Makna Sejati Penyangkalan Diri
Doa
Aba, Bapa! Di dalam nama AnakMu kami datang ke hadapanMu. Kami bersyukur kepadaMu karena takhtaMu adalah takhta kasih karunia, dilingkari pelangi. Melalui darah AnakMu, bersandar namaNya, setiap saat kami boleh datang ke hadapan takhta ini untuk mendapatkan belaskasihan, mendapatkan kasih karunia, menjadi bantuan kami pada waktunya. Hari ini kami, sekelompok orang yang ada di hadapanMu, benar-benar adalah orang yang menerima berkat yang besar, karena Engkau telah memberikan hidup yang kekal itu kepada kami, dan hidup yang mustika ini telah menentukan masa depan kekal kami. Setiap kali kami teringat akan berkat bahagia ini, kami benar-benar tidak tahu harus dengan perkataan apa menyatakan perasaan yang ada di dalam kami! Kami hanya dapat dari dalam lubuk batin berkata, "Bapa, syukur kepadaMu. Kami memujiMu, karena berkat yang Kauberikan kepada kami jauh melampaui segala benda dan perkara yang ada di bumi ini.”
Bapa! Kami masih mohon, kiranya Engkau memelihara gerejaMu di bumi ini. Sering kali anak-anakMu masih lemah, gagal, jatuh, masih banyak yang tidak bisa menjangkau isi hatiMu, perlu Engkau setiap saat menunjang dengan kekuatan kehidupanMu. Kami juga bersyukur kepadaMu, karena Engkau memelihara anak-anakMu seperti ibu yang menlperhatikan anaknya. Kalaupun ibu di bumi ini bisa melupakan anaknya, Engkau selama-lamanya tidak melupakan kami.
Kami masih menyerahkan firmanMu pada hari ini ke dalam tanganMu. Semoga orang-orang yang bisa menerimanya, bisa dengan rendah hati di hadapanMu menerima faedah yang rill, bahkan dengan riil pula melaksanakannya. Ya Allah! Firman ada di tanganMu, kehidupan juga ada ditanganMu, kiranya Engkau Sang kaya limpah itu mau menyingkapkan kelimpahanMu yang kekal itu melalui firman-Mu, menggarapkannya ke dalam batin manusia, sehingga manusia mendapatkan faedah yang sejati. Bapa! Kami mengakui, kami sebagai hambaMu tidak bisa berbuat apa-apa, semuanya perlu Engkau yang bekerja. Yang berdiri dihadapanMu hanyalah satu bejana, satu saluran, kiranya Engkau membersihkan dan menuang, sehingga Engkau mau melaluinya mengalir mencapai orang.
Bapa, kami masih mohon Engkau membelenggu si musuh, tidak membiarkan Iblis melakukan pengacauan. Mohon Engkau menarik kembali setiap pikiran yang berkelana, sehingga pikiran kami hanya tertuju kepadaMu. Bapa, batasilah kami! Demi nama Tuhan Yesus. Amin.
Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah4engah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati:" Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat." Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya
Kejadian 3:1-6
Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
Matius 16:24-25
Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayanKu akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.
Yohanes 12:25-26
Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.
Kolose 3:2
"Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh."
Roma 8:5
Terlebih dahulu saya ingin menyampaikan beberapa perkataan: Bagi saudara saudari yang baru beroleh selamat atau saudara saudari remaja, mungkin ada perkataan yang saat ini tidak bisa kalian mengerti, untuk itu harap di satu pihak kalian menaruh diri kalian di tangan Allah, dengan takut dan gentar mohon Allah memperbarui pikiran, di pihak lain, juga mohon saudara saudari berdoa untuk firman yang akan dilepaskan kali ini. Mohon Tuhan dengan limpahnya memberikan terang dalam firmanNya, sehingga apa yang saya pahami dan apa yang saya alami, bisa saya utarakan kepada kalian. Kalau tidak, seperti seorang saudara berkata, meskipun Hrman telah diberitakan, tetapi barang itu masih belum terbebaskan, sehingga masih perlu diberitakan sekali lagi pada kesempatan lain. Kami tidak ingin demikian. Karena itu jika pengertian kita atau kemampuan kita tidak mencukupi, kita harus tenang diam di hadapan Allah, mohon belaskasihan Allah.
Makna Sejati Penyangkalan
Matius 16:24-25 mengatakan, "Lalu Yesus berkata kepada mund-muridNya: Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia han.rs menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya." Saudara saudari, saya ingin bertanya, "Apakah sebenarnya 'menyangkal diri' itu?" Mungkin ada saudara saudari yang di hadapan Allah telah tampak hal ini, namun hari ini saya ingin berdasarkan apa yang Tuhan tampakkan kepada saya, dengan dua aspek perkataan mempersekutukan hal ini. Aspek pertama adalah seperti yang dikatakan oleh kebanyakan orang; aspek kedua adalah berdasarkan apa yang telah saya pelajari, apa yang benar-benar telah saya tampak di dalam saya.
Menurut pemahaman kebanyakan orang, ketika seseorang berkata bahwa saudara anu atau saudari anu menyangkal dm, selalu dikaitkan bagaimana mereka rela menyerahkan atau mengorbankan benda-benda material mereka, seperti pakaian, harta benda dan lain-lainnya, untuk membantu orang lain, memberikannya kepada orang lain. Memang, di dalam penyangkalan diri terdapat unsur pengorbanan barang-barang itu, tetapi pengorbanan barang-barang itu belum tentu benar-benar berarti "menyangkal diri". Sering kali, tindakan itu bukan hanya tidak menyangkal diri, bahkan malah menyuplai kehidupan (hayat) jiwanya sendiri, membuat kehidupan jiwanya mendapatkan kenikmatan dan perawatan, sehingga kehidupan jiwanya makin bertumbuh. Dalam Alkitab ada satu contoh yang sangat jelas memberitahu kita, bahwa penyangkalan diri sedemikian itu secara luaran kelihatannya baik, tetapi sebenarnya itu tidak diperkenan oleh Allah, tidak disenangiNya. Inilah yang tercantum dalam I Korintus pasal 13. Di sana disinggung tentang kasih, sebenarnya apakah kasih yang sejati itu? Ada satu ayat Alkitab yang sungguh mengherankan: "Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku" Di sini ada orang telah kehilangan sangat banyak, dia tidak hanya telah menyerahkan segala miliknya, bahkan nyawanya sendiri pun telah dikorbankan. Tetapi bagaimana kata Paulus? Dia berkata, jika tidak ada kasih, jika bukan berasal dari Allah, bukan bagi Allah, bukan berasal dari kehidupan Allah, melainkan berdasarkan diri sendiri atau dengan tujuan tertentu, maka penyangkalan diri atau pengorbanan diri itu di hadapan Allah tidak ada harganya; bagi diri orang yang bersangkutan juga tidak berfaedah.
Misalnya, hari ini banyak orang berderma, membuka Yayasan Sosial, tetapi nama mereka tercantum dalam daftar penyumbang, si anu mempersembahkan sekian, si anu menyumbang sekian juta. Lihatlah, di satu pihak mereka memang kehilangan benda material, tetapi di pihak lain nama mereka mendapatkan sesuatu, sehingga akhirnya mereka sendiri yang mendapatkan satu kenikmatan. Kenikmatan semacam ini adalah untuk kehidupan jiwa seseorang, membuat jiwanya mendapatkan makanan, sehingga jiwanya menjadi kuat. Tujuan semula dari menyangkal diri adalah supaya kehidupan jiwanya makin kecil, layu; tetapi sekarang kehidupan jiwanya malah bertumbuh besar, subur, membuat dirinya merasa lebih hebat daripada orang lain, lebih baik daripada orang lain. Ini bukan menyangkal diri yang sejati.
Misalnya lagi, Anda mencintai seseorang. Anda bisa mengorbankan sesuatu demi dia: mungkin memberi dia pakaian untuk dia pakai, memberi dia barang-barang, memberi dia rumah untuk tinggal, tetapi pengorbanan Anda ini bukan khusus untuk Allah, melainkan Anda mengharapkan di atas orang ini, Anda bisa mendapatkan satu batasan yang baik, Anda mengharapkan dia membatas kasih Anda. Kalau suatu hart orang itu tidak mengasihi Anda, Anda akan segera menghentikan pemberian Anda itu. Lihatlah, pengorbanan ini adalah mempunyai satu tujuan yang di luar Allah, Anda mengharapkan sesuatu dari sasaran kasih Anda. Hari ini Anda memberi dia, Anda berharap kelak dia memberi kepada Anda. Renungkanlah, bukankah ini adalah melakukan sesuatu untuk diri sendiri, bagaimana ini bisa disebut menyangkal diri? Oh . . . contoh-contoh semacam ini benar-benar tidak patut dicatat.
Dalam Matius pasal 16, Tuhan memberitahu kita tiga perkara ini, yakni tentang penyangkalan memikul salib dan mengikuti Tuhan. Terlebih dahulu mari kita melihat apakah yang disebut "menyangkal diri". Nita telah melihat, bahwa apa yang disebut mengorbankan benda material itu belum tentu benar-benar berarti menyangkal diri. Penyangkalan diri yang sejati adalah masalah yang di dalam, yang berasal dari Allah, walaupun sering kali kejadian itu juga mencakup pengorbanan hal-hal yang di luar.
Sekarang marilah kita dengan teliti melihat, apakah ,sebenarnya yang disebut "menyangkal", dan apakah yang disebut "diri". Jika kita telah jelas terhadap hal-hal ini, barulah kita bisa mengenal apakah menyangkal diri itu.
Menyangkal Berarti Menolak, Tidak Mengakui
Apakah menyangkal itu? Dalam bahasa Inggris kata ini diterjemahkan "deny", Anda boleh mengartikan kata ini "menyangkal", "menolak" atau "mengingkan". Karena itu, menyangkal diri berarti "menolak diri", "tidak mengakui diri sendiri".
Diri adalah Inti Kehidupan Jiwa
Apakah yang disebut diri (ego) itu? Sebenarnya apakah diri atau ego itu? Diri atau ego tidak lain adalah barang yang paling inti dalam kehidupan alamiah, boleh juga disebut inti dari kehidupan alamiah, yaitu inti dari kehidupan jiwa. Orang yang alamiah, orang milik jiwa, seluruh pikirannya berasal dari diri (ego), setiap perkataannya juga berasal dari ego mi. Setiap perkataan yang berfaedah bagi dirinya sendiri, akan dikatakan, dan setiap perkataan yang berguna bagi diri sendiri akan diriengarkan. Lihatlah, diri atau ego adalah kunci dari seluruh kehidupan jiwa seseorang, yang sangat penting, menduduki bagian yang sangat penting, setiap perkara lainnya tidak bisa berbenturan dengannya. Setiap hal yang keluar dari seseorang, baik itu perkataan, tingkah laku, pikiran, semuanya adalah egonya. Jarang sekali dia mau meletakkan diri sendiri karena orang lain, atau dia mau berdiri dan berbicara bagi orang lain. Karen itu, diri atau ego adalah bagian terpenting dari kehidupan jiwa; ego adalah titik tolak kehidupan jiwa. Orang yang jiwani, baik ia berbicara atau melakukan sesuatu, selalu bertitik tolak dari diri sendiri, bagi diri sendiri, dan segalanya adalah untuk faedah dirinya sendiri. Itulah sebabnya saya memberinya satu sebutan: ego adalah inti dari kehidupan alamiah. Penyangkalan diri yang sejati, tidak bisa dicapai oleh orang biasa, hanya bisa dicapai dengan membiarkan kehidupan Allah bekerja di dalam manusia.
Tiga Fungsi dari Jiwa
Tadi telah saya katakan, bahwa diri (ego) adalah inti dari kehidupan jiwa. Sekarang marilah kita lebih jauh melihat, apakah sebenarnya yang disebut jiwa itu. Jika kita ingin tahu apakah menyangkal kita harus tahu apakah menyangkal jiwa itu; mau mengenal menyangkal jiwa, kita harus mengenal apakah fungsi-fungsi yang ada di dalam jiwa; jiwa mencakup apa saja, mempunyai fungsi apa. Mungkin ada saudara saudari yang telah mengetahui hal ini, bahwa kehidupan jiwa itu berasal dari Adam, berasal dari anak cucu Adam, berasal dari orang tua kita. Jiwa kita mencakup pikiran, emosi, dan tekad; ketiga organ inilah yang membentuk jiwa kita. Ketika Anda ingin melakukan satu perkara, terhadap perkara itu Anda memiliki satu kesenangan, kesenangan ini adalah fungsi -dari bagian emosi yang ada di dalam jiwa Anda. Saat Anda ingin melakukan satu perkara, di dalam jiwa Anda masih ada satu organ yang disebut pikiran, pikiran ini membuat Anda mempertimbangkan, harus bagaimana melakukan perkara itu. Dan ketika Anda memutuskan akan melakukan perkara itu, keputusan itu diambil oleh organ tekad yang ada di dalam jiwa Anda. Jadi menyangkal diri haruslah terlebih dulu kehilangan tiga unsur alamiah yang ada di dalam jiwa ini. Saya ambil satu contoh lagi, untuk memperiihatkan kepada Anda betapa eramya hubungan ini dengan kehidupan kita sehari-hari. Dalam catatan Kejadian pasal 3, di sana tercatat Iblis melalui ular menipu Hawa dan berkata, "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" Iblis bukan tidak tahu, tetapi dia sengaja mencobai Hawa demikian. Lalu sahut Hawa, "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati." Sebenarnya Allah berfirman, "Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." Tetapi ular itu berkata: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat " Hawa memandangi buah pohon itu, terlihatlah buah itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, apalagi ditambah dengan bujukan si ular, maka ketiga organ di dalam jiwanya bereaksi. Hawa memakai emosinya, sehingga dia melihat buah itu baik, enak dimakan, akhirnya ia berpikir, setelah makan buah itu tentu ada faedahnya, membuat manusia berhikmat, bisa membedakan baik dan jahat, bisa mirip Allah. Bukankah ini sangat baik. Lihatlah, terlebih dahulu ada tarikan emosi, kemudian ada fungsi pikiran, berpikir sedemikian rupa, maka mendorong tekadnya, tekadnya mengambil satu keputusan, demikianlah dosa masuk. Jadi di sini kita melihat, bahwa ketiga organ di dalam jiwa manusia telah menyatakan fungsinya.
Di antara ketiga organ jiwa manusia ini, bagian manakah yang paling bisa menimbulkan penyakit, yang paling dipakai oleh Iblis? Saya makin menemukan, bahwa emosi adalah sumber penyakitnya. Misalnya, banyak orang sangat tertarik terhadap perjudian, rasa tertarik ini mutlak cerita dalam emosi. Begitu tertarik; segera pikirannya bekerja, dan pikiran itu menggerakkan tekad, demikianlah manusia bertekad untuk berjudi. Karena itu boleh dikatakan, terlebih dahulu emosi tertipu, kemudian menggerakkan pikiran dan pikiran menggerakkan tekad. Orang-orang yang suka nonton juga demikian. Kisah yang terjadi di atas diri Adam adalah seperti ini. Akhirnya dia dipakai oleh Iblis, terjatuh ke dalam tipu muslihat Iblis.
Jadi, jika kita mau menyangkal diri, terlebih dahulu harus menyangkal emosi yang ada di dalam jiwa, khususnya nafsu di dalam emosi. Begitu emosi kita timbul, kita harus segera meruntuhkannya dengan salib. Jika demikian, perkara selanjutnya tidak akan muncul. Jika emosi Anda tergerak, dan Anda tidak ada perasaan terhadapnya, maka Anda tidak berdaya menanggulanginya. Karena semua penanggulangan terjadi setelah penampakan. Mungkin Anda tidak segera menyadarinya ketika Anda sedang memikirkan nafsu pikiran, tetapi ketika Anda sedang merenungkannya atau sedang memikirkannya, Anda masih mempunyai kesempatan untuk tampak hal ini, saat itulah Anda harus segera memakai salib untuk mematahkannya, segera menolaknya, jika demikian, perkara selanjutnya tidak akan timbul.
Saudara saudari, saya di sini membicarakan pelaksanaannya. Baik itu perkara nonton, judi, atau perkara-perkara yang baik, atau orang yang tidak Allah senangi jika Anda kasihi, atau perkara yang Allah tidak ingin Anda kerjakan, semuanya itu harus dibereskan. Misalnya Anda mencintai seseorang, Anda tidak bisa melepaskannya; atau Anda menyenangi sesuatu, Anda juga tidak bisa melepaskannya. Baik Anda mengasihi seseorang atau menyenangi sesuatu, kalau hal-hal itu membuat Anda tidak bisa berpaling
kepada Allah, semuanya itu selalu didahului oleh emosi, kemudian diikuti oleh pikiran, yang memikirkan ini baik, ini berguna bagiku. Emosi mendorong pikiran, pikiran menggerakkan tekad, demikianlah tekad bergerak, dan Anda berdosa terhadap Allah. Setiap pergerakan yang keluar dari kehidupan alamiah, selalu bertentangan dengan Allah.
Menolak Jiwa
Apa yang harus dilakukan sekarang? Anda harus menolak nafsu diri sendiri. Dulu Anda menyukainya, sekarang Anda menolaknya. Apa yang baru Anda pikirkan, begitu Anda tampak, harus segera Anda tolak, runtuhkan atau hancurkan. Tempat nafsu adalah tempat rasa tertarik Anda, yaitu tempat beradanya kenikmatan. Begitu Anda menolak hasrat Anda, menolak kenikmatan Anda, ini akan membuat jiwa Anda sulit menerimanya. Inilah yang disebut salib, inilah yang disebut menyangkal.
Saudara saudari, jika hari ini Anda tidak bisa secara mutlak melayani Allah, dan Anda merasa ada suatu benda di dalam Anda yang terus bergumul dengan Anda, Anda harus menemukan dan mengeluarkan barang itu. Mungkin terhadap seseorang atau terhadap suatu barang, Anda tidak bisa melewatkan, emosi dan pikiran Anda menyeret Anda, saat demikian Anda harus menolak ini, menyangkal emosi dan pikiran Anda. Ini adalah di aspek negatif.
Mengarah kepada Allah
Apakah aspek positifnya? Masih harus memalingkan emosi, mengarahkannya kepada Allah. harus mengalihkan pikiran, mengarahkannya kepada Allah. Harus mengalihkan tekad, mengarahkannya kepada Allah. Allah mau menerima fungsi jiwa kita, tetapi Allah akan menanggulangi emosi yang berintikan diri kita, pikiran yang berintikan diri kita, tekad yang berintikan diri kita. Jadi, Allah tidak menanggulangi organ emosi, tidak menanggulangi organ pikiran, juga tidak menanggulangi organ tekad; Allah mau supaya ketiga organ kita itu pindah, pindah ke pihak Allah.
Sudahkah Anda tampak? Yang tidak disenangi Allah bukanlah ketiga organ itu, yang tidak disenangi Allah adalah ketiga organ itu dipakai demi kepentingan diri atau ego. Allah tidak menghendaki kita kehilangan ketiga organ itu, Allah ingin supaya kita kehilangan pemakaian ketiga organ ini bagi ego. Karena itu menyangkal diri berarti, semula Anda mengasihi seseorang, kini telah berpaling, Anda mengasihi Yesus Krpstus. Kasih adalah bagian dari emosi, tetapi sekarang sudah beralih, mengarah kepada Allah. Pikiran Anda juga telah berpaling, telah mengarah kepada Allah, memikirkan perkara-perkara yang di atas. P'ikiran Anda tetap masih dipakai. P'ikiran Anda bukannya tidak berfungsi lagi, melainkan telah berpaling seperti yang dikatakan Roma pasal 8. Kini pikiran Anda telah bersimpati kepada Roh Kudus, memikirkan Roh Kudus, memikirkan perkara-perkara rohani.
Kelanjutan Pertobatan
Apakah bertobat itu? Bertobat ialah mengubah pikiran, mengubah tekad. Satu orang berdosa bertobat, itu berarti sejak hari ini ia tidak lagi berbuat dosa, sekarang dia telah berpaling kepada Allah. Setelah kita beroleh selamat, di dalam kehidupan kita, masih ada satu kelanjutan dari pertobatan. Hari-hari selanjutnya Allah akan menampakkan kepada kita, bahwa hati kita masih terarah ke dalam dunia, hati kita masih terarah kepada perkara-perkara dunia; kita harus memiliki satu perpalingan, kita harus mengarah kepada arah yang lain. Jika hari ini dalam segala perkara Anda sudah berpaling kepada Allah, hari ini juga Anda menjadi seorang yang mutlak milik Allah, Anda akan mendapatkan satu kehidupan (hayat) yang murni. Yang ingin Allah singkirkan adalah Anda dengan ego Anda sebagai Inti menggunakan ketiga organ ini. Yang ingin Allah dapatkan ialah Anda yang dengan Allah memakai ketiga organ ini. Organ ini tidak disingkirkan, kehidupannyalah yang disingkirkan.
Jadi apakah menyingkirkan jiwa, menyangkal diri itu? Yaitu kehilangan kehidupan jiwa, kehilangan kehidupan yang berintikan diri sendiri. Inilah penolakan yang di dalam. Memang, di luamya akan kehilangan barang-barang material, tetapi yang Allah tanggulangi hari ini adalah barang yang di dalam, ego yang di dalam. Baik itu emosi, pikiran atau tekad harus ditarik kepada Allah. Demikianlah Anda bisa menyangkal diri sendiri, tidak untuk diri sendiri, tetapi berpaling kepada Allah. Setiap kali ada penyangkalan yang demikian, kehidupan alamiah Anda akan merasa sangat menderita, bahkan sering kali tidak rela. Apa yang Allah minta, kita tidak rela memberikan. Allah ingin supaya kita tidak memikirkannya, namun kita masih memikirkannya, karena kita masih tertarik, masih merasa ada minat, ada kenikmatan. Keengganan kita itu menjadi satu hambatan terhadap pertumbuhan kehidupan Allah.
Terhadap makna sejati penyangkalan diri, kita telah sedikit jelas, selanjutnya mari kita membahas tentang memikul salib. Apakah memikul salib itu? Salib adalah tempat Tuhan Yesus dipaku, sebatang kayu palang. Sekelompok orang itu berteriak, "Singkirkan Dial Singkirkan Dia!" ltulah slogan salib. Hari ini salib di atas diri kita juga akan menyingkirkan kehidupan (hayat) yang berintikan diri kita. Apakah kemauan salib? Kemauan salib ialah berpaling kepada Allah; kemauan salib ialah jangan menurut kehendakku, melainkan menurut kehendakMu.
Ada seorang saudari yang dengan sangat baik menyinggung tentang salib. Dia berkata, salib bukanlah sesuatu yang material, salib adalah pertemuan antara kehidupan dengan daging; yang bisa lewat setelah berbenturan adalah salib, yang tidak bisa lewat setelah berbenturan, bukan salib. Misalnya, alamiahku senang nonton bioskop, pikiran alamiahku, emosi alamiahku, tekad alamiahku, ingin supaya aku pergi menonton. Tetapi firman Tuhan berkata, "Jangan." Terjadilah satu pertentangan. Mu ingin pergi, namun Tuhan tidak mau. Jika aku tidak pergi, kehidupan alamiahku sulit menerimanya, ia telah terpukul. Di atas diriku, inilah salib. Slogan salib ialah: aku telah mati, telah tersingkirkan. Kemauan salib ialah jadilah kehendakMu bukan kehendakku. Demikian baru benar-benar menjadi salib. Jika kehidupan Tuhan memberitahu Anda, "Jangan pergi," namun Anda berkata, "Tidak bisa tidak pergi," kehidupan itu telah membentur paku. Saat itulah Anda tidak memiliki salib lagi. Jadi yang ingin kita tanyakan ialah kehidupan di atas diri Anda menang atau membentur paku? Anda menyangkal diri atau kehidupan telah membentur paku, sehingga Allah di dalam Anda tidak nyaman?
Hanya ada dua keadaan bagi kehidupan (hayat) Allah di dalam Anda: pertama Anda membiarkannya mendapatkan kemenangan, Anda membiarkan kehendak Allah tergenap. Sedangkan yang kedua adalah Anda membiarkannya membentur paku, kehidupan Allah terpaku. Jika demikian ia di dalam Anda tidak bisa tumbuh besar, sebaliknya kehidupan alamiah Anda akan makin hari makin berkembang, makin hari makin kuat. Perkataan dan tingkah laku Anda diatur oleh diri Anda, bukan diatur oleh kehidupan Allah. Karena itu jika Anda benar-benar mau memikul salib dan membiarkan kehidupan Allah lewat, Anda harus menanggulangi diri Anda, perkataan Anda, pikiran Anda. Begitu terlihat berasal dari diri sendiri, Anda harus membereskannya. Begitu Anda membereskannya, barulah kehidupan ada jalan keluar; jika Anda tidak membereskannya, kehidupan akan membentur paku. Setiap kali Anda membereskannya, itu berarti Anda membiarkan kehidupan Allah berkedudukan dan bertumbuh; bertumbuh sampai seperti Paulus berkata, "Bagiku hidup adalah Kristus." Saat demikian, tidak hanya Kristus meraja di dalam kerajaan, Kristus juga meraja di dalam Anda.
Jika hari ini Anda tidak membiarkan kehidupan Tuhan di dalam Anda bekerja, akhirnya yang rugi adalah diri Anda sendiri. Seperti kelima gadis bodoh yang tercatat dalam Matius pasal 25, yang bagaimanapun harus membeli minyak. Persoalannya adalah membeli lebih dirii atau terlambat membeli. Jika terlambat membeli, akan terkunci di luar pintu, yang lebih dirii membeli, akan masuk ke dalam. Anda telah memiliki benih Allah di dalam Anda, benih itu pasti bisa bertumbuh. Menanam semangka akan menuai semangka, menanam kedelai akan menuai kedelai. Tidak ada seorang pun yang bisa menahan benih Kristus yang ada di dalam Anda. Hari ini, ia bertumbuh lebih dirii atau terlambat. Jika Anda menghalanginya, ia akan bertumbuh lebih lambat. Jika Anda tidak menghalanginya, ia akan bertumbuh lebih cepat. Jadi persoalannya hari ini ialah bagaimana pikiran Anda? Bagaimana emosi Anda? Apakah mengarah ke dunia? Apakah mengarah kepada Allah? Jika Anda taat kepada Allah, tekad Anda cenderung kepada Allah, Kristus pasti meraja. Kehendak Allah akan terlaksana di atas diri Anda, seperti di surga. Jika demikian, Anda baru bisa mengikuti Tuhan.
Mengikuti Tuhan
Setelah menyangkal diri, memikul salib, baru bisa mengikuti Tuhan. Setelah dua hal yang di depan terselesaikan, mengikuti Tuhan tidak lagi menjadi masalah. Begitu Tuhan berkata ke timur, Anda akan segera ke timur, Tuhan berkata ke barat, Anda segera ke barat, bagaimanapun Tuhan mau, Anda akan melakukannya. Tanpa didahului menyangkal diri dan memikul salib, tidak mungkin mengikuti Tuhan. Tuhan sendiri selalu menyangkal diri, memikul salib; demikian pula hari ini kita harus menyangkal diri, memikul salib, kemudian mengikut Tuhan. Mau mengikuti Tuhan harus terlebih dahulu menyangkal diri sendiri, memikul salibnya, ini sudah pasti.
Intinya adalah Siapakah yang Memerintah
Sampai di sini, sebenarnya apakah titik intinya? Apakah titik terpentingnya? Ini adalah masalah otoritas (kekuasaan). Dengan kata lain, di atas diri manusiaku ini siapakah yhng berkuasa? Mau menyangkal diri, memikul salib, menghilangkan kehidupan jiwa, semuanya itu tidak lain bertujuan agar Kristus yang berkuasa. Semula diriku sendiri yang sebagai tuan, semuanya akulah yang menentukan, aku yang melakukan; kalau aku senang, aku melakukannya, kalau aku tidak senang aku tidak melakukannya. Hari ini, slapakah yang berkuasa? Siapa yang menang? Jika kehidupan yang menang di dalamku, maka kerajaan itu terekspresi, kehendak Allah terlaksana di atas diriku sebagaimana terlaksana di surga.
Karena itu saudara saudari, di hadapan Allah terlebih dulu kita harus ada satu penolakan, ada satu kelepasan. Kita melepaskan apa yang kita pikirkan, meletakkan apa yang kita senangi, inilah anti dari menyangkal diri sendiri. Penyangkalan atau penolakan diri ini membuat kehidupan Allah berkedudukan. Kedudukan ini makin hari main besar, sedemikian rupa sehingga ada satu kekuasaan yang mutlak. Begitu Anda taat, saat itu juga di dalam Anda ada sukacita, di dalam Anda ada damai sejahtera, terhadap Allah tidak ada persoalan, Anda menjadi manusia sorgawi. Demikianlah Anda menjadi orang yang membuat kehendak Allah teriaksana. Inilah tujuan Allah hari ini, dan yang ingin Allah capai. Allah mau supaya kita membiarkan Allah secara mutlak berkuasa, membiarkan Dia meraja. Di dalam gereja, di dalam alam semesta, Allah adalah yang Mahatinggi, Dia akan mendapatkan kedudukan yang mutlak di atas diri orang Kristen. Maukah kita taat? Bila mau taat, harus mengeluarkan harga penolakan, melepaskan diri. Bila tidak mau, bukan Allah yang rugi, melainkan diri kita sendiri. Kita harus memperhatikan kisah dalam Matius pasal 25. Minyak itu, bagaimanapun juga harus dibeli; Roh Kudus, bagaimanapun juga harus memenuhi. Persoalannya adalah cepat atau lambat. Semoga Allah membelaskasihani kita.
C.H. Yii