← Daftar isi Kejadian (8) · bab 16/16

DIMATANGKAN ASPEK MEMERINTAH DARI ISRAEL YANG MATANG (8)

Telah berkali-kali kita tunjukkan bahwa kisah Yusuf meliputi dua garis: garis lambang dan garis hayat. Sebelum kita lebih lanjut melihat garis hayat, kita perlu melihat satu butir lain mengenai Yusuf sebagai lambang Kristus.

17) Memerintah

Yusuf melambangkan Kristus yang memerintah dalam kerajaan-Nya selama seribu tahun. Jika kita memperha-tikan nubuat dalam kisah Yusuf, kita akan nampak bahwa catatan ini merupakan gambar dari Kristus yang memerin-tah dalam Kerajaan Seribu Tahun.

a) Menyuplai Orang dengan Makanan

Menurut gambar ini, Kristus akan melakukan empat hal dalam Kerajaan Seribu Tahun. Pertama, Ia akan menyuplai orang dengan makanan, yaitu memuaskan keperluan setiap orang (47:15-17). Meskipun seluruh bumi dilanda bala kelaparan, namun Yusuf dapat mengatasi kelaparan setiap orang. Hari ini, setiap orang sedang kelaparan, tidak seorang pun yang merasa puas. Tetapi ketika Kristus memerintah pada masa seribu tahun kelak, Ia akan menyuplai keperluan setiap orang, memuaskan kelaparan setiap orang.

b) Memelihara Hidup Orang

Ketika Yusuf berkuasa di Mesir, ia memelihara hidup orang (47:19, 25). Karena Kristus akan memuaskan keper-luan setiap orang, maka Ia sanggup memelihara setiap orang, supaya setiap orang bertahan hidup. Jika Anda meneliti nu-buat tentang Kristus memerintah dalam Kerajaan Seribu Tahun, Anda akan nampak bahwa Kristus menghidupkan semuanya. Hari ini, maut ada di mana-mana; setiap orang, setiap benda, sedang sekarat. Tetapi pada masa seribu tahun saat Kristus memerintah, hampir tidak ada tanda-tanda ma-ut. Setiap orang dan setiap benda akan penuh dengan hayat.

c) Membuat Tanah Terus Berproduksi

Yusuf juga memberi pemeliharaan terhadap tanah-ta-nah agar terus berproduksi. Bukan hanya menyuplai orang dengan makanan, Yusuf juga menyediakan benih (47:19-23). Dalam Kerajaan Seribu Tahun, Kristus akan membuat se-muanya produktif. Berkebalikan dengan situasi hari ini, se-gala sesuatu makin susut, hilang. Namun, ketika Kerajaan Seribu Tahun itu tiba, setiap benda di bumi akan produktif. Supaya bisa menghasilkan, perlu benih. Makanan untuk ke-puasan, benih untuk produksi. Sewaktu Kristus memerintah dalam Kerajaan Seribu Tahun, Kristus akan menyuplai orang dengan makanan agar mereka puas; juga akan menyuplaikan benih, agar mereka produktif.

d) Menaruh Perhatian Khusus kepada Orang Israel

Yusuf juga menaruh perhatian khusus kepada orang Israel (50:21). Ini melambangkan bahwa dalam Kerajaan Seribu Tahun, Kristus akan menaruh perhatian khusus ke-pada orang Israel. Orang Israel di bumi ini mempunyai fung-si yang istimewa, yaitu bersaksi bagi Allah. Meskipun Kristus menyayangi orang Israel, namun orang Israel hari ini tidak percaya kepada Kristus. Namun, tak peduli orang Israel percaya atau tidak, hari ini mereka tetap sebagai kesaksian Allah. Pada masa Kerajaan Seribu Tahun, akan terdapat ba-nyak bangsa di bumi, namun di antaranya hanya satu yang sebagai kesaksian Allah, yaitu bangsa Israel. Itulah alasan-nya Kristus akan menaruh perhatian khusus kepada orang Israel. Dia demikian memperhatikan orang Israel, menunjuk-kan bahwa Dia mutlak untuk kesaksian Allah. Demikian juga, Kristus mengasihi gereja, karena gereja adalah kesak-sian Allah. Karena itu, dalam Kerajan Seribu Tahun, Kristus akan memuaskan setiap orang, membuat setiap hal hidup, membuat setiap hal produktif, dan memperhatikan betul-betul orang Israel sebagai kesaksian Allah.

Sekarang marilah kita melihat garis hayat. Ketika saya untuk kali pertama membaca tentang Yusuf mengumpulkan uang, lembu, kambing, tanah sebagai penukar makanan, saya berkata, “Yusuf, engkau adalah perampok. Engkau telah me-rampasi orang-orang, bahkan merampas mereka habis-habis-an. Engkau mengumpulkan kekayaan mereka, ternak dan tanah mereka. Akhirnya, diri mereka pun kaukumpulkan. Yusuf, engkau ini tuan tanah macam apa?” Hanya Yusuf yang memegang garis hayat, dan garis hayat ialah makanan. Orang yang menginginkan makanan, harus memberi sesuatu kepada Yusuf, baru bisa memperolehnya. Jika mereka meng-inginkan kepuasan, mereka harus membayar harga dengan harta benda, lembu, domba, atau tanah. Pertama-tama “Yusuf mengumpulkan segala uang yang terdapat di tanah Mesir dan di tanah Kanaan” (47:14). Ayat 15 mengatakan, “Setelah habis uang di tanah Mesir dan di tanah Kanaan, datanglah semua orang Mesir menghadap Yusuf serta berkata: ‘Berilah makanan kepada kami! Mengapa kami harus mati di de-panmu? Sebab tidak ada lagi uang.’” Setelah rakyat berkata demikian kepada Yusuf, ia menyuruh mereka memberikan ternak kepadanya, “Lalu mereka membawa ternaknya kepa-da Yusuf dan Yusuf memberi makanan kepada mereka ganti kuda, kumpulan kambing domba, dan kumpulan lembu sapi dan keledainya” (47:17). Setahun kemudian, karena keku-rangan makanan, rakyat datang kembali kepada Yusuf. Kali ini tidak dengan tawaran, karena mereka dengan Yusuf su-dah sangat jelas. Milik mereka hanya tersisa tanah dan diri mereka saja. Maka mereka memohon agar ia membeli mere-ka dan tanah mereka sebagai ganti makanan (47:19). Akhir-nya, Yusuf sendiri menjadi satu-satunya tuan tanah, bankir, dan peternak di Mesir.

Yusuf memiliki suplai hayat, yakni suplai makanan. Menurut konsepsi alamiah kita, Yusuf seharusnya memberikan begitu saja. Namun jangan sekali-kali konsepsi alamiah dan duniawi kita bawa ke dalam pembacaan Alkitab. Yusuf memiliki suplai hayat, dan rakyat memerlukan suplai ini. Mereka harus melakukan sesuatu untuk memperoleh suplai ini. Sebelum melihat apa yang harus mereka perbuat, kita perlu mencari sebab-musabab Yusuf menjadi kaya raya sede-mikian rupa serta memiliki suplai hayat ini. Ini dikarenakan semua penderitaannya. Sejak berusia 17 tahun ia sudah mu-lai menderita, bahkan sampai ia naik takhta, memegang ke-kuasaan, juga tetap menderita, karena ia berpisah dengan ayahnya. Telah kita tunjukkan dalam berita yang lalu bah-wa Yusuf memiliki kekuatan dan kedudukan untuk melaku-kan setiap hal yang dipandang perlu untuk mendatangkan ayahnya. Tetapi ia menahan diri untuk tidak melakukan-nya, karena di Mesir ia adalah untuk menggenapkan ekono-mi Allah. Agar ekonomi Allah bisa tergenapkan, Yusuf harus menderita. Meskipun ia adalah seorang penguasa, namun ia terus menderita, sampai pada hari ayahnya datang. Karena penderitaannya, ia mendapatkan semua kelimpahan ini. De-mikian juga dengan hidup gereja hari ini. Hanya orang yang menderita yang dapat menyuplaikan hayat kepada orang lain. Konsepsi ini dapat kita lihat dalam syair kidung (No. 465). Dua bait terakhir dari kidung ini ditulis oleh Saudara Watchman Nee:

Prinsip ukur hayat: rugi, bukan untung,

Bukan minum banyak, tapi tu-ang b’rapa;

Karena kekuatan kasih, pada pengorbanan kasih,

Siapa paling d’rita, paling bisa beri.

Siapa paling ketat, mudah Allah pilih,

Siapa paling luka, dapat seka linang;

Siapa tak bisa dikupas, itu gong yang berkumandang,

Siapa tolong diri, riangnya tak memuncak.

Tanpa menderita, kita tidak akan mempunyai sesuatu untuk menyuplai orang lain. Pohon anggur yang mengalami banyak penderitaan, penanggulangan, pengguntingan, dan peremukan, baru dapat menghasilkan arak anggur yang se-dap, yang membuat orang girang. Saudara Watchman Nee ta-hu, semakin menderita, kita semakin dapat menyuplai orang. Tanpa menderita, semua yang kita katakan hanyalah gong yang berkumandang. Kita dapat bersuara, namun tanpa hayat di dalamnya. Seperti yang dikatakan oleh kidung ini bahwa hayat kita diukur dari kehilangan, bukan dari keun-tungan (mendapatkan). Jadi, Yusuf bisa begitu limpah dika-renakan ia pernah menderita. Dalam tahun-tahun penderi-taannya, ia telah mengumpulkan kelimpahan.

Dalam tuaian tujuh tahun yang berlimpah, Yusuf terus mengumpulkan gandum. Ini bukan untuk kepentingan pri-badi. Mengumpulkan gandum yang sebanyak itu bukanlah sepele. Tujuh tahun Yusuf mengumpulkan gandum dan menyimpannya ke dalam lumbung. Ini adalah perkara yang besar. Di satu pihak, Yusuf sedang berjerih-payah; di pihak lain, ia sedang menderita karena ia berpisah dengan ayah-nya. Selama tujuh tahun itu, ia tidak memperhatikan diri-nya sendiri, melainkan mengatur segala sesuatu bagi orang lain, memperhatikan hari-hari mereka yang akan datang. Apa yang ia lakukan dalam tujuh tahun itu, semuanya bagi orang lain. Ia berbuat demikian dengan mengorbankan ke-pentingan pribadinya, mengorbankan perjumpaannya dengan ayahnya.

Jika kita ingin menyuplaikan makanan kepada orang lain, kita harus mengalami penderitaan dalam waktu yang lama. Pada usia 17 tahun, Yusuf tidak memiliki gandum itu. Ia pun belum memiliki gandum itu sampai ia berusia 37 tahun. Pada saat itu ia berlimpah bukan dalam kekuatan, melainkan dalam makanan, yakni suplai hayat.

Demikian juga hidup gereja hari ini. Orang dewasa yang berpengalaman baru mempunyai suplai. Berkali-kali Sauda-ra Watchman Nee menyatakan dengan tegas agar kita mem-perhatikan hayat fisik, agar jangan sampai meninggal pada usia muda. Dalam suatu pelatihan, Saudara Watchman Nee pernah bertanya kepada para peserta, menurut mereka, pada usia berapa seseorang bisa menjadi orang yang sangat ber-guna. Kemudian ia mengatakan, seorang saudara pernah berkata bahwa usia 70 sampai 80 tahun itulah yang paling berguna. Karena itu, Saudara Watchman Nee berpesan ke-pada mereka yang ikut pelatihan agar memperhatikan diri masing-masing, jangan bunuh diri perlahan-lahan. Ia mem-beri tahu mereka untuk tidur dengan baik, makan, minum, berolahraga dengan baik, supaya mereka bisa panjang umur. Ketika Kaleb berusia 85 tahun, ia mengatakan bahwa ia te-tap kuat perkasa seperti saat ia berusia 40 tahun. Kelimpah-an bukan milik orang yang tak berpengalaman. Agar men-jadi berkelimpahan, kita harus menerima penderitaan dalam jangka waktu yang lama. Yusuf telah menderita 20 tahun, yaitu sejak ia berumur 17 hingga 37 tahun, barulah men-jadi kaya dan limpah. Akhirnya, setelah bertahun-tahun menderita, makanan sampai pada tangannya. Karena ia memiliki makanan, maka semua orang yang lapar datang kepadanya.

Menurut pendapat saya, Yusuf seharusnya murah hati terhadap orang, dan berkata, “Kapan saja kalian memerlukan makanan, datang saja kepadaku, dan aku akan memberinya.”

Ketika masih muda, saya membaca Kejadian 47, saya meng-anggap Yusuf bukanlah seorang yang murah hati. Dalam pandangan saya, Yusuf memeras orang habis-habisan. Teta-pi puji Tuhan, Dia memperlihatkan kepada saya mengapa Yusuf tidak murah hati. Tidak lain karena suplai hayat tidak dapat diobral begitu saja. Jika dalam hidup gereja ada orang mengobral suplai hayat, hendaknya kita bertanya, apa-kah yang disuplaikannya itu barang asli, suplai hayat yang asli tidak akan diobral sembarangan. Yusuf seolah berkata kepada orang-orang, “Apakah kalian ingin mendapatkan suplai? Kalau ya, kalian harus membayar harga.” Murah hati itu konsepsi duniawi. Yusuf berada di dalam lingkung-an yang lain, di sana tidak ada murah hati atau kepicikan, yang ada hanyalah suplai dan membayar harga. Banyak orang Kristen hari ini menjual barang dengan harga murah. Tetapi dalam pemulihan Tuhan, tidak ada satu pun yang murah. Anda menginginkan makanan, Anda harus memba-yar harga. Semakin tinggi harga yang Anda bayar, semakin banyak suplai yang Anda peroleh. Hari ini ada sementara orang menentang pemulihan Tuhan, tetapi dalam lubuk hati mereka, mereka tahu jelas bahwa jalan ini benar. Mereka menentang karena menempuh jalan ini menuntut harga yang sangat tinggi. Itulah sebabnya mereka memilih jalan yang murah, sambil mengeritik jalan yang mahal. Mustahil kita memperoleh suplai hayat tanpa membayar harga. Yusuf tidak akan menjual makanan kepada Anda dengan harga murah.

Orang yang membeli makanan kepada Yusuf membayar empat macam harga: uang, ternak, tanah, dan diri mereka. Saya sungguh senang karena pencatatan Alkitab demikian sempurna! Keempat harga ini meliputi semua harga yang perlu kita bayar hari ini. Ketika kita membayar dengan uang, ternak, tanah, dan diri kita, kita pun menerima empat macam suplai: suplai yang pertama tidak semustika suplai yang keempat. Setiap suplai akan lebih berharga daripada yang sebelumnya, dan yang terakhir itulah yang paling berharga.

Kini mari kita melihat uang itu mewakili apa. Menu-rut pengertian yang dangkal, uang ialah sesuatu yang kita sandari. Pada hakekatnya, uang itu mewakili kemudahan. Sistem keuangan di Amerika Serikat sangatlah memudah-kan. Pada zaman Yusuf, orang menggunakan uang kepingan perak. Mereka selalu membawanya, dan ketika membeli ba-rang, kepingan itu ditimbang. Tetapi hari ini kita membayar sesuatu cukup dengan menandatangani selembar cek saja. Ini sangat memudahkan. Akan tetapi bila rekening sudah kehabisan suplai, maka lenyaplah hal yang memudahkan ini. Dan menghadapi saat seperti itu, kita dipusingkan oleh pembayaran rekening. Kita semua akan senang bila reke-ning kita berkelebihan. Namun, apa tindakan kita ketika suplai ini habis sama sekali?

Ada orang tidak mau membayar harga untuk memperoleh suplai, karena mereka takut akan kehilangan yang memudahkan ini. Mungkin ada yang berkata, “Haruskah aku menempuh jalan gereja? Jalan ini memang baik, tetapi jika aku menempuhnya, aku akan kehilangan kemudahan ini. Istriku atau familiku akan tidak senang kepadaku.” Tetapi semakin Anda melepaskan hal yang memudahkan ini, Anda semakin beroleh suplai hayat. Namun, orang Kristen hari ini cenderung mempertahankan hal yang memudahkan ini, karena itu mereka tidak memiliki suplai hayat. Di kebanyakan katedral, kapel, dan gedung kebaktian, tiap minggu orang-orang mendengarkan berita tentang hal yang memudahkan. Mereka mengunjungi tempat-tempat ini untuk memperoleh lebih banyak hal yang memudahkan. Bagi me-reka, menempuh jalan pemulihan Tuhan itu terlalu mahal, dan tidak memudahkan. Memang betul, menempuh jalan ini akan kehilangan hal yang memudahkan, tetapi Anda akan mendapatkan suplai.

Barang kedua yang harus dibayarkan orang untuk suplai makanan ialah ternak mereka. Sangat mudah memahami ternak mewakili apa. Ternak menandakan sarana kehidup-an kita. Saudara-saudara Yusuf sangat mengkhawatirkan keledai mereka, takut kalau-kalau Yusuf akan mencari alas-an merampasnya. Hari ini mungkin Anda sangat menya-yangi mobil Anda. Takut kalau-kalau kecurian. Jika demi-kian, mobil Anda itu adalah keledai Anda. Bagi mereka yang memiliki gelar doktoral, gelar mereka itulah keledainya. Ba-gi yang lainnya, kedudukan itulah keledainya. Tetapi Kristus, Yang berlimpah itu, Sang penyuplai itu, ada di sini, Ia tidak murah hati, juga tidak kikir. Ia tidak bermaksud memeras barang apa pun dari Anda. Tetapi demi kepentingan Anda, Ia menghendaki Anda membayar harga. Ia tidak akan men-jual suplai-Nya dengan murah. Kecuali membayar dengan uang, Anda juga harus membayar dengan ternak. Hanya dengan menyerahkan ternak Anda, barulah Anda beroleh suplai yang kedua. Setelah uang dan ternak kita serahkan kepada-Nya, barulah kita memiliki perhentian dan damai.

Setelah ternak, kita masih perlu menyerahkan tanah kita. Tanah mewakili sumber kekayaan kita. Dengan perum-pamaan yang kurang enak didengar, Tuhan Yesus bagaikan “perampok”, Ia akan “merampas” segala milik kekasih-Nya (orang yang mengasihi-Nya). Ia mengambil uang, ternak, dan tanah kita. Mungkin Ia berkata, “Berikanlah tanahmu ke-pada-Ku. Jangan menahan sumber kekayaan itu di tangan-mu, serahkanlah semuanya kepada-Ku.” Ini bukan suatu ajaran, melainkan yang saya tampak dari pengamatan ter-hadap kehidupan banyak orang. Ada kaum saleh terkasih yang mau mengorbankan uangnya, tetapi tidak mau me-ngorbankan ternaknya; ada orang dapat melepaskan ter-naknya, tetapi tidak dapat melepaskan tanahnya. Mereka beranggapan bahwa Tuhan Yesus selalu memberi mereka ini dan itu, bukan “merampas” milik mereka. Namun dalam pemulihan-Nya, Tuhan ingin “merampas” setiap barang kita — hal-hal yang memudahkan, sarana kehidupan kita, sumber kekayaan kita. Jika Anda ingin menyerahkan tanah Anda kepada Tuhan, Anda akan menerima suplai yang ketiga.

Permintaan Tuhan yang terakhir ialah diri kita sendiri, termasuk setiap aspek apa adanya kita. Tuhan Yesus akan menuntut setiap bagian dari Anda. Sudahkah telinga Anda didapatkan Tuhan? Kalau sudah, Anda tidak akan mende-ngarkan hal apa pun di luar Kristus. Sudahkah mulut An-da didapatkan Tuhan? Kalau sudah, mulut Anda akan berubah fungsi. Sudahkah segenap diri Anda didapatkan Tuhan Yesus? Saya tidak yakin ada banyak orang yang te-lah menyerahkan seluruh dirinya kepada Tuhan. Mengapa dalam kekristenan hari ini masih begitu banyak opini? Meng-apa begitu sedikit kesatuan dan pembangunan? Semuanya ini tak lain dikarenakan hanya sedikit orang yang mau me-nyerahkan dirinya kepada Kristus.

Meskipun Anda telah banyak mendengar khotbah tentang persembahan, tetapi mungkin Anda belum pernah mende-ngar berita tentang menyerahkan diri sendiri kepada Tuhan. Mengenai persembahan diri (konsikrasi), kita telah dipenga-ruhi oleh Konvensi Keswick. Perhimpunan ini menganut ajaran Mrs. Hannah Whittal Smith, yang menekankan bah-wa konsikrasi itu kunci segala-galanya. Anda mau kudus? Harus mempersembahkan diri. Doa Anda mau terjawab dan Anda menempuh kemenangan? Harus mempersembahkan diri. Setelah bertahun-tahun kami menaati ajaran tersebut, akhirnya kami menemukan bahwa ini masih belum menca-kup keseluruhan dari yang diperlukan bagi suplai hayat.

Lihatlah apa yang telah terjadi di tengah-tengah kita pada tahun 1948. Dikarenakan suatu kekacauan dan huru-hara, Saudara Watchman Nee terpaksa menghentikan mi-nistrinya untuk waktu yang cukup lama. Beberapa di anta-ra kami merasa bahwa ministrinya perlu dipulihkan. Kami berusaha sekuat tenaga namun sia-sia belaka. Sebelum mi-nistrinya dipulihkan, sejumlah orang di antara kami beren-cana untuk menemuinya di rumahnya untuk bersekutu de-ngannya. Mereka yang ingin mengikuti persekutuan kali itu sekitar tiga puluhan orang, tetapi Saudara Watchman Nee hanya mengizinkan saya berikut dua saudari saja yang bo-leh menemui dia. Dia tidak mau mengobral suplainya. Akhir-nya, dia menyetujui yang lainnya duduk di kamar sebelah di ruang tamunya, hanya sebagai pendengar persekutuan ini. Pagi hari di hari pertama, cukup lama tak seorang pun ber-bicara. Akhirnya saya tidak tahan akan kebisuan itu, lalu mohon kepada Saudara Nee untuk memberi sedikit keterang-an tentang kekacauan gereja-gereja di Propinsi Fukien dan Propinsi Kwangtung. Sewaktu menjawab, dia mencurahkan dirinya bagaikan air terjun Niagara, menguraikan lebih dari satu jam. Perkataannya penuh dengan terang, kekuatan, dan daya terjang. Di daerah itu dia sudah enam tahun tidak per-nah menyampaikan perkataan secara terbuka, hanya ada beberapa orang yang menemuinya secara pribadi. Saudara Watchman Nee hari itu mengatakan tentang garis Yerusalem. Setelah ia berhenti berbicara, tak seorang pun mengeluarkan sepatah kata. Kemudian, ada seorang saudari berkata, “Meng-apa kita tidak menerima perkataan Saudara Nee serta melak-sanakannya?” Semua yang hadir saat itu mencucurkan air mata sambil berkata, “Amin! Kami mau melaksanakan ini.” Lalu Saudara Watchman Nee menjawab, “Kalau kalian mau melaksanakan jalan ini, kalian harus menyerahkan diri dan segala milik kalian secara tertulis.” Saya menyinggung hal ini kepada Anda agar Anda tahu bahwa kita harus menye-rahkan diri kepada Tuhan. Anda mungkin sudah memper-sembahkan diri kepada-Nya, namun belum pernah menye-rahkan diri kepada-Nya. Hari ini Kristus bukan hanya mau mendapatkan uang Anda, ternak, dan tanah Anda, Ia bahkan mau mendapatkan diri Anda.

Melalui pembayaran yang terakhir, yakni diri mereka, kepada Yusuf, orang-orang beroleh bagian yang paling baik. Ketika Anda membayar harga yang pertama, kedua, dan ketiga, Anda memperoleh bagian yang pertama, kedua, dan ketiga. Jika Anda membayar harga yang paling tinggi, Anda akan menikmati bagian yang paling baik. Akhirnya kita bukan hanya mendapatkan makanan sehingga kita puas, kita juga mendapatkan benih sehingga kita berproduksi. Untuk mendapatkan makanan dan benih, kita harus membayar harga penuh. Sebelum menyerahkan diri, kita wajib menyerahkan segala-gala kita. Setelah orang-orang menye-rahkan segala miliknya kepada Yusuf, mereka dapat berkata, “Puji Tuhan, kami sudah dibebaskan! Kami tidak perlu me-musingkan uang, ternak, tanah, bahkan diri kami. Kami hanya menikmati suplai yang limpah.” Kini yang tersisa hanyalah kenikmatan belaka. Alangkah berkatnya melepas-kan segalanya untuk kenikmatan ini!

Ketika Tuhan Yesus datang, seluruh bumi akan berada di bawah satu tuan tanah dan satu bankir. Semua tanah adalah milik Kristus, kita akan menyerahkan segala milik dan apa adanya kita kepada-Nya. Kita adalah penikmat-penikmat, bukan tuan-tuan. Saat itu, seluruh Mesir di ba-wah tangan satu tuan. Yusuf memindahkan rakyatnya ke kota-kota “di daerah Mesir dari ujung yang satu sampai ujung yang lain” (47:21 Tl.), supaya mendapat pembagian yang rata. Tidak ada yang kaya, juga tidak ada yang mis-kin. Demikian juga keadaan hari ini mengenai suplai rohani. Kristus memiliki kelimpahan. Tetapi berapa banyak Ia dapat menyuplai kita, tergantung pada apa yang kita bayarkan. Jika kita mau membayar harga yang pertama, kita akan mendapatkan suplai yang pertama. Jika kita mau membayar harga yang lebih banyak, kita akan mendapatkan suplai yang lebih banyak. Jika kita membayar harga yang keem-pat, maka kita bukan hanya mendapatkan makanan yang memuaskan diri, bahkan mendapatkan benih yang mengha-silkan sesuatu bagi orang lain. Alangkah ajaibnya ini!

Jika Anda meneliti Kejadian 47, Anda akan nampak bahwa akhirnya seluruh Tanah Mesir menjadi tanah kenik-matan. Tidak ada lagi perbedaan tinggi dan rendah, kaya dan miskin, semua orang menjadi penikmat yang sederajat, sebab setiap orang dan setiap benda berada di bawah se-orang tuan. Inilah gambaran dari Kerajaan Seribu Tahun. Dalam Kerajaan Seribu Tahun, tidak ada imperialisme atau sosialisme. Setiap orang berdiri pada tingkatan yang sama, karena segala sesuatu berada di bawah tangan Tuhan. Ia akan membeli semuanya, juga akan mendapatkan semua ma-nusia, perkara, dan benda. Sungguh, Tuhan itulah Pemilik bumi serta segala isinya! (Mzm. 24:1).

Keadaan Kerajaan Seribu Tahun sangat berbeda de-ngan keadaan hari ini. Sebelum Yusuf naik takhta, orang-orang berada dalam tingkatan yang berbeda-beda. Namun setelah ia naik takhta, orang-orang membeli makanan ke-padanya, Mesir menjadi bayangan Kerajaan Seribu Tahun, semua orang berada pada tingkat yang sama. Segalanya berada di bawah satu orang, bahkan milik orang ini, sebab dialah yang memiliki kelimpahan, sehingga bisa memper-oleh segalanya. Keadaan kita hari ini di dalam gereja juga seharusnya demikian. Karena Kristus telah mendapatkan segala kita, sekarang kita berada pada tingkatan yang sama sambil menikmati kelimpahan Kristus. Semua butir di atas merupakan benih yang akan bertumbuh dan berkembang dalam Perjanjian Baru.

Yusuf bukan hanya menyuplai orang dengan makanan, ia pun menangani penguburan ayahnya (49:29-31; 50:1-14). Penguburan Yakub bukan satu hal yang sederhana. Me-nurut Ibrani 11, Abraham, Ishak, Yakub, semua mendapat janji mewarisi tanah permai, namun pada saat mereka me-ninggal, mereka belum mewarisinya. Ini justru dengan ku-at menunjukkan kebangkitan. Abraham meninggal dengan membawa harapan bahwa ia akan bangkit. Tidak diragukan, Ishak dan Yakub juga memiliki konsepsi yang sama. Yakub meninggal dengan harapan bahwa ia akan bangkit dan mewa-risi tanah tersebut. Itulah sebabnya ia minta kepada Yusuf agar jangan meninggalkan jenazahnya di Mesir, melainkan menguburkannya di tempat nenek moyangnya. Yakub sadar bahwa kematian baginya tidak lain merupakan tidur sesaat, sampai hari kebangkitan itu tiba, ia akan bangun dan mewa-risi tanah permai. Inilah makna penguburan Yakub. Yusuf menuruti permintaan ayahnya, dan menguburkan dia di Tanah Kanaan. Hal ini menunjukkan bahwa Yusuf juga mempunyai iman ayahnya. Ia yakin bahwa mereka akan bangun bersama-sama dan mewarisi tanah permai.

Yusuf juga memelihara saudara-saudaranya serta meng-hibur mereka (50:15-21). Saudara-saudara Yusuf tidak dapat melupakan kejahatan yang pernah mereka lakukan terha-dapnya. Mereka gentar, kalau-kalau Yusuf akan membalas dendam kepada mereka setelah ayahnya meninggal. Men-dengar permohonan saudaranya, Yusuf menangis, karena ia sama sekali tidak berpikir untuk membalas mereka. Ia ber-kata, “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti apa yang terjadi seka-rang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar” (50:19-20). Yusuf juga berjanji akan menjamin hidup mere-ka serta anak-anak mereka. Demikianlah ia menghibur dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya (50:21). Yusuf seolah-olah berkata kepada saudara-saudaranya, “Mak-sud kalian jahat, tetapi maksud Allah ajaib. Ia mengirim aku ke sini untuk menyelamatkan nyawa banyak orang. Janganlah khawatir, aku berterima kasih atas perbuatan kalian, karena kalian membantu Allah dalam menggenapkan kehendak-Nya.” Dalam hidup gereja, kita perlu roh yang demikian. Sekalipun ada orang yang menyalahi Anda, na-mun Anda perlu nampak bahwa apa yang mereka lakukan itu berasal dari Allah. Jika Anda menerima setiap perkara sebagai yang dari Allah, pasti semua masalah kesalahan orang terhadap Anda akan berlalu.

Yusuf menghibur mereka yang pernah bersalah kepadanya. Betapa menakjubkan anugerah yang ia miliki! Karena orang yang disalahi bisa menghibur orang yang menyalahi, maka mereka dapat menikmati kehidupan yang bahagia di dalam kerajaan. Ingatlah, Yusuf dan saudara-saudaranya mewakili orang-orang dalam kerajaan. Karena roh Yusuf yang unggul, maka mereka bisa menikmati bersama-sama masa yang indah dalam kerajaan. Tetapi andaikata Yusuf berniat membalas dendam kepada saudara-saudaranya, maka kerajaan tidak akan pernah terwujud.

Seperti Yakub, Yusuf meninggal dalam keadaan ber-iman. Menjelang meninggal, ia berpesan kepada orang-orang Israel agar jangan meninggalkan tulang-tulangnya di Mesir, melainkan harus membawanya ke negeri yang telah dijan-jikan oleh Allah (50:22-26). Ini membuktikan bahwa ia meng-harapkan kebangkitan. Ia percaya bahwa pada suatu hari, ia akan hidup kembali untuk mewarisi tanah permai, dan beroleh bagian dalam semua kenikmatan di sana. Untuk ke-sudahan Yusuf yang menang, kita berseru: haleluya! Dalam kesimpulan Kitab Kejadian, kita nampak Kristus, kerajaan serta semua aspek para pemenang. Betapa syukur kita ke-pada Allah atas semua ini!

Pada awal kitab ini, Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, agar manusia mengekspresikan Dia. Allah juga memberi manusia kuasa untuk mewakili Dia. Setelah pengalaman-pengalaman kaum terpanggil yang de-mikian banyak, kitab ini berkesimpulan pada satu hayat, yaitu di satu pihak berada pada diri Yakub, memiliki gam-bar Allah mengekspresikan Allah; di pihak lain berada pada diri Yusuf, memiliki kuasa Allah mewakili Allah. Ini betapa unggul! Betapa menakjubkan!

Namun, apa yang dilukiskan dalam Kitab Kejadian ma-sih merupakan suatu bayangan dalam zaman perlambangan. Pada zaman Yusuf, realitas masih belum tiba. Sebab itu, dalam pengertian ini, ayat terakhir Kitab Kejadian menga-takan bahwa Yusuf mati, mayatnya dirempah-rempahi dan ditaruh dalam peti mati di Mesir. Ia mati, mengharapkan dalam zaman penggenapan akan ikut menikmati realitas-nya. Pendek kata, secara keseluruhan, Kitab Kejadian di-mulai dari penciptaan Allah, berakhir pada orang mati dan mayatnya ditaruh dalam peti mati di Mesir. Karena jatuh, mati, peti mati, dan “Mesir” merupakan nasib manusia yang telah jatuh, maka, orang yang telah jatuh memerlukan penebusan Allah. Penebusan ini akan diwahyukan dan di-lambangkan dengan sempurna dalam kitab berikutnya, yakni Kitab Keluaran.

?