan Dia. Semuanya ini adalah perkara karunia.

Kristus sebagai kebenaran juga diberi kebenaran, hal ini berhubungan dengan tritunggal. Jika kebenaran ini tidak pernah diberikan oleh Bapa kepada Putra, tentunya kebenaran ini tidak bisa berlaku secara sah. Meskipun kebenaran yang unik dalam alam semesta ini adalah Kristus sendiri, namun tanpa kebenaran ini diberikan oleh Bapa kepada Putra, niscayalah Sang Putra takkan berhak menggunakannya. Sebab itulah, Bapa memberikan kebenaran kepada Putra sehingga Putra bisa meneruskan kebenaran kepada kaum beriman-Nya. Pertama-tama sebagai kebenaran obyektif, kemudian sebagai kebenaran subyektif.

Kita telah menerima jubah yang pertama, dan keselamatan kita tidak ada masalah. Kita telah diselamatkan dan akan selamanya bersama Tuhan. Hal ini lebih pasti daripada polis oleh perusahaan asuransi yang paling dapat diandalkan. Tetapi bagaimana dengan jubah yang kedua? Kita tidak bisa menentukan sekarang sepasti pada jubah yang pertama, karena mungkin kita belum membayar premi yang diharuskan oleh polis yang kedua. Kita perlu memperoleh jubah yang kedua agar bisa menerima pahala. Puji Tuhan, baik jubah obyektif maupun jubah subyektif, kedua-duanya adalah karunia! Keduanya oleh Bapa telah diberikan kepada Putra, dan Putra telah memberikannya kepada kita. Jika Anda bertanya kepada saya, apakah saya telah memiliki kedua jubah ini, saya akan menjawab, “Aku pasti telah memiliki jubah yang pertama, dan jubah yang kedua ada di dalamku dan masih dalam proses ternyata keluar.” Anda juga telah menerima jubah yang kedua ini. Di dalam Anda ada jubah ini. Sekarang Anda perlu berdoa, “Tuhan Yesus, garapkanlah diri-Mu hingga tertampil dari dalam diriku. Tuhan Yesus, tampilkanlah diri-Mu dari dalamku, menjadi jubah kedua-ku.” Kita semua memerlukan jubah ini.

Yang berhubungan dengan jubah yang kedua adalah benda ketiga, yaitu kalung emas yang dikalungkan pada leher Yusuf. Dalam Alkitab, leher yang dikalungi rantai menandakan tekad yang takluk. Ketika orang-orang Israel tidak mau taat, Tuhan menyebut mereka sebagai bangsa yang tegar tengkuk (Kel. 32:9). Sungguh tidak pantas seseorang yang tegar tengkuk mengenakan kalung emas. Namun, kalung emas yang dikenakan pada leher yang tunduk akan kelihatan elok dan cantik. Leher yang dikalungi kalung emas menandakan tekad yang telah ditaklukkan dan ditundukkan sehingga menaati perintah Allah. Ketika leher Anda telah ditaklukkan dan ditundukkan sedemikian, berarti Anda telah dikalungi. Pernahkah Anda melihat seorang perempuan yang mengenakan kalung sedang bertengkar dengan suaminya? Saya pernah. Begitu nampak hal ini, saya berkata kepada diri saya sendiri, “Kamu harus menanggalkan kalung itu. Karena kamu tegar tengkuk, kamu tidak patut memakai kalung.” Bahkan dasi seorang pria pun merupakan kalung. Banyak budi pekerti dan sopan santun yang berhubungan dengan pemakaian kalung seperti ini. Kalung emas pada leher menandakan Roh ketaatan. Kisah Para Rasul 5:32 mengatakan bahwa Roh itu diberikan kepada mereka yang taat kepada Allah. Jadi Roh itu diberikan bukan hanya sebagai karunia untuk keselamatan, tetapi juga untuk ketaatan.

Saya sungguh mengagumi urutan hal-hal dalam Alkitab. Seandainya saya yang disuruh menuliskan karunia yang diberikan kepada Yusuf, pertama-tama saya akan menyebutkan cincin, kemudian kalung, dan terakhir baru jubah. Ketika masih muda, saya tidak paham mengapa jubah disebutkan lebih dulu daripada kalung emas. Namun, urutan tiga macam karunia pada ayat 42 sesuai dengan urutan rohani. Dalam urutan rohani, pertama-tama kita menerima Roh untuk keselamatan. Inilah meterai. Kemudian kita menerima jubah kebenaran, serta mulai memperhidupkan Kristus. Untuk memperhidupkan Kristus, kita memerlukan kalung pada leher kita. Ini berarti leher kita harus ditaklukkan, ditundukkan, dan dikalungi oleh Roh Kudus. Oh, Roh Kudus akan mengalungi Anda! Roh itu akan mengalungi leher Anda yang tegar dan akan membuatnya lunak dan patuh. Di dalam hidup gereja banyak orang saleh yang telah dikalungi lehernya.

Ini pun berlaku bagi beberapa remaja di antara kita. Ketika saya berumur belasan tahun, leher saya masih sangat kaku. Ibu saya sangat mengasihi saya, tetapi leher saya masih tetap kaku. Banyak orang muda belasan tahun juga demikian. Akan tetapi, ketika Anda menyeru nama Tuhan Yesus, dengan spontan Anda sudah dikalungi. Tuhan mengenakan kalung-Nya pada leher Anda, dan Anda akan menjadi lunak dan tunduk. Kadang-kadang sifat Anda menyebabkan Anda tidak senang terhadap ibu Anda. Namun, berhubung leher Anda telah dikalungi, ia tidak lagi begitu kaku seperti dulu. Dulu leher Anda kaku, karena tidak ada kalung pada leher Anda. Hari ini Anda telah dikalungi oleh Roh Kudus, dikalungi oleh Roh ketaatan. Karena itu, orang lain bisa melihat keelokan Roh Kudus pada leher Anda melalui keta-atan yang terekspresi. Anda telah ditaklukkan, dan Anda patuh kepada orang tua Anda. Ada orang mungkin berkata, “Ketika aku berusia 18 tahun, aku akan bebas.” Ini bukanlah kesaksian dari orang yang telah dikalungi dengan kalung emas. Orang yang lehernya telah dikalungi pasti patuh ke-pada orang tuanya dan guru-gurunya. Bila leher Anda telah dikalungi, Anda akan menampilkan keelokan tertentu, ke-elokan emas dari Roh ketaatan.

Itu adalah karunia-karunia yang diterima oleh Yusuf kita dan yang diteruskan kepada kita. Saya dapat ber-megah bahwa pada jari saya ada cincin, sekujur tubuh saya telah dibungkus jubah, dan jubah satunya lagi sedang ter-tampil dari dalam saya bersama dengan kalung emas yang mengelilingi leher saya. Haleluya, Kristus telah menerima karunia-karunia dan Ia telah meneruskan semuanya itu kepada saya! Sekarang saya di dalam Dia juga telah mene-rima karunia-karunia. Kesemuanya ini dilambangkan oleh Yusuf.

13) Menjadi Juruselamat Dunia, Penunjang Hayat (Penyingkap Rahasia-rahasia)

Kristus telah dibangkitkan, naik takhta, dimuliakan, dan menerima karunia-karunia, karena itu Dia adalah Juru-selamat dunia. Sebagai Juruselamat dunia, Dia juga sebagai Penunjang hayat, dan Penyingkap rahasia-rahasia (Kis. 5:31; Yoh. 6:50-51). Yusuf melambangkan Kristus dalam ke-tiga aspek ini, karena sebutan-sebutan ini semuanya ter-kandung dalam nama Zafnat-Paaneah yang diberikan oleh Firaun kepada Yusuf (Kej. 41:45). Nama ini pertama-tama berarti Juruselamat dunia; kedua, Penunjang hayat; dan keti-ga, Penyingkap rahasia-rahasia. Kita semua tahu bahwa Kristus adalah Juruselamat dunia. Sebagai Juruselamat dunia, Dia adalah Penunjang hayat dan Penyingkap rahasia-rahasia. Semua sebutan ini diberikan kepada Yusuf. Pertama-tama Yusuf sebagai penyingkap rahasia-rahasia, kemudian sebagai juruselamat dunia. Ia menjadi juruselamat dunia karena ia telah menunjang hidup orang-orang.

Mengenai Yusuf sebagai penunjang hayat, Alkitab telah menyajikan catatan yang menakjubkan. Firaun mendapat-kan dua mimpi, yang pertama mengenai lembu dan yang ke-dua mengenai bulir-bulir gandum (41:1-7). Mengapa Firaun tidak bermimpi tentang tujuh kura-kura atau tujuh buah batu hitam? Baik lembu maupun bulir-bulir gandum, kedua-duanya berguna bagi makanan. Hari ini kita menikmati makanan bistik, yang berasal dari lembu; dan roti, yang ber-asal dari gandum. Di sini terlihat dua jenis hayat — hayat hewani dan hayat nabati (tumbuh-tumbuhan). Kita perlu menikmati kedua jenis hayat ini. Menurut perintah dalam Alkitab, sebelum kejatuhan, manusia hanya makan dari hayat tumbuh-tumbuhan (1:29). Tetapi, setelah kejatuhan, manusia disuruh makan daging demi keperluan penumpah-an darah untuk penebusan (9:3). Jadi setelah kejatuhan, ma-nusia harus makan hayat nabati dan hayat hewani sebagai suplainya. Sebenarnya, hayat hewani seharusnya duluan, karena orang yang jatuh memerlukan penebusan sebelum mereka dapat menikmati hayat. Di atas meja Tuhan kita nampak roti (tubuh) dan anggur (darah). Darah berasal dari hayat hewani Tuhan untuk penebusan, dan roti berasal dari hayat-Nya yang produktif. Dalam Injil Yohanes, Tuhan di-umpamakan sebagai Anak Domba. Dalam Yohanes 1:29, Yohanes Pembaptis berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah.” Inilah hayat hewani untuk penebusan. Dalam Yohanes 12:24, Tuhan mengumpamakan diri-Nya sebagai sebutir biji gan-dum yang jatuh ke dalam tanah dan mati, yang kemudian berlipat ganda melalui berproduksi. Inilah hayat nabati untuk produksi. Kedua macam hayat ini disebut dalam Kejadian 41.

Ketika kita nampak hal ini, sekali lagi kita akan sadar bahwa Alkitab betul-betul kitab ilahi. Tidak ada seorang pun yang sanggup menulis buku yang demikian. Semakin saya meneropong ke kedalaman Alkitab, saya semakin ya-kin bahwa isi kitab ini benar-benar wahyu ilahi. Alkitab benar-benar adalah firman Allah. Kecuali Allah, siapa yang mampu menulis Kejadian 41? Hari ini, suplai hayat yang kita terima dari Tuhan Yesus sebagai Penunjang hayat, meliputi hayat hewani untuk penebusan dan hayat nabati untuk pro-duksi. Haleluya, hari demi hari kita dirawat sedemikian rupa! Kristus adalah Juruselamat dunia dan juga Penunjang hayat. Dia pun sebagai Penyingkap rahasia-rahasia, yaitu Yang menerangkan arti mimpi-mimpi. Pernahkah kalian perhatikan berapa banyak mimpi yang dijelaskan Tuhan Yesus sewaktu Ia di bumi? Mimpi-mimpi yang saya maksud ialah wahyu, rahasia-rahasia yang Ia singkapkan kepada kita. Dalam Matius 13 paling sedikit Ia telah menjelaskan tujuh mimpi, dan beberapa yang lainnya dalam Matius 24 dan 25. Tuhan betul-betul adalah Penyingkap segala rahasia.

14) Memperistri Gereja

Dalam Kejadian 41:45 kita nampak bahwa Yusuf mem-peristri Asnat, putri Potifera, imam di On. Istri Yusuf ada-lah orang Mesir (bukan orang Israel/Yahudi). Yusuf mem-peristri dia pada masa ia dibuang oleh saudara-saudaranya. Ini juga merupakan sebuah lambang yang menggambarkan bagaimana Kristus mengambil orang-orang bukan Yahudi sebagai istri-Nya semasa Ia ditolak oleh orang-orang Yahudi, Ia memperoleh seorang istri dari tengah-tengah mereka.

Dalam Kitab Kejadian, kita telah nampak tiga orang istri yang menggambarkan gereja: Hawa, istri Adam; Ribka, istri Ishak; dan Asnat, istri Yusuf. Sebagai istri Adam, Hawa menggambarkan gereja yang berasal dari Kristus, dan merupakan bagian dari Kristus. Ia melambangkan bahwa dalam hayat dan sifat, gereja sama dengan Kristus, bahkan akhirnya menjadi satu Tubuh dengan-Nya. Karena itu, Hawa melambangkan gereja sebagai bagian dari Kristus, berasal dari Kristus, kembali kepada Kristus, dan menjadi satu de-ngan Kristus. Ribka menggambarkan gereja sebagai orang yang terpanggil dan terpilih, yang berasal dari sumber yang sama dengan Kristus. Ishak berasal dari sumber yang khu-sus, dan pelayan Abraham dikirim kepada sumber tersebut untuk memilih dan memanggil seorang istri bagi Ishak dan membawanya kepada Ishak. Orang yang terpilih ini ialah Ribka. Asnat menggambarkan gereja yang dipersunting oleh Kristus dari dunia orang bukan Yahudi ketika Ia ditolak oleh orang Israel. Dalam waktu penolakan ini, Kristus da-tang ke dunia orang bukan Yahudi, tinggal di sana, dan men-dapatkan gereja dari dunia orang bukan Yahudi.

Dari istrinya, Asnat, Yusuf memperoleh dua orang putra, Manasye dan Efraim. Nama Manasye berarti, “membuatnya lupa”. Ketika Manasye dilahirkan, Yusuf berkata, “Allah te-lah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku” (Kej. 41:51). Ini menandakan bahwa dengan kelahiran Manasye, Yusuf telah melupakan semua penderitaan dan kesengsaraannya. Atas kelahiran Manasye, Yusuf seolah-olah mengatakan, “Puji Tuhan! Ia telah menyebabkan aku melupakan semua penderitaanku.” Ini mewahyukan, ketika gereja itu produktif, Kristus akan mengumumkan bahwa Ia telah melupakan penderitaan-pen-deritaan-Nya. Jika sidang penginjilan gereja di tempat Anda menghasilkan sejumlah buah, Kristus akan mengumumkan kepada alam semesta: “Manasye! Aku telah melupakan se-mua penderitaan-Ku.”

Nama putra Yusuf yang kedua adalah Efraim, artinya “berbuah, berbuah banyak” (41:52). Ketika Efraim dilahir-kan, Yusuf berkata, “Allah membuat aku berbuah banyak di negeri kesengsaraanku” (Tl.). Terhadap Yusuf, banyak berbuah telah menggantikan kesengsaraannya. Sewaktu kita menginjil dan berbuah, Kristus akan bergembira dan meng-umumkan, “Tidak ada kesengsaraan lagi. Tengoklah semua buah ini!”

15) Menyuplaikan Makanan kepada Orang Banyak

Yusuf menyuplaikan makanan kepada orang-orang yang kelaparan (Kej. 41:56-57). Sebagai seorang penyuplai ma-kanan, ia melambangkan Kristus sebagai Sang Penyuplai makanan kepada bangsa-bangsa (Yoh. 6:35). Hari ini, Kristus adalah Penyuplai makanan kepada bangsa-bangsa! Ia me-nyuplaikan makanan kepada orang-orang yang kelaparan.

Ketika membaca kisah Yusuf, kita menemukan bahwa kisah ini tiada habisnya. Walaupun kita membacanya berulang-ulang, kita tetap tidak bisa menghabiskan kekayaannya.