Daftar isi Dua Belas Bakul (9) · bab 4/12

Pemborosan dan Pragmatisme

"Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, datanglah seorang perempuan kepadaNya membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal. Minyak itu dicurahkannya ke atas kepala Yesus, yang sedang duduk makan. Melihat itu murid-murid gusar dan berkata: "Untuk apa pemborosan ini? Sebab minyak itu dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin" Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik padaKu. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu. Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuhKu, ia membuat suatu persiapan untuk penguburanKu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia."

Matius 26:6-13

Ayat-ayat di atas telah dua kali saya uraikan pada waktu-waktu yang lalu. Kini saya tidak ingin mengulangi uraian mengenai arti ayat-ayat tersebut. Yang ingin saya singgung adalah keistimewaan catatan Injil Matius, yang juga mengandung ajaran-ajaran rohani yang berguna bagi kita.

Ayat-ayat tersebut ditujukan kepada perbuatan Maria, namun Injil Matius ini tidak menyebut nama Maria, tidak sama dengan catatan Injil lainnya. Mengapa Injil Matius hanya mengatakan "seorang perempuan"? Ini berarti, bahwa apa yang dilakukan oleh perempuan itu, tidak hanya dapat dilakukan oleh seorang perempuan yang bernama Maria, tetapi juga dapat dilakukan oleh perempuan-perempuan lainnya. Jadi istilah perempuan di sini bukan ditujukan melulu untuk seorang perempuan tertentu. Di samping itu, dengan tersembunyinya nama perempuan ini, juga menyatakan tidaklah penting menonjolkan orang yang melakukan perkara ini; hanya diri Tuhan yang patut mendapatkan perhatian.

Seperti kita ketahui, keluarga Maria tidak mempunyai pembantu, kecuali kakaknya Marta dan adiknya Lazarus, tidak ada lagi orang lain di rumahnya, karena itu, Maria sendirilah yang melayani Tuhan. Kita juga tahu, bahwa mereka bukanlah keluarga kaya. Tetapi satu perkara yang mengherankan, yaitu Maria dapat membeli satu buli-buli minyak narwastu murni (tercatat pada kitab Injil yang lain), tersimpan dalam buli-buli pualam; minyak narwastu murni dalam buli-buli pualam ini tentu sangat mahal harganya. (Pada zaman sekarang, boleh dikatakan tidak ada minyak wangi yang semahal itu). Perbuatannya itu menimbulkan kritikan/tegoran yang keras dari orang banyak. Mereka mengatakan, "Untuk apa mengurapi kepala Yesus dengan minyak yang seharga tiga ratus dinar lebih itu, tidakkah lebih baik minyak itu dijual saja dan uangnya dapat disedekahkan kepada orang yang miskin?" Tetapi Tuhan berkata kepada mereka, "Di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga." Saya percaya, ke manapun Injil tersebar, perkara Maria ini juga akan diberitakan di sana. Jika Injil telah tersebar sampai di suatu tempat dan perkara Maria ini tidak diberitakan di sana, ini tidaklah patut. Di mana ada Injil, di situ harus ada perkara Maria ini. Dengan perkataan lain, jika ada orang memahami Injil, ia harus pula mengetahui perkara Maria. Sayang sekali, Injil telah diberitakan di banyak tempat, namun perkara Maria ini masih belum diberitakan.

Orang yang tidak mengerti akan bertanya, "Mengapa uang sebesar tiga ratus dinar lebih itu memiliki manfaat yang begitu besar?" Ya, tiga ratus dinar lebih ini benar-benar memiliki manfaat yang begitu besar. Karena Tuhan Yesuspun dijual dengan harga tiga ratus dinar lebih. Janganlah Anda salah paham terhadap saya. Injil bernilai tiga ratus dinar lebih. Penilaian musuh terhadap Tuhan Yesus juga tiga ratus dinar lebih. Dengan perkataan lain, tiga ratus dinar lebih yang kedua, bukanlah tiga ratus dinar lebih, melainkan dalam pandangan musuh, hanya bernilai tiga ratus dinar lebih. Dengan perkataan lain, satu buli-buli minyak narwastu bernilai tiga ratus dinar lebih, itu berarti Maria telah menjual dirinya sendiri. Dengan perkataan yang lain lagi, Maria sendiri adalah minyak narwastu di dalam buli-buli, dia ditaruh di dalam buli-buli untuk dijual kepada Tuhan.

Mengapa di mana Injil diberitakan, harus pula menyebutkan perkara Maria? Sebab setiap kali Injil diberitakan, perlu ada perkara Maria untuk mempertahankan keseimbangan kebenaran. Jika di suatu tempat hanya ada pemberitaan Injil tanpa pemberitaan perkara Maria, kebenaran akan menjadi berat sebelah. Orang mudah sekali memberitakan Injil, namun tidak memberitakan perkara Maria. Mengapa? Tidak lain karena pemberitaan Injil kadang-kadang bisa berbahaya karena melampaui batas, dan tidak ada keseimbangan yang semestinya. Pada hari ini, memberitakan Injil sangat mudah. Injil yang diberitakan di antara kita dan yang diberitakan di antara orang dunia, hanyalah untuk memuaskan diri kita. Kita percaya Tuhan Yesus adalah supaya kita mendapatkan keuntungan, sukacita, damai, kita mendapatkan sesuatu. Kita sudah merasa senang jika kita mendapatkan keuntungan, sukacita, damai dan mendapatkan sesuatu. Banyak orang percaya Kristus hanya sampai pada taraf beroleh selamat, tidak binasa, kelak tidak masuk ke neraka, melainkan beroleh hidup yang kekal, naik ke surga; banyak orang percaya Kristus, tapi tidak mencapai taraf mempersembahkan diri kepada Alban. Banyak pemberitaan Injil hanya memberitahu orang tentang beroleh selamat, pindah dari dalam maut ke dalam hidup, terhindar dari hukuman, mendapatkan hidup kekal, dan sejenisnya, semua ini suka diriengar orang. Tetapi jika Anda memberitahu mereka, setelah percaya Tuhan, harus mempersembahkan diri kepada Tuhan, taat kepada Tuhan, menjadi hamba dan tawananNya, mereka tidak mau. Banyak orang hanya tampak beroleh selamat berarti terlepas dari hukuman, mereka tidak tampak beroleh selamat juga berarti terlepas dari diri sendiri. Banyak keselamatan yang diperoleh orang hanya sebagai kelepasan dari neraka saja, belum sebagai kelepasan dari keduniawian. Banyak orang memandang keselamatan hanya sebagai kebahagiaan hidup kekal, belum tampak bahwa beroleh selamat itu berarti didapatkan oteh Tuhan. Jika semuanya ditaruh di dalam tangan Tuhan, maka banyak orang yang akan tersingkir.

Perbedaan yang demikian sudah nyata pada masa Tuhan Yesus. Hal ini khususnya tertulis dalam Injil Lukas. Di sana tercatat, ada seorang mengadakan perjamuan besar dan menyuruh hamba-hambanya mengundang orang-orang yang timpang dan yang cacat untuk menikmati jamuannya. Inilah perjamuan Injil, dan banyak sekali orang yang menghadirinya. Tuhan memberikan perjamuan Injil-Nya kepada semua Orang, tidak peduli siapa, semuanya boleh datang. Pada saat itu, banyak sekali orang yang datang; tercatat dalam Alkitab, bahwa ada banyak orang yang berjalan bersama Tuhan. Orang-orang itu merasa betapa baiknya Injil itu, sebab Injil adalah perkataan indah yang keluar dari mulut Anak Allah. Tetapi mengherankan sekali, Tuhan melanjutkan perkataannya, mengatakan, "Barangsiapa tidak memikul salib dan mengikut Aku, tidak layak menjadi muridKu; barangsiapa mengasihi ibu bapanya, lebih daripadaKu, tidak dapat menjadi muridKu; barangsiapa tidak melepaskan semua yang milik dunia, tidak dapat menjadi muridKu." Setelah 'Tuhan memberitakan Injil, la segera membicarakan hubungan kita dengan Tuhan.

Terhadap keselamatan, banyak orang hanya mempunyai konsepsi tidak terhukum di neraka saja, tidak mempunyai konsepsi Kristus. Banyak orang percaya Kristus hanya sebab Kristus itu suatu metode beroleh selamat, bukan percaya Kristus karena Kristus memang patut dipercayai. Banyak orang tidak tampak, bahwa percaya Kristus adalah mengambil diri Kristus sebagai tujuan. Mereka hanya tampak, dengan percaya Kristus, mereka bisa datang ke hadapan Bapa, bisa masuk ke surga. Tuhan Yesus berkata, "Akulah jalan, kebenaran dan hidup." Banyak orang percaya Kristus adalah jalan, adalah metode, tetapi tidak tampak Kristus adalah hidup (hayat). Mereka berpikir, "Aku percaya Kristus karena Kristus adalah sarana yang terbaik yang bisa menyelamatkan aku. Bersandarkan Kristus aku bisa datang ke hadapan Allah, masuk ke surga " Mereka tidak tampak Kristus adalah hidup, adalah tujuan. Banyak orang berpikir, "Aku ingin naik ke surga, aku tidak mau menerima hukuman, namun aku sendiri tidak bisa mencapainya, maka lebih baik minta pertolongan Kristus." Kristus adalah prosedur yang membantu mereka untuk mencapai tujuan mereka, Kristus bukan tujuan mereka. Mereka sama sekali tidak mengerti perkara-perkara yang telah dirampungkan oleh Kristus. Inilah bahaya Injil yang mungkin terjadi ditengahtengah kita. Sebab itu, perlu perkara Maria juga diberitakan. Hanya mendengarkan dan percaya Injil saja masih kurang, kita perlu juga mencium aroma harum minyak narwastu murni itu. Beroleh selamat bukanlah untuk diri sendiri saja, melainkan segalanya untuk Kristus. Inilah kisah Maria.

Di sebuah sekolah minggu, seorang guru bertanya kepada anak-anak, siapa yang mau menjadi Lazarus? Siapa yang ingin menjadi hartawan? Ada anak yang menjawab, "Aku mau menjadi Lazarus, sebab kelak bisa menikmati kebahagiaan." Anak lain menjawab, "Aku mau menjadi hartawan, sebab aku tidak tahu apa yang akan terjadi kelak." Ada satu anak menjawab, "Ketika hidup di bumi, aku mau menjadi hartawan, setelah aku mati, aku mau menjadi Lazarus." Banyak orang Kristen mempunyai pikiran demikian, paling baik menikmati kebahagiaan sewaktu hidup di dunia masa kini, juga menikmati kebahagiaan setelah mati kelak; ingin menikmati kebahagiaan di dua alam itu. Inilah jalan yang ditempuh oleh kebanyakan orang Kristen dewasa ini. Maria hari ini adalah menjadi Lazarus selagi hidup, juga tetap menjadi Lazarus setelah mati. Sebagaimana ia menghampiri Allah setelah mati, iapun menghampiri Allah semasa masih hidup. Sebagaimana ia mengesampingkan dunia ketika ia mati, iapun mengesampingkan dunia ketika ia masih hidup. Setelah mati ia menjadi Lazarus, ketika masih hidup, ia juga adalah Lazarus. Inilah kisah Maria.

Di sini tidak berarti kita tidak mementingkan pemberitaan Injil; kita benar-benar memperhatikan hal pemberitaan Injil. Tetapi Tuhan Yesus berkata, bahwa jika Injil diberitakan di seribu atau sepuluh ribu tempat sekalipun, perbuatan Maria juga harus diberitakan di sana. Jika hanya ada pemberitaan Injil saja, di sinilah letak bahayanya. Karena itu, kisah Maria harus juga diberitakan. Di satu pihak, Anda harus mendapatkan Injil, di pihak lain, Anda juga harus memberikan segala-galanya kepada tuhan. Paulus berkata, "Satu orang sudah mati untuk semua orang" (II Korintus 5:14). Inilah Injil. Tetapi tidak berhenti sampai di sini, selanjutnya dikatakan, "Supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka" (ayat 15). Ini baru berarti melakukan apa yang dilakukan oleh Maria. Tuhan adalah Tuhan yang telah mati bagiku. Tujuan kematian dan kebangkitanNya ialah supaya aku hidup bagiNya. Di sini dengan jelas sekali memberitahu kita, bahwa tidak ada orang Kristen yang hanya beroleh selamat tanpa menerima penderitaan. Kita tidak hanya ditentukan untuk percaya Tuhan Yesus, tetapi juga ditentukan untuk menderita bagi Tuhan. Inilah yang dikatakan oleh Paulus. Jadi, kita harus tahu, bahwa kita telah ditetapkan untuk percaya Tuhan Yesus, juga telah ditetapkan untuk menderita bagi Tuhan. Banyak orang percaya Kristus hanya sampai ke taraf supaya menerima sukacita saja, tidak mencapai taraf percaya supaya menderita bagi Tuhan Yesus. Banyak orang tidak mengetahui apakah percaya Tuhan Yesus itu. Ketahuilah, percaya Kristus juga berarti percaya hingga menerima penderitaan karena Tuhan Yesus. Puji syukur kepada Allah, sebab penderitaan ini sangat berharga! Banyak orang percaya Yesus hanya sampai masuk ke surga saja, belum sampai keluar dari dunia; banyak orang percaya Yesus hanya sampai diperkenan Allah, belum sampai dibenci orang. Tetapi seorang imani yang sempurna, seorang yang seluruhnya dimiliki Kristus, adalah orang yang percaya Tuhan Yesus sedemikian rupa sehingga diperkenan Allah juga dibenci manusia. Sebab itu, perkara Maria ini harus disampaikan setelah pemberitaan Injil, kisah Maria harus diteruskan. Hari ini, banyak sekali orang yang percaya kepada Injil, namun sedikit sekali orang yang seperti Maria. Semoga kita hari ini tidak saja percaya Injil, juga menjadi orang yang percaya Injil seperti Maria.

"Datanglah seorang perempuan kepadanya membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal. Minyak itu dicurahkannya ke atas kepala Yesus, yang sedang duduk makan" (ayat 7). Dalam Injil Markus dikatakan, bahwa ia terlebih dulu memecahkan buli-buli itu, kemudian baru mengurapkan minyak wangi ke atas kepala Tuhan. Ketika ia berbuat demikian, maka Yudas mendahului semua orang mencela perbuatannya, bahwa ia telah memboroskan tiga ratus dinar lebih; lebih baik uang tiga ratus dinar lebih itu disedekahkan kepada orang miskin. Minyak wangi dapat dijual seharga tiga ratus dinar lebih, paham apakah ini? Apakah tujuannya? Di samping itu, Maria menuangkan minyak ke atas tubuh Tuhan, paham apa pula ini? Apakah tujuannya?

Perbuatan Maria

Mari kita membicarakan Maria dulu. Maria menuangkan minyak wangi ke atas kepala dan tubuh Tuhan adalah untuk penguburan Tuhan. Maria berpikir, "Aku telah tampak betapa Dia telah membangkitkan adikku dari kematian, Diapun sering datang ke Betania, berkunjung ke rumahku. Dia sungguh-sungguh adalah Juruselamatku yang kekasih. Telah empat kali Dia berkata kepada murid-muridNya, bahwa Dia akan mati (Lihat Matius 16:21; 17:22-23; 20:17-19; 26:1-2), namun murid-murid tidak mengerti untuk apa Dia mati. Tetapi aku tahu, bahwa la mati adalah untukku. Setelah Dia mati, tentu ada orang yang mengurapiNya dengan minyak wangi, mur dan kemenyan, tetapi aku tidak mau melakukan hal itu setelah Dia mati; aku mau melakukannya ketika Dia masih hidup. Aku mau mencurahkan segala-galaku ke atas diriNya. Apakah gunanya kalau aku mengurapi-Nya setelah Dia mati? Mumpung Dia masih hidup, lebih baik aku mengurapiNya sekarang juga!" Coba Anda bayangkan, betapa mahalnya satu buli-buli minyak wangi yang berharga tiga ratus dinar lebih itu, mungkin pada hari inipun tidak ada minyak wangi yang semahal itu; jadi boleh dikatakan pada waktu itu barang itu adalah barang yang sangat berharga.

Kapankah Maria melakukan hal itu? Ketika Tuhan sedang duduk makan. Yaitu pada saat Tuhan sedang senang, dan tidak merasakan apa-apa; ia dengan diam-diam melaksanakannya. Dia tidak mau kalau Tuhan tahu lebih dulu, dia juga tidak memberitahu Tuhan. Sebelum orang lain melakukannya, dia dengan diam-diam melakukannya di atas diri Tuhan. Apakah artinya ini? Banyak orang mau keselamatan, namun tidak mau Juruselamat; banyak orang menghargai keselamatan, namun tidak menghargai Juruselamat; banyak orang mengindahkan agama Kristen, namun tidak mengindahkan Kristus; banyak orang menghargai pekerjaan penebusan, namun tidak menghargai Tuhan Penebus; banyak orang menghargai salib Kristus, namun tidak menghargai Kristus yang tersalib. Banyak orang bertanya, "Apakah untungnya bila aku percaya Yesus? Inilah perkataan mereka yang pertama. Mereka tidak bertanya, "Jika aku percaya Yesus, aku harus memiliki hubungan yang bagaimana dengan Tuhan Yesus? Hanya Maria yang mengetahui hal ini. Inilah titik perbedaannya. Maria tahu, "Tuhan mati bagiku, bangkit bagiku, aku harus memberikan kasih dan segala-galaku kepadaNya. Aku harus meleburkan segala-galaku ke dalam minyak narwastu murni ini untuk kemudian kucurahkan ke atas diri Tuhan." Maria telah mencurahkan segala-galanya ke atas diri Tuhan. Hanya Maria yang mengetahui kematian Tuhan. Pada hari pertama dalam satu minggu itu, banyak perempuan yang pergi ke makam Tuhan dengan maksud mengurapi tubuh Tuhan. Tetapi sudah terlambat! Hanya satu perempuan yang tidak terlambat, karena hanya dia yang mengetahui kematian Tuhan, hanya dia yang mempersembahkan, memberikan kepada Tuhannya.

Sikap Para Murid

Murid-murid Tuhan menganggap, bahwa perbuatan Maria yang demikian itu adalah suatu pemborosan, suatu penghamburan. Mereka berpendapat, lebih baik tiga ratus dinar lebih itu disedekahkan kepada orang miskin. Hari ini dalam gereja juga ada dua prinsip ini. Sekelompok orang seperti Maria, yakni rela memberikan segalanya kepada Kristus, merasa Kristus layak mendapatkan segala-galanya; karena diantara aku dan Kristus ada hubungan kasih, maka aku mau menyerahkan segalanya kepadaNya. Tetapi ada sekelompok orang lagi yang selalu memperhatikan segi pragmatis. Di pihak sini adalah Maria yang berpedoman pada hati, sedang di pihak lain adalah orang yang berpedoman pada administrasi pengaturan. Di sini adalah yang berpegang pada hati, di sana adalah yang berpegang pada urusan atau cara. Jika dipandang dari segi urusan, saya pribadi juga akan berkata, bahwa perbuatan Maria adalah suatu pemborosan, penghamburan. Tetapi, di antara orang imani, sedikit sekali orang yang tertarik oleh kasih. Kasih adalah kehidupan (hayat), sasaran dan juga segala-galanya. Jangankan tiga ratus dinar, bahkan tiga ratus kali tiga ratus dinarpun tidak terbilang apa-apa. Persoalannya bukan terletak pada nilai bendanya, melainkan terletak pada nilai sasarannya. Benda tidak menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah nilai orang itu.

Manusia selalu menghargai benda-benda yang dikasihinya. Berapa nilai benda-benda mahal yang dipersembahkannya, senilai itu pula Tuhan Yesus baginya. Banyak orang harus berkali.kali menghitung berapa uang yang akan dipersembahkan kepada Tuhan. Sebenarnya, mereka bukan menghitung jumlah uang, melainkan menghitung nilai Tuhan. Berapa banyak yang Anda persembahkan kepadaNya, itulah pernyataan penilaian Anda terhadapNya. Kalau Anda tidak dapat memberi sebanyak itu, itu berarti la tidak bernilai sebanyak itu. Ingatlah, satu buli-buli minyak wangi narwastu murni, telah menyatakan nilai Kristus. Minyak narwastu dalam buli-buli itu, bukan menyatakan persembahan Maria, tetapi menyatakan berapa nilai Allah dan Kristus. Seseorang rel berkorban untuk Tuhan, itu bukan menunjukkan orang tersebut telah mengeluarkan berapa, melainkan menunjukkan berapakah harga Kristus. Para martir rela mengorbankan dirinya sendiri, bukan menyatakan berapa banyak pengorbanan mereka, melainkan menyatakan Tuhan layak mendapatkan kehidupan dan jiwa mereka. Setiap orang yang mau menderita sengsara dan mempersembahkan diri Kepada Tuhan, itu menyatakan berapa nilai Kristus; setiap orang yang mau mempersembahkan waktunya untuk Kristus, itu menyatakan berapa nilai Kristus. Orang Kristen rela mempersembahkan segala-galanya, itu tak lain dikarenakan Kristus bernilai segala-galanya.

Saya ingin menjelaskan hal ini dengan perumpamaan urusan dan harga: misalkan Anda membeli suatu barang dengan sekian banyak uang, ini berarti nilai barang yang Anda beli itu seharga sekian. Harga benda itu selalu sebanding dengan nilai benda itu. Berapa besar harga yang kita keluarkan, berapa banyak pula barang yang kita dapatkan. Kalau sebuah arloji berharga lima dollar, Anda hanya mau membayarnya lima dollar saja, tidak mungkin mau membayarnya enam dollar. Dengan membayar lima dollar, menyatakan bahwa arloji itu bernilai lima dollar. Harga lima dollar Anda sama dengan nilai arloji yang lima dollar itu; sebab harga selalu sebanding dengan nilai. Begitu pula dengan harga yang Anda keluarkan bagi Tuhan, menyatakan berapa nilai Tuhan bagi Anda.

Murid-murid berpendapat, bahwa tiga ratus dinar lebih itu dapat disedekahkan kepada banyak orang miskin, mungkin cukup untuk menghidupi mereka beberapa bulan. Kalau demikian, maka uang ini akan berguna untuk perkara-perkara secara praktis. Dewasa ini justru ada dua golongan orang yang demikian di dalam gereja. Segolongan orang merasa harus mempersembahkan segala-galanya bagi Tuhan sebab merasa Tuhan patut dikasihi; mereka tidak mempedulikan untung atau rugi, sukses atau gagal, mereka hanya memperhatikan ingin menyukakan hati Tuhan saja; mereka mau melakukan apa saja untuk Tuhan, sekalipun itu sangat merugikan dirinya. Segolongan lainnya berpendapat, bahwa segala-galanya harus diletakkan pada tempat yang bermanfaat. Di mana ada gunanya, letakkanlah di situ; di mana ada hasil, letakkanlah di sana. Jika Anda mau berbuat demikian, Anda akan membawa lebih banyak orang beroleh selamat; jika Anda mau berbuat demikian, Anda akan lebih banyak membantu orang; jika Anda mau berbuat demikian, pekerjaan Anda akan semakin besar. Saudara saudari, konsepsi pragmatis sedemikian ini adalah prinsip Yudas!

"Untuk apa pemborosan ini? Sebab minyak itu dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin." Perkataan ini pertama kali diucapkan oleh Yudas, kemudian murid-murid lainnya ikut mengatakan demikian. Keadaan Yudas yang tertulis dalam Injil Yohanes ini tidak tertulis dalam Injil lainnya. Yudas benar-benar seorang ahli ekonomi. Begitu ilmu ekonomi masuk ke dalam hati kita, kasih akan segera keluar dari dalam hati kita. Kalau kita dapat berekonomi dengan Kristus, maka kasih pasti akan keluar. Yang diperhatikan kebanyakan orang sekarang ini ialah, jika kita berbuat begini, pasti akan lebih berhasil; jika kita berbuat begitu, pasti akan lebih efisien. Namun Tuhan akan bertanya, "Apakah perkara itu untuk-Ku?" Tuhan akan berkata kepada kita, "Karena orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu." Perkataan ini sangat serius. Dengan kata lain, "Kamu mempunyai sangat banyak waktu untuk bekerja, tetapi kesempatan kamu untuk mengasihi Tuhan hanya pada saat Tuhan masih hidup." Han ini adalah satu-satunya waktu untuk kita menyatakan kasih kepada Tuhan. Kita mempunyai banyak sekali waktu untuk bekerja pada masa kerajaan seribu tahun. Matius 25 mengatakan, "Barangsiapa setia di dalam perkara kecil, maka Tuhan akan menyuruhnya melakukan perkara yang besar." Jadi waktu kita untuk melakukan perkara besar adalah dalam kerajaan seribu tahun! Oh, banyak sekali orang miskin, banyak sekali pekerjaan, tetapi persoalannya hari ini: bagaimanakah hati kita dalam mengasihi Tuhan? Saya tidak mengatakan, bahwa kita tidak dapat mengasihi Tuhan di dalam masa kekekalan kelak, tetapi kesempatan kita untuk menyatakan kasih kepada Tuhan adalah pada hari ini. Pada hari itu, kita tampak Tuhan dan pasti mengasihiNya, itu tidak heran. Namun hari ini, meskipun kita tidak melihat Tuhan, namun kita mengasihiNya, inilah yang paling indah. Betapa baiknya, pada hari ini kita dapat percaya dan mengasihiNya, meskipun kita belum melihamya! Ditinjau dari sudut kasih, tidak ada satu perkarapun yang tidak layak kita lakukan untuk Tuhan; tidak ada satupun barang yang kita korbankan bagiNya, yang kita gunakan untukNya, boleh dianggap sebagai pemborosan, sebagai yang merugikan. Ditinjau dari sudut duniawi, penggunaan tiga ratus dinar oleh Maria itu tidak pragmatis, bahkan suatu pemborosan dan sungguh ceroboh. Lain halnya dengan Yudas yang realistis dan selalu memperhatikan keperluan orang, ini sungguh berpikiran bijaksana. Tetapi Tuhan justru mengharapkan dalam gereja penuh dengan Maria yang "ceroboh" itu, Tuhan tidak ingin seorangpun seperti Yudas yang "bijak". Di sini Tuhan telah membuat satu ketetapan yang berlaku untuk selamanya bagi gereja, yaitu prinsip penghidupan gereja bukanlah pragmatisme, melainkan mengasihi Kristus.

Selain itu, masih ada lagi satu perkara yang harus kita perhatikan. Kita harus hati-hati, janganlah kita menggunakan kekuatan jiwa dan kekuatan daging kita. Kita harus membatasi diri, mengekang diri sendiri, lebih-lebih tidak memakai kepintaran sendiri dan kekuatan sendiri untuk bekerja agar pekerjaan menjadi lebih besar dan berkembang. Banyak pekerjaan yang kelihatannya seperti untuk Tuhan, padahal bukan untuk Tuhan; kelihatannya seperti untuk memajukan kerajaan Kristus, padahal bukan. Sayang sekali, bahwa pekerjaan-pekerjaan mereka Itu hanyalah ibarat menjual minyak wangi lalu disedekahkan kepada orang-orang miskin. Sungguhpun kita dapat bersedekah kepada lima puluh atau lima ratus, bahkan lima ribu atau lima puluh ribu orang miskin, tetapi di kepala Tuhan Yesus tidak ada minyak yang diurapkan, apakah gunanya? Hari ini, banyak orang yang memperhatikan orang-orang miskin (orang dosa, gereja, pekerjaan), tetapi mereka telah 1upa, bahwa di kepala Tuhan tidak ada minyak wangi. Berapa banyak yang dilakukan untuk perkenan Tuhan? Hari ini sangat sedikit orang yang sebagai "bahan besar untuk pekerjaan kecil." Puji syukur kepada Allah! Sejak zaman Tuhan Yesus sampai hari ini, masih ada orang-orang yang mau memboroskan diri bagi Tuhan. Paulus adalah salah seorang yang demikian. Ketika dia masih muda, dia sudah memiliki kedudukan ditengah-tengah bangsa Yahudi. Dia mempunyai harapan besar untuk menjadi salah satu bintang yang cemerlang dalam sejarah orang Yahudi. Tetapi dia malah menjadi murid Yesus, orang Nazaret. Bukankah ini berarti telah memboroskan hidupnya? Sebagai anak didik guru besar Gamaliel, pengetahuan filsafatnya sangat tinggi, yang memungkinkan dirinya menjadi ahli filsafat ternama di zamannya itu. Namun dia malah menjadi pengikut tukang kayu Galilea, bukankah ini berarti telah memboroskan dirinya? Jika kita melihat sejarah gereja sejak zaman lalu, ternyata orang yang sepertiPaulus ini sangat banyak. Seandainya orang-orang yang bertalenta, berilmu, berpeta lidah, pandai seperti itu berkecimpung di dalam bidang politik, sastra, perdagangan, filsafat atau ilmiah, mereka tentu akan menjadi orang yang melebihi kebanyakan orang. Tetapi ape yang mereka lakukan oleh orang-orang dunia dianggap memboroskan atau menyia-nyiakan hidup semata. Syukur kepada Allah, Kristus bernilai segala-galanya. Orang-orang itu hanya ibarat satu demi satu buli-buli minyak wangi yang tertuang di atas kepala Tuhan. Tetapi orang-orang dunia mengatakan, bahwa mereka telah memboroskan hidupnya; bahkan dalam gerejapun ada orang-orang yang juga berkata, bahwa mereka telah menyia-nyiakan hidupnya.

Masalahnya tidak berhenti sampai di sini. Di dalam perhimpunan yang disebut gerejapun, sangat berkemungkinan menjadi seorang yang "bukan pemboros." Banyak orang telah membawa pragmatisme ke dalam gereja. Mereka selalu menghitung-hitung modal dan membicarakan keuntungan. Yang mereka pikirkan hanya pekerjaan, bukan diri Tuhan. Yang mereka perhatikan adalah keperluan atau kebutuhan, bukan perkenan hari Tuhan. Yang mereka perhatikan adalah hasilnya: berapa orang yang beroleh selamat, berapa orang yang mendapat bantuan; tetapi bukan menjalankan kehendak Tuhan dengan serius dan tutus. Hari ini Tuhan secara khusus mencelikkan mata kita, agar kita tampak betapa pragmatisme adalah paham yang ditolak oleh Tuhan. Syukur kepada Allah, kita hidup di sini tidak perlu menghiraukan orang miskin - termasuk segala sesuatu yang diwakili orang miskin --, kita cukup memperhatikan perkenan Tuhan saja. Jika tidak, alangkah sulitnya ini. Sebab jika tidak ada orang yang cerdik pandai, tentulah tidak dapat melakukannya dengan baik.

Bahaya yang besar dari pragmatisme ialah ia dapat menggantikan apa yang diperkenan Tuhan. la memang lebih baik daripada kenajisan duniawi, namun ia bukan kehendak Tuhan. Orang yang bodoh mudah sekali mengira, bahwa pragmatisme adalah paham yang bisa menyenangkan Allah.

Hari ini dalam gereja dewasa sering timbul pertanyaan, "Apakah pekerjaan ini besar? Dapatkah membuat laporan? Adakah faedah-faedah yang nyata?" Ditinjau dari sudut ilmu ekonomi dunia, memang Yudas lebih bijak daripada Maria, sebab itu dapat disedekahkan kepada orang miskin untuk mereka hidup beberapa bulan, lebih banyak orang yang akan memperoleh manfaatnya; Yudas mementingkan kegunaan dan faedah yang nyata. Tetapi tujuan keselamatan bukan mementingkan soal Anda dan saya naik ke surga, melainkan memperhatikan hubungan Anda dan saya dengan Kristus. Bukan hubungan antara Anda dengan saya, melainkan hubungan antara Anda dan saya dengan Kristus. Seseorang boleh saja menyelamatkan banyak orang, bersedekah kepada banyak orang miskin, dan membantu banyak orang di dunia ini, namun Tuhan berkata padanya, "Aku mencela engkau, karena engkau meninggalkan kasihmu yang semula" (Wahyu 2:2-4). Seseorang boleh memiliki banyak pekerjaan, berjerih payah dan banyak perbuatan lainnya, tetapi sudah kehilangan satu perkara, yaitu kasih.

Misalkan, ada seorang isteri, setiap hari ia sibuk melayani suaminya, juga taat kepada suaminya, tapi bersamaan dengan itu hatinya mencintai laki-laki lain, dapatkah sang suami menerima hal ini? Jika itu Anda, mungkin Anda lebih senang memiliki seorang isteri yang tidak begitu pandai bekerja, namun mengasihi Anda dengan sebulat hatinya. Jika ia bekerja untuk Anda, tetapi hatinya untuk orang lain, Anda pasti tidak menyenanginya. Karena itu, yang Allah perkenan bukanlah kita memberi sedekah kepada tiga puluh atau lima puluh orang miskin, yang Allah perkenan bukanlah pekerjaan yang besar, yang Allah perkenan bukanlah pelayanan kita terhadapNya; yang Allah inginkan ialah kita mencurahkan segenap hati kita kepadaNya. Sebab itu, kita harus tampak dua prinsip yang besar ini: Ada segolongan orang berkata, bahwa yang paling berharga bagi mereka adalah segala-gala mereka, jiwa raga mereka, seluruhnya dicurahkan ke atas diri Tuhan; segolongan orang lagi yang mulutnya mengatakan untuk Tuhan, namun hatinya untuk pekerjaan dan "kegunaan." Hari ini, orang-orang mau yang "berguna," mereka takut kehilangan "kegunaannya." Namun syukur kepada Allah, hari ini di bumi masih ada orang yang tidak mempunyai "kegunaan". Syukur kepada Allah, hari ini di bumi ada orang yang telah memboroskan "kegunaan" dirinya, tetapi telah membuat Kristus mendapatkan sesuatu.

Miss Barber yang sering saya sebutkan, dalam pandangan saya, di antara manusia yang hidup di bumi saat ini, hampir tidak ada seorangpun seperti dia yang begitu mirip dengan Maria. Dia benar-benar telah memboroskan dirinya bagi Tuhan. Pada waktu pemakamannya, seorang saudara menceritakan kisah Maria, dikatakannya bahwa ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya, seperti yang dilakukan oleh Maria. Saya rasa, perkataan saudara itu sangat tepat. la benar-benar mirip Maria. Sekarang ini, sulit sekali menemukan orang yang seperti dia. Ketika ia masih hidup, saya pernah bertanya kepadanya, "Apakah syaratnya untuk bekerja bagi Allah?" la menjawab, "Syarat untuk bekerja bagi Allah ialah mau tidak bekerja bagi Allah." Orang yang sudi berdiam diri di batik pintu bagi Allah, mau menjadi orang yang tidak dikagumi demi Allah, orang yang demikianlah yang layak melakukan pekerjaan Tuhan.

"Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik padaKu" (Matius 26:10). "la telah melakukan apa yang dapat dilakukannya" (Markus 14:8). Dengan perkataan lain, segala sesuatu Maria ada di sini. Anda dan saya perlu memiliki satu penilaian untuk menggunakan segala kita ke atas diri Kristus. Dengan perkataan lain lagi, yaitu memboroskan segalanya ke atas diri Kristus. Jika Anda hari ini masih belum memboroskan sampai habis, itu belum cukup. Syukur kepada Allah, hari ini banyak orang yang kalau tidak memboroskan dirinya, akan menjadi orang-orang yang sangat berguna. Mereka bisa menjadi sastrawan, ilmuwan, atau dokter. Namun mereka telah memboroskan diri sampai habis pada diri Kristus. Hari ini Allah memanggil orang untuk memboroskan diri bagi Kristus! Saudara saudari, sudahkah Anda melakukan apa yang dapat Anda lakukan? Tuhan dapat berkata kepada Maria, bahwa ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya! Sudahkah Anda melakukan apa yang dapat Anda lakukan? Oh! Sampai di mana Injil diberitakan, pemborosan juga diberitakan di situ! Sampai di mana Injil diberitakan, di situ pula terdapat banyak orang yang membuang kegunaan dan pekerjaannya yang lebih besar demi Tuhan. Sampai di mana Injil diberitakan, di situ lenyaplah hati yang mementingkan hasil dan keuntungan. Sampai di mana Injil diberitakan, di situ segala-galanya dicurahkan ke atas diri Kristus. Yang tercurah ke atas diri Kristus, tidak ada satupun yang boros, tidak ada satupun yang sia-sia, melainkan semuanya adalah Syukur kepada Allah, orang miskin dan pekerjaan tidak terbilang apa-apa. Persoalannya bukan orang miskin mendapatkan bantuan apa, masyarakat mendapatkan faedah apa, negara mendapatkan manfaat apa, melainkan apa yang Tuhan dapatkan? Hari ini, orang-orang di dalam gereja bertanya, "Orang-orang miskin, saudara saudari, masyarakat dan negara sudah mendapatkan apa?" Tetapi kita harus bertanya, "Tuhan mendapatkan apa?" Oh, semoga setelah Injil diberitakan di sini, kisah Mariapun diberitakan di sini. Semoga setelah Injil diberitakan di sini, orang-orang yang menjadi Mariapun bertambah banyak di sini.