MAKNA ROHANI YUSUF DAN BENYAMIN (3)
Telah berulang kali kita tunjukkan bahwa catatan pemberkatan Yakub yang terdapat dalam Kejadian 49, dimulai dari seorang berdosa dan berakhir pada berkat universal dan kediaman yang kekal. Bila kita mempunyai pengenalan yang tepat terhadap Alkitab, kita akan nampak bahwa antero Alkitab berakhir pada berkat universal Allah serta tempat kediaman-Nya yang kekal. Sampai kekal kita akan berada di bawah berkat universal, menjadi tempat kediaman Allah yang kekal. Inilah langit baru dan bumi baru dengan Yerusalem Baru. Langit baru dan bumi baru akan menjadi ruang lingkup berkat universal. Kita akan berada di bawah berkat ini, menjadi Yerusalem Baru. Menurut gambaran dalam Wahyu 21 dan 22, dalam lingkungan langit baru dan bumi baru tidak ada yang lain kecuali berkat, berkat ditambah berkat. Segala sesuatu dalam lingkungan itu berupa berkat terhadap Yerusalem Baru, tempat kediaman Allah yang kekal. Kita sebagai umat pilihan Allah akan menjadi tempat kediaman tersebut, yang berada di dalam dan di bawah berkat universal. Inilah perampungan sempurna dari wahyu Alkitab.
Sangatlah menarik bahwa catatan sederhana dan pendek tentang nubuat pemberkatan Yakub ini berakhir pada kesimpulan yang sama seperti kesimpulan seluruh Alkitab. Walau tak ada dosa dalam dua pasal pertama Kitab Kejadian, namun dosa telah masuk dalam pasal 3. Orang dosa dalam Kejadian 3 adalah Ruben yang riil. Sedangkan dalam dua pasal terakhir dari Alkitab, akan terdapat Yusuf serta Benyamin yang riil. Kita dapat mengatakan bahwa Yusuf itu lambang berkat universal. Semua berkat terletak di atas kepala orang yang terpisah dari saudara-saudaranya itu. Benyamin adalah lambang tempat kediaman Allah yang kekal. Haleluya, gereja dalam pemulihan Tuhan hari ini meru-pakan miniatur berkat universal dan tempat kediaman kekal! Dalam gereja kita memiliki berkat ditambah berkat. Di bawah berkat yang demikianlah kita menjadi tempat kediaman Allah.
Kedua perkara ini, berkat dan tempat kediaman, terda-pat dalam Surat-surat Kiriman dalam Perjanjian Baru. Boleh jadi kebanyakan orang Kristen tidak memperhatikan perkara ini dalam Surat-surat Kiriman. Tetapi kedua perkara ini merupakan garis besar dari Surat-surat Kiriman, karena semua Surat Kiriman menyinggung tentang berkat Allah. Contohnya Surat Efesus. Efesus 1:3 mengatakan, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga.” Di sini kita menjumpai perihal berkat. Efesus 1:23 membicarakan tentang Tubuh, dan Efesus 2:22 tentang tempat kediaman, kedua-duanya melambangkan tempat kediaman Allah. Dalam Efesus 3:16-17 Rasul Paulus berdoa agar Bapa menguatkan dan meneguhkan kita oleh Roh-Nya di dalam manusia batiniah sehingga Kristus bisa tinggal di dalam hati kita. Jadi dalam Kitab Efesus, kitab yang pendek, telah tercakup berkat maupun tempat kediaman. Allah telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga, dengan tujuan agar kita bisa menjadi tempat kediaman-Nya.
Kalau Anda bertanya kepada saya apakah yang diwahyukan oleh Surat-surat Kiriman, saya akan menjawab bahwa surat-surat itu mewahyukan tentang berkat dan tempat kediaman. Tetapi untuk nampak hal ini, kita perlu terang dan visi. Tanpa terang dan visi, sekalipun berkali-kali membaca Surat-surat Kiriman, paling hanya nampak perkara-perkara seperti istri harus tunduk kepada suami, dan suami harus mengasihi istri, menebus waktu, rajin, dan mengasihi sesama. Jika kita melihat Surat-surat Kiriman dengan pandangan alamiah kita, tanpa terang dan visi, niscaya kita hanya nampak butir-butir yang kecil dan tidak nampak berkat serta tempat kediaman dalam Surat-surat Kiriman. Perjanjian Baru membahas mengenai berkat dan tempat kediaman.
Banyak butir yang sangat baik dan ajaib dalam Kejadian 49! Betapa saya bersyukur kepada Tuhan bahwa anak Yakub yang pertama adalah Ruben dan dua yang terakhir adalah Yusuf dan Benyamin! Seandainya Yusuf dan Benyamin adalah dua yang pertama dan Ruben yang terakhir, maka semuanya akan terbalik. Puji Tuhan, dulu kita adalah Ruben, namun hari ini kita adalah Yusuf dan Benyamin! Saya bisa bersaksi bahwa saya adalah Yusuf dan Benyamin hari ini. Siang dan malam saya berada di bawah berkat Allah dan saya pun sebagai tempat kediaman Allah. Anak-anak muda, bahkan mereka yang masih dalam SMP dan SMA, wajiblah menjadi Yusuf dan Benyamin. Sebelum kita masuk ke dalam gereja, kita tidak pernah mengerti makna Yusuf dan Benyamin. Tetapi dalam pemulihan Tuhan, bila kita bukan Yusuf dan Benyamin, lalu siapa lagi? Bukankah Anda adalah Yusuf dan Benyamin? Bukankah Anda di bawah berkat universal Allah dan bukankah Anda tempat kediaman Allah yang kekal? Sebagai Benyamin hari ini, Allah tinggal di dalam saya, dan tidak hanya di dalam saya, juga di antara kedua bahu saya.
I. BERKAT BUAH DADA DAN KANDUNGAN
Dalam berita yang lalu kita membicarakan delapan aspek yang pertama dari berkat universal. Dalam pemberkatannya terhadap Yusuf, Yakub memakai banyak ungkapan puisi, seperti gunung-gunung yang sejak dahulu, bukit-bukit kekekalan (LAI: yang berabad-abad), sampai ujung batas. Ungkapan-ungkapan yang khusus ini ditujukan kepada waktu dan ruang, bahkan seluruh waktu dari purbakala hingga kekekalan dan seluruh ruang dari langit hingga ke bawah tanah. Jadi, kalimat-kalimat puisi ini ditujukan kepada berkat universal, karena waktu ditambah ruang sama dengan alam semesta. Kita memiliki berkat yang memenuhi alam semesta. Kapan saja dan di mana saja, kita berada di bawah berkat ini. Berkat Allah memenuhi alam semesta, dari azali (kekekalan yang lampau) hingga ke abadi (kekekalan yang akan datang) dan dari langit di atas sampai kedalaman di bawah bumi. Di mana saja dan kapan saja tak ada yang lain kecuali berkat. Oh! Kita semua harus nampak visi ini dan memiliki pengenalan ini. Tidak perlu menunggu sampai langit baru dan bumi baru yang akan datang, karena dalam hidup gereja hari ini kita dapat mengecap berkat universal ini.
Walaupun kedelapan aspek pertama dari berkat yang diberikan kepada Yusuf bersifat universal, namun berkat ini sangatlah umum. Jika Anda meneliti berkat ini, Anda akan menemukan bahwa di dalamnya tidak mencakup hayat maupun tempat kediaman. Karena itu, kita perlu melihat dua aspek yang terakhir, yang satu berhubungan dengan hayat dan yang lain berhubungan dengan tempat kediaman. Ingatlah, catatan dalam Kejadian 49 adalah berbentuk puisi, sedangkan puisi atau sajak lazimnya sering menggunakan lambang-lambang. Sebuah gambar atau lambang dapat menggantikan seribu kalimat. Di bawah inspirasi Allah, dalam Kejadian 49:25, Yakub mengatakan tentang “berkat buah dada dan kandungan”. Dalam ungkapan sajak ini, kandungan melambangkan penghasilan (produksi) hayat, kelahiran hayat, dan buah dada melambangkan pemeliharaan hayat. Dalam ciptaan-Nya, Allah hanya memberkati makhluk hidup dan manusia (1:22, 28). Ia tidak memberkati karya-Nya yang rampung dalam empat hari pertama. Ia tidak memberkati matahari, bulan, bintang, atau sayur-mayur di bumi. Tetapi pada hari kelima, Allah memberkati makhluk hidup di laut dan unggas di udara, pada hari keenam Ia memberkati manusia. Jadi Allah hanya memberkati makhluk-makhluk hidup dan manusia di antara semua karya ciptaan-Nya. Ini memberi satu kesan kepada kita bahwa Allah adalah untuk hayat. Allah menghendaki adanya peng-hasilan hayat. Fakta bahwa Yusuf diberkati dengan berkat kandungan dan berkat buah dada menunjukkan bahwa ia diberkati dengan melahirkan dan memelihara hayat. Gambar-gambar ini tidak seharusnya diterapkan pada hayat binatang, juga bukan pada hayat manusia, tetapi harus pada hayat kekal. Hayat kekal adalah hayat yang tertinggi, hayat yang paling produktif. Dalam Perjanjian Baru, kita nampak bahwa hayat yang produktif itu bukanlah hayat binatang atau hayat manusia, melainkan hayat kekal. Hari ini, dalam gereja kita mengalami hayat kekal sebagai hayat yang produktif. Banyak aspek berkat dalam gereja, termasuk berkat buah dada dan kandungan, hayat yang produktif dan yang memberi pemeliharaan.
Lihatlah gambar yang dilukiskan oleh Wahyu 21 dan 22. Dalam pasal-pasal ini terdapat langit baru dan bumi baru, serta Yerusalem Baru. Di dalam Yerusalem Baru terdapat sungai air hayat. Di sungai air hayat ini tumbuh pohon hayat. Seluruh langit baru dan bumi baru serta Yerusalem Baru, berintikan pada aliran hayat. Tentunya terdapat pula aspek-aspek lain dari berkat universal, misalnya berkat dari langit, berkat dari embun, berkat dari bumi, dan benda-benda di bawah tanah. Namun Wahyu 21 dan 22 tidak menyebutkan yang lainnya itu, hanya menyinggung aliran hayat dan pohon hayat, yang mendatangkan suplai makanan. Jika Anda membaca Kejadian 49 hanya menurut hitam di atas putih, Anda tidak akan nampak masalah penghasilan (produksi) dan pemeliharaan hayat. Anda harus menyelami makna rohani atas ungkapan-ungkapan sajak yang dipakai dalam pasal ini. Haleluya, dalam hidup gereja kita memiliki berkat hayat, berkat buah dada dan kandungan, berkat aliran sungai!
Jika kita memiliki semua berkat kecuali berkat buah dada dan kandungan, ini menunjukkan bahwa kita tidak mempunyai hayat yang menghasilkan dan yang memelihara. Jika demikian halnya, kita adalah gereja yang kasihan. Seandainya binatang-binatang dan manusia yang produktif ini disingkirkan dari bumi, maka alam semesta akan kehilangan maknanya. Makna alam semesta tergantung pada hayat binatang, dan terutama pada hayat manusia. Andai-kata di California Selatan hanya terdapat rumput, bunga, dan pohon, tanpa binatang atau manusia. Bila para malaikat nampak situasi itu, mereka akan mengatakan bahwa walaupun di sini penuh berkat, namun kekurangan hayat. Sebaliknya, malaikat akan girang melihat makhluk hidup yang begitu banyak di bumi. Dalam hidup gereja, kita menikmati berkat kandungan serta buah dada, produktif dan pemeliharaan. Dalam hidup gereja hari ini, kita benar-benar memiliki aliran hayat. Dalam Yerusalem Baru, kita akan memiliki lebih banyak lagi.
J. PERKENANAN DIA
YANG DIAM DALAM SEMAK DURI
Pada akhirnya, Yusuf diberkati dengan “perkenanan Dia yang diam dalam semak duri” (Ul. 33:16). Perkara yang terakhir pada berkat universal ialah tempat kediaman Allah. Dia yang diam dalam semak duri mempunyai suatu maksud yang indah, suatu perkenanan. Setiap orang yang tinggal dalam semak duri menginginkan sebuah rumah yang lebih baik. Jika Anda tinggal dalam semak duri, niscaya Anda mendambakan sebuah rumah yang lebih baik. Saya tidak ingin tinggal di semak duri bersama Anda, saya ingin tinggal di rumah yang lebih baik bersama Anda. Jika seorang pemuda yang diam dalam semak duri ingin menikah dengan seorang gadis, tentunya cita-cita pemuda itu ialah bisa hidup bersama istrinya dalam rumah yang indah setelah mereka menikah. Sebelum kemah dibangun, Tuhan tinggal dalam semak duri (Kel. 3:4). Allah menyelamatkan umat-Nya, orang Israel, keluar dari Mesir dengan maksud agar mereka terlebih dulu membangun kemah bagi-Nya dan kemudian membangun bait suci. Musa nampak visi Allah dalam semak duri, dan Allah bersabda kepada Musa dari dalam semak duri. Tetapi dalam Imamat 1:1, Allah berfirman kepada Musa dari dalam Kemah Pertemuan. Allah memberkati umat Israel dengan maksud yang indah ini. Inilah perkenan Allah, dan melalui ini Ia memberkati umat pilihan-Nya. Allah telah memberkati umat Israel dengan berkat yang terbaik, yaitu memperoleh tempat kediaman-Nya. Berkat manakah yang lebih besar daripada ini? Akhirnya, Harun, seorang berdosa, diperbolehkan masuk ke dalam tempat maha kudus, ke hadirat Allah. Adakah berkat yang lebih besar daripada ini? Berkat yang paling tinggi ialah masuk ke dalam tempat kediaman Allah serta tinggal di hadirat-Nya. Bahkan kita sendirilah yang menjadi tempat kediaman ini.
Pada butir ini, saya ingin menunjukkan bahwa kita mustahil memahami Alkitab berdasarkan konsepsi alamiah kita. Sekalipun Anda sudah membaca Alkitab dan sanggup menghafal banyak ayat, namun kecuali Anda memiliki visi, Anda takkan nampak apa pun. Begitu Anda mendengar tentang kediaman Allah, niscaya Kitab Keluaran akan merupakan sebuah kitab yang baru bagi Anda. Kitab Keluaran dimulai dengan visi Allah yang berfirman kepada Musa dari dalam semak duri dengan maksud bahwa pada suatu hari Musa akan memimpin umat Israel keluar dari Mesir ke padang belantara, membangun sebuah kemah bagi Allah. Alangkah besarnya berkat ini! Dalam segenap Perjanjian Lama, tidak ada berkat yang lebih tinggi, lebih besar, atau lebih manis daripada berkat tempat kediaman Allah. Penulis-penulis Kitab Mazmur sering mengutarakan keinginan hatinya untuk diam dalam bait suci Allah. Mazmur 84:11 mengatakan, “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku daripada diam di kemah-kemah orang fasik.” Tidak ada berkat yang semanis atau sebesar berkat tempat kediaman Allah. Inilah berkat yang paling akhir.
Yerusalem Baru disebut kemah (tabernakel) Allah. Ketika Tuhan Yesus menjadi manusia, Dia adalah kemah Allah (Yoh. 1:1, 14), Dia juga bait Allah (Yoh. 2:19, 21). Selanjut-nya gereja dibangun menjadi bait Allah (1 Kor. 3:16). Akhirnya, seluruh Yerusalem Baru menjadi kemah yang kekal, merupakan inti berkat di antara berkat-berkat Allah. La-ngit baru dan bumi baru adalah suatu berkat, dan inti berkat itu ialah Yerusalem Baru, kemah Allah. Dalam Yerusalem Baru, Allah akan tinggal bersama kita, dan kita tinggal bersama Dia.
V. TINGGAL ( DIAM )
A. TUHAN DIAM
DI ANTARA BAHU BENYAMIN
Kejadian 49:27 mengatakan bahwa Benyamin seperti serigala yang menerkam. Tetapi Ulangan 33:12 mengatakan “Kekasih TUHAN yang diam pada-Nya dengan tenteram! TUHAN melindungi dia setiap waktu dan diam di antara lereng-lereng gunungnya (bahunya).” Terhadap musuh, Benyamin itu serigala yang menerkam (merobek-robek). Tetapi menurut Kitab Ulangan, Benyamin itu kekasih Tuhan. Mana mungkin seekor serigala yang merobek-robek bisa menjadi kekasih Tuhan? Tuhan mengasihi Benyamin, serigala yang merobek-robek, karena tempat kediaman Allah berada di wilayah Benyamin. Banyak orang Kristen mengira bahwa Yerusalem, di mana bait suci berlokasi, ada di wilayah Yehuda. Padahal Yerusalem termasuk wilayah Benyamin, yang sangat berdekatan dengan Yehuda. Raja-raja memang berasal dari keluarga Yehuda, namun ibukota Yerusalem terletak di wilayah Benyamin. Ibukota itulah kedudukan kediaman Allah. Menurut ilmu bumi, wilayah Benyamin berbentuk seperti dua bahu dan Yerusalem terletak di antara dua bahu itu. Sebab itu dikatakan, Tuhan diam di antara bahu Benyamin.
Sudah tentu yang tinggal di antara dua bahu tubuh ki-ta adalah kepala. Ini menunjukkan bahwa penghuni dalam Ulangan 33:12 ialah kepala. Allah yang berhuni di dalam bait adalah kepala. Ini berarti bahwa dalam tempat kediaman Allah, terdapat pengepalaan dan penguasaan. Kalimat yang dipakai dalam Ulangan 33:12 berbentuk puisi. Tahun-tahun yang lalu, ayat ini sama sekali merupakan teka-teki bagi saya. Saya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan Allah diam di antara bahu Benyamin. Setelah bertahun-tahun mempelajari Alkitab dan mengalami Tuhan, barulah saya mulai paham. Bila Anda memeriksa pengalaman Anda, Anda akan paham, alangkah benar dan riil bahwa Allah diam di antara bahu kita sebagai Kepala kita. Kapan saja kita memiliki kediaman Allah, kita pun memiliki kepala. Sebab itulah, di kota Yerusalem Baru terdapat takhta.
Ulangan 33:12 juga mengatakan bahwa Tuhan akan menaungi Benyamin sepanjang hari. Bagaimana Tuhan menaungi Benyamin? Kemah (tabernakel) itu merupakan naungan, karena Wahyu 7:15 mengatakan, “Ia yang duduk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka.” Bangunan Allah adalah sebuah kemah (tabernakel) dan kemah merupakan sebuah penaungan. Kemah ini adalah Kristus, juga adalah Gereja. Hari ini, kita berada di bawah naungan Kristus dan naungan gereja, karena Kristus maupun gereja adalah tempat kediaman Allah yang menaungi kita, kita tinggal di dalamnya.
B. BENYAMIN DIAM PADA TUHAN
DENGAN TENTERAM
Ulangan 33:12 mengatakan bahwa Benyamin diam pada TUHAN dengan tenteram. Benyamin adalah tetangga TUHAN. Karena ia tinggal di sebelah TUHAN dan diam dengan tenteram. Demikian pula, asalkan kita diam di samping Tuhan, kita juga akan aman. Walaupun kita belum banyak pengalaman, tetapi kita dapat bersaksi bahwa kita adalah Benyamin hari ini, di mana Allah berdiam di antara bahu kita, dan kita seluruhnya berada di bawah naungan-Nya. Dialah Tuhan, dan takhta kerajaan-Nya ada pada kita. Kita mempunyai tempat kediaman, Ia ada di sini, dan kita ting-gal berdampingan dengan Dia. Allah dan kita bertetangga. Alangkah baiknya berkat ini!
Jika Anda membaca Kitab Mazmur di dalam terang dan konsepsi tempat kediaman Allah yang terdapat dalam kitab pertama dari Alkitab, Kitab Mazmur akan menjadi baru bagi Anda. Seluruh Kitab Mazmur berkaitan dengan perkara tempat kediaman Allah ini. Banyak ayat yang menyangkut kota, bait suci, rumah, tempat kediaman atau kemah. Jika kita menyatukan semua ayat ini, kita akan nampak bahwa Kitab Mazmur berkaitan sepenuhnya de-ngan tempat kediaman Allah. Dalam salah satu mazmur, Musa berkata, “Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun” (Mzm. 90:1). Jika kita ingin Tuhan menjadi tempat kediaman kita, kita harus menjadi tempat kediaman-Nya lebih dulu. Jika Allah tidak mempunyai tempat kediaman yang terbangun di bumi, kita pun tidak dapat menjadikan Dia sebagai tempat kediaman kita. Namun kapan kala Ia mempunyai tempat kediaman di bumi, niscaya Ia menjadi tempat kediaman kita dan kita menjadi tempat kediaman-Nya. Inilah yang disebut saling huni yang diwahyukan dalam Yohanes 14 dan 15; khususnya dalam kalimat, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yoh. 15:4). “Tinggallah di dalam Aku” inilah tempat kediaman kita, “dan Aku di dalam kamu” inilah tempat kediaman-Nya. Dalam Yohanes 14:23 Tuhan Yesus dengan jelas mengatakan, “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia.” Kita akan menjadi tempat kediaman Allah dan Allah akan menjadi tempat kediaman kita. Jika kita semua memuji Tuhan atas perkara ini, kita akan bersama-Nya di dalam tempat kediaman-Nya.
Dari sepuluh aspek berkat universal, hal yang terakhir adalah tempat kediaman. Sebab itu, pada akhirnya semua berkat mengacu kepada tempat kediaman. Tujuan Allah mengaruniai kita berkat yang banyak dan bermacam-macam ialah agar kita menjadi tempat kediaman-Nya. Mengapa Allah menyelamatkan Anda? Adalah untuk tempat kediaman-Nya. Mengapa Allah terus mengaruniai Anda? Adalah un-tuk tempat kediaman-Nya. Mengapa hari ini Allah melakukan segala sesuatu bagi Anda? Semua adalah untuk tempat kediaman-Nya. Semua berkat itu mengarah kepada tempat kediaman Allah. Inilah kehendak Allah yang indah, keinginan hati Allah. Allah menuntut sebuah tempat kediaman.
Hal ini diwahyukan dalam Yesaya 66:1-2. Dalam Yesaya 66:1 kita nampak langit adalah takhta Allah dan bumi adalah tumpuan kaki-Nya, namun Allah belum memperoleh sebuah tempat perhentian. Banyak orang Kristen yang ingin ke langit (surga). Bagi mereka, surga adalah tempat yang menyenangkan. Tetapi Allah tidak seperti orang-orang Kristen ini yang begitu mengasihi surga. Dia menginginkan satu tempat perhentian. Yesaya 66:2 mewahyukan bahwa tempat perhentian Allah bukanlah langit atau bumi, melainkan manusia. Allah sedang mencari manusia. Ayat ini mengata-kan, “Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang miskin, berduka dan menyesal dalam roh, dan yang gentar kepada firman-Ku” (TL.). Ayat ini berpadanan dengan Matius 5:3, “Berbahagialah orang yang miskin di dalam roh, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga” (TL.). Orang yang dapat menjadi perhentian Allah adalah orang yang miskin, berduka dan menyesal dalam roh. Kehendak Allah yang indah ialah ingin memperoleh orang semacam ini. Allah menghendaki kita miskin, berduka dan menyesal dalam roh kita, serta dikosongkan bagi-Nya. Tetapi jika roh kita dipenuhi dengan benda-benda lain di luar Allah, kita takkan menjadi miskin di dalam roh. Jika demikian halnya, Allah tidak dapat tinggal bersama kita. Hari ini banyak orang Kristen yang rohnya telah penuh. Mereka dipenuhi dengan banyak barang, bahkan doktrin-doktrin fundamental, sehingga dalam roh mereka tidak ada ruangan bagi Tuhan. Allah memerlukan roh yang kosong. Ia menghendaki roh Anda dikosongkan bagi-Nya. Orang yang miskin di dalam roh adalah orang yang rohnya kosong, tidak diduduki oleh yang lain, kecuali tersedia bagi Tuhan untuk masuk ke dalamnya.
Menurut Yesaya 66:1-2, mereka yang miskin, berduka dan menyesal dalam roh itulah tempat perhentian Allah. Tidak ada tempat lain di alam semesta, di langit atau pun di bumi, yang merupakan perhentian Allah. Sebagai orang yang miskin, berduka dan menyesal dalam roh, kita dapat berkata, “Tuhan, mari masuk. Ya Tuhan, aku kosong, tidak diduduki oleh yang lain, dan hanya siap bagi-Mu. Mari masuk, mari tinggal di dalamku, berumah di dalamku.” Tak peduli berapa lama Anda menempuh hidup gereja, Anda perlu berdoa sedemikian, mohon Tuhan tinggal di dalam Anda. Dalam Efesus 3:16-17 Rasul Paulus berdoa supaya menurut kekayaan kemuliaan-Nya, Bapa menguatkan dan meneguhkan kita dengan Roh-Nya dalam manusia batiniah kita, sehingga Kristus dapat berumah di dalam hati kita. Paulus berdoa agar Kristus dapat tinggal di dalam hati kita. Ini bukan hanya masalah mengasihi Tuhan atau melayani Tuhan, melainkan masalah Ia tinggal di dalam kita. Pelayanan kita kepada Tuhan tidak lebih memuaskan Dia daripada kita menjadi tempat kediaman-Nya. Kita semua harus menjadi tempat kediaman Tuhan. Inilah yang Ia kehendaki dan yang Ia cari. Inilah hasrat Allah yang indah. Berkat yang paling utama ialah menjadi tempat kediaman Allah. Kediaman-Nya adalah kediaman kita pula. Kapan Allah kita mendapatkan perhentian, kita pun akan mendapatkan perhentian di dalam tempat kediaman-Nya.
Konsepsi tempat kediaman Allah dan tinggalnya kita bersama Allah ini terdapat di banyak tempat dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dari abad ke abad, dari generasi ke generasi, Allah selalu mendambakan sebuah tempat kediaman. Sayang sekali, kebanyakan umat Allah tidak nampak hal ini. Namun dalam pemulihan-Nya hari ini, Ia berkali-kali mewahyukan kepada kita tentang tempat kediaman-Nya. Saya bukannya menceritakan sesuatu yang tidak saya alami sendiri. Dalam 25 atau 30 tahun berselang, setiap kali saya membuka Alkitab, saya selalu nampak satu hal yang utama, yaitu tempat kediaman Allah. Banyak pasal dan ayat dalam Alkitab yang menyinggung Allah damba akan sebuah tempat kediaman. Inilah hasrat hati Allah, kehendak Allah yang indah. Bila Anda diberkati oleh Dia yang diam dalam semak dengan kehendak-Nya yang indah, niscaya Anda adalah orang yang paling diberkati.
Dalam satu pengertian, bahkan sampai hari ini pun Tuhan masih tinggal dalam semak duri. Lihatlah situasi di seluruh bumi. Ada apa lagi selain semak duri? Di manakah kemah? Banyak orang yang bahkan melihat bayangannya pun belum, apalagi realitasnya. Namun, betapa kita harus bersyukur kepada Tuhan bahwa dalam pemulihan-Nya, kita tidak hanya nampak bayangannya, kita justru berada di dalam tempat kediaman-Nya. Kita boleh berkata, “Tuhan, terpujilah Engkau! Bersama kami, Engkau bukan lagi di dalam semak duri, melainkan di dalam tempat kediaman-Mu.”
Kita telah nampak bahwa Tuhan telah memberkati Yusuf dengan kehendak yang indah dari Dia yang diam dalam semak duri. Siapakah Dia yang diam dalam semak duri, dan apa kehendak-Nya yang indah itu? Jika kita tidak menjelaskan menurut cara kita, lalu, bagaimana kita menjelaskannya? Dengan membaca seluruh Alkitab, kita bisa menemukan siapa yang diam dalam semak duri dan apa kehendak-Nya yang indah itu. Dia yang diam dalam semak duri, tak perlu diragukan lagi, adalah Dia yang menyuruh Musa membangun kemah bagi-Nya. Ia diam dalam semak duri, tetapi damba memiliki sebuah kemah yang dibangun dari bahan-bahan yang berharga. Itulah kehendak-Nya yang indah. Umat Israel diberkati dengan kehendak yang indah ini. Percayakah Anda bahwa Tuhan menyelamatkan orang Israel dari tanah Mesir hanya sekadar menyelamatkan mereka saja? Tidak, bukan hanya untuk itu, melainkan untuk tempat kediaman Allah. Segala sesuatu yang Allah lakukan untuk dan terhadap mereka semuanya bertujuan agar kemah dapat didirikan di tengah-tengah mereka. Setelah kemah itu didirikan, kemuliaan TUHAN turun memenuhinya (Kel. 40:34). Saat itu, umat Israel adalah umat yang paling diberkati di bumi, diberkati dengan kehendak indah dari Dia yang diam dalam semak duri, Dia yang kini diam di dalam kemah. Jadi, kemah menjadi berkat yang besar bagi umat Israel.
Sama dengan hari ini. Kehendak Tuhan yang indah ialah memperoleh gereja. Karena kita di dalam gereja, maka kita adalah orang-orang yang paling diberkati. Sebelum gereja dihasilkan, Tuhan benar-benar di dalam semak duri. Dari aspek pelaksanaan dapat dikatakan, sebelum gereja muncul dan terwujud, Tuhan berada dalam semak duri. Jelas, saat itu Dia tidak di dalam kemah. Tetapi hari ini gereja ada di sini, dan kita dapat berkata, “Puji Tuhan! Dia tidak lagi di dalam semak. Sekarang Dia berada di dalam kemah dan kita ada di sini bersama-Nya. Kita dan Allah bertetangga. Kita adalah Benyamin hari ini yang diam dengan tenteram bersama TUHAN. Haleluya!” Apa yang lebih baik daripada ini? Asal saya mempunyai tempat kediaman Tuhan dan saya di dalam-Nya, sudahlah cukup. Inilah pengalaman Benyamin, adik Yusuf.
Benyamin merupakan pasangan Yusuf yang baik sekali. Begitu pula, gereja merupakan pasangan berkat Allah yang baik sekali. Dari tahun ke tahun Allah telah memberkati Anda. Anda tidak dapat menyangkal bahwa Anda di bawah berkat-Nya. Namun tujuan berkat-Nya ialah untuk kehendak yang indah dari Dia yang diam dalam semak, dan kehendak-Nya yang indah ialah mendambakan hidup gereja sebagai tempat kediaman-Nya. Hari ini Allah dapat bermegah kepada Iblis, seteru-Nya, “Hai Iblis, lihatlah, hari ini Aku mempunyai sebuah tempat perhentian. Tempat perhentian-Ku adalah gereja. Dulu Aku pernah berkata bahwa langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku, tetapi tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku? Iblis, ketahuilah, gereja hari ini adalah tempat perhentian-Ku. Aku puas, umat pilihan-Ku juga puas.”
Banyak di antara kita bisa bersaksi bahwa sejak kita diselamatkan, kita tidak pernah demikian puas di dalam roh kita seperti hari ini dalam hidup gereja. Ini bukan berarti bahwa hidup gereja ini sudah sempurna. Tidak, belum sempurna. Namun dalam hidup gereja kita dipuaskan. Kita pernah melewati banyak tempat, tetapi tidak merasa puas. Kita tidak mendapat kepuasan sampai pada suatu hari kita masuk ke dalam gereja. Pada hari itulah kita berkata, “Inilah rumah. Aku kini puas.” Yang menyebabkan kita mera-sa di rumah dan puas ialah karena gereja adalah kemah Allah, tempat kediaman Allah. Tuhan tidak lagi di dalam semak duri, melainkan di dalam kemah. Alangkah gembiranya saya bahwa kita berada di bawah berkat universal dan kita adalah tempat kediaman Allah!
Berkat ini universal dan tempat kediaman ini kekal. Hidup gereja akan berlangsung hingga abadi. Langit lama dan bumi lama, termasuk keadaan yang lama, akan tamat, tetapi hidup gereja di mana kita berada hari ini akan berlangsung selama-lamanya. Inilah tempat kediaman yang kekal. Saya ingin meyakinkan Anda bahwa pada saat Anda masuk ke alam kekekalan nanti, Anda akan mengenang kembali pengalaman Anda dalam hidup gereja. Anda dapat mengatakan, “Oh, aku takkan dapat melupakan apa yang kualami dalam hidup gereja.” Tunggu saja, Anda akan men-jumpai kebenaran ini. Dalam lubuk batin, kita yakin sepenuhnya bahwa hidup gereja itu kekal.