PERAMPUNGAN SEMPURNA EKONOMI ALLAH DALAM ALKITAB
Melalui berita ini kita akan menyimpulkan rangkaian berita atas pasal 49. Pasal 49 merupakan catatan tentang nubuat pemberkatan Yakub terhadap anak-anaknya. Berkat-berkat ini diberikan dalam gambar, tanda, dan lambang. Semua ini perlu diterangkan menurut arti kiasannya. Kita telah nampak bahwa hampir semua benih kebenaran Alkitab tertabur dalam Kitab Kejadian. Benih-benih ini bertumbuh dan berkembang dalam kitab-kitab selanjutnya dan dituai dalam Kitab Wahyu. Karena Kitab Kejadian adalah kitab yang mencakup benih-benih kebenaran Alkitab, maka kesimpulan pasal 49 seharusnya berpadanan dengan kesimpulan seluruh Alkitab. Dalam dua pasal terakhir Kitab Wahyu terdapat dua hal yang penting: berkat universal serta tempat kediaman kekal Allah dengan manusia.
Sebelum kita melihat berkat universal serta tempat kediaman kekal ini, kita perlu meninjau lagi pasal 49. Keempat putra Yakub yang pertama ialah Ruben, Simeon, Lewi, dan Yehuda. Menurut catatan Perjanjian Lama, keempat putra ini jahat. Yang pertama dan keempat, yaitu Ruben dan Yehuda, penuh dengan hawa nafsu. Yang kedua dan ketiga, yaitu Simeon dan Lewi, penuh dengan amarah. Hawa nafsu dan amarah adalah karakter orang jahat. Dalam undang-undang Kerajaan Surga yang tercantum pada Matius 5, 6, dan 7, Tuhan Yesus dengan tegas menyinggung tentang hawa nafsu dan amarah. Jika seseorang bisa lepas dari kedua hal ini, ia takkan berdosa. Manusia berdosa terutama dikarenakan penuh hawa nafsu dan amarah. Puji Tuhan bahwa dalam anugerah-Nya, Ia telah menyelamatkan keempat anak Yakub yang pertama. Tidak hanya demikian, dua di antaranya bahkan berubah dengan sangat ajaib. Lewi berubah menjadi imam-imam, Yehuda menjadi raja-raja. Orang dosa menjadi imam dan raja. Inilah yang digenapkan oleh karunia keselamatan yang rajani.
Karunia keselamatan ini telah diberitakan ke dunia orang kafir melalui Zebulon, anak Yakub yang kelima. Setelah Zebulon mengirim keluar Injil ini, Isakhar masuk sebagai perhentian, yakni menikmati perhentian pada Injil yang digenapkan oleh Yehuda dan yang diberitakan oleh Zebulon. Orang yang beroleh selamat menikmati perhentian dalam karunia keselamatan Allah. Setelah Isakhar, datanglah Dan yang membawa masuk kemurtadan. Meskipun Dan menyimpang dari jalan Allah, namun Gad datang untuk memulihkan keadaan ini. Jadi, pada Dan ada kemurtadan, pada Gad ada pemulihan. Pemulihan Gad mendatangkan keserbacukupan dari kelimpahan Kristus yang dilambangkan oleh Asyer. Kemudian Naftali, melambangkan kebangkitan yang di dalamnya terkandung kelimpahan Kristus.
Setelah kesepuluh putra yang di depan, kita sampai pada dua yang terakhir: Yusuf dan Benyamin. Jika Anda meneliti catatan mengenai kedua putra ini, Anda akan menemukan bahwa terhadap mereka, tidak ada catatan mengenai cacat-cela atau kegagalan sedikit pun. Meskipun Alkitab memuat panjang lebar tentang Yusuf, namun tidak terdapat isyarat bahwa ia pernah bersalah atau gagal. Yusuf itu sempurna. Dan walaupun kita tidak dapat mengatakan bahwa Benyamin itu sempurna, tetapi dalam catatan riwayat hidupnya tidaklah dijumpai cacat-cela. Yusuf disebut sebagai ranting-ranting pohon yang berbuah banyak dan Benyamin disebut sebagai anak tangan kanan. Yusuf banyak berbuah, Benyamin di sebelah kanan Allah, ini amat bermakna. Keduanya berada dalam kebangkitan. Kedua keistimewaan ini dapat dengan mudah diterapkan pada diri Tuhan Yesus. Kristus adalah Anak yang unik dari pohon yang berbuah banyak. Ia pun Anak yang unik di sebelah kanan Allah. Sebab itu, Yusuf dan Benyamin kedua-duanya melambangkan Kristus. Yusuf melambangkan Kristus yang sempurna, mendatangkan berkat Allah yang tak terbatas. Benyamin melambangkan Kristus mendatangkan tempat kediaman kekal Allah.
Kejadian 49:22-26 dan Ulangan 33:13-16 menunjukkan bahwa berkat yang diperoleh Yusuf itu universal dan kekal. Dari gunung-gunung sejak dahulu sampai ke bukit-bukit kekekalan, menunjukkan waktu dan ruang. Berkat yang didatangkan Kristus memenuhi setiap pelosok alam semesta. Ketika langit baru dan bumi baru tiba, di alam semesta tidak ada yang lain, kecuali berkat. Inilah berkat ditambah berkat. Inilah hayat Yusuf, hayat yang mendatangkan berkat.
Catatan tentang Benyamin dalam Kejadian 49 dan Ulangan 33 sangat singkat. Namun catatan yang singkat ini memberikan gambaran yang jelas atas hayat Benyamin. Hayatnya mendatangkan tempat kediaman Allah. Akhirnya, tempat kediaman ini menjadi tempat kediaman kekal Allah. Dalam catatan mengenai Yusuf dan Benyamin, kita nampak suatu pernyataan yang tegas tentang apa hasrat hati Allah itu. Demikianlah kata-kata Musa yang menyang-kut Yusuf, “dengan perkenanan Dia yang diam dalam semak duri” (Ul. 33:16). Sewaktu Allah memanggil Musa, Musa nampak semak duri yang menyala. Dari semak duri yang menyala itu Allah berfirman kepadanya. Kemudian barulah Musa mengerti bahwa Allah yang diam dalam semak duri itu telah menaruh hasrat untuk mempunyai tempat kediaman di bumi. Inilah sebabnya Ia memanggil umat Israel keluar dari tanah Mesir, memimpin mereka masuk ke padang belantara, dan berpesan kepada mereka untuk mendirikan kemah bagi-Nya. Ketika Allah memanggil Musa, Ia berfirman kepadanya dari semak duri. Tetapi setelah kemah didirikan, Allah berfirman dari kemah (Im. 1:1). Ini menunjukkan bahwa kehendak Allah ialah ingin mempunyai tempat kediaman bersama manusia di bumi.
Ulangan 33:12 mengatakan, “Tentang Benyamin ia berkata: Kekasih TUHAN yang diam pada-Nya dengan tenteram! TUHAN menaungi dia sepanjang hari dan diam di antara bahunya.” (TL.). Ayat ini mengatakan bahwa Allah diam di antara bahu Benyamin. Benyamin akan diam pada Tuhan dengan tenteram. Dengan kata lain, Benyamin akan menjadi tetangga bersebelahan dengan Tuhan. Banyak orang mengira Yerusalem terletak di Yehuda, padahal terletak di Benyamin. Walaupun raja-raja berasal dari Yehuda, namun ibukotanya pada Benyamin. Yerusalem, ibukota, adalah tempat kediaman Allah. Menurut geografi, Yerusalem terletak di antara bahu Benyamin. Karena Tuhan bersemayam di sana, dan Benyamin tinggal bertetangga dengan Tuhan, maka Benyamin akan diam dengan tenteram.
Dalam berkat Yakub kepada kedua belas putranya, konsepsi mengenai berkat dan tempat kediaman ini sangatlah kuat. Kedua hal ini mendatangkan berkat alam semesta dan tempat kediaman kekal. Telah kita tunjukkan bahwa perampungan sempurna dari Alkitab justru adalah dua hal ini. Pada Kejadian 3, manusia menjadi orang berdosa. Dari antara orang-orang berdosa, banyak yang telah diselamatkan. Banyak pula dari orang-orang yang beroleh selamat ini berubah menjadi imam-imam dan raja-raja. Karunia kese-lamatan rajani telah diberitakan sebagai Injil Kerajaan, dan orang-orang yang diselamatkan ini menikmati perhentian dalam Injil ini. Setelah kemurtadan dan pemulihan, datanglah kelimpahan dalam hayat kebangkitan. Jadi, segala sesuatu yang tercakup dalam Alkitab, telah diwakili oleh nubuat pemberkatan Yakub.
Dalam Alkitab dan sejarah, terdapatlah banyak Ruben, Simeon, Lewi, dan Yehuda. Tidak hanya demikian, juga banyak orang yang beroleh selamat telah berubah menjadi imam-imam dan raja-raja. Dari jabatan raja datanglah karunia keselamatan yang diberitakan sebagai karunia keselamatan rajani. Orang-orang yang beroleh selamat yang dilambangkan oleh Isakhar mengalami perhentian dalam karunia keselamatan ini. Namun Dan, kejatuhan dalam kemurtadan telah masuk. Menyusul kemurtadan ada pemulihan dan kebangunan Gad, yang mendatangkan kelimpahan Asyer serta kebangkitan Naftali. Akhirnya, muncullah Yusuf dan Benyamin, keduanya melambangkan Kristus. Inilah ikhtisar Alkitab. Namun ikhtisar ini masih agak doktrinal; karena itu, kini kita perlu datang kepada pengalaman.
Kita adalah Ruben dan Simeon yang telah beroleh selamat, serta telah berubah menjadi Lewi dan Yehuda. Dalam hidup gereja hari ini, kita adalah imam-imam dan raja-raja. Namun, Dan — gereja yang murtad, telah masuk. Akan tetapi setelah Dan, Gad menyusul masuk, melambangkan pemulihan, mendatangkan keserbacukupan Asyer. Asyer di dalam Naftali, yakni di dalam kebangkitan. Semua ini menghasilkan Yusuf dan Benyamin. Jadi, hari ini kita bukanlah Ruben atau Simeon, melainkan Lewi, Yehuda, Yusuf, dan Benyamin. Dari hati nurani saya, saya dapat bersaksi bahwa saya dahulu adalah Ruben dan Simeon, penuh dengan hawa nafsu dan amarah. Namun setelah bertahun-tahun, saya berubah menjadi Lewi, seorang imam; Yehuda, seorang raja; bahkan saya telah berubah menjadi Yusuf, seorang yang penuh berkat; dan Benyamin, yang menjadi tempat kediaman Allah. Bagaimana Anda? Apakah Anda adalah Yusuf dan Benyamin?
Mari sekarang kita melihat berkat universal serta kediaman kekal dengan lebih rinci lagi.
I. BERKAT UNIVERSAL — LANGIT BARU
DAN BUMI BARU
A. SEGALA SESUATU DIJADIKAN BARU
Dalam Wahyu 21:1, Yohanes nampak langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu. Wahyu 21:5 mengatakan, “Ia yang duduk di atas takhta itu berkata, ‘Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” Berkat universal mempunyai ciri-ciri khas yang mengherankan: Segala sesuatunya telah diperbarui. Berkat Allah tidak mengikuti sesuatu yang usang. Sebaliknya, berkat Allah mengikuti sesuatu yang baru. Jika kita mengharapkan berkat Allah dalam hayat rohani kita, kesehatan, keluarga, rumah tangga, maka semuanya ini haruslah diperbarui. Kita perlu diperbarui, keluarga dan rumah tangga kita juga perlu diperbarui. Menurut Alkitab, segala sesuatu yang berjauhan dengan Allah itu usang; sebaliknya segala sesuatu yang kembali kepada Allah adalah baru. Misalnya, mungkin Anda mempunyai seorang istri yang baru Anda nikahi. Jika istri Anda berjauhan dengan Allah, ia itu sudah usang, sekalipun Anda baru hari ini menikah dengan dia. Sebaliknya, jika seseorang telah menikah lebih dari lima puluh tahun dan istrinya kembali kepada Allah, maka ia adalah istri yang baru.
Baru atau usangnya seseorang atau sesuatu tergantung pada hubungannya dengan Allah. Hanya Allah yang baru. Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa Allah kita perlu diperbarui. Kitalah yang perlu diperbarui. Langit, bumi, dan segala isinya perlu diperbarui, namun Allah selamanya segar dan baru. Dia adalah yang paling purba, namun Ia pun yang paling baru. Cara kita menghitung usia tua berbeda dengan Allah. Kita menghitung usia, tetapi Allah menghitung dari hubungan seseorang atau sesuatu dengan diri-Nya. Jika istri dekat dengan Allah, ia itu baru. Semakin dekat dengan Allah, semakin baru. Jika ia beserta dengan Allah dan berbaur dengan Allah, ia adalah istri yang paling baru. Kedengarannya memang aneh, bahkan sebuah meja atau kursi jika dipersembahkan kepada Tuhan, juga bisa menjadi baru. Misalnya, seorang saudari mungkin berkata, “Tuhan, pagi ini aku mempersembahkan dapur, alat-alat dapur serta perabotnya kepada-Mu.” Bila ia bertindak demikian, maka dapur dan segala isinya segera diperbarui. Anda mungkin memiliki sebuah rumah yang serba baru. Tetapi, jika rumah itu tidak berkaitan dengan Allah, itu adalah rumah usang. Mungkin Anda mempunyai sebuah mobil tua yang jelek, tetapi jika Anda berkata, “Tuhan, ini mobil-Mu, mari naik bersamaku!” Mobil Anda segera menjadi baru. Sebaliknya, boleh saja Anda mempunyai sebuah mobil baru, namun di dalamnya terdapat dua foto bintang film, maka mobil Anda segera berubah menjadi sangat usang.
Langit baru dan bumi baru akan penuh dengan berkat Allah, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama akan berlalu. Di tahun-tahun yang silam, saya selalu mengira bahwa langit baru dan bumi baru adalah baru sama sekali. Kemudian barulah saya paham bahwa langit baru dan bumi baru adalah langit lama dan bumi lama yang telah diperbarui. Sama halnya dengan kita. Ketika kita dilahirkan kembali, kita diperbarui. Makna diperbarui ialah kembali kepada Allah, dan ada sesuatu dari Allah yang dimasukkan ke dalam kita. Langit yang pertama dan bumi yang pertama telah menjadi usang karena telah dijauhkan dari Allah oleh Iblis, penghulu malaikat, dan kemudian oleh Adam, kepala umat manusia, keduanya telah memberontak terhadap Allah. Karena malaikat dan manusia menjauhi Allah, maka langit dan bumi menjadi usang. Puji Tuhan, dalam Kristus kita telah kembali ke hadapan Allah, dan menerima sesuatu dari Allah ke dalam kita! Demikianlah kita diperbarui.
Kita semua mengharapkan berkat dari Allah. Rahasia mendapatkan berkat Allah ialah membawa segala sesuatu kepada Allah, dan mempersilakan Allah masuk ke dalam segala sesuatu. Misalnya, membawa dapur Anda kepada Allah dan membiarkan Allah masuk ke dalam dapur Anda. Terhadap anak-anak Anda, bahkan rekening bank Anda, harus demikian juga. Jika Anda membawa anak-anak dan rekening bank Anda kepada Allah, Anda pasti mendapat berkat. Meskipun hari ini kita belum benar-benar berada di dalam langit baru dan bumi baru, na-mun kita dapat mencicipinya lebih dulu. Sering kali saya menyadari bahwa saya sedang mencicipi lebih dulu langit baru dan bumi baru, sebab saya dikelilingi berkat. Setiap hal di sekeliling saya adalah berkat.
B. TIDAK ADA LAGI LAUT
Ketika langit baru dan bumi baru muncul, laut pun tidak ada lagi (Why. 21:1). Lautan adalah sumber Iblis dan roh-roh jahat, yang membuat segala sesuatu menjauhi Allah. Sejak Iblis (Satan) memberontak, Allah terus-menerus bekerja untuk melenyapkan laut. Dalam Kejadian 1, Allah membatasi air laut. Dari zaman ke zaman, Allah telah melakukan banyak hal untuk mengurangi laut. Setiap kali seorang dosa beroleh selamat, laut akan lebih dibatasi. Hari ini bila ada seratus orang berdosa beroleh selamat, niscaya laut akan banyak dibatasi. Akhirnya dalam langit baru dan bumi baru, laut akan dikurangi sampai habis. Sumber segala sesuatu yang menyebabkan langit dan bumi menjauhi Allah, telah tidak ada lagi.
C. TIDAK ADA LAGI AIR MATA, MAUT, PERKABUNGAN, RATAP TANGIS, DUKACITA
Wahyu 21:4 mengatakan, “Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” Begitu laut tidak ada lagi, air mata pun tidak ada lagi. Semua air mata berasal dari laut. Setelah laut dikeringkan, kita tidak mungkin mencucurkan air mata lagi. Tambahan pula, tidak ada lagi maut, yang mencakup sakit penyakit dan kelemahan. Menurut 1 Korintus 11, mula-mula kita lemah, sakit, lalu mati. Jadi, mengatakan tidak ada lagi maut berarti tidak ada lagi kelemahan dan sakit penyakit. Laut adalah sumber maut, sakit penyakit, dan kelemahan. Setelah laut dilenyapkan, tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi maut, sakit penyakit, dan kelemahan. Juga tidak ada lagi perkabungan, ratap tangis, atau dukacita. Anda mungkin telah bertahun-tahun membaca Alkitab, namun Anda tidak pernah tahu bahwa maut adalah sumber perkabungan, ratap tangis, atau dukacita. Secara rohani, laut adalah penyebab semua itu. Begitu laut tidak ada lagi, semua perkara itu pun ikut punah.
D. TIDAK ADA LAGI KUTUK
Wahyu 22:3 mengatakan, “Maka tidak akan ada lagi kutuk” (Tl.). Hari ini di bumi hampir di mana-mana terdapat kutuk (laknat). Tetapi hari itu akan tiba, tidak ada lagi kutuk, sebab sumber kutuk — laut — telah kering.
E. TIDAK ADA LAGI MALAM
Wahyu 22:5 mengatakan, “Malam pun tidak akan ada lagi di sana.” Mengatakan tidak ada lagi malam menunjukkan tidak ada lagi kegelapan. Di bawah berkat universal Allah, setiap perkara terang dan sejernih kristal, tanpa kegelapan atau samar-samar. Inilah keadaan langit baru dan bumi baru.
Kita perlu menerapkan setiap aspek dari berkat universal ini pada diri kita. Dalam kehidupan Anda, apakah masih ada laut? Masih ada air mata, maut, kelemahan, dan penyakit? Masihkah ada perkabungan, ratap tangis, dukacita, kutuk, dan kegelapan? Bila semua ini masih ada dalam kehidupan Anda, itu menunjukkan bahwa Anda kekurangan berkat. Ketika kita membaca riwayat Yusuf, kita nampak bahwa dalam kehidupannya tidak ada kegelapan, samar-samar, atau kutuk. Bahkan pemenjaraannya pun bukan menghasilkan kutuk, melainkan berkat. Ia dianiaya oleh saudara-saudaranya, namun hasil dari aniaya itu justru adalah berkat.
Hari ini, kita dapat lebih dulu mencicipi langit baru dan bumi baru yang di dalamnya tidak ada lagi kutuk, hanya ada berkat. Jika kita masih bertengkar dengan istri atau suami, itu menyatakan bahwa kita di bawah laut, maut, kelemahan, dan penyakit. Kita masih di dalam kegelapan larut malam tanpa terang sedikit pun. Namun bila kehidupan pernikahan kita tidak ada pertengkaran, tidak ada gerutuan, hanya ada memuji Tuhan, ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan pernikahan kita, laut telah menjadi kering.
Ada satu ciri-ciri Yusuf yang sangat menonjol. Meskipun ia banyak menderita, namun ia tidak menggerutu. Ketika ia menyatakan status dirinya kepada saudara-saudaranya, ia seakan-akan berkata, “Bukan kalian yang membawaku ke mari, melainkan Allah. Aku tidak menyalahkan kalian, aku memuji Allah.” Tidak ada gerutuan pada Yusuf, hanya ada pujian. Sebab ia ada di bawah berkat, bukan di bawah kutuk. Jika Anda menggerutu, itu menandakan bahwa Anda masih di bawah kutuk. Anda mungkin memiliki banyak alasan untuk menggerutu, namun setiap alasan itu adalah kutukan. Bila Anda ini di bawah berkat Allah, tentu tidak akan ada gerutuan. Sebagai pengganti gerutuan, Anda akan berkata, “Puji Tuhan! Segala perkara bermanfaat bagiku.”
Membaca Alkitab secara obyektif dan doktrinal memang mudah. Tetapi kita perlu nampak bahwa perkara-perkara yang dicatat dalam Alkitab adalah untuk kita yang hidup pada hari ini. Tidak perlu menunggu sampai langit baru dan bumi baru, hari ini pun kita sudah dapat hidup sambil mencicipi keadaan langit baru dan bumi baru. Kita dapat hidup tanpa gerutuan, celaan, kutukan, atau kegelapan. Kita dapat menempuh hidup yang penuh berkat. Segala air mata bukanlah air mata dukacita, melainkan air mata bahagia. Inilah miniatur berkat universal yang boleh kita nikmati hari ini.
Kata “universal” menunjukkan bahwa berkat ini terdapat di mana-mana. Ini bukan berarti ketika istri saya baik kepada saya, saya mendapat berkat; ketika ia tidak baik, saya mendapat kutuk. Sesuatu itu berkat atau bukan berkat tidak tergantung pada istri Anda, melainkan tergantung pada Anda. Jika Anda menggerutu, maka sikap istri Anda terhadap Anda adalah kutuk. Jika Anda memuji Tuhan, itulah berkat.
Izinkan saya memberi tahu Anda satu rahasia: Pujian kita bisa mengubah kutuk menjadi berkat. Inilah sebabnya Perjanjian Baru mengingatkan kita untuk bersyukur kepada Tuhan atas segala sesuatu. Segala sesuatu mencakup desas-desus, aniaya, fitnahan, tentangan, dan tuduhan. Kita perlu memuji Allah atas segala perkara. Ketika kita memuji Dia atas segala sesuatu, maka perkara yang tidak menyenangkan pun akan menjadi indah. Ketika kita bersyukur kepada Tuhan atas tentangan, maka tentangan itu akan berubah menjadi berkat. Inilah rahasia menikmati berkat universal pada hari ini. Meskipun kita hidup di tengah-tengah zaman yang gelap, kita tetap dapat terlebih dulu mencicipi kehidupan langit baru dan bumi baru. Pencicipan ini mutlak tergantung pada pengenalan dan pelaksanaan kita. Jika kita mempraktekkan pujian menggantikan celaan, kita akan berada di bawah berkat. Kalau tidak, kita akan berada di bawah kutukan. Haleluya! Dalam gereja kita berada di dalam miniatur langit baru dan bumi baru. Semua perkara di sini adalah berkat.
II. TEMPAT KEDIAMAN YANG KEKAL —
YERUSALEM BARU
A. KEMAH ALLAH
DI TENGAH-TENGAH MANUSIA
Sekarang kita akan melihat tempat kediaman yang kekal. Wahyu 21:3 mengatakan, “Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata, ‘Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.” Menurut Perjanjian Baru, umat Allah adalah tempat kediaman Allah. Ada orang Kristen mengira bahwa tempat kediaman Allah ada di tengah-tengah kita ini bukan secara batiniah, melainkan secara lahiriah. Kalau demikian, jika ada seribu orang kudus, dan Allah tinggal di antara mereka, maka mereka akan menganggap Allah sebagai Persona yang keseribu satu. Namun Allah itu tinggal di dalam kita, tempat kediaman-Nya di tengah-tengah kita adalah secara batiniah. Jadi, kalau seribu orang kudus berkumpul bersama, dan Allah ada di tengah-tengah mereka, maka Allah bukanlah Persona yang keseribu satu, melainkan Ia justru di dalam keseribu orang kudus itu.
Ada orang Kristen tidak percaya perihal Allah berbaur dengan manusia. Namun demikian, Alkitab penuh dengan pikiran tentang Allah berbaur dengan manusia, sebab umat Allah menjadi tempat kediaman-Nya. Tempat kediaman Allah itu kecil namun juga besar. Ketika kita kumpul bersama, kita semua merupakan sebuah tempat kediaman yang korporat. Ketika saya tinggal sendirian di rumah, saya juga tempat kediaman Allah. Tetapi bila saya berkumpul bersama orang lain, bukan berarti orang-orang lain juga meru-pakan tempat-tempat kediaman-Nya secara individu. Ketika kita berhimpun bersama, kita bukan merupakan tempat-tempat kediaman yang banyak, melainkan kita merupakan satu tempat kediaman Allah. Namun ketika kita sendirian di rumah, barulah masing-masing merupakan tempat kediaman Allah. Pada saat ini, Allah mempunyai banyak tempat kediaman. Ketika saya sendirian, saya boleh berkata, “Tuhan, kini Engkau mempunyai satu tempat kediaman. Aku inilah rumah-Mu, tempat kediaman-Mu.” Tetapi begitu saya datang ke sidang gereja, saya tidak seharusnya memandang diri sendiri sebagai tempat kediaman Tuhan yang individu, yang terpisah dengan yang lain. Kalau saya berbuat demikian di dalam sidang, saya sudah bukan lagi tempat kediaman Allah. Pada waktu sendirian, saya merasa bahwa saya adalah tempat kediaman Allah dan Allah beserta dengan saya. Namun dalam sidang gereja, jika saya tetap mengukuhi konsepsi ini, niscayalah akan terasa bahwa saya bukan lagi tempat kediaman Allah. Ketika kita berhimpun bersama, kita hanyalah satu rumah saja, satu tempat kediaman Allah. Ini adalah perkara pengalaman, bukan perkara doktrin.
Allah tinggal di dalam kita, kita menikmati Dia sebagai tetangga kita. Allah itu tetangga yang paling baik, sehingga kita takkan pernah sendirian, sebab Ia selalu beserta dengan kita. Bila Allah di samping kita, maka kita tenteram. Hari ini setiap orang, terutama anak-anak kecil, menginginkan ketenteraman. Ketika cucu-cucu saya bersama neneknya, mereka merasa tenteram. Tetapi di depan orang asing, mereka merasa tidak tenteram. Ketika Allah, Sang tetangga yang paling baik ini, beserta dengan kita, niscaya kita tenteram.
B. TERSUSUN DARI UMAT TEBUSAN ALLAH
Tempat kediaman kekal Allah tersusun dari umat tebusan-Nya, baik dari Perjanjian Lama yang diwakili oleh nama-nama kedua belas suku Israel, maupun dari Perjanjian Baru yang diwakili oleh nama-nama dua belas rasul Anak Domba. Dalam penebusan Allah, Ia tinggal di dalam dan di antara umat-Nya. Demikianlah kita menjadi tempat kediaman-Nya yang kekal.
C. ALLAH DAN ANAK DOMBA
SEBAGAI BAIT SUCI
Jangan memperhatikan ajaran yang menyesatkan yang mengatakan bahwa tidak ada perihal Allah berbaur dengan manusia dan di dalam kita tidak ada sifat ilahi. Yang Allah berikan kepada kita dan yang disalurkan ke dalam kita jauh lebih banyak daripada ini. Akhirnya kita akan menjadi rumah Allah, tempat kediaman Allah, bahkan Allah dan Anak Domba menjadi Bait Suci kita (Why. 21:22). Yerusalem Baru akan menjadi kemah Allah, tempat kediaman Allah, yang pada satu pihak tersusun dari umat tebusan dan di pihak lain tersusun dari Allah dan Anak Domba. Dalam tempat kediaman Allah yang kekal tidak ada Bait Suci, sebab Allah dan Anak Domba itulah Bait Sucinya. Bait Suci Perjanjian Lama bukan sekadar tempat kediaman Allah, tetapi juga tempat para imam melayani Allah. Sebagai umat tebusan Allah, kita akan tinggal selamanya di dalam Allah. Kita menjadi tempat kediaman-Nya (Yoh. 14:23), Ia menjadi tempat kediaman kita (Mzm. 90:1). Jadi, ini adalah tempat saling huni. Allah akan tinggal di dalam kita dan kita akan tinggal di dalam-Nya. Dia menjadi kenikmatan kita, kita pun menjadi kenikmatan-Nya. Memandang wajah-Nya adalah kesukaan kita, memandang wajah kita adalah kesenangan-Nya.
D. ALLAH SEBAGAI TERANG,
ANAK DOMBA SEBAGAI LAMPU
Dalam tempat kediaman Allah yang kekal, Allah di dalam kita akan menjadi terang kita, dan Kristus menjadi lampu kita untuk mengekspresikan Allah yang ada di dalam kita (Why. 21:11, 23; 22:5).
E. TAKHTA ALLAH
SEBAGAI SUMBER SUPLAI
Wahyu 22 mengatakan bahwa kita dapat menikmati takhta Allah. Ketika Ia tinggal di dalam kita, takhta-Nya pun ada pada kita, bukan di dalam kita. Sehingga kita mempunyai takhta, kekuasaan Allah sebagai sumber suplai.
F. SUNGAI AIR HAYAT
DENGAN POHON HAYAT SEBAGAI SUPLAI
Air hayat mengalir dari takhta Allah, di dalamnya ada pohon hayat sebagai suplai (Why. 22:1-2). Jika Allah tinggal di dalam kita, kita mempunyai suplai hayat.
G. KEKUASAAN, WAJAH, DAN NAMA ALLAH SEBAGAI KENIKMATAN YANG TERUTAMA
Dalam Yerusalem Baru kita akan berbagian dalam kekuasaan Allah, serta menikmati wajah dan nama-Nya (Why. 22:3-4). Kita akan selalu memandang wajah-Nya, nama-Nya akan tertulis pada dahi kita. Inilah kenikmatan kita yang terutama dalam Yerusalem Baru.
Inilah berbagai aspek dari tinggalnya Allah di dalam kita. Kita tidak perlu menunggu sampai Yerusalem Baru untuk mengalaminya. Hari ini juga kita sudah dapat mengalami semua ini. Tetapi, ketika kita memasuki Yerusalem Baru, kita akan menemukan hal yang baru. Kita akan berkata, “Oh! Kami tidak pernah mengalami hal-hal ini secara demikian. Sekarang kami telah menemukan hal-hal yang tidak pernah kami pikirkan dapat kami alami.”
Pada akhir pasal 49, tidak ada lagi orang berdosa. Tidak ada lagi Ruben dan Simeon. Sebagai gantinya ialah Yusuf yang menunjukkan bahwa Allah telah menjadi berkat kita, dan Benyamin yang menunjukkan bahwa kita telah menjadi tempat kediaman Allah. Berhubung Benyamin itu tempat tinggal Allah, maka ia menikmati penyertaan Allah. Benyamin menikmati ketenteraman dan Allah menikmati Benyamin sebagai tempat kediaman-Nya. Allah telah menjadi berkat kita, dan kita telah menjadi tempat kediaman-Nya. Segala apa adanya Allah, segala milik Allah, dan segala yang dapat Allah perbuat, menjadi kenikmatan dan berkat kita; sedang segala apa adanya kita dan milik kita, menjadi tempat kediaman Allah. Akhirnya Allah dengan kita, kita dengan Allah menjadi satu. Dalam langit baru dan bumi baru serta Yerusalem Baru, tidak ada lagi orang dosa, tidak ada lagi laut, maut, kelemahan, penyakit, air mata, dukacita, perkabungan, atau kegelapan. Segala sesuatunya adalah Allah sendiri. Allah itu berkat kita, dan kita ini tempat kediaman Allah. Kita menikmati Dia, dan Dia menikmati kita. Inilah perampungan sempurna dari nubuat yang disertai pemberkatan oleh Yakub kepada kedua belas putranya. Hari ini, kita adalah kedua belas putra ini, yang menikmati Allah sampai puncak tertinggi serta menjadi tempat kediaman Allah. Karena itu, kita dapat menikmati Allah, Allah pun bisa di dalam kita menikmati segala adanya kita terhadap-Nya.