Daftar isi Dua Belas Bakul (9) · bab 11/12

Dipakai Allah dan Mengeluarkan Harga

Dalam alam semesta ini Allah memiliki rencanaNya. Sepanjang sejarah, bahkan sampai kekal, setiap pekerjaan Allah selalu terlaksana berdasarkan rencanaNya. Dan rencanaNya itu memerlukan manusia untuk melakukannya, bahkan perlu dikerjakan di atas diri manusia. Sebab itu setiap orang yang diciptakan dan ditebus olehNya, adalah orang-orang yang akan didapatkanNya untuk menggenapkan rencanaNya.

Saudara saudari, janganlah Anda mengira, kalau hari ini Allah memakai Anda, itu adalah perkara yang kebetulan. Allah memakai Anda, itu sudah tercakup dalam ketetapan-Nya yang semula. Setiap orang yang dipakaiNya, pasti termasuk di dalam rencanaNya. Karena rencana Allah tergenap di atas diri manusia, maka batasan Allah memakai manusia sangatlah luas. Hari ini asal seseorang adalah warga negara dari suatu negara, segeralah ia berada di dalam lingkungan fungsi dari negara itu. Demikian juga, asal kita adalah orang di dalam kerajaan Allah, kita berada dalam lingkungan fungsi dari kerajaan Allah.

Panggilan Allah

Setiap orang yang beroleh kasih karunia dan beroleh selamat, pasti memiliki kemungkinan dan kedudukan untuk dipakai oleh Allah. Tetapi karena Allah ingin memastikan fungsi pada diri seseorang, maka setiap orang yang dipakai oleh Allah, tidak saja diciptakan oleh Allah, menerima pehebusan Allah, juga menerima panggilan Allah. Allah menciptakan manusia, menyelamatkan manusia adalah supaya manusia bisa dipakai. Tetapi berdasarkan perasaan manusia, penciptaan dan penebusan Allah atas diri manusia masih belum bisa menentukan fungsi seseorang di hadapan Allah. Karena itu Allah harus menambahnya dengan panggilanNya. Maksudnya ialah untuk memastikan fungsi seseorang bagi Allah. Dengan kata lain, dalam perasaan kita, kita selalu mengira meskipun Tuhan telah menciptakan kita, juga telah menyelamatkan kita, tetapi kita masih belum tentu berguna. Hanya ketika kita jelas terhadap panggilan Tuhan, kita baru bisa dengan tegas berkata, "Tuhan mau memakai aku “ Jadi, panggilan Allah terhadap kita berarti Dia benar-benar mau memakai kita. Persoalannya sekarang ialah, apakah Allah memanggil kita? Atau dengan kata lain, bagaimana kita bisa tahu bahwa Allah memanggil kita?

Perawatan Allah

Dalam kekristenan hari ini, sering kali orang merasa, bahwa mengenal panggilan Allah adalah perkara yang sulit. Sebenarnya perkara ini tidaklah sulit. Kita hanya perlu bertanya kepada diri sendiri, "Sejak hari aku beroleh selamat sampai sekarang, pernahkah di dalamku merasakan, bahwa Tuhan mau memakai aku?" Adakah satu suara yang lembut atau yang kecil di dalam kita yang memberi perasaan, bahwa Tuhan mau memakai kita? Asal kita pernah sekali memiiiki perasaan ini, kita harus tahu, inilah panggilan Tuhan atas diri kita. Ketahuilah, kerelaan dipakai oleh Tuhan yang timbul di dalam kita, adalah pekerjaan Tuhan yang sangat besar. Pekerjaan ini lebih besar daripada pekerjaan Tuhan menciptakan kita. Pekerjaan Tuhan menciptakan kita, tidak bisa menandirigi pekerjaan Tuhan di dalam kita yang memberi satu kerelaan untuk dipakai oleh Tuhan. Setiap kali Tuhan demikian bekerja di atas diri orang, ini merupakan satu rawatan Tuhan yang sangat besar. Dengan kata lain, ini juga berarti Tuhan datang kepada manusia, Tuhan menjenguk manusia. Semula kita adalah orang yang tidak mau Tuhan, bagaimana bisa timbul perasaan mau dipakai oleh Allah. Ini membuktikan bahwa perawatan Tuhan, karunia Tuhan, telah tertimpa di atas diri kita.

Sepanjang 6.000 tahun ini, Allah laksaan kali, bahkan tidak terhitung banyaknya, menjumpai manusia, merawat manusia. Sayang hari ini di dalam gereja, perasaan sedemikian belum begitu diapresiasikan. Allah sering datang kepada manusia, tetapi sering pula dikesampingkan oleh manusia. Jangan mengira, harus ada suara seperti halilintar dari surga, atau ada satu terang seperti yang dilihat oleh Paulus dalam jalan yang menuju Damaskus, itu baru terhitung sebagai panggilan Allah. Sebenarnya, satu suara .yang kecil, perasaan yang lembut di dalam kita, pada prinsipnya itu sama dengan panggilan yang didapat oleh Paulus di dalam jalan menuju Damaskus, itu sama sekali tidak berbeda. Sepertinya matahari yang kita lihat waktu fajar, dan matahari yang kita lihat pada siang hari, meskipun suhunya berbeda tetapi mataharinya tetap adalah satu. Demikian pula, ketika Allah memanggil manusia, kadang-kadang ada keadaan yang adikodrati, tetapi umumnya Dia secara wajar datang kepada manusia, merawat manusia. Ketika perawatan Allah menimpa seseorang, itulah satu kepastian dan permulaan orang itu dipakai oleh Allah.

Mengeluarkan Harga Menjawab Panggilan Tuhan

Di depan telah kita katakan, bahwa perawatan Tuhan adalah permulaan seseorang dipakai oleh Tuhan. Tanggung jawab ini seratus persen ada di pihak Tuhan. Jika Tuhan tidak merawat, kita tidak berdaya. Tetapi Alkitab pada pihak lain juga memperlihatkan kepada kita, selain perawatan Tuhan, manusia juga memikul satu tanggung jawab, yaitu mengeluarkan harga. Orang-orang dalam Perjanjian Lama seperti Musa, Daud, atau orang-orang dalam Perjanjian Baru seperti Paulus, Petrus dan lain-lainnya, adalah orang-orang yang dirawat oleh Tuhan, juga adalah orang-orang yang mengeluarkan harga. Ketika Tuhan menjumpai Paulus di jalan yang menuju Damaskus, Tuhan tidak pada saat itu memberinya kekuatan, wahyu dan berkat-berkat lain, Tuhan hanya menyuruhnya masuk ke dalam kota. Di dalam kota itu ada seorang murid yang bernama Ananias yang akan memberitahukan apa yang harus dia kerjakan. Selanjutnya Paulus bisa dipakai oleh Tuhan begitu besar, karena dia rela membayar harga. Di satu pihak, Tuhan terus merawamya, di pihak lain Paulus pun terus mengeluarkan harga. Jadi dipakai oleh Tuhan dimulai dengan perawatan Tuhan, tetapi bisa dipakai oleh Tuhan itu tergantung pada kerelaan kita mengeluarkan harga.

Orang yang mau menjawab panggilan Tuhan, perlu mengeluarkan harga yang tidak terbatas. Tidak ada satu orang pun yang bisa berkata, bahwa harga yang ia keluarkan hari ini sudah cukup. Paulus sendiri adalah orang yang selalu melupakan apa yang di belakangnya, giat berlari ke depan, mengarah ke sasaran, bahkan sampai suatu hari nyawapun diserahkannya. Ketika Paulus menulis surat II Timotius pasal 4, boleh dikatakan harga yang ia keluarkan sudah hampir semuanya, tetapi dia masih tetap berlari ke depan. Setiap orang di antara kita tentu pernah mendapatkan rawatan Tuhan, dan rawatan yang kits terima itu adalah sama. Tetapi fungsi kita di tangan Tuhan berlainan, ini dikarenakan harga yang kita keluarkan juga berlainan. Harga yang Paulus keluarkan lebih banyak daripada orang lain, karena itu kegunaannyapun lebih besar daripada orang lain. Meskipun dikatakan, Tuhan membelaskasihani siapa yang dikehendakiNya, tetapi anti perkataan ini mengacu kepada orang-orang kafir yang belum mendapatkan karunia Allah, seperti Firaun. Kita, orang-orang yang telah beroleh selamat, adalah orang-orang yang telah mendapatkan karunia tuhan. Jadi persoalannya bukanlah kita mendapatkan karunia Tuhan atau tidak, melainkan maukah kita mengeluarkan harga. Fungsi kita di tangan Allah dapat dilihat dari bagaimana pengeluaran harga kita. Banyak mengeluarkan harga, banyak gunanya; sedikit mengeluarkan harga, sedikit gunanya. Perawatan Allah selama 6.000 tahun ini telah lebih Bari cukup. Yang membuat Tuhan 'mengeluh' adalah terlalu sedikitnya harga yang kita keluarkan! Itulah sebabnya perluasan pekerjaan Tuhan sangat lamban. Tuhan masih belum bisa segera datang. Alkitab memperlihatkan dengan jelas kepada kita, bahwa Tuhan selalu menunggu twang mengeluarkan harga, menjawab panggilanNya untuk Dia pakai. Yesaya 6:8 menyatakan, bahwa apa yang kita pahami benar-benar tidak dalam. Artinya, di alam semesta ini Allah memiliki satu kehendak yang. sangat besar, dan la sedang menunggu manusia menjawab panggilanNya. Dalam setiap zaman, Allah selalu bekerja, tetapi Dia kekurangan orang yang mengeluarkan harga menjawab panggilanNya. Kita di bumi ini ada satu orang yang mau mengeluarkan harga, menjawab panggilanNya untuk dipakai oleh Tuhan, Tuhan pasti memakai orang itu. Berapa banyak jawaban manusia, kegunaan Tuhan di atas dirinya juga sebanyak itu.

Makna Naik Gunung

Alkitab mencantumkan, orang pertama yang naik ke atas gunung adalah Nuh. la di atas bahtera, melewati air bah, dan mencapai puncak gunung Ararat. Penghakiman air bah tidak dititikberatkan pada menghakimi dosa, melainkan dititikberatkan pada menghakimi dunia yang memberontak kepada Allah. Nuh naik gunung itu melambangkan keluar dari penghakiman, terlepas dari segala keadaan yang melawan Allah. Ketika Nuh mencapai puncak gunung, setiap perkara yang menentang Allah telah lewat. Sebab itu, ketika Alkitab mengatakan, bahwa seseorang datang ke hadapan Allah di atas gunung, makna pertamanya ialah terlepas dari pemberontakan. Seluruh dunia telah jatuh ke dalam pemberontakan kepada Allah, hanya orang yang naik ke atas gunung adalah orang yang keluar dari pemberontakan itu. Makna kedua ialah bangkit dari kematian, naik ke surga. Setelah Nuh naik ke atas gunung, ia terlepas dari pemberontakan, bahkan bangkit dari kematian, maka dia bisa di dalam satu zaman yang baru mewakili kekuasaan Allah di bumi. Karena itu makna Nuh naik ke gunung ialah mewakili seluruh orang yang di kemudian hari naik ke atas gunung ke hadapan Allah. Setiap kali Allah menghendaki manusia naik ke atas gunung, Dia menghendaki manusia itu terlepas dari pemberontakan, bangkit melewati kematian, kemudian mewakili kekuasaan Allah di bumi. Inilah arti pokok dari manusia naik ke atas gunung.

Tetapi, dalam Alkitab, naik ke atas gunung masih ada satu makna lagi, yaitu mendapatkan wahyu. Dari Abraham naik ke atas gunung Moria, sampai Yohanes naik ke atas gunung di pulau Patmos, semuanya ditujukan kepada masalah wahyu. Meskipun naiknya Abraham ke gunung Moria adalah untuk mempersembahkan korban, tetapi akhirnya masih tetap untuk wahyu, supaya dia di satu pihak mengenal Allah adalah "TUHAN yang Menyediakan," di pihak lain mengenal pekerjaan Allah di bumi. Karena semua janji Allah kepada Abraham di sana, adalah pekerjaan yang akan Allah lakukan di atas bumi. Kemudian kita lihat Musa dan Elia. Naiknya mereka ke atas gunung, semuanya adalah untuk mendapatkan wahyu. Sampai pada Perjanjian Baru, Tuhan membawa murid-muridNya naik ke atas gunung, juga untuk wahyu. Terakhir, Yohanes di pulau Patmos, lebih-lebih untuk wahyu. Naiknya Yohanes di atas gunung telah menyingkapkan dengan jelas makna dari naik ke atas gunung, yaitu terlepas dari pemberontakan, bangkit dari kematian, mutlak mewakili kekuasaan Allah di bumi, bahkan mendapatkan wahyu yang sangat misteri.

Naik ke atas gunung dan mendapatkan wahyu; ini berarti, untuk mendapatkan wahyu, seseorang harus membayar harga. Dengan kata lain, naik ke atas gunung adalah membayar harga. Pengajaran di atas gunung dalam Matius pasal 5 sampai dengan pasal 7 adalah kelanjutan dari pengajaran di dalam tempat ibadah, juga adalah pengajaran di luar tempat ibadah. Pengajaran di dalam tempat ibadah adalah yang biasa, yang umum, yang diriengar oleh banyak orang, tetapi setelah pengajaran di dalam tempat ibadah, Tuhan naik ke atas gunung. Pengajaran di atas gunung adalah pengajaran sorgawi, yang tinggi, yang khusus, dan hanya beberapa orang yang mengikuti Tuhan ke atas gunung yang bisa mendengarkannya. Naik ke atas gunung adalah membayar harga, datang ke hadapan Tuhan, mendekati Tuhan. Sepanjang sejarah, tidak banyak orang yang bisa memahami pengajaran Matius pasal 5 sampai pasal 7, karena sedikit sekali orang yang mau mengeluarkan harga itu. Jika kita mau mendapatkan wahyu, kita harus mengambil satu keputusan, yaitu mau membayar harga, mau mendekati Tuhan. Inilah syarat utama dari pengajaran di atas gunung. Abraham, Musa, murid-murid Tuhan, semuanya mengeluarkan harga mendekati Tuhan. Demikianlah mereka mendapatkan wahyu. Lebih-lebih lagi Yohanes di pulau Patmos, saat itu dia mengeluarkan harga, bahkan di hari Tuhan menghampiri Tuhan. Demikianlah dia mendapatkan wahyu dari Tuhan. Sebab itu, hari ini kita semua harus belajar pelajaran ini.

Pengeluaran Harga dalam Keempat Kitab Injil

Dalam kitab Injil berkali-kali disinggung tentang Tuhan memanggil manusia. Secara serius boleh dikatakan, panggilan Tuhan bukan dititikberatkan pada supaya orang beroleh selamat, kebanyakan ditujukan kepada hal mengikuti Tuhan. Kata-kata "Ikutlah Aku", "Meninggalkan segala sesuatu mengikut Aku", "Harus menjual semuanya dan mengikuti Aku", "Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya", "Biarlah orang mati menguburkan orang mati", "Orang yang membajak tetapi menoleh ke belakang tidak layak masuk ke dalam Kerajaan Allah", dan masih banyak lagi di tempat lainnya, memperlihatkan kepada kita, bahwa orang yang mengikuti Tuhan harus mengeluarkan harga yang cukup hebat.

Satu-satunya permintaan Tuhan dalam kitab Injil terhadap kita, orang-orang yang terpanggil, ialah "meninggalkan segala sesuatu". "Segala sesuatu" berarti "semuanya". Yang memiliki seribu mengeluarkan seribu, yang memiliki lima puluh ribu mengeluarkan lima puluh ribu. Ini berarti mengeluarkan semua harga. Dalam pandangan Tuhan, semua harga itu adalah sama. Hari itu Tuhan memuji seorang janda yang mempersembahkan dua keping uang, karena janda itu telah memberikan segala nafkahnya. Karena itu, tidak berarti orang yang memberikan uang banyak itu berarti mengeluarkan harga, melainkan orang yang memberikan segalanya baru disebut mengeluarkan harga. Tuhan selamanya tidak pernah memperhitungkan kita telah mengeluarkan berapa banyak, yang Tuhan perhitungkan adalah apakah kita telah mengeluarkan segalanya.

"Segalanya" yang tercantum dalam kitab Injil, mencakup segala sesuatu yang ada pada diri kita. Ibu-bapa kita, isteri, anak-anak, saudara saudari, rumah, usaha, pendidikan, kedudukan, nama, kegemaran, ambisi, kebiasaan, sifat-sifat, semua inilah yang disebut harga oleh kitab Injil. Misalnya, hari ini saya masih terikat oleh banyak orang, belum mutlak terlepas dari hubungan keluarga. Ini tidak berarti harus putus hubungan dengan keluarga, melainkan di dalam sikap telah putus hubungan. Pendek kata, segala yang semula ada pada diri kita, harus dilepaskan. Inilah permintaan Tuhan yang paling serius.

Begitu Anda berjumpa dengan Tuhan, Tuhan pasti ada permintaan terhadap Anda. Tidak pernah sekalipun Anda benar-benar menjamah Tuhan dalam persekutuan dan Tuhan tidak ada permintaan terhadap Anda. Tuntutan harga atas diri kita selamanya tidak pernah terpuaskan, begitu Dia berjumpa dengan kita, Dia pasti meminta sesuatu dari kita. Peinyataan Tuhan yang paling nyata di atas diri kita adalah tatkala Dia mempunyai satu tuntutan terhadap diri kita. Dari pihak kita, ketika kita kehilangan persekutuan, saat itulah kita tidak ada perasaan permintaan Tuhan atas diri kita. Dikatakan dari pihak Tuhan, pada langit baru dan bumi baru, barulah Tuhan tidak lagi ada permintaan kepada diri kita. Hari ini adalah hari Tuhan mau memakai manusia, adalah hari Tuhan memerlukan manusia bekerja bagiNya.Karena itu, hari ini Tuhan pasti ada permintaan di atas diri kita. Dan setiap permintaan Tuhan di dalam kita mula-mula adalah lembut, makin lama makin besar, makin lama makin dalam, makin lama makin hebat. Jika kita menekan perasaan permintaan Tuhan, itu adalah perkara yang merugikan. Kita akan kehilangan persekutuan, bahkan lama kelamaan jalan Tuhan di atas diri kita tidak akan tembus, sehingga Dia terpaksa berpaling kepada orang lain. Jika kita menjawab permintaan Tuhan, belajar taat, rela mengeluarkan harga, maka perasaan ini makin lama akan makin peka, makin tajam. Kita perlu belajar sedemikian rupa, sehingga bahkan hampir setiap hari kita bisa merasakan, bahwa Tuhan ada permintaan terhadap diri kita.

Jika kita tidak mau menjawab permintaan Tuhan, tidak mau mengeluarkan harga, akan ada dua akibat: pertama, kita akan dengan muka muram dan sedih pergi meninggalkan Tuhan. Kedua, di atas diri kita Tuhan tidak bisa menyatakan fungsiNya. Karena itu saudara saudari, lebih baik kita taat walaupun salah daripada tidak mau taat. Lebih baik taat secara berlebihan daripada terlambat untuk taat. Di pihak lain, jika kita menjawab panggilan Tuhan, juga akan ada dua hasil: pertama, kita akan penuh sukacita; kedua, kita akan berguna.

Kita harus tampak dasar untuk dipakai Tuhan adalah menjawab permintaan Tuhan. Orang yang demikian, meskipun dia tidak mengerti banyak tentang doktrin, dia masih bisa dipakai oleh Tuhan. Meskipun tidak banyak berdoa, juga masih bisa dipakai oleh Tuhan. Karena kekuatan yang didapat akibat mengeluarkan harga menjawab panggilan Tuhan, jauh melampaui kekuatan yang didapat karena banyak berdoa. Bahkan kekuatan yang didapat karena mengeluarkan harga menjawab panggilan, sering jauh melampaui kekuatan pencurahan Roh Kudus. Hari ini banyak orang menitikberatkan pencurahan Roh Kudus, tetapi mereka tidak tampak berapa besar harga yang dikeluarkan oleh orang-orang yang mendapatkan pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta itu. Mereka adalah orang-orang yang meninggalkan segalanya, datang ke sebuah rumah di Yerusalem. Hari ini banyak orang ingin mendapatkan pencutahan Roh Kudus, tetapi mereka tidak mau belajar pelajaran membayar harga. Sebab itu, walaupun banyak pekerjaan telah mereka lakukan, tetapi pekerjaan itu tetap tidak tahan lama. Jika pekerjaannya mau tahan lama, orang yang bekerja harus belajar pelajaran ini. Berapa banyak dari pekerjaan seseorang bisa bertahan, itu tergantung pada berapa banyak pelajaran yang telah ia pelajari. Kekuatan pekerjaan tergantung pada belajar pelajaran. Mau belajar, harus mengeluarkan harga. Fungsi seseorang di hadapan Tuhan tergantung pada harga yang ia keluarkan di hadapan Tuhan. Setiap orang mendambakan di hadapan Tuhan bisa berguna seperti Paulus atau Petrus, tetapi mereka melalaikan betapa banyak harga yang telah Paulus atau Petrus keluarkan. Jika hari ini di hadapan Tuhan kita tidak begitu berguna, satu-satunya atasan ialah karena kita tidak mau mengeluarkan harga, tidak rela menjawab permintaan Tuhan, tidak rela meninggalkan segala yang ada pada diri kita; nama, pendidikan, kedudukan, masa depan dan seumur hidup kita. ltulah sebabnya kita tidak begitu mendapatkan penyertaan Tuhan, juga sulit sekali berjumpa dengan Tuhan dalam persekutuan. Dengan sendirinya, hal ini membuat fungsi kita tidak banyak di hadapan Tuhan.

Pengeluaran Harga dalam Surat Filipi

Pengeluaran harga dalam surat Filipi pasal 3 berbeda dengan pengeluaran harga dalam kitab Injil. Pengeluaran harga dalam kitab Injil adalah meninggalkan apa yang ada pada diri kita, tetapi harga dalam Filipi pasal 3 ditujukan kepada segala sesuatu yang membuat kita bisa melayani Tuhan. Misalnya, "segala sesuatu" dalam Filipi pasal 3 itu mengacu kepada "kemampuan" kita melayani Tuhan. Kita bisa melayani, bisa berkhotbah, bisa bersaksi, bisa menjenguk, memiliki talenta, memiliki peta lidah, memiliki pengalaman; hal-hal itulah yang merupakan barang yang harus dikesampingkan dalam Filipi pasal 3. Yang dituntut dalam Filipi pasal 3 adalah mengalami Kristus, mendapatkan Kristus. Paulus membuang segala sesuatu adalah demi mendapatkan Kristus. Dengan kata lain, ia membuang segala sesuatu. yang membuat dia bisa melayani Allah, kemampuan itulah yang harus dibuang, agar dia bisa mendapatkan Kristus sebagai "kemampuannya". Kekuatan kita, peta lidah kita, teori dan berita kita, harus dikesampingkan, dan kita harus membiarkan Kristus menjadi kekuatan kita, menjadi peta lidah kita, menjadi berita kita. Hanya demikian mengeluarkan harga, baru bisa mendapatkan Kristus.

Misalnya, orang yang sering menjenguk, lambat Latin terhadap perkara menjenguk akan paham, akan memiliki pengalaman. Tetapi jika pengalaman menjenguk ini tidak dikesampingkan karena Kristus, maka penjengukan selanjutnya tidak membuat dia mengalami Kristus. Karena dia tetap mempertahankan "kemampuan" itu, maka Kristus tidak berdaya masuk. Ketika dia membuang pengalamannya itu, kemudian kembali menjenguk, dia tidak akan bersandarkan "kemampuan"nya. Dahulu, kemampuan "menjenguk" itu dia anggap sebagai hal yang menguntungkan, tetapi sekarang karena Kristus, dia menganggap hal itu sebagai hal yang merugikan. Meskipun aku "bisa", tetapi "bisa" itu telah kubuang seperti sampah. Demikianlah aku menggantinya dengan Kristus, demikianlah aku mengalami Kristus.

Pengeluaran harga dalam Filipi pasal 3 bukanlah pengeluaran harga bagi orang Kristen yang baru percaya atau orang Kristen pemula. P+engeluaran harga bagi orang Kristen pemula dibahas dalam kitab Injil. Harga dalam Filipi adalah harga setelah kitab Injil. Orang yang belum pernah mengeluarkan harga dalam kitab Injil, tidak bisa mengeluarkan harga dalam surat Filipi. Harga dalam kitab Injil tidak melihat syarat, karena itu permulaan. Harga dalam Filipi pasal 3 ada syaratnya. Orang yang telah mengeluarkan harga dalam kitab Injil, baru bisa melayani dalam Kisah Para Rasul. Orang yang telah melayani dalam kitab Kisah Para Rasul, baru memiliki pengalaman, dan baru bersyarat untuk mengeluarkan harga dalam kitab Filipi. Orang yang telah mengeluarkan harga dalam kitab Injil, memiliki pengalaman pelayanan, tetapi kalau dia tetap mempertahankan semua pengalaman itu, tidak rela membuangnya, akibamya dia tidak akan memiliki pengalaman yang segar, tidak bisa mendapatkan pengalaman yang lebih banyak tentang kristus. Itulah sebabnya Paulus berkata, harus melupakan apa yang di belakang, dan berlari-lari ke depan. Bagaimanapun baiknya pengalaman yang lalu, semua itu adalah barang yang telah di belakang, harus dilupakan. Katakanlah, dahulu Anda pernah berkhotbah sehingga 3.000 orang beroleh selamat, itu harus dibuang seperti sampah, barulah bisa memperhidupkan Kristus. Jika pengalaman yang lalu tidak dibuang, Anda tidak akan bisa mengalami Kristus, tidak akan memiliki pengalaman yang segar. Dalam pelayanan, Anda tidak akan memiliki fungsi yang baru. Ada orang yang fungsinya telah usang di hadapan Allah, tidak lincah, itu dikarenakan dia tidak mau mengeluarkan harga seperti yang dikatakan dalam Filipi pasal 3.

Pengeluaran harga dalam Filipi pasal 3 itu seperti Abraham mempersembahkan Ishak di atas mezbah. Semula ishak berasal dari janji Allah, didapatkan dari Allah, tetapi itu masih harus dipersembahkan. Demikian juga, semua pelajaran yang dulu kita pelajari dari Tuhan juga harus dipersembahkan, inilah permintaan dalam Filipi pasal 3; permintaan yang lebih tinggi. Harga dalam kitab Injil adalah harga yang dikeluarkan orang yang baru mengikuti Tuhan. Setelah sampai surat Efesus, orang ini telah memiliki pengalaman pelayanan, juga telah mengenal Tuhan, telah rohani, telah mendapatkan sesuatu, telah mengalami sesuatu. Saat inilah Filipi pasal 3 memintanya membuang hal-hal yang telah ia dapatkan itu. Walaupun semua yang telah ia dapatkan itu baik, namun itu adalah Ishak, adalah barang-barang yang telah di belakang, karena itu harus dilupakan, harus dipandang sebagai harga yang harus dikeluarkan, baru bisa memiliki pengalaman yang segar. Kita harus demikian, baru di dalam pelayanan kita bisa mempunyai fungsi yang baru, fungsi yang hidup.

Pengeluaran Harga dalam Kitab Wahyu

Masih ada satu bagian dalam Alkitab yang menyinggung tentang mengeluarkan harga, yaitu Wahyu 3:18. Di sini disinggung tiga kata "membeli": harus membeli emas yang dimurnikan dalam api, membeli pakaian putih, membeli minyak pelumas mata. "Membeli" ini adalah masalah mengeluarkan harga, ini adalah perintah Tuhan bagi orang Kristen untuk mengeluarkannya.

Emas di sini ditujukan kepada sifat Allah, kadar Allah. Kadar Allah dalam gereja di Laodikia sedikit. Dengan kata lain, di tengah-tengah mereka terlalu banyak barang di luar Allah, kadar Allah sendiri sangat sedikit, karena itu Tuhan menyuruh mereka membeli emas. Pakaian putih di sini, mengacu kepada murni, tidak ada campuran. Pakaian mengacu kepada kehidupan manusia. Karena itu pakaian putih berarti hidup manusia yang mengekspresikan kemurnian diri Allah sendiri. Perkara ketiga adalah minyak pelumas mata untuk melumasi mata. Karena matanya ada penyakit, tidak bisa tampak terang, karena itu harus membeli obat untuk menyembuhkannya agar matanya menjadi terang. Dalam keadaan yang normal, hakiki di dalam orang Kristen harus murni, kehidupan luamya harus bersih, dan juga terang. Semuanya itu perlu kita beli, perlu kita mengeluarkan harga.