DIMATANGKAN ASPEK MEMERINTAH DARI ISRAEL YANG MATANG (5)
Kisah Yusuf dikenal oleh saudara-saudaranya ini meru-pakan kisah yang paling panjang dalam Kitab Kejadian. Mu-lai dari permulaan pasal 42 sampai pertengahan pasal 45, meliputi tiga setengah pasal. Semasih muda, saya mengang-gap Yusuf terlalu keras terhadap saudara-saudaranya. Saya pandang sudahlah cukup ketika untuk kali pertama mere-ka membeli makanan ke Mesir dan Yusuf bertindak keras terhadap mereka. Sebagai manusia milik Allah, ia tentu mem-punyai kesabaran dalam mengganjar mereka, dan mereka paling tidak sudah menjalani pengujian selama enam bulan. Namun, ketika mereka datang untuk kali kedua, saya kira, Yusuf tidak perlu mengganjar mereka lagi. Menurut penda-pat saya, Yusuf seharusnya segera menyatakan dirinya ke-pada mereka. Namun Yusuf tidak berbuat demikian.
Lama sekali saya tidak paham mengapa demikian. Memang, pengujian kali pertama itu perlu bagi saudara-saudara Yusuf. Kita semua sepakat juga mengenai Yusuf menguji mereka kali pertama itu. Namun, Anda mungkin juga tidak paham mengapa Yusuf menguji mereka untuk kali kedua. Di satu pihak, ia mengadakan pesta bagi mereka, makan minum bersama mereka, tetapi di pihak lain, ia mempersu-lit mereka lagi. Apa maksud Yusuf berbuat demikian? Saya yakin, ini tidak lain dikarenakan Yusuf ingin agar saudara-saudaranya nampak suatu isyarat atau petunjuk yang mem-buat mereka dapat mengenal dia. Dengan demikian, Yusuf tidak perlu langsung menyatakan diri kepada mereka.
Untuk memahami pasal 43, kita perlu mengingat bah-wa Yusuf adalah lambang Kristus, juga merupakan aspek memerintah dari hayat yang matang. Karena Yusuf adalah lambang Kristus, maka kita tidak seharusnya mengkritik apa-apa yang diperbuatnya. Kita ini jauh di bawah standar-nya. Entah kita setuju atau tidak setuju, apa yang diper-buatnya itu adalah paling baik. Kristus yang dilambang-kan oleh Yusuf tidak akan keliru. Mustahil kita mampu melakukan apa yang mampu dilakukan oleh Yusuf, karena kita belum matang seperti Yusuf. Kita bukannya memerin-tah dari hayat yang matang malah mewakili pembangkang-an. Itulah sebabnya kita tidak menyetujui Yusuf. Jika kita telah mencapai standar Yusuf, kita pasti akan mengakui bahwa tindakan Yusuf terhadap saudara-saudaranya itulah yang paling baik. Pada saat ia mengganjar mereka, tidak ada tanda-tanda kekanak-kanakan atau ketololan. Sebaliknya, penanggulangannya penuh hikmat, penuh daya pembeda. Ia menanggulangi saudara-saudaranya agar mereka mengalami pengganjaran. Apa yang diperbuatnya terhadap mereka, tidak satu pun untuk kebaikan diri Yusuf sendiri.
i) Orang Israel Sekali Lagi Dipaksa Berpaling kepada Kristus
Sama seperti saudara-saudara Yusuf yang sekali lagi dipaksa berpaling kepada Yusuf, demikian pula orang Israel akan dipaksa berpaling kepada Kristus (Kej. 43:1-15). Menu-rut Alkitab, keluarga Israel akan berpaling kepada Kristus pada akhir zaman ini, sambil mengakui Yesus Orang Nazaret sebagai Mesias mereka. Namun, sebelum mereka berpaling, mereka perlu menempuh ujian dulu. Kitab Zakharia mewah-yukan bahwa orang-orang Israel yang tersisa akan diuji, bah-kan ada sejumlah besar orang Israel akan dibunuh. Pada saat keluarga Israel berpaling kepada Kristus, jumlah orang yang tersisa tidaklah banyak. Mereka akan ditimpa ujian lagi, sebab mereka menolak untuk berpaling kepada Dia yang justru mereka perlukan itu.
Lihatlah negara Israel hari ini. Mereka berjuang mati-matian untuk melindungi diri mereka! Sejak tahun 1918, saya sudah memperhatikan situasi ini. Sebelum negara Israel terpulihkan, orang-orang Yahudi terserak di mana-mana, dan orang-orang jarang memperhatikan mereka. Tetapi khusus-nya sejak tahun 1967, Timur Tengah menjadi berita utama dunia, tempat yang paling penting di bumi. Hampir seluruh dunia menentang Israel. Negara-negara Arab dan PBB me-nyalahkannya. Bahkan kadang kala Amerika Serikat pun ti-dak sependapat dengan Israel. Akibatnya, orang-orang Israel berjuang bagi eksistensinya. Negara lain menyalahkan Israel dikarenakan Israel menduduki dataran tinggi Golan dan se-belah barat Sungai Yordan. Israel mempertahankan dengan gigih tempat-tempat ini, sebab tempat- tempat ini mereka perlukan untuk mempertahankan eksistensinya. Namun, jika negara Israel berpaling kepada Kristus, semua masalah akan beres. Tetapi Israel tidak mau berpaling kepada Kristus sampai mereka dipaksa berpaling.
j) Tetap Tidak Mengenal Kristus
Saudara-saudara Yusuf tidak mengenal Yusuf (43:18-21). Orang-orang Yahudi hari ini juga tidak mengenal Kristus. Saudara-saudara Yusuf tidak tahu kalau Yusuf adalah pe-nguasa Mesir. Tetapi adanya ketidakpuasan karena keku-rangan bahan makanan memaksa mereka berpaling kepada Yusuf. Menurut nubuat Perjanjian Lama, bani Israel berpa-ling kepada Kristus bukan karena alasan lain, melainkan karena mereka perlu mempertahankan eksistensi mereka. Tanpa berpaling kepada Kristus, mereka tidak akan bisa eksis.
Bala kelaparan yang amat besar itulah yang mendesak saudara-saudara Yusuf kembali datang kepada Yusuf. Pada kali pertama mereka datang ke Mesir, mereka beroleh bekal untuk hidup; lalu mereka pulang ke rumah dan meninggal-kan Yusuf untuk sejangka waktu. Inilah sebuah gambar tentang perlakuan Kristus terhadap keluarga Israel hari ini. Selain didesak untuk berpaling kepada Kristus agar da-pat mempertahankan eksistensi mereka, orang Israel tidak akan kembali kepada-Nya. Karena bahan makanan yang di-bawa saudara-saudara Yusuf telah habis dan bala kelaparan masih berlangsung, maka mereka terpaksa kembali lagi kepada orang yang tidak ingin mereka jumpai itu. Saya ya-kin, kali pertama mereka berjumpa dengan Yusuf, kesan mereka pasti amat buruk. Boleh jadi mereka berkata, “Kalau tidak terpaksa, kami selamanya tidak akan mau kembali lagi kepada orang itu. Kami tidak mau berjumpa dengannya lagi. Ia terlalu jahat terhadap kami.” Demikian pula keluarga Israel hari ini terhadap Kristus. Mereka bahkan tidak mau membicarakan Kristus Yesus. Namun, roda kemudi bukan-lah di tangan mereka, melainkan di tangan Kristus. Pada suatu hari, mereka mau tidak mau harus berpaling kepada Dia.
Yusuf itu berhikmat dan sangat berpengalaman. Ia ti-dak mau membiarkan keharuan atas pertemuannya dengan saudara-saudaranya atau kerinduannya untuk menjumpai ayahnya membuat dirinya bertindak bodoh. Sebaliknya, ia bahkan mengorbankan pemenuhan keinginannya berjumpa dengan ayah, sambil dengan hikmat dan tenang menggan-jar saudara-saudaranya. Andaikata saya adalah Yusuf, saya akan segera menyatakan diri kepada mereka ketika mereka datang untuk kali kedua, dan saya akan segera menyuruh mereka pulang menjemput ayah datang. Bahkan saya tidak mau membuang-buang waktu untuk makan minum bersa-ma mereka, sebelum mereka pulang mengajak ayah datang. Jika Yusuf berlaku demikian, ia tidak akan memenuhi syarat sebagai penguasa dunia. Yusuf adalah orang yang penuh hikmat dan daya pembeda (tamyiz). Itulah sebabnya ia merupakan lambang Kristus yang sempurna. Kristus ti-dak pernah berbuat sesuatu menurut keharuan-Nya. Situasi dunia berada di bawah kendali-Nya. Kendaraan ini bukan-nya disetir oleh pemimpin dunia mana pun, melainkan oleh Tuhan Yesus. Dialah yang mengatur situasi Timur Tengah.
Sejak kali pertama saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir, mereka telah ditaruh di bawah suatu pengujian. Saya tidak percaya kalau mereka merasa bahagia setelah berjumpa dengan Yusuf. Mereka tidak dapat melupakan Simeon yang ditawan di Mesir, mereka juga tahu bahwa makanan yang diperoleh dari Mesir itu terbatas. Mereka pun paham bah-wa pada suatu hari mereka akan kembali ke Mesir untuk menemui orang itu lagi apabila bahan makanan mereka ha-bis. Kekurangan makanan inilah yang mendesak mereka kembali kepadanya. Agar saudara-saudara Yusuf bisa menge-nal Yusuf, mereka harus melalui proses tertentu. Menurut nubuat-nubuat dalam Alkitab, keluarga Israel perlu menga-lami proses yang serupa, baru dapat mengenal Kristus, yakni Mesias mereka. Kristus akan menanggulangi keluarga Israel sekali demi sekali, sampai mereka dipaksa berpaling kepa-da-Nya. Tidak ada jalan lain bagi eksistensi orang Israel.
Ketika Yakub menyuruh anak-anaknya kembali mem-beli bahan makanan ke Mesir, mereka memberi tahu dia bah-wa tanpa Benyamin, adik bungsu, ikut pergi, mereka mus-tahil pergi lagi ke Mesir. Kecuali Benyamin ikut, mereka tidak berani menghadap orang itu. Mereka sadar bahwa tan-pa Benyamin ikut, pastilah sia-sia pergi ke sana. Bukan main ujian ini! Akhirnya, Yakub terpaksa menyetujui syarat ini. Seolah-olah Yakub berkata, “Demi nyawa kalian dan nyawa anak-anak kalian, aku rela mengorbankan anak bungsuku. Aku serahkan dia kepada kalian. Sekarang pergilah mem-beli makanan ke Mesir.” Bayangkan, apakah saudara-saudara Yusuf gembira ketika berangkat dari Kanaan ke Mesir? Apakah mereka pergi sambil menyanyi dan memuji, “Puji Tuhan, kita berangkat lagi ke Mesir.” Pasti tidak! Sebaliknya, mungkin sepanjang jalan mereka berkata satu sama lain, “Bagaimana kita menghadapi orang yang mengu-rung Simeon dalam penjara itu? Jangan-jangan yang perta-ma ia lakukan ialah memasukkan adik bungsu kita ke dalam penjara. Ia akan mencari alasan untuk menangkap kita se-mua dan menjadikan kita budaknya. Kemudian ia meram-pas keledai-keledai kita. Bagaimana kita nantinya?” Saya yakin saudara-saudara Yusuf sangat takut kalau dijadikan budak dan kehilangan keledai mereka. Keledai-keledai itu sangat berharga bagi mereka. Saya percaya bahwa sepan-jang perjalanan ke Mesir, mereka merancang-rancang siasat untuk menghadapi Yusuf.
k) Kristus Menyatakan Kasih Lebih Banyak Lagi kepada Mereka
Yusuf menyatakan kasihnya kepada saudara-saudara-nya pada kedatangan mereka kali kedua dengan menjamu mereka di rumahnya sendiri. Meskipun mereka tidak menge-nal dia, namun dalam menguji mereka, ia ingin sekali me-nnunjukkan kepada mereka bahwa ia juga akrab terhadap mereka. Pada zaman akhir, Kristus akan berbuat hal yang sama terhadap Israel. Di satu pihak, Ia akan menguji mere-ka lebih lanjut, namun di pihak lain, Ia akan memelihara mereka dalam kasih.
l) Tetap Tidak Memahami Kasih Kristus
Meskipun Mesias Israel menunjukkan kasih-Nya ke-pada orang Israel, mereka tetap tidak memahami kasih-Nya. Saya yakin Kristus adalah untuk orang Israel. Kita ini un-tuk orang Israel atau tidak, tidaklah berarti apa-apa, sebab kita hanyalah manusia belaka. Tetapi Kristus bagi orang Israel ini mengandung arti yang sangat besar. Namun hari ini orang Israel tidak memahami kasih Kristus. Akhirnya, setelah mereka dipaksa berpaling kepada-Nya, Kristus pun dipaksa menyatakan diri kepada mereka. Saat itu keluarga Israel akan mengenal Dia sebagai Mesias mereka.
Sekarang kita akan melihat sisipan yang lain. Beban sa-ya dalam berita ini justru pada sisipan ini. Dalam Kejadian 43:1-15, saudara-saudara Yusuf masih menempuh pelajaran mereka; sedangkan dalam Kejadian 43:16-34, Yusuf masih membiarkan mereka di bawah pengujian. Meskipun Yusuf te-lah menyatakan kasihnya terhadap mereka, namun ia be-lum secara langsung menyatakan diri kepada mereka. Yusuf menguji saudara-saudaranya karena ia ingin mengarahkan mereka agar mengenal dirinya (Yusuf). Saudara-saudara Yusuf sangatlah bodoh. Andaikata kita ini mereka, pasti su-dah mengenali Yusuf melalui tanda-tanda atas identitasnya. Sekarang mari kita memeriksa tanda-tanda ini.
Yusuf berpesan kepada kepala rumahnya untuk meng-undang mereka ke tempat kediamannya, yakni rumah pe-nguasa negeri itu. Seandainya saya adalah salah seorang ka-kak Yusuf, saya akan berkata, “Kami hanyalah orang-orang asing yang berkunjung kemari, tidak layak menerima per-hatian yang demikian. Mengapa penguasa yang berkedu-dukan demikian tinggi mau mengundang kami datang ke rumahnya dan makan bersamanya?” Mungkin Anda mengira bahwa saudara-saudara Yusuf menduga jangan-jangan Yusuf sedang menjebak atau mempermainkan mereka untuk dija-dikan budaknya. Mungkin saja mereka berpikiran demi-kian. Bagaimanapun, mereka tidak mengapresiasi undangan Yusuf ini, malahan merasa takut. Karena itu, mereka mem-beri tahu kepala rumah Yusuf bahwa mereka telah memba-yar bahan makanan yang mereka beli pada kali sebelumnya; tetapi ternyata kemudian menemukan uang tersebut di dalam karung mereka. Mereka menegaskan bahwa itu bukan per-buatan mereka. Kepala rumah itu menjawab, “Tenang saja-lah, jangan takut; Allahmu dan Allah bapamu telah membe-rikan kepadamu harta terpendam dalam karungmu; uangmu itu telah kuterima” (Kej. 43:23).
Kepala rumah seolah berkata, “Bukan uang kalian yang kembali kepada kalian, ini adalah hadiah dari Allah kalian dan Allah bapa kalian.” Setelah kali pertama saudara-saudara Yusuf menjumpainya, Yusuf tentunya sudah mem-beritahukan tentang mereka kepada kepala rumahnya, se-dikitnya ia memberi tahu kepala rumahnya bahwa mereka adalah orang-orang Ibrani dan ia juga berasal dari tanah itu. Ia pasti memberi tahu kepala rumah bahwa mereka menge-nal Allah dan takwa kepada-Nya. Kalau tidak, mana mung-kin seorang kepala rumah Mesir dapat berkata seperti itu kepada mereka? Dari mana ia mengetahui hal ini? Pasti dari Yusuf. Ini seharusnya memberi isyarat kepada saudara-sau-dara Yusuf bahwa di rumah Yusuf ada orang yang telah me-ngetahui latar belakang mereka. Setelah orang itu memberi tahu mereka bahwa tidak ada masalah dengan uang, lalu ia “membawa mereka ke dalam rumah Yusuf, diberikannya-lah air, supaya mereka membasuh kaki; juga keledai mereka diberinya makan” (Kej. 43:24). Simeon juga dibawa ke ha-dapan mereka. Dengan demikian, masalah uang dan Simeon telah beres.
Kemudian Yusuf pun datang dan bertanya kepada me-reka, “Apakah ayahmu yang tua yang kamu sebutkan itu selamat? Masih hidupkah ia?” (43:27). Bagaimanapun Yusuf bersandiwara, tentunya akan terasa pernyataan kasih dari nadanya bertanya tentang ayahnya. Yusuf bukanlah batu, ia penuh perasaan. Nada suaranya saat bertanya tentang ayahnya, sudah menunjukkan siapa dia. Ayat 29 mengatakan, “Ketika Yusuf memandang kepada mereka, dilihatnyalah Benyamin, adiknya, yang seibu dengan dia, lalu katanya: ‘Inikah adikmu yang bungsu itu, yang telah kamu sebut-sebut kepadaku?’ Lagi katanya: ‘Allah kiranya memberikan kasih karunia kepadamu, anakku!’” Selesai berkata demi-kian, dengan segera Yusuf lari ke dalam kamar, lalu mena-ngis. Saat itu, saudara-saudara Yusuf seharusnya bertanya kepada diri sendiri, “Ada apa ini? Mengapa penguasa ini menanyakan ayah kami dengan nada yang demikian meng-harukan? Mengapa ia tidak menyelesaikan pembicaraannya dengan adik kami yang paling kecil? Ia keluar lalu kembali dengan mukanya sudah tercuci. Apa arti semua ini?”
Setelah Yusuf pulang, ia segera menyuruh saudara-saudaranya duduk berurutan di depannya, “dari yang sulung sampai yang bungsu” (43:33). Saudara-saudaranya saling berpandang-pandangan dengan heran. Seharusnya mereka sudah menyadari melalui petunjuk ini bahwa penguasa ini adalah Yusuf. Dua puluh tahun telah lewat, namun tanda-tanda yang dapat dikenal pada wajah Yusuf pasti masih ada. Jika mereka gabungkan tanda-tanda ini, mereka akan berkata, “Inilah Yusuf.” Mereka seharusnya ingat bahwa Yusuf dibawa ke Mesir, dan seharusnya mengenal bahwa orang ini adalah Yusuf.
Ayat 34 mengatakan, “Lalu disajikan kepada mereka hidangan dari meja Yusuf, tetapi yang diterima Benyamin adalah lima kali lebih banyak daripada setiap orang yang lain.” Yusuf memberikan makanan kepada Benyamin lima kali lebih banyak daripada yang lain, pasti ada tujuannya.
Tujuannya adalah supaya saudara-saudaranya mengetahui bahwa ia adalah Yusuf, dan ia mengasihi adiknya. Andai-kata saya ada di sana, saya pasti memberanikan diri untuk bertanya kepada orang itu, apakah dia Yusuf. Namun, tidak ada seorang pun dari saudara-saudaranya yang bertanya demikian. Mereka tidak memiliki daya pembeda.
Hari ini dalam hal mengenal Kristus. kita juga sama. Tuhan telah menyatakan diri-Nya kepada kita, kita pun te-lah nampak Dia, tetapi kita tidak mengenal Dia. Ia melaku-kan banyak perkara bagi kita dengan tujuan yang baik, tetapi kita malah takut terhadap perbuatan-Nya. Setiap per-kara yang diperbuat-Nya berasal dari kasih, tetapi kita me-naruh prasangka yang jahat terhadap semua itu.
Yusuf mengasihi saudara-saudaranya, sehingga menja-mu mereka di rumahnya. Namun mereka menanggapinya dengan pikiran yang jahat, yang menduga Yusuf bermaksud menangkap serta menjadikan mereka budaknya. Ayat 18 mengatakan, “Lalu ketakutanlah orang-orang itu, karena mereka dibawa ke dalam rumah Yusuf. Kata mereka: ‘Yang menjadi sebab kita dibawa ke sini, ialah perkara uang yang dikembalikan ke dalam karung kita pada mulanya itu, su-paya kita disergap dan ditangkap dan supaya kita dijadikan budak dan keledai kita diambil.’” Uang dan keledai menjadi selubung yang menutupi mata saudara-saudara Yusuf, se-hingga mereka tidak dapat mengenal dia. Dalam pandangan mereka, keledai sangat berarti, tetapi dalam pandangan Yusuf, itu tak terhitung apa-apa. Kemudian, ketika Yusuf menyuruh mereka pulang untuk menjemput ayahnya, ia menyediakan kereta kuda berikut kusirnya. Bagi mereka, keledai dan uang itu penting, karena inilah satu-satunya yang mereka miliki. Mereka juga takut kalau-kalau dijadi-kan budak. Hari ini keadaan kita juga sama: Mungkin Tuhan sudah berdiri di depan kita, dan Ia pun mungkin telah me-lakukan banyak bagi kita, tetapi kita tidak bisa mengenal Dia atau apa yang telah diperbuat-Nya. Sebaliknya, kita merasa takut. Saudara-saudara Yusuf seharusnya menya-dari bahwa penguasa yang memegang pemerintahan bumi ini tidaklah menaruh perhatian pada keledai mereka. Kea-daan kita juga sama. Ketika kita datang ke hadapan Kristus dan kemudian masuk ke dalam hidup gereja, kita masih khawatir akan sebaliknya; harta benda, keamanan atau ke-luarga kita. Saudara-saudara Yusuf memang miskin, tetapi mereka justru berada di bawah pemeliharaan yang kaya lim-pah dari penguasa bumi. Andaikata saya ada di sana, saya akan berkata, “Lupakanlah keledai dan harta benda! Aku hanya ingin Yusuf saja. Aku mengasihi dia.” Dalam hal me-ngenal Kristus, kita sungguh sama tololnya dengan sau-dara-saudara Yusuf. Kita tidak memandang Dia, sebaliknya kita malah memperhatikan diri sendiri, harta benda, dan keledai kita. Saudara-saudara Yusuf seharusnya mengarah-kan pandangan matanya kepada Yusuf dan menatap pada-nya. Jika demikian, mereka akan nampak bahwa orang itu mirip dengan Yusuf. Tetapi untuk itu mereka harus melu-pakan harta bendanya. Sayang, mata mereka hanya tertuju pada harta benda; mungkin mereka saling berkata, “Tidak-kah Anda tahu bahwa jumlah uang ini besar? Kita harus berhati-hati, jangan sampai kehilangan uang sebesar ini.” Saya tidak yakin kalau saudara-saudara Yusuf pernah benar-benar mengamati wajah Yusuf. Jika mereka berbuat demi-kian, pasti akan mengenal dia. Mungkin Lewi akan berkata kepada Ruben, “Aku yakin sekali bahwa orang ini adalah Yusuf. Janganlah kita takut, beranikanlah diri kita dan tanya saja, apakah ia adalah Yusuf.”
Hari ini tidak banyak orang mengenal Kristus secara demikian. Tetapi ada juga sejumlah kecil yang mengenal dari petunjuk-petunjuk perbuatan Tuhan, lalu menyadari bahwa yang menimpa diri mereka itu berasal dari Tuhan. Sebagian besar di antara kita mengenal Tuhan sama seperti saudara-saudara Yusuf. Kita tidak memperhatikan Dia. Ma-lahan sebaliknya memperhatikan uang, harta, dan diri kita. Saudara-saudara Yusuf tidak mau mengamati mengapa se-orang penguasa yang berkedudukan tinggi sudi berbuat de-mikian terhadap mereka. Mereka sudah dijajah seluruhnya oleh untung rugi pribadi. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa orang yang sedang menanggulangi mereka itu bisa jadi adalah Yusuf. Demikian pula keadaan kita. Entah berapa banyak yang telah Tuhan lakukan bagi kita, kita tetap tidak menyadari apa yang sedang Tuhan perbuat. Tuhan melaku-kan setiap perkara dengan maksud-Nya yang baik, namun kita menganggapnya sebagai kutukan. Sekalipun kita tahu bahwa itu adalah berkat, kita tetap tidak mau menerima-nya. Saudara-saudara Yusuf tidak memiliki daya pembeda. Sampai-sampai setelah ia mendudukkan mereka dari yang sulung hingga yang bungsu, mereka tetap tidak mengenal siapa dia. Sebelum mereka meninggalkan rumah menuju ke Mesir, mereka sudah dipenuhi prasangka mereka sendiri. Yusuf itu baik hati, tetapi mereka berprasangka jelek. Me-reka telah seluruhnya diduduki oleh prasangka mereka yang buruk. Bila kita menaruh prasangka buruk terhadap sese-orang, maka sekalipun ia mengundang kita makan di rumah dengan baik hati, kita akan tetap berprasangka buruk. Prasangka buruk kita akan membuat kita ragu-ragu, mengira makanan itu telah dibubuhi racun. Mungkin kita segan menolak undangannya, namun kita khawatir untuk makan hidangan yang disajikan di meja. Maksud tuan rumah itu baik, tetapi dugaan kita yang buruk. Saudara-saudara Yusuf telah dipenuhi oleh pikiran semacam itu. Pikiran itulah yang merupakan kaca mata berwarna yang membuat mereka tidak mengenal siapa Yusuf.
Selain semua tanda tersebut di atas, masih ada dua la-gi ciri-ciri identitas Yusuf. Ayat 32 mengatakan, “Lalu dihi-dangkanlah makanan, bagi Yusuf tersendiri, bagi saudara-saudaranya tersendiri dan bagi orang-orang Mesir yang bersama-sama makan dengan mereka itu tersendiri; sebab orang Mesir tidak boleh makan bersama-sama dengan orang Ibrani, karena hal itu suatu kekejian bagi orang Mesir.” Hi-dangan itu disajikan di tiga meja. Satu bagi Yusuf sendiri, satu lagi bagi orang-orang Mesir, dan yang lain bagi para sau-daranya. Ini menunjukkan bahwa orang-orang Mesir makan dengan cara yang berlainan dengan orang Ibrani. Menurut Anda, dengan cara apakah Yusuf makan? Dengan cara orang Ibrani atau dengan cara orang Mesir? Tentu saja dengan cara orang Ibrani. Saudara-saudara Yusuf seharusnya sudah sadar bahwa di sini ada orang Mesir yang makan dengan cara orang Ibrani, yaitu cara yang tidak disukai orang Mesir. Yusuf sengaja memerintahkan cara penghidangan yang se-demikian untuk menunjukkan kepada saudara-saudaranya bahwa ia adalah orang Ibrani. Saudara-saudaranya seharus-nya bisa berpikir bahwa penguasa ini adalah orang Ibrani. Alangkah bodoh saudara-saudaranya itu! Andaikata saya ada di sana, saya akan mengatakan, “Lewi, dia itu orang Ibrani! Tidak hanya demikian, dia lebih muda daripada kita. Per-hatikanlah wajahnya, bukankah dia itu Yusuf?” Meskipun Yusuf memakai bahasa Mesir, tetapi mereka seharusnya bi-sa mengenal dari suara dan nada bicaranya. Namun, mereka tetap tidak mengenal dia.
Ada satu tanda lagi dalam ayat 26, “Ketika Yusuf telah pulang, mereka membawa persembahan yang ada pada me-reka itu kepada Yusuf di dalam rumah, lalu sujud kepada-nya sampai ke tanah.” Ketika saudara-saudara Yusuf me-nyembah dia, seharusnya mereka teringat akan mimpi Yusuf. Dua puluh dua tahun yang silam, Yusuf pernah bermimpi dan mimpi ini kini terbukti. Andaikata Anda adalah salah seorang saudara Yusuf yang sedang menyembah dia, mungkin Anda akan berkata, “Boleh jadi orang ini Yusuf, si tukang mimpi itu.” Saudara-saudara Yusuf telah mendengar mimpi itu, dan kini berada dalam realitasnya, namun mereka tetap tidak mengenal Yusuf.
Mungkin Anda merasa heran, mengapa Yusuf tidak langsung saja pada saat itu menyatakan diri kepada me-reka. Jika Yusuf berbuat demikian, tentulah kelihatan ke-kanak-kanakan. Ia lebih cenderung memberi isyarat kepada mereka untuk membantu mereka mengenal siapa dia. Alang-kah manisnya jika mereka bisa mengenal dia! Namun, kare-na prasangka serta kebodohan mereka, kejadiannya tidaklah sedemikian.
Hari ini kita semua berada dalam tangan Yusuf kita. Apa yang harus kita lakukan, ke mana kita harus pergi, semuanya tergantung pada Dia. Berapa lama kita kembali kepada-Nya, itu tergantung pada berapa banyaknya bekal yang Ia berikan kepada kita. Jika Ia memberi kita bekal untuk 10 tahun, kita akan kembali kepada-Nya 10 tahun kemudian. Tetapi Ia tidak memberi kita bekal sebanyak itu. Ia memberi kita jumlah yang terbatas, agar mendesak kita untuk kembali kepada-Nya selekas mungkin. Yusuf tahu je-las bahwa setelah berselang beberapa saat saudara-saudara-nya akan kembali. Ia tahu berapa orang yang ada di dalam rumah bapanya, dan ia pun tahu berapa banyak bekal yang harus ia berikan kepada mereka. Mereka berada di bawah kendali Yusuf. Haleluya, hari ini kita berada di bawah tangan Tuhan yang berdaulat! Jangan khawatir akan sekarang atau kelak. Anda bukan berada di bawah kendali diri Anda, melainkan di bawah kendali Tuhan. Jangan bersandar ke-pada keledai Anda, yakni gelar atau pekerjaan Anda. Nasib Anda berada di bawah tangan Tuhan Yesus, masa depan Anda berada di bawah kendali-Nya. Saya ingin memberi ta-hu Anda satu kabar baik, yaitu Tuhan tetap merawat dan memelihara kita dengan kasih sayang dan kedaulatan-Nya. Apa yang telah, yang sedang, dan yang akan Ia lakukan, se-mua bermotivasikan kasih sayang. Dalam kasih, Ia berusaha mengisyaratkan diri-Nya kepada kita melalui petunjuk-pe-tunjuk yang Ia berikan kepada kita. Semua yang telah dila-kukan-Nya adalah isyarat-isyarat yang membimbing kita agar mengenal Dia. Janganlah memandang kepada uang, keledai, atau diri Anda. Berpalinglah kepada Yesus, dan pandanglah Dia. Jika Anda berbuat demikian, Anda akan nampak Dia, tahu akan Dia, dan mengenal Dia.
Saya menyukai kisah Yusuf dan saudara-saudaranya ini, sebab kisah ini melukiskan keadaan saya dalam hal mengenal Tuhan. Betapa bodohnya saya dulu! Tuhan senantiasa baik terhadap saya, namun saya selalu merasa cemas, takut kalau saya akan dilukai atau menderita kerugian. Semua perbuatan Yusuf terhadap saudara-saudaranya berasal dari kasih sayang. Begitu pula hubungan Tuhan dengan kita. Asal kita mau mengingat kembali masa lampau kita di ha-dapan Tuhan, kita tidak bisa tidak mencucurkan air mata, sambil berkata kepada Tuhan, “Tuhan, masa lampauku tepat seperti keadaan Yusuf dengan saudara-saudaranya. Engkau senantiasa mengaruniai aku, namun karena aku dipengaruhi prasangka dan kepentingan diri sendiri, maka aku tidak me-ngenal kasih sayang-Mu. Aku tidak pernah memperhatikan Engkau, aku tidak pernah memusatkan pandanganku atau perhatianku kepada-Mu. Tuhan, ampunilah aku, dan tolong-lah aku sejak kini berpaling dari semua hal yang di luar Engkau. Tuhan, aku tidak lagi mempedulikan barang-ba-rang apa pun, sekalipun undangan. Aku hanya menginginkan Engkau dan tinggal di hadirat-Mu. Tuhan, asalkan aku ada di hadirat-Mu, aku sudah puas.” Inilah jalan mengenal Tuhan.
Jika saudara-saudara Yusuf bersikap demikian, tanpa prasangka dan tidak memikirkan uang, keledai, atau diri sen-diri, kecuali memusatkan pandangan mereka kepada Yusuf, mereka pasti akan nampak ciri-ciri tertentu pada wajah Yusuf, yang memungkinkan mereka mengenal dia. Mereka juga akan mengenal Yusuf melalui perbuatannya terhadap mereka itu. Maka, dengan sendirinya mereka akan berkata, “Kita seharusnya tidak lupa bahwa kita pernah menjual Yusuf ke Mesir sebagai budak. Kita juga ingat bahwa ham-ba orang itu berkata kepada kita tentang Allah kita serta Allah bapa kita. Lagi pula, sewaktu kita berpesta, kita du-duk menurut urutan kelahiran kita. Tidak hanya demikian, perhatikanlah sikap orang ini terhadap Benyamin, dan suaranya yang terharu ketika menanyakan ayah kita. Ketika ia berbicara dengan Benyamin, ia hampir tidak tahan diri untuk menangis.” Banyak sekali tanda-tanda yang dapat dilihat saudara-saudara Yusuf, yang menunjukkan bahwa orang ini adalah Yusuf.
Demikian juga keadaan kita hari ini dalam hal menge-nal Tuhan. Menurut Anda, apakah perkara-perkara baik yang terjadi pada diri Anda itu hanya kebetulan saja? Ti-dak, semua perkara yang menimpa diri kita mengandung satu tujuan. Tetapi di masa lampau, kita tidak paham apa yang sedang Allah perbuat itu. Semoga Tuhan membantu kita mengenal Yusuf kita. Ia tidak bermaksud jahat terha-dap kita. Sebaliknya, perhatian-Nya terhadap kita adalah perhatian yang penuh kasih sayang. Ia hendak membimbing kita mengenal Dia. Perkara yang paling baik ialah mengenal Dia.
Sekalipun saudara-saudara Yusuf telah mengalami ba-nyak penanggulangan, namun mereka tetap tidak menya-dari bahwa mereka sedang berjumpa dengan Yusuf. Pada be-rita berikutnya, kita akan melihat bahwa kebodohan mereka akhirnya membuat Yusuf tidak sabar lagi, sehingga Yusuf menyatakan dirinya kepada mereka. Beban saya dalam be-rita ini ialah kita harus jelas akan jalan mengenal Tuhan. Saya dapat bersaksi bahwa Tuhan telah mengaruniakan ka-sih-Nya kepada saya, dan dalam aspek tertentu telah menang-gulangi saya, namun saya tetap tidak mengenal Dia dan apa yang sedang Ia lakukan. Saya tidak paham sama sekali. Tetapi hari ini kita mempunyai visi yang jelas. Kini kita me-ngenal Dia, paham bahwa setiap perkara yang dilakukan-Nya adalah untuk membantu kita mengenal Dia. Semoga kita semua bisa belajar pelajaran ini.