← Daftar isi Kejadian (8) · bab 5/16

DIMATANGKAN MANIFESTASI KEMATANGAN (7)

(h) Meninggal secara Unggul

Dalam berita ini kita akan melihat meninggalnya Yakub, kita akan melihat beberapa hal di dalamnya secara terperinci.

Kitab Kejadian adalah kitab yang panjang, yang meliputi lima puluh pasal. Riwayat hidup Yakub meliputi lebih dari separuh kitab ini, yakni dua puluh lima setengah pasal. Dalam berita-berita yang lalu kita telah nampak bagaimana kelahiran Yakub, bagaimana sebelum dilahirkan ia sudah dipilih Allah, bagaimana ia bergumul ketika masih di dalam rahim ibunya. Ia terus bergumul dalam sebagian besar hidupnya. Yakub hidup selama 147 tahun. Dalam pasal 49 kita nampak meninggalnya Yakub. Kualitas dan hasil seumur hidup seseorang terutama ditentukan oleh tahap akhir dari kehidupannya, bukan ditentukan oleh tahap awal. Ini sama halnya dengan orang yang mengikuti perlombaan lari, tak peduli bagaimana cepat larinya pada detik-detik awal, namun detik-detik yang terakhir itulah yang menentukan. Dalam berita ini kita telah sampai pada tahap terakhir dari seumur hidup Yakub, orang yang menakjubkan ini. Kita perlu nampak bagaimana sikapnya menjelang meninggal dunia.

Cara meninggal yang paling baik dalam Alkitab, selain Tuhan Yesus adalah Rasul Paulus. Menjelang meninggal dunia, Paulus mengatakan, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya” (2 Tim. 4:7-8). Alangkah unggul meninggal secara demikian! Saya harap kita semua dapat menyatakan demikian pada tahap akhir dari perlombaan lari kita. Meninggalnya Rasul Paulus memang sangat unggul, namun saya masih menyukai meninggalnya Yakub, sebab meninggalnya Yakub itu menarik dan menyenangkan. Meninggalnya Paulus sangat sederhana, ia tidak mempunyai istri dan anak. Pada saat ia meninggal, ia sendiri berada di penjara, tidak begitu kompleks. Tetapi pada Yakub terdapat banyak kaitannya.

Karena penentuan Allah dan karena perontaannya sendiri, maka Yakub telah terlibat dengan banyak orang dan banyak perkara. Misalnya, Yakub mempunyai istri empat orang: Lea, Rahel, dan dua budak perempuan. Sebenarnya hati Yakub menghendaki Rahel, tetapi ia ditipu oleh Laban dengan memberikan Lea kepadanya. Tentu, Rahel juga diberikan kepadanya. Namun sesungguhnya, siapakah istri Yakub yang sejati — Rahel atau Lea? Menurut Kitab Kejadian, Yakub mengakui kedua-duanya sebagai istri yang sejati. Ia mengubur Lea dalam gua Makhpela, yaitu di tempat Abraham dan Sara, Ishak dan Ribka dimakamkan. Melalui menguburkan Lea di gua Makhpela, tempat istri-istri nenek moyang yang sejati dimakamkan, Yakub menunjukkan bahwa ia mengakui Lea sebagai istrinya yang sejati. Kemudian, menjelang akhir hidupnya, Yakub menyelenggarakan pengaturan yang berdaulat terhadap Rahel, yang memberi tahu kepada keturunannya bahwa ia mengakui Rahel sebagai istrinya yang sejati. Riwayat hidup Yakub begitu ruwet, sehingga sulit menentukan siapa istrinya yang sejati.

Keempat istri Yakub melahirkan dua belas orang putra, masing-masing mempunyai kategori tersendiri. Jika anak-anak Yakub tanpa kategori yang sebanyak itu, mereka tidak bisa mewakili sejarah orang Israel, sejarah gereja, dan bahkan sejarah pribadi kita. Dalam nubuat pemberkatan kepada kedua belas anak Yakub dalam pasal 49, kita nampak perwakilan sejarah Israel, sejarah gereja, dan sejarah pribadi kita. Untuk memiliki gambaran yang almuhit seperti ini, perlu keterlibatan yang serba rumit. Dalam seumur hidupnya, Yakub tidak hanya terlibat dengan anak-anak dan istrinya, tetapi juga terlibat dengan berbagai wilayah dan lingkungan. Ia lahir di tanah permai, namun merantau sampai ke Padan Aram, kemudian kembali ke tanah permai. Pada usia lanjutnya, ia beserta keluarganya pindah ke Mesir. Setiap perpindahan mendatangkan keterlibatan yang lebih banyak. Yakub bahkan terlibat dengan Firaun, orang yang paling berkuasa di bumi pada masa itu. Yakub telah terlibat dengan banyak hal, termasuk kasus dengan orang Aram dan orang Mesir. Keterlibatan ini dapat juga terlihat dari penguburannya di tanah permai. Orang-orang Kanaan mengganggap hal itu sebagai penguburan orang Mesir, padahal sesungguhnya orang Ibrani. Sepasukan prajurit berkuda serta kendaraan orang Mesir ikut serta dalam pengu-buran orang Ibrani yang terhormat itu. Selain semua ini, Yakub juga terlibat dengan Allah. Betapa banyak perkara yang melibatkan Yakub! Jika kita menggabungkan bagian-bagian firman yang menyangkut keterlibatan Yakub, kita akan bersukacita di hadapan Tuhan sambil berkata, “Puji Tuhan, haleluya atas firman Tuhan yang berlimpah!”

Sekalipun Yakub terlibat dengan berbagai aspek, namun ia meninggal dunia dalam keadaan yang luar biasa. Meninggalnya bukan sekadar menang, tetapi juga menyenangkan dan unggul. Tidak ada seorang pun yang ingin meninggal. Meninggalnya manusia selalu merupakan perkara yang menyedihkan. Namun saya menyukai catatan meninggalnya Yakub. Dalam bagian catatan ini tidak ada gambaran yang mengerikan, sebaliknya terdapat sebuah gambaran yang menyenangkan. Setelah membaca berita ini, saya yakin banyak orang akan percaya bahwa dalam aspek-aspek tertentu, meninggalnya Yakub lebih menggugah hati daripada meninggalnya Rasul Paulus. Alkitab menggunakan tiga pasal lebih untuk mencatat meninggalnya Yakub, tetapi hanya beberapa ayat saja yang mengisahkan meninggalnya Paulus. Sekarang mari kita melihat meninggalnya Yakub secara terperinci.

1) Menyuruh Yusuf Meletakkan Tangan di Bawah Pangkal Pahanya

Kejadian 47:29 mengatakan, “Ketika hampir waktunya bahwa Israel akan mati, dipanggilnyalah anaknya, Yusuf, dan berkata kepadanya: ‘Jika aku mendapat kasihmu, letakkanlah kiranya tanganmu di bawah pangkal pahaku.” Yakub menyuruh Yusuf meletakkan tangannya di bawah pangkal paha, hal ini selalu merupakan persoalan bagi pelajar-pelajar Alkitab. Yakub tidak berkata kepada Yusuf, “Berusahalah sebisamu untuk mencari seorang tabib supaya aku disembuhkan.” Sebaliknya, ia minta Yusuf meletakkan tangan di bawah pangkal pahanya. Apakah artinya ini? Jelas bahwa ini berarti sumpah. Namun kalau ini hanya berarti sumpah, mengapa Yakub tidak menyuruh Yusuf mengangkat tangannya? Kita tidak boleh menerka-nerka, kita harus memahaminya menurut fakta yang terkandung dalam Alkitab. Di bawah pimpinan Roh Kudus kita dapat menemukan apa yang pernah terjadi atas paha Yakub dalam sepanjang hidupnya. Delapan hari setelah Yakub dilahirkan, ia disunat pada bagian tubuh yang berdekatan dengan pahanya. Kemudian setelah bergumul selama lebih dari 95 tahun, Allah datang menjamah pahanya. Dengan demikian, Yakub mengalami sunat serta jamahan kudus. Mula-mula dari tempat yang paling dekat dengan paha ada sesuatu yang disingkirkan, yakni sunat. Bertahun-tahun kemudian, Yakub mengalami jamahan kudus, yang membuatnya pincang. Jika Anda meneliti dalam-dalam makna kedua hal ini, Anda akan menemukan bahwa keduanya mempunyai makna yang sama: Sunat, yaitu menyingkirkan tubuh daging kita, hayat alamiah kita. Yakub telah terpilih untuk mewarisi janji Allah. Namun tubuh dagingnya, hayat alamiahnya, tidak ada gunanya dalam hal ini, malahan merupakan penghalang.

Lihatlah contoh Abraham. Dalam Kejadian 15, Allah mengadakan perjanjian dengan Abraham. Tetapi Abraham ingin menggenapkan janji Allah dengan kekuatan alamiahnya melalui Hagar. Hal ini telah menyalahi Allah, sehingga Allah meninggalkan Abaraham selama 13 tahun. Tiga belas tahun kemudian, Allah kembali kepada Abraham dan seolah-olah berkata, “Abraham, Aku adalah Sang Mahalimpah. Aku dapat memegang janji-Ku. Karena Aku telah berjanji melakukan sesuatu bagimu, Aku tidak memerlukanmu menggenapkan janjiKu dengan kekuatan alamiahmu. Apa yang kaulakukan bersama Hagar sangat menyalahi Aku. Itulah alasannya mengapa selama 13 tahun ini Aku meninggalkanmu. Sekarang Aku datang memberi tahu kamu, di hadapan-Ku, kamu harus menyingkirkan kekuatan alamiahmu.” Sejak hari itulah, janji anugerah Allah menjadi janji sunat. Janji sunat menunjukkan bahwa janji anugerah tidak dapat digenapi atau diwarisi dengan kekuatan alamiah manusia. Jika kita ingin mewarisi janji anugerah Allah, kekuatan alamiah kita harus disunat dahulu. Di pihak Allah, janji ini adalah janji anugerah. Namun di pihak manusia, men-jadi janji sunat. Allah tetap ingin memberikan anugerah kepada manusia. Namun, untuk dapat menerima anugerah yang telah dijanjikan Allah itu, kita harus terpenggal dari kekuatan lahiriah.

Sunat Yakub menandakan bahwa ia tidak boleh hidup berdasarkan tubuh daging atau kekuatan lahiriah. Walau demikian, setelah disunat, Yakub tetap bergumul dalam tubuh daging. Sekalipun telah disunat, ia tetap hidup seperti orang yang belum disunat. Begitulah ia menggunakan kekuatannya sendiri untuk mewarisi janji Allah! Ia merebut dan berusaha dengan tipu muslihatnya seperti orang yang belum pernah disunat. Dari segi tanda, Yakub sudah disunat; namun secara realitasnya, ia belum disunat, kecuali setelah ia berusia sembilan puluh tahunan, yakni setelah bertahun-tahun ia ditanggulangi oleh Allah. Dua puluh tahunan ia di bawah tangan Laban, yang memeras tenaga Yakub habis-habisan. Akhirnya Yakub dipaksa meninggalkan Laban untuk kembali ke tempat bapanya. Dalam perjalanan pulang, Allah membangkitkan keadaan sekeliling, sehingga ia tak dapat tidak harus datang ke hadapan Allah. Laban mengejar, Esau menunggu. Dalam keadaan terjepit ini, Yakub bingung harus bagaimana. Seakan-akan ia berkata kepada diri sendiri, “Bagaimana ini? Jika aku kembali, Laban ada di sana. Jika aku maju terus, Esau ada di sana. Tidak ada tempat bagiku untuk melarikan diri.” Di Pniel, setelah ia memisahkan anak dan istrinya, tinggallah Yakub seorang diri berhadapan dengan Allah. Malam itu, Yakub sungguh kuat dalam tubuh daging, sehingga ia bergulat dengan Allah. Tuhan menjamah pangkal paha Yakub. Itulah sunat Yakub yang sejati. Sejak saat itulah Yakub menjadi pincang.

Menjelang meninggal, ia sudah tak bertenaga untuk berjalan, ia hanya dapat berbaring di tempat tidur. Kita telah nampak bahwa sunat Yakub yang sejati terjadi pada waktu Allah menjamah pangkal pahanya. Kini ia terbaring di atas tempat tidurnya, ini merupakan jamahan lain yang sejati dari Allah. Setelah jamahan yang pertama, Yakub tidak dapat jalan seperti sedia kala. Kini ia bahkan tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Kekuatan lahiriahnya benar-benar tamat. Boleh dikatakan ini adalah sunat Yakub kali ketiga. Sunat kali pertama seolah-olah tidak berpengaruh sedikit pun terhadapnya. Setelah sunat kali kedua, yaitu setelah pangkal pahanya dijamah, ia menjadi pincang, namun masih tetap dapat bergerak. Sekarang, sunat kali ketiga, ia sama sekali kehilangan tenaga untuk bergerak. Inilah saatnya ia mutlak bersandar kepada anugerah Allah. Ketika Anda sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, sudah tidak bertenaga lagi, itulah saatnya Anda bersandar kepada Allah.

Karena Yakub tidak lagi bersandar kepada dirinya, maka ia menyuruh Yusuf meletakkan tangan di bawah pangkal pahanya, ini menunjukkan bahwa Yakub mengakui kalau ia tidak berkekuatan melakukan apa pun bagi dirinya. Satu-satunya hal yang dapat ia lakukan ialah bersandar kepada Allah. Yusuf, anaknya, penguasa negara terkemuka di bumi, niscaya dapat melakukan sesuatu baginya. Hal-hal apa yang seharusnya dilakukan untuknya setelah kematiannya, tentu akan dilaksanakan oleh Yusuf. Sebab itulah Yakub menyuruh Yusuf meletakkan tangan di bawah pangkal pahanya, melalui permintaan ini ia mengakui bahwa ia telah ditanggulangi oleh Allah sampai tuntas. Yakub menyatakan ke alam semesta bahwa ia tidak lagi berkekuatan melakukan apa pun bagi dirinya. Ia hanya dapat berpegang pada janji anugerah Allah. Dalam seumur hidupnya, Yakub telah mempelajari suatu hal, yakni ia tidak dapat berbuat apa-apa bagi dirinya. Yang ia lakukan semuanya sia-sia belaka. De-mikianlah ia bersandar kepada janji anugerah Allah. Terhadap dia, janji itu adalah janji sunat, yang mengakhiri kekuatan alamiahnya untuk menerima janji Allah.

Aspek pertama dari meninggalnya Yakub sungguh indah dan mengharukan! Di sini ada seorang yang telah belajar dari pengalamannya bahwa semuanya adalah anugerah Allah, bukan perbuatannya sendiri. Ia menyadari bahwa ia sudah disunat, ia telah dijamah oleh Allah, dan tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Saya ulangi lagi bahwa Yakub telah disunat setelah ia berumur 8 hari. Dan ketika berusia 90 tahun lebih, ia dijamah oleh Allah sehingga pincang. Kini dalam usia 147 tahun, ia berbaring di atas tempat tidur, tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Ia justru memerlukan anugerah Allah, yang pada saat itu dilambangkan oleh Yusuf dan terpusat padanya. Yusuf merupakan lambang Kristus. Yakub bersandar pada anugerah Allah yang terpusat pada Kristus. Keyakinannya bukan lagi pada pahanya. Paha adalah bagian yang paling kuat pada diri kita. Dengan kekuatan paha, kita dapat berjalan dan menunjang diri kita. Paha Yakub telah disunat dan dijamah. Karena ia sudah ditamatkan seluruhnya, maka ia berpaling mutlak dari kekuatan alamiahnya kepada anugerah Allah di dalam Kristus. Tangan Yusuf mewakili tangan anugerah Allah, bukan diletakkan di atas pahanya, melainkan di bawah pahanya. Ini menandakan bahwa tangan anugerah Allah yang perkasa menunjang Yakub untuk menggenapkan janji Allah. Bukan oleh kekuatan Yakub, melainkan oleh tangan Yusuf, Yakub dibawa ke tanah permai, bagi pewarisannya yang sejati. Bukan kekuatan kita, melainkan anugerah Kristus, yang membuat kita mewarisi janji Allah.

2) Memandang Mati sebagai Tidur

Secara manusiawi, tidak seorang pun ingin mati. Tetapi Yakub memandang matinya sebagai tidur (47:30 Tl.). Walaupun tidak seorang pun suka mati, namun setiap orang menikmati tidur. Tidur itu nyaman, terutama saat kita penat dan lelah. Selama 147 tahun, Yakub terus memikul beban berat dan terlibat dalam banyak hal. Setelah menderita berbagai macam kesulitan, tibalah saatnya untuk beristirahat, tidur. Jadi, ia memandang mati sebagai tidur. Mungkin ia berkata, “Moyangku Abraham sedang istirahat. Mengapa aku harus tetap meronta-ronta menanggung beban berat? Aku ingin tidur juga.”

Yakub memandang kematiannya sebagai tidur, menunjukkan bahwa Yakub percaya kebangkitan (1 Tes. 4:13-16). Ia bukan orang Saduki — golongan modern zaman itu, yang tidak percaya adanya kebangkitan. Orang yang tidur, akan bangun setelah mendapat istirahat yang cukup. Setelah saya tidur nyenyak semalaman, niscaya pada waktu bangun terasa segar. Yakub sudah tidur 3700 tahun. Pada saat Tuhan Yesus di bumi, beberapa keturunan Yakub, orang Farisi dan orang Saduki memperdebatkan apakah Yakub dapat bangun kembali, yaitu apakah ia akan bangkit. Orang-orang Farisi golongan fundamental zaman dahulu, percaya tentang kebangkitan, namun orang-orang Saduki tidak. Tuhan Yesus tentu saja percaya akan kebangkitan. Ia bahkan memberi tahu orang-orang Saduki bahwa Allah disebut Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, menunjukkan kalau Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup (Mat. 22:32). Yakub masih beristirahat, menunggu saat kebangkitan. Boleh jadi pada saat kita berjumpa dengannya, kita akan berkata, “Selamat pagi Yakub.”

3) Berpesan kepada Yusuf agar Jangan Menguburnya di Mesir, Melainkan di Tanah Permai

Yakub berpesan kepada Yusuf agar ia tidak dikuburkan di Mesir, melainkan di tanah permai (47:29-30). Walau ia telah beroleh banyak harta di Mesir, namun ia tidak menaruh hati pada tanah itu. Hatinya ada di tanah permai. Itulah sebabnya ia berpesan kepada Yusuf agar menguburnya di tanah permai, di gua Makhpela, sehingga ia dapat mewarisi tanah permai. Yakub berpesan demikian kepada Yusuf, menunjukkan bahwa ia yakin akan janji Allah. Ia percaya bahwa tanah permai yang dijanjikan Allah pada suatu hari akan menjadi warisan dan bagian keturunannya. Yakub meninggal sebagai seorang yang penuh iman. Saya mengharapkan ketika kita meninggal, kita pun meninggal sebagai orang-orang yang penuh iman, bukan percaya akan hal-hal yang hampa, melainkan percaya akan janji Allah dalam firman-Nya. Dalam Alkitab ada banyak janji yang perlu kita percayai. Ketika kita meninggal, hendaklah meninggal dalam iman, dalam firman Allah yang dapat diandalkan yang tercantum dalam Alkitab.

Catatan tentang meninggalnya Yakub tidak menyebutkan sakitnya, wasiatnya, atau caranya membagi-bagikan harta kekayaannya di antara anak-anaknya. Tanah permai itulah harta peninggalannya dan janji Allah itulah wasiat yang diwariskan kepada anak-anaknya. Meskipun dalam pencatatan meninggalnya Yakub tidak menyinggung sakitnya atau warisannya, namun itu justru memberi sebuah gambaran yang indah dan mengharukan atas hidupnya di hadirat Allah. Yakub itu benar-benar manusia ilahi. Menjelang ajalnya, ia tidak merasa terancam. Sebaliknya, karena ia penuh iman dan pengharapan, maka ia menikmati kematiannya.

4) Menyembah Allah

Sambil Bersandar pada Kepala Tongkatnya

Menjelang meninggalnya, Yakub menyembah Allah (47:31; Ibr. 11:21). Seseorang yang menjelang meninggal bisa menyembah Allah, ini bukanlah hal yang tidak berarti. Yakub bersujud di sebelah kepala tempat tidurnya. Kita telah nampak bahwa ia terbatas di tempat tidur, menyatakan bahwa ia tidak lagi memiliki kekuatan alamiah, tidak berdaya bergerak, dia sepenuhnya bersandar kepada Allah. Jadi, di sanalah ia sujud kepada Allah.

Terjemahan Septuagin terhadap bagian akhir 47:31 ialah “pada kepala tongkatnya”. Ketika Paulus menulis Ibrani 11:21, ia tidak mengutip dari bahasa Ibrani, melainkan dari ungkapan Septuagin. Sebab itu Ibrani 11:21 mengatakan, “Karena iman, ketika hampir waktunya akan mati, Yakub . . . menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya.” Ditinjau dari sudut rohani, ini sangat berarti. Tempat tidur melambangkan Yakub kehilangan tenaga insani, namun tongkat melambangkan ia penuh pengalaman terhadap Allah dalam seumur hidupnya. Tongkat ini adalah tanda Yakub hidup sebagai musafir. Kejadian 32:10 mengatakan, “. . . sebab aku membawa hanya tongkatku ini waktu aku menyeberangi Sungai Yordan ini.” Dalam hidupnya sebagai musafir, Allah selalu menyertainya. Karena itu, pada akhir hidupnya, Yakub menyembah Allah di atas tempat tidur, menyatakan ia tidak bertenaga sama sekali; sedangkan bersandar pada kepala tongkat menyatakan Allah yang ia sembah telah menggembalakan dia seumur hidupnya. Yakub menyembah Allah bukannya tanpa pengalamannya sendiri. Ia bukannya menyembah Allah secara obyektif. Menjelang meninggal, ia menyembah Allah yang ia alami sepenuhnya dalam seumur hidupnya sebagai musafir. Inilah akhir yang kudus dari seorang musafir yang sedemikian matang. Saya mengharapkan, kiranya menjelang kita meninggal, kita pun bisa demikian menyembah Allah; bukan menyembah Dia yang belum pernah kita alami, melainkan menyembah Dia yang telah kita alami seumur hidup kita. Yakub bukannya membicarakan Allah secara doktrinal, atau menyembah Dia secara formal. Ia menyembah Allah menurut pengalamannya. Allah yang Yakub sembah berhubungan erat dengan tongkat Yakub. Tongkat ini adalah kesaksian yang menyatakan bahwa Yakub adalah musafir di bumi (Ibr. 11:13), dan selalu di bawah bimbingan Allah (48:15). Menurut Ibrani 11:13, Yakub adalah salah satu di antara mereka yang mati dalam iman, berharap bahwa pada suatu hari akan memasuki apa yang telah dijanjikan oleh Allah.

Menyembah Allah sambil bersandar pada kepala tongkat, tentunya meletakkan tangannya pada tongkat itu. Yakub menyuruh Yusuf meletakkan tangan di bawah pangkal pahanya, menunjukkan bahwa Yakub bersandar seluruhnya pada tangan anugerah Allah. Tetapi Yakub menaruh tangannya pada kepala tongkat, berarti ia mengakui bahwa seumur hidupnya ia selalu di bawah rawatan anugerah Allah.

5) Teringat akan Kematian Rahel yang Menyedihkan

Dalam Kejadian 48:7, kita nampak bahwa menjelang meninggal, Yakub teringat akan kematian Rahel yang me-nyedihkan. Yakub setia terhadap Rahel, memberi Yusuf, anaknya, dua bagian tanah (48:5-8, 20, 22). Apa yang Yakub lakukan terhadap Efraim dan Manasye dalam pasal 49 adalah demi Rahel. Anak sulung Yakub adalah Ruben, yang kedua adalah Simeon, sedang yang kesebelas adalah Yusuf, anak sulung dari Rahel. Anak Yakub yang kedua belas adalah Benyamin, dilahirkan oleh Rahel pula. Kedua anaknya yang pertama dilahirkan oleh Lea. Tetapi Yakub ingin mengangkat kedua anak Yusuf, yang dilahirkan Rahel, untuk menggantikan kedua anaknya yang pertama, Ruben dan Simeon. Dalam hati Yakub, kedua anak Yusuf dianggap dua anaknya yang pertama. Dalam pasal 48, Yusuf membawa kedua anaknya ke hadapan Yakub. Lalu Yakub berkata, “Maka sekarang kedua anakmu yang lahir bagimu di tanah Mesir, sebelum aku datang kepadamu ke Mesir, akulah yang empunya mereka; akulah yang akan empunya Efraim dan Manasye sama seperti Ruben dan Simeon” (ayat 5). Dengan kata lain, mereka akan menggantikan Ruben dan Simeon. Seolah-olah Yakub berkata, “Yusuf, kedua anakmu, Efraim dan Manasye, bukan lagi bagimu; mereka adalah bagiku, dan aku pun bagi Rahel.” Hak kesulungan di antara anak-anak Yakub, telah beralih dari Ruben kepada Yusuf, melalui keinginan Yakub yang selalu mengingat Rahel di dalam hatinya. Dengan berbuat demikian, dengan sendirinya ia telah menegaskan Rahel sebagai istrinya yang sejati. Allah menghargai tindakan Yakub ini, dan ini dijadikan fakta melalui undian tanah sewaktu orang-orang Israel memasuki tanah permai.

Hari ini, di tengah-tengah umat manusia, tidak ada kesetiaan antara laki-laki dengan perempuan. Namun dari contoh Yakub kita nampak kesetiaan dan kejujuran Yakub terhadap Rahel. Sejak hari pertama Yakub melihat Rahel, Yakub sudah jatuh cinta dan hatinya tidak pernah berubah. Yakub itu setia, dan Allah menghargai kesetiaan ini. Bertahun-tahun setelah kematian Rahel, Yakub mengangkat kedua anak Yusuf sebagai kedua anaknya yang pertama. Dalam tahun-tahun itu, Yakub tidak pernah melupakan Rahel. Ia terus setia kepadanya. Cinta sejati antara laki-laki dengan perempuan selalu dihargai oleh Allah. Kalau Anda (saudara) tidak mencintai seorang perempuan, janganlah menikah dengan dia. Tetapi apabila Anda menikah dengannya, Anda harus mencintai dia, bahkan dengan kasih yang setia dan tulus. Dalam pergaulan masyarakat hari ini, cinta kasih macam ini telah hilang. Seseorang bisa saja hari ini mencintai orang lain, namun sebentar saja sudah berubah. Tidak ada yang lebih menyalahi ketentuan Allah daripada cinta yang tidak setia seperti ini. Jika Anda menikah dengan seseorang, haruslah Anda mengasihinya sampai pada kesudahannya. Alangkah mengharukan melihat seseorang menjelang ajalnya masih teringat akan kekasihnya! Cinta Yakub tidak pernah berubah. Boleh jadi ada orang berkata kepada-nya, “Yakub, engkau sudah berusia 147 tahun, bahkan hampir tutup usia. Rahel sudah meninggal 40 tahun. Engkau tidak perlu ambil pusing tentang ini. Apa perlunya engkau memanggil Yusuf, dan menyuruh dia memberikan kedua anaknya untuk mewakili kedua anakmu yang pertama? Yakub, engkau berbaring saja di atas tempat tidur, sambil berpulang dengan tenteram.” Namun, Yakub setia kepada Rahel dalam hal mengangkat kedua anak Yusuf menjadi kedua anaknya yang pertama, sehingga Yusuf menjadi putra sulungnya, yang menerima dua bagian tanah dan bisa tercantum dalam firman Allah yang kudus. Di bawah kedaulatan Allah, ketika Yosua mengundi pembagian tanah (Yos. 14), maka bagian yang Yakub berikan kepada Yusuf, diberikan kepada Efraim dan Manasye. Ini membuktikan bahwa tindakan Yakub ini dihargai oleh Allah. Cinta suami terhadap istri tidak pernah boleh berubah. Bila Anda setia mencintai dia, Allah pasti menghargai kesetiaan itu. Inilah moralitas yang tertinggi.

6) Mengenal Allah

yang Menggembalakan Dia Selama Hidupnya

Dalam Kejadian 48:15 Yakub mengatakan bahwa Allah adalah “Allah yang telah menjadi gembalaku selama hidupku sampai sekarang.” Saya mengharapkan, sewaktu kita me-ninggal, kita semua dapat mengatakan bahwa selama hidup kita, kita berada di bawah penggembalaan Allah. Kiranya kita dapat berkata, “Aku bukan domba yang tanpa gembala. Tuhan itulah gembalaku seumur hidupku. Sekalipun seka-rang aku segera meninggal, aku tetap di bawah penggembalaan-Nya. Aku tidak memilih jalanku sendiri. Dialah yang membimbing aku, dan aku di bawah penggembalaan-Nya.”

7) Bernubuat mengenai Kedua Belas Putranya

Menjelang meninggal, Yakub bernubuat mengenai kedua belas putranya (49:1-2). Yakub bukan bernubuat dengan mengatakan, “Demikianlah firman TUHAN (Yehova).” Melainkan melalui bersatu dengan Allah, ia berbicara bagi Allah. Apa yang dikatakan Yakub menjadi firman Allah. Yakub adalah juru bicara Allah. Inilah bernubuat (bertutur-sabda) yang kita jumpai dalam Perjanjian Baru. Misalnya, dalam 1 Korintus 7 Paulus berkata bahwa ia tidak ada perintah Tuhan, tetapi ia telah dibelaskasihani Tuhan, sehingga menjadi orang yang setia, demikianlah ia memberi tahu kita pendapatnya. Meskipun demikian, perkataannya adalah firman Allah, karena Paulus mutlak bersatu dengan Allah. Yakub dapat bernubuat sedemikian, menunjukkan dengan kuat bahwa ia telah matang dalam hayat. Karena ia telah menjadi satu dengan Allah, maka ia menjadi matang dalam hayat. Karena itu, apa yang dikatakannya adalah firman Allah. Ia tidak menyatakan bahwa Allah menyuruhnya mengatakan sesuatu; ia juga tidak mengumumkan: “Demikianlah firman TUHAN.” Ia hanya berbicara begitu saja, dan kata-katanya adalah firman Allah. Allah menghargai ini dan menggenapkan hal ini. Allah telah menggenapkan nubuat pemberkatan yang diucapkan oleh Yakub terhadap kedua belas putranya. Ini membuktikan bahwa ia meninggal di dalam kematangan hayat. Meninggalnya Yakub menyatakan kematangannya.

8) Dikuburkan dengan Kehormatan yang Besar

Dalam Kejadian 50:1-13 kita nampak catatan tentang penguburan Yakub, yang lebih megah daripada pemakaman kenegaraan. Ketika Yusuf pergi menguburkan ayahnya, “Bersama-sama dengan dia berjalanlah semua pegawai Firaun, para tua-tua dari istananya, . . . Baik kereta maupun orang-orang berkuda turut pergi ke sana bersama-sama dengan dia, sehingga iring-iringan itu sangat besar” (Kej. 50:7, 9). Ini menandakan bahwa Yakub telah dikuburkan secara kenegaraan dengan penuh kehormatan. Karena Yakub penuh dengan pengharapan, menantikan kebangkitan, maka ia berpesan kepada Yusuf, anaknya, agar pelaksanaan penguburannya sesuai dengan janji Allah. Hanya orang-orang yang tidak beriman, yakni orang-orang yang tidak percaya kepada Allah, mengabaikan perkara pemakaman mereka. Jika kita yakin akan kebangkitan, hendaklah kita mengatur penguburan kita dengan baik, agar orang-orang nampak bahwa kita bukan orang yang tidak berpengharapan. Kita sedang menunggu untuk dibangkitkan secara mulia guna berjumpa dengan Tuhan.

Meninggalnya Rasul Paulus menyatakan kemenangan. Namun, meninggalnya Paulus itu adalah mati martir, sedangkan meninggalnya Yakub itu mati normal. Mati martir bukanlah menyatakan mati normal dari seseorang yang mengasihi Allah. Mati secara normal macam ini dapat kita lihat dalam catatan mengenai Yakub. Itulah alasannya saya menghargai meninggalnya Paulus sebagai martir, namun saya lebih menyukai meninggalnya Yakub, sebab memberi kita suatu gambaran tentang cara meninggal yang normal dari anak-anak Allah. Tentang meninggalnya Yakub, tidak ada hal-hal yang menyedihkan atau tidak menyenangkan. Sebaliknya, segala sesuatunya malah memberi dorongan dan pembinaan. Setiap kali saya membaca pasal-pasal yang melukiskan meninggalnya Yakub ini, saya selalu terbina dan berkata, “Tuhan, berilah aku anugerah agar aku tidak takut mati. Kapan kematian menimpa seturut pengaturan-Mu, aku ingin menerimanya seperti Yakub.” Tetapi sikap ini memerlukan kematangan hayat. Yakub yang telah menjadi Israel, sudah matang dalam hayat. Karena itu ia dapat meninggal dengan demikian unggul.