← Daftar isi Kejadian (8) · bab 7/16

KEHIDUPAN YUSUF SESUAI DENGAN VISINYA

Kitab Kejadian, di mana hampir semua kebenaran dalam Alkitab ditaburkan sebagai benih, boleh juga dianggap sebagai biografi dari delapan orang tokoh: Adam, Habel, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf. Kedelapan orang ini diatur menjadi dua kelompok, masing-masing terdiri dari empat orang. Adam, Habel, Henokh, dan Nuh membentuk kelompok yang pertama; sedangkan Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf membentuk kelompok yang kedua. Kelompok pertama mewakili ras tercipta, ras Adam; sedangkan kelompok kedua mewakili ras terpanggil, ras Abraham. Karena kegagalan ras tercipta, maka Allah mengadakan permulaan yang baru pada ras terpanggil. Ras tercipta dimulai dengan Adam dan diakhiri dengan Nuh. Baik awal maupun akhirnya, ras tercipta adalah ras yang gagal. Adam, kepala serta wakil ras tercipta Allah telah jatuh. Pada Habel kita telah kembali kepada Allah. Dalam Adam, manusia telah meninggalkan Allah; tetapi melalui penebusan Allah, Habel kembali kepada-Nya. Henokh yang datang setelah Habel, bukan hanya kembali kepada Allah, tetapi juga bergaul (berjalan) dengan Allah. Hasil dari kehidupannya yang demikian, dia merupakan lambang pengangkatan. Henokh telah diangkat kepada Allah, terhindar dari kematian. Kehidupan Henokh mendatangkan Nuh, yang juga berjalan bersama Allah, dan mempunyai pengalaman memerintah, meski pemerintahannya tidak penuh atau sempurna. Namun, pemerintahan Nuh berakhir pada kejatuhan. Keturunan-keturunan Nuh memberontak melawan Allah di Babel, dan pemberontakan itu menyebabkan Allah meninggalkan ras tercipta. Hal ini memaksa Allah mengadakan permulaan yang baru, yakni mengunjungi Abraham serta memanggilnya keluar dari ras tercipta yang memberontak. Inilah tanda permulaan dari suatu ras baru, ras terpanggil, ras Abraham.

Dengan ras terpanggil ini Allah benar-benar mencapai kesuksesan yang besar. Dimulai dari Abraham, melewati Ishak dan Yakub, jalan yang ditempuh menanjak makin lama makin tinggi. Akhirnya kita nampak suatu pemerintah yang sempurna di dalam Yakub. Seperti yang telah kita tunjukkan, Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf tidak seharusnya di pandang sebagai individu-individu yang terpisah. Mereka justru mewakili empat aspek dari orang kudus yang sempurna dan matang. Atas diri mereka terlihat pemilihan Allah, panggilan Allah, dan dibenarkan oleh iman. Kita nampak bagaimana orang kudus yang dipanggil dan dibenarkan bisa hidup di hadirat Allah oleh iman, sambil menikmati segala kelimpahan warisan. Orang semacam ini masih saja bergumul untuk memperoleh hak kesulungan. Akan tetapi semua pergumulannya tidak lain hanya menyebabkan dia menderita. Dalam penderitaannya itu tangan Allah menimpa di rinya, dan ia ditanggulangi oleh Allah hingga ia menjadi matang. Haleluya, atas ras yang terpanggil kita nampak hayat yang matang! Hayat yang matang ini mempunyai aspek memerintah, aspek yang digambarkan melalui hidup Yusuf. Inilah sebabnya dalam Kitab Kejadian, Yusuf begitu unggul dan menakjubkan.

Ketika saya masih kecil, ibu saya sering mengisahkan cerita-cerita Alkitab kepada kami. Ia telah menghabiskan banyak waktu untuk bercerita tentang Yusuf. Oh, saya benar-benar bersimpati kepada orang yang unggul ini, ketika mendengar dia dibuang ke dalam sumur dan dijual sebagai budak! Walaupun saya menyukai Yusuf dan menyadari bahwa ia memang istimewa, tetapi saya tidak tahu mengapa ia begitu unggul. Saya hanya tahu bahwa Yusuf sangat baik, dan saya ingin seperti dia. Bahkan setelah saya bertahun-tahun menyampaikan firman, saya masih belum mengetahui keunggulan Yusuf. Akan tetapi sekarang saya dapat dengan berani memberi tahu Anda sebab musabab keunggulan Yusuf: karena dia adalah aspek memerintah dari hayat yang matang. Dia adalah aspek memerintah dari Israel yang matang, bukan aspek Yakub. Karena itu, Yusuf adalah bagian terpenting dari hayat yang matang.

Tentu, apa yang kita lihat pada diri Yusuf hanya merupakan bayang-bayang. Dalam realitas dan hakikatnya, aspek memerintah yang dilambangkan oleh Yusuf adalah Kristus yang tersusun dalam diri kita. Kita semua adalah Yakub-Yakub, tetapi kita mempunyai susunan Kristus di dalam kita. Pada hari kita dilahirkan kembali, Kristus telah tersusun ke dalam kita. Akhirnya Kristus ini menjadi susunan kita. Bagian kita yang tersusun oleh Kristus itu bukanlah daging kita atau pikiran kita, melainkan roh kita. Dua Timotius 4:22 mengatakan bahwa Kristus menyertai roh kita. Aspek Kristus tersusun ke dalam bagian kita yang dilahirkan kembali telah diwakili, digambarkan, dan dilambangkan sepenuhnya oleh Yusuf. Karena Yusuf mewakili aspek memerintah dari hayat yang menang dan matang, maka riwayat hidupnya dicatat dalam Alkitab dengan cara yang demikian unggul.

I. HIDUP SEBAGAI BERKAS HAYAT

Tiga pasal pertama yang menyangkut hal memerintah dari hayat yang matang adalah pasal-pasal 37, 38, dan 39. Ketika masih sebagai seorang anak, saya tidak menyukai pasal-pasal ini, karena pasal-pasal ini penuh dengan kebencian, siasat jahat, dan pengkhianatan. Pasal 38 merupakan pasal yang mencatat perbuatan sumbang Yehuda, dan dalam pasal 39 kita nampak kegelapan dan pengumbaran hawa nafsu. Apakah Anda menyukai pasal-pasal ini? Setelah saya beroleh selamat dan mulai menyukai Alkitab, saya tidak banyak meluangkan waktu atas pasal-pasal ini. Setelah saya hafal dengan cerita-cerita yang terdapat di dalamnya, saya lalu malas membaca pasal-pasal itu lagi. Tahun 1955, ketika saya membimbing pengkajian mengenai Kitab Kejadian, pasal-pasal tersebut sengaja saya lompati. Tetapi selama 23 tahun sejak pengkajian itu, saya sudah menerima lebih banyak terang. Sesudah saya datang ke Amerika Serikat, saya nampak nilai dan kemustikaan mimpi Yusuf, yang merupakan titik pandang pengendali dari pasal-pasal ini. Jika Anda tidak nampak visi yang ada dalam mimpi Yusuf, Anda hanya dapat mengetahui cerita-cerita yang terkandung dalam beberapa pasal ini, Anda tidak akan sanggup mengetahui lebih banyak. Anda tidak akan bisa mengetahui makna cerita ini sampai pada kedalamannya. Mimpi Yusuf telah mengontrol dan membimbing Yusuf dalam seumur hidupnya. Perilaku Yusuf yang demikian unggul sebagai aspek memerintah dari hayat yang matang berada di bawah bimbingan visi pengendali ini.

Kejadian 37 diawali dengan memberi tahu kita bagaimana Yakub mengasihi Yusuf, putra kesayangannya, dan bagaimana Yusuf melaporkan kejahatan saudara-saudaranya kepada ayahnya. Kemudian kita diberi tahu perihal mimpi Yusuf (37:5-10). Dalam hari-hari ini, Tuhan telah menunjukkan kepada kita bahwa mimpi-mimpi Yusuf mewahyukan situasi yang sebenarnya dari umat Allah dalam pandangan-Nya. Umat Allah semuanya adalah berkas-berkas hayat. Masing-masing berkas adalah ikatan gandum yang penuh dengan hayat dan suplai hayat. Berkas-berkas itu mengandung butir-butir hayat yang berguna untuk suplai hayat. Jangan berkata, “Aku tidak menyukai bani Israel, karena mereka begitu jahat.” Ingatlah kasus Bileam, nabi orang bukan Yahudi itu yang menerima suap untuk mengutuk orang Israel. Pada saat itu, orang Israel menurut faktanya memang jahat. Akan tetapi, di bawah pengendalian Allah, Bileam berkata bahwa Allah tidak menemukan kepincangan (kesalahan) di antara keturunan Yakub maupun kesalahan (kejahatan) di antara keturunan Israel (Bil. 23:21). Malah sebaliknya, dalam pandangan Allah, seluruh umat pilihan-Nya merupakan berkas-berkas hayat, penuh dengan suplai hayat. Tidak hanya demikian, umat Allah juga seperti bintang-bintang yang bersinar di langit.

Setelah memberi tahu kita perihal kedua mimpi ini, catatan Kitab Kejadian menyingkapkan bahwa saudara-saudara Yusuf berencana untuk membunuhnya tetapi kemudian menjualnya sebagai budak ke Tanah Mesir. Dalam pasal 38 kita nampak dosa perbuatan sumbang Yehuda, dan dalam pasal 39 pencobaan yang paling gelap serta perlakuan yang paling tidak adil terhadap diri Yusuf. Menurut urutan peristiwa-peristiwa yang berangkaian dalam pasal-pasal ini, kita menemukan bahwa perilaku Yusuf yang sangat unggul itu adalah di bawah kendali mimpinya. Dalam mimpinya yang pertama, ia melihat bahwa dirinya adalah salah satu dari berkas gandum itu; bukan berkas yang menyembah, melainkan berkas yang berdiri tegak. Saya yakin bahwa sejak mimpi itu, Yusuf menyadari di mana Allah menempatkan dia dan Allah menghendakinya sebagai apa. Tidak diragukan lagi, ia sudah paham bahwa Allah menghendakinya menjadi berkas itu. Dia bukan akan menjadi kayu terapung yang penuh kematian, melainkan akan menjadi berkas yang tegak dan penuh dengan hayat. Kalau Anda yang mempunyai mimpi semacam ini, bukankah Anda akan terpengaruh oleh-nya, sekalipun tidak terkendali olehnya? Tidakkah mimpi ini akan mengendalikan tingkah laku Anda serta menga-rahkan perbuatan Anda? Itu sudah jelas. Saya yakin bahwa mimpi Yusuf tentang berkas ini telah mengarahkan tingkah lakunya.

Demikian juga dengan mimpi yang kedua, tentang matahari, bulan, dan dua belas bintang. Seandainya Anda yang mempunyai mimpi di mana Anda selaku bintang yang disembah oleh bintang-bintang lainnya, bukankah Anda akan memandang tinggi diri Anda? Tidakkah Anda akan berkata, “Astaga, aku adalah bintang! Bukan kalajengking atau sesuatu yang rendah dan gelap. Aku ini bintang yang terang yang menyoroti langit.” Jika Anda menjadi orang yang nampak visi seperti ini, tidakkah hal ini akan mengendalikan Anda? Jika tidak mengendalikan sisa hidup Anda, paling tidak visi ini akan menguasai Anda ejangka waktu. Perilaku Anda akan mulai seperti bintang yang terang, dan Anda akan berkata, “Kemarin malam aku telah melihat bahwa aku adalah bintang yang disembah oleh bintang-bintang yang lain. Mulai sekarang, aku harus bertindak seperti bintang yang terang itu. Dulu aku gelap, tetapi sekarang aku tidak boleh lagi seperti itu, sebagai gantinya, aku harus terang dan bercahaya.”

Yusuf berperilaku demikian unggul dan mengagumkan dikarenakan ia dipimpin oleh visi yang dilihatnya dalam mimpinya. Anak-anak terpengaruh oleh apa yang mereka tonton pada layar televisi. Saya melihat cucu-cucu saya sendiri memperagakan lagak ragam dari acara-acara tertentu yang pernah mereka tonton. Jika anak-anak kecil pun terpengaruh oleh apa yang ditontonnya, bukankah seorang pemuda seperti Yusuf akan lebih-lebih terpengaruh oleh visi surgawi! Visi yang menyatakan ia sebagai berkas yang berdiri tegak, yang penuh dengan hayat dan juga sebagai bintang yang disembah oleh bintang-bintang yang lain! Tidakkah Anda percaya bahwa Yusuf terpengaruh dan terkesan oleh visi ini? Saya benar-benar yakin bahwa demikianlah halnya. Butir yang saya tekankan ialah perilaku Yusuf yang unggul dan mengagumkan itu disebabkan oleh visi yang diterimanya. Visi dari kedua mimpinya itu telah mengendalikan kehidupannya dan mengarahkan tingkah lakunya. Ia bertindak sebagai berkas yang berdiri tegak dan penuh hayat, ia pun memperlakukan dirinya sebagai bintang surgawi yang menyoroti kegelapan. Dengan memiliki sudut pandang ini, Anda bisa memahami makna dari ketiga pasal ini.

A. SAUDARA-SAUDARANYA

MELAMPIASKAN AMARAH MEREKA

Pasal-pasal ini mencantumkan dua dosa yang besar. Dalam pasal 37 terdapat dosa amarah (37:18-28). Saudara-saudara Yusuf menunggangi kesempatan untuk menuangkan seluruh amarah mereka. Ini bukan merupakan kasus amarah yang tak bermakna. Salah satu saudara Yusuf bukan merencanakan pembunuhan terhadap seorang pencuri, melainkan terhadap saudara kandungnya sendiri, putra kesayangan ayah mereka. Jika mereka betul-betul mempunyai kasih sayang insani, mereka tidak akan pernah berpikir untuk melakukan hal semacam itu. Tetapi, Ruben masih memikirkan betapa hal itu akan melukai hati ayah mereka; Yehuda juga mengusulkan agar tidak membunuhnya, melainkan menjualnya saja, hal ini jauh lebih baik daripada menumpahkan darahnya. Namun, bagaimanapun, dalam pasal 37 kita telah melihat amarah saudara-saudara Yusuf. Pada pasal berikutnya, yaitu pasal 38, kita nampak pengumbaran hawa nafsu Yehuda, bahkan perzinaan antar sesama anggota keluarga (38:15-18). Akibat kejatuhan manusia, mula-mula terjadilah pembunuhan terhadap saudara kandung. Dan dosa yang mendatangkan air bah sebagai hukuman Allah atas bangsa yang telah jatuh adalah pengumbaran hawa nafsu. Kedua dosa ini, membunuh saudara kandung dan pengumbaran hawa nafsu, kembali diulangi di sini.

B. YUSUF TERLEPAS DARI AMARAH,

TETAP HIDUP DI DALAM SITUASI MAUT

Amarah saudara-saudaranya memberi kesempatan kepada Yusuf untuk hidup sebagai berkas hayat. Sementara saudara-saudaranya tergenang dalam air kemarahan, Yusuf, aspek memerintah dari hayat yang matang ini, hidup sebagai berkas hayat, keluar dari air kematian amarah manusia. Di bawah inspirasi Allah, catatan ini memakai amarah dari kejatuhan sebagai latar belakang, untuk memperlihatkan berapa banyak hayat yang ada dalam berkas ini. Berkas ini dipenuhi dengan hayat. Ketika yang lainnya tenggelam dalam air kematian amarah manusia, berkas ini muncul keluar, dan tetap hidup di dalam situasi maut itu.

Bukankah ini pun merupakan catatan dari kehidupan kita? Hari demi hari kita dikelilingi oleh air kematian dari amarah manusia. Namun kita bukannya tenggelam, melainkan keluar dari air kematian dan tetap hidup. Kalau ini merupakan gambaran dari kehidupan sehari-hari Anda, maka Anda merupakan aspek memerintah dari hayat yang menang. Meskipun secara manusiawi, kita ini mudah marah-marah, namun kita memiliki susunan Kristus yang menembus keluar dari situasi amarah. Kita adalah Yusuf-Yusuf hari ini, berkas-berkas hayat yang mendongak dan berdiri tegak.

II. HIDUP SEBAGAI BINTANG YANG BERSINAR

A. SAUDARANYA, YEHUDA, MENGUMBAR HAWA NAFSUNYA

Dosa besar yang kedua, pengumbaran hawa nafsu, juga

memberi kesempatan bagi Yusuf. Pengumbaran hawa nafsu yang terlihat dalam pasal 38 merupakan simbol kegelapan. Dalam pasal ini Yehuda sama sekali dalam kegelapan. Yehuda bertindak secara membuta, dan kebutaan menunjukkan kegelapan. Jika ia tidak di dalam kebutaan, di dalam kegelapan, mana mungkin ia berzina dengan menantunya sendiri? Di mana hati nuraninya? Di mana penglihatannya? Matanya telah digelapkan dan dibutakan, sehingga ia tinggal di dalam kegelapan. Perempuan yang jahat dalam pasal 39 itu, yakni istri Potifar, juga berada di dalam kegelapan. Kalau ia tidak di dalam kegelapan mana mungkin ia berkelakuan sejahat itu? Jadi, dalam pasal 38 dan 39 kita mempunyai gambar mengenai kegelapan.

B. YUSUF MENGALAHKAN HAWA NAFSU, BERSINAR DI DALAM KEGELAPAN

Di tengah-tengah kegelapan ini, kita nampak bahwa Yusuf adalah bintang terang yang bersinar di langit (39:7-12). Memperlakukan dirinya sebagai bintang yang terang, Yusuf seolah-olah berkata, “Kalian semua adalah orang-orang di bawah kegelapan, tetapi aku menyinari kalian. Bagaimana mungkin aku sebagai bintang yang terang dapat melakukan perkara segelap itu? Aku tidak bisa melupakan mimpiku. Mimpiku mengendalikan dan mengarahkan aku. Sebagai bintang surgawi, aku tidak akan pernah menjual kedudukanku.” Jika Anda mempunyai terang ini dalam membaca pasal ini, Anda akan nampak bahwa Yusuf adalah orang yang menempuh hidup sesuai dengan visinya. Yusuf bukan sekadar seorang pemimpi; ia bahkan mempraktekkan, memperhidupkan apa yang telah dilihatnya dalam mimpinya.

Sebagai Yusuf-Yusuf hari ini, kita juga harus mempunyai mimpi-mimpi. Orang lain akan menjuluki kita tukang mimpi. Banyak di antara teman-teman Kristen saya menganggap saya seorang pemimpi. Dalam membicarakan kehidupan yang menang dan pelaksanaan hidup gereja, mereka berkata kepada saya, “Saudara Lee, pemikiran-pemikiran ini memang menakjubkan, tetapi semuanya ini hanyalah mimpi. Tidak seorang pun sanggup menempuh kehidupan yang menang di bumi, tidak mungkin pula orang melaksanakan hidup gereja. Kita harus menunggu hari itu. Jangan bermimpi lebih lama lagi. Bangunlah dari segala mimpi.” Namun, saya bukan sekadar bermimpi — saya pun melaksanakan apa yang saya lihat dalam mimpi-mimpi saya itu. Boleh saja kalian memandang saya sebagai tukang mimpi, tetapi saya menaruh sepenuhnya mimpi-mimpi saya itu ke dalam pelaksanaan. Saya berani bersaksi, sangatlah mungkin orang menempuh kehidupan yang menang dan melaksanakan hidup gereja. Ini bukan sekadar mimpi saya; ini adalah pelaksanaan dan pengalaman saya. Sama seperti Yusuf, saya telah mempunyai mimpi-mimpi. Mimpi tentang berkas gandum dan bintang-bintang yang bersinar. Dengan belas kasihan Tuhan, saya menempuh hidup sesuai dengan mimpi-mimpi saya. Saya berperilaku sesuai dengan visi yang telah saya lihat. Meskipun beberapa orang berkata, “Itu hanya impian belaka, mustahil tercapai”, akan tetapi saya harus mendeklarasikan bahwa semua ini adalah wahyu-wahyu surgawi akan fakta-fakta. Tidakkah kalian percaya bahwa penempuhan hidup yang menang itu benar-benar mungkin tercapai? Dan tidakkah kalian percaya bahwa pelaksanaan hidup gereja sudah dilaksanakan hari ini? Kita bukan hanya mengkhayal di dalam kesia-siaan. Kita mempunyai visi yang mengendalikan kita.

Kita semua tahu apa marah-marah itu. Saya pun tak terkecuali. Namun, ketika saya hampir marah-marah, visi akan berkas itu datang dan Tuhan bertanya kepada saya, “Apakah kamu ini berkas yang berdiri tegak? Jika ya, bagaimana dengan amarahmu?” Begitu Tuhan berbicara demikian kepada saya, dan saya menanggapi-Nya, amarah saya pun sirna. Kalaupun saya ingin marah-marah, juga tidak sanggup lagi. Kita semua bisa saja hidup tanpa kegeraman dan kemarahan. Ketika Anda hampir marah-marah, Tuhan mungkin berkata, “Apakah kamu berkas gandum? Apakah kamu adalah orang yang di dalam gereja, di dalam pemulihan Tuhan?” Begitu Anda menjawab bahwa Anda adalah berkas gandum, amarah Anda segera lenyap.

Kita pun mempunyai hawa nafsu, sebagaimana kita mempunyai amarah. Jika Anda tidak mempunyai hawa nafsu, tentu Anda ini sebuah bangku atau sebuah batu. Setiap manusia mempunyai hawa nafsu. Cara untuk mengendalikan hawa nafsu kita adalah ditaklukkan, dikendalikan, dan diarahkan oleh visi. Kita mempunyai visi yang mengendalikan kita. Tanpa visi, orang-orang akan liar. Karena kita telah nampak visi, maka sulitlah bagi kita untuk mengumbar hawa nafsu.

Visi mempunyai fungsi yang serupa dengan rem pada mobil. Di saat-saat bahaya, kita menginjak rem itu. Visi akan bintang surgawi merupakan rem yang kuat dan ampuh bagi mobil rohani kita. Kita bukan mengendarai mobil yang tanpa kendali. Ketika kita mengendarai dengan tepat dan pada jalurnya, kita tidak perlu menggunakan rem. Tetapi jika mobil mulai keluar dari kendali, segera diperlukan remnya. Haleluya atas visi pengendali yang demikian! Banyak di antara kita bisa bersaksi bahwa sebelum kita masuk ke dalam hidup gereja, kita seperti mobil tanpa rem. Setelah menempuh hidup gereja, kita lalu nampak visi pengendali ini, dan rem yang kuat telah dipasang pada mobil kita. Dalam hidup gereja inilah kita mendapatkan visi berkas gandum dan visi bintang.

III. MENEMPUH KEHIDUPAN KERAJAAN

Kehidupan Yusuf di bawah visi surgawi merupakan kehidupan kerajaan surgawi yang digambarkan dalam Matius 5, 6, dan 7. Menurut konstitusi (undang-undang dasar) kerajaan surgawi yang diungkapkan pada pasal-pasal dalam Injil Matius ini, amarah kita harus dikalahkan dan hawa nafsu kita harus ditaklukkan (Mat. 5:21-32). Jika kita menyebut diri kita sebagai umat kerajaan, namun tidak dapat mengalahkan amarah kita, atau menaklukkan hawa nafsu kita, maka habislah kita ini. Kita bukan di dalam kerajaan, melainkan di tepi laut. Kita adalah orang-orang yang melampiaskan amarah dan mengumbar hawa nafsu. Tetapi seluruh umat kerajaan mengalahkan amarah mereka dan menaklukkan hawa nafsu mereka. Inilah kehidupan kerajaan.

Dalam kehidupan kerajaan hari ini, pangeran-pangeran sedang dilatih. Kita, umat kerajaan yang di dalam kehidupan kerajaan, sedang menerima pelatihan untuk menjadi raja-raja, menjadi Yusuf-Yusuf, menjadi aspek memerintah dari hayat yang matang. Untuk ini kita harus mengalahkan amarah kita dan menaklukkan hawa nafsu kita. Sungguh ajaib, riwayat hidup Yusuf menggambarkan pengalaman kita hari ini. Hari demi hari kita mengalahkan amarah kita dan menaklukkan hawa nafsu kita. Kita tidak sependapat dengan amarah kita, juga tidak bekerja sama dengan hawa nafsu kita, melainkan menolak amarah kita dan mempersalahkan hawa nafsu kita, sebab kita merupakan aspek memerintah dari hayat yang matang. Kita memiliki susunan Kristus di dalam kita, dan kita dipersiapkan untuk memerintah sebagai raja-raja.

IV. MENIKMATI PENYERTAAN TUHAN

Kehidupan seperti yang dimiliki Yusuf ini, senantiasa memiliki penyertaan Tuhan (39:2-5, 21-23). Di mana ada penyertaan Tuhan, di sana ada kekuasaan. Jika Anda memiliki penyertaan Tuhan, niscayalah kekuasaan Tuhan akan menyertai Anda. Sebagai contoh, pada masa penawanan, Daniel memiliki penyertaan Tuhan, karena itu kekuasaan Tuhan menyertainya. Bahkan seorang anak dalam suatu keluarga bisa juga memiliki penyertaan Tuhan, sehingga menjadi kekuasaan yang sesungguhnya dalam keluarga itu. Dalam kasus Yusuf, Potifar, seorang pejabat istana Firaun, yang mengatur segala urusan, akhirnya berada di bawah pengaturan Yusuf, karena Yusuf memiliki penyertaan Tuhan. Perhatikan pula pengalaman Yusuf selama di dalam penjara. Sekalipun sudah ada sipir pengatur penjara di sana, namun akhirnya pengatur penjara ini bukan lagi pengatur yang sesungguhnya, melainkan sebagai gantinya, Yusuf, seorang tahanan yang memiliki penyertaan Tuhan yang menjadi pengaturnya. Baik di dalam rumah Potifar maupun di dalam penjara, Yusuf yang menjadi kepala.

Di mana ada penyusunan Kristus serta penyertaan Allah, di sanalah ada bagian memerintah. Dalam kerajaan yang akan datang, bagian inilah yang akan membuat kita meraja bersama-sama Kristus di dalam kerajaan surgawi. Jadi aspek memerintah dari hayat yang matang adalah kehidupan yang selalu menikmati penyertaan Tuhan. Kekuasaan dalam alam semesta ini tidak lain adalah diri Tuhan sendiri. Di mana ada penyertaan-Nya, di sana ada kekuasaan, yakni kekuasaan memerintah. Asalkan kita mempunyai penyertaan Tuhan, tentulah kita mempunyai kekuasaan, bahkan sekalipun kita di dalam penjara. Meskipun mungkin kita adalah tawanan, tetapi akhirnya kita akan menjadi penguasa. Kita akan memerintah di mana pun kita berada. Ini menunjukkan bahwa kita adalah aspek memerintah dari hayat yang matang.

A. BERHASIL BERSANDARKAN TUHAN

Dalam penyertaan Tuhan, Yusuf selalu berhasil bersandarkan Tuhan (39:2-3, 23). Di mana ada penyertaan Tuhan, di sana tidak hanya ada kekuasaan Tuhan, juga ada keberhasilan yang didatangkan oleh kedaulatan Tuhan. Ketika Yusuf mengalami aniaya, ia menikmati keberhasilan yang dilimpahkan kepadanya oleh kedaulatan Tuhan.

B. DIKARUNIAI BERKAT ALLAH

Dalam penyertaan Tuhan, Yusuf dikaruniai berkat Tuhan di mana pun ia berada. Berkat Tuhan senantiasa beriringan dengan keberhasilan di bawah kedaulatan-Nya. Ketika Yusuf menikmati keberhasilan, ia dan orang-orang yang berhubungan dengannya pun diberkati (39:4-5, 22-23).