Daftar isi Dua Belas Bakul (9) · bab 8/12

Empat Hal yang Harus Diperhatikan Oleh Orang Kristen

"Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."

Matius 9:38

"Yesus menjawab mereka: Percayalah kepada Allah!"

Markus 11:22

"Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat."

II Korintus 5:7

"Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. Aku berutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar."

Roma 1:1,14

"Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dan Tuhan. la tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia. Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu dun di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri."

II Korintus 12:1, 4, 7

"Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku."

Galatia 2:19b-20

"Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami."

II Korintus 4:10

"Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! Maka berkatalah Yesus kepada mereka: Karena itu setiap ahli Taurat yang menenma pelajaran dan hal Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya."

Matius 13:9, 52

"Efraim telah menjadi roti bundar yang tidak dibalik."

Hosea 7:8

"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna."

Matius 5:48

Dalam berita ini, kita mohon Allah membantu kita, agar kita bisa tampak jalan yang ditentukan oleh Allah; kita bisa tampak jalan ini adalah jalan yang bagaimana. Ayat Alkitab yang kita baca di atas cukup banyak, mungkin ada saudara saudari yang bertanya, mengapa demikian? Ya, ayat yang kita baca memang banyak dan dari berbagai tempat, semuanya adalah fakta. Terlebih dulu marilah kita perhatikan Hosea 7:8 yang mengatakan, "Efraim telah menjadi roti bundar yang tidak dibalik." Saudara saudari, dalam pandangan Allah, apapun yang kita kerjakan, selalu beraspek dua. Seekor burung memiliki satu pasang sayap agar bisa terbang ke angkasa. Sehelai rumput juga memiliki dua muka, baru ternyata sempurna. Pintu juga memiliki dua tiang. Segala sesuatu dalam alam semesta ini selalu seimbang. Demikian juga dengan perkara rohani, ia harus seimbang sebagaimana ada keseimbangan dalam perkara alamiah.

Hosea 7:8 mengatakan, "Efraim telah menjadi roti bundar yang tidak dibalik." Apa yang dimaksud dengan roti yang tidak dibalik? Meskipun di antara kita, tidak semuanya pernah membuat roti, tapi tentunya setiap orang di antara kita pernah memakan roti. Kalaupun kita tidak tahu bagaimana roti itu dibuat (dipanggang atau dioven), tapi setidaknya kita pernah melihat orang menggoreng tahu atau memasak sayur. Baik itu menggoreng tahu atau memasak sayur, kalau hanya menggoreng satu muka, hanya memasak satu muka, tidak dibalik-balik, tentu hasilnya adalah terlalu matang .sebelah dan masih mentah sebelah. Satu sisi menerima panas api terlalu banyak, sisi lain sedikit sekali menerima panas api. Baik menggoreng tahu atau memasak sayur, perlu setiap bagiannya mendapatkan panas api yang sama. Kalau hanya di pihak sini yang terus dipanggang, terus dipanasi, tentu hasilnya adalah bagian sini telah menjadi gosong, namun bagian lainnya masih mentah. Makanan yang gosong, tentu tidak bisa dipandang sebagai makanan, tidak bisa dihidangkan untuk dimakan orang. Dalam berita ini, saya tidak bermaksud membahas bagaimana Efraim bercampur dengan bangsa kafir sehingga menjadi roti bundar yang tidak dibalik. Yang saya inginkan ialah agar Anda memperhatikan kata-kata "Roti yang tidak dibalik." Ini merupakan satu prinsip dalam penempuhan hidup kita, yang Allah berikan kepada kita. Orang yang terlalu menitikberatkan sesuatu, itu sama dengan roti yang tidak dibalik. Hanya membiarkan satu muka yang dibakar api, memang bisa membuat bagian muka itu yang matang; tetapi jika tidak membalik sehingga rata terbakar, barang itu tidak berarti matang, malah menjadi tidak ada gunanya. Hal yang paling penting dalam penghidupan kita sebagai orang Kristen ialah seimbang dalam kedua aspek. Saya akan mengambil beberapa contoh untuk memperlihatkan kepada Anda, dalam penghidupan orang Kristen, jika kita terlalu menekankan suatu perkara, itu sama dengan roti yang tidak dibalik.

Ada banyak hal dalam penghidupan orang Kristen yang merupakan roti yang tidak dibalik. Ada orang terlalu memperhatikan kerohanian pribadi (individual), dan mengabaikan kerohanian bersama (korporat), orang yang demikian sama dengan roti yang tidak dibalik. Ada orang yang terlalu memperhatikan keadilan, tanpa kasih karunia sedikitpun, orang yang demikian sama dengan roti yang tidak dibalik. Bersikap adil, itu benar, tetapi melulu memperhatikan segi keadilan dan melupakan aspek kasih karunia, ini sama dengan roti yang tidak dibalik. Ada orang khusus menjadi orang yang baik, sangat baik memperlakukan orang, tapi sedikitpun tidak memiliki prinsip keadilan, sama sekali tidak mau mendidik/mendisiplinkan orang, ini berarti terlalu menitikberatkan kasih karunia, sama sekali tidak memperhatikan aspek keadilan, orang ini juga sama dengan roti yang tidak dibalik. Ada lagi orang yang sangat memperhatikan kebenaran yang objektif, namun mengabaikan pekerjaan Roh Kudus di dalam manusia, orang ini juga sama dengan roti yang tidak dibalik., Ada juga orang yang terlalu menekankan kebenaran yang subjektif, tidak begitu memperhatikan karya yang telah Kristus rampungkan di kayu salib, orang demikian juga sama dengan roti yang tidak dibalik. Hal-hal yang merupakan roti yang tidak dibalik ini sangatlah banyak, tetapi berhubung terbatasnya waktu, saya hanya mengambil beberapa contoh di atas.

Tidak ada satu kebenaranpun yang boleh kita perhatikan secara berlebihan, harus seimbang, harus memperhatikan setiap aspeknya. Ada dua hal dalam Alkitab yang harus kita ketahui: Pertama adalah fakta, kedua adalah prinsip. Fakta yang terbentang di sini, perlu kita percayai; prinsip yang terdapat di sini, perlu kita taati. Banyak orang hanya memperhatikan fakta, namun mengabaikan prinsip, orang demikian sama dengan roti yang tidak dibalik, yang hanya membakar satu muka. Banyak orang yang hanya menekankan prinsip, selalu membicarakan ketaatan, tidak menekankan fakta yang telah dirampungkan oleh Kristus, orang demikian juga sama dengan roti yang tidak dibalik, yang hanya membakar satu muka. Semua penekanan yang berat sebelah ini, akan membuat penghidupan orang Kristen menjadi menyimpang, tidak bisa mencapai satu tahap yang sempurna.

Di sini, saya minta kita semua memperhatikan: kita harus menjadi orang Kristen yang "beraspek empat," jangan menjadi roti yang tidak dibalik. Saya tidak dapat mengutarakan semua keadaan yang merupakan roti yang tidak dibalik, saya hanya menyinggung beberapa. Sekarang, yang akan saya bahas adalah bagaimana kita baru bisa menjadi orang Kristen yang beraspek empat. Di samping kita melihat bagaimana firman/perintah Tuhan, di samping itu kita melihat bagaimana teladan yang diberikan oleh Paulus. Keempat kitab Injil memperlihatkan kepada kita perintah Tuhan, surat rasuli Paulus menampakkan pengalaman Paulus kepada kita.

Perintah Tuhan

Pertama, kita harus tahu permintaan Tuhan Yesus terhadap murid-muridNya. Tuhan berkata, "Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!" (Matius 13:9). Tuhan juga berkata, "Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelayanan dari hal Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya" (ayat 52). Ayat-ayat ini menyinggung tentang pengetahuan. Seorang Kristen, yang bukan merupakan roti yang tidak dibalik, pasti memiliki kemajuan di aspek pengetahuan.

Kedua, harus memiliki iman. Karena Tuhan Yesus berkata, "Percayalah kepada Allah"

Ketiga, Tuhan berkata, "Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian” (Matius 9:38). Ini berarti bergairah (membara). Dalam pekerjaan Injil harus bergairah.

Keempat, Tuhan berkata, "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di soma adalah sempurna." Ini mengacu kepada aspek kehidupan (hayat); khususnya mengacu kepada aspek kasih. Dalam aspek lain, kita tidak bisa seperti Bapa, tapi dalam aspek kasih, kita harus menuntut seperti Bapa yang adalah sempurna. Pernah sekali, Tuhan melewati Samaria, dan orang-orang di sana tidak mau menerimaNya. Melihat hal ini, Yakub dan Yohanes, segera berkata kepada Tuhan, "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?" Yesus berpaling dan menegur mereka, "Kalian tidak tahu, bagaimana hati kalian?" (Lukas 9:54-55 TI). Oh, kita perlu tahu, hati yang bagaimana yang kita miliki.

Saya tidak dengan sembarangan membagi secara demikian. Jika kita dengan teliti membaca keempat kitab Injil, dapat disimpulkan, perintah Tuhan tercakup dalam keempat kategori ini. Kalau Tuhan tidak menyuruh kita memperhatikan iman, Dia akan menyuruh kita memperhatikan kegairahan; kalau tidak menyuruh kita memperhatikan pengetahuan, tentu menyuruh kita memperhatikan kehidupan(hayat). Yang diperhatikan, pasti salah satu dari keempat aspek ini.

Teladan Paulus

Demikian juga Paulus. Sebab itu dia bisa berkata, "Kalian harus meneladani aku, sama seperti aku juga meneladani Kristus" (1 Korintus 11:1; terjemahan langsung).

Mengenai pengetahuan, bahkan Allah sendiri khawatir kalau pengetahuan Paulus terlalu tinggi, sebab itu Allah membiarkan utusan Iblis menyerang dia, menekan dia, agar dia tidak menjadi sombong. Paulus pernah naik ke taman Firdaus, pernah mendengarkan kata-kata yang tidak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia. Seolah-olah Allah telah memberi terlalu banyak kepadanya. Di dalam Paulus, masih banyak perkataan yang belum diutarakan. Mungkin banyak pertanyaan yang pada hari ini ingin kita ajukan; meskipun dia tahu, namun dia tidak mau mengatakan. Dia mengetahui dan memahami banyak rahasia. Dia berkata, bahwa dirinya mendapatkan "Penyataan-penyataan yang luar biasa" (II Korintus 12:7). Dia juga berkata, "Di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu" (ayat 11).

Mengenai iman, dia berkata, "Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat" (IIKorintus 5:7). Dia berkata, bahwa dia pernah berjuang melawan binatang buas di Efesus (I Korintus 15:32), bahkan telah putus asa juga akan hidupnya (II Korintus 1:8), tetapi bersandar Allah yang membangkitkan orang-orang mati (I Korintus 1:9), ia mendapatkan kebaikan. Dia bisa melakukan mujizat-mujizat, dia memiliki karunia penyembuhan, dia menjadi nabi, dia tidak takut gigitan ular beracun. Di atas kapal dia mengalami badai besar, harapan untuk hidup seolah-olah telah tiada, berhari-hari tidak makan apa-apa, dalam pandangan manusia sudah tidak berdaya lagi, tetapi dia masih bisa dengan penuh ketenangan menasihati orang-orang untuk tenang. Mengapa dia bisa demikian? Ini dikarenakan "Semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan kepadaku" (Kisah Para Rasul 27:25). Inilah penghidupan imannya.

Dia tidak hanya memiliki pengetahuan, tidak hanya memiliki iman, kehidupannya (hayatya) juga sangat baik. Dia bisa berkata, "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah" (Galatia 2:19b-20). Dia sungguh-sungguh bisa berkata, "Bagiku hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan" (Filipi 1:21). Dia sungguh-sungguh bisa berkata, "Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami" (II Korintus 4:10).

Selain itu, dalam hal memberitakan Injil, dia sangat bergairah; bergairah sedemikian rupa sehingga tidak bisa lebih gairah lagi. Dia benar-benar bergairah dan membara. Dari Yerusalem, dia terus membelok ke Ilirikum, di mana-mana memberitakan Injil Kristus. Dia berkata, "aku tidak lagi mempunyai tempat kerja di daerah ini" (Roma 15:19, 23). Saudara saudari, adakah di antara kalian yang memberitakan Injil di suatu tempat sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi tempat untuk memberitakan Injil? Paulus bisa berkata demikian; seolah-olah sampai setiap mukapun telah ia kenal. Ketika berjalan ia memberitakan Injil, ketika di atas kapal di laut, juga memberitakan Injil. Di dalam penjara dia memberitakan Injil, bahkan ketika dibelenggu di Roma, di tengah-tengah para perwira dan prajurit, dia tetap bersaksi; dan ternyata, para prajurit yang menjaganya akhirnya menerima Injil. Tadinya, para prajurit itu diutus untuk menjaga Paulus, sekarang malah dijaga oleh Kristus yang diberitakan oleh Paulus, malah menjadi tawanan Kristus.

Maksud saya, tidak hanya membicarakan perintah Tuhan, tidak hanya membicarakan teladan Paulus, melainkan ingin supaya kita masing-masing memperhatikan satu hal, yaitu setiap orang Kristen yang hidup di bumi haruslah menjadi orang Kristen yang beraspek empat. Setiap orang Kristen harus memperhatikan keempat aspek ini, tidak hanya ada gairah, juga ada iman; tidak hanya memiliki kemajuan pengetahuan, juga memiliki kemajuan dalam kehidupan. Jika kekurangan satu di antaranya, itu tidak seimbang. Semoga sejak hari ini, ketika kita membaca kitab Perjanjian Baru, kita bisa mengambil pengalaman Paulus untuk ditelaah, benarkah ia memiliki ciri-ciri khusus: ada gairah, ada iman, ada pengetahuan dan ada kehidupan. Hal ini kita bahas secara garis besar saja, karena itu kita katakan ada empat aspek ini. Berdasarkan perintah Tuhan, kita tidak hanya harus lebih bergairah, juga harus lebih beriman; tidak hanya pengetahuan harus bertambah, dalam kehidupan pun harus lebih maju.

Hari ini saya ingin menyinggung sedikit lebih jauh tentang iman kita. Ada satu perkara yang sangat menyedihkan, yaitu gereja telah menjadi gersang, telah kehilangan mata yang memandang Tuhan. Kita mempunyai satu Tuhan yang sempurna, tetapi orang Kristen banyak macamnya. Saya tidak mengatakan perbedaan orang Kristen dalam perbuatan dosa mereka, seperti misalnya marah-marah, sombong dan sebagainya. Perbedaan tersebut dapat diciptakan oleh Iblis sampai puluhan bahkan ratusan macam. Perbedaan yang saya sebut adalah pada aspek yang baik. Saudara saudari, ketika Anda berkontak dengan orang, tidakkah Anda bisa merasakan betapa banyaknya perbedaan dalam segi yang baik di antara orang Kristen?

Contoh Yang Menyimpang Pada Satu Sisi

Saya pernah bertemu dengan seorang misionaris Barat yang memberitakan Injil di Kweichow. Ia sangat bergairah bagi Tuhan di Cina. Meskipun ia lulusan perguruan tinggi, juga sangat berbakat, tetapi ia rela mengesampingkan segalanya, dan pergi ke pedalaman Cina untuk memberitakan Injil. Selama Pemberontakan Kaum Pesilat (Boxer Rebellion), ia juga menginjil di Cina. Saya melihat dia sungguh memiliki kebaikan, dia sungguh mahir memberitakan Injil. Tetapi aspek kebaikannya hanya condong kepada kegairahan saja, selain itu, dia sangat kurang.

Di Shanghai saya bertemu dengan seorang misionaris Barat, dia sangat hafal Alkitab, satu ayat demi satu ayat bisa dihafalnya, penelaahan Alkitabnya juga mengandung banyak terang. Pengetahuannya sangat baik. Tetapi dalam hal percaya kepada Allah, ternyata tidak mampu; begitu menderita sakit, ia segera tidak berdaya; masuk angin sedikit saja, sudah pergi ke dokter. Dalam segi pengetahuan, ia bisa menguraikan hal iman. Tetapi di hadapan Allah, ia tidak memiliki keyakinan terhadap apa yang disebut iman itu. Selain itu, dalam aspek kehidupan, iapun tidak menjangkau pengetahuannya.

Saya juga mengenal seorang misionaris Barat lainnya (saudari), ia sungguh mirip dengan domba, sangat lembut. Jika Anda berdoa bersamanya, Anda pasti akan terbawa olehnya. la tidak pernah marah. Di mana ia berada, di sanalah penyertaan Allah terasa. Dalam aspek kehidupan, ia sungguh maju. Menyinggung tentang pengetahuan, ia tidak seberapa. Menyinggung tentang iman, ia baik, tetapi iman tidak menjadi keistimewaannya. Menyinggung tentang bergairah, ia juga bergairah, namun gairahnya tidak sekuat pertumbuhannya dalam hal kehidupan (hayat).

Masih ada satu orang misionaris Barat, imannya sangat besar. Meskipun di kantongnya tidak ada uang sepeserpun, ia masih bisa percaya. Setiap kali saya bersamanya, dia selalu bisa berkata, "Ini (menunjuk ke kantongnya) adalah uang terakhir yang ada pada diriku". Meskipun ia tinggal di desa, selama puluhan tahun, tidak pernah timbul persoalan dengan masalah keperluannya (keuangannya). Ketika dia berbicara tentang kemenangan Kristus, benar-benar terasa kemenangan Kristus. Tetapi dalam aspek lainnya, tidak sebanding dengan aspek imannya.

Jika demikian, dapatkah orang Kristen terbagi menjadi empat golongan ini? Yakni pertama, golongan gairah; kedua, golongan iman; ketiga, golongan pengetahuan; dan keempat, golongan kehidupan (hayat). -- Kiranya Tuhan membuat kita tidak bermotivasi untuk mengritik orang, melainkan ingin mendapatkan faedah dari perkara ini --Saya tidak bermaksud membagi-bagi orang ke dalam empat golongan, melainkan secara alamiah muncul empat golongan tersebut. Semua ini bukan dosa, melainkan perkara yang baik. Pada saat seseorang paling maju dalam suatu aspek, dan Anda berkontak dengannya, segera Anda merasakan bagiannya yang baik tersebut. Mungkin Anda golongan gairah, dia golongan iman; atau Anda golongan pengetahuan, dia golongan kehidupan. Asal ada kemajuan pada salah satu aspek, maka kemajuan itu adalah kemajuan yang menyimpang. Saya terus maju dalam aspek ini, dia terus maju dalam aspek itu; sedikit sekali orang Kristen yang maju dalam keempat aspek secara bersama-sama.

Saya akui, pada aspek tertentu, golongan kaum Methodis memiliki kebaikan mereka. Mereka menekankan hal kehidupan. Seperti orang-orang dari Golongan Wesley, kemajuan kehidupannya, keindahan kehidupannya, pengenalan mereka terhadap Allah, semua itu sungguh baik. Tetapi Anda tidak akan menemukan orang yang memiliki pengetahuan Alkitab yang tinggi di antara mereka; dalam segi pengetahuan Alkitab, mereka sangat kurang. Iman mereka masih boleh dibilang baik, kegairahannya juga lumayan. Tetapi dalam hal pengetahuan, tidak bisa terhindar adanya lubang.

Ada lagi aliran Persaudaraan, yang dari antaranya Anda bisa menemukan satu perkara yang cukup mengherankan. Kebaikan mereka bukan pada iman mereka (saya tidak mengatakan, bahwa mereka tidak beriman), juga bukan pada kehidupan mereka (saya tidak mengatakan, bahwa kehidupan mereka tidak baik), lebih-lebih bukan kegairahan mereka (karena terhadap pemberitaan Injil, mereka seakanalean agak dingin). Tetapi menyinggung tentang pengetahuan, menyinggung tentang Alkitab, wahyu dan terang yang mereka dapatkan dari Allah, sungguh sangat baik. Dalam aspek pengetahuan, mereka sangat mahir.

Hudson Taylor, pendiri Misi Pedalaman Cina, adalah seorang yang sangat beriman. Ketika ia hendak mendirikan misi ini, di tangannya hanya ada beberapa poundsterling. Dia mendepositokan uang itu di sebuah bank atas nama Misi Pedalaman Cina. Inilah keadaan permulaan dari Misi Pedalaman Cina. Kini, hampir setiap menit mereka menerima persembahan uang. Semula hanya ada beberapa orang yang mau bergabung dengan misi itu untuk memberitakan Injil; saat uang di tangannya masih belum bisa mencukupi kebutuhan beberapa orang penginjil, ia malah memohon Allah mengutus orang untuk datang ke Cina. Dia mohon Allah mengutus beberapa orang, mohon lagi kepada Allah untuk mengutus puluhan orang, mohon lagi supaya Allah mengutus ratusan orang. Dalam aspek iman dan kegairahan, ia sangat maju, dalam aspek kehidupan juga sangat baik. Tetapi dalam aspek pengetahuan, ia tidak sehebat yang telah dicapai iman.

George Muller juga sangat maju dalam aspek iman dan aspek kehidupan, tetapi dia tidak memiliki keistimewaan dalam hal terang kebenaran. Dalam aspek kehidupan ia sangat baik, demikian juga dalam aspek kegairahan, namun keistimewaannya adalah dalam hal iman.

Menyinggung tentang gairah, ini dapat kita temukan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Seperti halnya Robert Morrison, orang pertama yang datang ke Cina. Ia sangat bergairah, namun dalam aspek-aspek lainnya, tidak sepadan dengan kegairahannya.

Hal-hal ini saya bentangkan di hadapan Anda, tujuannya ialah agar kita memperhatikan, bahwa kita tidak seharusnya hanya memperhatikan satu aspek saja, karena hal itu bukan yang dikehendaki Allah. Orang ini maju dalam aspek pengetahuan, aku mendapatkan bantuan darinya; tapi mungkin dalam kegairahan ia tidak begitu baik, jika demikian, janganlah kita lalu mengira tidaklah mengapa kalau kita tidak bergairah bagi Tuhan. Di antara umat Kristen hari ini, terdapat satu keadaan yang sangat tidak baik, yaitu ada orang yang sama sekali menolak pengetahuan, ada orang yang sedikitpun tidak memperhatikan masalah kehidupan (hayat). Orang yang menekankan kehidupan namun mengabaikan pengetahuan, menganggap tidaklah mengapa kalau tidak tahu segalanya. Orang yang menekankan pengetahuan namun mengabaikan kehidupan, baru selesai mengajar/berkhotbah, lalu bisa marah-marah; selesai marah-marah, ketika merah mukanya masih belum pudar, ia sudah bisa duduk untuk mengajar lagi. Saudara saudari, kita tidak seharusnya hanya memperhatikan kekurangan orang lain, juga tidak seharusnya hanya memperhatikan kelebihan orang lain. Mungkin seseorang itu kurang dalam kehidupan, namun baik dalam pengetahuan; atau ia kurang bergairah, namun tidak lemah dalam iman; mungkin ia baik dalam kehidupan, namun tidak memberitakan Injil. Ada orang yang lebih dalam iman, baiklah Anda meneladani dia dalam hal iman; ada orang lebih dalam pengetahuan, baiklah Anda meneladani dia dalam hal pengetahuan; ada orang lebih dalam kehidupan, baiklah Anda mengikutinya dalam kehidupan; ada orang lebih dalam hal kegairahan, baiklah Anda mengikutinya dalam kegairahan. Kalau Anda mau menjadi orang Kristen yang beraspek empat, Anda harus memiliki penuntutan dalam keempat hal tersebut.

Iman membuat kita bisa mendapatkan kekuatan Allah. Pengetahuan membuat kita memahami keadaan Allah. Kehidupan membuat kita menampilkan kasih Allah, terang Allah. Kegairahan membuat kita membawa Allah ke tengah-tengah manusia, agar manusia bisa mendapatkan karunia keselamatan Allah. Jika ada kesempatan, kita harus membagi-bagikan selebaran/traktat Injil. Terhadap teman sejawat kita, keluarga, anak-anak, kita harus bersaksi. Jika dalam keempat aspek ini kita hanya menekankan salah satunya, kita sama dengan roti yang tidak dibalik.

Di samping itu, Anda juga harus menjadi pendoa yang mendapatkan jawaban Allah. Seorang saleh memberitahu saya, bahwa berdoa adalah pekerjaan anak kecil, orang dewasa tidak perlu berdoa. Ini adalah lelucon. la berkata, bahwa seseorang bisa mengalami kemajuan dari berdoa mendapatkan jawaban Allah, sampai berdoa tidak perlu jawaban Allah; dari Allah mendengarkan doa, sampai Allah tidak mendengarkan doa; inilah yang disebut kemajuan dari orang tua ke anak! la malah mengira, bahwa ia telah maju karena bisa mengatakan perkataan demikian. Orang yang berkata ini, pengetahuannya lumayan, tetapi imannya sangat kurang. Orang Kristen yang doanya tidak pernah diriengar oleh Allah, adalah orang yang tidak memiliki pengalaman. Setiap orang Kristen harus memiliki pengalaman mendapatkan jawaban doa. Bagaimanapun iman tidak boleh kurang. Dalam gereja, orang-orang yang berpengetahuan tidak sedikit, yang bergairah tidak sedikit, yang berbobot dalam kehidupan juga tidak kurang, tetapi paling sedikit yang beriman. Yang maju dalam aspek-aspek lainnya cukup banyak, tetapi sedikit sekali yang bertumbuh dalam iman.

Di samping itu, pengetahuan juga cukup penting, juga memiliki kedudukannya sendiri. Jika seorang Kristen tidak mengerti pokok-pokok penting dalam Alkitab, tidak mengerti prinsip Allah bekerja, tidak mengerti garis besar Alkitab, maka dia sulit menerima berbagai macam doktrin. Misalnya, baptisan. Mungkin ada orang memberitahu Anda, ketika dibaptis jangan mendongakkan kepala, karena ketika Tuhan disalibkan, la menundukkan kepalaNya; bisa jadi Anda mengira perkataan orang tadi cukup beralasan. Jika Anda memiliki pengetahuan Alkitab, Anda akan tahu, memang Tuhan menundukkan kepalaNya ketika disalib, tetapi Tuhan tidak menundukkan kepalaNya ketika dikubur. Kalau hanya mengutip satu ayat Alkitab sudah cukup, dan tidak mengetahui fungsi ayat tersebut, maka ketika ia makan, bukankah ia juga harus menundukkan kepalanya? Banyak orang Kristen, yang sudah mendengarkan khotbah satu tahun, dua tahun, atau lima tahun, ketika orang bertanya kepada mereka, apakah perbedaan antara "dibenarkan" dan "beroleh selamat"? Mereka akan menjawab, bahwa kedua hal tersebut sama saja. Mereka tidak tahu, apakah sebenarnya dibenarkan dan beroleh selamat itu. Bahkan menurut mereka, pengampunan juga sama dengan beroleh selamat; semuanya sama saja. Hanya ada iman, tetapi tidak memperhatikan yang lain, itu sama dengan memanggang sebelah, sama dengan roti yang tidak dibalik. Tanpa pengetahuan, tidak akan tahu bagaimana menempuh jalan di depan, juga tidak bisa membimbing orang berjalan, karena ia sendiri adalah orang yang buta.

Selain itu, hal kehidupan juga perlu kita perhatikan. Kita harus mencari dan menuntut Allah, kita harus menang atas segala dosa. Mohon Allah membuat kita mengetahui dosa-dosa kita sendiri, mohon Allah menaruh dosa-dosa yang tidak bisa kita kalahkan di bawah kaki kita. Ada berapa banyak orang yang bisa berkata, "Karena Kristus ada di dalamku, maka aku telah mengalahkan setiap macam dosa yang kuketahui?" Seorang Kristen tidak bisa maju, itu dikarenakan dia belum mengalahkan dosanya. Kita harus setiap hari menolak ego kita, menanggulangi diri sendiri; setiap hari tidak hanya membereskan dosa, juga taat kepada Allah. Setiap hari kita harus membiarkan Roh Kudus di dalam kita mengalirkan kehidupan.

Hari ini, keempat hal ini saya bentangkan di hadapan Anda. Kalau kita mau menjadi seorang Kristen yang sempurna, kita harus memiliki penuntutan dalam keempat aspek tersebut; tidak hanya menuntut salah satu. Kita harus memiliki pertumbuhan yang seimbang dalam keempat aspek ini, jangan menjadi roti yang tidak dibalik. Kita tidak hanya harus menuntut kasih, juga menuntut pengetahuan, pula menuntut iman dan kegairahan, sehingga diperkenan Allah. Semoga Allah memberkati kita.