← Daftar isi Markus (2) · bab 6/25

KEBANGKITAN DAN KENAIKAN HAMBA PENYELAMAT DAN PENYEBARAN INJIL NYA MELALUI MURID-MURID-NYA

Pembacaan Alkitab: Mrk. 16:1-20

Markus 16 membahas tiga masalah: kebangkitan Hamba-Penyelamat (ayat 1-18), kenaikan Hamba-Penye-lamat bagi peninggian-Nya (ayat 19), dan penyebaran Injil ke segala penjuru oleh Hamba-Penyelamat melalui murid-murid-Nya (ayat 20).

DITEMUKAN OLEH TIGA ORANG PEREMPUAN

Dalam 16:1-8 kebangkitan Tuhan Yesus ditemukan oleh tiga perempuan — Maria Magdalena, Maria Ibu Yakobus, dan Salome (ayat 1). Dalam ayat 6 malaikat berkata ke-pada mereka, “Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia.” Kebangkitan Hamba-Penyelamat adalah bukti bahwa Allah telah dipuaskan dengan apa yang dirampungkan melalui kematian-Nya. Hal ini juga satu penegasan dari keefektifan kematian-Nya yang menebus dan menyalurkan hayat (Kis. 2:24; 3:15). Kebangkitan-Nya menjadi dasar pembenaran kita (Rm. 4:25) dan kekuatan yang dapat membebaskan kita dari dosa (1 Kor. 15:17).

Menurut ayat 7, malaikat berkata kepada perem-puan itu, “Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului ka-mu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu.” Dalam pesan malaikat kepada ketiga saudari yang menemukan ke-bangkitan Hamba-Penyelamat, frase “dan kepada Petrus” hanya disisipkan dalam catatan Injil Markus. Ini mung-kin disebabkan oleh pengaruh Petrus terhadap isi Injil ini. Bagaimanapun, frase ini menunjukkan kekhasan hubungan akrab Petrus dengan Hamba-Penyelamat, se-hingga malaikat pun menekankannya.

PERGI KE GALILEA

Dalam ayat 7 malaikat berkata bahwa Tuhan Yesus pergi mendahului murid-murid ke Galilea. Sama seperti Hamba-Penyelamat memulai ministri-Nya dari Galilea, milik bangsa-bangsa lain (Mat. 4:12-17), bukan dari Yerusalem, kota kudus dari agama Yahudi, maka se-sudah bangkit Dia masih akan pergi ke Galilea, tidak ke Yerusalem. Hal ini dengan kuat menunjukkan bahwa Hamba-Penyelamat yang bangkit sama sekali telah me-ninggalkan Yudaisme dan memulai suatu zaman yang baru bagi ekonomi Allah dalam Perjanjian Baru.

MEMBERITAKAN INJIL KEPADA SEGALA MAKHLUK

Dalam 16:9-11 Tuhan Yesus menampakkan diri kepada Maria Magdalena; dalam ayat 12-13, kepada dua orang mu-rid-Nya; dan dalam ayat 14-18, kepada kesebelas murid. Dalam ayat 15 Dia berkata kepada mereka, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Ini mewahyukan bahwa penebusan Allah yang dirampung-kan oleh Hamba-Penyelamat melalui kematian dan kebang-kitan-Nya tidak hanya untuk manusia, yang paling utama dalam ciptaan Allah, tetapi juga untuk segenap ciptaan. Karena itu, semua makhluk, baik yang di bumi maupun di surga, telah diperdamaikan dengan Allah, dan Injil harus diproklamasikan kepada segenap ciptaan di kolong langit (Kol. 1:20, 23). Berdasarkan hal ini, maka segenap ciptaan mengharapkan untuk dibebaskan dari perbudakan kebina-saan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah (Rm. 8:19-22).

PERCAYA DAN DIBAPTIS

Dalam ayat 16 Tuhan meneruskan perkataannya kepa-da murid-murid-Nya, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihu-kum.” Percaya berarti menerima Hamba-Penyelamat (Yoh. 1:12), tidak hanya untuk pengampunan dosa-dosa (Kis. 10:43), tetapi juga untuk kelahiran kembali (1 Ptr. 1:21, 23), supaya siapa saja yang percaya, dapat menjadi anak Allah (Yoh. 1:12-13) dan anggota Tubuh Kristus (Ef. 5:30) dalam kesatuan yang organik dengan Allah Tritunggal (Mat. 28:19). Dibaptis berarti menegaskan hal ini dengan dikuburkan guna mengakhiri ciptaan lama melalui kematian Hamba-Penye-lamat, dan dengan dibangkitkan menjadi ciptaan baru Allah melalui kebangkitan Hamba-Penyelamat. Baptisan yang se-demikian ini jauh lebih maju daripada baptisan pertobatan oleh Yohanes (Mrk. 1:4; Kis. 19:3-5).

Percaya dan dibaptis merupakan dua bagian dari satu langkah yang lengkap untuk menerima keselamatan Allah yang sempurna. Dibaptis tanpa percaya hanyalah upacara agama yang kosong; percaya tanpa dibaptis berarti hanya diselamatkan pada bagian batiniah tanpa penegasan lahiri-ah dari keselamatan yang di dalam itu. Kedua hal ini harus berjalan seiring. Selain itu, baptisan air harus disertai de-ngan baptisan Roh, sama seperti umat Israel yang dibaptis di dalam laut (air) dan di dalam awan (Roh) — 1 Korintus 10:2 dan 12:13.

Markus 16:16 tidak mengatakan, “Siapa yang tidak percaya dan tidak dibaptis akan dihukum.” Ini menunjuk-kan bahwa penghukuman hanya berhubungan dengan ke-tidakpercayaan; tidak berhubungan dengan tidak dibaptis. Percaya saja sudah cukup bagi seseorang untuk menerima keselamatan dari penghukuman; tetapi baptisan diperlukan sebagai satu penegasan lahiriah untuk kelengkapan kesela-matan batiniah seseorang.

Dalam 16:17-18 Tuhan Yesus melanjutkan, “Tanda-tan-da ini akan menyertai orang-orang yang percaya: Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, me-reka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun yang mematikan, mereka tidak akan mendapat ce-laka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” Di sini kita nampak bahwa berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru hanya merupa-kan salah satu dari lima tanda yang menyertai kaum ber-iman yang telah diselamatkan. Ini bukan tanda satu-satu-nya, bertentangan dengan yang ditekankan oleh beberapa orang beriman. Berdasarkan wahyu ilahi dalam Kitab Kisah Para Rasul dan Surat-surat Kiriman, apa yang Tuhan ka-takan di sini bukan berarti setiap orang beriman yang ber-oleh selamat harus mempunyai kelima tanda ini. Ini berarti setiap orang beriman yang beroleh selamat mungkin mem-punyai beberapa dari tanda-tanda ini, tetapi tidak harus semuanya.

KENAIKAN HAMBA-PENYELAMAT

BAGI PENINGGIAN-NYA

Aspek-aspek dari Kristus yang Naik ke Surga

Dalam ayat 19 tercantum kenaikan Hamba-Penyelamat: “Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.” Kenaikan Hamba-Penyelamat bagi peninggian-Nya oleh Allah adalah satu tanda penerimaan Allah atas semua yang telah Ia lakukan bagi rencana kekal Allah sesuai dengan ekonomi Perjanjian Baru Allah (Kis. 2:33-36). Dalam peninggian ini Allah memahkotai-Nya dengan kemuliaan dan hormat (Ibr. 2:9), memberi-Nya nama di atas segala nama (Flp. 2:9), dan menjadikan-Nya Tuhan dari semuanya (Kis. 2:36) dan Ke-pala atas segala yang ada (Ef. 1:22), supaya Ia memiliki se-mua kuasa di surga dan di bumi (Mat. 28:18) untuk meme-rintah langit, bumi, dan bangsa-bangsa, agar mereka dapat bekerja sama demi menyebarluaskan pelayanan Injil-Nya ke seluruh dunia.

Melalui kenaikan-Nya, Kristus telah ditinggikan sam-pai tingkat tertinggi, Dia telah dijadikan Tuhan, Kristus, Kepala gereja, dan Kepala atas segala sesuatu bagi gereja. Selain itu, Dia telah didudukkan di takhta, dimahkotai de-ngan kemuliaan dan hormat, dan diberikan nama di atas segala nama.

Mengalami Kristus yang Naik ke Surga

Untuk mengalami Yesus sebagai Tuhan, Kristus, Ke-pala gereja, Kepala atas segala sesuatu, dan Yang duduk di takhta, dimahkotai, dan diberi nama di atas segala nama, ki-ta perlu berada dalam kebangkitan. Ketika kita berada dalam realitas kebangkitan, kita berada dalam Roh pemberi-hayat. Dalam Roh itu kita mengalami Kristus yang bangkit se-bagai Tuhan, Sang terurap, dan Kepala segala sesuatu bagi gereja dan Kepala langsung terhadap gereja. Dalam realitas kebangkitan, yaitu dalam Roh yang almuhit, kita nampak bahwa Kristus ini telah dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, telah didudukkan di takhta, dan telah menerima nama di atas segala nama. Ketika kita berada dalam Roh yang sedemikian ini, semua aspek kenaikan Kristus bukan hanya doktrin belaka bagi kita, sebaliknya, adalah realitas.

Terpisah dari Roh pemberi-hayat yang membuat kena-ikan Kristus riil bagi kita, kita mungkin berpikir bahwa Kristus yang terangkat tidak ada hubungannya dengan kita dalam kehidupan kita sehari-hari. Tetapi setiap aspek dari kenaikan Kristus seharusnya merupakan bagian dari penga-laman kita setiap hari.

Jika kita ingin mengalami kenaikan Kristus, kita perlu hidup (berjalan) menurut Roh. Ketika kita hidup (berjalan) menurut Roh itu, kita hidup di dalam kebangkitan dan kenaikan Kristus. Hal ini akan membuat kita menjadi jenis orang yang berbeda. Inilah alasan saya dengan kuat menga-takan bahwa kehidupan kristisni bukanlah masalah doktrin. Apa yang kita perlukan untuk kehidupan kristiani adalah hidup menurut Roh pemberi-hayat yang tinggal dalam roh kita.

Pada tahun 1964 saya diundang untuk berbicara ke-pada kelompok kristiani tertentu yang ada di Dallas. Sela-ma menyampaikan berita, saya menunjukkan bahwa apa yang kita perlukan bukanlah doktrin, melainkan Roh itu. Beberapa orang yang mutlak untuk doktrin merasa tersing-gung, dan setelah pertemuan mereka mencoba berdebat de-ngan saya. Tetapi hari ini saya akan lebih kuat mengatakan bahwa kita perlu lebih banyak Roh itu. Sebagai pengganti doktrin yang mati, kita memerlukan Roh pemberi-hayat.

Kita dapat berada dalam Roh karena melalui kebangkitan Yesus Kristus kita telah dilahirkan kembali (1 Ptr. 1:3). Kita juga dapat berada dalam kenaikan. Dalam pengalaman kita, surga datang kepada kita, karena Roh yang almuhit membawakan surga kepada kita. Karena itu, ketika kita berada dalam Roh, kita berada dalam surga.

PENYEBARAN INJIL KE SEGALA PENJURU

OLEH HAMBA-PENYELAMAT

MELALUI MURID-MURID-NYA

Mengenai penyebaran Injil ke segala penjuru oleh Hamba-Penyelamat melalui murid-murid-Nya, Markus 16:20 mengatakan, “Mereka pun pergi memberitakan Injil ke sega-la penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.” Pemberitaan Injil Allah kepada semua makhluk (ayat 15) oleh Hamba-Penyelamat, sebagai Hamba Allah, yang dibangkitkan dan dinaikkan adalah melalui kaum beriman-Nya, yang dimulai dari Yerusalem hingga ke ujung bumi (Kis. 1:8) secara ber-kesinambungan dan menyeluruh dari abad ke abad sebelum-nya serta berlangsung terus hingga Ia datang untuk mem-bangun Kerajaan Allah di bumi (Luk. 19:12; Dan. 7:13-14).

Memberitakan di Mana-mana

Dalam 16:15 Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada se-gala makhluk.” Kemudian ayat 20 mengatakan kepada kita bahwa mereka pergi dan memberitakan di mana-mana. Ini menunjukkan bahwa kita juga seharusnya pergi untuk mem-beritakan kepada bangsa-bangsa, dan bahkan kepada segala makhluk, mengenai Hamba-Penyelamat yang ajaib, kema-tian-Nya yang almuhit, dan kebangkitan-Nya yang menak-jubkan.

Banyak Pemberita Injil

Kita telah nampak bahwa dalam Markus 1 hanya ada satu pemberita Injil. Tetapi ketika kita sampai pada akhir dari Injil ini, ada banyak pemberita Injil. Siapa yang dapat mengatakan berapa banyak pemberita Injil yang ada seka-rang? Selain itu, pemberitaan dalam Markus 1 terutama di-tujukan kepada orang Yahudi, tetapi pemberitaan pada akhir pasal 16 adalah bagi seluruh makhluk, sedikitnya kepada berbagai suku bangsa di bumi. Untuk memberitakan Injil kepada segala makhluk, kita perlu lupa diri dalam Tuhan. Jika kita tidak pernah berapi-api dalam memberitakan Injil kepada berbagai suku bangsa, itu berarti Anda tidak pernah lupa diri dalam Tuhan Yesus.

Pada hari saya diselamatkan, saya dipanggil oleh Tuhan. Saya tahu bahwa adalah nasib saya untuk memberitakan Tuhan Yesus. Namun, pemahaman saya pada saat itu ada-lah saya akan memberitakan Dia di desa tempat kelahiran saya. Sekarang saya berada di Amerika Serikat memberita-kan Tuhan kepada orang-orang dari segala benua.

Oh, marilah kita memberi tahu setiap orang tentang Tuhan Yesus yang begitu ajaib! Marilah kita memberi tahu semua orang tentang kematian Tuhan yang almuhit dan kebangkitan-Nya yang begitu menakjubkan! Janganlah kita berdiam diri, marilah kita memberitakan Injil, menyajikan kebenaran, dan menyuplaikan hayat.

Memberitakan Injil

untuk Menghasilkan Manusia Baru

Setelah melihat seluruh Injil Markus, kita dapat menga-takan bahwa kita telah mengalami berbagai jenis penyem-buhan: penyembuhan telinga, lidah, dan mata kita. Seka-rang kita bersyarat untuk berbicara bagi Tuhan. Saya harap melalui Pelajaran-Hayat Markus, kita semua dibawa masuk ke dalam Kristus sebagai pengganti kita yang menyeluruh, universal, dan almuhit. Kemudian kita akan mampu bersaksi bersama Paulus, “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:20). Setelah mengalami Kristus sebagai pengganti kita, kita akan mampu berbicara kepada segala bangsa mengenai Dia, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya.

Kita bersyukur kepada Tuhan karena Ia memberi kita visi yang jelas bahwa zaman ini adalah untuk menghasil-kan manusia baru melalui pemberitaan Injil. Segala hal — situasi dunia, hubungan internasional, ekonomi, industri, pendidikan, dan bahkan perang — adalah bagi hal ini. Me-nurut Wahyu 6, yang pertama dari keempat kuda adalah kuda putih pemberitaan Injil. Ini berarti kuda putih meng-ambil pimpinan, dan kuda yang lainnya mengikuti. Pembe-ritaan Injil harus mengambil pimpinan. Zaman ini adalah untuk pemberitaan Injil guna menghasilkan manusia baru. Sekarang karena kita telah nampak visi ini, marilah kita pergi memberitakan Injil kepada segala makhluk!