← Daftar isi Kristus dan Allah · bab 3/4

ALLAH MENJADI MANUSIA (1)

BAHASA LISAN, SARANA KOMUNIKASI YANG LEBIH BAIK

Allah hendak mewahyukan diri-Nya kepada kita. Ia melakukannya melalui sarana yang dapat dimengerti oleh manusia, yaitu bahasa tertulis dan lisan. Telah kita lihat bagaimana Allah menyatakan diri-Nya melalui tulisan. Kini akan kita lihat pewahyuan-Nya secara lisan.

Misalnya ada orang yang telah bersurat-suratan dengan Anda bertahun-tahun lamanya. Namun, Anda tidak pernah melihat dia. Tentu Anda akan sangat ingin melihat dia, walaupun hanya sekali saja. Atau Anda telah membaca buku karangan seseorang, tetapi Anda tidak pernah melihat pengarang itu, Anda juga ingin berjumpa dengan dia, berhadapan wajah, supaya lebih dalam mengenalnya. Pengenalan yang sempurna terhadap seseorang tidak dapat dicapai hanya melalui tulisan. Kontak langsung memberikan kesempatan yang lebih baik. Seolah-olah komunikasi lisan lebih intim, dan lebih tuntas daripada komunikasi tulisan. Bila bahasa lisan ditambahkan kepada bahasa tulisan, hubungan komunikasi menjadi lebih berhasil. Bila kehilangan salah satu, hubungan terasa kurang; bila kehilangan keduanya, berarti hubungan sama sekali terputus. Komunikasi yang efektif selalu terlaksana dengan kedua sarana itu.

Kalaupun Allah ingin mewahyukan diri-Nya kepada kita, maka Ia harus juga melaksanakannya melalui bahasa lisan. Kalau Ia tidak memakai bahasa lisan, kita tetap tidak akan memahami-Nya. Jadi, kalau Allah hendak mewahyukan diri-Nya kepada kita, sarana bahasa lisan tidak boleh tidak ada. Tetapi bagaimana caranya Allah berbicara? Apakah Ia berbicara kepada kita di angkasa? Kalau begitu, kita semua akan ketakutan, tidak berani mendengar suara dahsyat itu, kita semua akan lari. Ada satu jurang pemisah di antara Dia dengan kita. Dia begitu luhur dan agung, kekudusan-Nya akan membuat kita undur daripada-Nya, menghindar. Lalu bagaimana Ia berbicara?

MUSIM DINGIN DI PEGUNUNGAN

Terlebih dulu saya akan menceritakan satu kisah. Pada suatu musim dingin saya tinggal di (Gunung) Lu-Shan, beristirahat karena sakit. Saat itu perang baru berakhir dan tidak ada seorang pun yang tinggal di gunung itu. Di sekitar tempat yang saya tinggali, hampir tidak dapat dijumpai manusia sepanjang hari. Saya bersifat pendiam, karena itu tempat sedemikian sangat menyenangkan saya. Di atas gunung itu tidak hanya tenang, udaranya pun dingin. Dari pagi sampai malam, manusia yang saya lihat hanyalah anak laki-laki yang membawakan makanan kepada saya tiga kali sehari, tidak ada orang lain satu pun. Mula-mula, saya merasa tenang. Namun beberapa waktu kemudian, orang seperti saya pun mulai merasa kesepian.

Di luar jendela kamar tidur saya ada sebuah balkon. Pada suatu hari, ketika saya bangun dari istirahat siang, saya melihat ada beberapa burung kecil berkumpul di sekitar balkon. Ternyata ada sedikit remah-remah makanan saya jatuh di sana dan burung-burung itu sibuk memakannya, mematuk-matuk dan mencicit. Saya berpikir, karena saya tidak bisa menjumpai orang lain, berhubungan dengan burungburung kecil itu juga baik.

Saya segera bangun, keluar untuk melihat mereka, tetapi mereka segera terbang. Timbul suatu ide pada saya. Saya ambil nasi yang tersisa dan mulai mengaturnya berbarisbaris. Pada baris pertama hanya sedikit, pada baris-baris yang mendekati pintu makin lama makin banyak. Saya bersembunyi di balik pintu dan mengamati mereka datang memakannya. Tak lama kemudian mereka terbang datang ingin memakannya. Pikir saya, ini dia saatnya, untuk keluar dan berbicara dengan mereka. Akan tetapi, begitu mereka melihat saya, mereka segera terbang. Beberapa bertengger di ranting-ranting pohon di depan balkon, dengan ketakutan melihat kepada saya, seolah mencoba memahami apa maksud saya. Setiap kali saya mendekati, mereka terbang, dan setiap kali saya pergi, mereka kembali. Hal itu berlangsung beberapa kali.

BURUNG KECIL ITU TIDAK MAU DATANG

Saya sangat ingin berbicara kepada burung-burung itu, memberi tahu mereka, “Burung-burung kecil, aku tidak ada maksud yang lain, sekarang musim dingin, di gunung ini sulit mendapatkan makanan, padaku ada cukup makanan, makanlah dengan tenang. Aku hanya minta satu hal, yaitu saat kalian makan, aku boleh duduk di antara kalian. Aku ingin mendengar nyanyian kalian dan melihat kalian melompat-lompat. Mari kita bersahabat . . . “ Akan tetapi burung-burung itu tidak mau datang. Sedikit pun tidak mengerti maksud saya. Saya pun tidak dapat berbuat apa-apa.

Akhirnya saya menyadari dan berkata kepada diri sendiri, “Tubuhku terlalu besar. Seandainya aku dapat menyusut dari 170 cm menjadi seukuran burung, dan malah mengubah diriku menjadi seekor burung, mereka tidak akan terganggu oleh kehadiranku. Aku juga dapat memberi tahu mereka maksud hatiku, dan kami dapat menempuh musim dingin di Lu-Shan bersama-sama.”

ALLAH HARUS MENJADI SEPERTI KITA

Hari ini juga ada persoalan demikian. Kalau Allah tetap Allah, selamanya kita takkan pernah mengenal Dia. Kalau Ia berkata kepada kita dengan bahasa-Nya, kita akan merasa bingung dan aneh. Kalau Allah ingin mewahyukan diri-Nya melalui bahasa lisan dan bersekutu dengan manusia, Ia harus menyusutkan diri-Nya sedemikian rupa sehingga sama seperti kita. Lalu, Ia akan mampu berbicara kepada kita dan memberi tahu tentang diri-Nya dan rahasia alam semesta kepada kita. Dengan demikianlah kita baru dapat memahami bagaimanakah Dia sebenarnya.

Lalu, sudahkah Allah menjadi manusia untuk menyatakan diri-Nya melalui pembicaraan-Nya? Mari kita kembali ke metode pengandaian. Kalau Allah memang hendak mewahyukan diri-Nya melalui bahasa manusia, kalau Ia menjadi manusia dan bersekutu dengan manusia, bagaimanakah ini? Betapa luar biasanya ini! Berarti di dalam dunia ini, di antara semua manusia dari zaman dulu sampai sekarang, ada satu orang yang tidak hanya sebagai manusia, juga Allah! Kalau Allah menjadi manusia, maka manusia itu tentu juga adalah Allah. Sekarang kita akan bertanya, siapakah orang itu?

SIAPAKAH MANUSIA YANG ADALAH ALLAH?

Ini adalah satu persoalan yang sangat sulit. Kita tetap akan memakai metode yang efektif yang telah kita terima sebelumnya, yaitu memaparkan beberapa prinsip, syarat, dan jalur. Lalu kita akan melihat berdasarkan prinsip, syarat, dan jalur itu. Kalau seseorang itu Allah, Dia harus memiliki syarat apa, harus ada sifat mutu apa, harus memiliki cara hidup yang bagaimana, dan berdasarkan kriteria inilah kita mencari manusia yang adalah Allah itu.

Syarat pertama yang harus dipenuhi adalah ketika ia ada di bumi, ia harus mengaku bahwa diri-Nya adalah Allah. Ia tidak perlu sungkan dalam hal ini; ia pasti dengan berani mengatakan bahwa ia adalah Allah, sehingga kita dapat mengetahui dia adalah Allah. Kalau dia tidak mengumumkan hal ini, kita tidak akan tahu dia adalah Allah. Jadi, adanya pengumuman demikian adalah syarat pertama.

Kedua, cara orang itu datang ke dunia harus berbeda dari kita. Kalau saya berkata, “Aku adalah Allah; tetapi saya lahir dengan cara yang sama seperti orang-orang lain, kata-kata saya tidak akan berkekuatan. Kalau saya turun dari surga, maka pernyataan saya baru berkekuatan. Jadi, kedatangan orang itu di dunia harus ada kekhususannya, harus berbeda dengan manusia pada umumnya, kalau tidak, orang tidak akan mengakuinya sebagai Allah.

Ketiga, orang itu harus memiliki standar moral yang jauh melampaui manusia lain. Dia harus memiliki kehidupan yang kudus, adil-benar, sebagaimana Allah betapa kudus dan adil-benar. Seperti misalnya, saya menjadi seekor burung, dan hidup dengan cara yang sama dengan burung-burung lain tanpa memiliki sesuatu yang istimewa untuk diperlihatkan kepada mereka, saya tidak dapat meyakinkan mereka bahwa sebenarnya saya adalah jelmaan dari manusia. Kalau Allah menjadi manusia, kehidupan moral-Nya haruslah berkualitas paling tinggi. Dengan ini kita dapat mengenalinya sebagai Allah.

Satu lagi, kalau seseorang adalah Allah, ia harus mampu melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan orang-orang pada umumnya. Kalau apa yang tidak dapat kita perbuat, dia dapat; apa yang kita tidak mampu, dia mampu; maka kita baru dapat mengatakan dia adalah Allah, dia benarbenar adalah Allah!

Terakhir, masih ada satu syarat lagi. Kalau seseorang adalah Allah, orang itu harus mampu memberi tahu kita apakah tujuan Allah atas diri manusia. Apakah tujuan Allah dalam menciptakan alam semesta dan manusia? Bagaimana Ia menyelamatkan dan membereskan penderitaan manusia? Bagaimanakah asal usul dan penyelesaian terakhir segalanya di alam semesta? Bagaimana seharusnya sikap kita terhadap Allah? Semua hal itu harus dia nyatakan kepada kita.

MENCARI ORANG YANG MEMENUHI KELIMA SYARAT TERSEBUT

Kita akan membentangkan kelima syarat itu dan menguji seluruh umat manusia. Mari kita lihat, siapa yang memenuhi kelima persyaratan itu. Orang semacam itu akan benarbenar bersyarat sebagai Allah.

Saya rasa, orang pertama yang akan diuji haruslah diri Anda sendiri. Tentu saja, Anda bukan Allah, karena Anda tidak pernah mengaku diri sebagai Allah. Saya pun tidak berani mengaku bahwa saya adalah Allah. Jadi, Anda dan saya bukan orang yang dimaksud. Baiklah, sekarang akan kita tampilkan orang lain. Terlebih dulu kita tampilkan Kong Hu Cu. Kalau Anda membaca buku-buku Kong Hu Cu, Anda akan temukan bahwa ia menempuh hidup yang sangat bermoral dan tepat. Namun ia tidak pernah mengaku diri sebagai Allah. Jadi, ia gagal dalam ujian pertama.

Bagaimana dengan Sidharta Gautama, tokoh agama Budha? Dia bukan hanya tidak pernah mengaku sebagai Allah, filsafatnya pun tidak menyinggung Allah. Ia tidak percaya adanya Allah, ia pun tidak dapat disebut Allah.

Lalu, bagaimana dengan Muhammad, tokoh agama Islam. Ia percaya kepada Allah. Namun ia pun selamanya tidak pernah mengaku dirinya sebagai Allah. Ia menyebut Tuhan sebagai Allah, dan ia sendiri sebagai rasul/nabi Allah. Kalau Anda menelusuri setiap orang dalam sejarah manusia, akan Anda temukan bahwa tidak seorang pun, kecuali satu orang, yang pernah mengaku diri sebagai Allah. Orang itu adalah Yesus dari Nazaret. Ia mengaku diri sebagai Allah yang hidup. Selain Dia, tidak ada orang lain yang mengaku dirinya adalah Allah.

MENGAKU DIRI SEBAGAI ALLAH BUKANLAH PERKARA KECIL

Bagaimana Yesus dari Nazaret dapat mengaku diri sebagai Allah? Sebelum melanjutkan, kita harus berhenti sejenak untuk mempertimbangkan perkara ini dengan serius. Sebab bukanlah perkara kecil mengaku diri sendiri sebagai Allah. Orang yang membuat pengakuan ini, ada tiga kemungkinan atas dirinya. Dan di dalam ketiga kemungkinan itu, pasti ada satu yang benar dan dua lainnya tidak benar. Apakah ketiga kemungkinan itu? Pertama, jika ia mengaku diri Allah, tetapi nyatanya bukan, ia pasti orang gila atau sakit jiwa. Kedua, jika ia mengaku dirinya Allah, tetapi nyatanya ia bukan Allah, juga tidak sakit jiwa, ia pasti pembohong, ia mengatakan kebohongan. Ketiga, kalau ia mengaku diri Allah, ia juga bukan orang gila dan pembohong, ia pasti adalah Allah. Anda hanya dapat memilih salah satu dari tiga kemungkinan itu. Kalau Anda tidak percaya dia adalah Allah, Anda harus percaya bahwa ia orang gila. Kalau Anda tidak dapat menganggapnya sebagai orang gila, Anda harus percaya bahwa ia adalah pembohong. Jadi, kita tidak perlu terlebih dulu membuktikan Yesus dari Nazaret itu Allah atau bukan, asal dapat menemukan bahwa Yesus tidak sakit jiwa atau pembohong, cukuplah. Kalau Anda dapat menemukan bahwa Yesus bukan orang gila, juga menemukan bahwa Dia bukan pembohong, pasti Ia Putra Allah. Ketiga hal di atas adalah pilihan kita. Tidak ada pilihan keempat.

PUTRA DAN BAPA ADALAH SATU

Apa yang dikatakan Yesus dari Nazaret tentang diri-Nya? Dalam Yohanes 10:30 Ia berkata, “Aku dan Bapa adalah satu.” Perkataan ini mengandung satu penjelasan. Alkitab menyebut Allah yang tidak terlihat sebagai Bapa. Lalu Putra adalah yang menyatakan Bapa. Yang tersembunyi di dalam, tidak kelihatan adalah Bapa, dan yang ternyata di luar, yang dapat dilihat dan dijamah manusia adalah Putra. Yang di belakang adalah Bapa, yang di depan adalah Putra. Keduanya sebenarnya adalah satu. Mereka adalah dua sisi dari satu realitas. Dikatakan dua, karena yang satu tidak kelihatan, tersembunyi, dan yang lain kelihatan, ternyata. Dikatakan satu, karena yang kelihatan itu menyatakan dan mengekspresikan yang tidak kelihatan dan yang tersembunyi. Itulah interpretasi Alkitab tentang Bapa dan Putra.

Sebab itulah, pada suatu hari Yesus dari Nazaret berkata, “Aku dan Bapa adalah satu,” itu adalah pernyataan yang tidak dapat diucapkan oleh siapa pun. Orang itu berkata dalam kesungguhan bahwa, Ia dan Allah yang tidak terlihat, adalah satu. Aku adalah Dia, dan Dia adalah Aku. Allah adalah Bapa yang tidak terlihat dan Aku adalah Putra yang terlihat, Bapa dan Putra adalah satu. Oh! Siapa yang dapat membuat pengakuan semacam ini? Apakah dia orang gila? Apakah dia seorang penipu yang mau menipu kita?

Setelah Yesus menyampaikan perkataan itu, reaksi apakah yang muncul? Bacalah ayat 31 dan seterusnya, “Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: ‘Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?’ Jawab orang-orang Yahudi itu: ‘Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menjadikan diri-Mu Allah.’” (ayat 31-33). Orang-orang Yahudi mengerti benar bahwa perkataan Yesus berarti Ia mengaku diri-Nya Allah. Setelah mendengar perkataan semacam itu, mereka hendak melempari Dia dengan batu sampai mati. Di sini ada pengakuan Yesus dan tuduhan orang-orang Yahudi, keduanya tentang pengakuan bahwa Dia adalah Allah. Apakah Yesus gila? Benarkah Dia berbohong hanya agar orang-orang membunuh Dia? Atau apakah Ia seorang penipu yang merancangkan suatu penipuan? Penipuan apakah yang Ia rencanakan? Apakah Ia mencari mati dengan ini?

PUTRA MENYATAKAN BAPA

Marilah kita melihat kembali bagian depan dari Injil Yohanes dan melihat apa yang tertulis di sana. Yohanes 1:18 mengatakan, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” Mengapa tidak seorang pun pernah melihat Allah? Karena Allah tidak terlihat. Di sini Yesus berkata bahwa Ia adalah Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa; Ia menyatakan Bapa yang tidak terlihat. Bila Anda melihat Anak Tunggal Allah, Anda melihat Bapa.

Kembali Ia berbicara tentang diri-Nya, “Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia” (Yoh. 3:13). Pernahkah Anda mendengar orang lain mengatakan perkataan itu? Saya tidak dapat berkata, “Tidak seorang pun pernah ke Shanghai, selain dari dia yang datang dari Shanghai ke Tientsin, yaitu saya, Watchman Nee, yang sekarang ada di Shanghai.” Betapa tidak bernilainya perkataan saya ini. Akan tetapi, di sini Yesus mengatakan bahasa surgawi. Dia berkata bahwa Dia berasal dari surga, dan sekarang juga ada di surga. Siapa yang dapat berada di dua tempat secara serempak? Orang itu pasti Allah, kalau tidak, ia adalah orang gila, atau pembohong? Kalau Anda belum percaya kepada Kristus, berikanlah keputusan mengenai hal ini. Siapa orang ini?

DATANG MEMBERITAKAN BERITA SURGA

Mari kita baca lagi Yohanes 3:31-32. “Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata tentang hal-hal di bumi. Siapa yang datang dari surga adalah di atas semuanya. Ia bersaksi tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tidak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu.” Ia berkata bahwa Ia datang dari surga dan di atas semua. Sejenak kemudian, Ia mengatakan hal yang sama bahwa Ia datang dari surga dan di atas semuanya. Coba lihat, apakah maksud perkataan-Nya itu? Ia datang untuk memberitakan hal-hal surgawi, tetapi orang-orang waktu itu tidak menerima perkataan-Nya. Ia menyebutkan kata-kata seperti “surga”, “di atas semua”, “dari surga…” Siapakah sebenarnya orang ini? Kong Hu Cu tidak pernah mengatakan itu, Sidharta Gautama, atau Muhammad juga tidak pernah mengatakan demikian. Apakah Yesus dari Nazaret orang gila, pembohong, atau Putra Allah?

Yohanes 5:17 mengatakan, “Tetapi Ia berkata kepada mereka, ‘Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.’” Setiap saat Ia menganggap diri-Nya sama dengan Bapa. Ayat 18 mengatakan, “Sebab itu, para pemuka Yahudi makin berusaha untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia melanggar peraturan Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.” Ketika kita membaca perkataan-Nya sekarang, mungkin kita menganggapnya biasa. Akan tetapi orang-orang Yahudi masa itu tahu apa yang Ia katakan. Mereka tahu bahwa Ia menyamakan diri-Nya dengan Allah. Artinya, “Allah adalah Bapa-Ku, dan Aku datang untuk menyatakan Allah. Yang tidak terlihat adalah Allah dan yang terlihat adalah Aku”. Maka orang-orang Yahudi, setelah mendengar ini, berusaha membunuh-Nya. Apa yang akan kita lakukan terhadap orang yang luar biasa ini?

MENGENAL ANAK BERARTI MENGENAL BAPA

Yohanes 6:46 mengatakan, “Hal itu tidak berarti bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa.” Dengan lebih tegas lagi Dia mengatakan, “Di antara kalian tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah, selain Aku yang pernah melihat Allah, hanya Aku yang tahu tentang Bapa.” Oh, saya hanya dapat berkata dengan sangat serius dan dengan hati takwa bahwa Yesus orang Nazaret adalah Putra Allah. Bacalah lagi Yohanes 8:18. Apa yang Ia katakan? “Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku.” Pertanyaan dalam ayat 19 sangat menarik, “Lalu kata mereka kepada-Nya, ‘Di manakah Bapa-Mu?’ Jawab Yesus, ‘Baik Aku, maupun Bapa-Ku tidak kamu kenal. Sekiranya kamu mengenal Aku, kamu mengenal juga Bapa-Ku.’” Sudahkah Anda lihat apa yang Ia katakan? “Kalian melihat Aku, tetapi tidak mengenal Aku, maka kalian tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Kalau kalian mengenal Aku, kalian juga akan mengenal Bapa.” Lalu, siapakah Dia ini? Kalau mengenal Dia berarti mengenal Allah. Bukankah itu sama dengan mengatakan Dia adalah Allah dan Allah adalah Dia!

Lihatlah lagi Yohanes 8:23, “Lalu Ia berkata kepada mereka, ‘Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini.’” Orang ini mengaku berasal dari atas, sama sekali bukan dari dunia ini. Siapa Dia sebenarnya?

LEBIH BESAR DARIPADA ABRAHAM

Orang-orang Yahudi dibuatnya tambah bingung, siapakah sebenarnya orang ini? Nenek moyang orang-orang Yahudi adalah Abraham. Mereka bang ga menjadi keturunan Abraham; sedikit mirip dengan orang-orang China yang bangga menjadi keturunan Huang Ti. Nama Abraham sangat disegani di antara orang Yahudi. Kini mereka menampilkan Abraham. Bacalah Yohanes 8:53. “Apakah Engkau lebih besar daripada bapak kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabi pun telah mati; dengan siapa Engkau samakan diri-Mu?” Bagaimana jawab Yesus kepada mereka? Ia lebih besar atau lebih kecil daripada Abraham? Dalam ayat 56, Yesus berkata, “Abraham bapakmu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.” Bukan main! Abraham pun harus memandang kepada Yesus! Maka ayat 57 mengatakan, “Lalu kata para pemuka Yahudi itu kepada-Nya, ‘Umur-Mu belum lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?” Sekarang perhatikanlah jawaban Tuhan Yesus dalam ayat 58. Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku telah ada.” Katakanlah, siapakah orang ini. Kalau saya berkata, sebelum Huang Ti ada, saya, Watchman Nee, sudah ada. Kalian pasti langsung berkata bahwa saya gila, atau saya sedang berbohong. Tetapi perkataan yang diucapkan Yesus di sini membuat-Nya dapat dianggap sebagai orang gila, pembohong atau Dia memang benar-benar adalah Allah; tidak ada kemungkinan keempat.

DIA ADA DI DALAM ALLAH

Kita perlu membaca lagi. Yohanes 10:37-38 mengatakan, “Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Auk melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti . . .” Mengerti apa? Kata-kata berikutnya sangat besar dan sangat penting, . . . “bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Lalu siapakah orang ini? Ia berkata bahwa Ia ada di dalam Allah dan Allah di dalam Dia.

Ayat-ayat seperti di atas banyak terdapat di dalam Alkitab. Saya akan sebutkan satu tempat lagi. Bacalah dengan cermat Yohanes 14:6-7. Kata Yesus kepadanya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” Di sini dikatakan dengan jelas bahwa kalau Anda mengenal Yesus orang Nazaret, Anda telah mengenal Allah yang tidak kelihatan. Mengapa demikian? Karena Dia adalah Allah.

TIDAK MEMOHON LAGI MELIHAT BAPA

Ketika itu, seorang di antara murid-murid-Nya bingung. Kata Filipus kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami” (Yoh. 14:8). Apakah yang dimohon Filipus? Ia mohon agar Bapa yang disebut berkali-kali oleh Yesus diperlihatkan kepadanya. Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami” (ayat 9). Di sini Yesus menerangkan dengan sangat jelas bahwa melihat Dia adalah melihat Allah; tidak perlu lagi memohon melihat Bapa. Telah melihat Dia, cukuplah, Anda telah melihat Allah!

MENGAMBIL SATU KEPUTUSAN ATAS DIA

Sebenarnya siapakah Yesus orang Nazaret? Bagaimana pendapat Anda? Apakah Ia hanya pendiri agama Kristen? Apakah Ia hanya contoh dari orang yang mengorbankan diri dan penganut humanisme? Apakah Ia seorang pembaharu masyarakat? Apakah Ia seorang pembela cinta kasih, perdamaian dan kemerdekaan? Dengarkanlah apa yang dikatakan-Nya tentang diri-Nya. Ia berkata, Dia adalah Allah. Bagaimana keputusan Anda atas Dia? Apakah Dia gila atau pembohong? Apakah Dia pembual? atau Dia benar-benar adalah Allah? Ini adalah satu perkara yang betapa penting!

Apakah Ia orang gila? Kalau Anda membaca biografi-Nya, melihat kehidupan-Nya, mengamati perkataan dan perbuatan-Nya, Anda akan tahu bahwa Ia tidak saja tidak gila, bahkan dalam keadaan yang bagaimanapun juga Ia sangat sempurna. Kalau ada orang yang sempurna di dunia ini, orang itu pasti Dia, dan bukan kita. Apakah pikiran-Nya jernih? Adakah Ia kacau mental? Kalau Anda dengan baikbaik mempelajari perbuatan dan perkataan-Nya, Anda tidak bisa tidak mengakui bahwa pikiran-Nya paling logis, konsisten, dan sikap-Nya paling tepat dan wajar. Terhadap orang yang menentang-Nya, Ia hanya perlu menjawab sepatah, dua patah kata, dan bantahan terhadap-Nyapun gugur. Sedikit pun tidak ada tanda kegilaan di dalam-Nya. Orang gila tidak mungkin dapat melakukan apa yang dilakukan-Nya.

Lalu, apakah Dia seorang pembohong? Seorang pembohong selalu berbohong untuk keuntungannya sendiri. Kalau tidak ada keuntungan yang didapat, untuk apa harus berbohong? Mengapa Yesus disalib? Bukan karena sebab lain, tetapi karena Ia mengaku diri-Nya Allah. Pada pemeriksaan terakhir — yang menentukan apakah Ia dibebaskan atau disalibkan, orang bertanya kepada-Nya: “Beritahukanlah kepada kami, siapakah Engkau sebenarnya?” Bagaimana jawab Yesus saat itu? Dia tetap mengatakan: “Kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit dalam kemuliaan.” Saat itu pun Ia tetap mengaku diri-Nya adalah Allah, akibatnya Ia disalibkan. Adakah pembohong yang mau mengorbankan nyawanya untuk dustanya?

PERKATAAN-NYA BENAR

Suatu kali, saya bertemu dengan seseorang yang ingin membicarakan tentang kepercayaan. Ia pernah membaca beberapa buku tentang Yesus, tetapi ia hanya mengakui Yesus memiliki standar moral yang tinggi, boleh disebut sebagai manusia yang sempurna; teladan bagi umat manusia. Tetapi ia tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah. Saya berkata, “Kalau Anda mengakui Ia memiliki standar moral yang sangat tinggi, ini berarti sedikitnya Ia bukan pembohong. Kalau Anda mengakui bahwa Yesus bukan pembohong, Anda pun harus mempercayai perkataan-Nya yang menyatakan bahwa Ia adalah Allah sebagai kebenaran. Berulang-ulang Ia mengatakan diri-Nya Allah, Dia adalah Allah! Kalau Anda mengakui moral-Nya, Anda harus mengakui bahwa Yesus orang Nazaret adalah Allah! Yesus orang Nazaret adalah Allah!”

FIRMAN MENJADI TUBUH DAGING

Lihatlah Yohanes 1:1. “Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Ayat 14 mengatakan, “Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran.” Apakah “Firman” yang disebutkan dalam ayat 1 dan ayat 14? Ayat 1 membicarakan hubungan Firman dengan Allah. Dalam kaitannya dengan “waktu”, Firman itu sudah ada sejak mulanya. Dalam kaitannya dengan “di mana” Firman itu bersama-sama dengan Allah. Dalam kaitannya dengan “apa”, Firman itu adalah Allah. Hari ini Firman itu telah menjadi manusia; Ia telah mengenakan tubuh manusia dan tinggal di antara manusia. Tentang cara tinggal-Nya, dikatakan Ia “penuh anugerah dan kebenaran”, dan “kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa.” Siapakah Dia? Dialah Yesus orang Nazaret.

Di sini kita hanya melihat satu dari kelima syarat yang kita sebut dahulu. Hanya Yesus orang Nazaret yang memenuhi syarat pertama, yang menyatakan bahwa Dia adalah Allah. Kita akan melihat keempat syarat lainnya, memeriksanya satu per satu untuk mencapai kesimpulan akhir bahwa Dia adalah Allah.