RAHASIA YUSUF DIBEBASKAN DAN DITINGGIKAN
Berita ini merupakan perkataan sisipan mengenai rahasia Yusuf dibebaskan dan ditinggikan.
I. USIA YUSUF MEMENUHI SYARAT
SETELAH MENDERITA DUA TAHUN LAGI
Ada orang setelah membaca pasal 40, lalu membela Yusuf di hadapan Tuhan sambil bertanya kepada Tuhan mengapa Yusuf ditahan dalam penjara begitu lama. Sewaktu baru dipenjarakan, Yusuf berusia sekitar 17 atau 18 tahun, dan ketika ia mengartikan mimpi kedua teman sepenjaranya, ia sudah menginjak umur 28 tahun. Meskipun ia sedikit-nya telah 10 tahun dipenjarakan di liang tutupan sebelum teman-teman sepenjaranya dibebaskan, namun mimpi-mimpi-nya sendiri masih belum juga tergenapi. Boleh jadi Anda akan berkata, “Tuhan, ini keterlaluan. Engkau telah menguji Yusuf 10 tahun lamanya. Mengapa Engkau tidak membe-baskan dia ketika Engkau membebaskan kedua temannya itu? Setelah Yusuf mengartikan mimpi juru minuman, ia minta kepada juru minuman agar ingat kepadanya. Tetapi juru minuman itu melupakan Yusuf, sehingga tidak terjadi apa-apa. Ya Tuhan, memang manusia itu pelupa. Tetapi Engkau adalah Allah, Engkau tidak mungkin lupa. Meng-apa Engkau masih menahan Yusuf dalam penjara selama dua tahun lagi?” Suatu hari, saya diterangi sehingga nam-pak bahwa Yusuf tetap dikurung dua tahun lagi (Kej. 41:1), karena ia perlu mencapai usia 30 tahun (Kis. 41:46).
Hari ini banyak orang muda yang mengharapkan ber-usia 18 tahun, agar segera bebas dari sangkar mereka. Te-tapi menurut Alkitab, kita perlu mencapai usia 30, bukan 18 atau 28. Mereka yang melayani Allah sebagai imam-imam mulai melakukan tugas sepenuhnya pada usia tiga puluh (Bil. 4:3). Mereka yang di bawah 30 tahun adalah dalam ta-hap belajar, belum menjadi imam-imam yang berfungsi penuh (Bil. 8:24). Ketika Tuhan Yesus memulai ministri-Nya, Ia juga berumur 30 tahun (Luk. 3:23). Jadi, seandainya Yusuf telah naik takhta pada usia 28, ia takkan melambangkan Tuhan Yesus atas hal ini. Ia harus berumur 30 tahun. Se-telah saya nampak ini, saya yakin bahwa dua tahun tam-bahan ini memang perlu bagi Yusuf agar ia memenuhi sya-rat. Tanpa tinggal di sana selama dua tahun lagi, ia akan tidak memenuhi syarat.
Orang muda, entah berapa panjang masa pemenjaraan yang menimpa Anda, janganlah kecewa. Anda perlu meng-akui bahwa pengujian Anda itu berasal dari Allah. Tidak seorang pun dapat diangkat ke takhta tanpa dicoba dan di-uji. Kita senang segera naik takhta, namun Allah akan ber-kata, “Saatnya belum tiba. Janganlah membicarakan naik takhta kepada-Ku. Kamu perlu dijebloskan ke dalam penjara di bawah tanah.” Jika Anda mencari Tuhan, Tuhan akan memasukkan Anda ke dalam penjara. Mungkin orang-orang di sekitar Anda — istri Anda, anak-anak, penatua-penatua, saudara-saudara dan saudari-saudari — bermaksud meng-hargai dan menghormati Anda; tetapi apa pun yang mereka kerjakan hanyalah membantu Anda masuk ke dalam pen-jara. Kita tidak ada komentar apa-apa terhadap ini. Tanpa penjara, tidak ada naik takhta. Jangan berusaha melarikan diri; tinggallah di dalam penjara hingga Anda lulus dan me-nerima mahkota. Anda memerlukan dua tahun yang ter-akhir ini.
Saya tidak bermaksud menaruh Anda ke dalam pen-jara, dan Anda pun tidak berniat menaruh saya ke dalam penjara, namun apa yang sebenarnya terjadi adalah kita saling menaruh satu sama lain ke dalam penjara. Ketika Anda menikah, adakah Anda berminat menaruh istri Anda ke dalam penjara? Tentu tidak. Namun inilah yang justru Anda perbuat. Tanpa disengaja dan disadari, kita telah me-masukkan orang-orang lain ke dalam penjara. Anak-anak saya pernah melakukan hal ini terhadap diri saya. Adaka-lanya mereka berkata bahwa mereka mengasihi saya, namun dalam batin saya berkata, “Kasih kalian menjebloskanku ke dalam penjara.” Akan tetapi, kita perlu mengucapkan, “Ha-leluya atas penjara ini! Meskipun aku telah berada di sini 10 tahun, aku perlu tinggal dua tahun lagi.” Sekali lagi saya ulangi; jangan melarikan diri. Tinggallah di sana, tinggallah di sana secara mulia, dengan memuji Tuhan, bukan dengan menggertak gigi.
Madame Guyon adalah orang yang bisa memuji Tuhan walaupun ia berada dalam penjara. Ia bahkan menulis sebuah syair kidung, yang di dalamnya ia menyamakan dirinya sebagai seekor burung dalam sangkar. Inilah bait pertamanya:
Burung kecil aku ini,
jauh ladang, jauh angkasa,
di dalam sangkar aku bertengger dan bernyanyi,
syukur bagi-Nya yang menyediakan kurungan;
lega dan senanglah menjadi seorang napi,
karena, ya Allahku, demikian Engkau berkenan.
Madame Guyon sangat mengasihi sangkarnya, yang berupa sel tahanannya.
Jika Yusuf tidak tinggal di dalam penjara selama 12 tahun, ia tidak akan memenuhi syarat untuk memerintah seluruh Tanah Mesir. Untuk ini, ia harus berusia 30 ta-hun. Dua belas tahun dalam penjara ini telah menggenap-kan banyak hal baginya, bukan melalui pendidikan yang obyektif, melainkan melalui penderitaan dan pendisiplinan yang subyektif. Sabarlah, akhirnya Anda akan memenuhi syarat untuk memerintah. Agar memenuhi syarat, Anda perlu tinggal di dalam penjara sejangka waktu lagi.
II. SECARA TAK LANGSUNG YUSUF
DIBEBASKAN DARI PENJARA MELALUI PENAFSIRANNYA
TERHADAP MIMPI JURU MINUMAN
Sekarang tibalah kita pada beban saya atas berita ini. Beban saya ialah menunjukkan bahwa Yusuf dibebaskan da-ri penjara melalui pengutaraannya yang berdasarkan iman. Yusuf pernah bermimpi bahwa dirinya sebagai berkas yang berdiri tegak dan saudara-saudaranya menyembah kepadanya. Sepuluh tahun telah berlalu, mimpinya masih belum ter-genapi. Andaikata hal ini terjadi pada diri kita, niscaya kita benar-benar kecewa sambil berkata, “Lupakan saja mimpi ini. Aku tidak mau lagi menjadi pemimpi, tidak mau lagi mendengarkan mimpi.” Kalau Yusuf bersikap demikian, mung-kin ia tidak akan bisa keluar dari penjara untuk selamanya. Ia dibebaskan dari penjara berdasarkan berbicara. Namun, Yusuf bukan dibebaskan pada waktu ia mengartikan mimpi-mimpi kedua temannya. Dengan berbicara berdasarkan iman, ia mengartikan mimpi-mimpi mereka. Jika saya yang meng-artikan mimpi-mimpi orang lain, saya akan takut kalau-kalau ada yang menanyakan mimpi-mimpi saya sendiri. Saya telah melihat visi, namun belum ada pengalaman atau penggenapan atas visi-visi tersebut. Jadi, saya tidak berani mengatakan apa-apa karena takut orang akan berkata, “Apa yang kaubicarakan ini? Jangan cerita mimpi sebelum mimpimu sendiri tergenapi. Aku tidak akan percaya.” Tanpa menghiraukan mimpinya telah tergenapi atau belum, de-ngan berani Yusuf berbicara berdasarkan iman. Jika ia di-tanyai, ia akan menjawab, “Ya, aku mempunyai dua mimpi. Sekalipun keduanya belum tergenapi, tetapi aku tetap yakin. Boleh jadi besok mimpi-mimpi ini akan tergenapi.” Akhir-nya berdasarkan pengutaraannya Yusuf dibebaskan dari penjara. Jika ia tidak berbicara kepada juru minuman, tidak akan ada orang yang mengatakan perihal Yusuf kepada Firaun. Juru minuman itulah yang membawa berita kepada Firaun bahwa ada seseorang dalam penjara yang dapat meng-artikan mimpi (41:9-13). Karena itu, secara tidak langsung Yusuf dibebaskan dari penjara melalui penafsirannya terha-dap mimpi juru minuman.
Saya sendiri telah mengalami ini. Pada tahun 1957, saya agak dirisaukan oleh adanya problem yang timbul di gereja-gereja di Taiwan. Tetapi pada suatu hari Tuhan menun-jukkan kepada saya bahwa saya harus melupakan problem itu dan mulai berbicara tentang kerajaan dan Yerusalem Baru, memberi tahu orang-orang bahwa hidup gereja hari ini merupakan miniatur Yerusalem Baru. Jadi, saya mulai memberanikan diri untuk berbicara tentang itu, pertama-tama di Taipei dan kemudian di Manila. Seorang misionaris bangsa Inggris yang agak tua datang menghadiri pertemu-an-pertemuan di Manila serta mendengarkan berita saya. Seusai suatu pertemuan, ia mendekati saya serta bertanya, “Saudara Lee, maksud Anda hal-hal ini untuk hari ini atau kelak?” Ketika saya jawab untuk kedua-duanya, ia berkata, “Yerusalem Baru sudah tentu zaman yang akan datang, karena aku tidak melihatnya di sini sekarang. Bagaimana mungkin Anda mengatakan bahwa hal itu untuk hari ini juga untuk kelak?” Namun, saya tetap mengatakan bahwa hal itu untuk kedua-duanya. Ia tidak percaya akan hal ini, tetapi saya percaya. Akhirnya ia meninggalkan hidup ge-reja. Ini menunjukkan semakin Anda mengatakan tidak terhadap suatu visi, Anda akan semakin di luar visi itu. Mungkin Anda berkata, “Hidup gereja itu omong kosong; itu hanyalah mimpi Saudara Lee. Lupakan saja itu.” Semakin Anda mengatakan demikian, Anda akan semakin di luar hidup gereja hari ini. Kita perlu berkata, “Haleluya! Puji Tuhan! Aku yakin bahwa hidup gereja hari ini ada di sini.” Semakin Anda berkata demikian, Anda semakin ada di dalamnya. Inilah visi seorang pemimpi.
Kita semua perlu berkata-kata seperti orang yang bermimpi. Jangan menunggu sampai ada pengalaman baru berbicara. Berbicaralah lebih dulu. Berbicaralah segera sete-lah nampak visi, kemudian Anda akan mendapat pengalam-an. Andrew Murray pernah berkata bahwa seorang minister firman yang baik selalu mengatakan lebih banyak daripada apa yang telah ia alami. Dalam satu aspek, seorang minister firman yang baik semestinya seorang yang “omong besar”. Selama tahun-tahun saya berada di Amerika Serikat ini, saya telah berbicara dengan berani mengenai hidup gereja; ada orang mengira saya sedang “omong besar”. Mengenai hi-dup gereja, ada orang yang bertanya kepada saya, “Saudara Lee, bisakah itu terlaksana?” Saya menjawab, “Mengapa ti-dak?” Bagi mereka yang mengatakan tidak mungkin ada hidup gereja, memang tidak mungkin. Pada tahun 1962, kami mengadakan konferensi yang pertama di Amerika Serikat. Setelah konferensi tersebut, saya diundang ke rumah seorang saudara di Whitter. Suatu hari, tuan rumah bertanya, “Sau-dara Lee, apakah Anda yakin bahwa apa yang Anda katakan itu betul-betul bisa dilaksanakan?” Saya menjawab, “Aku ja-min bisa. Bahkan aku berani membubuhi tanda tangan sebagai garansi untuk hal ini.” Terlaksana atau tidaknya visi itu tergantung pada mulut Anda. Jika Anda mengata-kan, “Tidak,” visi itu tidak berlaku bagi Anda. Jika Anda mengatakan, “Ya”, visi itu akan berlaku bagi Anda, sekali-pun hal itu tidak berlaku bagi orang lain. Semuanya ter-gantung pada Anda berkata ya atau tidak. Jika Anda ber-kata tidak, itu akan tidak; jika Anda berkata ya, itu akan ya. Mimpi dan visi sangat berkaitan dengan kita mengata-kan ya atau tidak; ya atau tidaknya kita akan menjadi kenyataan.
III. YUSUF DIBERI KEKUASAAN SECARA
LANGSUNG MELALUI PENAFSIRANNYA
TERHADAP MIMPI-MIMPI FIRAUN
Berbicaranya Yusuf bukan hanya membebasakan dia dari penjara, melainkan juga membawa dia ke takhta. Berbica-ranya dia itulah yang membawanya ke takhta. Dia diberi kekuasaan secara langsung melalui penafsirannya terhadap mimpi-mimpi Firaun (Kej. 41:25-44). Jika saya yang mene-rangkan arti mimpi-mimpi Firaun, saya akan sangat ber-hati-hati, khawatir kalau-kalau Firaun bertanya mengenai mimpi-mimpi saya sendiri. Saya takut Firaun akan berkata, “Kamu tidak berpengalaman. Mana mungkin aku mende-ngarkan tafsiranmu? Mimpimu sendiri tidak tergenapi, ba-gaimana mungkin mimpi-mimpiku tergenapi? Enyahlah dari hadapanku.” Namun, Yusuf dengan berani berbicara, mengartikan mimpi-mimpi Firaun, sehingga melalui pembi-caraannya ia diberi kekuasaan. Inginkah Anda dibebaskan? Inginkah Anda menerima kekuasaan? Kalau ya, Anda perlu berbicara! Semakin berbicara, Anda semakin dibebaskan. Jangan sekali-kali mengatakan Anda tidak memenuhi sya-rat untuk berbicara. Semakin Anda mengatakan bahwa Anda tidak memenuhi syarat dan masih tinggal di dalam penjara, Anda akan semakin lama tinggal di dalam penjara. Sebalik-nya, semakin Anda berbicara, Anda akan semakin dibebas-kan. Kebebasan akan datang melalui pembicaraan Anda. Dalam pengalaman, kita menemukan bahwa semakin kita berbicara, kita semakin terbebaskan. Saya tidak mampu menjelaskan betapa bebasnya saya melalui pembicaraan saya. Ketika saya kembali ke rumah setelah berbicara da-lam pertemuan, saya merasa bahagia dan segar. Pembicaraan saya membebaskan saya dari berbagai macam penjara. Saya tak mempedulikan hal-hal itu, berbicara adalah jalan kelu-ar saya dari penjara. Belajarlah berbicara sehingga ada jalan keluar dari penjara Anda. Jalan kebebasan yang terbaik ialah berbicara.
Jika Anda menginginkan kekuasaan, Anda perlu berbi-cara. Berbicara telah memberikan kekuasaan kepada Yusuf. Pembicaraan Yusuf bukan hanya mendudukkan dia ke atas takhta, tetapi juga memberinya kekuasaan atas seluruh Tanah Mesir. Makin berbicara, makin besarlah kekuasaan yang Anda peroleh. Kebebasan dan kekuasaan, keduanya da-tang melalui berbicara. Entah Anda di rumah, di sekolah, atau di tempat kerja, Anda perlu berbicara. Setiap kali Anda datang ke pertemuan, Anda harus berbicara. Kita harus ber-bicara setiap waktu. Semakin kita berbicara, semakin banyak kebebasan yang kita nikmati, dan semakin besar kekuasaan yang kita peroleh.
IV. MELALUI PENAFSIRANNYA TERHADAP
MIMPI-MIMPI, YUSUF MENYUPLAI ORANG BANYAK DENGAN MAKANAN
Melalui berbicara, Yusuf juga menjadi penyuplai ma-kanan. Ia menyuplai orang lain dengan makanan melalui penafsirannya terhadap mimpi-mimpi. Anda mungkin ber-kata bahwa Anda sangat miskin. Keadaan Anda miskin ka-rena Anda berdiam diri saja. Mengapa Anda begitu diam di sekolah, di antara tetangga, atau dalam sidang gereja? Meng-apa Anda tidak berbicara? Mungkin Anda berkata, “Ah, aku ini tidak cukup pengalaman untuk berbicara sesuatu. Telah bertahun-tahun aku di dalam hidup gereja. Mulanya, aku mendengar bahwa hidup gereja itu mulia. Namun se-karang, aku tidak merasa bahwa hidup gereja itu alangkah mulia. Jadi, aku tidak mempunyai keyakinan untuk mem-bicarakan apa-apa tentang hidup gereja yang mulia.” Akan tetapi, semakin kurang Anda membicarakan hidup gereja yang mulia, semakin kurang pula Anda di dalam hidup ge-reja semacam ini. Anda perlu berbicara berlawanan dengan perasaan Anda. Utarakanlah sesuatu yang tidak menurut perasaan Anda, tetapi menurut visi Anda. Jika Anda meng-umumkan hidup gereja itu mulia, pastilah Anda akan ber-ada di dalam hidup gereja yang mulia yang Anda katakan itu. Jika Anda mengatakan, “Aku tak memilikinya”, maka Anda tidak akan memilikinya. Tetapi jika Anda berbicara, Anda akan menyuplai orang lain dengan makanan. Ber-dasarkan pembicaraan Anda, Anda akan memperoleh ke-bebasan, kekuasaan, dan makanan. Haleluya, semuanya ini datang melalui berbicara!
Bertahun-tahun belakangan ini, sekali demi sekali orang-orang bertanya, “Saudara Lee, dari mana Anda memperoleh hayat sekian banyak? Setiap kali aku melihat Anda, Anda selalu segar dan penuh hayat.” Saya menjawab bahwa saya disegarkan dan menerima hayat melalui berbicara. Jika saya pergi ke tempat tertentu dan tidak berbicara, pastilah saya sudah siap dikuburkan. Jika saya berbicara, saya pasti dibebaskan, menerima kekuasaan, dan mempunyai makanan untuk disuplaikan kepada orang lain. Saya dapat bersaksi kepada semua orang, karena saya paling banyak berbicara, maka saya lebih banyak dibebaskan, lebih banyak kekuasa-an, dan lebih banyak makanan. Oh, kita semua harus belajar berbicara! Jangan berbicara menurut pengalaman Anda — bicaralah menurut visi Anda.
V. KEHIDUPAN YUSUF
ADALAH KEHIDUPAN BERMIMPI
Yusuf benar-benar seorang pemimpi, dan kehidupannya adalah kehidupan yang bermimpi. Seorang Kristen peme-nang selalu adalah seorang pemimpi. Anda perlu mempu-nyai mimpi, dan Anda pun perlu mengartikan mimpi orang lain. Biarlah setiap hari kita semua berbicara menurut visi kita, menurut mimpi kita. Selain itu, kita harus mengar-tikan visi-visi orang lain, dan kita harus hidup berdasarkan visi kita. Janganlah kita berbicara berdasarkan perasaan ki-ta, melainkan berdasarkan visi. Kita adalah visioner (orang-orang yang mempunyai visi). Karena kita adalah visioner, maka segala sesuatu yang kita kerjakan seharusnya menu-rut visi itu. Meskipun perkara tertentu masih belum terjadi, kita tetap harus berbicara menurut apa yang kita lihat, dan kita akan menemukan bahwa visi kita sedang digenapkan.
Bila kita membandingkan Yusuf dengan tokoh-tokoh lainnya dalam Kitab Kejadian, kita akan nampak bahwa dia itu sangat unik, baik dalam mimpi-mimpinya maupun da-lam penderitaannya. Tidak seorang pun di antara ketujuh to-koh besar lainnya yang mempunyai mimpi sebanyak Yusuf, Yusuf selalu terlibat dengan mimpi-mimpi. Aspek pende-ritaan dalam kehidupannya juga unik.
Mimpi memerlukan penafsiran, dan penafsiran merupakan masalah berbicara. Itulah sebabnya Yusuf terus-menerus berbicara. Melalui berbicara, semua mimpinya digenapi. Pertama-tama, melalui berbicara Yusuf membawa dirinya ke dalam kesulitan. Tanpa mengutarakan mimpinya, ia tidak akan terbentur kesulitan. Saudara-saudaranya membencinya dan menjualnya ke dalam perbudakan tak lain dikarenakan ia mengutarakan mimpinya. Jika Yusuf berdiam diri setelah mendapat mimpi-mimpi itu, tentu tidak akan timbul masalah. Penderitaannya berasal dari pembicaraannya.
Setelah pemberontakan para pesilat (Boxer Rebellion), banyak orang saleh di Inggris dengan tekun mendoakan China, negara yang luas itu. Tuhan menjawab doa mereka dengan melakukan suatu pekerjaan yang ajaib di universitas-universitas di seluruh negara itu. Beribu-ribu mahasiswa, termasuk sejumlah orang cerdik pandai, didapatkan oleh Tuhan, dan banyak di antara mereka yang telah nampak visi. Saya juga terhitung salah satu di antaranya, maka saya tahu betul akan peristiwa itu. Saudara Watchman Nee bukanlah satu-satunya orang yang nampak perkara menge-nai gereja. Banyak orang yang juga telah nampak. Namun, mereka takut membicarakan mimpi mereka yang menyang-kut gereja. Mahasiswa-mahasiswa itu takut kepada misionaris-misionaris yang bertujuan memajukan pekerjaan misi mere-ka, gereja misi mereka. Mereka takut bila mereka membi-carakan sesuatu yang berbeda dengan yang dikerjakan oleh misi, mereka akan terperosok ke dalam kesulitan. Karena keberaniannya berbicara, Saudara Watchman Nee lalu di-khianati. Pada pertengahan tahun 1920, ia menerbitkan dua puluh nomor buletin “Orang Kristen”. Dalam buletin tersebut, Saudara Watchman Nee mengutarakan mimpinya. Hasilnya, orang-orang menertawakan dia, dan ia tertimpa kesulitan. Para misionaris, para guru, ahli teologia, yang semuanya lebih tua daripadanya, memandang rendah dia dan menentang dia. Saudara Watchman Nee telah nampak visi akan gereja lokal yang muncul di setiap kota di seluruh China. Seperempat abad kemudian, mimpinya tergenapi. Hingga tahun 1948, ada sekitar 500 gereja lokal di propinsipropinsi di seluruh China.
Sebelum mimpi Saudara Watchman Nee tergenapi, ia banyak menderita, bukan hanya dari kalangan luar, bahkan juga huru-hara yang digerakkan oleh orang-orang kalangan dalam. Akibat dari keributan ini, ministrinya terpaksa ber-henti selama beberapa tahun. Saudara Watchman Nee sen-diri pernah berkata kepada seorang saudara bahwa tidak ada lagi kemungkinan untuk memulihkan ministrinya. Dari sini tampak betapa berat penderitaan Saudara Watch-man Nee. Begitu menderita, sehingga ia merasa tidak ada harapan untuk memulihkan ministrinya. Tetapi, di luar du-gaannya, Tuhan melakukan sesuatu pada tahun 1948 untuk memulihkan ministrinya. Karena pemulihan ministri Saudara Nee ini, ratusan gereja berdiri di kota-kota China. Ini dika-renakan Saudara Nee berbicara, karena peniupan terompet-nya, juga karena pembicaraan beberapa sekerja yang setia kepadanya.
Izinkanlah saya bersaksi tentang pengalaman kami di Taiwan. Ketika kami baru tiba di Taiwan, kami menemu-kan bahwa kondisi pulau itu sangat terbelakang. Bagaima-napun, kami mulai berbicara menurut visi kami. Di sana sudah banyak misionaris, terutama dari Southern Baptist Denomination (Denominasi Baptis Selatan). Setelah daratan China “hilang”, mereka menanamkan banyak uang ke da-lam pekerjaan mereka di Pulau Taiwan. Jumlah kami hanya sedikit, namun kami berbicara menurut visi kami. Pembi-caraan menurut visi ini menimbulkan kesulitan, karena pembicaraan itu memunculkan penentangan. Ada orang berkata, “Apa hanya kalian saja gereja? Apa maksud kalian dengan mengatakan bahwa kalian memiliki hidup gereja se-dang kami tidak?” Pembicaraan kami kuat. Kami menerbit-kan buku-buku, dan majalah kecil yang berjudul “Ministri Firman”. Melalui buku-buku ini, kami terus meniup terom-pet. Pembicaraan kami menimbulkan kesulitan, dan banyak penentangan muncul.
Namun, tidak peduli para misionaris itu menyetujui kami atau tidak, akhirnya mereka tertaklukkan dan harus mengakui bahwa pekerjaan kami adalah yang terbaik di Taiwan. Hanya di gereja di Taipei saja anggotanya sudah mencapai lebih dari 23.000 orang. Sebelum mimpi kami mu-lai tergenapi, kami benar-benar menderita. Kami menerima kritikan-kritikan dan fitnahan, tetapi kami tidak pernah berhenti berbicara. Semakin orang lain berusaha mengha-langi kami berbicara, semakin banyak kami berbicara. Se-makin banyak kami berbicara, kami terbawa ke dalam kesu-karan.
Kita nampak bahwa pertama-tama Yusuf berbicara se-hingga menjerumuskan dirinya ke dalam kesulitan. Tetapi di kemudian hari, ia berbicara sehingga keluar dari kesulit-an dan masuk ke dalam penggenapan mimpinya. Semuanya ini terjadi melalui berbicara. Baik kesulitan maupun peng-genapan didatangkan melalui berbicara. Keadaan ini sama dengan keadaan kita hari ini. Ketika kita bicara tentang kemuliaan hidup gereja, ada orang yang menggeleng-geleng-kan kepala dengan penuh keragu-raguan dan penuh tanda tanya, apakah hal ini dapat terlaksana di Amerika Serikat. Bahkan ada yang memastikan ini mustahil. Tetapi hal ini adalah mungkin. Sejak 15 tahun yang lalu, mimpi ini telah tergenapi di Amerika Serikat.
Kali pertama saya nampak visi ini pada 50 tahun yang lalu. Kemudian, di mana pun saya berada — di daratan China, di Taiwan, atau di Amerika Serikat — saya selalu berbicara menurut visi ini. Siapa pun yang mengatakan ti-dak terhadap visi ini, baginya visi ini tidak mugkin terge-napi. Namun bagi mereka yang berkata, “Ya, ini memang mungkin”, maka hal ini menjadilah kemungkinan. Semakin kita mengatakan gereja itu mulia, semakin mulia gereja itu. Saya benar-benar yakin bahwa gereja di Anaheim akan men-jadi mulia, karena berbicara akan membawa kita ke dalam kemuliaan itu. Pertama-tama bersiaplah untuk berbicara se-hingga terperosok ke dalam kesulitan, kemudian berbicara-lah pula sehingga keluar dari kesulitan sambil masuk ke dalam penggenapan mimpi. Ketiga hal ini akan terjadi atas diri kita semua.
Seandainya juru minuman dan juru roti menceritakan mimpi mereka kepada Yusuf dan Yusuf tidak mempunyai iman atau keberanian untuk mengartikan mimpi mereka, mungkin ia akan berkata, “Tahukah kawan-kawan, dua be-las tahun lebih yang lalu, aku telah bermimpi dua kali. Aku pun telah menafsirkan. Namun hingga sekarang belum juga nampak penggenapannya. Aku tidak tahu apakah itu nyata atau tidak? Aku tidak berani bicara apa-apa.” Banyak orang yang nampak visi tentang gereja pada lima puluh tahun yang lalu bersikap seperti ini. Ada yang berkata, “Saudara Lee, kami tidak berani mengatakan bahwa apa yang Anda lakukan itu salah. Kami pun telah nampak sesuatu yang sama, tetapi kami kurang yakin akan hal ini. Biarkan saja waktu yang menyatakan ini.” Kalau Yusuf bersikap demikian terhadap teman sepenjaranya, maka tidak ada sesuatu yang akan terjadi.
Menurut Anda, apa yang akan terjadi jika Yusuf ragu-ragu berbicara kepada Firaun? Seandainya Yusuf berkata, “Raja Firaun, aku pernah bermimpi, tetapi semuanya belum juga tergenapi. Tafsiranku terhadap mimpi juru minuman memang telah tergenapi, namun aku tidak tahu apakah mimpi-mimpiku sendiri bakal tergenapi. Kalau engkau su-ka, aku bersedia mengartikannya bagimu.” Jika demikian sikap Yusuf, Firaun tentu akan mengirimnya kembali ke penjara. Ia tidak akan membuang-buang waktunya dengan Yusuf. Tetapi, meskipun mimpi Yusuf sendiri masih belum tergenapi, ia berani memberi tahu Firaun bahwa Allah mem-berinya jawaban kesejahteraan (Kej. 41:16). Kita semua harus belajar berbuat demikian. Karena visi, saya tidak mungkin tinggal diam. Ketika saya berbicara, saya penuh perhentian, sukacita, dan kebahagiaan. Semakin saya berbicara, saya semakin terbebaskan.