DIMATANGKAN ASPEK MEMERINTAH DARI ISRAEL YANG MATANG (1)
Kitab Kejadian sungguh ajaib. Semakin kita menelitinya, semakin kita memahami bahwa kitab ini bukanlah yang dapat ditulis oleh manusia. Secara permukaan, kelihatannya Kitab Kejadian hanyalah sebuah buku cerita. Namun bila dengan pimpinan Roh Kudus kita menyelam ke dalam, kita akan menemukan bahwa di dalamnya terkandung perkara-perkara ajaib yang berhubungan dengan pengalaman hayat kita. Jika hanya membaca kata-kata di luar saja, kita tidak dapat mengerti mengapa perkara dalam pasal 38 ditaruh setelah pasal 37. Sesudah kita menemukan makna rohani dari pasal-pasal ini, barulah kita dapat memahami makna yang mendalam atas urutan ini.
Berdasarkan catatan Kitab Kejadian dan pengalaman rohani kita, kita tidak seharusnya memandang Yusuf sebagai orang yang terpisah dengan Yakub, melainkan merupakan salah satu aspek riwayat hidup Yakub. Dalam pelajaran-hayat ini, kali pertama kita melihat Abraham, telah kita tegaskan bahwa dalam pengalaman rohani, Abraham, Ishak, dan Yakub bukanlah tiga orang yang terpisah. Mereka mewakili tiga aspek dari pengalaman orang saleh. Abraham, Ishak, dan Yakub mewakili tiga aspek dari orang rohani. Biografi mereka melukiskan berbagai aspek dari hayat yang sempurna dari satu orang saleh. Abraham, Ishak, dan Yakub adalah tiga aspek dari seseorang, seperti Bapa, Putra, dan Roh merupakan tiga aspek dari keAllahan. Dalam catatan Kitab Kejadian, Allah mewahyukan bahwa Ia sendiri adalah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Namun Allah Abraham, Ishak, dan Yakub bukan tiga Allah yang terpisah, Ia adalah Allah Tritunggal. Demikian pula, dikatakan dari makna rohaninya. Abraham, Ishak, dan Yakub bukan tiga orang yang terpisah, melainkan tiga aspek atas seseorang yang lengkap. Jadi, tidak hanya ada Allah Tritunggal, juga ada manusia lengkap yang beraspek tiga.
Sungguh sulit menentukan Abraham yang lebih dulu atau Yakub. Menurut catatan sejarah, Abraham itu kakek, Yakub itu cucu. Tetapi menurut pengalaman rohani, Yakub seharusnya yang duluan. Sebelum Yakub dilahirkan, ia te-lah dipilih (Rm. 9:11-13). Ini menunjukkan bahwa seorang saleh yang lengkap adalah seperti Yakub, yakni dipilih sebelum dilahirkan. Surat Efesus mewahyukan pemilihan ini terjadi sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:4). Jadi, seorang yang lengkap terpilihnya seperti Yakub, juga terjatuh sama seperti Yakub. Kemudian orang yang terpilih dan jatuh ini terpanggil seperti Abraham. Pada diri Abraham, selain terpanggil, ia juga dibenarkan, lalu hidup berdasarkan iman. Selanjutnya ia mewarisi dan menikmati segala kelimpahan Kristus sama seperti Ishak. Setelah ia dipanggil dan dibenarkan, dan ketika ia hidup berdasarkan iman, ia lalu mewarisi segala kelimpahan Kristus serta menikmati kelimpahan ini. Namun ini masih belum semua. Ia pun sama seperti Yakub, menderita karena pergumulan dan perontaannya sendiri. Di samping itu, ia telah menerima penanggulangan sampai menjadi matang. Semua ini adalah pengalaman Yakub. Untuk semua pengalaman ini — dipilih, jatuh, terpanggil, dibenarkan karena iman, hidup oleh iman, mewarisi serta menikmati kelimpahan Kristus, bergumul sendiri, menderita, ditanggulangi, dan matang, kita perlu tiga orang, perlu Abraham, Ishak, dan Yakub.
Ketiga orang ini mewakili Anda dan saya. Kita ini seperti Yakub, dipilih dan jatuh. Kita ini seperti Abraham terpanggil, dibenarkan karena iman, hidup oleh iman. Kita ini seperti Ishak, mewarisi dan menikmati kelimpahan Kristus. Kita ini seperti Yakub meronta-ronta, menderita, ditanggulangi, dan matang. Ketika Yakub matang, namanya diganti. Bukan sekadar sifatnya berubah, tetapi juga namanya berubah, dari Yakub (pemegang, perebut) menjadi Israel (pangeran Allah yang matang, orang yang sanggup memerintah bagi Allah).
(3) Aspek Memerintah pada Israel yang Matang
Pada Israel yang matang terdapatlah aspek memerintah. Kita telah nampak proses kematangan Yakub dan manifestasi kematangannya. Dalam berita ini, kita akan membahas aspek memerintah pada Israel yang matang. Aspek ini semuanya terlukis pada biografi Yusuf.
Karena Yusuf mewakili satu aspek dari Yakub, maka kita tidak boleh menganggap Yusuf sebagai orang yang terpisah dengan Yakub. Inilah sebabnya 14 pasal terakhir dari Kitab Kejadian menggabungkan pencatatan riwayat hidup Yusuf dengan pencatatan riwayat hidup Yakub. Kitab Kejadian membaurkan biografi Yusuf dengan biografi Yakub, karena sesungguhnya ini bukan biografi dua orang, melainkan biografi satu orang. Catatan pembauran ini menunjukkan bahwa Yusuf adalah salah satu aspek dari Yakub. Jika Anda membaca Kitab Kejadian dari pasal 37 hingga 50, Anda akan nampak bahwa Yusuf adalah salah satu aspek, salah satu bagian dari Yakub. Dia adalah ekspresi Yakub. Di mana ada Yusuf, di sana ada Yakub. Ketika Yusuf memerintah, sesungguhnya Yakublah yang memerintah. Sebab itu biografi mereka berbaur menjadi satu, membentuk biografi dari satu orang.
Bertahun-tahun saya mencoba membagi paragraf setiap kitab dalam Alkitab. Tetapi begitu saya tiba pada beberapa pasal terakhir dari Kitab Kejadian, saya tidak dapat menyatakan sebenarnya paragraf itu milik Yakub atau milik Yusuf. Akhirnya saya melepaskan keinginan saya untuk membagi-bagi Kitab Kejadian ini ke dalam paragraf. Pada saat itu saya belum nampak akan perkara hayat, saya tidak dapat mengapresiasi susunan Kitab Kejadian yang sangat indah ini. Tetapi kita harus mengakui bahwa pasal-pasal ini adalah dua aspek dari satu biografi. Pada hari saya nampak terang ini, saya sungguh girang. Menurut makna rohani, Yusuf dan Yakub bukannya terpisah. Yusuf mewakili aspek memerintah dari seorang saleh yang telah matang.
(a) Riwayat Hidup Yusuf — sebagai Keturunan Yakub
Kejadian 37:2 mengatakan, “Inilah riwayat keturunan Yakub.” Selanjutnya, yang diceritakan adalah riwayat hidup Yusuf. Ini membuktikan bahwa riwayat Yusuf adalah sebagian dari riwayat keturunan Yakub. Biografi Yusuf merupakan salah satu aspek dari sejarah Yakub.
(b) Yusuf Adalah Lambang Kristus
Biografi Yusuf mengisahkan bahwa ia tidak bercacat cela. Menurut catatan yang ada, ia sempurna sepenuhnya. Dalam Alkitab, Yusuf adalah orang yang sempurna dalam Perjanjian Lama, sedang Yesus adalah Orang yang sempurna dalam Perjanjian Baru. Keempat kitab biografi Yesus dalam Perjanjian Baru mewahyukan bahwa Dia itu sempurna tanpa cacat-cela. Catatan Yusuf dalam Perjanjian Lama mewahyukan juga bahwa ia itu sempurna. Ada orang mungkin akan berkata, “Untuk menjadi lambang Kristus, Yusuf memang harus sempurna.” Tetapi, bukankah Daud itu lambang Kristus? Tentu saja. Namun, Daud yang melambangkan Kristus, telah berdosa besar. Salomo juga adalah lambang Kristus, namun ia juga berdosa. Dalam Perjanjian Lama, kecuali Yusuf, semua pribadi yang melambangkan Kristus memiliki kekurangan-kekurangan.
Sebagai lambang Kristus, Yusuf melambangkan aspek memerintah dari seorang kudus yang telah matang, Israel yang telah matang. Dengan sendirinya, aspek memerintah dari orang yang demikian ini pastilah sempurna. Memang, tidak seorang pun di antara kita yang sempurna. Namun, pada aspek memerintah, kita sempurna. Setiap kali kita memerintah di dalam roh, kita sempurna. Anda mungkin akan berkata, “Aku tidak sempurna, aku malah mirip Yehuda.” Namun, aspek Anda mirip Yehuda itu bukanlah aspek Anda memerintah, melainkan aspek kejatuhan Anda. Tidak salah, menurut aspek kejatuhan Anda, Anda itu mirip Yehuda dalam pasal 38. Pasal 37 dan 39 merupakan dua pasal yang sempurna. Berlawanan dengan pasal 38 yang merupakan pasal kejatuhan. Jadi, aspek memerintah terdapat dalam pasal 37, sedang aspek kejatuhan terdapat dalam pasal 38. Boleh jadi kemarin Anda memerintah bagi Allah, tetapi hari ini Anda mungkin sudah berdosa, bahkan berdosa berat. Ini memperlihatkan suatu fakta bahwa kita memiliki aspek yang berbeda. Dalam berita ini, kita hanya membicarakan aspek memerintah.
Saya harap, kita semua nampak bahwa Abraham, Ishak, Yakub, serta Yusuf adalah satu orang. Yusuf bukan merupakan aspek yang terpisah dari seorang rohani yang sempurna seperti Abraham, Ishak, dan Yakub. Kita telah nampak bahwa Yusuf merupakan salah satu aspek dari Yakub. Alkitab tidak mengatakan bahwa Allah adalah Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub, dan Allah Yusuf. Ini akan menjadikan Allah sebagai Allah tetratunggal, bukannya tritunggal. Hanya ada tiga. Namun ketika kita sampai pada tahap kematangan Yakub, kita nampak bahwa pada hayat yang matang ini terdapat aspek memerintah. Abraham tidak menjadi raja, Ishak juga tidak. Tetapi Yusuf mewakili Yakub memerintah. Dengan kata lain, Yakub telah berkuasa melalui Yusuf.
Dalam Kejadian 1:26, sewaktu Allah menciptakan manusia, berfirmanlah Allah, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa . . .” Dalam beberapa pasal terakhir Kitab Kejadian, kita nampak Israel mengespresikan gambar Allah bahkan melaksanakan kekuasaan Allah! Melaksanakan kekuasaan Allah atas segala sesuatu ternyata dalam riwayat hidup Yusuf, sedangkan gambar Allah terekspresi atas diri Israel. Yusuf bukannya terpisah dari Yakub, ia merupakan salah satu aspek dari hayat yang mengekspresikan gambar Allah. Mengekspresikan gambar Allah dan berkuasa bagi Allah, kedua aspek ini, haruslah ternyata pada diri seseorang. Karena itu, apa yang kita nampak pada riwayat hidup Yusuf, dapat disebut aspek memerintah dari Israel yang telah matang. Tanpa terang ini, Anda mustahil memahami firman dalam bagian ini. Sangat menyedihkan bahwa sebagian besar orang Kristen tidak memiliki terang ini.
Sasaran kita adalah mengekspresikan Allah dalam gambar-Nya, serta mewakili-Nya dalam kuasa-Nya. Untuk inilah kita dipilih dan jatuh seperti Yakub; kita dipanggil, dibenarkan, dan hidup berdasarkan iman seperti Abraham; kita mewarisi kekayaan Kristus serta menikmati semua itu seperti Ishak; akhirnya kita meronta-ronta, menderita, ditang-gulangi, kemudian mencapai kematangan seperti Yakub. Kita semua memiliki “sifat alamiah Yakub” yang meronta-ronta di dalam kita. Orang lain memberi tahu kita jangan meronta-ronta, kita tetap saja meronta-ronta. Namun meronta-ronta belum tentu salah. Bila seseorang telah bertahun-tahun menjadi Kristen namun tidak pernah meronta-ronta, ia tentu bukan orang yang menuntut Tuhan. Ini berarti pula bahwa ia acuh tak acuh terhadap hak kesulungan. Namun begitu mengenal tentang hak kesulungan, kita segera giat berusaha untuk menjadi kudus, rohani, sehingga “sifat alamiah Yakub” yang meronta-ronta itu ternyata pada diri kita. Ketika Anda meronta-ronta, bersiaplah juga untuk menderita. Bersamaan dengan penderitaan, Anda akan berada di bawah tangan penanggulangan Allah. Boleh jadi Anda ini pandai, namun Allah menyediakan Laban yang lebih pandai daripada Anda. Anda perlu bersiap-siap untuk menderita dan menerima penanggulangan tangan Allah. Pada akhirnya Anda akan mencapai kematangan, dan aspek memerintah dari Israel yang matang akan ternyata dalam hayat Anda. Inilah aspek memerintah yang diwakili oleh Yusuf.
Sekali lagi saya katakan, Yusuf bukan orang yang lengkap. Ia hanyalah aspek dari orang kudus yang matang yang telah menempuh pengalaman-pengalaman yang diwakili oleh hidup Abraham, Ishak, dan Yakub. Setelah melalui semua pengalaman ini, orang kudus yang matang ini akan memiliki aspek yang hanya tersusun dari Kristus. Karena aspek ini tersusun dari Kristus, maka aspek ini sempurna. Yusuf justru mewakili aspek yang sedemikian ini dari orang kudus yang matang. Dalam diri kita masing-masing terdapat aspek yang tersusun dari Kristus. Sekalipun Anda baru dilahirkan kembali, Anda sudah ada satu bagian, yakni roh Anda yang telah dilahirkan kembali, yang tersusun dari Kristus. Inilah permulaan dari tersusunnya Kristus di dalam Anda. Proses tersusunnya Kristus ini akan berlangsung terus sampai pada puncaknya, yakni sampai aspek memerintah ternyata dari dalam Anda. Ketika Anda matang sepenuhnya, Anda akan memiliki bagian yang puncak ini, aspek yang puncak ini. Inilah tersusunnya Kristus, aspek kematangan hayat yang tersusun dari Kristus.
Tidak disangsikan bahwa Yusuf adalah lambang Kristus yang sempurna, karena ia menggambarkan aspek tersusunnya orang kudus yang matang. Jika aspek Anda yang tersusun dari Kristus itu tidak sempurna, tentu Anda tidak memiliki satu bagian pun yang sempurna. Dalam diri kita yang jatuh, beroleh selamat, dipanggil, ditebus, dan dilahirkan kembali ini tidak ada satu pun yang sempurna, kecuali bagian tersusunnya Kristus. Haleluya, di dalam kita ada susunan Kristus! Saya ulangi lagi, Yusuf mewakili tersusunnya Kristus di dalam hayat Yakub yang matang. Aspek tersusunnya Kristus ke dalam orang-orang kudus yang matang ini adalah sempurna. Jadi, aspek ini dengan sempurna melambangkan Kristus.
1) Gembala
Aspek yang sempurna ini adalah gembala. Yusuf adalah seorang gembala seperti Habel (37:2). Ini melambangkan aspek tersusunnya Kristus dalam hayat yang matang, yakni hayat yang menggembala, yang merawat orang lain. Dalam pasal 37, Yusuf tidak hanya merawat dan menggembalakan kawanan domba; ia bahkan disuruh ayahnya menggembalakan kakak-kakaknya, walaupun ia adalah adik yang termuda kedua. Jadi, selain menggembalakan kawanan domba ayahnya, Yusuf juga menggembalakan anak-anak ayahnya. Tuhan Yesus pun datang sebagai seorang Gembala (Yoh. 10:11).
Walaupun Anda mungkin masih baru dalam hidup gereja, tetapi di dalam Anda sudah ada susunan Kristus. Kristus telah tersusun ke dalam Anda, menjadi susunan Kristus di dalam hayat rohani Anda. Inilah yang memberi beban kepada Anda untuk merawat orang lain. Inilah penggembalaan. Susunan Kristus di dalam hayat rohani kita mempunyai aspek menggembala. Percuma mendorong orang untuk merawat orang lain. Semakin saya mendorong Anda untuk merawat orang lain, semakin kurang Anda merawat orang lain. Menggembalakan bukan berasal dari menggerakkan orang untuk mengerjakan sesuatu, melainkan dihasilkan oleh tersusunnya Kristus di dalam diri mereka. Bagian kita yang tersusun dari Kristus inilah bagian yang merawat orang lain. Saya berkeyakinan penuh terhadap bagian Anda itu. Kita tidak dapat menggembalakan siapa pun, tetapi Kristus yang tersusun ke dalam kita itulah Gembala.
Aspek menggembalakan adalah yang pertama dalam aspek memerintah. Jika Anda tidak berbeban untuk menggembalakan dan merawat orang lain, Anda tidak akan bisa memerintah. Kuasa memerintah itu berasal dari hayat menggembala. Akhirnya, Yusuf benar-benar berkuasa atas para saudaranya. Namun ia baru memerintah atas mereka setelah ia menggembalakan mereka. Ia diutus ayahnya untuk menggembalakan dan merawat mereka. Demikian juga, Tuhan Yesus datang bukan sebagai Raja untuk memerintah orang lain, melainkan sebagai seorang Gembala.
Sebagai Gembala, Kristus telah dibunuh oleh orang-orang-Nya sendiri. Ini diwahyukan dalam Yohanes 10, yang memberi tahu kita bahwa Gembala yang baik menyerahkan nyawanya bagi domba-dombanya. Yesus datang sebagai Gembala dan dibunuh, menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Pada prinsipnya, hal yang sama telah terjadi atas diri Yusuf dalam Kejadian 37. Ia diutus untuk menggembalakan saudara-saudaranya, namun mereka nyaris membunuh dia. Yusuf menyerahkan nyawanya demi melaksanakan penggembalaan semacam ini. Memiliki hayat yang menggembalakan di dalam kita memang baik. Tetapi, jika Anda ingin menggembalakan orang lain, Anda harus siap sedia dibunuh oleh orang-orang yang Anda rawat itu. Orang-orang yang hendak Anda gembalakan itu tidak menghargai penggembalaan Anda, sebaliknya, akan membunuh Anda. Mereka bisa menganggap Anda orang aneh, khusus (antik), bahkan mungkin mereka akan menjuluki Anda “orang suci”. Banyak orang pernah berkata kepada saya, “Saudara Lee, jika aku hanya mengurusi diriku sendiri, tidak mengasihi gereja, tidak merawat kaum saleh, aku tidak menemui masalah. Namun begitu aku mulai mengasihi gereja dan merawat kaum saleh, kaum saleh malah membunuhku.” Mereka membunuh Anda karena Anda menggembalakan mereka.
2) Yang Dikasihi Bapa
Yusuf, orang yang beraspek menggembala ini, juga adalah orang yang dikasihi bapanya (37:3-4). Demikian pula, Kristus adalah Putra kesayangan Bapa (Mat. 3:17; 17:5). Hanya aspek kita yang tersusun dari Kristus itulah yang dikasihi dalam pandangan Allah. Puji Tuhan, kita mempunyai susunan Kristus di dalam kita! Bagian kita inilah yang dikasihi Bapa. Anda dapat bersaksi bahwa adakalanya Anda benar-benar merasa Bapa menyertai Anda, merasa Bapa berkata, “Inilah yang Kukasihi.” Kata-kata yang ditujukan kepada Tuhan Yesus ketika Ia dibaptis, dan di atas gunung pengubahan, juga dikatakan kepada Anda. Anda benar-benar merasakan bahwa Allah Bapa beserta dengan Anda. Setiap kali Anda memiliki perasaan demikian, ini membuktikan bahwa Anda telah mempunyai susunan Kristus, yang berkenan kepada Bapa. Terhadap bagian Anda yang itulah Bapa akan selalu berkata, “Inilah yang Kukasihi.”
Meskipun Anda mungkin sangat muda dalam Tuhan, saya percaya bahwa Anda pernah mengalami Allah Bapa yang di surga sangat senang dan berkenan kepada Anda. Namun, sekarang ini, teringat akan kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan Anda, Anda merasa tidak puas terhadap diri sendiri. Ini dikarenakan kita memiliki dua susunan, yakni susunan Kristus dan susunan Adam yang lama. Ketika Anda berada pada susunan Kristus, Anda akan mendengar suara surga yang berkata, “Inilah yang Kukasihi.” Allah Bapa berkenan kepada Anda. Namun ketika Anda berada pada susunan yang lama, yakni susunan Adam, bahkan Anda sendiri akan tidak berkenan kepada diri Anda sendiri. Anda akan membenci aspek diri Anda itu. Yusuf mewakili susunan Kristus dalam hayat yang matang pada Israel, yaitu bagian yang disebut Bapa, “terkasih”.
3) Melayani Saudara-saudara Menurut Kehendak Bapa
Dalam Kejadian 37:12-17 kita nampak bahwa Yusuf melayani saudara-saudaranya menurut kehendak bapanya. Dalam hal ini Yusuf juga merupakan lambang dari Kristus, karena Kristus turun dari surga untuk melakukan kehendak Dia yang mengutus-Nya (Yoh. 6:38).
Tidak ada sepatah kata pun dalam Alkitab yang mengatakan bahwa Yusuf adalah lambang Kristus. Namun jika Anda membaca firman bagian ini, Anda akan mengakui bahwa Yusuf bukan hanya merupakan lambang Kristus, bahkan biografinya adalah biografi Kristus. Riwayat hidup Yusuf adalah sebuah salinan dari Kristus.
Pada butir ini saya ingin membicarakan tentang perkara pengiasan (perlambangan) dalam Alkitab. Ada guru-guru Alkitab yang mengatakan bahwa kita hanya bisa mengiaskan (melambangkan) hal-hal atau perkara-perkara dalam Perjanjian Lama, yang khususnya oleh Perjanjian Baru memang dikiaskan (dilambangkan). Bertahun-tahun saya menganut ajaran ini. Akhirnya, setelah saya menyadari bahwa itu berlebihan, saya melepaskan ajaran itu. Meskipun Perjanjian Baru tidak pernah mengatakan sepatah kata pun bahwa Yusuf adalah lambang Kristus, tetapi dalam Perjanjian Lama tidak ada seorang pun yang lebih tepat sebagai lambang Kristus daripada Yusuf. Ini menunjukkan bahwa ada lambang-lambang di dalam Perjanjian Lama yang tidak disebut sebagai lambang oleh Perjanjian Baru. Berdasarkan fakta ini, saya kemudian tidak lagi mempertahankan ajaran itu. Yusuf seorang gembala, orang yang dikasihi bapanya, dan yang diutus bapanya untuk melayani saudara-saudaranya. Dalam aspek-aspek ini, ia sama dengan Kristus.
4) Dibenci dan Dianiaya
oleh Saudara-saudara yang Dilayaninya
Meskipun Yusuf adalah gembala, yang dikasihi bapanya, dan juga melayani saudara-saudaranya menuruti kehendak bapanya, namun ia dibenci dan dianiaya oleh saudara-saudara yang dilayaninya (37:4-5, 8, 11, 18-36). Kristus juga demikian (Kis. 10:38-39). Kristus telah diutus untuk melayani umat Allah, tetapi mereka malah membenci-Nya. Menurut kitab-kitab Injil, pemimpin-pemimpin Yahudi membenci Kristus, bersekongkol untuk menentang Dia, dan bersiasat untuk membunuh Dia. Ini juga merupakan pengalaman yang Yusuf terima dari saudara-saudaranya. Dalam Kejadian 37:19-20 saudara-saudaranya berkata, “Lihat, tukang mimpi kita itu datang! Sekarang, marilah kita bunuh dia . . .” Demikianlah mereka bersekongkol merancang siasat untuk membunuh Yusuf, saudara mereka.
Saudara-saudara Yusuf menganiaya dia melalui orang Ismael (orang Midian — 37:25-28). Orang Ismael dan orang Midian adalah keturunan Abraham. Abraham beristri tiga: Sara, Hagar, dan Ketura. Dari Sara, istrinya yang sejati, Abraham melahirkan Ishak. Dari Hagar, budak perempuan Sara, ia melahirkan Ismael, inilah hasil dari daging Abraham. Akhirnya dari Ketura, Abraham melahirkan Midian. Hanya seorang anak saja, yaitu Ishak, yang dilahirkan dari anugerah (kasih karunia). Ismael dan Midian, kedua-duanya dilahirkan oleh daging. Sebab itu dalam Perjanjian Lama, Ismael dan Midian sama-sama melambangkan daging, yaitu kekuatan alamiah. Yusuf seorang keturunan Ishak dijual kepada keturunan Ismael dan Midian, yaitu dijual kepada orang Ismael, orang Midian. Seolah-olah Alkitab telah salah tukar pakai istilah orang Ismael dan orang Midian. Kejadian 37:25 membicarakan tentang orang Ismael, sedang ayat 28 membicarakan tentang orang Midian. Yusuf sebenarnya dijual kepada orang Ismael atau orang Midian? Menurut Alkitab, orang Ismael dan orang Midian itu tergolong kategori yang sama. Dalam pandangan Allah, orang Ismael dan orang Midian kedua-duanya mewakili daging. Jadi, Yusuf dijual oleh daging. Perkara yang sama terjadi atas diri Tuhan Yesus. Jika pemimpin-pemimpin Yahudi berada di dalam roh, mereka tidak akan menyerahkan Yesus Kristus kepada Pilatus. Pemimpin-pemimpin Yahudi menyerahkan Kristus kepada Pilatus melalui daging. Ketika pemimpin-pemimpin Yahudi menyerahkan Yesus kepada Pilatus, saat itu mereka bukan lagi orang Israel, melainkan orang Ismael dan orang Midian. Perbuatan mereka menyerahkan Tuhan Yesus itu adalah tindakan di dalam daging.
Yusuf dijual ke Mesir oleh daging (Kej. 37:28, 36), Mesir mengacu kepada dunia. Fakta bahwa Yusuf telah dijual kepada dunia oleh daging, menyatakan bahwa daging berkaitan dengan dunia. Sama halnya dengan Tuhan Yesus. Melalui daging, pemimpin-pemimpin Yahudi telah menyerahkan Tuhan Yesus kepada Pilatus, penguasa Romawi, yang sudah tentu berada di dalam dunia.
5) Memandang Umat-Nya sebagai Berkas-berkas Tuaian Hayat
dan sebagai Matahari, Bulan serta Bintang-bintang
yang Bersinar
a) Sebagai Berkas-berkas Tuaian Hayat
Sekarang saya mempunyai beban yang berat untuk mem-bagikan beberapa hal yang sangat bermakna kepada kalian. Seandainya Anda adalah Yusuf, apakah Anda akan menganggap saudara-saudara Anda itu surgawi serta penuh hayat dan terang? Kejadian 37:2 memberi tahu kita bahwa Yusuf menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan saudara-saudaranya. Bahkan, menurut pasal 37, saudara-saudara Yusuf penuh kedengkian dan amarah; dan menurut pasal 38, mereka penuh dengan hawa nafsu. Dalam pasal 37 kita nampak kedengkian dan amarah saudara-saudara Yusuf, dan dalam pasal 38 kita nampak hawa nafsu Yehuda. Yusuf telah nampak kejahatan saudara-saudaranya, lalu menyampaikan hal itu kepada ayahnya. Akan tetapi Yusuf mempunyai dua mimpi (37:5-9). Dalam mimpi yang pertama, Yusuf nampak berkas-berkas gandum di ladang. Mimpi ini mewahyukan bahwa sebaiknya-baiknya Yusuf, ia hanyalah seberkas gandum; seburuk-buruknya saudara-saudaranya, mereka juga adalah berkas-berkas gandum. Allah memberi Yusuf mimpi ini dan dalam mimpi ini ia memperoleh pandangan Allah terhadap saudara-saudaranya. Mungkin Yusuf berkata kepada ayahnya, “Ayah, kakak-kakakku sungguh celaka. Kejahatan mereka itu membuatku sangat menderita. Mereka penuh amarah dan hawa nafsu!” Namun Allah datang memberi Yusuf mimpi, Ia seolah berkata, “Yusuf, da-lam pandangan-Ku, kamu ini sama dengan kakak-kakakmu, mereka dan kamu sama baiknya. Kamu seberkas gandum, mereka pun demikian. Satu-satunya perbedaan antara kamu dengan mereka ialah Aku telah memilih kamu untuk memerintah. Namun ini bukan berarti kamu lebih baik daripada mereka.”
Tanpa pengalaman ini, kita takkan mampu memahami firman Alkitab yang berkenaan dengan mimpi Yusuf tentang berkas gandum. Ketika Anda baru memasuki hidup gereja, Anda mungkin berkata, “Hidup gereja sungguh baik. Setiap saudara saudari baik. Aku sungguh mengasihi gereja.” Namun semakin Anda mengasihi gereja, semakin merawat kaum saleh, makin banyak “tikus”, “kura-kura”, dan “kalajengking” yang Anda nampak. Kemudian Anda akan berkata, “Tuhan, apa ini? Tuhan, keadaan gereja sungguh kasihan. Sampai-sampai penatua gereja pun tidak begitu baik. Lihat saja para saudari! Aku tidak mau duduk berdekatan dengan mereka di dalam sidang.” Pada saat ini, Anda perlu mimpi surgawi. Begitu mimpi datang, Allah akan berkata kepada Anda, “Kamu tidaklah lebih baik daripada orang lain, orang lain juga tidak lebih buruk daripadamu. Kalian semua adalah berkas-berkas hayat di dalam-Ku. Di antara umat-Ku tidak ada ‘tikus’, ‘kalajengking’, atau ‘kura-kura’. Semua adalah berkas-berkas gandum yang penuh hayat.” Jika saya tidak nampak mimpi surgawi ini, sudah sejak dulu saya lepas tangan. Tetapi saya telah nampak mimpi ini. Saya telah nampak bahwa saya ini berkas gandum, orang-orang yang keli-hatannya sebagai “tikus-tikus” dalam pandangan saya juga adalah berkas-berkas gandum. Dalam pandangan Allah, mereka itu berkas-berkas gandum.
Di tahun-tahun yang lampau, saya banyak berdoa mendakwa di depan Tuhan; saya melaporkan kepada-Nya kejahatan yang saya lihat. Dalam doa saya berkata, “Tuhan, aku telah melepaskan pekerjaanku, aku mempersembahkan hidup dan masa depanku bagi pekerjaan ini. Namun Tuhan, lihatlah orang-orang ini!” Namun, akhirnya mimpi tiba, Tuhan berkata kepada saya, “Kamu tidak lebih baik dari pada mereka. Sebaik apa pun kamu, kamu tidak lebih dari seberkas gandum, dan seburuk-buruknya mereka, juga adalah berkas-berkas gandum.” Pada awalnya saya merasa sulit serta berbantahan dengan Tuhan, “Tuhan, Engkau kurang mendalami, Engkau hanya melihat permukaan nya. Tidakkah Engkau melihat hati mereka?” Tetapi Tuhan berkata, “Aku tidak memandang mereka dari sudut pandangmu. Aku memandang mereka dari sudut pandang-Ku. Dalam Yerusalem Baru tidak ada ‘tikus’ dan ‘kalajengking’.”
Pada suatu hari, setelah membaca nubuat Bileam dalam Bilangan 23, saya mendapat bantuan yang besar. Menurut Kitab Bilangan, umat Israel sudah melakukan banyak kejahatan. Bileam diupah oleh seorang raja bangsa lain untuk mengutuk orang Israel, serta menyingkapkan kejahatan di antara orang Israel. Akan tetapi Allah berfirman melalui Bileam, sehingga Bileam berkata, “Tidak ada ditengok kepincangan di antara keturunan Yakub, dan tidak ada dilihat kesukaran di antara orang Israel” (Bil. 23:21). Allah seakan-akan berkata, “Aku tidak melihat kejahatan apa pun di antara umat-Ku. Aku tidak melihat pelanggaran apa pun di antara mereka.”
Elia menggerutu atas Israel, katanya, “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku” (1 Raj. 19:10). Di hadapan Allah Elia menggugat bani Israel. Namun Tuhan tidak berkenan akan hal itu, kata-Nya, “Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia” (1 Raj. 19:18). Janganlah sekali-kali datang ke hadapan Tuhan dengan cara menggugat orang lain. Sebaliknya, hendaklah Anda berkata kepada-Nya, “Tuhan, karena Engkau tidak melihat kejahatan, maka aku pun tidak mau melihat kejahatan apa pun. Semua ‘tikus’ dan ‘kalajengking’ itu adalah berkas-berkas gandum, dan aku mengasihi mereka.”
Namun, prakteknya tidaklah mudah. Bisa jadi Anda menganggap saya mengajar Anda untuk berbohong. Mungkin Anda berkata, “Saudara anu begitu celaka, aku benar-benar tidak bisa mengakui dia sebagai berkas gandum.” Siapakah yang benar? Anda atau Allah? Dan bagaimanakah mimpi itu? Asal Anda nampak mimpi surgawi itu, Anda pasti nampak bahwa dalam pandangan Allah, seluruh umat-Nya adalah berkas-berkas gandum yang penuh dengan hayat yang menghasilkan bahan makanan yang dipersembahkan bagi kepuasan Allah dan manusia.
b) Sebagai Matahari, Bulan, dan Bintang-bintang yang Bersinar
Dalam Alkitab terdapat prinsip penguatan, yakni berdasarkan dua orang saksi. Sebab itu Yusuf mempunyai dua mimpi. Dalam mimpi yang kedua, Yusuf nampak matahari, bulan, dan sebelas bintang sedang menyembah kepadanya (37:9). Ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Allah, semua yang dipersalahkan dan didakwa itu penuh dengan terang. Berhati-hatilah, jangan sampai mendakwa atau menuduh saudara saudari. Pada aspek memerintah dari hayat yang matang, tidak ada hal mendakwa atau menyalahkan orang lain. Sebaliknya, hanya ada memelihara dan menghargai mereka, sambil berkata, “Oh, hidup gereja dan semua orang kudus alangkah ajaib! Kaum saleh adalah berkas-berkas gandum yang penuh dengan hayat. Mereka itu memberi rawatan dan memuaskan! Tambahan pula, mereka adalah benda-benda langit yang bersinar.” Jika Anda mengatakan bahwa berkata demikian adalah berbohong, dan Anda tidak sanggup berbuat demikian, ini membuktikan bahwa Anda belum nampak mimpi itu, visi itu. Anda kekurangan sudut pandang surgawi.
Izinkanlah saya mengajukan pertanyaan ini kepada orang-orang yang telah lama berada dalam hidup gereja: Masihkah Anda merasakan gereja itu sangat bagus, dan semua orang saleh menarik? Jika Anda jujur, Anda akan mengakui bahwa Anda pernah mengkritik beberapa orang saleh kepada istri atau suami Anda. Mungkin beberapa tahun yang lalu perasaan Anda terhadap semua saudara saudari itu positif, namun tidak demikian hari ini. Beberapa tahun yang lalu, menurut pandangan alamiah Anda, betapa baik-nya semua orang saleh itu. Tapi hari ini Anda perlu sudut pandang dari mimpi surgawi. Kejadian 37 memuat dua mimpi. Yang satu berkas-berkas gandum yang penuh dengan hayat dan yang lain benda-benda langit yang bersinar. Inilah pandangan Allah, pandangan surgawi terhadap umat-Nya. Karena saya memiliki pandangan surgawi ini, maka saya sangat terdorong. Saya bukan bekerja sama dengan “tikus” dan “kalajengking”. Saya melayani berkas-berkas gandum. Saya berada di bawah matahari, bulan, dan saya berjalan di antara bintang-bintang. Mimpi Yusuf mirip dengan visi dalam Wahyu 12, di sana umat Allah dilambangkan sebagai seorang perempuan, berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya, dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Kita perlu mempunyai visi yang demikian agar memandang umat Allah dari sudut pandang surgawi.
Satu hal yang pasti: siapa saja yang menyalahkan gereja atau menyalahkan umat Allah, hayatnya sendiri yang akan dirugikan. Tidak ada satu yang terkecuali. Bisa jadi Anda benar dan sesungguhnya gereja yang salah. Keadaan kaum saleh pun bisa seperti “tikus” dan “kalajengking”. Namun, jika Anda menyalahkan mereka, Anda akan menderita kerugian hayat. Tetapi bila Anda berkata, “Tuhan, aku memuji Engkau, karena umat-Mu penuh dengan terang dan hayat”, Anda adalah yang pertama mengambil bagian dalam hayat. Sebab itu, saya tidak berani mengatakan saudara saudari tidak baik. Sebaliknya saya selalu berkata, “Puji Tuhan! Alangkah baiknya kaum saleh!” Bila berbuat demikian, saya menikmati hayat. Tetapi bila saya mengkritik saudara saudari, saya segera mengalami maut. Tidak seorang pun yang mengeluarkan kata-kata negatif tentang gereja atau umat saleh dapat menikmati hayat. Sebaliknya, semua orang yang mengatakan perkataan negatif, mengalami maut. Kita perlu berkata, “Puji Tuhan, saudaraku adalah benda terang surgawi. Jika hari ini belum, kelak ia pasti begitu.” Pada Allah tidak ada unsur waktu. Di surga tidak ada lonceng, hanya ada kekekalan. Allah memandang umat-Nya dari aspek kekekalan, Ia nampak mereka sebagai berkas-berkas gandum yang penuh hayat, dan sebagai matahari, bulan, dan bintang-bintang yang bersinar.
c) Berkedudukan di Langit, tetapi Hidup di Bumi
Meskipun umat Allah berkedudukan di langit (surga), seperti matahari, bulan, dan bintang-bintang, tetapi mereka hidup di bumi seperti berkas-berkas gandum (Flp. 3:20; 2:15), karena berkas gandum itu tumbuh di ladang. Hari ini kita adalah umat surgawi yang menempuh hidup di bumi.
Kita adalah umat Allah. Saya selalu terdorong, dikuatkan, dan terbina oleh ini. Saya menaruh keyakinan sepenuhnya terhadap Anda semua, saya mengharap bisa berjumpa dengan Anda semua di Yerusalem Baru. Saya suka mempunyai sudut pandang yang kekal, bukan yang bumiah. Saya tidak mau melihat masalah dengan sudut pandang saya yang terbatas. Sebaliknya, saya akan memakai teropong ilahi. Jika Anda mengatakan bahwa saudara saudari demikian jelek, ini berarti Anda sangat rabun dekat. Jika Anda melihat dengan teropong ilahi yang menembus waktu, Anda akan nampak Yerusalem Baru, di sana tidak ada yang lain kecuali berkas-berkas gandum dan bintang-bintang. Dalam Yerusalem Baru, tidak ada “tikus” atau “kalajengking”, segala sesuatunya penuh hayat dan terang. Merenungkan mimpi Yusuf, kita akan nampak bahwa tidak ada pikiran seorang pun yang dapat menghasilkan Kitab Kejadian ini. Hanya Allah yang dapat memberi Yusuf mimpi yang sedemikian.
d) Sebenarnya Berdosa
Meskipun Yusuf dua kali bermimpi, namun dalam pasal itu juga ia dibenci dan disiasati saudara-saudaranya. Tidak hanya demikian, dalam pasal selanjutnya, kita nampak hawa nafsu Yehuda. Ini menandakan bahwa anak-anak Yakub sebenarnya jahat. Tetapi dalam sudut pandang surgawi, mereka tidak jahat, melainkan berkas-berkas gandum yang penuh hayat serta bintang-bintang yang bersinar. Alasan kedua pasal ini digabungkan adalah untuk membuat perbandingan. Dalam sudut pandang Allah, para anak Yakub adalah terang, sebenarnya mereka itu gelap, berdosa. Sekarang kita dapat memahami mengapa pasal 38 menyusul pasal 37.
e) Kristus Tetap Datang Melalui Mereka
Meskipun para anak Yakub berdosa, Kristus tetap datang melalui mereka (Kej. 38:27-30; Mat. 1:3). Dari dosa besar yang dilakukan dalam pasal 38, terlahirlah dua orang anak. Yang pertama adalah nenek moyang Kristus. Peres yang disebut dalam silsilah Kristus pada Matius 1, adalah salah seorang nenek moyang Kristus. Menurut firman ilahi dalam Alkitab, Kristus datang melalui para anak Yakub yang berdosa. Ini mirip dengan dosa Daud dan Batsyeba. Hasil dosa itu ialah Salomo, ia pun salah seorang nenek moyang Kristus yang melaluinya Kristus telah datang (Mat. 1:6).
Jangan percaya gereja tidak baik, jangan pula menggerutu kaum saleh tidak baik atau mengatakan mereka itu “kalajengking”. Dari gereja yang tampaknya tidak ada harapan, dari kaum saleh yang dalam pandangan Anda adalah “kalajengking”, Kristus akan datang. Namun ini bukan berarti bahwa kita harus berbuat jahat untuk mendatangkan yang baik, melainkan ini adalah kesaksian anugerah Allah yang berdaulat. Entah kaum saleh itu baik atau buruk, kita harus berhati-hati, jangan menjelekkan mereka. Bila kita berbuat demikian, Allah akan berkata, “Aku tidak melihat dosa dan kejahatan pada mereka. Kristus-Ku akan datang melalui mereka. Kamu jangan menyalahkan mereka.” Kita semua perlu memiliki visi surgawi yang demikian.
Hayat yang dewasa mengandung aspek memerintah. Semakin Anda matang dalam hayat, semakin kurang pula Anda berkata secara negatif tentang gereja atau kaum saleh. Ketika kita masuk ke dalam gereja, kita menempuh bulan madu gereja. Tetapi bulan madu lazimnya tidak berlangsung lama. Setelah masa bulan madu hidup gereja Anda usai, Anda mungkin akan berkata, “Aku mengira gereja itu indah sekali, tetapi ternyata tidak seindah itu. Asal saja aku bisa menemukan yang lebih baik, aku pasti tidak akan tinggal di sini. Tetapi sayangnya, aku tidak bisa menemukan yang lebih baik. Walaupun demikian, aku masih tetap mencari. Mungkin aku akan pergi ke tempat lain untuk memulai sesuatu menurut diriku. Entah tindakan apa yang aku ambil, pendeknya gereja di sini tidak terlalu indah.” Setiap kali Anda berkata demikian, Anda akan mengalami maut. Namun pada suatu hari, datanglah mimpi surgawi, dan sudut pandang Anda mengalami pembaruan. Anda paham bahwa Anda tidak seharusnya membicarakan perkara negatif apa pun tentang gereja atau kaum saleh. Sebaliknya, Anda selalu berkata, “Inilah gereja, inilah umat Allah. Dalam pandangan Allah, semua orang beriman ialah berkas gandum, juga matahari, bulan, dan bintang.” Ketika Anda mencapai tahap ini, Anda tidak akan berani lagi mengatakan perkara negatif apa pun tentang gereja.
Setelah nampak visi ini, saya kadang-kadang masih mengatakan, “Ya, aku telah melihat bahwa gereja itu ajaib. Namun sebenarnya tidak begitu.” Berkata demikian akan menyingkapkan “ekor”nya. Bahkan “ekor” ini pun membuat saya menglami maut. Akhirnya saya tunduk dan yakin sepenuhnya, sambil berkata, “Tuhan, aku melupakan rabun dekatku, aku mau memakai teropong ilahi. Gereja itu unggul, ajaib, dan indah. Tidak ada satu pun kesalahan pada gereja. Gereja itu lengkap dan sempurna.” Sewaktu saya berkata demikian, saya penuh hayat dan menikmati hayat. Bagi saya setiap saudara dan saudari menakjubkan. Saya mengasihi mereka, termasuk yang telah mundur. Semakin saya berkata demikian, saya semakin penuh dengan hayat. Saya percaya bahwa banyak di antara kita yang mempunyai pengalaman seperti ini. Kita bukan menghakimi orang. Allah itulah Sang Hakim. Dia tidak menghakimi kaum saleh, malahan bekerja pada diri mereka, agar mengubah “kalajengking” menjadi “berkas gandum”, “tikus” menjadi bintang-bintang. Dan akhirnya kita semua menjadi berkas-berkas gandum dan bintang-bintang. Semoga kita semua mempunyai sudut pandang yang kekal ini.
f) Umat-Nya Berada di Bawah Kuasa-Nya
Akhirnya, segenap orang-orang Yusuf akan berada di bawah kuasanya (37:8). Yusuf melambangkan aspek berkuasa dari hayat yang telah matang. Hanya hayat yang telah matang yang bisa memegang tampuk pemerintahan, sama seperti Kristus berkuasa atas orang Yahudi (Mat. 27:11; Yoh. 19:19).