Murni
"Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci" (menyucikan/suci dalam bahasa aslinya mengacu kepada memurnikan/murni).
I Yohanes 3:3
Arti Murni
Dalam berita ini kita akan melihat perkara murni. Kita tahu, bahwa murni berbeda dengan bersih. Bersih hanya mengacu kepada tidak ada kotoran; sedang murni lebih maju selangkah daripada bersih, yakni tidak hanya tidak ada kotoran, bahkan tidak ada unsur campuran. Campuran belum tentu berarti kenajisan, tetapi suatu benda yang ada campurannya, tidak bisa dikatakan murni. Misalnya, garam adalah hasil yang diperoleh dari mengeringkan air laut. Di dalam air laut ada unsur garam, berbagai macam kotoran dan mineral. Orang yang membuat garam umumnya menyingkirkan kotoran-kotoran dari garam, sehingga kita melihat garam yang dihasilkan itu bersih. Tetapi kalau kita melihat garam tersebut dengan kaca mata ilmiah, maka kita akan menemukan bahwa di dalam garam tersebut masih terkandung banyak unsur lainnya; seperti zat yodium, kalium, magnesium dan unsur mineral lainnya. Benda-benda itu, menurut ilmu kedokteran, memang diperlukan oleh tubuh manusia. Kalau orang ingin memperoleh garam yang murni, maka zat-zat yang lain itu harus disingkirkan, sehingga tersisa murni garam saja, hanya berzat NaCl. Jadi, arti murni tidak hanya mengacu kepada bersih, tidak ada kdtoran, bahkan tidak ada campuran sedikitpun, walaupun itu dipandang baik oleh manusia.
Dalam pengalaman rohani, prinsipnya juga sama, karena di dalam kaum imani, terdapat ketidakbenaran dan dosa yang berasal dari Iblis โ kenajisan, kotoran; juga terdapat kebaikan dan budi pekerti yang berasal dari alamiah manusia -- campuran. Orang yang sungguh-sungguh rohani, tidak hanya menolak ketidakbenaran dan dosa, juga menolak kebaikan dan budi pekerti yang berasal dari kehidupan (hayat) alamiah. Tentu, bagi kaum imani pemula, yang mereka tanggulangi kebanyakan adalah hal-hal yang berhubungan dengan ketidakbenaran dan dosa; tetapi orang yang rohaninya sudah bertumbuh, yaitu orang yang mengenal pemisahan antara roh dengan jiwa (Ibrani 4:12), baru bisa mengenal sumbernya, baru bisa menolak semua kebaikan yang berasal dari kehidupan alamiah. Perkara ini tidak bisa dipahami oleh orang milik daging (I Korintus 2:14); pada kesempatan ini, hal ini tidak kita singgung.
Sarana Untuk Pemurnian
Lalu, sarana apakah yang Allah pakai untuk menyingkirkan segala kekotoran dan campuran yang terdapat di dalam kaum imani? Tidak ada yang lain, selain terang kehidupan (hayat). Efesus 5:13 memberitahu kita, bahwa "terang" memiliki satu daya guna, yaitu menyingkapkan atau menyatakan. Asal disoroti oleh terang, maka keadaan sesungguhnya dari barang apa saja akan tersingkap. Benda-benda terang yang bersifat material, seperti matahari, bola lampu dan lainnya, bisa menyatakan benda-benda material sehingga tertampak oleh kita; demikian juga terang rohani, bisa menyingkapkan keadaan batiniah kita โ keadaan kita yang sesungguhnya, sehingga tertampak oleh kita. Kita tahu, seseorang yang berjalan di kegelapan malam, jika ia tidak memiliki terang, ia tidak akan bisa melihat benda-benda di depannya, ia tidak akan bisa terhindar dari menginjak lumpur atau bahkan terjatuh ke dalam lubang. Pada masa perang, dengan mata kepala saya sendiri, saya melihat beberapa orang terjatuh ke dalam lubang di pinggir jalan yang sengaja digali untuk keperluan peperangan; karena pada malam hari, semua lampu terdekat disembunyilean terangnya, demi menghindari serangan udara dari musuh, suasananya gelap gulita. Karena tidak ada terang, maka terjatuhlah beberapa orang itu. Jika ada terang pada malam itu, kecelakaan yang demikian pasti bisa dihindari. Demikian juga dengan terang rohani; dia menerangi manusia batiniah kita, sehingga kita bisa tampak keadaan kita yang sesungguhnya, sehingga kita tahu apa yang harus dihindari, apa yang harus disingkirkan, sehingga kita bisa sesuai dengan kehendak Allah.
Apakah Terang Itu
Mungkin ada orang yang akan bertanya, sebenarnya apakah terang itu? Terang adalah kehidupan Tuhan. Injil Yohanes 1:4 mengatakan, "Dalam Dia ada hidup, dan hidup itu adalah terang manusia." Jadi, terang rohani adalah hidup (hayat) Tuhan yang ada di dalam kita. Yohanes 8:12 mengatakan, "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." Hidup/kehidupan Tuhan adalah terang kita. Terang ini di dalam kita menyorotkan terang, agar kita tampak keadaan kita yang sebenarnya, sehingga kita bisa menyingkirkan segala hal yang tidak diperkenan Tuhan.
Lalu, bagaimana kehidupan Tuhan menyorotkan terang di dalam kita? Saya rasa, hal ini adalah satu perkara yang sangat penting. Perhatikanlah, kehidupan (hayat) Tuhan di dalam kita, melalui perasaan hayat memberitahu kita; perasaan ini adalah berdasarkan sifat hayat (yaitu sifat Allah; II Petrus 1:4) sehingga bisa memiliki perasaan. Di ;sini, saya akan mengambil beberapa contoh pengalaman untuk menjelaskan apa yang saya maksud.
Misalnya, bila kita naik kereta api umum, perlu membeli karcis atau tidak? Ternyata, banyak orang naik kereta api umum tanpa membayar. Kejadian sejenis ini, di antara orang-orang yang tidak percaya Tuhan sangatlah umum, bahkan mereka melakukannya dengan senang. Tetapi setelah Anda percaya Tuhan Yesus, di dalam Anda ada kehidupan Tuhan, cobalah Anda naik kereta api umum tanpa bayar lagi, batin Anda pasti merasakan tidak bisa lewat. Jika Anda tetap naik kereta tanpa membayar, batin Anda pasti akan merasakan satu penderitaan yang mendalam. Anda akan lebih senang membayar lebih banyak sedikit daripada menahan rasa derita akibat teguran hati nurani Anda. Apa yang telah terjadi? Ini dikarenakan perbuatan itu adalah perbuatan yang tidak kudus, tidak adil, sedangkan sifat kehidupan yang kini ada di dalam Anda adalah kudus, adil. Perbuatan itu sangat berlawanan dengan kehidupan yang ada di dalam Anda, sebab itu dia akan melalui hati nurani Anda, terus-menerus menegur dan menghakimi bahwa perbuatan itu adalah dosa, sehingga Anda merasa tidak nyaman, merasa tidak damai, merasa tidak benar. (Catatan: Perasaan semacam ini juga dimiliki oleh orang dunia, karena orang dunia juga memiliki hati nurani. Tetapi orang dunia tidak memiliki kehidupan Allah, karena itu, taraf perasaannya sangat berbeda. Perasaan kaum imani jauh melebihi perasaan orang dunia.) Perasaan yang merasa tidak benar, tidak mantap dan tidak damai ini, dihasilkan dari terang kehidupan di dalam Anda yang menyingkapkan keadaan Anda. Begitu tampak ketidakbenaran dan ketidakadilan diri sendiri, maka Anda merasa tidak ada damai. Orang yang setelah melakukan perbuatan sejenis itu tetapi di dalamnya tidak ada perasaan tidak damai, itu membuktikan bahwa dia berada di dalam kegelapan, di dalam dia tidak ada terang.
Satu contoh lagi yang lebih dalam. Misalnya, ada orang imani yang gemar akan tulisan/gambar kuno. Ini adalah perkara yang berkaitan dengan kebudayaan; di dalamnya sama sekali tidak ada jejak dosa.. Ketika dia baru percaya, mungkin dia bisa menjadi orang Kristen sambil menyenangi benda-benda itu; dia tetap merasa tenang. Sampai suatu hari, ketika kehidupan di dalamnya bertumbuh dan mencapai taraf tertentu, dia segera merasa bahwa menjadi orang Kristen sambil menyenangi benda-benda tersebut ada persoalannya. Pada mulanya, meskipun ada perasaan itu, namun dia tidak mengerti di mana letak persoalannya; bersamaan dengan itu, di dalam pikirannya terlintas banyak atasan yang menjelaskan bagi diri sendiri, menghibur diri sendiri, menganggap bahwa kegemaran itu tidaklah salah, itu adalah perkara yang berkaitan dengan kebudayaan. Namun, batinnya tetap merasa ada suatu masalah, bagaimanapun di dalam ada perasaan tidak damai yang tidak terkatakan. Sampai dia taat kepada perasaan yang di dalam, menyingkirkan kegemaran itu, bersedia tidak lagi menyenanginya, di dalamnya muncul satu perasaan damai yang di luar perkiraannya. Persoalannya telah terselesaikan.
Cerita apa lagi ini? Ini dikarenakan kegemaran terhadap benda-benda itu adalah termasuk salah satu kesenangan daging, kesenangan mata. Bagi orang dunia, mengagumi tulisan/gambar kuno adalah satu hiburan tingkat tinggi, tetapi dari sudut pandangan Allah yang Cemburu, itu semua adalah berhala yang dapat mengalihkan hati kita yang mengasihi Allah. Alkitab mengatakan, "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu" (I Yohanes 2:15). Sebab itu, di dalam kehidupan yang ada di batin kita, ada sifat yang cemburu, ia tidak senang kalau orang imani menyenangi dunia; ia ingin manusia hanya.mengasihi dan mutlak cenderung kepadaNya. Di sini, sekali lagi kita tampak, bahwa kehidupan yang ada di dalam kita juga adalah terang. Terang ini menyatakan, bahwa mengasihi Allah tidak bisa disandirigkan dengan mengasihi dunia. Setelah kita menyingkirkan yang lain, baru ada rasa damai sejahtera. Pengalaman sejenis ini sangatlah banyak. Meskipun hal-hal yang ditanggulangi boleh berjumlah ribuan, mungkin berkaitan dengan manusia, benda, atau perkara, tetapi prinsipnya adalah sama.
Yang disingkirkan dalam Pemurnian
Mungkin, ada orang yang ingin bertanya, "Berapakah luas penyingkiran atau pemberesan yang harus dialami oleh seorang imani?" Saya ingin menjawab demikian: Segala dosa yang perlu dibasuh dengan darah, harus dibasuh bersih; segala daging yang perlu ditanggulangi oleh salib, harus disingkirkan; segala perkara dunia yang berlawanan dengan Bapa, harus dikesampingkan; segala yang berpusat pada ego, bersumber pada ego, harus ditolak.
Seorang Kristen yang bisa demikian memurnikan dirinya, dia pasti mengalami kehidupan kebangkitan Kristus hari demi hari makin bertambah banyak memenuhi dirinya, sehingga kehidupan Kristus di dalam dirinya berkuasa dan meraja, dan iapun menjadi seorang Kristen yang hidup di dalam "suasana rohani".
Yang Tetap Tinggal Setelah Pemurnian
Di atas diri orang Kristen, ada juga barang yang setelah melalui pemberesan namun tetap tinggal, inilah yang disebut pembaruan jiwa. Pikiran, emosi dan tekad adalah tiga organ yang ada di dalam jiwa. Barang-barang ini tidak bisa disingkirkan, namun bisa diperbarui oleh Roh Kudus. Dalam kesempatan ini, saya tidak bisa membahas masalah pembaruan ini dengan rinci, namun saya ingin dengan sederhana mengutarakan tentang pembaruan pikiran. Pada pikiran yang belum pernah diperbarui, apa yang dipikirkan selalu sama dengan orang dunia, memiliki banyak pengetahuan yang disisipkan oleh iblis, memiliki berbagai macam opini. Ketika ia memikirkan perkara dunia, terasa lancar; begitu memikirkan perkara rohani, sedikitpun tidak tembus. jika ia mau merendahkan diri dan mengakui, bahwa pikirannya tidak benar dan telah diracuni oleh Iblis, ia akan menerima penerangan Roh Kudus, sedikit demi sedikit akan berubah, hingga dipenuhi dengan pengetahuan Kristus, membuatnya makin mirip Kristus (Kolose 3:10). Dia telah memiliki pikiran Kristus (I Korintus 2:16).
Pembaruan pikiran adalah Roh Kudus melalui terang-Nya membuat manusia tampak, bahwa pikiran, opini dan pandangannya yang lampau, adalah kosong, sia-sia, milik dunia, sangat tidak mirip Allah. Bersamaan dengan itu, ia tampak betapa riilnya firman dalam Alldtab, betapa riilnya wahyu dari Roh Kudus, sangat mirip Allah. Selanjutnya berdasarkan kapasitas terang yang didapat, ia akan menyingkirkan pikiran yang alamiah, dan menggantinya dengan pikiran yang berasal dari Allah. Demikianlah ia akan memiliki satu pikiran yang rohani. Pada waktu yang bersamaan, emosinya akan berubah, ia akan menyenangi perkara-perkara yang disenangi Allah; tekadnya juga berpaling kepada Allah, serasi dengan kehendak Allah. Akhirnya, kita tampak, banyak opini yang dulu dianggap benar oleh seseorang, kini malah diakui tidak benar, yang tadinya tidak diterima, kini malah diakui.
O! Pembaman pikiran adalah satu perkara yang sangat penting! Betapa saya ingin menekankan perkataan "penting" ini sampai ribuan bahkan laksaan kali. Karena berapa banyak kadar kehidupan (hayat) rohani seseorang setelah ia dilahirkan kembali, mutlak tergantung pada berapa banyak perubahan pikirannya. Pikiran adalah medan pertempuran antara Allah dengan lbiis, siapa yang menduduki lebih banyak, dialah yang menang. Di dalam pikiran manusia, sebelumnya memang sudah ada kubu-kubu yang kuat dari Iblis, yaitu pikiran-pikiran yang memberontak kepada Allah. Di sini Allah akan menerangi pikiran manusia, sehingga pikirannya direbut kembali agar takluk kepada Kristus (II Korintus 10:4-5). Kita bisa mengatakan, "Berapa banyak seseorang mendapatkan penyelamatan Allah, dapat dilihat dari berapa banyak pikirannya yang direbut kembali." Meskipun hari ini kita masing-masing telah memiliki satu kehidupan yang baru, tetapi ingatlah, pikiran kita tidak bisa secepat itu berubah. Ini memerlukan waktu, inilah pekerjaan Roh Kudus hari demi hari di atas diri kita. Untuk memahami perkara-perkara rohani, diperlukan pikiran yang telah diperbarui (I Korintus 2:14); untuk mengerti wahyu dalam roh, juga diperlukan pikiran yang telah diperbanii (Efesus 1:17-18). Lihatlah, betapa pentingnya pikiran yang diperbarui dalam hal kemajuan rohani!
Sekarang marilah kita membahas jalan pembaruan pikiran. Pertama-tama harus diingat, bahwa salib Golgota adalah tempat manusia lama dibereskan. Manusia lama yang dibereskan ini mencakup pikiran kegelapan milik daging. Tidak peduli bagaimana pandainya pikiran seseorang, tidak peduli bagaimana hikmamya pikiran seseorang, dalam pandangan Allah, kematian salib telah mengakhirinya, telah membunuhnya. Sebab itu, kita harus percaya kepada apa yang telah dikerjakan Allah pada salib di Golgota. Di satu pihak, kita tidak percaya kepada otak diri sendiri, kita hanya berdasarkan pekerjaan salib yang telah memberesi sifat manusia lama; di pihak lain, kita taat kepada petunjuk Roh Kudus yang tinggal di dalam kita, sehingga kita tahu apa yang seharusnya disingkirkan. Di sinilah kita bekerja sama dengan Roh Kudus, membiarkan Roh Kudus mempunyai jalan di atas diri kita untuk melaksanakan pekerjaan pembaruanNya. Jika manusia mau taat dengan rendah hati, maka pekerjaan Roh Kudus akan lebih dirii terampungkan.
Menyingkirkan Campuran "Ego"
Dulu saya pernah menulis kata-kata demikian: Bahaya rohani ialah memiliki pengalaman terhadap kemenangan dal kekudusan, memiliki hasil dalam pekerjaan, memiliki karunia rohani, dan juga mempunyai perbuatan kebenaran yang berasal dari kehidupan.
Sekilas pandang, mungkin Anda akan merasa terkejut dan heran, karena semua itu adalah mustika rohani, semua itu adalah hal-hal yang sangat diriambakan dan sangat sulit didapat. Mengapa bisa disebut bahaya? Ketahuilah, bahayanya bukan terletak pada hakiki perkaranya, melainkan terletak pada "aku" sebagai manusia ini. Semua perkara itu, pada hakekamya sangat baik, milik Allah, berharga, harus dimiliki oleh orang Kristen. Tetapi bahayanya ialah begitu seseorang masuk ke dalamnya, begitu menikmatinya, begitu berhenti di atas perkara-perkara itu, maka semua mustika rohani itu bahkan menjadi tudung/tirai yang menutupi mata rohaninya, sehingga ia tidak bisa tampak, sehingga terhentilah kemajuan kerohaniannya. Ingatlah, "ego" ini bisa menyusup masuk ke dalam segala macam perkara, demikian juga dalam perkara-perkara rohani. Ego bisa secara sembunyi-sembunyi, diam-diam menikmati, mempertahankan diri, membanggakan diri. Sering kali, di mulut mengaku rendah hati, tetapi di hati merasa bahwa dirinya lebih hebat daripada orang lain, merasa bahwa dirinya cukup lumayan!
Mungkin ada juga yang ingin bertanya, "Ketika seseorang memiliki pengalaman kemenangan, atau sukses dalam pekerjaannya, sebagai hamba, boleh atau tidak ia menikmati? Saya katakan, "Memang boleh." Tetapi Anda harus memiliki sikap sebagai orang ketiga. Jika kita melihat firman dalam Injil Lukas 17:7-10, kita akan tahu, bahwa tuan mendapatkan sesuatu, maka hamba juga akan mendapatkan karena tuannya. Bukan dikarenakan hamba itu bisa membajak di ladang (membuka dan mengerjakan pekerjaan), bisa menggembalakan kambing domba (pekerjaan perawatan), bisa melayani Tuhan (di dalam roh melayani Tuhan, beribadah kepada Tuhan), lalu merasa "dirinya" (ego) cukup lumayan, melainkan setelah "dirinya" menyelesaikan semuanya itu, ia tetap adalah hamba yang tidak berguna. Sebab itu, dalam hal ini ego tidak patut memiliki kedudukan, tidak patut masuk. Seperti halnya seekor domba hilang yang didapatkan kembali, maka malaikatpun ikut bergembira -- menikmati; tetapi sukacita malaikat, mutlak dikarenakan hati Tuhan yang gembira, bukan karena ia telah melakukan sesuatu atau memiliki sesuatu, dia adalah orang ketiga. Di sini tidak ada campuran ego, tidak ada kegembiraan ego. Demikian baru bisa beroleh rahmat, terlepas dari tirai yang menutupi dan bisa tidak berhenti pada keberhasilan yang lampau. Jika dalam hal ini ego kita tidak berdiri pada kedudukan orang ketiga, Allah akan membiarkan kita mengalami kekalahan di kota Ai, ketakutan di bawah pohon arar, atau akan diberi satu dud di dalam daging kita (lihat Yosua 7; I Raja-raja 19; II Korintus 12), agar kita tidak mengistimewakan diri sendiri, tidak merasa diri sendiri memiliki sesuatu; sebaliknya, kita bisa bersandar dan menengadah kepada Allah.
Pemurnian yang Lebih Dalam
Berbagai pemberesan yang kita katakan di depan, semuanya menitikberatkan penyingkiran pada aspek negatifnya, agar memberi kedudukan kepada kehidupan (hayat), namun tidak memperhatikan "kemajuan" dalam aspek positifnya. Tentu, arti murni ialah menyingkirkan segala sesuatu yang tidaic bersih dan juga segala yang campuran; untuk ini kita memerlukan darah dan salib, juga memerlukan terang kehidupan untuk menerangi sehingga kita bisa tampak dan menyingkirkan. Dengan kata lain, organ dalam jiwa -- pikiran -- meskipun tidak bisa disingkirkan, namun banyak angan-angan dalam pikiran yang perlu disingkirkan dan diperbarui. Itulah sebabnya, berbagai macam pemberesan yang di depan hanya mengacu kepada aspek negatifnya, adalah pemberesan terhadap segala kehidupan alamiah yang berasal dari Adam. Sekarang, masalahnya berbeda, yang dibereskan mutlak tidak ada hubungannya dengan kehidupan alamiah dalam Adam, yaitu membereskan barang-barang yang ada di dalam Kristus.
Mungkin Anda akan merasa heran dan berkata, "Apakah barang-barang yang berasal dari Kristus juga perlu dibereskan?" "Tidakkah barang-barang itu boleh dibiarkan tetap tinggal?" Ya, barang-barang rohani yang berasal dari kehidupan baru Kristuspun perlu dibereskan, tidak boleh tinggal diam/berhenti. Pemberesan ini saya sebut sebagai "pemurnian yang lebih dalam". Di sini, saya ingin mengemukakan dua perkataan yang penting, yaitu setiap hal yang tidak bisa keluar setelah melewati penguburan Kristus, harus disingkirkan; setiap hal yang bisa keluar setelah melewati penguburan Kristus - yang bangkit - juga tidak boleh tinggal diam. Jadi, apakah pemurnian yang lebih dalam? Piemurnian yang lebih dalam adalah: yang berasal dari wahyu Allah, barang yang berasal dari kebangkitan Kristus, juga tidak boleh dibiarkan tinggal diam. Kita tahu, bahwa pertumbuhan kehidupan adalah mengalami fungsi metabolisme. Barang yang di dalam Kristus, meskipun sifamya sampai kekal, namun jika ia tinggal diam, ia akan menghalangi penampakan yang baru, itulah sebabnya manusia tidak boleh berhenti pada pengalaman langit tingkat ketiga; jika tinggal diam di sana, maka wahyu yang indah yang berasal dari Allah, akan menjadi tirai yang membuat Anda tidak bisa tampak lagi, menghalangi Anda "maju ke depan", sehingga Anda tidak mendapatkan wahyu yang lebih dalam dan lebih limpah. Allah menghendaki kita terus maju, sedikitpun tidak berhenti. Karena itu perlu kita senantiasa menengadah kepadaNya, senantiasa membiarkan Dia memenuhi diri kita. lni adalah perkara serius yang tidak bisa tidak kita perhatikan.
Kekuatan rohani kita tidak seperti kendaraan bermotor; kekuatan kendaraan bermotor terletak pada adanya bahan bakar yang terdapat di dalam kendaraan itu. Kekuatan rohani kita seperti kereta listrik, yang harus selalu bersandar pada aliran listrik yang terdapat pada kawat-kawat listrik di atasnya; kalau berkontak dengan kawat listrik, ada kekuatan, begitu terlepas dari kawat listrik, segera kehilangan kekuatan. Sebab itu, ketika kita merasa bahwa kita sendiri tidak berdaya, sia-sia, merasa bahwa kita adalah bejana yang "tidak memiliki" apa-apa, yang setiap saat perlu berkontak dengan Allah alam semesta yang Maha ada, maka yang "tidak memiliki" apa-apa ini bisa dipenuhi "Sang Segala" ini. Pemenuhan atas diri kita juga tidak seperti orang mengisi air dalam termos yang membiarkan air tetap tinggal di sana, melainkan seperti aliran darah yang memenuhi pembuluh darah. Saya menyebumya sebagai "pemenuhan seperti pembuluh darah." Boleh dikatakan, pembuluh darah setiap saat dikosongkan, juga setiap saat dipenuhi. Darah tidak berhenti di pembuluh darah, sebab itu darah tidak menjadi usang, melainkan selalu segar; bahkan setiap saat menengadah untuk suplai yang baru, selalu bersandar. Jika darah berhenti di suatu tempat, di tempat itu pasti ada kematian.
Demikian juga dengan penglihatan rohani. Jika kita berhenti pada penglihatan yang terdahulu; ini akan menghalangi kita terhadap penglihatan yang baru, dan terhentilah pertumbuhan kehidupan (hayat) kita, karena pertumbuhan hayat ini mutlak berkaitan dengan penglihatan. Jika penglihatan berhenti, berhenti pula pertumbuhan hayat; ini adalah satu hukum. Tetapi ini bukan berarti bahwa penglihatan adalah satu perkara yang terjadi dalam sekejap saja. Sering kali, terhadap suatu penglihatan yang Allah berikan kepada kita, dari awal hingga akhir, proses tersebut memerlukan sejangka waktu tertentu. Ini sepertilah sebutir benih, mulai dari bertunas, berdaun, beranting, berbuah, semuanya perlu waktu. Sesungguhnya, dari benih sampai ke tahap bertunas, adalah hal yang baru (penglihatan yang baru), dari bertunas sampai berdaun, juga adalah hal yang baru, dari berdaun sampai beranting, terus sampai berbunga dan berbuah, setiap tahap selalu baru. Inilah perkembangan suatu penglihatan, ia tidak bisa berhenti. Demikian juga, jika Allah menghendaki kita melihat satu penglihatan yang lain, kita tidak seharusnya tetap tinggal dalam kenikmatan penglihatan yang terdahulu. Hanya demikianlah baru kita bisa senantiasa memiliki penglihatan yang baru, bar bisa tidak membuat penglihatan yang terdahulu menjadi tirai yang menghalangi kita maju ke depan. Jadi, barang-barang yang ada di dalam Kristus, juga memiliki seluk beluk metabolisme. Kita tidak boleh berhenti pada keadaan yang usang.
Lalu, mungkin ada orang yang akan berkata, "Apakah barang-barang yang dahulu berasal dari Kristus itu bisa menjadi usang, atau bisa berlalu?" Tidak! Barang-barang yang sungguh-sungguh berasal dari kebangkitan selamanya tidak bisa usang, selamanya tidak akan berlalu, selamanya segar, baru, namun itu perlu dipelihara di dalam kesegaran Roh Kudus, bukan diingat-ingat di dalam otak. Segala yang berasal dari kehidupan, tidak hanya tidak bisa berlalu, bahkan selamanya akan tinggal di dalam orang itu, menjadi bagian dari kehidupan orang itu; ia tertempa menjadi satu dengan orang itu. Bila kita ingin menggunakannya, asal di dalam Roh Kudus, ia menjadi segar, hidup, lincah, seolah-olah penglihatan yang baru saja didapat.
Sekarang marilah kita kembali melihat ayat Aikitab yang tadi kita baca, "Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepadaNya, memurnikan dirinya sama seperti Dia yang adalah murni" (Tl.). Pengharapan ini mengacu kepada apa? Ini mengacu kepada pada suatu hari kelak, kita akan mirip Dia, mirip Tuhan sendiri. Setiap orang yang mengharapkan pada suatu hari akan mirip Tuhan, hari ini harus memperhatikan satu hal: memurnikan dirinya sendiri, yakni menyingkirkan dengan tuntas segala barang yang najis, campuran dan yang tidak sesuai dengan Tuhan. Inilah yang perlu kita lakukan, kita harus secara aktif bekerja sama dengan penerangan Roh Kudus. Pemurnian ini akan mencapai satu tujuan, yaitu murni seperti Dia. Tuhanlah sasaran kemurnian kita. Hari ini Allah menaruh RohNya di dalam kita, setiap hari melalui penerangan menyatakan AnakNya di dalam kita, tujuannya tidak lain adalah supaya kita mirip dengan Dia.