← Daftar isi Kristus dan Allah · bab 4/4

ALLAH MENJADI MANUSIA (2)

CARA IA DATANG KE DALAM DUNIA

Kalau Allah menjadi manusia, Ia harus datang ke dalam dunia dengan cara yang sangat berbeda dari manusia umumnya. Bagaimana caranya kita datang ke dalam dunia ini? Kita datang ke dunia melalui ibu bapa kita, dan dikandung oleh ibu kita. Tetapi apakah Yesus orang Nazaret orang biasa atau Allah yang berinkarnasi? Kita perlu melihat apakah cara Ia datang ke dunia sama dengan kita. Kalau kelahiran-Nya tidak berbeda dari kita, tentu kita akan berkesimpulan, Ia tidak lebih dari manusia biasa. Ia lulus dalam ujian pertama. Namun, Ia masih perlu lulus dalam ujian kedua. Jangan tergesa-gesa percaya kepada seseorang hanya karena ia mengaku dirinya Allah, Anda harus mengujinya dengan syarat kedua. Kalau Ia benar-benar Allah, Ia pasti datang ke dunia dengan cara yang berbeda dengan Anda dan saya.

LAHIR DARI ANAK DARA

Sebelum kita teruskan pembahasan ini, kita perlu mengetahui satu hal, yaitu terhadap mengenal perkara Allah ada yang secara alamiah, ada yang karena wahyu. Pengenalan secara alamiah didapat bila seseorang merenungkan dan menduga-duga tentang Allah. Pengenalan secara wahyu didapat bila Allah yang membuat seseorang nampak. Yang ingin kita lihat sekarang adalah wahyu Allah. Kita ingin tahu apa yang Allah katakan.

Injil Matius dan Injil Lukas mewahyukan kepada kita bahwa Yesus lahir dari anak dara, Maria. Fakta penting ini memungkinkan kita mengetahui bahwa Ia bukan manusia biasa. Hal ini mengukuhkan kita sebagai orang Kristen.

Saya tahu, pikiran alamiah kita sulit dapat menerima fakta tersebut. Beberapa tahun yang lalu, diadakan suatu perdebatan besar di Inggris. Salah satu pendebat adalah seorang pemimpin yang sangat terkenal dari aliran modernistis. Lawan debatnya adalah pendeta dan pemimpin terkenal ahli theologia Presbiterian. Empat hal besar dibahas saat itu. Selama empat hari penuh, masing-masing pihak memaparkan uraian yang panjang lebar setiap hari. Salah satu pokok bahasannya adalah kelahiran dari seorang anak dara.

Theolog modernistis mengatakan, “Dengan mengatakan satu perkara, bisa dibuktikan bahwa Yesus bukan dilahirkan dari anak dara, karena hal itu tidak mungkin terjadi.” Ditinjau dari segi biologis, ini mutlak mustahil terjadi.”

ADAKAH KEJADIAN INI

Pada hari yang sama, lawan bicaranya, yaitu theolog terkenal itu menyanggahnya. “Di sini saya hanya memaparkan secara singkat beberapa sanggahannya”, katanya, “Teman kita berdasarkan prinsip biologis memberi tahu kita dapat tidaknya hal ini terjadi. Tetapi aku sekarang bertanya, ‘Adakah kejadian ini dalam sejarah?’ Dia mengetengahkan tentang ‘Mungkin atau tidaknya perkara ini’, berarti menyuruh kalian mempelajari ilmu hayat. Tetapi saya berkata, ‘Ada atau tidak’, berarti menyuruh kalian melihat fakta sejarah. Tidak sesuai dengan ilmu, adalah satu hal; tetapi adakah kejadian itu dalam sejarah, adalah hal lain.”

Berbicara sampai di sini, ia mengeluarkan sebuah surat kabar dari sakunya. Dalam surat kabar itu termuat satu artikel tentang suatu peristiwa yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Ada orang mengendarai mobil di sebuah gunung yang tinggi, hendak melewati gunung itu. Karena kurang hati-hati, mobilnya tergelincir dan terjun ke jurang yang sangat terjal. Mobil itu hancur, tidak ada satu bagian pun yang utuh, hancur berkeping-keping. Namun, orang yang mengendarainya tergeletak di dasar jurang tanpa luka sedikit pun. Kemudian ia bangun dan melangkah pergi. Theolog itu membaca keras-keras kutipan itu, lalu berkata kepada para hadirin, “Mobil itu jatuh seribu kaki dalamnya dan hancur berkeping-keping. Anda tidak dapat menemukan sepotong logam utuh yang lebarnya 1 kaki persegi, namun si pengendara mobil sama sekali tidak luka. Teman saya disini bertanya, ‘Dapatkah orang itu hidup?’ Tentu tidak! Tetapi pertanyaan saya adalah, ‘Hidupkah orang itu?’ Ia hidup! Jika Anda bertanya kemungkinannya, memang tidak mungkin. Tetapi jika Anda menanyakan fakta, di sini ada fakta!”

Yang kita bicarakan di sini adalah fakta sejarah. Kalau Anda mempelajari kelahiran Yesus dari anak dara, dari sudut ilmu hayat, itu mustahil terjadi. Tetapi masalahnya adalah peristiwa itu terjadi atau tidak dalam sejarah. Injil Matius mengatakan, Yesus lahir dari anak dara, Maria. Injil Lukas juga mengatakan Yesus dilahirkan dari anak dara, Maria. Sedikitnya mereka telah mengatakannya, dan dalam sejarah juga ada catatan demikian. Bagaimanapun Anda harus percaya bahwa catatan sejarah semacam itu ada.

KEOTENTIKAN YANG DITULIS KEMUDIAN

Teman-teman, saya juga tidak mengatakan bahwa Matius dan Lukas diilhami oleh Roh Kudus ketika mereka menulis kitab mereka. Soal diilhami Allah atau tidak, untuk sementara kita kesampingkan dulu. Yang akan kita bahas adalah, di sini ada beberapa orang pengikut Yesus yang menuliskan riwayat hidup-Nya. Matius dan Lukas adalah pengikut-pengikut Yesus. Matius hidup pada masa yang sama dengan Yesus, mengikuti Dia selama lebih dari tiga tahun. Lukas juga hidup pada masa yang sama dengan Yesus, meskipun tidak begitu dekat, tetapi ia “menyelidiki segala peristiwa itu dengan saksama dari asal mulanya” (Luk. 1:3). Mungkin ketika ia menulis kitab Injilnya, ibu Yesus masih hidup. Apa yang mereka katakan tentang kelahiran Yesus? Mereka semua bersaksi bahwa Yesus lahir dari anak dara, Maria. Kelahiran-Nya mutlak berbeda dengan kelahiran kita. Hari ini, hampir dua ribu tahun kemudian, beberapa orang di antara kita yang tidak pernah melihat Yesus, tidak pernah berbicara dengan Maria, ibu-Nya, dan tidak pernah bertemu dengan Yusuf, ayah-Nya, memutuskan dengan mengatakan Yesus tidak dilahirkan dari anak dara, Maria. Bagaimana Anda begitu berani mengatakan Ia tidak dilahirkan dari anak dara, Maria? Apakah dasar pendapat Anda muncul ketika Anda merenung-renung di kamar Anda, atau ketika Anda melihat-lihat buku ilmu hayat, yang menyatakan bahwa itu tidak mungkin?

DILAHIRKAN DARI MARIA

Mungkin kita perlu membaca sebagian silsilah dalam Injil Matius. Matius mencatat silsilah Yesus, dari generasi pertama sampai generasi terakhir, seluruhnya ada empat puluh dua turunan. Mulai generasi pertama, Abraham, berulangulang dikatakan, “Si anu memperanakkan si anu”, “Si anu memperanakkan si anu”. Hal itu terus berlanjut sampai ayat lima belas. Ayat 15 mengatakan, “Eliud mempunyai anak, Eleazar; Eleazar mempunyai anak, Matan; Matan mempunyai anak, Yakub.” Ayat 16 mengatakan, “Yakub mempunyai anak, Yusuf,” Yang mengherankan adalah, kalimat berikutnya tidak berbunyi, “Yusuf memperanakkan Yesus,” melainkan, “Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.” Ketika kalimatnya sampai pada Yusuf, polanya berubah, Yusuf dikesampingkan. Dan Yesus Kristus ini lahir dari anak dara, Maria! Cara kelahiran-Nya sangat berbeda dengan cara kelahiran kita.

TERLEBIH DULU MENGETAHUI KEMATIANNYA

Telah kita lihat bahwa cara kedatangan-Nya ke dunia berbeda dengan kita; cara Dia meninggalkan dunia ini juga berbeda dengan kita. Kita tidak mengetahui terlebih dulu kapan kita meninggal, juga tidak mengetahui terlebih dulu cara kita meninggal. Tidak ada orang yang pernah menubuatkan tempat, saat, dan cara ia meninggal. Seratus tahun lagi, kita semua yang ada di sini akan mati. Tetapi tidak ada yang tahu tempat, saat, dan cara kita akan mati. Namun, Yesus orang Nazaret telah mengetahui kematian-Nya, Ia tahu jelas kapan dan di mana serta bagaimana hal itu terjadi.

MATI DI KAYU SALIB

Suatu kali, ketika seseorang memberi tahu Yesus bahwa Ia akan dibunuh, Tuhan menjawab, tidaklah mungkin seorang nabi dibunuh di luar Yerusalem. Ia tahu bahwa Ia akan mati di Yerusalem. Suatu hari, Ia memberi tahu murid-murid-Nya, bahwa waktunya sudah tiba. Ia tidak hanya tahu waktu kematian-Nya segera tiba, Ia pun memberi tahu orang lain bahwa saat kematian-Nya telah tiba. Ia tahu bagaimana Ia akan mati. Berkali-kali Ia menyebutkan bahwa Ia akan disalibkan; dalam Injil Matius sedikitnya termuat tiga kali. Orang ini tidak hanya memiliki cara yang berbeda dengan kita untuk datang ke dunia, cara meninggal-Nya pun berbeda. Kelahiran dan kematian-Nya sangat istimewa. Yesus orang Nazaret, mungkinkah Dia Putra Allah?

DIA TANPA DOSA

Mari kita melihat syarat ketiga. Bagaimanakah kehidupan moral yang dimiliki Yesus orang Nazaret? Samakah Ia dengan kita? Pernahkah Ia berdosa?

Saya menyukai kalimat yang Yesus ucapkan dalam Yohanes 8. Saat itu banyak orang menentang Dia, mereka mengelilingi-Nya dan terus-menerus bertanya kepada-Nya. Kemudian Yesus bertanya kepada mereka, “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?” Benar-benar tantangan yang hebat! Siapa di antara kita yang berani berdiri di hadapan banyak orang, menantang untuk dibuktikan dosa-dosanya? Yang berani berkata demikian, mungkin tidak sampai satu menit, telah disingkapkan keadaannya oleh istrinya. Mungkin kurang dari lima menit, tujuh atau delapan orang akan bangkit mengungkapkan kebohongan dan kecurangannya. Namun ketika Yesus menyampaikan pertanyaan itu, tidak ada yang dapat membuktikan Dia berdosa. Tidak terhitung banyaknya orang kudus dan pujangga sepanjang zaman, tetapi tak satu pun yang berani mengaku dirinya tidak bersalah dan tidak berdosa. Mengapa hanya Yesus sendiri berani mengatakan diri-Nya demikian?

Oh, yang dapat saya katakan hanya, Yesus orang Nazaret ini kalau bukan seorang yang sombong sekali, Ia tentu sangat suci sekali. Orang sombong mungkin saja sesumbar karena ia tidak tahu diri; ia tidak sadar orang macam apa dia. Namun ketika Yesus menantang, “Siapa yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa”. Ia berbuat demikian karena dalam hal ini Ia tidak perlu merendah atau sungkan. Ia benar-benar tanpa dosa dan benar-benar sangat suci.

Yesus orang Nazaret, tidak sama dengan Kong Hu Cu. Kong Hu Cu sendiri mengatakan, kalau ia hidup lebih lama, “mungkin” ia akan bebas dari kekangan dan cengkeraman moral. Namun Yesus tidak berdosa. Ketika Ia mengeluarkan pernyataan itu, Ia melakukannya di depan musuh-musuh-Nya. Kalau saja ada sedikit kekurangan pada-Nya, orang-orang Yahudi akan segera menyatakannya. Sebenarnya orang-orang Yahudi tidak senang menulis buku-buku, selain Alkitab, boleh dikatakan tidak ada buku-buku lain yang dikeluarkan mereka. Namun sesudah Yesus, banyak buku ditulis oleh orang Yahudi untuk menentang-Nya. Tetapi begitu banyak buku yang ditulis untuk menentang Yesus, semuanya menentang Dia sebagai Anak Allah, tidak ada yang dapat menunjukkan Yesus orang Nazaret berdosa. Begitu banyak buku ditulis untuk menentang-Nya, namun tidak ada yang dapat membuktikan bahwa Yesus berbuat dosa.

TIDAK PERLU BERTOBAT, TIDAK PERLU MINTA MAAF

Lihatlah, setiap filsuf atau tokoh agama pasti pernah berkata, “Saya bertobat”, atau “Saya menyesal atas suatu hal. Mulai kini saya akan melakukan yang lebih baik.” Tetapi Yesus, orang Nazaret, tidak pernah bertobat. Orang dosa perlu bertobat. Tetapi jika seseorang tidak berdosa, apakah yang harus ia tobatkan? Yesus tidak pernah memberi ganti rugi atau minta maaf kepada orang lain, karena Dia tidak pernah bersalah kepada siapa pun.

Ketika saya di Inggris, beberapa orang Inggris menanyakan kesan saya terhadap orang Inggris. Saya mengatakan, “Di antara kalian, orang-orang Inggris, sering kali saya mendengar perkataan minta maaf, “Maafkan saya”, “maaf ” (excuse me, I beg your pardon). Sebentar-sebentar saya mendengar perkataan minta maaf, tak lama kemudian, di tempat lain juga terdengar perkataan ini. “Maaf! Maaf!” Orang Inggris mengatakan, siapa yang tidak tahu mengatakan kata-kata ini adalah orang yang paling memalukan, karena ia tidak tahu kesalahannya sendiri. Siapakah yang bisa tidak bersalah? Seseorang yang bersalah tetapi tidak mau mengakui kesalahannya, ia akan disebut kasar/brutal. Karena itu, “maafkan saya” dan “maaf ” menjadi tidak terpisahkan dari percakapannya.

Yang sangat mengherankan adalah Yesus orang Nazaret tidak pernah minta maaf kepada siapa pun. Ia tidak pernah minta maaf. Mungkinkah Ia begitu jahatnya sehingga sama sekali mengabaikan hati nurani-Nya? Lupakah Ia akan kesalahan-Nya sendiri? Atau, benarkah Ia tidak berdosa? Kalau Ia tidak pernah berdosa, tentu Ia tidak perlu minta maaf. Bagi-Nya, ini bukan soal merendah atau sungkan, memang Ia tidak perlu minta maaf.

MENJAMAH, BUKAN BERDESAKAN

Saya menyukai cerita tentang Yesus berjalan dengan dikerumuni banyak orang. Mereka berdesak-desakan berjalan bersama Dia dan berharap melihat kebangkitan orang mati. Begitu padatnya orang-orang itu, sehingga mereka berdesak-desakan. Di antara mereka ada seorang perempuan yang menderita sakit pendarahan telah bertahun-tahun lamanya. Dia berpikir, Yesus orang Nazaret telah membuat banyak mujizat, Dia pasti dapat menyembuhkan penyakitku. Ia tidak langsung datang ke hadapan Tuhan meminta. Yang dilakukannya adalah menjamah ujung jubah Yesus. Penyakitnya segera sembuh.

Yesus mengetahui hal itu, Ia berpaling dan bertanya, “Siapa yang menjamah jubah-Ku?” Bagaimanakah jawaban murid-murid-Nya? Kata mereka, “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?” Menurut mereka, seharusnya mendesak, bukan menjamah! Kalau hari itu saya sebagai Yesus, saya akan seperti pengacara dan berkata: “maaf, maaf.” Tetapi Yesus tidak perlu berkata “maaf ”. Bila Ia berkata “menjamah”, tentu adalah “menjamah” dan bukan berdesakan. Murid-murid itu hanya tahu banyak orang berdesak-desakan mengelilingi Dia, tetapi Ia tahu bahwa seseorang telah menjamah-Nya. Ia tahu apa yang Ia lakukan, tidak ada kata minta maaf. Ia tidak mengenal dosa, karena Ia tanpa dosa.

BERJALAN DI TENGAH-TENGAH ORANG, LALU PERGI

Saya kisahkan lagi cerita lain tentang Yesus. Suatu hari, Ia datang ke rumah ibadah di kampung-Nya. Seseorang memberi-Nya Kitab Suci dan Ia mulai membaca suatu potongan yang membicarakan diri-Nya. Namun orang-orang kampung itu meremehkan Dia. Ia mengatakan, “Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Karena itu, Allah memilih orang lain, tidak memilih kalian.” Mendengar ini, mereka sangat marah. Mereka menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Saya sangat suka akan perbuatan Yesus pada saat itu. Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. Kalau ada orang berusaha mendorong kita jatuh ke jurang, kita pasti cepat-cepat lari meninggalkan mereka. Tetapi Ia bukanlah manusia biasa. Ia hanya berjalan dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa, selain membiarkan Dia lewat! Dia tanpa dosa!

SELAMANYA TIDAK PERNAH BERBUAT SALAH

Pada kesempatan lain, orang-orang penentang mencobai Dia. Mereka bertanya, bolehkah membayar pajak kepada Kaisar. Seperti kita ketahui, waktu itu bangsa Yahudi tidak lagi berdaulat, dan Kaisar Roma menjadi raja mereka. Kalau Yesus menjawab, “Tidak,” Ia akan tersangkut dalam urusan politik, dan para penentang-Nya akan memiliki alasan untuk menyalahkan Dia. Kalau Ia menjawab, “Boleh,” maka semua orang Yahudi akan menganggap Dia memihak orang Romawi, dan akan membenci Dia, akibatnya tentu akan menguntungkan para penentang-Nya. Maka di sini ada persoalan yang tidak dapat dijawab dengan boleh atau tidak.

Bagaimana Yesus menjawabnya? Kata-Nya, “Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Yesus sungguh berhikmat, mata uang yang Ia minta diperlihatkan juga berasal dari para penentang-Nya. Lalu kata-Nya, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Mereka harus mengakui bahwa itu adalah gambar dan tulisan Kaisar. Yesus menjawab dengan menakjubkan, “Berikanlah kepada Kaisar, apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah, apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Dengan jawaban itu, Ia menyelesaikan persoalan itu. Di sinilah ternyata kemuliaan-Nya, Ia tidak pernah berbuat salah. Anda tidak dapat menemukan sedikit pun kesalahan pada diri-Nya.

Lihatlah pula Yesus ini, ketika membicarakan hal keagamaan dengan seorang pemimpin Yahudi, pada tengah malam, di dalam rumah. Kemudian ketika berbicara dengan seorang perempuan, pada tengah hari, di pinggir sumur, tempat terbuka. Semua yang dilakukan-Nya sangat tepat, sehingga orang lain tidak dapat mengatakan apa-apa, tidak dapat menemukan kesalahan-Nya.

MANTAP DAN TENANG

Kita tidak dapat menyebutkan semua perbuatan-Nya. Segala yang dilakukan-Nya memiliki standar moral yang tinggi, tidak bercela. Mari kita lihat sejenak peristiwa tentang penangkapan-Nya. Malam sudah larut dan orang-orang bersenjata tombak dan pedang serta membawa obor datang untuk menangkap Yesus yang bertangan kosong. Yesus bertanya kepada mereka, “Siapakah yang kamu cari?” Kata mereka, “Kami mencari Yesus, orang Nazaret.” Jawab-Nya, “Akulah Dia.” Mengherankan sekali, begitu mereka mendengar perkataan “Akulah Dia”, komplotan orang jahat yang khusus datang untuk menangkap Dia mundur, dan jatuh rebah ke tanah. Kalau Yesus tidak dengan sukarela menyerahkan diri-Nya kepada mereka, mereka tidak akan dapat menangkap-Nya. Kemantapan dan ketenangan yang sedemikian, hanya Dia yang punya!

Sebenarnya, sejak semula Yesus sudah tahu maksud orang yang mengkhianati-Nya. Namun Ia mengizinkan orang itu mengikuti-Nya, dan bahkan membiarkannya memegang keuangan, meskipun Ia tahu bahwa ia sering mencuri uang. Dia begitu lapang, sabar, ini membuat Anda melihat bahwa Dia sangat berbeda dengan orang pada umumnya. Dalam setiap hal, Ia terbukti adalah Putra Allah.

MELAKUKAN PEKERJAAN

YANG TIDAK DAPAT DILAKUKAN ORANG LAIN

Ciri keempat yang kita sebutkan adalah orang yang mengaku diri-Nya Allah yang berinkarnasi harus mampu melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh orang pada umumnya. Pernahkah Yesus orang Nazaret melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain? Kita tidak hidup pada jaman itu, dan itu telah berselang hampir dua ribu tahun yang lalu, dengan sendirinya kita tidak dapat bersaksi bagi-Nya tentang ini. Tetapi ada satu hal yang dapat dipercayai, yaitu para rasul yang waktu itu mengikuti Yesus telah mencatat perkara-perkara Tuhan Yesus; mereka memberitakan dan bersaksi kepada orang lain. Keempat kitab Injil telah selesai ditulis tiga puluh tahun setelah kepergian-Nya. Orang-orang Yahudi yang hidup pada masa itu kebanyakan pernah melihat Yesus. Kalau catatan itu tidak benar, pasti sejak dini telah ditolak. Namun, orang-orang Yahudi hanya membantah bahwa Yesus bukan Putra Allah. Mereka tidak pernah menyangkal semua perbuatan-Nya, karena semua perbuatan-Nya adalah fakta.

Hari ini, ketika kita membaca keempat kitab Injil, kita tidak ragu-ragu lagi terhadap keotentikan-Nya. Tetapi tidak demikian pada mulanya. Kalau ada sedikit saja kesalahan, pasti akan timbul masalah besar, karena saat itu masih banyak orang yang pernah dengan mata kepala sendiri melihat dan dengan telinga mereka sendiri mendengar Yesus, tidak bisa dibuat-buat atau diubah. Jadi, kitab-kitab itu tidak mungkin suatu bualan. Kalau orang-orang Yahudi tidak berdaya menyerang kitab-kitab itu, lebih-lebih kita hari ini.

MUJIZAT MEMBUKTIKAN SIAPAKAH DIA

Mari kita melihat beberapa perbuatan Yesus orang Nazaret. Matius 11:2-3 mengatakan, “Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya, ‘Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?’” Yohanes ingin kepastian apakah Yesus benar-benar Kristus yang diutus Allah. Kalau bukan, maka Yohanes akan menunggu orang lainnya!

Dalam ayat 4-5 mengatakan, Yesus menjawab mereka, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.” Yesus tidak menjawab dengan ya atau bukan. Ia hanya menyuruh utusan Yohanes memberi tahu Yohanes hal-hal yang mereka dengar dan lihat, supaya Yohanes memikirkannya dan memutuskan sendiri apakah Yesus itu Kristus. Di sini Yesus membuktikan bahwa Dia adalah Allah dengan mujizat-mujizat yang dilakukan-Nya. Di sini Anda melihat ada seorang yang melakukan hal-hal yang mustahil bagi manusia, sehingga Anda tidak dapat tidak mengakui bahwa Dia adalah Allah.

Yohanes 7:31 mengatakan, “Tetapi di antara orang banyak itu ada banyak yang percaya kepada-Nya dan mereka berkata, ‘Apabila Kristus datang, mungkinkah Ia akan melakukan lebih banyak tanda mujizat daripada yang telah dilakukan oleh Dia ini?’” Ini juga menyatakan bahwa Ia telah mengadakan banyak mujizat yang tidak dapat dilakukan manusia lainnya.

TEGUH MENGAKUI DIRINYA ADALAH ALLAH

Yohanes 10:24 mengatakan, “Lalu orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya, ‘Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” Di satu pihak, orang-orang Yahudi mengeraskan hati mereka dan tidak mau mengakui Dia adalah Kristus; di pihak lain, dengan melihat mujizat-mujizat luar biasa yang dilakukan-Nya, mereka menjadi bingung. Mereka berkumpul di sekeliling-Nya dan mendesak-Nya memberi jawaban. Ada satu hal yang atasnya Yesus tidak pernah kendur/mengalah, yaitu Dia dengan teguh mempertahankan bahwa diri-Nya adalah Allah. Ia telah melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa. Perbuatan itu mempersaksikan bahwa Dia adalah Allah. Ia memberi tahu orang-orang itu dengan jelas, “Pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberi kesaksian tentang Aku.” Di satu pihak, Kristus telah mengatakan siapakah diri-Nya, di lain pihak, Ia melakukan mujizat supaya mujizat-mujizat itu bersaksi bagi-Nya.

PERCAYA KEPADANYA KARENA PEKERJAAN-NYA

Dalam Yohanes 14:11, Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku.” Perkataan tersebut mengisyaratkan, Dialah Bapa yang tidak kelihatan itu. Selanjutnya Ia berkata, “Atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.” Kalau Ia tidak pernah melakukan pekerjaanpekerjaan yang mustahil bagi manusia, perkataan-Nya ini tidaklah bernilai sama sekali. Kalau Ia tidak melakukan perbuatan yang luar biasa, mereka tentu akan balik bertanya kepada-Nya, “Pekerjaan apa yang Kau lakukan? Kami tidak tahu apa yang Kau maksudkan.” Tetapi murid-murid-Nya tahu akan perbuatan-perbuatan yang dilakukan-Nya. Semua perbuatan itu membuktikan Dia adalah Putra Allah.

DIA MENYATAKAN ALLAH

Kita masih memiliki syarat kelima untuk memeriksa Yesus orang Nazaret ini. Syarat ini ialah: kalau Dia Allah, Dia pasti mewahyukan kepada kita: Allah ini adalah Allah yang bagaimana. Perahmat atau kejamkah Ia? Lembutkah Ia, atau bengiskah Ia? Allah ini Allah yang bagaimana? Sesungguhnya, Yesus telah memperlihatkan semuanya ini kepada kita.

Oh, ini sungguh suatu hal yang sangat ajaib! Allah yang kekal dan tak terlihat kini terlihat oleh kita. Tidak perlu lagi mengira-ngira Allah yang tidak terjamah dan yang jauh tinggi di langit, atau mereka-reka Dia adalah Allah yang bagaimana. Ia telah mewahyukan diri-Nya sendiri kepada kita. Ia telah tinggal di tengah-tengah kita dan beserta dengan kita. Yesus orang Nazaret adalah Allah yang tinggal di antara kita dan beserta dengan kita. Allah telah menyatakan sifat dan diri-Nya sendiri kepada kita. Tidak perlu lagi kita mencari-cari Allah, karena Ia telah mewahyukan diri-Nya. Kalau kita sendiri mau mengkaji dan meneliti Allah, pikiran kita sangat terbatas, tangan kita terlalu pendek, pandangan kita terlalu sempit, kita akan hanya dapat menyimpulkan bahwa Ia adalah yang tidak dikenal. Kini kita tahu bahwa Allah senang mewahyukan diri-Nya, bahkan Ia telah mewahyukan diri-Nya kepada kita.

ALLAH BERBICARA DI DALAM PUTRA

Telah kita katakan, Allah pasti melalui bahasa tulisan dan lisan berkomunikasi dengan kita. Sebab itu, Alkitab dan Yesus dari Nazaret adalah dua faktor yang tidak boleh tidak ada. Bila kekurangan salah satu, maka Allah menjadi satu persoalan terbesar di dunia. Ibrani 1:1 mengatakan, “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dengan berbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan para nabi.” Pembicaraan tersebut tersusun menjadi Alkitab. Ayat 2 mengatakan, “Maka pada zaman akhir ini Ia berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya.” Ini ditujukan kepada Yesus orang Nazaret. Siapa saja yang mau mengenal Allah, asal saja ia berada di dalam Kristus, pastilah ia dapat mengenal Allah. Mendengar perkataan Yesus orang Nazaret berarti mendengar perkataan Allah.

Pembaca yang kekasih, bagaimana sikap Anda terhadap Yesus orang Nazaret? Semoga Anda bisa seperti Tomas, mengakui Dia, “Tuhanku! Allahku!” Atau seperti Petrus menyatakan, “Engkau adalah Anak Allah yang hidup!” Atau seperti Marta mengatakan, “Aku percaya, Engkau adalah Kristus, Anak Allah.” Bahkan seorang prajurit Romawi pun mengatakan pada saat ia melihat Yesus tergantung di salib, “Ia benar-benar Anak Allah!”