Berita Keseratus Sembilan Belas
DIMATANGKAN ASPEK MEMERINTAH DARI ISRAEL YANG MATANG (7)
Berkali-kali telah kita tunjukkan bahwa Kitab Kejadian mencakup hampir seluruh benih kebenaran dalam Alkitab. Jika kita memasuki kedalaman catatan riwayat hidup Yusuf, pastilah kita jumpai benih yang tertanam di dalamnya, serta tampak bahwa catatan ini mengandung pengisahan hayat yang memerintah. Sebelum melihat benih dan hayat yang memerintah dalam pasal 45 — 47, kita perlu melihat dulu dua butir mengenai Yusuf sebagai lambang Kristus.
q) Kristus Mengungkapkan Keagungan-Nya
dan Kemuliaan-Nya kepada Orang Israel yang Bertobat
Setelah semua ujian berlalu, sudahlah matang saatnya bagi Yusuf untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan-nya kepada saudara-saudaranya (45:8, 13). Ini melambangkan, pada suatu hari, Kristus akan mengungkapkan diri-Nya kepada orang Israel yang tersisa. Kristus yang ditinggikan ke surga ini memiliki sifat-Nya sendiri. Ia tahu apa yang harus diperbuat-Nya untuk menguji orang Israel. Ia juga tahu sampai kapan ujian ini harus berlangsung. Pada saat yang tepat ujian terhadap orang Israel akan selesai. Setelah para saleh terangkat dan penghakiman di hadapan takhta penghakiman Kristus selesai, Kristus beserta para saleh pemenang akan ternyata dari surga, saat itulah orang Israel yang tersisa akan tampak Dia. Waktu itu mereka akan sadar siapakah Yesus Orang Nazaret itu, dan akan berkata, “Yesus orang Nazaret adalah Mesias kita. Ia telah ditinggikan dan naik takhta sebagai Tuhan Semesta alam.”
Ketika Yusuf menyatakan diri kepada saudara-saudaranya, mereka pasti sangat terkejut seraya teringat akan perbuatan mereka dulu terhadap dia. Namun, pernyataan diri Yusuf kepada mereka mutlak adalah perkara anugerah. Demikian pula, Kristus menyatakan diri kepada orang Israel yang tersisa itu merupakan perkara anugerah. Tepat pada saatnya, Kristus akan menyatakan bahwa Ia telah ditinggikan, dan tak seorang pun di alam semesta ini yang dapat melampaui Dia. Ketika Yusuf menyatakan dirinya kepada saudara-saudaranya, ia mengatakan bahwa Allah telah mengangkat dia sebagai bapa bagi Firaun, tuan atas seluruh istananya, dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir (45:8). Sampai-sampai Firaun sendiri juga di bawah petunjuk Yusuf. Ketika Kristus menyatakan diri dalam kemuliaan-Nya kepada orang Israel yang tersisa, orang-orang Yahudi akan tampak bahwa Ia jauh lebih besar daripada Mesias yang mereka harapkan.
r) Israel Berbagian dalam Kenikmatan
atas Pemerintahan Kristus
Setelah Kristus menyatakan diri kepada orang Israel yang tersisa, mulailah pemerintahan-Nya dalam Kerajaan Seribu Tahun. Selama Kerajaan Seribu Tahun, orang-orang Yahudi akan berbagian dalam kenikmatan atas pemerintahan Kristus, sama halnya saudara-saudara Yusuf berbagian dalam kenikmatan atas pemerintahan Yusuf (45:18; 47:4-6). Saudara-saudara Yusuf telah menikmati bagian yang paling baik dari tanah Mesir. Inilah lambang dari Kerajaan Seribu Tahun yang di dalamnya orang Yahudi akan menikmati barang yang paling baik di bumi. Menurut Zakharia 14:16-19, orang-orang Mesir beserta orang-orang dari bangsa lain harus mempersembahkan kurban kepada Raja, TUHAN di Yerusalem. Jika ada bangsa yang menolak mempersembahkan kurban kepada TUHAN di Yerusalem, maka tidak akan ada hujan turun di wilayah bangsa tersebut. Karena orang-orang Yahudi bersatu dengan Allah, maka apa pun yang dipersembahkan kepada-Nya, menjadilah bagian dan kenikmatan mereka. Menurut Perjanjian Lama, apa yang dipersembahkan kepada Allah menjadilah bagian imam. Demikian juga dalam kurun waktu Kerajaan Seribu Tahun itu, segala sesuatu yang dipersembahkan kepada Allah menjadilah bagian orang Yahudi. Mereka akan menjadi imam-imam yang mengajar dan menasihati seluruh bangsa di bumi, terutama orang-orang Mesir, mengenai cara menyembah Allah. Saya yakin, waktu itu banyak orang Mesir akan menyesali perbuatan mereka terhadap umat Israel pada masa kini. Orang Mesir mungkin akan berkata kepada orang Israel, “Kami telah bertobat. Dulu kami tak tahu bahwa kalian ini warga negara yang sedemikian. Mari, ambil saja segala milik kami yang kalian kehendaki.” Perkara ini akan terjadi menurut lambang dan nubuat Perjanjian Lama.
Sekarang kita akan melihat lagi kata-kata sisipan yang berhubungan dengan perkara hayat. Jangan lupa, hampir setiap perkara dalam Kitab Kejadian merupakan benih. Kitab pertama dalam Perjanjian Baru, Injil Matius, di satu aspek mewahyukan Kristus, di aspek yang lain mewahyukan Kerajaan Allah. Injil Matius dengan jelas menunjukkan bahwa kita mengenal Kerajaan Allah melalui menyangkal diri kita. Matius 16 telah mewahyukan Kristus, gereja, dan kerajaan. Dalam pasal ini Tuhan Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa setiap orang yang mau ikut Dia harus menyangkal dirinya. Pada akhir Kitab Kejadian, kita menjumpai benih kebenaran penyangkalan diri. Dalam pasal-pasal penutupan Kitab Kejadian, Kristus dilambangkan oleh Yusuf, sedangkan kerajaan dilambangkan oleh rumah Israel. Karena Yusuf menyangkal dirinya, maka Kerajaan Allah dapat terwujud dengan riil. Alam semesta adalah milik Allah, dan Allah menghendaki suatu kerajaan. Walaupun Firaun berkuasa di Mesir, tetapi Kerajaan Allah terwujud melalui pemerintahan Yusuf. Pemerintahan Yusuf itulah Kerajaan Allah, untuk menggenapkan tujuan Allah. Menurut Kitab Keluaran, tujuan Allah ialah memiliki sebuah tempat kediaman di bumi. Tetapi justru pada akhir Kitab Kejadian, kita tampak sebuah miniatur dari Kerajaan Allah.
Dalam sejarah, kita takkan menemukan seseorang yang seperti Yusuf. Meskipun ia sangat dicelakai oleh saudara-saudaranya, tetapi ia tidak bermaksud membalas dendam. Pada Yusuf, sedikit pun tidak ada pikiran membalas dendam. Malah ia menyangkal dirinya, serta memberi ganjaran yang sesuai dan seperlunya kepada para saudaranya. Yusuf mengganjar saudara-saudaranya bukan untuk kepentingan-nya sendiri, melainkan untuk kepentingan mereka. Dia tidak bermaksud membalas dendam, dia memperhatikan bagaimana saudara-saudaranya bisa disempurnakan dan dibangunkan, sehingga mereka bisa hidup berdampingan sebagai manusia yang korporat. Yusuf menasihati mereka untuk tidak bertengkar (berbantah-bantah) dalam perjalanan pulang, merupakan fakta yang membuktikan bahwa ia memperhatikan mereka (45:24). Hati Yusuf mengharapkan mereka menjadi satu umat yang hidup bersama sebagai kesaksian Allah di bumi. Seolah-olah Yusuf berkata kepada mereka, “Aku telah melakukan segala sesuatu untuk kalian, dan kalian telah mendapatkan apa yang kalian butuhkan. Sekarang pulanglah dengan rasa syukur kepada Allah dan temuilah ayahku, serta bawalah ia datang kemari. Tetapi, aku khawatir kalau-kalau kalian akan bertengkar di tengah perjalanan.” Yusuf menyinggung hal pertengkaran, juga menunjukkan bahwa ia sedang mengajar mereka. Ia mengajar kesembilan kakaknya dengan cara biasa, namun terhadap Simeon dengan cara yang khusus. Melalui ini kita tampak bahwa pengganjar-annya itu jernih, bukan berasal dari amarah.
Yusuf adalah orang yang menyangkal diri. Apa pun yang diperbuatnya, semua berdasarkan prinsip penyangkalan diri. Saya tidak tahu, apakah ada orang lain yang telah dicelakai seperti Yusuf, tetapi sama sekali tidak memendam maksud membalas dendam. Ketika ia menyatakan diri kepada saudara-saudaranya, mereka takut dan gemetar (45:3). Namun, Yusuf bukan hanya mengampuni mereka, bahkan menerima mereka, menghibur mereka. Katanya, “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu” (45:5). Di sini kita tampak orang yang dicelakai justru menghibur orang yang mencelakai.
Sering kali ketika seseorang (Kristen) mengampuni orang lain, ia berkata, “Baiklah, kamu kuampuni, tetapi aku juga ingin memperingatkan, apa yang kamu perbuat itu sangat serius.” Pengampunan yang demikian tidak ada artinya, karena sesungguhnya itu bukanlah mengampuni. Ketika Yusuf mengampuni saudara-saudaranya, ia menghibur mereka dan memberi tahu mereka supaya jangan bersusah hati, jangan menyesali diri, bahkan menyuruh mereka melupakan perbuatan mereka terhadap dirinya. Ia mengatakan bahwa mereka menjual dirinya sebagai budak adalah perbuatan Allah untuk memelihara kehidupan. Yusuf tidak menegur saudara-saudaranya atas perbuatan mereka; sebaliknya, ia menganggap mereka sebagai pembantu Allah. Mereka telah membantu Allah untuk membawa dia ke Mesir.
Dalam ayat 7 Yusuf berkata, “Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong.” Kehendak Allah memerlukan kelanjutan keturunan. Ia menghendaki keturunan Abraham, Ishak, Yakub membangun sebuah kemah bagi-Nya, agar Ia dapat mendirikan kerajaan-Nya di bumi. Kalau kelanjutan keturunan ini terputus, maka kehendak Allah tidak dapat tercapai. Jika demikian, Kitab Kejadian menjadilah kitab yang terakhir. Allah tahu bahwa bala kelaparan itu bisa memusnahkan setiap orang yang tinggal di Tanah Kanaan, maka Ia menyediakan sebuah jalan untuk memelihara kelanjutan hidup umat terpilih dan terpanggil yang tersisa.
Yusuf mampu menghibur saudara-saudaranya dikarenakan ia sadar bahwa yang mengirimnya ke Mesir itu bukan saudara-saudaranya, melainkan Allah. Mungkin ia berkata, “Terima kasih bahwa kalian telah menjual aku. Tanpa itu, mana mungkin hari ini aku ada di sini?” Dapat atau tidaknya kita mengampuni orang lain tergantung pada visi kita. Jika kita tahu bahwa kita di sini adalah untuk pemulihan Tuhan, kita tidak akan menghiraukan betapa bersalahnya orang lain kepada kita. Kita akan sadar bahwa semakin orang bersalah kepada kita, semakin baik akibatnya. Andaikata saudara-saudara Yusuf tidak menjualnya sebagai budak, bagaimana mimpinya bisa tergenapi? Mimpinya bisa tergenapi justru melalui orang yang membencinya. Terhadap hal ini Yusuf tahu benar, maka ia dapat mengampuni saudara-saudaranya atas penganiayaan mereka.
Demikian juga seharusnya kita dalam hidup gereja hari ini. Jika kita sadar bahwa kita di sini adalah untuk tujuan Tuhan, untuk pemulihan Tuhan, kita akan paham bahwa semua perkara yang menimpa diri kita adalah untuk kehendak Allah. Roma 8:28 mengatakan, “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Yusuf mengasihi Allah, maka segala sesuatu yang menimpa diri-nya mendatangkan kebaikan bagi dia. Anda tidak mau mengampuni orang yang bersalah kepada Anda, itu menunjukkan bahwa Anda berkacamata rabun dekat. Jika Anda bisa me-neropong ke kedalaman perbuatan Allah, Anda pasti tidak ingin membalas dendam. Sebaliknya, Anda pasti akan selalu memaafkan orang yang bersalah kepada Anda. Anda akan berkata, “Puji Tuhan! Semua yang menimpa diriku adalah untuk kebaikanku. Bukan hanya untukku, tetapi juga untuk umat Allah. Segala sesuatu yang menimpa diriku mendatangkan kebaikan bagi Kerajaan Allah.”
Yusuf mengetahui Allahlah yang mengutusnya ke Mesir, ini adalah benih kebenaran yang terlihat dalam Roma 8:28. Seumur hidup Yusuf adalah sebuah gambaran dari ayat ini, juga sebuah teladan yang menyatakan segala sesuatu bekerja sama untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Allah. Benih ini ditabur dalam Kitab Kejadian, bertumbuh dalam Roma 8:28, dan dituai dalam Wahyu 15, di mana kita tampak para pemenang berdiri di tepi lautan kaca; lautan kaca melambangkan pencobaan, ujian, penderitaan. Saudara-saudara Yusuf telah membantu dia naik ke takhta. Tanpa mereka menjualnya sebagai budak, mustahillah ia sampai ke Mesir. Jadi, penjualan mereka itu telah menggiring Yusuf ke takhta. Janganlah mengeluh karena istri atau suami Anda, atau karena perbuatan kaum saleh dalam gereja terhadap Anda. Bagi orang yang mengasihi Allah, segala sesuatu bekerja sama untuk mendatangkan kebaikan. Pokok permasalahan di sini ialah Anda mengasihi Allah atau tidak. Jika Anda mengasihi Allah, kecelakaan pun mendatangkan kebaikan bagi Anda. Jika Anda tidak mengasihi Allah, lulus universitas dengan meraih gelar profesor pun tidak mendatangkan kebaikan bagi Anda. Berta-hun-tahun belakangan ini, saya banyak menderita, namun saya terhibur oleh fakta bahwa segala sesuatu bekerja untuk kebaikan saya. Kapan kala saya menderita, begitu teringat akan Roma 8:28, seketika itu juga saya terhibur.
Ketika Yusuf sebagai seorang pemuda yang berumur 17 tahun, ia perlu mengalami pencobaan dan ujian. Karena ia merupakan anak kesayangan Yakub, ayahnya, maka ia hidup dalam suasana yang menyenangkan, tidak ada penderitaan yang berarti. Ia selalu berada di bawah lindungan ayahnya. Tetapi pada suatu hari, menurut kedaulatan Tuhan, Yakub mengutus dia pergi kepada saudara-saudaranya; demikianlah mereka menjualnya sebagai budak. Akibatnya, penderitaan menimpa dirinya, melalui ini Yusuf dilatih untuk menjadi penguasa. Dalam hal ini kita tampak hikmat Allah.
Mula-mula, Yusuf bermimpi tampak saudara-saudaranya sujud menyembahnya. Agar visi ini tergenapi, Yusuf harus mengalami banyak penderitaan, khususnya menderita di tangan orang yang paling dekat dengannya. Dari umur 17 tahun hingga 30 tahun, Yusuf terus-menerus menderita. Yusuf perlu melewati semua penderitaan ini agar ia disempurnakan, dan memenuhi syarat menjadi penguasa. Allah mengutus Yusuf ke Mesir untuk memelihara kehidupan, agar mereka dapat tetap hidup untuk mencapai kehendak-Nya.
Jangan terkejut dan merasa takut oleh berita Yusuf menderita ini. Mungkin Anda pernah memohon kepada Tuhan agar menjadi Yusuf hari ini, Tuhan akan mengabulkan doa Anda dengan memasukkan Anda ke dalam penderitaan tertentu. Selama masa penderitaan, Anda mungkin berkata, “Tuhan, berapa lama ini akan berlangsung? Mimpi orang lain sudah tergenapi, kapan mimpiku tergenapi?” Akhirnya, Anda pasti akan dibebaskan. Yusuf sungguh sabar dan juga menyangkal diri. Ia tidak melakukan sesuatu untuk kenikmatan dirinya, melainkan untuk pengganjaran dan penyempurnaan saudara-saudaranya.
Untuk menguatkan saudara-saudaranya, Yusuf mengungkapkan kepada mereka keagungan dan kemuliaannya. Ia memberi tahu mereka bahwa Allah telah menempatkan dia sebagai bapa bagi Firaun. Dalam Kejadian 45:13 ia berkata, “Ceritakanlah kepada bapa segala kemuliaanku di negeri Mesir ini.” Saudara-saudara Yusuf menganggap Yusuf bagaikan Firaun. Namun Yusuf seolah berkata, “Aku adalah bapa bagi Firaun. Aku bahkan lebih tinggi daripada yang kalian kenal, karena Allah telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun. Kalian telah tampak semua kemuliaan-ku. Kini pulanglah dan ceritakanlah kepada bapaku apa yang telah kalian lihat.” Yusuf bukan sok pamer. Ia sedang menguatkan saudara-saudaranya, agar mereka bisa menjemput ayahnya datang kepadanya.
Setelah menderita selama 13 tahun, Yusuf ditinggikan, menjadi penguasa seluruh bumi. Ia tentunya rindu berjumpa dengan ayahnya. Mungkin kita merasa heran, mengapa setelah naik takhta ia tidak segera melakukan sesuatu guna memuaskan kerinduannya kepada ayahnya? Ia bisa saja mengirim kereta kuda dari Mesir untuk segera menjemput ayahnya. Namun ia terus menunggu sampai 9 tahun kemudian baru menyuruh menjemput Yakub. Padahal Yusuf berkuasa dan berkedudukan untuk melaksanakan sesuatu, tetapi ia tidak melakukannya. Andaikata saya ini Yusuf, pasti saya sudah melakukan sesuatu. Saya akan memimpin sepasukan kereta kuda untuk pergi mengunjungi ayah saya. Andaikata ia telah meninggal, saya akan mengunjungi pu-saranya. Berbuat demikian memang wajar bagi Yusuf. Sembilan tahun Yusuf tidak melakukan apa-apa, ini bukan berarti ia tidak rindu kepada ayahnya. Yusuf bukan batu atau kayu, melainkan manusia yang sangat berperasaan, orang yang sangat mencintai ayahnya. Telah sekian lama ia berpisah dengan ayahnya, tentu ia sudah sangat rindu. Ia tahu bahwa jarak antara Tanah Kanaan dan Mesir tidak terlalu jauh; dapat ditempuh dalam beberapa hari saja. Tetapi karena ia berada di bawah kedaulatan Allah, maka ia tidak melakukan apa pun.
Yusuf lebih suka tinggal di bawah tangan kedaulatan Allah daripada memprakarsai sesuatu. Bisa jadi ia pernah berdoa, “Ya Tuhan, Engkaulah yang membawa aku kemari, membawa aku melewati berbagai penderitaan, dan mendudukkan aku di takhta. Tuhan, Engkaulah yang memisahkan aku dari ayahku. Tuhan, aku tahu bahwa semuanya ini berasal dari-Mu. Maka, aku tidak berani berbuat apa-apa. Lebih baik aku menunggu saat kedaulatan-Mu saja.” Saya sangat yakin bahwa Yusuf pernah berdoa demikian. Ini menandakan bahwa ia menyangkal dirinya. Walaupun ia telah dijadikan penguasa bumi yang duduk di takhta, namun ia tidak pernah berbuat sesuatu bagi dirinya atau bagi kenikmatan diri-nya. Ia sepenuhnya bagi kepentingan Allah. Kehidupan Yusuf merupakan kehidupan yang menantikan waktu kedaulatan Allah. Ia tidak memprakarsai kontak dengan ayahnya, ia tetap tinggal di bawah kedaulatan Allah, sambil berdoa, “Ya Tuhan, silakan bekerja. Kecuali Engkau yang bekerja, aku tidak mau berbuat apa-apa.” Saudara saudari muda, saya mengharapkan Tuhan memakai kalian melakukan banyak hal bagi pemulihan-Nya. Tetapi kalian harus belajar tidak mendahului berdasarkan diri sendiri. Janganlah melakukan apa-apa menurut kehendak sendiri, melainkan lebih baik menjaga diri di bawah kedaulatan Allah, membiarkan Dia yang memprakarsai sesuatu. Apa pun yang akan dilakukan hendaklah diprakarsai oleh-Nya.
Betapa manisnya catatan yang mengisahkan riwayat hidup Yusuf. Karena Yusuf mutlak berada di bawah bimbingan Allah, maka ia tidak perlu menyesali apa yang telah ia lakukan. Yusuf merupakan penjelasan yang hidup dari apa yang diwahyukan oleh Perjanjian Baru. Ia adalah orang yang menyangkal diri, tidak memiliki kesenangan, kenikmatan, perasaan, ambisi, atau sasaran dirinya sendiri. Segala sesuatunya bagi Allah dan umat Allah. Maka, pada waktu yang tepat, ia menyampaikan undangan yang mesra dan hangat untuk membawa ayahnya kepadanya.
Melalui merenungkan kisah seumur hidup Yusuf, kita bisa belajar banyak pelajaran. Yusuf telah bermimpi, ia telah menafsirkan mimpinya, juga menafsirkan mimpi-mimpi orang lain. Semua mimpinya telah tergenapi. Namun, ia tahu bahwa masih kurang satu, yaitu kehadiran ayahnya. Secara manusia, selain kehadiran ayahnya, tidak ada sesuatu yang bisa memuaskan Yusuf. Namun, ia tidak melakukan apa-apa berdasarkan diri sendiri untuk memperoleh kehadiran ayahnya. Ia terus menantikan waktu yang tepat itu dengan sabar. Sembilan tahun ia tidak melakukan apa pun. Akhirnya, kesempatan pun tiba. Tetapi melihat saudara-saudaranya belum disempurnakan, ia tetap tidak mau melakukan apa-apa. Baru setelah saudara-saudaranya mendapatkan pembinaan, ia menyampaikan undangan. Undangan ini diprakarsai oleh tangan kedaulatan Allah. Dengan kedaulatan-Nya, Allah menyediakan suasana yang menunjukkan bahwa waktunya telah tiba, Yusuf boleh mendatangkan ayahnya.
Ketika Yusuf benar-benar menjemput ayahnya, ia sendiri tidak pergi menjemputnya sendiri. Apa sebabnya? Kita tidak dapat mengatakan bahwa ia tidak ada waktu, karena ketika ayahnya meninggal, ia sempat menguburkan ayahnya. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu menemukan apa yang tidak dicantumkan oleh Alkitab (inilah salah satu cara mempelajari Alkitab). Yusuf sendiri tidak pergi menjemput ayahnya dikarenakan ia terbatasi. Ia tidak ingin melakukan sesuatu menurut emosinya. Sebaliknya, emosinya terbatasi. Yusuf tidak meninggalkan Mesir untuk menjumpai ayahnya, ia juga tidak mengutus orang untuk mengamati apakah rombongan kereta kuda telah kembali atau belum. Kenyataannya, “Yakub menyuruh Yehuda berjalan lebih dahulu mendapatkan Yusuf, supaya Yusuf datang ke Gosyen menemui ayahnya” (46:28). Yakub seolah-olah berkata kepada Yehuda, “Yehuda, beritahukanlah kepada Yusuf bahwa aku telah datang, supaya ia mengutus orang untuk membawa kita kepadanya.”
Janganlah mengira bahwa Yusuf tidak ingin cepat-cepat berjumpa dengan ayahnya. Ia sangat rindu berjumpa dengan ayahnya. Tetapi bahkan sampai pada hari ayahnya tiba, ia masih berada di rumahnya. Ia tidak mengkhususkan waktu keluar menyambut ayahnya di tengah jalan. Saya ulangi, Yusuf benar-benar berada di bawah pembatasan Allah. Ketika ia mendengar ayahnya telah tiba di Gosyen, “Lalu Yusuf memasang keretanya dan pergi ke Gosyen, mendapatkan Israel, ayahnya. Ketika ia bertemu dengan dia, dipeluknyalah leher ayahnya dan lama menangis pada bahunya” (46:29). Ini membuktikan Yusuf penuh perasaan dan hatinya masih tertuju kepada ayahnya. Tetapi ia tidak bertindak menurut emosinya, melainkan bertindak di bawah pembatasan Allah. Karena itulah ia dapat menjadi seorang penguasa.
Jika Anda tidak dapat mengendalikan diri, mustahil Anda menjadi seorang penguasa yang baik. Jika Anda segera marah-marah pada saat ingin marah-marah, berarti Anda berada di luar pengendalian Roh Kudus. Jika kita berada di bawah pengendalian Roh Kudus, begitu kita hendak marah-marah, kita akan mohon Tuhan membelaskasihani kita. Hanya berada di bawah pembatasan Allah, barulah kita bisa mengatur orang lain. Berada di bawah pembatasan Allah adalah pelatihan yang terbaik yang mempersiapkan kita untuk menjadi raja dalam kerajaan yang akan datang. Tidak ada seorang pun yang kekanak-kanakan atau yang tidak terbatasi, bisa menjadi raja di dalam kerajaan yang akan datang. Hidup di bawah pembatasan, membuat kita tampak kematangan hayat. Semoga perkataan ini menjadi bantuan bagi semua orang yang mengasihi Tuhan, mengasihi pemulihan Tuhan, dan mengasihi hidup gereja.
Dalam pemulihan Tuhan, kita temukan orang-orang yang berlatar belakang berbeda, dengan tabiat dan konsepsi yang berbeda-beda. Karena semua perbedaan ini, kita perlu menerima pembatasan. Kalau kita tidak dibatasi, dan kita sembarangan melampiaskan emosi kita, pasti akan timbul kerugian. Kelak kita akan menyesali perbuatan kita, namun saat itu sudah terlambat. Mungkin Anda berkata, “Aku berhak mengutarakan perasaanku seperti ini.” Ya, Anda berhak, tetapi Anda akan merugikan orang lain. Bukankah Anda menginginkan hidup gereja yang normal? Kalau demikian, Anda perlu berada di bawah pembatasan Allah. Lihatlah lagi gambaran tentang Yusuf, ia harus menjadi orang yang menyangkal dirinya baru dapat mendatangkan kerajaan. Jika ia bertindak menurut perasaannya, bukan menurut bimbingan Allah, maka semuanya akan rusak. Tetapi Yusuf adalah orang yang mutlak berada di bawah pembatasan Allah, karena itu Kerajaan Allah bisa didatangkan melalui dia. Agar kerajaan terwujud secara riil, perlu ada orang yang hidup di bawah pembatasan serta menyangkal dirinya.
Demikian pula kita hari ini. Maukah kita memiliki hidup gereja yang menyenangkan? Untuk itu kita harus berada di bawah pembatasan serta menyangkal diri. Kita semua perlu belajar ini. Andaikata Yusuf bukan orang yang menyangkal diri, dalam keadaan demikian Kerajaan Allah mustahil dapat didatangkan dan diwujudkan secara riil. Penyangkalan diri Yusuf dan terbatasinya Yusuf di bawah tangan kedaulatan Allah merupakan kunci bagi pelaksanaan kehidupan kerajaan. Syukur kepada Tuhan atas kehidupan Yusuf yang menyangkal diri. Melalui kehidupan semacam ini, tujuan Allah tercapai, kerajaan didatangkan, diwujudkan, dan dilaksanakan. Melalui penggenapan ini, orang-orang Israel beroleh bagian dalam kenikmatan atas kerajaan.
Yusuf mempunyai kedudukan dan kekuatan untuk melakukan segala perkara yang dikehendakinya namun ia tidak melakukan apa pun bagi dirinya. Empat puluh tahun lebih yang lampau, saya pernah mendengar orang mengatakan, “Hal yang paling kuat ialah kemampuan untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat Anda lakukan.” Anda mempunyai kedudukan, kekuatan, dan kesempatan melakukan sesuatu, tetapi Anda tetap tidak melakukannya. Sejak dulu saya sudah hafal akan kisah Yusuf. Tetapi saya dulu tidak tampak bahwa setelah Yusuf naik takhta, ia tidak memakai kekuasaannya untuk menengok ayahnya. Setelah ia naik takhta, ia tidak berbuat sesuatu untuk menghapus kesepiannya, walaupun ia telah berpisah selama tiga belas tahun dengan ayahnya. Sampai pada kedatangan saudara-saudaranya untuk kali pertama, ia tetap tidak berbuat apa-apa. Yusuf mempunyai kedaulatan dan juga kedudukan untuk melakukan sesuatu guna menghadapi situasinya, namun ia tidak melakukan apa yang sanggup ia lakukan. Ini menyatakan bahwa ia adalah orang yang paling kuat, yakni orang yang mempunyai kemampuan untuk tidak melakukan apa yang ia bisa. Yusuf adalah orang yang demikian, karena ia berada di bawah tangan Allah, di bawah pembatasan Allah.
Sembilan tahun yang pertama masa berkuasanya di Mesir, Yusuf pasti terus-menerus berkontak dengan Allah. Mungkin ketika ia berdoa kepada Allah mengenai kemungkinan mengunjungi ayahnya, Allah memberi petunjuk supaya jangan berbuat apa-apa. Minggu demi minggu Yusuf mungkin berdoa, “Tuhan, apakah sekarang saatnya bagiku melakukan sesuatu untuk menjemput ayahku?” Saya yakin Tuhan menjawab, “Tidak, sekarang bukan saatnya. Kamu tidak perlu melakukan apa-apa bagi penggenapan mimpimu. Cukuplah menunggu dan biarkan Aku yang melakukannya.” Melalui doanya ini, Yusuf mungkin dikuatkan dalam mempercayai mimpinya itu berasal dari Allah dan Allah sendiri yang akan menggenapkan mimpinya itu. Karena ia tidak perlu melakukan sesuatu, maka Yusuf tinggal diam saja. Ia mampu menahan diri dari melakukan yang ia sanggup lakukan. Kali pertama saudara-saudaranya datang ke Mesir, ia tidak berbuat apa-apa untuk mendatangkan ayahnya. Bahkan ketika waktunya telah tiba bagi ayahnya datang ke Mesir, Yusuf juga tidak pergi menjemput ayahnya di tengah jalan. Saya percaya bahwa ini diakibatkan oleh pembatasan Tuhan. Yusuf tahu bahwa ia tidak perlu melakukan apa-apa untuk menggenapkan mimpinya. Inilah penyangkalan diri yang sejati dan pemikulan salib yang murni.
Makna memikul salib ialah menahan diri melakukan apa yang Anda mampu. Anda memenuhi syarat dan sanggup melakukan perkara yang perlu bagi pemenuhan hasrat Anda, namun Anda menahan diri dari melaksanakan itu. Orang yang seperti inilah yang paling perkasa. Orang yang paling perkasa bukanlah orang yang dapat berbuat sesuatu, melainkan orang yang dapat menahan diri dari apa yang mampu ia lakukan. Menyangkal diri itu satu-satunya jalan yang mengarah ke kerajaan dan mewujudkan kehidupan kerajaan. Pada berita berikutnya kita akan melihat datangnya kehidupan kerajaan melalui Yusuf yang mampu menahan diri dari apa yang sanggup ia lakukan. Hari ini kita perlu menjadi orang semacam ini.
Tidak diragukan, dalam diri kita sendiri mustahil kita bisa seperti itu. Hayat kita bukanlah hayat yang mampu menahan diri untuk tidak melakukan apa yang bisa kita lakukan. Ketika kita menjumpai kesempatan untuk melakukan sesuatu, dengan spontan kita melakukannya. Namun hayat Kristus mampu untuk tidak melakukan apa yang dapat Ia lakukan. Fakta ini adalah kunci keempat kitab Injil dan penempuhan hidup Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sering memiliki kedudukan, kekuatan, dan lingkungan yang tepat untuk melakukan banyak hal, namun Ia pun mampu untuk tidak melakukan semua itu. Misalnya, Ia dapat memohon Bapa supaya mengutus dua belas batalion malaikat untuk menolong-Nya, akan tetapi Ia juga berkekuatan untuk tidak melakukannya (Mat. 26:53). Hayat yang menyangkal diri dan memikul salib ini adalah hayat yang mendatangkan kerajaan.