KEHIDUPAN YANG SEPENUHNYA SESUAI DENGAN DAN BAGI EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH (2)
Pembacaan Alkitab: Gal. 2:11-21; Mrk. 1:1
Dalam berita-berita di depan telah kita tunjukkan bahwa dalam Injil Markus kita nampak suatu kehidupan yang sepenuhnya sesuai dengan dan bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah. Istilah “ekonomi Perjanjian Baru Allah” akrab untuk sebagian besar dari kita. Namun, untuk menyegarkan pengertian kita, marilah kita perhatikan secara sederhana dan mendasar, apakah ekonomi Perjanjian Baru Allah itu.
EKONOMI ALLAH
Ekonomi Perjanjian Baru Allah adalah menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya untuk membu-at mereka menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus sehingga Kristus dapat memiliki satu Tubuh bagi ekspresi-Nya. Da-lam penjelasan tentang ekonomi Perjanjian Baru Allah ini kita nampak beberapa hal yang penting: Allah ingin meng-garapkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya, Allah ingin membuat umat-Nya menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus, gereja; dan Tubuh Kristus adalah untuk mengeks-presikan Kristus. Dalam Injil Markus kita nampak kehi-dupan yang sepenuhnya sesuai dengan dan bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah.
DUA JENIS KEHIDUPAN
Sebagaimana telah kita tunjukkan, jika kita banding-kan Surat Yakobus dengan Injil Markus, kita akan nampak bahwa kitab-kitab ini menyajikan dua jenis kehidupan. Da-lam Surat Yakobus kita nampak kehidupan Yakobus, dan dalam Injil Markus kita nampak kehidupan Tuhan Yesus. Masing-masing kitab ini membantu kita memahami kitab yang lain. Tanpa Injil Markus kita mungkin tidak jelas me-ngenai Surat Yakobus. Sama halnya, tanpa Surat Yakobus kita mungkin tidak memiliki pengertian yang sedemikian jelas akan Injil Markus. Bila kita bandingkan kedua kitab ini dan nampak dua kehidupan yang diwahyukan di dalam-nya, kita memiliki pengertian yang tepat baik tentang Surat Yakobus maupun Injil Markus.
REPUTASI DAN PENGARUH YAKOBUS
Karena Surat Yakobus menekankan praktek kristiani yang sempurna, maka banyak orang Kristen memiliki apre-siasi yang mendalam terhadap kitab ini. Sebagaimana telah kita tunjukkan dalam Pelajaran-Hayat Yakobus, Yakobus menekankan kesempurnaan orang Kristen, dan dia menekan-kan hal ini dalam praktek, bukan dalam doktrin. Karena itu, banyak orang beriman yang beribadah, setia, dan saleh menyukai Kitab Yakobus. Yakobus menyuruh kita berdoa minta hikmat sehingga kita dapat berperilaku dengan tepat. Dia juga mendorong kita membatasi pembicaraan kita, me-ngendalikan lidah kita, sehingga kita dapat menempuh hi-dup yang saleh. Dalam setiap pasal Surat Kiriman ini, dia mengemukakan hal-hal yang berkaitan dengan ibadah.
Dalam sejarah gereja sama seperti dalam Alkitab, Yakobus dikenal karena kesalehannya. Dia meluangkan ba-nyak waktu dalam doa, dan dia sangat dihormati di antara orang Yahudi Kristen. Menurut Kisah Para Rasul 15 dan 21 dan Galatia 2, Yakobus sangat dihormati oleh kaum beriman. Sebagai contoh, Galatia 2:12 menyebut beberapa orang “dari kalangan Yakobus”. Menurut ayat ini, ketika orang-orang itu datang ke Antiokhia, Petrus “mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut terhadap saudara-saudara yang bersu-nat”. Ini adalah suatu ilustrasi dari pengaruh Yakobus. Bahkan Petrus, rasul terkemuka, berada di bawah pengaruh Yakobus.
Secara geografis, Yerusalem berada di sebelah selatan, dan Antiokhia berada di sebelah utara. Banyak guru Alki-tab menganggap kedua kota ini sebagai dua pusat yang besar. Ada satu gereja di Yerusalem (Kis. 8:1), dan satu di Antiokhia (Kis. 13:1).
Dari pembacaan Kitab Kisah Para Rasul, tampaknya gereja di Yerusalem memiliki penampilan Yahudi dan ge-reja di Antiokhia memiliki penampilan bukan Yahudi. Mungkin ada yang berpikir bahwa karena Yerusalem berada di Yudea dan Antiokhia berada di daerah bukan Yahudi, gereja di Yerusalem perlu memiliki penampilan Yahudi dan gereja di Antiokhia perlu memiliki penampilan bukan Yahudi. Mungkin Anda mengatakan, “Bagaimana bi-sa gereja di Yerusalem, kota orang Yahudi, tidak berpenam-pilan Yahudi? Mana mungkin gereja di Antiokhia tidak ber-suasana bukan Yahudi? Tentunya, gereja-gereja di Jepang memiliki penampilan Jepang, dan gereja-gereja di Amerika memiliki penampilan Amerika.” Ini mungkin logis dari su-dut pandang manusia. Tetapi Perjanjian Baru mewahyukan bahwa gereja bukanlah milik orang Yahudi atau orang bu-kan Yahudi. 1 Korintus 10:32 membicarakan tiga kate-gori orang: Yahudi, bukan Yahudi (Yunani), dan jemaat Allah. Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa gereja adalah se-suatu yang terpisah baik dari orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi, Allah telah memanggil umat pilihan-Nya ke-luar baik dari orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi untuk menjadi gereja. Karena itu, gereja seharusnya bukan-lah milik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi. Jika gereja memiliki penampilan Yahudi maupun bukan Yahudi, dalam tingkat tertentu gereja telah kehilangan karakternya atau sedikitnya beberapa cirinya.
Jika kita membaca dengan teliti Kisah Para Rasul 15 dan 21 dan Galatia 2, kita akan nampak bahwa pada zaman Petrus, Paulus, dan Yakobus, Yerusalem memiliki pengaruh yang sangat besar atas Antiokhia. Ini berarti gereja di Yerusalem memiliki pengaruh atas gereja-gereja di dunia bukan Yahudi. Yakobus mungkin khawatir gereja-gereja di tanah bukan Yahudi tidak mempraktekkan hukum Musa. Mungkin ini adalah alasannya mengirim beberapa saudara dari Yerusalem ke Antiokhia. Saudara-saudara itu mungkin telah pergi ke Antiokhia untuk meneliti situasi di antara kaum beriman di sana.
Sebelum orang-orang dari kalangan Yakobus datang ke Antiokhia, Petrus berperilaku dengan tepat sebagai seorang saudara dan anggota Tubuh Kristus. Khususnya, dia ma-kan bersama orang bukan Yahudi. Seperti yang Paulus ka-takan tentang Petrus, “Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara seiman yang tidak bersunat” (Gal. 2:12). Namun, ketika beberapa saudara utusan Yakobus datang, Petrus ketakutan dan mengambil pimpinan untuk berpura-pura, yaitu berlaku sebagai orang Yahudi lagi. Paulus me-nyebut berpura-pura ini suatu kemunafikan: “Orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka” (Gal. 2:13).
Beberapa orang mungkin bertanya apakah kelakuan Petrus salah. Mungkin tampaknya tidak ada yang salah. Tetapi bagi mereka yang mengenal ekonomi Perjanjian Baru Allah jelas bahwa Petrus membuat kesalahan yang serius. Tindakannya dalam mengundurkan diri dan memisahkan dirinya dari kaum beriman bukan Yahudi melibatkan cam-pur aduk yang merusak ekonomi Perjanjian Baru Allah.
MENGAMBIL ALLAH SEBAGAI HAYAT DAN MEMPERHIDUPKAN DIA
Ekonomi Perjanjian Baru Allah bukan soal memelihara hukum Taurat atau mempraktekkan liturgi agama. Ekonomi Allah juga bukan hanya soal berbuat baik menurut etika manusia atau filsafat. Ekonomi Perjanjian Baru Allah ada-lah perihal Allah menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya sehingga mereka bisa memiliki-Nya, Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh — sebagai hayat mere-ka. Ketika umat Allah memiliki hayat-Nya, mereka dengan otomatis mampu menempuh hidup seperti ini. Memperhidup-kan hayat Allah tidak lain berarti hidup berdasarkan Allah dan bahkan memperhidupkan Allah itu sendiri. Karena itu, ekonomi Allah bukanlah soal memelihara hukum Taurat Yahudi atau berbuat baik menurut filsafat manusia; tetapi adalah soal memiliki Allah sebagai hayat dan kemudian memperhidupkan Dia. Kita semua sangat perlu nampak hal ini.
Sejak zaman para rasul sampai saat ini, ada begitu banyak perdebatan mengenai pengajaran alkitabiah dan teologi. Kebanyakan dari perdebatan ini adalah akibat dari satu hal — kehilangan sasaran ekonomi Perjanjian Baru Allah. Se-panjang abad, guru-guru Kristen telah berperang membela doktrin dan praktek, tetapi fokus dari ekonomi Perjanjian Baru Allah telah diabaikan. Adalah suatu kerugian besar ke-hilangan ekonomi Perjanjian Baru Allah!
Orang-orang Kristen tertentu, terutama mereka yang disebut orang kudus, berdebat mengenai model pakaian yang tepat. Sebagai contoh, mereka mungkin berdebat tentang panjang gaun atau lengan baju saudari. Ini adalah ilustrasi yang sangat sederhana tentang bagaimana kaum beriman disimpangkan dari ekonomi Perjanjian Baru Allah. Kita per-caya, jika kaum beriman nampak bahwa dalam ekonomi-Nya, Allah ingin menggarapkan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya agar mereka dapat memiliki-Nya sebagai hayat mereka dan memperhidupkan Dia, kita tidak perlu berdebat mengenai cara berpakaian siapa pun.
Jika kita membaca dengan teliti Galatia 2:11-21, kita akan nampak bahwa atmosfer di Antiokhia berubah setelah utusan Yakobus datang. Sebelum saudara-saudara itu da-tang, Petrus dan kaum beriman lainnya di Antiokhia ber-ada dalam atmosfer khusus, atmosfer menikmati ekonomi Perjanjian Baru Allah. Tetapi kemudian, karena pengaruh Yakobus, atmosfer rohani berubah, dan langit rohani men-jadi berawan. Sesuatu telah masuk untuk mengaburkan ekonomi Perjanjian Baru Allah.
Situasi di Antiokhia begitu serius sehingga Paulus me-nentang Petrus terang-terangan (Gal. 2:11). Paulus mem-beri Petrus suatu pelajaran yang sangat bagus. Menurut Galatia 2:14, Paulus berkata kepada Petrus di depan semua orang, “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup seperti orang bukan Yahudi dan tidak seperti orang Yahudi, bagaimana engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersu-nat untuk hidup seperti orang Yahudi?”
Perkataan Paulus yang dikatakan pada kesempatan itu berlanjut sampai Galatia 2:21. Anda mungkin sering me-ngutip Galatia 2:19, terutama perkataan, “Aku telah disalib-kan dengan Kristus,” tanpa menyadari apakah konteks dari ayat itu. Konteks ini dimulai dari ayat 11 dan mencakup teguran terbuka Paulus terhadap Petrus. Teguran Paulus me-nekankan fakta bahwa kita yang percaya ke dalam Kristus seharusnya hanya memiliki satu jenis kehidupan, dan kehi-dupan ini adalah memperhidupkan Kristus. Ini bukanlah soal makan dengan orang bukan Yahudi atau tidak makan dengan mereka. Sebaliknya, ini adalah soal disalibkan de-ngan Kristus dan Kristus hidup dalam kita. Karena itu, Paulus dapat mengatakan, “Karena aku telah disalibkan dengan Kristus dan Kristus hidup di dalamku, maka bukan lagi aku sendiri yang hidup dalam hal makan. Soalnya bukanlah apakah aku makan atau tidak makan dengan orang bukan Yahudi. Soalnya adalah apakah Kristus hidup di dalamku.”
BAGAIMANA MENGUKUR SURAT YAKOBUS
Yakobus adalah seorang yang beribadah, sangat kuat dalam praktek kristiani yang sempurna. Tetapi jika kita me-nilai dia menurut ekonomi Perjanjian Baru Allah, kita akan nampak kekurangan dalam kehidupannya. Dalam Surat Kirimannya Yakobus tidak mengatakan apa pun tentang Kristus hidup di dalam kita. Faktanya, dia bahkan tidak berbicara mengenai hayat ilahi. Sebaliknya, Yakobus mem-perkenalkan kita dengan umat Perjanjian Lama dan praktek Perjanjian Lama. Kebanyakan dari apa yang ditulisnya ber-dasar pada Perjanjian Lama. Dalam Surat Kirimannya kita tidak menemukan banyak istilah Perjanjian Baru. Bahkan ketika dia menggunakan ekspresi Perjanjian Baru, dia se-gera berbalik kepada praktek Perjanjian lama.
Kita tidak sepatutnya menilai Surat Yakobus menurut konsepsi alamiah, konsepsi etika, atau konsepsi agamawi. Sebaliknya, kita perlu menilai Surat Kiriman ini menurut ekonomi Perjanjian Baru Allah. Kita tahu bahwa ekonomi Allah adalah menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita sebagai hayat kita sehingga kita dapat memperhidupkan Dia sebagai anggota-anggota Tubuh Kristus. Bila kita meng-gunakan hal ini untuk mengukur Surat Yakobus, kita akan mampu nampak di manakah kitab ini berdiri dalam kaitan-nya dengan kitab-kitab lain dari Perjanjian Baru.
Selama beberapa abad, status dari Surat Yakobus tidak jelas, pada Konsili Carthage tahun 397 M, barulah kitab ini secara resmi diakui sebagai bagian dari Perjanjian Baru. Sa-lah satu alasan perdebatan mengenai Surat Yakobus adalah dilihat dari ekonomi Perjanjian Baru Allah, kitab ini tidak hitam atau putih, tetapi abu-abu. Ini berarti Surat Kiriman ini adalah campuran dari Perjanjian Lama dengan Perjan-jian Baru. Dalam aspek-aspek tertentu Kitab Yakobus me-miliki warna Perjanjian Baru. Sebagai contoh, perkataan mengenai Bapa terang yang melahirkan kita sehingga kita dapat menjadi yang sulung dari ciptaan-Nya (1:18). Contoh-contoh yang lain adalah apa yang Yakobus katakan menge-nai firman yang tertanam, hukum yang memerdekakan, dan Roh yang ditempatkan dalam kita (1:21, 25; 4:5). Semua hal itu adalah milik ekonomi Perjanjian Baru Allah, tetapi semua itu terdapat dalam sebuah Surat Kiriman yang meng-emban warna dan cita rasa yang kuat dari Perjanjian Lama. Inilah alasan kita menunjukkan bahwa dalam kitab ini kita nampak kehidupan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan dan bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah.
KEHIDUPAN YANG DIWAHYUKAN
DALAM INJIL MARKUS
Ketika kita kembali dari Surat Yakobus kepada Injil Markus, kita nampak satu kehidupan yang sama sekali tidak abu-abu. Sebaliknya, kehidupan yang diwahyukan da-lam Injil Markus, kehidupan Tuhan Yesus sebagai Hamba-Penyelamat, sepenuhnya “putih”. Ini berarti kehidupan Tuhan yang diwahyukan dalam Injil Markus sepenuhnya sesuai dengan dan bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah.
Meskipun Injil Markus mencatat kehidupan yang sepenuhnya sesuai dengan dan bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah, kita masih memerlukan daya pandang rohani untuk dapat melihat apa yang diwahyukan dalam Injil ini. Jika kita tidak memiliki daya pandang rohani ini, kita mungkin menganggap Injil Markus hanya sebagai buku cerita. Tan-pa daya pandang sedemikian, kita tidak akan memahami bahwa hal ini adalah suatu biografi kehidupan yang sepe-nuhnya sesuai dengan dan bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah. Sesungguhnya, kehidupan yang disajikan dalam Injil Markus adalah realitas, substansi, dan pola dari ekonomi Perjanjian Baru Allah.