Berita Keseratus Enam Belas
PENANGGULANGAN YUSUF TERHADAP PARA SAUDARANYA
Berita ini merupakan kata sisipan pada pelajaran-hayat kita, kita akan kembali ke garis kehidupan pribadi Yusuf. Saya lebih menyukai garis kehidupan pribadi Yusuf ini daripada garis Yusuf sebagai lambang Kristus. Ketika saya berkontak dengan Tuhan melalui roh doa, Tuhan lalu memperlihatkan kepada saya butir-butir dalam pasal 42 yang menyangkut kehidupan pribadi Yusuf, yang akan kita bahas dalam berita ini.
I. TAMPAK MIMPINYA TERGENAPI, YUSUF TETAP BISA MENGUASAI DIRI
Tampak mimpinya tergenapi, tentunya Yusuf sangat girang. Pasal 42 menampakkan bahwa saudara-saudaranya datang kepadanya, menyembah dia. Sewaktu Yusuf bermimpi, ia berusia 17 tahun. Pada usia 30 tahun, ia diangkat untuk mengatur seluruh Tanah Mesir. Sekitar 9 tahun kemudian, saudara-saudaranya menyembah dia. Boleh dikata, ketika para saudaranya menyembah dia, Yusuf sudah berusia sekitar 39 tahun. Jadi, sekitar 22 tahun setelah Yusuf bermimpi, barulah ia tampak mimpinya tergenapi; itu pun terjadi setelah ia dijual dan dipenjarakan. Bertahun-tahun ia menempuh harinya dalam sel bawah tanah dan akhirnya ia ditinggikan, didudukkan di takhta. Tetapi saat itu Yusuf masih belum tampak mimpinya tergenapi. Ia telah menerangkan arti mimpi orang-orang sesama tahanan serta mimpi Firaun, semua mimpi itu tergenapi dan ini memberinya suatu bukti yang kuat bahwa mimpinya sendiri pasti juga tergenapi. Namun, Yusuf harus melewati masa pengujian yang panjang. Dalam perkiraan kita, kesabarannya mungkin bisa habis. Mampukah Anda menunggu 22 tahun untuk penggenapan mimpi Anda? Yusuf mampu.
Kemudian, pada suatu hari, saudara-saudaranya datang dan menyembah kepadanya. Seandainya kita ini Yusuf, kita tidak akan dapat menguasai diri. Kita akan melonjak-lon-jak sambil berseru, “Haleluya, tidakkah kalian tahu bahwa aku ini Yusuf? Betapa girangnya aku berjumpa dengan kalian!” Kalau kita, pasti sudah bergejolak lupa diri. Jika saudari-saudari di tengah-tengah kita ada di sana, mereka akan menangis dahulu kemudian memeluk saudara-saudara. Yusuf tidaklah lupa daratan ketika tampak mimpinya tergenapi. Sebaliknya, dengan tenang ia menguasai rasa terha-runya. Ia dapat menguasai diri sedemikian rupa dikarenakan ia adalah orang yang dikendalikan oleh Roh itu.
Jika Anda tidak dapat menguasai keharuan Anda, Anda tidak dapat menjadi penguasa yang tepat. Aspek memerintah dari hayat yang matang tahu bagaimana menenangkan diri, sekalipun menghadapi situasi yang paling mengharukan. Mungkin Anda berkata, “Bukankah Yusuf menangis ketika ia melihat saudara-saudaranya?” Benar, ia menangis. Yusuf adalah manusia yang penuh emosi dan perasaan yang normal, ia bukan batu atau kayu. Namun, bahkan di saat ia menangis, kita tampak bahwa ia menguasai dirinya sendiri. Selain Yusuf, tidak ada orang yang dapat menguasai dirinya dalam keadaan yang begitu mengharukan. Ia dapat menguasai dirinya sehingga dari luar kelihatan tidak terjadi sesuatu. Inilah hayat yang memerintah, hayat yang menang.
Kita perlu sering menguasai keharuan kita. Ketika kedua anak Harun terbunuh di hadapan Allah, perkataan Musa memberi isyarat kepada Harun agar ia jangan menangis, Harun segera menahan air matanya (Im. 10:1-7). Sering kali kita pun harus menahan air mata kita, menaruh diri kita di bawah pengendalian Roh itu. Ada sebuah amsal yang berbunyi, “Orang yang menguasai dirinya (rohnya), melebihi orang yang merebut kota” (Ams. 16:32). Yusuf tetap tenang di bawah pengendalian Roh itu, membuktikan bahwa ia me-menuhi syarat untuk melaksanakan tugas pemerintahan yang amat besar ini. Bahkan dalam situasi yang paling mengharukan, ia tidak terjamah oleh rangsangan itu. Sebaliknya, ia tetap tenang, sadar, tidak lupa diri.
II. YUSUF TIDAK TERBURU-BURU MENUNJUKKAN KEMULIAANNYA KEPADA SAUDARA-SAUDARANYA
Ketika melihat para saudaranya menyembah dia, Yusuf tidak terburu-buru menunjukkan kemuliaannya kepada mereka (Kej. 45:13). Setelah mereka kembali pada kali ketiga, barulah ia menyatakan dirinya serta menunjukkan kemuliaannya kepada mereka. Menyembunyikan kemuliaan kita lebih sulit daripada menahan keharuan kita. Mungkin Anda berhasil menguasai keharuan Anda, namun hampir mustahil bagi siapa pun untuk tidak menunjukkan kemuliaannya. Namun, Yusuf berhasil dalam hal ini. Ia tidak segera menunjukkan kemuliaannya kepada saudara-saudaranya. Inilah alasan lain mengapa Yusuf mewakili aspek memerintah dari hayat yang matang. Ia benar-benar memenuhi syarat sebagai seorang penguasa. Kalau ego kita dan orang alamiah kita telah ditanggulangi seluruhnya, barulah kita sanggup untuk tidak memamerkan kemuliaan kita kepada orang lain. Yusuf telah seluruhnya ditanggulangi dan hidup di bawah pengendalian Roh itu. Jadi, ia memenuhi syarat sebagai aspek memerintah dari hayat yang matang.
Beban saya dalam berita ini bukan hanya menyampaikan ajaran-ajaran, tetapi juga ingin membantu Anda tampak hayat dalam Kitab Kejadian, serta mengenal jalan hayat. Hayat yang dinyatakan dalam kisah Yusuf, bukanlah hayat manusia, lebih-lebih bukan hayat yang telah jatuh, bukan pula hayat alamiah yang baik, melainkan hayat kebangkitan, yakni hayat Allah. Meskipun Yusuf dalam suasana yang mengharukan, sedikit pun ia tidak menyatakan kekenduran. Inilah hayat. Pada diri Yusuf, selain hayat, kita juga tampak jalan hayat, jalan ini membuat kita menerima pengendalian. Janganlah mengira Yusuf bukan manusia. Ia itu penuh dengan perasaan dan emosi manusia, tetapi ia menaruh dirinya dengan seluruh perasaannya di bawah pengendalian Roh itu. Karena itu, pada diri Yusuf, kita tidak hanya tampak hayat yang matang, juga tampak hayat yang memerintah serta jalan pemerintahan hayat ini. Kita semua, khususnya orang muda, memerlukan hayat yang sedemikian, dan jalan yang sedemikian, yaitu aspek memerintah dari orang yang matang. Hayat ini tidak mudah diharukan, juga tidak memamerkan kemuliaannya. Sebaliknya, dalam keha-ruan ia tetap tinggal tenang, menguasai diri dan menyembunyikan kemuliaannya.
III. DENGAN HIKMAT, YUSUF MENANGGULANGI SAUDARA-SAUDARANYA
Dalam menanggulangi saudara-saudaranya, Yusuf itu penuh hikmat. Ia sama sekali tidak kendur. Seandainya saya ini Yusuf, tentu saya sudah berkata kepada mereka, “Haleluya, mari kita berdansa dan berpesta! Mari kita bergembira ria bersama!” Yusuf tidak demikian. Sebaliknya, ia sangat tenang, jernih, dan penuh hikmat. Yusuf tidak berkata, “Ruben dan Yehuda, kalian berbuat benar. Namun Simeon, kamu bersalah karena kamu yang mengepalai untuk melemparkan aku ke dalam lubang sumur. Atas perbuatanmu, kamu harus menerima hukuman.” Yusuf tidak berkata demikian, sedikitnya ia berhikmat atas tiga hal yang disebutkan di bawah ini.
A. MENYADARKAN MEREKA
AKAN DOSA MEREKA YANG MEMBENCI DAN MENJUAL DIA
Yusuf mengurung semua saudaranya selama tiga hari. Ia berbuat demikian, dengan maksud agar mereka sadar akan dosa mereka yang membenci dan menjual dia (42:21). Seandainya saya ini Yusuf, saya hanya akan mengurung mereka tiga jam saja. Saya akan sangat terharu, sehingga tidak dapat mengurung mereka terlalu lama. Saya tidak dapat menunggu, saya ingin segera berpesta bersama mereka. Kalaupun saudara-saudara saya bisa tahan, saya tidak akan tahan menunggu tiga hari. Namun, tiga jam tidaklah cukup bagi saudara-saudara Yusuf untuk menyadari kesalahan mereka. Mereka perlu dikurung tiga hari. Selama tiga hari itu, mereka pasti banyak membicarakan perlakuan mereka terhadap Yusuf. Mereka mengira Yusuf tidak mengerti perkataan mereka, sehingga di hadapan Yusuf mereka membicarakan perbuatan mereka terhadapnya. Yusuf mengerti semua perkataan mereka itu. Bukan main menyesalnya saudara-saudaranya atas kejahatan mereka terhadap dia! Tetapi Yusuf seolah-olah berkata kepada diri sendiri, “Bicara saja belum cukup. Aku harus mengurung mereka ke dalam penjara, supaya mereka menjadi sadar. Biarlah mereka berbincang satu sama lain di dalam penjara selama tiga hari tiga malam.” Inilah cara Yusuf membuat saudara-saudaranya dengan tuntas tampak dosa mereka. Dalam suasana yang menyenangkan, kita sulit menyadari dosa kita dan bertobat. Tetapi jika kita dipenjarakan, kita mudah bertobat dan menyalahkan diri sendiri.
B. MENGGANJAR SIMEON
Dalam hal mengganjar Simeon, Yusuf juga berhikmat. Dalam 42:19-20a, Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya, “Jika kamu orang jujur, biarkanlah dari kamu bersaudara tinggal seorang terkurung dalam rumah tahanan, tetapi pergilah kamu, bawalah gandum untuk meredakan lapar seisi rumahmu. Tetapi saudaramu yang bungsu itu haruslah kamu bawa kepadaku.” Mula-mula Yusuf hendak menyuruh seorang saudaranya pergi untuk menjemput adiknya yang bungsu, sedang yang lainnya tetap tinggal dalam penjara. Tetapi tiga hari kemudian, ia mengubah niatnya, hanya menahan seorang saja dalam penjara, sedang yang lainnya disuruh pergi untuk membawa adiknya yang bungsu datang. Maka ia “mengambil Simeon dari antara mereka; lalu disuruh belenggu di depan mata mereka” (42:24). Saya yakin Simeon adalah otak rencana pembunuhan terhadap Yusuf, ia pula yang mengepalai hal mengikat Yusuf dan melemparkan dia ke dalam sumur. Tercatat dalam Kejadian 49:5-7, Simeon adalah orang yang amarahnya keras. Jadi, Yusuf membelenggunya dan memasukkan dia ke dalam penjara. Menurut Anda, apa yang dipikirkan Simeon dalam penjara? Saya percaya bahwa ia akan sangat menyesal dan bertobat atas perbuatannya dahulu. Boleh jadi ia berkata, “Mengapa orang ini memilih aku? Mengapa ia menatap tajam diriku? Mungkin dikarenakan akulah yang mengepalai rencana pembunuhan terhadap Yusuf.” Simeon paling sedikit dipenjara setengah tahun atas tuduhan sebagai pengintai, dosa ini berat, bisa-bisa mengakibatkan kehilangan nyawa.
Jangan menganggap Yusuf terlalu kejam dan tanpa belas kasihan terhadap Simeon. Sebaliknya, ia sudah penuh belas kasihan. Kesepuluh saudaranya harus dipenjarakan tiga hari, Simeon harus lebih lama lagi. Yusuf berbuat demikian sangatlah berhikmat. Ia telah dikendalikan oleh hayat yang memberinya daya pembeda yang jernih. Apa saja yang dilakukannya terhadap saudaranya, tepat semuanya. Ia tidak melakukan terlampau sedikit maupun terlampau banyak terhadap mereka. Dalam hidup gereja kita memerlukan hayat yang memiliki daya pembeda semacam ini. Bila kita memiliki daya pembeda semacam ini, kita akan tahu bagaimana menghadapi saudara saudari. Kita akan tahu berapa jauh boleh berjalan bersama mereka, dan di mana kita harus membatasi diri.
C. MENGUJI MEREKA
ATAS PERKARA BENYAMIN
Tidak hanya demikian, hikmat Yusuf juga ternyata sewaktu ia menguji saudara-saudaranya atas perkara Benyamin (Kej. 42:15, 20, 36-37). Dalam Kejadian 42:15, Yusuf menyuruh mereka membawa Benyamin, adik yang bungsu itu. Dengan menyisihkan Benyamin sendirian, Yusuf membantu saudara-saudaranya teringat akan diri Yusuf sendiri. Jika saya ini Yusuf, saya akan berkata, “Jangan lupa perbuatan kalian terhadap Yusuf!” Namun, Yusuf dengan hikmat menyinggung Benyamin. Begitu ia menyinggung Benyamin, saudara-saudaranya pun teringat akan Yusuf. Ini pasti menjamah hati nurani mereka. Dalam Kejadian 42:13, mereka berkata kepadanya, “Hamba-hambamu ini dua belas orang, kami bersaudara, anak dari satu ayah di tanah Kanaan, tetapi yang bungsu sekarang ada pada ayah kami, dan seorang sudah tidak ada lagi.” Kalau saya ini Yusuf, saya akan bertanya, “Yang kalian katakan seorang sudah tidak ada lagi itu di mana sekarang? Apa yang telah terjadi pada dirinya?” Dengan hikmat, Yusuf menjamah hati nurani saudara-saudaranya.
IV. YUSUF MENYATAKAN KASIH SAYANG
KEPADA SAUDARA-SAUDARANYA
Para saudara Yusuf berada dalam kendali Yusuf, ia bisa saja berbuat sewenang-wenang terhadap mereka. Bila mau, ia berkuasa memerintahkan agar kepala mereka dipenggal. Ia dapat pula mengundang mereka berpesta, asalkan ia mau. Namun sebagai wakil aspek memerintah dari hayat yang matang, Yusuf telah berbuat sangat tepat terhadap setiap orang. Karena semua saudaranya bukanlah satu macam orang, maka ia harus memperlakukan mereka dengan berbagai cara. Yang paling jahat perlu diganjar dengan lebih tuntas. Yusuf adalah lambang Kristus, bagaimana dia memperlakukan saudara-saudaranya, demikian juga kelak Kristus memperlakukan bangsa Israel. Mula-mula, Yusuf mengganjar mereka. Dalam suatu arti, ia menggentarkan (menakut-na-kuti) mereka. Selagi kanak-kanak, saya sudah membaca kisah ini, saya heran mengapa Yusuf tidak berbelas kasihan terhadap saudara-saudaranya. Menurut saya, seharusnya Yusuf segera berkata, “Aku adalah Yusuf, kalian adalah saudara-saudaraku. Marilah kita berpelukan, menari, dan berpesta ria!” Saya heran mengapa Yusuf tidak membelaskasihani mereka, bahkan sebaliknya, mengurung mereka dalam penjara. Yusuf telah melakukan segala sesuatu dengan jernih dan penuh daya pembeda. Ini bukan berarti ia tidak menaruh kasih kepada saudara-saudaranya. Malah sebaliknya, ia banyak menunjukkan kasihnya kepada saudara-saudaranya. Saat-saat itu, ia tidak dapat terang-terangan menyatakan kasihnya kepada mereka, kecuali secara diam-diam. Ia mengembalikan uang mereka, juga memberi bekal kepada mereka di jalan (Kej. 42:25). Karena saudara-saudara Yusuf tidak memahami perlakuan hikmatnya terhadap mereka, maka mereka ketakutan akan kasihnya yang disampaikan secara tersembunyi itu.
Saya mengharap Roh berbicara lebih banyak kepada kita semua mengenai perkara ini daripada yang dapat saya utarakan. Dalam hidup gereja, kita perlu belajar tenang, menguasai diri. Kita juga perlu belajar tidak memamerkan kemuliaan kita. Tidak hanya demikian, kita harus belajar tidak bertindak sembarangan, bodoh, melainkan jernih, penuh daya pembeda. Akhirnya, terhadap semua saudara, kita pun harus mengasihi, termasuk terhadap mereka yang perlu diganjar. Inilah hayat Yusuf. Dalam hidup gereja, kita memerlukan hayat yang tenang, jernih, dan memiliki daya pembeda. Jika kita mempunyai hayat semacam ini, kita akan tahu bagaimana seharusnya kita bergaul dengan saudara saudari. Namun segala yang kita lakukan hendaklah didasari dengan kasih yang tersembunyi, kasih yang tidak dinyatakan secara terang-terangan.
Ayat 28 mengatakan, “Lalu hati mereka menjadi tawar dan mereka berpandang-pandangan dengan gemetar serta berkata: ‘Apakah juga yang diperbuat Allah terhadap kita!’” Inilah reaksi saudara-saudara Yusuf ketika menemukan uang di mulut karung mereka. Ketika mereka menemukan uang mereka ditaruh kembali ke dalam karung mereka, serta-merta hati mereka menjadi tawar, yaitu hati mereka sangat gelisah. Mereka tidak paham apa yang telah terjadi di tanah Mesir. Mereka menjadi gemetar oleh peristiwa yang terjadi di sana.
Yusuf itu sungguh jernih. Saya tidak percaya kalau ada orang lain yang bisa bertindak seperti dia. Kejadian 42:9 mengatakan bahwa Yusuf teringat akan mimpi-mimpinya tentang saudara-saudaranya. Kini setelah berselang 22 tahun, mimpinya tergenapi. Seandainya kita menjadi Yusuf, kita pasti sudah lupa akan segalanya di dalam keterharuan melihat penggenapan mimpi kita. Kita akan berkata, “Sekarang mimpi-mimpiku telah ternyata, mari kita lupakan yang lainnya dan mari bersukaria bersama.” Jika Yusuf menikmati penggenapan mimpinya semaksimal mungkin, ia tidak akan dapat membantu saudara-saudaranya sedikit pun. Dirinya sendiri memang sudah siap menikmati mimpinya tergenapi, ia tidak perlu ganjaran apa pun. Namun, saudara-saudaranya memerlukan pengganjaran. Karena itu, Yusuf bukan bertindak bagi dirinya sendiri, melainkan bagi saudara-saudaranya. Demi kepentingan saudara-saudaranya, Yusuf rela mengorbankan kenikmatan atas penggenapan mimpinya untuk sementara waktu.
Mimpi Yusuf tergenapi pada saat saudara-saudaranya datang sambil menyembah dia. Jika Yusuf hanya ingin menikmati penggenapan atas mimpinya, ia dapat berkata kepada saudara-saudaranya, “Aku adalah Yusuf, aku sangat girang melihat kalian. Marilah kita makan minum bersama, kemudian kalian pulang menjemput ayah.” Meskipun di zaman kuno, cukup memerlukan beberapa minggu saja untuk pulang ke Kanaan dan kembali lagi beserta ayah mereka. Yusuf dapat mengatakan, “Sudah 22 tahun lebih aku meninggalkan ayah, aku sudah tak tahan menunggu lagi. Sekarang aku ingin secepatnya berjumpa dengan ayahku, menikmati kehadirannya.” Tentu, Yusuf sangat rindu dan ingin secepatnya berjumpa dengan ayahnya. Tetapi demi kepentingan saudara-saudaranya, ia rela menunda kenikmatan-nya. Pengorbanan kenikmatan Yusuf ini mengakibatkan ter-tundanya kenikmatannya terhadap penggenapan mimpinya setidak-tidaknya enam bulan lamanya. Kakak-kakaknya harus pulang ke rumah, setelah menghabiskan bekalnya barulah akan kembali untuk mendapatkan gandum penyambung hidup. Akhirnya, ayah mereka benar-benar datang ke Mesir untuk menjumpai Yusuf.
Andaikata Anda adalah Yusuf, sanggupkah Anda menunggu sekian lama? Sebagai seorang pemegang kuasa, Yusuf mampu menyuruh segera membawa ayahnya ke Mesir. Tetapi ia mengorbankan kenikmatan berjumpa dengan ayahnya demi mengganjar saudara-saudaranya, untuk kebaikan mereka. Saya ulangi, Yusuf adalah orang yang jernih dan telah mengalami penanggulangan. Temperamen dan emosi pribadi-nya mutlak dikendalikan oleh hayat kebangkitan.
Semua pemimpin dalam hidup gereja memerlukan hayat semacam ini. Tanpa hayat semacam ini, kita tidak tahu bagaimana membantu orang lain. Tanpa hayat ini, kontak kita dengan orang akan menurut perasaan kita, menurut gembira atau sedih. Namun Yusuf tidak menanggulangi saudara-saudaranya menurut emosinya, melainkan menurut keperluan mereka. Jika Yusuf bertindak menurut hasratnya yang ingin menjumpai ayahnya, tentu ia akan segera menjemput ayahnya. Tetapi untuk mengganjar saudara-saudaranya, ia telah menunda saat berjumpa dengan ayahnya sedi-kit-dikitnya enam bulan. Demi kebaikan kakaknya, ia telah mengorbankan kenikmatannya untuk segera beserta dengan ayahnya.
Kelihatannya Yusuf bertindak keras terhadap saudara-saudaranya. Ketika kesembilan saudara-saudaranya pulang, mereka mungkin sekali berkata, “Astaga! Orang itu sungguh keras! Ia sungguh menyengsarakan kita! Ia tidak hanya menyalahpahami kita, juga menyengsarakan kita.” Setelah mereka kembali ke hadapan ayahnya, mereka tidak dalam suasana gembira, walaupun telah memperoleh makanan yang diperlukan. Mereka menceritakan kepada ayahnya tentang peristiwa yang telah menimpa mereka di Mesir. Mereka tidak tahu bahwa Yusuf mengasihi mereka secara diam-diam. Seperti yang telah kita bahas, Yusuf mengasihi mereka, mengembalikan uang mereka, dan memberi mereka semua bekal yang diperlukan dalam perjalanan. Yusuf tidak bermaksud membalas dendam. Ia hanya memikirkan apa yang berguna bagi saudara-saudaranya yang belum pernah mengalami pengganjaran. Bahkan dalam suasana menikmati penggenapan mimpinya, Yusuf tidak egois atau mementingkan dirinya. Ia menaruh perhatian yang besar terhadap saudara-saudaranya. Demi menyempurnakan mereka, ia telah membayar harga yang sangat besar.
Mereka yang sebagai pemimpin di antara anak-anak Allah perlu belajar ini. Kontak kita dengan kaum saleh tidak seharusnya menurut emosi kita, melainkan menurut keperluan mereka. Sama seperti Yusuf memperlakukan saudara-saudaranya, tidak terlalu ketat, juga tidak terlalu kendur. Jangan mengira Yusuf terlalu ketat terhadap saudara-saudaranya. Penanggulangannya terhadap mereka itu sangatlah jernih bertujuan menyempurnakan mereka. Ia bukannya berkata dengan kendur, “Kalian kumaafkan semua. Aku tidak mempersoalkan perbuatan kalian yang lalu, sebab aku tahu bahwa Allahlah yang mengutus aku datang kemari. Sekarang, marilah kita memuji Tuhan!” Jika demikian sikap Yusuf terhadap mereka, mereka tidak akan menerima penyempurnaan.
Menurut sifat alamiah Yusuf, sulit sekali baginya mengurung saudara-saudaranya selama tiga hari. Ia bukanlah orang semacam itu. Kalau ia berbuat demikian berarti ia melanggar sifat alamiahnya yang baik hati. Namun demi keperluan mengganjar saudara-saudaranya, ia mengharuskan dirinya berbuat demikian. Dalam hidup gereja, kita tidak seharusnya selalu baik hati. Adakalanya pemimpin-pemimpin harus keras dan ketat. Tetapi kekerasan itu harus tepat. Jika tidak, kekerasan Anda akan membunuh orang lain. Penekanannya di sini adalah, jangan menanggulangi orang menurut amarah kita, emosi, atau sifat alamiah kita, juga jangan menurut kenikmatan diri kita, melainkan menurut keperluan orang lain. Boleh jadi Yusuf berkata kepada dirinya, “Demi kakak-kakakku, aku harus keras, bahkan berbicara dengan sikap yang tegas kepada mereka. Aku harus mengurung mereka tiga hari.” Kita semua harus seperti Yusuf, belajar menanggulangi menurut keperluan orang lain, bukan menurut perasaan kita sendiri.
Hidup gereja mirip dengan kehidupan pernikahan. Menurut ketetapan Allah, tidak boleh ada perceraian. Baik dalam kehidupan pernikahan maupun dalam hidup gereja tidak boleh ada perceraian. Dalam pandangan Allah, hidup gereja tidak ada “jalan pelarian”, tidak ada “pintu darurat”. Jika Anda mengatakan bahwa gereja bukan lagi gereja, itu berarti Anda sedang bercerai dengan gereja. Lima tahun yang lalu Anda mengatakan ini gereja, mengapa hari ini Anda mengatakan ini bukan gereja? Jika Anda telah bertahun-tahun tinggal bersama seorang pria, bagaimanakah dapat Anda katakan bahwa ia itu bukan suami Anda? Dalam hidup gereja terdapat bermacam-macam orang. Jangankan berkumpul dengan orang yang beraneka ragam, bahkan seorang laki-laki pun tidak mudah tinggal bersama istrinya untuk waktu yang lama. Semua orang yang telah menikah dapat memberi tahu bahwa ini memang tidak mudah. Itulah sebabnya perceraian merajalela di Amerika Serikat. Saya pernah melihat statistik yang mencatat jumlah perceraian di California hampir sebesar jumlah pernikahan. Namun dalam hidup gereja, muda mudi yang menikah tidak seharusnya bercerai. Kaum muda dalam gereja seharusnya memiliki anugerah Allah, belajar menghadapi pasangan bukan menurut sifat mereka, melainkan menurut hayat kebangkitan. Dalam hidup gereja, kita harus belajar pelajaran yang sama. Dalam hidup gereja, adakalanya pemimpin-pemimpin tidak mengontaki orang dengan tepat. Dalam berkontak dengan orang, kita tidak selalu berbuat menurut keperluan mereka, malah menurut emosi, perasaan, dan kenikmatan kita. Pada tahun-tahun yang mendatang, di antara kita banyak anak muda akan dibangkitkan oleh Tuhan, mereka akan menjadi pemimpin. Ketika mereka memberi pimpinan, mereka harus belajar tidak menurut emosi mereka, melainkan menurut daya pembeda yang dikendalikan oleh hayat kebangkitan. Bila demikian, mereka dapat berkontak dengan umat saleh menurut keperluan mereka, bukan menurut emosinya sendiri. Mereka akan seperti Yusuf, yang menghadapi saudara-saudaranya menurut keperluan mereka, sekalipun ia harus melawan hasratnya sendiri terhadap kenikmatan akan penggenapan mimpinya. Pada saat menanggulangi saudara-saudaranya, Yusuf bahkan melawan sifat alamiahnya. Menurut sifat alamiahnya, ia bukanlah orang yang keras atau ketat terhadap orang lain. Tetapi karena saudara-saudaranya memerlukan penanggulangan macam itu, maka dengan cara macam itulah ia menanggulangi mereka. Segala sesuatu yang diperbuat Yusuf semuanya adalah menurut keperluan saudara-saudaranya, tidak satu pun yang menurut hasrat, kenikmatan, kesenangan, atau emosinya sendiri. Sampai-sampai dalam hal penggenapan mimpinya, ia tidak menghiraukan perasaannya sendiri, kecuali menghiraukan saudara-saudaranya dan apa yang berguna bagi mereka.
Dalam hal kepemimpinan dalam hidup gereja, kita belumlah sukses seluruhnya. Kepemimpinan yang saya maksud di sini bukan hanya khusus ditujukan kepada penatua, melainkan juga orang-orang yang membimbing serta membantu orang lain. Ini termasuk mereka yang terlibat dalam pembinaan dan penggembalaan. Ketika kita membantu orang-orang dengan menggembalakan mereka, kita tidak boleh menurut perasaan diri kita, melainkan menurut keperluan orang lain. Belajar hal ini berarti belajar satu pelajaran yang besar. Yusuf adalah teladan yang unggul dalam hal kepemimpinan yang tepat. Ia adalah seorang pemimpin yang tidak bertindak menurut hasrat, keperluan, sifat, atau emosinya sendiri. Ia melakukan segala sesuatu demi untuk keperluan dan kebaikan orang lain. Ia berbicara tegas kepada saudara-saudaranya tidak lain untuk kebaikan mereka. Ia mengurung mereka tiga hari dalam penjara adalah untuk kebaikan mereka. Ia membelenggu Simeon, menahannya lebih lama, adalah untuk kebaikannya. Kita telah tampak bahwa Yusuf mengasihi saudara-saudaranya sampai puncaknya. Namun, ia bukan mengasihi mereka secara kendur, melainkan secara jernih menurut keperluan dan kebaikan mereka. Dalam hidup gereja hari ini, kita semua perlu mempraktikkan hal ini.