Berita Keseratus Delapan Belas
DIMATANGKAN ASPEK MEMERINTAH DARI ISRAEL YANG MATANG (6)
Ketika kita melihat kisah Yusuf, kita perlu ingat bahwa dalam kisah Yusuf terdapat dua garis: garis Yusuf melambangkan Kristus dan garis hayat. Dalam Perjanjian Lama, sulit ditemukan orang lain yang dapat melambangkan Kristus dengan demikian sempurna selain Yusuf. Ia melambangkan Kristus secara terperinci.
m) Ujian Kali Terakhir Kristus terhadap Orang Israel yang Tersisa
Dalam Kejadian 44:1-3 Yusuf menguji saudaranya untuk kali terakhir, bahkan diberi waktu yang agak lama untuk mengamati dia. Kristus akan berbuat hal yang sama terhadap negara Israel. Nubuat-nubuat dalam Alkitab memberi tahu bahwa Kristus akan menguji umat Israel yang tidak mengenal-Nya; namun nubuat itu tidak diterangkan secara terperinci. Catatan mengenai Yusuf menanggulangi saudaranya memberikan gambaran yang terperinci atas hal ini. Sampai hari ini negara Israel tetap tidak paham kalau Kristus sedang menguji mereka. Ketika kita mengikuti berita-berita dunia, hendaklah kita mempunyai pengertian yang berbeda dengan orang-orang dunia. Sewaktu membaca surat kabar, saya tahu pasti bahwa masalah Timur Tengah merupakan sebagian ujian Kristus terhadap orang Israel. Perdana Menteri serta kabinetnya tidak tahu kalau Kristus sedang menguji mereka. Mereka hanya tahu menuntut dataran tinggi Golan serta pemukiman di sepanjang Sinai guna eksistensi mereka. Namun Kristus lebih tahu apa yang diperlukan bagi keselamatan mereka. Tidakkah Anda percaya bahwa apa yang menimpa bani Israel hari ini adalah suatu ujian? Saya yakin sepenuhnya, inilah ujian Yusuf terhadap saudaranya dengan maksud mengajar dan mengganjar mereka. Saya kira ujian ini akan berlangsung terus tahun demi tahun. Tuhan Yesus Kristus tahu bagaimana menghadapi orang Israel.
n) Mereka Tetap Tidak Mengenal Dia
Ketika Yusuf lebih lanjut menguji saudara-saudaranya, mereka tetap tidak mengenal dia (Kej. 44:14-34). Hal ini sama dengan negara Israel, ketika Kristus meneruskan pengujian-Nya terhadap mereka. Alangkah sabarnya Yusuf! Saya tidak memiliki kesabaran yang dimiliki Yusuf atau kesabaran Kristus terhadap Israel hari ini. Seandainya saya adalah Yusuf, sejak dini saya sudah menyatakan diri kepada mereka. Dan misalkan saya ini Tuhan Yesus, saya akan segera mengumumkan kepada seluruh dunia bahwa umat Israel adalah saudara saya. Namun, Yusuf menanggulangi saudara-saudaranya dengan sabar. Mereka tidak mengenal dia, orang-orang Mesir juga tidak paham terhadap peristiwa yang sedang berlangsung. Hanya Yusuf yang jelas apa yang sedang diperbuatnya. Demikian juga dengan situasi hari ini, hanya Tuhan Yesus saja, bukan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau pemimpin negara mana pun yang tahu apa yang sedang terjadi. Walaupun Ia memberi kesulitan kepada negara Israel, tetapi semua yang diperbuat-Nya itu mengandung tujuan yang pasti.
o) Kristus Mengakui Israel yang Tidak Mengenal-Nya Itu
Akhirnya Yusuf mengakui saudaranya yang tak mengenalnya itu (45:1-4, 14-15). Saya yakin bahwa saatnya sudah dekat dan Kristus akan mengakui negara Israel yang tidak mengenal-Nya itu (Rm. 11:26). Pengakuan Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak terhitung apa-apa. Yang terhitung ialah pengakuan Kristus. Harinya akan tiba, Kristus akan mengumumkan kepada seluruh dunia, “Jangan sentuh Israel. Siapa yang menyentuh dia, berarti menyentuh biji mata-Ku. Orang-orang Israel adalah saudara-saudara-Ku.”
p) Akhirnya Mereka Mengenal Kristus
Akhirnya saudara Yusuf mengenal dia (Kej. 45:15); orang-orang Israel akhirnya juga akan mengenal Kristus (Za. 12:10). Sebelum mereka mengenal Dia, Ia akan terus dengan sabar menanggulangi mereka. Baru-baru ini saya membaca berita bahwa beberapa pelajar Yahudi mulai menyelidiki perkara Kristus. Pelajar-pelajar ini kelihatan ingin sekali mengetahui lebih banyak tentang siapa Yesus itu. Sampai kini Kristus tetap belum mau mengakui orang-orang Yahudi, Ia memberi mereka waktu yang lebih banyak untuk menyelidiki Dia. Pelajar-pelajar ini mengakui bahwa Kristus telah membuat tenar orang Yahudi, karena Kristus berasal dari negara Israel. Dari dulu sampai sekarang Dia tetap sebagai orang Yahudi. Jika Kristus berasal dari negeri Anda, Anda pun pasti merasa bangga akan Dia.
Jika kita memegang butir-butir ini dalam benak kita ketika kita mengikuti warta berita Timur Tengah, kita akan girang serta memuji Tuhan. Semua peristiwa pada hari ini pernah ditunjukkan (dilambangkan) dalam penanggulangan Yusuf terhadap saudaranya. Dalam satu arti, semua yang kita lihat hari ini merupakan sebuah film dari peristiwa yang dulu pernah terjadi. Bahkan peristiwa-peristiwa dalam pasal-pasal Kitab Kejadian yang saya beritakan sekarang ini, justru sedang terjadi di Timur Tengah. Apa yang terjadi hari ini merupakan penggenapan dari apa yang dilukiskan di dalam firman bagian ini. Puji Tuhan atas hikmat dan kesabaran-Nya. Ia tahu apa yang sedang diperbuat-Nya terhadap Israel. Tidak lama lagi Kristus akan secara terbuka mengakui negara Israel sebagai negara-Nya.
Sekarang kita melihat lagi kata-kata sisipan tentang beberapa hal pada garis hayat. Saya menyukai garis Yusuf sebagai lambang Kristus, namun bagi diri saya, garis hayat lebih riil. Garis lambang berkaitan dengan Israel, sedang garis hayat berkaitan dengan Anda dan saya.
Meskipun ada banyak ciri yang jelas mengenai identitas Yusuf, namun saudara-saudaranya tetap tidak mengenal dia dikarenakan kebutaan dan prasangka mereka. Karena terlalu buta dan tidak mengenal Yusuf, maka Yusuf terpaksa menyatakan dirinya lebih lanjut terhadap saudaranya. Yusuf pasti pernah mendoakan hal menanggulangi saudaranya. Ia tidak menanggulangi mereka menurut perasaan dan keinginan pribadinya, melainkan menurut bimbingan Tuhan. Perkara apa pun yang diperbuat Yusuf terhadap saudara-saudaranya adalah menurut bimbingan Tuhan.
Tidak ada orang lain yang memiliki kesabaran seperti yang dimiliki Yusuf. Telah saya tunjukkan bahwa ia telah menunggu selama 22 tahun untuk penggenapan mimpinya. Telah sekian lamanya Yusuf rindu berjumpa dengan ayahnya. Bagaimanakah seseorang dapat sesabar ini? Bagaimana ia bisa menahan emosi, kasih, dan keinginan hatinya untuk berjumpa dengan ayahnya? Kesabaran dan penguasaan diri Yusuf tentulah berasal dari Tuhan.
Setelah ujian yang terakhir, paling sedikit salah seorang kakak Yusuf yaitu Yehuda, sudah maju. Hal ini ditunjukkan dari perkataannya tentang perhatiannya terhadap ayah dan adik bungsunya (Kej. 44:18-34). Ketika menjual Yusuf, mereka membenci Yusuf, juga tidak mempedulikan ayah atau adik bungsu mereka. Sebaliknya mereka bertindak menurut kedengkian mereka. Namun dari nada dan cara Yehuda berkata-kata kepada Yusuf, terlihat perhatiannya terhadap ayah dan adik bungsunya. Hal ini sangat menjamah hati Yusuf, sehingga ia yakin bahwa saudara-saudaranya telah mempelajari pelajaran mereka. Karena itu, setelah ini, ia segera mengaku kepada saudara-saudaranya. Sebelum ini saudara-saudaranya masih dalam tahap belajar. Pelajaran itu belum tamat sebelum paling sedikit ada seorang di antara mereka yang telah maju dan telah belajar menaruh perhatian terhadap ayah dan adik bungsunya. Saat-saat sebelum ini, Yusuf telah menguji saudara-saudaranya dengan kesabaran yang sangat besar.
Menurut pendapat saya, Yusuf seharusnya segera menyatakan diri kepada mereka setelah makan bersama mereka. Namun, ia tidak berbuat demikian. Ia berpesan kepada kepala rumahnya untuk mengisi penuh karung mereka dengan bahan makanan, serta mengembalikan uang mereka (Kej. 44:1-2). Jelas bahwa saudara-saudara Yusuf sangat girang. Seandainya saya adalah salah seorang di antara mereka, dalam perjalanan pulang ke Kanaan, saya akan berkata kepada yang lain, “Menurut kalian, bagaimanakah penguasa itu? Mengapa ia begitu baik terhadap kita? Ia seorang penguasa seluruh bumi, sedang kita orang asing yang membeli bahan makanan. Ternyata ia mengundang kita ke rumahnya dan menjamu kita. Ia memberi Benyamin porsi lima kali lipat daripada porsi kita yang lainnya. Selain itu, ia mengatur tempat duduk kita sesuai dengan urutan kelahiran kita. Apakah arti semua ini? Siapakah orang itu?” Saya yakin Yusuf ingin saudara-saudaranya membicarakannya seperti ini. Ia mengharapkan mereka betul-betul menyelidikinya. Sayang sekali, mereka terlalu ceroboh dan tidak berbuat demikian. Pada raut wajah Yusuf tentu terdapat ciri-ciri tertentu yang memungkinkan mereka mengenali dia. Namun saudaranya terlampau buta untuk tampak itu.
Tiba-tiba, di luar dugaan mereka, kepala rumah Yusuf mengajar mereka sambil menegur, “Mengapa kamu membalas yang baik dengan yang jahat?” (44:4). Lalu ia menuduh mereka mencuri piala Yusuf. Jawab mereka, “Mengapa tuanku mengatakan perkataan yang demikian? Jauhlah dari pada hamba-hambamu ini untuk berbuat begitu! Bukankah uang yang kami dapati di dalam mulut karung kami telah kami bawa kembali kepadamu dari tanah Kanaan? Masakan kami
mencuri emas atau perak dari rumah tuanmu?” (44:7-8). Sesuai dengan rencana Yusuf, didapatilah piala itu dalam karung Benyamin (44:12). Hal ini pasti membuat mereka heran, mengapa penguasa Mesir itu begitu menaruh perhatian kepada adik bungsu mereka. Saudara Yusuf tercengang ketakutan. Menurut Kejadian 44:13-14, “Lalu mereka mengoyakkan jubahnya dan masing-masing memuati keledainya, dan mereka kembali ke kota. Ketika Yehuda dan saudara-saudaranya sampai ke dalam rumah Yusuf, Yusuf masih ada di situ, sujudlah mereka sampai ke tanah di depannya.” Hal ini seharusnya juga mengingatkan mereka akan mimpi Yusuf, tetapi mereka tetap tidak sadar akan peristiwa yang menimpa diri mereka.
Ketika membaca berita ini, kita tampak kesabaran dan hikmat Yusuf. Hanya orang yang telah matang, yang memiliki kesabaran dan hikmat macam itu. Semakin kita matang, semakin kita memiliki kesabaran dan hikmat. Meski usia Yusuf baru sekitar empat puluh tahun, namun hayat rohaninya telah matang. Oleh karena kematangannya dalam kerohanian, maka ia mempunyai hikmat dan kesabaran yang besar. Ia bukan dikendalikan oleh keinginan serta emosinya, melainkan dibimbing oleh hikmat dan kesabarannya.
Dalam hidup gereja hari ini, kita semua, khususnya para penatua, memerlukan hayat yang hikmat dan sabar. Perbuatan penatua hendaklah tidak dikendalikan oleh emosi, kemauan, atau keinginan diri sendiri. Sekalipun keinginan Anda mungkin sangat baik, tetapi jika Anda dikendalikan oleh keinginan baik itu, mungkin Anda malah akan merusak orang lain. Dalam gereja atau pekerjaan, seorang penatua atau pemimpin tidak boleh dikendalikan oleh keinginan mereka. Sebaliknya, kita harus dikendalikan oleh hikmat dan kesabaran kita. Diarahkan oleh keinginan dan hasrat tidak memerlukan kematangan. Akan tetapi, dipimpin oleh hikmat dan kesabaran, memerlukan kematangan.
Dalam kisah Yusuf menyatakan diri kepada saudara-saudaranya, kita tidak tampak sifat kekanak-kanakan sedikit pun pada diri Yusuf. Ia bertindak menurut hayat yang matang, penuh hikmat dan kesabaran. Ia diuji oleh ketololan dan kebutaan saudara-saudaranya. Tetapi ia tidak dikendalikan oleh emosi dan keinginannya sendiri, melainkan sepenuhnya dikendalikan oleh hikmatnya, diarahkan oleh ke-sabarannya. Dalam kesabaran dan hikmat, ia memberi saudara-saudaranya ujian yang mereka perlukan. Karena kita tidak sematang Yusuf, maka kita mungkin mengira Yusuf terlalu keras, terlalu menekan saudara-saudaranya. Tetapi Yusuf bukanlah orang yang mencari-cari masalah; ia sudah matang dan dikendalikan sepenuhnya oleh kesabaran dan hikmat. Ia tahu saat yang paling baik untuk menyatakan diri kepada saudara-saudaranya. Pengakuannya terhadap saudara-saudaranya bukan diarahkan oleh keinginan atau emosinya; melainkan mutlak dipimpin oleh hikmat Allah.
Dengan hikmat, Yusuf memberi satu ujian lagi kepada saudara-saudaranya. Melalui ujian ini, ia memberi mereka satu kesempatan lagi untuk menyelidiki identitasnya. Namun seperti yang telah kita lihat, mereka tetap tidak mengenalnya. Karena itu, ia sengaja mengatur dan menggiring mereka kembali ke hadapannya. Ketika kembali, mereka ditaklukkan seluruhnya. Yehuda berkata kepadanya, “Apakah yang akan kami katakan kepada tuanku, apakah yang akan kami jawab, dan dengan apakah kami akan membenarkan diri kami?” (44:16). Ketika Yehuda berkata demikian kepada Yusuf, Yusuf tetap tidak menyatakan diri kepada mereka, melainkan tetap sabar menguji Yehuda sampai tuntas. Saya tidak mengatakan bahwa hayat Yehuda telah matang, tetapi pada waktu itu, ia benar-benar telah banyak kemajuan. Dari bicaranya kepada Yusuf kita tampak bahwa ia telah ditaklukkan dan diremukkan. Sikap dan rohnya ketika mengatakan tentang ayahnya sangat menjamah hati Yusuf. Perkataan Yehuda telah meyakinkan Yusuf bahwa kakaknya telah memasuki pelajarannya. Sekarang ini barulah tepat saatnya ia mewahyukan diri kepada mereka. Saat itulah semua emosinya meledak.
Jangan mengira Yusuf itu tidak berperasaan, seperti kayu atau batu. Tidak, ia penuh perasaan. Lihat saja keadaan dia menangis ketika ia menyatakan diri kepada mereka (45:1-15). Ia menyuruh hamba-hambanya keluar, kemudian meledaklah emosinya. Ini menunjukkan bahwa Yusuf itu penuh dengan emosi. Ia yang begitu penuh emosi, mengapa bisa menguasai emosinya hingga berbulan-bulan lamanya? Fakta ini menunjukkan bahwa ia telah matang.
Jika kita tidak bisa mengendalikan air mata, tawa, atau amarah kita, itu membuktikan bahwa kita masih sangat hijau. Tanda kematangan yang paling kuat ialah kita dapat mengendalikan emosi kita. Dalam berita yang lalu kita telah tampak, ketika kedua anak Harun mati terbakar di hadapan Allah, Musa tidak mengizinkan Harun menangis (Im. 10:1-3). Mungkin Harun berkata, “Musa, baru saja kedua anakku mati di hadapanku, engkau justru menyuruh aku jangan menangis. Musa, engkau benar-benar tidak berperi-kemanusiaan!” Musa dan Harun, keduanya hidup di hadapan Allah. Musa dapat melayani Allah di hadirat-Nya, karena ia bisa mengendalikan rasa prihatinnya terhadap kakaknya. Harun menerima perkataan Musa. Menangis atau tidak, tertawa atau marah, itu harus tergantung pada penyertaan Allah. Kita bukan di dalam dunia, melainkan di tempat maha kudus di hadirat Allah. Ketika Anda hendak menyatakan emosi Anda, janganlah menurut perasaan Anda, melainkan menurut penyertaan Allah. Apakah penyertaan Allah mengizinkan Anda tertawa? Apakah penyertaan Allah mengizinkan Anda menangis? Jangan sekali-kali mengatakan, “Aku baru saja kematian anakku, dan aku masih sangat sedih. Aku benar-benar tidak dapat menguasai diri, aku harus menangis.” Jika Anda berkata demikian, itu menandakan Anda belum matang. Yusuf dapat menjadi penguasa Mesir karena ia telah matang. Karena dia sudah matang, maka dia dapat mengendalikan diri sendiri, juga mengendalikan seluruh bumi. Pada waktu yang tepat, Yusuf menangis bagi saudara-saudaranya. Bahkan ini pun menunjukkan bahwa dia seluruhnya berada di bawah pimpinan dan pengendalian Allah. Dalam pasal 42 sampai 44, Yusuf tidak menangis di hadapan saudara-saudaranya. Namun dalam pasal 45, setelah saudara-saudaranya melewati penanggulangan, telah belajar pelajaran, Yusuf lalu menangis.
Yusuf sangat menaruh perhatian kepada saudara-saudaranya. Hal ini terlihat dari pesannya terhadap mereka, yakni janganlah bertengkar (berbantah-bantah) sepanjang perjalanan pulang (45:24). Ini menunjukkan bahwa mereka pernah saling bertengkar. Melalui berbagai ujian, Yusuf telah mengganjar mereka. Boleh jadi Ruben dan Simeon berkata, “Seumur hidup kita belum pernah mendapat ganjaran demikian banyak seperti beberapa bulan belakangan ini.” Mereka diganjar oleh Yusuf yang sabar dan berhikmat. Setiap hal yang dilakukan Yusuf pada saudara-saudaranya adalah bagi mereka, bukan bagi dirinya sendiri. Dalam hal ini kita tampak kesempurnaan Yusuf dalam hayat. Tetapi kesempurnaannya itu bagi saudara-saudaranya, bukan bagi dirinya sendiri. Yusuf itu panjang sabar dan penuh hikmat. Ia selalu mengendalikan emosinya; sebelum pasal 45, tidak pernah ia menangis oleh karena kakaknya, hanya ketika berjumpa dengan Benyamin ia menangis secara diam-diam (43:29-31). Ia penuh emosi, namun tidak pernah dikendalikan oleh emosinya itu.
Dalam kehidupan pernikahan, kita perlu belajar mengendalikan emosi kita. Ada orang berkata bahwa mengalahkan belenggu dosa itu sulit. Tetapi mengendalikan emosi itu lebih sulit. Mengalahkan emosi kita itu paling sulit. Sewaktu Anda hendak marah, sanggupkah Anda mengendalikan diri? Dalam hal ini kita harus belajar kepada Yusuf. Ketika ia melihat Benyamin, emosinya mau meledak, namun dengan segera ia berpaling dan menangis secara tersembunyi, kemudian mencuci muka dan keluar lagi. Demikian juga, bila di rumah Anda hendak marah-marah, Anda harus segera masuk ke kamar mandi, meredakan emosi Anda secara tersembunyi, mencuci muka, baru keluar lagi. Jangan sekali-kali menganggap pelatihan ini hanya untuk orang tua saja, bukan untuk orang yang muda. Pada saat Yusuf mengendalikan emosinya terhadap saudara-saudaranya, ia baru kurang lebih berusia 40 tahun, paling-paling baru pertengahan umur saja. Maka, Anda tidak seharusnya memaafkan diri sendiri. Setiap kali Anda hampir marah-marah, ingatlah akan apa yang dilakukan oleh Yusuf.
Ada orang, setelah mendengar perkataan ini, akan berkata, “Saudara Lee, bukankah Anda mengatakan bahwa hayat kebangkitan yang ada di dalam kita sanggup mengalahkan segalanya? Mengapa ketika emosi kita hampir tak terkendali, kita harus berpaling meninggalkan orang lain?” Alasannya ialah karena hayat alamiah Anda terlalu kuat. Saya bukan hanya memberi tahu Anda kisah Yusuf. Beban saya ialah kita harus tampak kehidupan yang ditampilkan Yusuf. Dalam kehidupan Yusuf, temperamen, tabiat, emosi, keinginan, dan kemauannya, semuanya dikendalikan oleh bimbingan Allah. Mungkin Yusuf berkata, “Allah tidak mem-bimbingku untuk mengakui saudara-saudaraku sebelum aku berbuat demikian. Aku tidak memiliki kebebasan untuk bertindak yang lain. Aku harus bertindak menurut bimbingan Allah. Tentu saja aku berharap agar dapat segera menyatakan diri dan menyuruh mereka juga segera menjemput ayah datang. Namun ini bukanlah seturut pilihanku, melainkan Allah yang memimpin. Aku harus melakukan dalam keadaan yang paling berfaedah bagi saudara-saudaraku. Bimbingan Allah mengharuskan aku menaruh mereka ke dalam ujian.”
Cara Yusuf menyatakan diri kepada saudara-saudaranya menghasilkan sesuatu yang sangat bagus dan tanpa cela. Saat Yusuf menyatakan diri kepada mereka, suasananya sangat baik. Dalam suasana itu, mudah baginya untuk mengampuni mereka. Namun, faktanya, dalam benak Yusuf tidak ada pemikiran tentang mengampuni mereka. Ia paham sekali bahwa yang membawa dia ke Mesir bukanlah saudara-saudaranya, melainkan Allah yang berdaulat. Karena ia penuh kesabaran, hikmat, dan pengendalian diri terhadap saudara-saudaranya, maka hasilnya sangatlah baik, sampai-sampai ia tidak perlu mengampuni mereka. Dia sadar bahwa Allah secara berdaulat mengirimnya ke Mesir untuk menggenapkan kehendak-Nya, maka dengan spontan ia menerima saudara-saudaranya. Ia memeluk mereka dan menerima mereka.
Ketika kita di bawah pengendalian hayat, dalam hikmat dan kesabaran, kita akan serupa Yusuf. Kita tidak akan mencela atau menyalahkan siapa pun, bahkan tak perlu juga mengampuni orang lain, karena kita tidak menyalahkan mereka. Kita pasti akan menerima siapa pun, dan dengan hati yang lapang akan memeluk semua orang yang lemah, bahkan mereka yang dahulu sangat menyalahi dan melukai kita. Kita bukan hanya tidak merasa bahwa mereka telah bersalah kepada kita, sebaliknya tampak bahwa setiap perkara yang menimpa diri kita, adalah menurut kedaulatan Allah. Setiap perkara yang berada di bawah kedaulatan Allah akan berfaedah bagi kita untuk menggenapkan kehendak-Nya, serta untuk membina orang lain. Karena Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya, maka mereka mendapat faedah. Melalui semua penanggulangan Yusuf, para saudaranya itu menerima pendidikan dan pembinaan. Karena itu, akibat dari seluruh perkara ini sangatlah baik. Yusuf bukan hanya menggenapkan kehendak Allah yang kekal, tetapi juga membangun saudara-saudaranya. Jika kita menerapkan semua perkara tentang Yusuf ini dalam doa dan persekutuan, kita akan tampak lebih banyak lagi, dan beroleh perawatan. Tidak hanya demikian, kita akan tahu bagaimana berperilaku dalam setiap situasi.