Daftar isi Dua Belas Bakul (9) · bab 7/12

Dua Prinsip Penghidupan

"Sebab hidup kami adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat."

II Korintus 5:7

"Maka tampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia." "Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri." ". . . dengarkanlah Dia."

Matius 17:3, 8, 5b

"Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiripun tidak kuhakimi. Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan."

I Korintus 4:3-4

". . . dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat." Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boIeh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." (Pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, boleh disebut pohon tentang yang benar dan yang salah).

Kejadian 2:9b, 16-17

Milik 'Kehidupan" dan Milik "Benar dan Salah"

Setelah Allah menciptakan manusia, segera pula la memikirkan tentang makanan bagi manusia. Pemberian kehidupan (hayat) adalah permulaan kehidupan; makanan adalah sarana untuk mempertahankan kehidupan ini. Ketika Allah menciptakan seorang manusia, la segera memikirkan, bagaimana manusia baru bisa hidup. Manusia tidak saja harus hidup, juga harus bereksistensi. Untuk bereksistensi, manusia harus ada makanan, sebagaimana manusia hidup bersandar kepada Allah. (Karena hidup dan eksistensi kita tergantung kepadaNya). Di sini, kita tampak Allah memakai dua pohon untuk menyatakan kata-kata kiasan. Pohon kehidupan dan pohon pengetahuan baik dan jahat adalah kiasan, untuk memperlihatkan kepada kita, bahwa manusia memiliki dua macam makanan yang berbeda. Manusia bisa hidup melalui kehidupan atau melalui pengetahuan baik dan jahat (atau melalui pembedaan benar dan salah). Kedua pohon dalam kitab Kejadian pasal 2, telah dibaca oleh banyak orang. Tetapi yang kita perhatikan di sini, ialah kedua pohon ini menampakkan kepada kita, bahwa manusia hidup di bumi ini, khususnya orang Kristen hidup di bumi ini, adalah hidup berdasarkan dua prinsip penghidupan yang berbeda. Ada orang Kristen yang hidupnya berpedoman pada benar dan salah; ada orang Kristen yang hidupnya berpedoman pada kehidupan.

Itulah sebabnya, hari ini saya dengan senang hati mengeluarkan waktu, untuk bersama saudara saudari melihat dua prinsip penghidupan yang berbeda ini di depan Allah. Apakah yang dimaksud dengan orang hidup berdasarkan benar dan salah, apakah yang dimaksud dengan orang hidup berdasarkan kehidupan? Ada orang, dalam penghidupannya hanya ada pohon pengetahuan baik dan jahat; ada orang, dalam penghidupannya ada pohon kehidupan. Ada orang, dalam penghidupannya ada kedua-duanya. Tetapi firman Allah memberitahu kita, barangsiapa makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, pasti mati, sedang yang makan buah pohon kehidupan, pasti hidup. Allah memperlihatkan kepada kita, barangsiapa hidup berdasarkan pengetahuan baik dan jahat, ia akan kehilangan kedudukannya. Jika seseorang ingin tetap hidup di hadapan Allah, ia harus tahu, apakah yang dimaksud dengan makan buah pohon kehidupan itu.

Dua Prinsip Penghidupan Orang Kristen

Di sini, selain dua prinsip tadi, saya ingin menambahkan satu prinsip penghidupan lagi, yaitu prinsip dosa (kejahatan). Anda bisa mengatakan, bahwa prinsip penghidupan manusia di seluruh dunia zaman kini, sedikitnya ada tiga: ada manusia yang hidup berdasarkan prinsip dosa, ada yang hidup berdasarkan prinsip benar dan salah, dan ada yang hidup berdasarkan prinsip kehidupan.

Mungkin Anda ingin bertanya, "Apakah artinya ini?" Artinya sangat sederhana. Banyak orang yang hidup di dunia ini berdasarkan hawa nafsu daging, mereka adalah orang-orang yang harus dimurkai, yang terbelenggu arus dunia hari ini, hidup menurut roh jahat yang ada di dalam hati mereka; prinsip penghidupan mereka adalah hidup berdasarkan dosa (Efesus 2:1-3). Perkara ini tidak kita singgung dalam berita ini. Saya percaya, banyak orang di antara kita yang telah terlepas dari prinsip dosa ini. Dua prinsip lainnya, itulah yang akan kita bahas bersama, yaitu prinsip penghidupan yang diwakili oleh dua macam pohon. Setelah seseorang menjadi orang Kristen, ada yang hidup berdasarkan benar dan salah, ada yang hidup berdasarkan kehidupan.

Berbicara sampai di sini, saya ingin berkata, bahwa saudara saudari yang telah terlepas dari prinsip dosa, yang sudah menempuh jalan Tuhan, tentu dapat melihat, ada orang yang hidup berdasarkan prinsip benar dan salah, berdasarkan baik dan jahat. Ingatlah, prinsip benar dan salah, prinsip baik dan jahat, bukanlah kekristenan. Kekristenan membicarakan masalah kehidupan, kekristenan tidak membicarakan standar; kekristenan membahas kehidupan, kekristenan tidak membahas baik dan jahat; kekristenan membicarakan kehidupan, kekristenan tidak membicarakan benar dan salah. Di sini, ada banyak saudara saudari muda, ketahuilah, setelah Anda menerima Tuhan Yesus, setelah Anda mendapatkan hidup baru, di dalam Anda ada satu barang yang sangat ajaib, yaitu satu prinsip penghidupan yang lain. Tetapi jika Anda tidak mengetahuinya, Anda akan mengesampingkan prinsip kehidupan dan akan belajar mengikuti prinsip benar dan salah.

Mengikuti Prinsip Benar dan Salah

Apakah yang disebut mengikuti prinsip benar dan salah? Ini berarti, ketika Anda hidup sebagai manusia, Anda akan mengajukan pertanyaan, "Benar atau salahkah jika aku berbuat demikian?" "Baik atau jahatkah jika aku melakukan ini?" Anda bertanya tentang baik dan jahat; Anda bertanya kepada diri sendiri: perbuatanku ini benar atau salah? Banyak orang yang selalu mempertimbangkan: perkara ini baik atau jahat? Bolehkah aku melakukan perbuatan ini? Perkara ini betul atau salah? Karelia Anda adalah orang Kristen, maka Anda baik-baik mempertimbangkannya. Akhirnya Anda berkata, "Perkara ini baik, benar," lalu Anda melakukannya. Anda mengira dengan berbuat demikian Anda adalah orang Kristen yang baik, karena Anda telah memilih yang baik, telah memilih yang benar.

Tetapi firman Allah mengatakan, "Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada han engkau memakannyna, pastilah engkau mati" (Kejadian 2:17). Sudah mencapai titik tertinggi, namun hanya sampai pada taraf membedakan baik dan jahat; sudah mencapai titik tertinggi, namun hanya sampai pada taraf memilih atau menolak -- menolak yang jahat, memilih yang baik. Ini bukan kekristenan. Kekristenan bukanlah memiliki kebaikan lahiriah, atau kejahatan lahiriah, atau memiliki satu standar tertentu. Hari ini aku memilih yang baik atau menolak yang jahat, semua itu bukan kekristenan. Itu adalah Perjanjian Lama, itu adalah hukum Taurat, itu adalah agama di dunia pada umumnya, itu adalah budi pekerti manusia, itu adalah doktrin manusia; itu bukan kekristenan.

Kekristenan Berdasarkan Kehidupan

Apakah kekristenan itu? Kekristenan adalah kehidupan (hayat). Kekristenan tidak bertanya benar atau salah. Kekristenan akan bertanya, "Ketika Anda melakukan hal ini,

bagaimana dengan kehidupan yang ada di dalam Anda? Apa yang dikatakan oleh hidup baru yang Allah berikan kepada Anda? Ada satu perkara yang sangat mengherankan, yaitu: yaps dilihat oleh kebanyakan orang adalah satu standar luaran, standar baik dan jahat. Tetapi ketahuilah, yang Allah berikan kepada kita bukanlah satu standar luaran. Kekristenan bukan mendapatkan satu Taurat baru yang terdiri dari sepuluh hukum, kekristenan bukan mendapatkan satu gunung Sinai yang baru, kekristenan tidak memasang bingkai yang berisi sepuluh perintah Allah yang mengharuskan atau melarang manusia melakukan sesuatu. Kekristenan tidak bertanya benar atau salah, tidak bertanya baik atau jahat; melainkan ketika Anda melakukan sesuatu, di dalam Anda ada satu kehidupan, kehidupan di dalam Anda bergerak, kehidupan di dalam Anda berbicara, dari dalam terasa benar, di dalam ada kehidupan, di dalam ada kekuatan, di dalam ada urapan minyak, Anda tahu dengan jelas ada kehidupan. Banyak hal, jika dipandang dari sudut manusia, terasa tidak salah, benar, baik, tetapi mengherankan sekali, kehidupan di dalam Anda tidak bereaksi, kehidupan di dalam Anda menjadi dingin, kehidupan di dalam Anda lemah, kempis.

Ingatlah, firman Allah memberitahu kita, penghidupan kita sebagai orang Kristen adalah berdasarkan kehidupan (hayat) yang di dalam, bukan berdasarkan benar dan salah yang di luar. Bagi orang dunia, orang yang belum beroleh selamat, kalaupun prinsip penghidupan mereka sudah mencapai titik tertinggi, itu hanyalah mencapai benar dan salah, baik dan jahat. Jika Anda dan saya juga hidup berdasarkan prinsip benar dan salah, maka kita sama dengan orang dunia. Di manakah perbedaan antara orang Kristen dengan orang dunia? Orang Kristen tidak hidup berdasarkan standar luaran; kita tidak hidup berdasarkan hukum Taurat yang di luar, kita tidak membicarakan budi pekerti manusia, konsepsi manusia. Kita tidak berdasarkan kritikan atau pandangan manusia menentukan ini benar atau ini salah. Hari ini, kita hanya memiliki satu pertanyaan, yaitu bagaimana dengan kehidupan yang di dalam? Kehidupan yang ada di dalamku itu mempunyai kekuatan, hidup, maka aku bisa bertindak; kehidupan yang ada di dalamku itu dingin, lesu, maka aku tidak bisa bekerja. Prinsip hidupku adalah berdasarkan yang di dalam, bukan berdasarkan yang di luar. Hanya prinsip inilah yang sejati, prinsip lainnya adalah palsu. Terhadap banyak perkara, mungkin (rang berkata, bahwa itu benar; Andapun berkata, bahwa itu benar, tetapi bagaimana dengan yang di dalam? Jika yang di dalam tidak menyetujuinya, namun Anda tetap melakukannya, Anda tidak mendapatkan apa-apa; kalau Anda tidak melakukannya, juga tidak membuat Anda malu, karena semua itu berada di luar Anda. Hanya ketika Roh Kudus bekerja di dalam Anda, barulah Anda bisa melihat apakah yang sungguh-sungguh benar. Yang di dalamnya memiliki kehidupan, itu baru benar; yang di dalamnya tidak ada kehidupan, itu pasti tidak benar. Benar atau salah tidak ditentukan berdasarkan standar luaran, melainkan berdasarkan kehidupan yang di dalam.

Standar Kehidupan Melampaui Standar Kebaikan

Begitu persoalan ini terselesaikan, Anda akan segera tampak, bahwa bagi orang Kristen, bukan hanya perkara kejahatan tidak bisa dilakukan, bahkan perkara kebaikan-pun tidak bisa dilakukan. Orang Kristen hanya bisa melakukan perkara yang bersumber dari kehidupan. Lihatlah, di sini ada perkara jahat, di sini ada perkara baik, di sini ada perkara kehidupan. Ini bukan berarti orang Kristen harus melakukan perkara-perkara yang baik dan perkara-perkara kehidupan, melainkan memberitahu kita, bahwa orang Kristen tidak bisa melakukan perkara yang baik dan yang jahat. Allah berfirman, "Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya pastilah engkau mati?". Ketahuilah, baik dan jahat adalah bergandengan, baik dan jahat berada pada satu garis yang sama. Tetapi kehidupan berada pada garis yang lain. Jadi, tidak hanya yang jahat yang harus ditolak oleh orang Kristen, yang baikpun harus ditolak oleh orang Kristen. Di sini ada satu standar yang lebih tinggi daripada standar kebaikan, dan standar ini adalah standar kehidupan.

Seperti yang dulu telah saya kisahkan, sekarang saya ulangi lagi: pada permulaan saya melayani Tuhan, saya selalu berusaha untuk menjauhi hal-hal yang jahat, bersamaan dengan itu, saya juga berusaha melakukan apa yang baik. Dalam pandangan manusia, saya telah memiliki kemajuan yang besar; saya tidak melakukan apa yang jahat, sebaliknya melakukan apa yang baik. Di sinilah kesulitannya, saya selalu menuntut benar dan salah, setiap hal harus jelas benar atau salah, jika benar dan salahnya suatu perkara tidak jelas, saya tidak bisa bekerja. Pada waktu itu, ada seorang sekerja yang usianya lebih tua daripada saya; dan kami berdua sering berselisih pendapat. Peselisihan yang terjadi di antara kami bukanlah menyangkut urusan pribadi, melainkan ketidakcocokan dalam hal-hal umum. Jika terhadap suatu perkara saya merasa tidak benar, dan saudara sekerja itu melakukannya, saya pasti mempermasalahkannya. Tetapi bagaimanapun orang mempermasalahkannya, sekerja itu tetap tidak mau mendengar. Satu-satunya atasan yang ia ajukan ialah: aku lebih tua daripada kalian. Berbagai atasan bisa saya kemukakan, namun saya tidak bisa berkata, bahwa saya lebih tua daripadanya. Saya tidak berdaya menghadapi perbedaan usia ini. Saya tidak bisa menerima hal ini, sebab itu saya pergi menemui seorang saudari yang senior dan yang berbobot dalam perkara rohani. Saya membeberkan hal-hal yang kami pertentangkan, meminta pendapamya, apakah dia yang benar atau saya yang benar. Saudari itu tidak menjawab "salah", juga tidak menjawab "benar;" dia hanya menatap tajam kepada saya sambil berkata, "Sebaiknya kamu mendengarkan dia." Dalam hati saya benar-benar tidak bisa menerima. Saya berpikir, "Jika saya benar, haruslah dikatakan benar, jika saya tidak benar, katakanlah tidak benar. Mengapa menyuruh saya mendengarkan perkataannya?" Saya berkata kepadanya, "Mengapa demikian?" Saudari itu menjawab, "Di dalam Tuhan, yang muda harus mendengarkan yang tua." Saya segera berbalik bertanya, "Di dalam Tuhan, jika yang lebih muda benar dan yang lebih tua salah, haruskah yang muda tetap mendengarkannya?" Waktu itu saya adalah seorang pelajar Sekolah Menengah dan belum belajar menerima pembatasan. Dengan jengkel saya mengucapkan kata-kata itu. Tetapi saudari itu sambil tersenyum tetap berkata, "Lebih baik kamu mendengarkan apa yang dia katakan."

Pada suatu hari, ada orang yang ingin dibaptis, dan ada tiga orang di antara kami yang hadir - saya yang paling muda, sekerja yang lebih tua daripada saya, dan seorang saudara yang lebih tua tujuh tahun daripada sekerja tadi. Saya lalu berpikir, "Saya memang lebih muda daripada sekerja itu, karena itu saya harus mendengarkan dia. Sekarang, ada saudara yang usianya tujuh tahun lebih tua lagi, saya ingin tahu, apakah sekerja tadi mau mendengarkan saudara ini." Kemudian kami bertiga bersama-sama membicarakan pelayanan pembaptisan itu. Ternyata, sekerja itu selalu menolak setiap saran yang dikemukakan oleh saudara yang lebih tua daripadanya itu; sekerja itu bersikeras pada pendiriannya sendiri. Akhirnya sekerja itu berkata, "Kalau kalian tidak mau melakukannya, baiklah aku yang melakukannya." Saya merasa, sungguh keterlaluan. Jika demikian, di dunia ini tidak akan ada benar dan salah." Segera saya pergi ke saudari tua tadi, membeberkan perkara tersebut kepadanya, dan memintanya membereskan perkara ini. Namun saya sangat kesal karena saudari itu tidak mengenal benar dan salah. Sambil berdiri saudari itu berkata, "Sampai hari ini, apakah kamu belum juga tampak kehidupan (hayat) Kristus itu? Beberapa bulan ini, kamu selalu mengatakan, bahwa kamu benar dan saudaramu salah. Masihkah kamu tidak mengenal salib? Yang kamu persoalan adalah benar tidaknya suatu perkara, tetapi yang kupersoalkan adalah perkara kehidupan salib." Ya, yang saya persoalan saat itu adalah benar atau salah, saya tidak tampak apakah kehidupan itu, saya tidak tampak apakah salib itu. Saudari itu bertanya lagi, "Cobalah renungkan, dengan berbuat demikian, apakah ini berarti kamu benar? Dengan berkata demikian, apakah ini berarti kamu benar? Dengan demikian melaporkan kepadaku, apakah ini berarti kamu benar? Secara teoritis, mungkin kamu benar; tetapi aku ingin bertanya, bagaimana dengan lubuk batinmu? Bagaimana dengan perasaan yang di dalammu?" Saya harus mengakui, bahwa secara teori saya mungkin benar, tetapi berdasarkan kehidupan yang di dalam, berbuat demikian adalah mutlak salah.

Standar kekristenan bukan hanya membereskan hal-hal yang jahat, membereskan hal-hal yang salah; tetapi juga membereskan hal-hal yang baik, membereskan hal-hal yang benar. Banyak perkara benar menurut standar manusia, tetapi jika itu bertentangan dengan kehidupan, perkara itu adalah salah. Pada hari itulah untuk pertama kalinya saya tampak terang, dan makin hari saya makin tampak, bahwa di hadapan Tuhan saya harus hidup berdasarkan prinsip kehidupan, bukan berdasarkan prinsip benar dan salah. Setelah membedakan suatu perkara, dan saya merasa itu benar, apakah saya segera melakukannya? Jadi, titik persoalannya terletak di sini: Terhadap suatu perkara, sekalipun orang lain mengatakan itu benar, Anda sendiri juga menganggap itu benar, dan dari setiap aspek juga dinyatakan benar, tetapi ketika Anda ingin melakukannya, perhatikanlah, apakah kehidupan Kristus yang ada di dalam Anda terasa membubung atau terasa melemah? Ketika Anda melakukannya, di dalam Anda terasa ada urapan minyak atau terasa getir dan kering? Ketika Anda melakukannya, semakin Anda melakukannya, di dalam Anda merasa makin benar, atau sebaliknya malah memberi perasaan salah kepada Anda? Ingatlah, kehidupan (hayat) tidak ditetapkan berdasarkan benar dan salah yang di luar, melainkan ditetapkan berdasarkan apakah kehidupan Allah yang ada di dalam Anda makin kuat, atau di dalam Anda makin terasa lemah; ia ditetapkan berdasarkan membubungnya kehidupan Allah yang di dalam, atau di dalam Anda makin tenggelam. Di sini, tidak ada satu orang Kristenpun yang boleh berkata, "Perkara ini sungguh baik, karena itu aku bisa melakukannya; perkara ini sangat benar, karena itu aku akan melakukannya." Anda harus bertanya: Bagaimana dengan Tuhan yang di dalamku? Dia berkata apa? Di dalamku Tuhan memberi perasaan ape? Terhadap hal ini adakah sukacita? Adakah sukacita rohani? Adakah damai sejahtera rohani? Perkara ini sangat menentukan jalan kerohanian kita.

Ketika saya mengunjungi Honor Oak, saya bertemu dengan seorang saudara yang sering mengeritik tempat itu; ia juga sedang menjadi tamu di sana. Saudara ini pernah menjadi pendeta, juga bisa berkhotbah. la tahu bahwa tempat itu banyak memberi bantuan rohani, tetapi ia tidak mengapresiasikannya. Setiap kali bertemu dengan saya, ia selalu membandirig-bandirigkan tempat itu dengan tempat asalnya; artinya, ia merasa bahwa tempamya jauh lebih baik daripada tempat itu. Selama dua sampai tiga bulan saya bersama dengannya di sana, tidak pernah saya jumpai orang yang begitu banyak kata-kata kecaman terhadap Honor Oak seperti dia. Sampai suatu hari, karena dia terlalu banyak bicara, maka saya berkata kepadanya, "Engkau terus berkata tempat ini tidak baik, mengapa engkau tetap tinggal di sini? Mengapa tidak kau kemasi saja barang-barangmu dan pergi dari sini?" Dia menjawab, "Penyebabnya ada di sini," ia berkata sambil menunjuk dirinya (hatinya). "Setiap kali aku berkemas dan siap berangkat, di dalam hatiku tidak ada damai. Pernah sekali, ketika aku benar-benar berangkat, setelah dua minggu, aku terpaksa harus menulis surat menyatakan akan kembali lagi." Kemudian saya berkata, "Saudara, tidakkah engkau tampak dua garis jalan ini: Gans yang pertama adalah garis milik kehidupan, garis kedua adalah garis yang Anda pandang sebagai yang benar atau yang salah." "Oh," sahumya, "Bukan hanya sekali atau dua kali, tetapi telah berkali-kali aku mencoba meninggalkan tempat ini, dan setiap kali pula aku mengalami hal yang sama; yakni setelah aku berkemas-kemas akan pergi, ada suatu perasaan di dalam yang melarangku pergi. Sekalipun di sini terjadi banyak kekeliruan, namun jika aku meninggalkan tempat ini, di dalam juga merasa tidak benar." Allah menampakkan kepadanya, bahwa jika di tempat itu dia mendapatkan banyak bantuan rohani, satu-satunya jalan baginya adalah tetap tinggal di sana dan bersekutu dengan Allah. Lihatlah, ini bukan masalah benar atau salah. Allah mengatur anak-anakNya dengan kehidupan.

Bukan Memutuskan Berdasarkan Luaran

Satu kesalahan paling besar yang terjadi di antara anak-anak Allah ialah: benar atau salah yang mereka tetapkan adalah hasil dari yang dilihat oleh mata mereka; benar atau salah mereka berasal dari latar belakang mereka; benar atau salah mereka berasal dari pengalaman yang telah mereka alami bertahun-tahun. Mereka sebenarnya tidak tahu mana yang sungguh-sungguh benar dan mana yang sungguh-sungguh salah. Ingatlah, hidup orang Kristen adalah berdasarkan kehidupan yang di dalam. Yang dimiliki oleh kebanyakan orang di depan Allah, hanyalah yang luaran, dan berdasarkan yang luaran itulah mereka memutuskan benar salahnya sesuatu. Tetapi kehidupan (hayat) itu adalah perkara yang lain. Orang yang memiliki kehidupan, baru mengetahui, apa yang sedang terjadi.

Saya harap Anda semua bisa tampak satu hal di hadapan Allah: Tidak ada seorang Kristenpun yang boleh memutuskan sesuatu di luar kehidupan. Setiap hal yang berasal dari dalam, itu pasti benar; jika di dalam makin lemah, itu pasti tidak benar. Tidak ada seorangpun yang bisa berkata, bahwa dirinya boleh berdasarkan standar yang di luar, menentukan suatu perkara itu benar atau salah.

Saya pernah berkunjung ke suatu tempat. Pekerjaan yang dilakukan saudara-saudara di sana cukup baik, dan Allah benar-benar memakai mereka. Jika Anda bertanya kepada saya, "Apakah pekerjaan mereka sudah sempurna?" Saya akan menjawab, "Tidak, masih banyak kemajuan yang seharusnya dapat mereka capai." Dengan rendah hati mereka meminta petunjuk atas kekurangan mereka, bertanya bagian-bagian mana yang perlu diubah. Sayapun memberitahu mereka bagian-bagian mana yang perlu diubah. Setelah bertanya, sekali, dua kali, bahkan lima kali, mereka tetap tidak bergerak sedikitpun. Kesalkah saya? Tidak. Orang yang bodoh akan kesal, tetapi orang yang mengenalAllah tidak akan kesal. Karena apa yang dapat saya katakan, hanyalah suatu standar yang di luar. Saya tidak tahu apa yang Allah kerjakan di dalam mereka, saya tidak bisa menyuruh Allah bekerja di dalam mereka menurut standar saya.

Di tempat lain lagi, ketika saya berkunjung ke sana, saudara-saudara di sana tidak memberitakan Injil; mereka lalu berbincang-bincang dengan saya apakah perlu memberitakan Injil. Saya berkata, "Secara doktrin, seharusnya memberitakan Injil." Mereka juga mengakui, bahwa mereka harus memberitakan Injil. Tetapi heran sekali, dalam hal ini, Allah tidak memberi mereka kehidupan. Orang yang mengenal Allah, pasti akan berdiri di samping dan tidak berkata apapun. Karena jalan kita adalah kehidupan Allah, bukan berdasarkan benar atau salah. Perbedaandi dalamnya sungguh besar! Saudara saudari, perbedaan di dalamnya sungguh besar! Sering kali, yang dapat dikatakan oleh orang adalah: "Benarkah jika aku melakukan ini? Salahkah jika aku melakukan itu?" Tetapi hari ini, kita bukannya menuruti ini benar atau ini salah, melainkan hanya ada satu pertanyaan: "Apakah kehidupan Tuhan di dalam kita makin membubung atau makin tenggelam?" Inilah yang akan menentukan jalan kita. Segalanya tergantung pada keputusan yang di dalam (batin).

Dengarkanlah Dia

Sebab itu, di atas gunung perubahan kita tampak: ada Musa, ini merupakan standar budi pekerti lahiriah; ada Ella, ini merupakan standar manusia lahiriah (Matius 17:3). Kita tahu, Musa mewakili hukum Taurat, dan Elia mewakili nabi-nabi. Standar hukum Taurat ada di sana, standar nabi-nabi juga ada di sana. Tetapi hukum Taurat dan nabi dalam Perjanjian Lama, yang paling bersyarat untuk berbicara ini, telah dibungkam oleh Allah. Allah berkata kepada Petrus, "lnilah Anak yang Kukasihi, . . . dengarkanlah Dia" (ayat 5). Jadi, standar hidup orang Kristen hari ini bukan pada hukum Taurat, juga bukan pada nabi-nabi, melainkan pada diri Kristus; yakni pada diri Kristus yang berhuni di batin kita. Karena itu, persoalannya bukanlah apakah aku benar atau salah? Melainkan apakah kehidupan yang ada di dalamku membiarkan hal itu? Terhadap banyak perkara, Anda mungkin berkata, bahwa Anda boleh melakukannya, tetapi jika kehidupan di dalam Anda tidak membiarkan Anda melakukannya, maka Anda harus menghentikannya.

Melakukan Sampai Kehidupan Allah Puas

Ada satu kisah tentang dua orang bersaudara Kristen yang menanam padi. Tanah sawah mereka terletak di bagian lereng di sebuah bukit, dan di bawahnya terdapat sawah-sawah orang lain. Musim kemarau tiba, setiap hari mereka menimba air dan mengisi saluran-saluran air sawah mereka; dan mereka istirahat tidur pada malam hari. Pada suatu hari, ketika dua orang saudara itu sedang tidur, pemilik sawah yang di bawah mereka secara diam-diam melubangi saluran irigasi mereka dan mengalirkan aimya ke sawah miliknya yang di bawah. Keesokan harinya, dua bersaudara itu mengetahui kejadian itu, tetapi mereka tidak berkata apa-apa; mereka tetap seperti sebelumnya mengisi kembali saluran irigasi sawah-sawah mereka. Tetapi, keesokan harinya, kembali air di sawah mereka kering. Mereka tetap tidak berkata apa; mereka merasa, karena mereka adalah orang Kristen, maka mereka seharusnya sabar. Mereka tetap diam, dan hal ini berlangsung sampai tujuh hari berturut-turut. Ada orang lain lalu berkata, "Mengapa tidak dijaga saja pada malam hari? Begitu tertangkap pencurinya, tentu bisa menghajarnya." Mereka berdua tetap tidak berbicara, mereka bersabar, karena mereka adalah orang Kristen.

Menurut manusia: setiap hari mereka menimba air, namun setiap hari pula orang lain mencuri air timbaan mereka; mereka tidak berkata sepatah katapun, bahkan berlangsung hingga tujuh hari; tentunya dua orang bersaudara itu setiap hari bisa bersukacita dan penuh riang, mereka seharusnya mengalami kemenangan yang besar, karena mereka begitu sabar menghadapi ketidakbenaran tersebut. Tetapi heran sekali, setiap hari mereka harus menimba air, setiap hari air mereka dicuri orang, setiap hari tidak berkata apapun, namun hati mereka tetap tidak ada sukacita. Sebab itu, mereka lalu menemui seorang sekerja dan bertanya kepada mereka tentang keadaan yang menimpa diri mereka, mengapa meskipun telah bersabar tujuh hari lamanya, hati mereka tetap tidak ada sukacita? Saudara sekerja itu sangat berpengalaman. Dia menjawab, "Yang kalian kerjakan masih belum cukup. Hanya bersabar saja tidak cukup. Terlebih dulu isilah air dalam saluran-saluran sawah milik orang yang mencuri air kalian, setelah milik mereka penuh, barulah kalian mengisi saluran air kalian sendiri. Cobalah lakukan ini, dan lihatlah, tidakkah ada sukacita di dalam kalian?" Mereka berdua segera berkata, "Baik." Keesokan harinya, mereka bangun lebih pagi daripada biasanya dan segera menimba air untuk sawah orang yang mencuri air mereka, kemudian baru mengisi saluran sawah mereka sendiri. Ajaib sekali, pagi itu, semakin mereka menimba air untuk orang yang mencuri air mereka, dalam hati mereka semakin timbul sukacita; semakin bekerja, semakin riang gembira. Ketika mereka menyelesaikan semua pekerjaan mereka, di dalam hati mereka tidak ada persoalan lagi. Jika orang lain mau mencuri, biarlah ia mencurinya; dalam hati mereka telah ada sukacita dan damai sejahtera. Demikian berlangsung lagi dua, tiga hari, kemudian orang yang mencuri air tadi datang dan meminta maaf sambil berkata, "Inilah kekristenan, kami mau mendengar lebih banyak tentangnya."

Di sini kita tampak perbedaan antara prinsip benar dan salah dengan prinsip kehidupan. Kedua saudara tadi sangat sabar, itu sungguh benar, kurang apa lagi? Di musim kemarau, mereka berlelah di bawah panas matahari, mengairi sawah mereka, dan tidak mengucapkan sepatah kata keluhanpun terhadap orang-orang yang mencuri air mereka; semuanya baik, semuanya benar, tidakkah itu sangat baik dan cukup? Namun di dalam mereka tidak ada damai dan sukacita, inilah jalan kehidupan. Kita, orang Kristen, menempuh jalan ini. Jalan benar dan salah adalah jalan yang lain. Bagi manusia, asal benar, sudahlah cukup; tetapi Allah berkata, "Belum cukup. Ada kehidupan baru cukup." Saat demikianlah baru di dalam bisa timbul sukacita dan damai sejahtera. Inilah perbedaan antara jalan benar dan salah dengan jalan kehidupan. Ingatlah, tidaklah cukup hanya berbicara sampai benar atau salah, karena Allah tidak berhenti sampai di situ, Allah baru merasa cukup bila kehidupanNya dipuaskan.

Jadi, apakah pengajaran di atas gunung itu? Apa yang dikatakan Matius pasal 5 sampai pasal 7 ? Ketahuilah, di dalamnya tak lain berisi: hanya melakukan sampai taraf baik atau benar, itu masih kurang, harus melakukan sampai mencapai taraf kehidupan, yaitu sampai kehidupan yang Allah berikan di dalam Anda merasa puas dan lega, itu baru cukup. Inilah Matius pasal 5 sampai pasal 7, inilah pengajaran di atas gunung. Pengajaran di atas gunung tidak berhenti pada baik atau benarnya suatu masalah. Orang akan berkata, "Apa atasannya kita harus memberikan pipi kiri bila kita ditampar pada pipi kanan kita?" Ketika kita ditampar dan kita tidak mengomel, itu sudah cukup baik, kita tidak marah-marah itu sudah luar biasa, sungguh tinggi pekertinya. Tetapi Allah berkata, begitu ditampar pipi lalu menundukkan kepala, itu menyatakan kehidupan di dalamnya masih kurang; melainkan ketika pipi yang satunya Anda berikan untuk ditampar lagi, itu berarti di dalam diri Anda tidak ada rasa kebencian, Anda tidak marah, bahkan Anda masih sanggup menerima perlakuan itu. Kehidupan itu rendah hati, kehidupan bisa membuat orang berpaling memberikan pipinya untuk ditampar sekali lagi. Inilah jalan kehidupan.

Itulah sebabnya, banyak orang berkata, "Matius pasal 5 sampai pasal 7 sangat sulit dilaksanakan, aku tidak bisa melakukannya." Ya, yang tercantum dalam Matius pasal 5 sampai Matius pasal 7 itu memang tidak bisa Anda lakukan. Jika Anda ingin melakukannya, itu sama saja meminta nyawa Anda, Anda tidak bisa melakukannya. Tetapi di sinilah persoalannya, di dalam Anda ada satu kehidupan, dan Anda memiliki kehidupan ini. Kehidupan ini memberitahu kita, kalau kita tidak memperhidupkannya, kita akan menderita, kita tidak akan memiliki sukacita. Bagaimanapun hebamya saudara anu atau saudari anu bersalah kepada Anda, kalau Anda tidak bisa berlutut berdoa bagi saudara atau saudari itu, di dalam Anda tidak akan ada sukacita. Sabar dan tidak berkata apa-apa, itu memang baik, tetapi kalau tidak melakukan seturut pengajaran di atas gunung, di dalam Anda tidak ada sukacita. Karena itu pengajaran di atas gunung memberitahu kita apa yang harus kita lakukan agar kehidupan Allah yang ada di dalam diri kita bisa bersukacita. Jika kehidupan Allah di dalam kita sudah puas, bersukacita, baru kita merasa ringan, merasa damai sejahtera, penuh sukacita. Jadi, semua persoalannya bertitik tolak pada apakah jalan yang kita tempuh, jalan benar dan salah atau jalan kehidupan? Di sini, jika kita jelas dalam membaca firman Allah, kita pasti tampak satu perkara, yakni setiap perkara yang ditentukan berdasarkan benar dan salah, yang memperhidupkan diri sendiri, semuanya pasti salah.

Di Dalam Seharusnya Penuh Dengan Kehidupan

Adakalanya, saya menjumpai seorang saudara yang sangat semberono dalam pekerjaannya, berdasarkan tata cara kerja, kita harus menganjuri atau menegornya. Anda mungkin berkata kepada diri sendiri, "Orang ini harus baik-baik ditanggulangi, harus serius membereskannya." Kemudian Anda bersiap-siap, karena orang yang bersangkutan pasti ada di sini selama hari-hari ini. Dia telah bersalah, bagaimana tidak ditanggulangi! Anda telah siap menegornya, tetapi di dalam Anda terasa lemah, Anda tidak jadi menegornya. Kalau Anda bertanya, benar atau salah, ini bukan masalah benar atau salah; melainkan kehidupan Allah mengizinkan atau tidak. Sering kali, ketika Anda menegur orang lain, orang itu akan dengan sungkan berkata, bahwa dia akan mendengarkan firman Tuhan; tetapi saat itu kekuatan di dalam Anda terasa melemah, makin bicara makin lemah. Kalau demikian, begitu Anda kembali ke rumah, Anda mau tak mau harus berkata, "Aku telah salah! Aku tidak seharusnya menegur orang itu!" Jadi, persoalannya bukanlah baik atau jahat, melainkan di dalam kita haruslah penuh dengan kehidupan.

Satu lagi. Beberapa hari yang lalu, saya berjumpa dengan seorang saudara yang sangat miskin. Dia sungguh-sungguh miskin dan sangat memerlukan bantuan orang lain. Karena tidak ada orang lain yang membantunya, maka saya berpikir, bahwa saya harus membantunya. Saat itu saya tidak memiliki banyak uang, karena itu dengan mengorbankan apa yang saya miliki, saya membantunya; seolah-olah saya telah melakukan melebihi kekuatan saya. Menurut aturannya, ini sangat benar. Saya rela melakukannya, saya seharusnya penuh sukacita. Ternyata, ketika saya ingin mengeluarkan uang tersebut (karena saya telah menyanggupinya), di dalam saya terasa kempis, di dalam merasa bahwa ini tidak lebih daripada membantu orang dalam keadaan darurat, bukan kehidupan; ini hanyalah kebaikan alamiah manusia, tidak termasuk kehidupan; ini saya lakukan sendiri, bukan yang dikehendaki Allah agar saya lakukan. Ketahuilah, kejadian itu malah membuat saya menderita selama dua, tiga minggu; meskipun uang telah saya berikan, tetapi setelah saya pulang, saya masih harus menundukkan kepala dan mengaku dosa, mohon ampunan Tuhan.

Hidup dan Perilaku Harus Berdasarkan Pimpinan Kehidupan

Saudara saudari, ketahuilah, jalan kita di hadapan Allah bukanlah masalah baik dan jahat, melainkan masalah kehidupan yang di dalam. Jika kehidupan itu menyuruh Anda melakukan, maka apa yang Anda lakukan baru bernilai; jika kehidupan itu tidak menyuruh Anda melakukan, dan Anda tetap melakukan, meskipun itu baik, hati Anda tetap akan tertegor. Orang Kristen tidak hanya mengaku dosa di hadapan Allah karena telah melakukan perbuatan dosa, sering kali orang Kristen harus mengaku dosa justru karena telah melakukan perbuatan yang baik. Karena prinsip penghidupan kita bukan berdasarkan prinsip baik dan jahat; yang kita lihat di hadapan Allah adalah masalah kehidupan atau kematian. Jika di dalamku ada kehidupan, di dalamku membubung, itu baru benar; jika kehidupan di dalamku kempis, tidak ada urapan minyak di dalam diriku, maka tidak peduli perkaranya salah atau benar, aku harus mengaku dosa, di hadapan Allah aku harus mohon pengampunan.

Paulus berkata, bahwa dia tidak menghakimi dirinya sendiri, yang menghakimi dia adalah Allah sendiri (I Korintus 4:3-4,). Banyak orang tidak mengerti ayat dalam 1 Korintus ini. Perkataan ini sangat sederhana. Jika Anda tidak mengenal kehidupan, ini tidak sederhana. Terhadap satu perkara, kita mudah sekali menentukan salah atau benar. Paulus tidak berdasarkan benar dan salah yang di luar, karena itu ia hanya bisa berkata, bahwa dia tidak menghakimi dirinya sendiri. Meskipun aku tidak merasa bersalah, aku juga tidak bisa berkata bahwa aku tidak bersalah, karena yang menghakimi aku ialah Tuhan. Yang menghakimi aku di depan takhta penghakiman adalah Tuhan. Pada satu pihak, kehidupan yang di dalam diriku yang memimpin aku. Inilah sebabnya II Korintus berkata, "Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat" (5:7). Kita tidak bisa memutuskan berdasarkan hukum Taurat yang di luar, yakni berdasarkan yang kelihatan; kita memutuskan berdasarkan pimpinan yang Tuhan berikan di dalam kita.

Di depan Allah kita harus belajar pelajaran ini, yaitu jangan berhenti pada standar benar dan salah. Saya tidak mengatakan standar benar dan salah itu tidak baik, standar ini sungguh baik; tetapi di atas diri orang Kristen, itu masih belum cukup, kehidupan orang Kristen melampaui standar benar dan salah. Perkara yang salah, itu tentu salah; tetapi perkara yang benar, belum tentu sungguh-sungguh benar. Berdasarkan kehidupan Allah, apa yang dimintaNya lebih tinggi daripada permintaan hukum Taurat manusia. Jadi, menjadi orang Kristen sangatlah sederhana, karena semua masalah adalah berdasarkan "apa kata Allah yang ada di dalamku." Demikian dengan sendirinya ada terang yang memancar. Ingatlah, kelahiran kembali adalah satu fakta; Allah melalui Tuhan Yesus Kristus telah tinggal di dalam kita, juga adalah satu fakta. Tuhan di dalam diriku senantiasa menyatakan diriNya. Kita benar-benar menengadah kepada Allah, mohon Dia merahmati kita, agar kita bisa hidup berdasarkan pohon kehidupan, tidak hidup berdasarkan pohon pengetahuan baik dan jahat. Kita harus senantiasa memperhatikan apa yang dikatakan kehidupan ini. Saya berkata demikian: bagaimana dengan kehidupan? Jika Anda hidup di atas prinsip ini, ketahuilah, Anda pasti mengalami satu perubahan yang besar dalam hidup Anda sebagai orang Kristen.

Hari ini, timbul banyak kesulitan, banyak hal yang tidak beres, itu dikarenakan kita hanya memiliki standar benar dan salah, kita tidak memiliki standar kehidupan. Jika kita memiliki standar kehidupan, pasti banyak perkara yang terselesaikan.

Doa

"Ya Tuhan, di depanMu, kami benar-benar mohon Engkau berbicara sekali lagi. Manusia itu hampa, manusia tidak bisa berbuat apa-apa, mohon Engkau merahmati, sehingga kami tampak. Setiap kali kami membuka mulut untuk memutuskan sesuatu, biarlah kami terlebih dulu bertanya di hadapanMu, apakah keputusan ini adalah keputusan berdasarkan benar dan salah atau keputusan yang berasal dari pimpinan kehidupan yang ada di dalam kami. Tuhan, biarlah kami tampak perbedaan yang rohani dan yang karnal (milik daging); biarlah kami dengan tegas tampak perbedaan terang batiniah dengan hukum Taurat. Tuhan, selamatkanlah kami dari jalan kematian. Tuhan, kami salah, jika kami hidup di atas benar dan salah; biarlah kami tampak bahwa benar dan salah ini adalah dosa, membedakan benar dan salah itu adalah maut, karena hanya orang yang tinggal di dalam mautlah yang akan melakukan ini. Orang yang tinggal di dalam kehidupan, akan dipimpin oleh kehidupan. Tuhan, kami mau Engkau ada di tengah-tengah kami dan menyingkapkan hal ini dengan jelas kepada kami. Kami berkata dan berkata lagi, kiranya firman-Mu tidak sia-sia. Buatlah kami tahu apakah kehidupan itu, apakah hukum Taurat itu. Kiranya Engkau memberkati persekutuan yang tidak sempurna ini. Engkau membelaskasihani, Engkau merahmati, Engkau memimpin kami menempuh jalan yang di depan. Demi nama Tuhan Yesus. Amin."