DIMATANGKAN ASPEK MEMERINTAH DARI ISRAEL YANG MATANG (2)
Dalam Kitab Kejadian, Yusuf mewakili aspek memerintah dari hayat yang matang. Sebagai wakil yang sedemikian, Yusuf melambangkan Kristus, karena aspek memerintah dari hayat yang matang ialah Kristus tersusun ke dalam kita. Karena itu, dalam catatan Kitab Kejadian, Yusuf melambangkan Kristus.
7) Dijual (Dikhianati)
Kita telah nampak bahwa Yusuf melambangkan Kristus sebagai Putra kesayangan Allah, sebagai Utusan Allah Bapa untuk menggembalakan umat Allah, dan sebagai Yang dianiaya oleh orang-orang yang digembalakan-Nya. Selain itu, menurut keempat Injil, Kristus telah dikhianati (Mat. 26:14-16). Yusuf sebagai lambang Kristus, juga telah dikhianati, dijual (Kej. 37:27-28). Dalam pengertian Alkitab, dikhianati (dijual) berarti dihina, dipandang rendah, dipermalukan, atau diremehkan. Ketika Yudas hendak menjual Tuhan Yesus, tentunya ia benar-benar menurunkan nilai Kristus sampai serendah-rendahnya. Dalam Matius 26, kita melihat bahwa Kristus menjadi ujian bagi semua orang yang ada di sekitar-Nya. Ada yang membenci-Nya. Akan tetapi, Maria menghargai-Nya, mencurahkan minyak narwastu yang sangat mahal ke atas diri-Nya. Bagi Maria, Kristus sangat berharga, dan ia menghargai-Nya setinggi-tingginya. Tetapi Yudas memandang rendah Kristus, mempermalukan Dia, dan meremehkan Dia. Yudas menurunkan derajat Kristus sedemikian rupa sehingga menjual Dia dengan harga yang murah, yaitu 30 uang perak, yang menurut Kitab Keluaran merupakan harga seorang budak (Kel. 21:32). Karena itu, dalam Alkitab, menjual seseorang berarti memandang rendah orang itu.
Kapan kala Anda dipandang rendah oleh seseorang, berarti Anda dijual oleh orang itu. Kapan kala istri Anda memandang rendah Anda, berarti ia menjual Anda. Begitu pula, kalau saudara-saudara meremehkan Anda, berarti Anda telah dijual. Renungkanlah, bagaimana Anda menilai diri Anda. Dalam pikiran Anda, tidakkah Anda ini sangat berharga? Kita semua menganggap diri kita berharga. Sebab itu, kapan kita dipandang rendah orang atau diremehkan orang, berarti kita dijual. Mungkin Anda berpikir bahwa selama tahun-tahun Anda di dalam hidup gereja, Anda tidak pernah menemukaan adanya “penjualan”. Namun, dalam hidup gereja, orang-orang sering dijual dalam arti diremehkan atau dipandang rendah. Hari lepas hari, para suami memandang rendah istri mereka atau sebaliknya para istri meremehkan suami mereka. Jika ada kaum saleh yang membicarakan kaum saleh lainnya secara meremehkan, itu berarti kaum saleh itu sedang menjual mereka.
Kita semua menganggap diri kita berharga. sesungguh-nya kita memang berharga karena kita mempunyai Kristus di dalam kita. Tidakkah Anda memiliki Allah di dalam Anda? Dalam Alkitab, Allah diumpamakan sebagai emas dan Kristus diumpamakan sebagai mustika. Allah kita adalah emas di dalam kita, dan Kristus kita adalah mustika di dalam tembikar. Orang-orang yang tidak percaya tidaklah berharga setinggi kita, karena mereka tanpa Kristus di dalam mereka. Mereka paling tinggi hanya berupa tembikar tanah liat. Tetapi di dalam kita terdapat mustika yang paling mahal. Karena itu, jangan sekali-kali berpikiran bahwa kita ini tak berharga. Kita perlu mengumumkan kepada malaikat-malaikat, “Malaikat-malaikat, kalian harus tahu betapa berharganya aku ini. Aku berharga karena Kristus ada di dalamku.” Tidak hanya demikian, Anda boleh bermegah kepada Iblis dan setan-setan, “Iblis, ketahuilah, aku mempunyai Allah dan Kristus di dalamku. Setan-setan, kalian tidak bisa memiliki Kristus di dalam kalian. Tetapi aku mempunyai Kristus di dalamku, itulah sebabnya aku sangat berharga.” Ini bukan suatu kesombongan, malah sebalik-nya, suatu kerendahan hati yang sejati. Saya ingin memberi tahu setiap orang, termasuk malaikat-malaikat, Iblis, setan-setan, dan setiap orang di bumi bahwa saya berharga karena saya memiliki Kristus; karena itu, tak seharusnyalah Anda memandang rendah atau meremehkan saya.
Kita harus belajar untuk tidak menjual saudara-saudara kita. Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya. Jika mereka memandangnya sebagai berkas gandum atau bintang, mereka pasti tidak akan menjualnya. Mereka menjual Yusuf, berarti mereka memandang rendah dia, meremehkan dia. Pada prinsipnya, hal yang sama terjadi pada diri Tuhan Yesus. Sekalipun Tuhan itu mustika dan berharga, namun Yudas memandang rendah Dia, menjual-Nya dengan 30 uang perak. Petrus, Yakobus, Yohanes, dan rasul-rasul lainnya yang mengikuti jejak Anak Domba, mereka pun dipandang rendah orang. Demikian pula Rasul Paulus. Sepanjang abad, pengikut-pengikut Anak Domba selalu pernah dijual. Mereka seperti Kristus, dipandang rendah, diremehkan, dan dihina. Hari ini kita mengikuti Tuhan, juga dipandang rendah orang. Kita menderita banyak sengsara hanya karena kita dihina, diremehkan. Mereka yang menentang kita memandang rendah kita, meremehkan kita. Jika mereka menghargai mustika yang ada di dalam kita, dan mengenal kemustikaan apa yang Tuhan garapkan ke dalam kita, mereka tidak akan menghina kita atau meremehkan kita. Orang-orang tertentu menentang kita karena mereka memandang rendah kita. Memandang rendah semacam ini sebenarnya adalah menjual kita, suatu tanda pengkhianatan. Janganlah mengira bahwa pengkhianatan semacam itu hanya terjadi pada diri Yusuf atau Kristus yang dilambangkan oleh Yusuf. Hal ini menimpa semua pengikut Kristus, bahkan merupakan pengalaman kita hari ini.
Sebelum kita diselamatkan, banyak di antara kita yang dihargai oleh orang tua, sanak famili, dan teman-teman kita. Tetapi setelah kita beroleh selamat dan mulai menuntut Tuhan, teman-teman kita, sanak famili, dan bahkan adakalanya orang tua kita, mulai meremehkan kita. Ini berarti mereka menjual kita. Penyaliban atas diri Kristus diawali dengan pengkhianatan (penjualan) terhadap diri-Nya. Ia disalibkan setelah Ia dikhianati (dijual). Prinsip ini sama dengan yang terjadi pada diri Yusuf. Ia bukannya dijebloskan ke dalam penjara secara langsung. Pertama-tama ia dijual, dan penjualan terhadap dirinya itu merupakan batu loncatan yang menuju ke penjara. Pengkhianatan terhadap Kristus merupakan batu loncatan yang menuju ke salib. Pengkhianatan bukanlah hal yang tak bermakna. Semua penganiayaan dan penentangan hari ini merupakan suatu pengkhianatan. Mereka yang menentang kita berarti menjual kita; mereka menjual kita dengan harga yang murah. Meskipun kita sangat berharga, namun para penentang kita menjual kita dengan harga yang demikian rendahnya, bahkan menjualnya tanpa harga.
8) Dijebloskan ke Dalam Penjara Maut
Setelah Yusuf dijual, selanjutnya adalah masa penawanan, masa pemenjaraan (Kej. 39:20). Yusuf bersama dua orang penjahat melambangkan dua penjahat yang mengapit Kristus, yang satu kemudian dipulihkan, sedang yang lain menjalani hukuman mati (Kej. 40:1-23). Demikian pula Kristus. Setelah Kristus dikhianati, Ia ditaruh ke dalam penjara maut (Kis. 2:23). Ia disalibkan di antara dua orang penjahat, yang satu beroleh selamat, sedang yang lain binasa (Luk. 23:32, 39-43). Kristus dikurung dalam penjara maut selama tiga hari tiga malam. Sebagai lambang Kristus, Yusuf pun mempunyai pengalaman yang seperti Kristus. Ia ditolak oleh saudara-saudaranya, dijual, dan akhirnya dijebloskan ke dalam penjara. Kristus juga menghadapi peristiwa yang sama. Pertama-tama Ia ditolak oleh saudara-saudaranya, kemudian Ia dijual oleh salah seorang dari murid-murid-Nya, dan akhirnya Ia dibuang ke dalam penjara maut.
Memang Kristus dibangkitkan setelah kematian-Nya, namun kebangkitan-Nya itu bukanlah datang tidak lama setelah kematian-Nya. Secara manusiawi, waktu tiga hari “penawanan” diri Kristus dalam penjara maut bukanlah waktu yang pendek. Tidak pernah ada malam yang berlangsung selama tiga hari tiga malam. Sepanjang-panjangnya malam hari hanya berlangsung dari petang sampai pagi. Tetapi malam yang dialami Kristus di dalam penjara maut itu berlangsung sampai tiga hari tiga malam. Kalau kita yang menjadi Maria Magdalena, ini akan terasa sangat lama, karena ia sangat mengasihi Kristus, mengikuti-Nya, serta telah melihat Dia disalibkan dan dikubur. Setelah kematian dan penguburan Kristus, Maria sudah tak lagi bernafsu makan atau tidur. Ia sedang menanti-nantikan terjadinya sesuatu. Saya tidak percaya kalau murid-murid-Nya telah melupakan bahwa sebelum kematian-Nya, Kristus pernah menegaskan bahwa Ia akan dibangkitkan setelah tiga hari. Meskipun mereka tidak jelas akan apa yang dikatakan-Nya, tetapi tentunya mereka terkesan dengan sesuatu yang menyangkut kebangkitan-Nya. Petrus mungkin tidak terkesan dengan kebangkitan Kristus yang akan datang, namun saya tidak percaya kalau Maria Magdalena lupa bahwa Yesus pernah mengatakan bahwa setelah tiga hari Ia akan bangkit dari kematian. Bukan main susahnya bagi dia menunggu tiga hari itu. Bahkan tiga jam saja sudah cukup menyusahkan. Akhirnya, pada hari ketiga, kuburan di mana Yesus diletakkan didapati kosong. Selama tiga hari tiga malam Kristus dikurung dalam penjara maut, hari-hari itu merupakan malam yang panjang. Malam pemenjaraan terhadap diri Yusuf berjalan hampir 10 tahun. Ketika Yusuf dijual ke Mesir sebagai budak, usianya sekitar 17 tahun; dan ketika ia dilepaskan dari penjara, ia berusia 30 tahun. Jika Anda membaca Alkitab dengan cermat, Anda akan nampak bahwa tidak lama setelah Yusuf dijual kepada Potifar, ia dijebloskan ke dalam penjara. Jadi Yusuf telah meringkuk dalam penjara selama jangka waktu yang sangat panjang, itu adalah masa kegelapan yang panjang.
Menurut Alkitab, yang mengalami pelajaran ini adalah orang-orang muda, bukan orang-orang tua. Ketika Yusuf di masukkan ke dalam penjara, usianya kurang dari 20 tahun. Setiap orang muda perlu dikurung sejangka waktu seperti ini. Orang muda, karena Anda terlampau bebas, Anda perlu dikurung. Di Amerika Serikat, orang-orang muda ingin cepat-cepat mencapai umur 18 tahun, karena saat itu mereka akan bisa bebas seperti burung terlepas dari sangkarnya. Saya telah mengamati hal ini terhadap cucu-cucu saya. Pada usia 18 tahun, mereka mengira bahwa mereka boleh dibebaskan dari sangkar. Akan tetapi, jika orang-orang muda ini mengasihi Tuhan, juga sebagai Yusuf-Yusuf hari ini, mereka akan ditempatkan dalam pengurungan Tuhan setelah mereka bebas dari sangkarnya. Orang muda, pengurungan Tuhan sedang menanti Anda.
Kita telah nampak bahwa Yusuf mewakili aspek memerintah dari hayat yang matang. Namun, sebelum Yusuf naik takhta dan memerintah, ia telah dipenjarakan. Ini menunjukkan bahwa pengurungan mendahului naik takhta. Dalam mimpi-mimpi Yusuf, tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan dipenjarakan. Mimpi-mimpi itu pasti membuat Yusuf bahagia. Dalam mimpi-mimpi itu, ia nampak dirinya sebagai berkas gandum yang berdiri tegak dan bintang yang bersinar. Yusuf merasa sangat gembira atas mimpi-mimpinya sehingga ia menceritakan kepada saudara-saudaranya, tanpa menyadari kalau mereka akan merasa sakit hati. Kenaikan takhta tidaklah segera mengikuti mimpi-mimpi Yusuf. Sebaliknya, terlebih dulu Yusuf dijual, kemudian dipenjarakan.
Setelah mendengar ini, mungkin ada orang yang akan berkata, “Berita-berita mengenai Yusuf yang sebelumnya menakjubkan dan mulia, tetapi aku tidak mau mendengarkan kata-kata selanjutnya, cukup sampai di sini saja.” Boleh saja Anda sampai di sini saja, namun Allah masih mau meneruskan. Anda perlu paham bahwa Anda adalah layang-layang di ujung benang dan benangnya ada di tangan Tuhan. Tuhan akan bertanya, “Apakah kamu mau melepaskannya? Aku tidak membiarkan kamu melepaskannya.”
Seandainya Yusuf tidak mempunyai mimpi-mimpi itu, mungkin ia tak akan mengalami kesulitan apa-apa. Tetapi ia telah mendapatkan dua mimpi, dan ia begitu gembira sehingga memberi tahu saudara-saudaranya perihal mimpi-mimpi itu. Setelah memiliki dua mimpi itu, Yusuf tidak segera di naiktakhtakan, sebaliknya, ia diremehkan dan dipenjarakan. Ada orang-orang muda mungkin beranggapan bahwa jika mereka mengikuti Yesus Kristus, juga di dalam pemulihan Tuhan, maka segala sesuatunya akan indah. Akan tetapi, orang muda memerlukan sejangka waktu pengurungan. Ini sangat penting bagi mereka. Betapa saya berterima kasih kepada Tuhan terhadap pengurungan yang telah terjadi atas diri saya!
Penjara Anda mungkin istri Anda sendiri. Banyak orang muda yang masih belum menikah ketika Anda datang menempuh hidup gereja. Dalam gereja Anda mempunyai kesempatan untuk membuat pilihan yang paling baik. Namun setelah bulan madu berlalu, Anda menemukan bahwa istri Anda yang tercinta itu justru kurungan bagi diri Anda. Boleh jadi Anda akan berkata, “Apa yang telah terjadi? Setelah aku menikah, aku tidak bebas lagi.” Ini memang betul. Suami atau istri Anda adalah penjara Anda. Setiap pernikahan dan setiap rumah tangga menjadilah penjara. Bersyukurlah kepada Tuhan atas penjara-penjara ini. Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa pemenjaraan ini akan berlangsung lama sekali. Saya telah mengalami penjara semacam ini dalam jangka waktu yang amat panjang, dan berhubung saya masih memerlukan pemenjaraan, maka saya masih tetap tinggal di dalam penjara. Saya masih perlu mempelajari beberapa pelajaran.
Sekarang kita sampai pada beban saya dalam berita ini: sebagai kata-kata sisipan, saya ingin membagikan kepada Anda rahasia menempuh hari-hari selama Anda tinggal di dalam penjara. Inilah rahasia untuk menikmati pemenjaraan yang sedang Anda alami. Tanpa rahasia ini, mustahillah saya memahami Kejadian 40 dengan sepenuhnya. Sekarang saya ingin memberi tahu Anda rahasia apa yang harus kita perbuat selama masa pemenjaraan. Bila waktu pemenjaraan telah tiba, Anda akan mengerti bahwa apa yang saya berita-hukan kepada Anda dalam berita ini dapat dipraktekkan seluruhnya.
I. YUSUF DIUJI
OLEH BELUM TERWUJUDNYA MIMPINYA
Yusuf diuji oleh kenyataan bahwa mimpi-mimpinya belum terwujud. Setelah bermimpi, Yusuf segera memberi tahu orang tuanya dan saudara-saudaranya. Tidak lama setelah itu, ia dijual sebagai budak dan kemudian dimasukkan ke dalam penjara. Saya yakin ia tinggal di penjara lebih dari 10 tahun. Dalam mimpi-mimpinya, tidak ada petunjuk bahwa Yusuf akan menderita. Tetapi segera setelah Yusuf bermimpi, ia harus mengalami penderitaan. Demikian juga, saya dapat bersaksi bahwa takhta tidaklah segera mengikuti visi tentang Kristus, gereja, salib, atau hayat batiniah, melainkan didahului oleh penderitaan, pencobaan, pengkhianatan, dan pemenjaraan. Menurut konsepsi alamiah kita, kita mengira setelah kita nampak suatu visi, maka sesuatu yang mulia akan segera terjadi dalam kehidupan kita. Namun keadaannya bukanlah demikian. Setelah visi, pencobaan akan menyusul. Orang muda, janganlah Anda mengira setelah Anda nampak visi tentang Kristus, gereja, salib, hayat batiniah, atau Roh, lalu Anda akan menempuh saat-saat yang mulia. Tidak, Anda akan ditimpa penderitaan dan dipenjarakan.
Andaikata saya ini Yusuf, saya mungkin sudah meragukan mimpi-mimpi saya sambil berkata kepada diri sendiri, “Mimpi-mimpi ini bukanlah sesuatu yang riil. Aku hanya bermimpi menjadi berkas gandum yang berdiri tegak, tetapi sebenarnya aku telah direndahkan. Aku nampak bahwa aku menjadi bintang yang bersinar di langit, tetapi sebenarnya aku dimasukkan ke dalam penjara. Apa yang terjadi berlawanan dengan mimpi-mimpiku.” Tentunya saya akan menaruh syak pada penjelasan tentang mimpi-mimpi saya. Saya akan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak riil.
Kita, orang-orang yang telah bertahun-tahun menempuh hidup gereja, mempunyai pengalaman ini. Mungkin beberapa tahun yang lalu Anda telah nampak visi yang menakjubkan mengenai Kristus dan hidup gereja. Bahkan Anda mungkin menyanyikan kemuliaan hidup gereja. Tetapi apa yang benar-benar terjadi dalam hidup gereja tidaklah begitu unggul dan mulia. Karena itu, Anda akan berkata, “Aku mengira aku sudah di Tanah Permai Kanaan, ternyata aku berada di Mesir. Aku bermimpi dikelilingi oleh berkas gandum, tetapi faktanya aku dikelilingi oleh kalajengking-kalajengking Mesir. Menurut visi yang kulihat dan menurut berita-berita yang diberikan Saudara Lee, aku mengharapkan berada di langit tingkat tiga. Tetapi sekarang aku berada dalam penjara, dalam liang tutupan. Aku bukannya di Yerusalem, me-lainkan di Mesir.” Banyak di antara kita dapat mempersak-sikan pengalaman-pengalaman semacam ini. Mengikuti visi yang kita nampak bukanlah kenaikan takhta, melainkan pemenjaraan.
II. YUSUF MEMPUNYAI IMAN DAN KEBERANIAN UNTUK MENERANGKAN ARTI MIMPI-MIMPI
KEDUA TEMANNYA DI DALAM PENJARA
Dalam masa pemenjaraannya, Yusuf mempunyai iman dan keberanian untuk menerangkan arti mimpi-mimpi kedua temannya di dalam penjara, meskipun mimpi-mimpinya sendiri masih belum tergenapi (40:8-19). Sama halnya Abraham mendoakan Abimelekh untuk mempunyai keturunan, sedang janji Allah kepadanya untuk memiliki seorang putra masih belum terkabul (20:17-18). Demikian juga dengan kita dalam hidup gereja hari ini. Ada saudara saudari yang boleh kita sebut sebagai pemimpi-pemimpi kawakan. Mereka sudah sejak lama mempunyai mimpi-mimpi. Mereka pernah digairahkan oleh visi-visi yang mereka lihat dan berita-berita yang indah yang mereka dengar, namun mereka akhirnya dijual ke Mesir. Bukannya dikelilingi oleh berkas gandum, mereka malah menemukan diri mereka dikelilingi oleh “kalajengking-kalajengking Mesir”, dan bukannya berada di langit tingkat tiga, mereka malah di dalam penjara. Kemudian datang pula pendatang-pendatang baru yang menggabungkan diri di dalam penjara, sama seperti Yusuf yang digabungkan dengan juru minuman dan juru roti di dalam kurungannya. Boleh jadi Yusuf telah dipenjarakan 9 atau 10 tahun sebelum kedatangan mereka. Pendatang-pendatang baru ini juga mendapat mimpi. Mereka tidak dapat memahami arti mimpi mereka, tetapi Yusuf dapat menerangkan arti mimpi-mimpi itu. Mimpi-mimpi Yusuf sendiri masih belum terkabul, namun ia beriman dan mempunyai keberanian untuk menerangkan arti mimpi-mimpi teman-temannya itu. Jika saya ini Yusuf, saya akan menjawab, “Aku menerangkan arti mimpi-mimpiku sendiri, namun tafsiran-tafsiran ini sama sekali belum tergenapi. Mana mungkin aku berani menerangkan arti mimpi-mimpi orang lain? Sekalipun aku tahu arti mimpi-mimpi mereka, namun apa keyakinanku untuk memberi tahu mereka, sedangkan aku sendiri tidak tahu apakah tafsiran-tafsiranku akan tergenapi.” Namun, meskipun tafsiran-tafsiran Yusuf terhadap mimpi-mimpinya sendiri masih belum juga tergenapi, ia tetap memiliki keberanian berkata kepada teman-temannya, “Bukankah Allah yang menerangkan arti mimpi? Ceritakanlah kiranya mimpimu itu kepadaku” (Kej. 40:8). Seolah-olah Yusuf berkata, “Aku mempunyai dua mimpi, dan Allah telah menerangkan arti mimpi itu kepadaku. Aku tetap percaya akan tafsiran-tafsiran tersebut, meskipun keduanya masih belum digenapi. Aku mempunyai iman untuk mengartikan mimpi-mimpi kalian.” Beranikah Anda mengatakan bahwa hidup gereja alangkah menakjubkan, bahkan tatkala Anda dikelilingi oleh “kalajengking-kalajengking Mesir”? Sanggupkah Anda mengatakan ini tatkala mimpi Anda tentang hidup gereja masih belum menjadi kenyataan dan hidup gereja belum kelihatan indah? Keyakinan Yusuf bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk orang lain. Memang mudah untuk percaya bagi orang lain bila mimpi-mimpi Anda telah tergenapi. Jika mimpi-mimpi Anda telah tergenapi menurut tafsiran Anda, memang akan mudah untuk menerangkan arti mimpi-mimpi orang lain. Tetapi dalam kasus Yusuf, bahkan setelah melewati waktu kurang lebih 10 tahun, tafsiran terhadap mimpinya sendiri saja masih belum tergenapi. Sukarlah bagi seseorang yang dalam situasi seperti itu menerangkan arti mimpi-mimpi orang lain. Namun, Yusuf telah melakukan demikian.
Telah bertahun-tahun saya membawakan firman. Dalam tahun-tahun permulaan saya telah nampak visi-visi tertentu, dan saya pun telah menjelaskan apa yang telah saya lihat itu. Tetapi bertahun-tahun setelah itu, hal-hal yang telah saya lihat dan saya jelaskan itu tidak juga tergenapi. Ketika ada pendatang-pendatang baru yang memerlukan bantuan saya, saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat. Saya juga tidak tahu apakah saya harus berkata demikian, “Beberapa tahun yang lalu aku mempunyai beberapa mimpi, dan aku telah menerangkan mimpi-mimpi tersebut. Namun sampai sekarang, mimpiku belum juga tergenapi. Karena itu aku tidak mempunyai minat, keyakinan, atau keberanian untuk menerangkan arti mimpi-mimpi itu bagi Anda. Baiklah Anda pergi memberi tahu orang lain saja.” Yusuf tidak demikian. Meskipun mimpi-mimpinya sendiri masih belum tergenapi, ia tetap mempunyai keberanian dan keyakinan untuk mengartikan mimpi-mimpi orang lain. Saya dapat bersaksi bahwa saya telah berbuat hal yang sama. Saya mendorong orang-orang untuk berjalan menurut visi yang telah mereka lihat, sekalipun visi-visi saya masih belum juga tergenapi. Tindakan saya ini pasti benar. Semua pemimpi kawakan harus menderita sesuatu untuk kepentingan pendatang-pendatang baru.
Andrew Murray pernah mengucapkan perkataan ini: “Minister firman yang baik selalu mengatakan lebih banyak daripada apa yang telah ia alami.” Ini berarti kita harus lebih banyak berbicara menurut visi daripada menurut penggenapan visi itu. Sekalipun visi kita masih belum tergenapi, kita tetap harus membicarakannya kepada orang lain. Saatnya akan tiba dan visi kita pasti akan tergenapi. Mimpi-mimpi Yusuf akhirnya menjadi kenyataan melalui penjelasannya terhadap mimpi juru minuman.
III. YUSUF DIKUKUHKAN DAN DIKUATKAN MELALUI PENGGENAPAN MIMPI TEMAN-TEMANNYA SEPENJARA
Mimpi-mimpi juru minuman dan juru roti itu hanya menunggu beberapa hari saja sudah tergenapi. Ketika mimpimimpi teman-teman sepenjara Yusuf tergenapi, Yusuf dikukuhkan dan dikuatkan. Seandainya saya yang menjadi Yusuf, saya pasti akan berbesar hati dan berkata, “Sekalipun aku belum nampak penggenapan atas mimpi-mimpiku, namun aku telah memiliki keyakinan yang teguh bahwa penggenapan nya pasti akan tiba. Aku telah menerangkan arti mimpi-mimpi kedua orang ini, dan penjelasan mimpi-mimpi itu telah tergenapi. Hal ini akan terjadi pula atas mimpi-mimpi-ku. Penggenapan atas mimpi-mimpiku akan tiba juga.”
IV. YUSUF MENERIMA UJIAN
LEBIH LANJUT ATAS MIMPI-MIMPINYA
YANG TIDAK JUGA TERGENAPI
SETELAH SEJANGKA WAKTU LAGI
Mimpi teman-teman Yusuf tergenapi dalam beberapa hari saja. Tetapi Yusuf diuji lagi oleh adanya fakta atas mimpi-mimpinya yang belum juga tergenapi setelah sejangka waktu lagi (Kej. 40:14, 23). Kejadian 41:1 menunjukkan bahwa dua tahun telah berlalu. Dalam dua tahun ini, ujiannya palinglah berat. Sebelum juru minuman meninggalkan penjara, Yusuf pernah meminta kepadanya untuk mengingat dia, katanya, “Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini” (Kej. 40:14). Seolah-olah Yusuf berkata kepada juru minuman itu, “Bila engkau telah dipulihkan kepada jabatanmu, ingatlah akan aku. Jangan hanya mengingat dirimu sendiri. Bila keadaanmu telah baik dan segala sesuatunya berjalan dengan lancar, ingatlah akan aku.” Tetapi juru minuman itu melupakan Yusuf (Kej. 40:23). Mimpi-mimpi Yusuf telah diperkuat, namun tetap belum tergenapi.
Sebelum mimpi-mimpi Yusuf diperkuat, Yusuf telah beriman; setelah penguatan itu, ia menjadi lebih beriman. Semakin besar iman yang kita miliki, semakin besar pencobaan yang akan kita terima. Andai kata Anda adalah Yusuf yang mengalami penguatan itu, lalu apa yang akan Anda katakan? Boleh jadi Yusuf berkata, “Banyak tahun yang lalu aku mempunyai dua mimpi, tetapi mimpi-mimpi ini belum juga tergenapi. Kedua orang ini bermimpi, hanya berselang tiga hari sudah tergenapi. Berapa lama lagi mimpiku akan tergenapi?” Jadi, dua tahun yang terakhir benar-benar merupakan masa yang paling berat dari ujian yang diterima Yusuf.
Apa yang kita gambarkan dalam berita ini bukan hanya doktrin. Tatkala kita mengikuti visi surgawi, kita akan mengikuti jejak Yusuf. Jangan sekali-kali mengira bahwa begitu Yusuf nampak visi, ia segera naik takhta. Tidak, ia harus melewati masa pengujian yang panjang sekali. Visi yang dilihat Yusuf tidak hanya mengendalikan hidupnya, tetapi juga menopang imannya. Namun, ini bukan berarti jika iman Anda semakin besar, maka waktu penggenapan mimpi Anda akan diperpendek. Sebaliknya, semakin besar iman Anda, semakin panjang masa ujian Anda. Masa ujian Yusuf jauh lebih panjang daripada kedua temannya, dikarenakan ia lebih berharga daripada mereka. mereka tidak begitu berharga, maka waktu penggenapan mimpi mereka sangat pendek. Sebenarnya, kedua pendatang baru itu hampir-hampir tidak mengalami pengujian. Masing-masing mereka bermimpi, selang beberapa hari sudah tergenapi. Karena Yusuf itu penting dan berharga, maka masa ujiannya tidak dapat dipersingkat.
Orang muda, janganlah menganggap Anda akan menjadi orang hebat dalam dua tahun. Tidak, Anda harus seperti Yusuf, menunggu hingga Anda berusia 30 tahun. Alkitab itu selalu konsisten. Sebagai contoh, seorang imam harus sudah berusia 30 tahun sebelum dapat memasuki keimaman yang sepenuhnya. Tuhan Yesus sendiri juga memulai ministri-Nya ketika Ia berusia 30 tahun. Jadi, dalam hal ini Yusuf juga melambangkan Kristus. Setelah ia berumur 30 tahun, ia baru ditaruh sepenuhnya ke dalam ministrinya.
Di antara Anda boleh jadi ada yang berpikir bahwa perkataan tentang menunggu hingga umur 30 tahun baru ditaruh sepenuhnya ke dalam ministri adalah berlawanan dengan apa yang pernah saya katakan di tempat lain mengenai penatua gereja di Yerusalem yang mungkin berusia di bawah umur 30 tahun. Ya, memang saya pernah mengatakan bahwa Petrus, Yakobus, dan Yohanes mungkin berusia antara 25 sampai 28 tahunan saat mereka menjadi penatua. Namun, kita perlu memperhatikan prinsipnya, kita tidak boleh terpaku pada angka yang menyangkut umur fisik. Mungkin Anda mempunyai minat yang mutlak bagi Tuhan, dan Anda pun telah nampak beberapa visi. Tetapi janganlah beranggapan bahwa Anda akan segera dinaikkan ke atas takhta. Sebaliknya Anda harus siap diremehkan dan dipenjarakan. Saya bangga dengan saudara-saudara serta saudari-saudari muda. Banyak di antara mereka masih berumur belasan tahun. Mereka sangat mengasihi Tuhan dan telah melihat hal-hal yang belum pernah dilihat oleh kebanyakan pendeta. Namun, orang-orang muda ini harus siap untuk tidak dihormati, melainkan dijual.
Inilah pengalaman Saudara Watchman Nee. Saudara Watchman Nee adalah orang yang sangat pandai. Bahasa Inggris dan bahasa Mandarinnya sangat baik, sehingga orang tuanya mencarikan seorang guru privat untuk mengajari-nya bahasa Mandarin klasik. Pada usia 17 tahun, ia beroleh selamat dan mulai mengasihi Tuhan. Saudara Watchman Nee mengikuti Sekolah Alkitab di Shanghai yang didirikan dengan maksud melatih kaum muda oleh Saudari Dora Yu, penginjil besar yang telah membawa Saudara Watchman Nee kepada Tuhan. Ibunya, yang juga mengasihi Tuhan, menyetujui kepergiannya ke sana. Baik Saudara Watchman Nee maupun ibunya beroleh selamat melalui penginjilan Dora Yu; mereka sangat menghargai dia. Walaupun Saudara Watchman Nee adalah seorang pemuda yang pandai, (yang akhirnya merupakan karunia yang luar biasa terhadap gereja zaman ini), namun ia ditolak oleh Dora Yu, dan setelah beberapa saat, ia dipulangkan ke rumahnya. Saudara Watchman Nee yang sangat menuntut akan Tuhan, dijual oleh orang yang justru membawanya kepada Tuhan. Sebagai ganti menghar-gai kepandaiannya, Dora Yu menilainya rendah, menyalah-pahaminya, serta menolak dia. Alasan ia dipulangkan berkaitan dengan tugas yang diserahkan kepadanya. Ia disuruh mengirim beberapa surat dari pinggiran kota ke kantor pos yang ada di tengah kota Shanghai. Lama waktunya dianggap melebihi waktu yang diperkirakan oleh Dora Yu. Ia dicurigai telah menggunakan waktu tersebut untuk mencari hiburan, lalu Dora Yu mengirimnya kembali ke ibunya. Demikianlah Saudara Watchman Nee ditolak, disalahpahami, yaitu dijual. Namun Saudara Watchman Nee tidak putus asa. Ia meninggalkan Shanghai, pulang ke rumah, dan terus mengasihi Tuhan, bahkan melebihi yang sudah-sudah. Ia tahu bahwa pengalaman ini adalah penanggulangan Tuhan terhadap dirinya. Sekali demi sekali Saudara Watchman Nee dijual.
Orang muda, bersiaplah untuk ini. Begitu Anda mulai mencari Tuhan, hal-hal tertentu yang kelihatannya tanpa alasan akan menimpa Anda. Jangan berpikir bahwa karena Anda mengasihi Tuhan dan mencari Dia, maka segala sesuatu akan mulia untuk Anda. Tidak, kadang-kadang Anda akan disalahpahami, bahkan oleh saudara saudari dan para penatua. Pertama-tama Anda akan dijual, kemudian Anda akan dikurung sejangka waktu. Kita semua perlu pengurungan sedemikian. Namun, Anda harus percaya bahwa apa pun yang terjadi pada Anda, hadirat Allah akan menyertai Anda.
Di mana pun Anda berada, Anda akan membawakan hayat atau maut. Terhadap juru minuman, Yusuf membawakan hayat. Dalam mimpi juru minuman tertampak anggur yang penuh hayat. Tetapi terhadap juru roti, Yusuf membawakan maut karena juru roti dimakan oleh burung-burung. Menjadi Yusuf bukanlah perkara yang tidak bermakna; sebab ke mana pun Anda pergi, orang akan menerima hayat atau menerima maut. Mereka akan pergi kepada Kristus yang dilambangkan oleh anggur yang penuh hayat, atau mereka akan ditelan oleh Iblis, yang diwakili oleh burung-burung di udara. Dalam 2 Korintus 2:14, Rasul Paulus berkata, “Tetapi syukur bagi Allah yang dalam Kristus selalu memimpin kami di jalan kemenangan-Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana.” Dalam ayat 16 Paulus berkata, “Bagi yang terakhir kami adalah bau kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan yang menghidupkan. Tetapi siapakah yang sanggup menunaikan tugas yang demikian?” Terhadap juru minuman, Yusuf membawakan pemulihan jabatan. Terhadap juru roti, Yusuf membawakan hukuman mati. Siapa pun yang berkontak dengan Anda, baginya Anda akan menjadi hayat, atau menjadi maut. Ini adalah perkara yang sangat bermakna. Ini adalah pengalaman Yusuf.
Kelihatannya Yusuf dipenjara, dia menderita. Namun, sebenarnya dia tidak menderita; dia belajar pelajaran yang berharga dan mengalami apa yang penting untuk bertakhta-nya dia. Tanpa pelajaran-pelajaran selama di penjara, bagaimana Yusuf, seorang muda, dapat bertakhta di Mesir untuk memerintah seluruh negeri? Itu tidak mungkin. Yusuf dilatih oleh pemenjaraannya. Pemenjaraannya benar-benar adalah semacam pelatihan baginya. Orang muda, setiap penjara yang bisa Anda jalani akan menjadi satu penggenapan, satu pelatihan, dan waktu belajar akan menjadi satu persiapan untuk bertakhtanya Anda. Supaya sampai kepada takhta, Anda perlu menjalani penderitaan-penderitaan dijual dan dipenjarakan. Tidak seorang pun dapat melewatkan penderitaan-penderitaan ini. Tidak ada ministri yang dipakai Tuhan yang tidak melewati dijual dan dipenjarakan. Hanya melalui dijual dan dipenjarakan, baru kita bersyarat untuk naik takhta. Setelah Anda dilatih melalui penjara, Anda tidak lagi sebagai seorang anak kecil; sebaliknya, Anda akan menjadi seorang yang bersyarat di bawah pelatihan Allah.
Jangan berpikir bahwa Yusuf adalah kasus luar biasa. Tidak, kasus Yusuf adalah normal. Anda dan saya semua nya akan seperti dia. Haleluya untuk visi ini! Haleluya untuk penjualan, pemenjaraan, dan untuk semua pelajaran! Puji Tuhan, kita memiliki jalan untuk maju ke depan!