KEMATIAN DAN KEBANGKITAN HAMBA PENYELAMAT BAGI PENGGENAPAN PENEBUSAN ALLAH (4)
Pembacaan Alkitab: Mrk. 15:16-41
Dalam berita ini kita akan membahas apa yang digenapkan melalui kematian penebusan Kristus. Namun, sebelum kita sampai pada hal ini, saya ingin menyampaikan perkataan lebih lanjut mengenai Trinitas.
ALLAH TIGA-SATU
Dalam Matius 3 kita nampak tiga dari Trinitas sebagai unik yang berbeda: Bapa di surga, Putra (Anak) di bumi, dan Roh yang turun sebagai burung merpati dari udara. Tetapi dalam Matius 1 ada petunjuk yang pasti bahwa tiga ini adalah satu.
Menurut Matius 1, Kristus dikandung dari Roh Kudus. Hal ini berhubungan dengan Yohanes 1:14, ayat yang mem-beri tahu kita bahwa firman menjadi daging. Menurut Injil Yohanes, firman adalah Putra Allah. Ketika Tuhan Yesus dikandung dari Roh itu dalam kandungan Maria, hal itu adalah inkarnasi Putra Allah, firman menjadi daging. Karena itu, 1 Timotius 3:16 berbicara tentang kebesaran rahasia ibadah, yaitu Allah ternyata dalam daging.
Matius 1:18 dan 20, Yohanes 1:14, dan 1 Timotius 3:16 semua mengacu kepada hal yang sama. Keterkandungan Tuhan Yesus dari Roh Kudus adalah inkarnasi Putra Allah, dan inkarnasi Putra Allah adalah Allah dinyatakan dalam daging. Bila kita menjajarkan ayat-ayat ini, kita memiliki Roh Kudus bagi keterkandungan Yesus, Putra untuk inkar-nasi, dan Allah bagi manifestasi. Ini menunjukkan bahwa Roh, Putra Allah, dan Allah sendiri adalah satu.
Di satu pihak, tiga dari Trinitas adalah tiga; di pihak lain, tiga adalah satu. Ini adalah alasan kita berbicara ten-tang Allah sebagai Tritunggal, sebagai tiga-satu. Allah kita adalah Allah Tritunggal, Allah tiga-satu.
Karena Kristus dikandung dari Roh Kudus, Dia adalah Manusia-Allah. Pada Dia ada perbauran keilahian dengan keinsanian. Karena itu, ketika Dia dibaptis, Dia dibaptis sebagai seorang Manusia-Allah. Dalam prinsip yang sama, ketika Dia mati di atas salib, Dia mati sebagai Manusia-Allah.
DARAH YESUS, PUTRA ALLAH
1 Yohanes 1:7 mengatakan bahwa darah Yesus, Putra Allah, membersihkan kita dari segala dosa. Nama “Yesus” menunjukkan keinsanian Tuhan yang diperlukan bagi pe-numpahan darah penebusan, dan sebutan “Putra-Nya” me-nunjukkan keilahian Tuhan yang diperlukan bagi khasiat kekal dari darah yang menebus. Karena itu, darah Yesus, Putra Allah, menunjukkan bahwa darah ini adalah darah yang tepat dari seorang manusia yang sejati bagi penebusan ciptaan Allah yang jatuh, dengan jaminan ilahi sebagai kha-siat ilahi, khasiat yang melampaui segalanya dalam ruang dan kekal dalam waktu.
Dosa manusia memerlukan darah manusia untuk men-cucinya. Darah Yesus adalah darah manusia yang sejati. Namun, Yesus yang mencurahkan darah-Nya bagi penebus-an kita adalah Putra Allah. Dia memiliki keinsanian mau-pun keilahian. Keinsanian-Nya melayakkan Dia mati bagi kita. Karena Dia adalah seorang manusia, Dia memiliki da-rah untuk dicurahkan bagi pencucian dosa-dosa kita. Na-mun, Dia juga adalah Putra Allah. Keilahian-Nya menja-min khasiat kekal dari darah penebusan-Nya. Karena itu, keinsanian-Nya melayakkan Dia untuk menjadi Penebus dan pengganti kita; keilahian-Nya membuat kelayakan-Nya memiliki kekuatan kekal. Jika Kristus bukan seorang ma-nusia, Dia tidak layak menjadi pengganti kita. Puji Tuhan, Dia dilayakkan oleh keinsanian-Nya untuk menjadi peng-ganti kita dan bahwa darah manusia-Nya yang sejati me-menuhi syarat untuk membersihkan dosa-dosa kita! Tetapi khasiat kelayakan ini memerlukan sesuatu sebagai jaminan, dan jaminan ini adalah keilahian Tuhan. Keilahian-Nya men-jamin khasiat kekal dari kelayakan-Nya.
1 Yohanes 1:7 menunjukkan bahwa Orang yang mati di atas salib dan mencurahkan darah-Nya adalah ma-nusia Yesus, dan Orang ini adalah Putra Allah, Sang ilahi. Dia mati di atas salib sebagai Manusia-Allah, memiliki sifat insani dan sifat ilahi. Sebagai Manusia-Allah, Dia disalibkan sebagai Penebus kita.
Apa yang telah Tuhan tunjukkan kepada kita mengenai perkara-perkara ini dari perkataan-Nya yang kudus, berbeda dengan ajaran tradisional. Karena alasan ini, ajaran kita bertentangan dengan ajaran tradisional. Mengenai hal ini, Anda perlu memakai daya pembeda Anda untuk melihat ajaran mana yang berdasar pada firman murni Allah dan mana yang berdasarkan doktrin tradisional yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi.
YANG DIGENAPKAN OLEH
KEMATIAN KRISTUS
Masalah Dosa-dosa (Perbuatan Dosa)
Sekarang, mari kita perhatikan apa yang digenapkan oleh kematian Kristus. Pertama, kematian Kristus menye-lesaikan masalah dosa-dosa kita, masalah pelanggaran-pelanggaran dan kesalahan kita, dan perbuatan dosa kita. Kematian-Nya telah membereskan masalah dosa-dosa kita, dan membereskannya secara kekal. Mengenai hal ini, Paulus berkata dalam 1 Korintus 15:3, “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kute-rima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci.” Selain itu, 1 Petrus 2:24 mengatakan, Kristus “sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib”.
Masalah Dosa (Sifat Dosa)
Kedua, kematian Kristus, kematian yang almuhit, telah menanggulangi dosa. Meskipun mudah untuk menjelaskan apakah perbuatan dosa, untuk mendefinisikan dosa tidaklah mudah. Dosa-dosa mengacu kepada perbuatan, pelanggaran, kesalahan, kekeliruan. Tetapi apakah dosa? Roma 8:3 mengatakan bahwa Allah mengutus Anak-Nya sendiri dalam rupa daging dosa dan menghukum dosa da-lam daging. Untuk menghukum dosa, Kristus datang dalam rupa daging dosa. Yohanes 1:29 mengatakan, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.”
Menurut Alkitab dan menurut pengalaman kita, kita telah nampak bahwa dosa sesungguhnya adalah sifat dosa Iblis (Satan). Iblis adalah sumber dosa. Dosa adalah penemuan Iblis, dan Iblis sendiri adalah unsur dosa. Sesungguhnya, dalam pandangan Allah, dosa adalah Iblis.
Menurut Kitab Roma, dosa adalah sesuatu yang hidup, sesuatu yang dapat membuat kita melakukan hal-hal yang tidak ingin kita lakukan, sesuatu yang dapat berhuni di dalam kita, menipu kita, dan bahkan membunuh kita (Rm. 6:14; 7:8, 11, 17). Apakah sebenarnya sesuatu yang hidup di dalam kita yang mengerjakan semua ini? Itulah Iblis.
Pada waktu kejatuhan manusia, sifat dosa Iblis diinjeksikan ke dalam manusia. Ini berarti ketika manusia makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, dia menerima sifat jahat Iblis ke dalam dirinya.
Dalam alam semesta ada sesuatu yang disebut dosa oleh Kitab Suci. Dosa tidak hanya bersifat obyektif, di luar kita; dosa juga bersifat subyektif, di dalam kita, dalam da-ging kita. Karena itu, secara luaran kita memiliki dosa-dosa, pelanggaran, kesalahan, kekeliruan. Secara batini kita memiliki masalah mendasar akan dosa. Puji Tuhan bahwa kematian Kristus yang almuhit tidak hanya menyelesaikan masalah dosa-dosa kita, tetapi juga telah menghakimi dan menghukum dosa!
Roma 8:3 mewahyukan bahwa ketika Kristus mati di atas salib, dosa dihukum dalam daging. Kita dapat menggu-nakan pernyataan tidak layak pakai atas bangunan yang tidak aman sebagai suatu ilustrasi (catatan: pernyataan tidak layak pakai dalam bahasa Inggris adalah “condemna-tion”, juga berarti penjatuhan hukuman). Ketika sebuah ba-ngunan berada dalam kondisi yang sangat rusak, sehingga bangunan itu harus diruntuhkan, pemerintah akan menya-takan bahwa bangunan itu tidak layak pakai. Dengan cara yang sama, dosa di dalam daging telah dihukum melalui kematian Kristus yang almuhit. Melalui kematian-Nya yang kekal, kematian seorang Manusia-Allah, dosa telah dihukum.
Manusia Lama Kita
Masalah ketiga yang ditanggulangi oleh kematian Kristus adalah manusia lama kita. Roma 6:6 mengatakan, “Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan.” Demikian pula, Galatia 2:19b mengatakan, “Aku telah disa-libkan dengan Kristus.” Karena kematian yang menakjub-kan dari Manusia-Allah ini almuhit, kita pun tercakup di da-lamnya. Kita telah diletakkan ke dalam Kristus oleh Allah, dan kita berada di dalam Dia ketika Dia disalibkan. Karena itu, kita tercakup dalam kematian-Nya yang kekal dan almuhit.
Ciptaan Lama
Karena manusia lama kita telah disalibkan bersama Kristus, seluruh ciptaan lama disalibkan juga. Sebagai umat manusia, kita adalah pemuka ciptaan lama dan mewakili ciptaan lama. Ketika manusia, wakil ciptaan lama, disalibkan, seluruh ciptaan lama juga disalibkan.
Iblis (Satan)
Selain itu, kematian kekal Kristus telah menghancur-kan Iblis (Satan). Mengenai hal ini, Ibrani 2:14 mengata-kan, “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan turut mengalami keadaan mereka, supaya melalui kemati-an-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis yang berkuasa atas maut.” Hal ini menunjukkan bahwa dalam keinsanian-Nya dan melalui kematian-Nya dalam daging, Kristus menghan-curkan Iblis, persona yang memiliki kuasa maut. Ini berarti Iblis telah disalibkan. Entah kita mengerti hal ini atau tidak, ini merupakan suatu fakta bahwa melalui kematian Kristus, Iblis telah disalibkan.
Sistem Dunia
Alkitab mewahyukan bahwa Iblis telah membentuk suatu sistem setani yang disebut dunia. Melalui dunia, dunia setani, Iblis telah mensistematiskan umat manusia yang jatuh di bawah tangan perampasannya. Tetapi sistem dunia yang jahat ini telah dihakimi.
Karena sistem dunia berhubungan dengan Iblis, maka ketika penguasa dunia ini dihakimi, dunia dihakimi juga. Mengenai hal ini, Tuhan Yesus berkata, “Sekarang berlang-sung penghakiman atas dunia ini: Sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar” (Yoh. 12:31). Penguasa dunia ini dilemparkan keluar ketika Iblis dihancurkan di kayu salib. Bersamaan dengan itu, sistem dunia yang berkaitan dengan Iblis juga dihakimi.
Penghakiman ini dapat dibandingkan dengan penyaliban ciptaan lama ketika manusia lama kita disalibkan. Ketika manusia lama disalibkan, seluruh ciptaan lama disalibkan. Demikian pula, ketika Iblis dihancurkan melalui kematian Kristus, dunia dihakimi.
Ketentuan-ketentuan
Perkara lain yang ditanggulangi oleh kematian Kristus yang almuhit disebutkan dalam Efesus 2:15, “Ia telah mem-batalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ke-tentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengada-kan damai sejahtera.” Di sini kita nampak bahwa ketika Kristus disalibkan, kematian-Nya yang kekal menghapus-kan, meniadakan berbagai ketentuan dari hidup manusia dan agama. Selain itu, perbedaan-perbedaan di antara ras dan perbedaan tingkatan sosial telah dihapuskan oleh ke-matian kekal Kristus.
Membebaskan Hayat Ilahi
Selain menanggulangi begitu banyak hal negatif, kematian Kristus juga memiliki aspek positif. Dalam Yohanes 12:24 Tuhan Yesus berbicara mengenai hal ini: “Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Ini mengacu kepada kematian Kristus. Kematian-Nya yang almuhit membebaskan hayat ilahi yang ada di dalam Dia, dan hayat ini menghasilkan banyak butir biji gandum.
Di pihak negatif, kematian Kristus yang almuhit telah membereskan masalah dosa-dosa, dosa, manusia lama, cip-taan lama, Iblis, dunia, dan ketentuan-ketentuan. Di pihak positif, kematian kekal Kristus membebaskan hayat ilahi dari dalam diri-Nya.
RAPAT KE-ALLAHAN YANG DITETAPKAN ALLAH
Jika kita nampak makna dari kematian Kristus yang almuhit, kita akan nampak bahwa kematian-Nya adalah kejadian yang lebih besar daripada penciptaan alam semes-ta. Mengenai kematian Kristus, Allah Tritunggal menetap-kan dalam rencana ilahi-Nya dalam kekekalan lampau bahwa Putra, Yang kedua dari Trinitas ilahi, harus berin-karnasi dan mati di atas salib untuk melaksanakan penebus-an kekal bagi penggenapan tujuan kekal Allah. Dalam per-kataan yang diucapkan oleh Petrus pada hari Pentakosta, Kristus “yang diserahkan Allah menurut maksud dan ren-cana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kis. 2:23).
Karena rapat ke-Allahan yang ditentukan ini, Yang kedua dari Trinitas ilahi ditetapkan menjadi Anak Domba Allah (Yoh. 1:29) sebelum dunia dijadikan, yaitu dalam ke-kekalan lampau (1 Ptr. 1:19-20). Dalam pandangan Allah, Dia sebagai Anak Domba Allah disembelih sejak dunia dija-dikan, yaitu sejak keberadaan ciptaan Allah yang jatuh (Why. 13:8).
Sejak waktu kejatuhan manusia, domba, lembu dan sapi digunakan oleh umat pilihan Allah sebagai lambang (Kej. 3:21; 4:4; 8:20; 22:13; Kel. 12:3-8; Im. 1:2). Lambang ini mengacu kepada Kristus yang akan datang sebagai Anak Domba sejati yang telah ditetapkan Allah. Dalam kegenapan waktu Allah Tritunggal mengutus Yang kedua dari Trinitas ilahi, Putra Allah, yang datang melalui inkarnasi mengam-bil tubuh manusia (Ibr. 10:5) sehingga Dia dapat dipersem-bahkan kepada Allah di atas salib (Ibr. 9:14; 10:12) untuk melakukan kehendak Allah Tritunggal (Ibr. 10:7), yaitu untuk menggantikan kurban-kurban dan persembahan-per-sembahan, yang adalah lambang, dengan diri-Nya dalam ke-insanian-Nya sebagai kurban dan persembahan yang unik bagi pengudusan umat pilihan Allah. Karena itu, Allah me-mang menghendaki Kristus mati secara kekal dan almuhit.
Betapa besar kematian Kristus! Kematian ini telah membersihkan segala hal negatif dalam alam semesta dan telah melepaskan hayat kekal untuk menghasilkan manusia baru, yang akan menjadi perampungan akhir yang akan menjadi Kerajaan Allah yang kekal.
KEMATIAN KEKAL MANUSIA-ALLAH
Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa kematian Kristus yang tercatat dalam Markus 15:16-41 adalah ma-salah yang luar biasa besar. Kita perlu nampak bahwa ke-matian Kristus adalah kematian kekal Manusia-Allah. Dia yang mati sebagai pengganti kita bukan hanya seorang manusia; Dia adalah Manusia-Allah. Karena itu, kematian-Nya adalah kematian kekal. Kematian kekal ini lebih besar daripada pekerjaan penciptaan Allah.
Ketika kita membaca catatan kematian Kristus dalam Injil Markus, kita tidak seharusnya membacanya dengan cara yang dangkal. Sebaliknya, kita perlu nampak bahwa persona yang mati menurut catatan dalam Injil Markus ini adalah seorang Manusia-Allah dan bahwa kematian-Nya bukan yang biasa atau umum. Kematian yang luar biasa ini, kematian kekal, adalah kematian Manusia-Allah. Karena itu, kematian Kristus membersihkan segala hal negatif dan membebaskan hayat ilahi untuk menghasilkan manusia baru. Akhirnya, manusia baru ini akan menjadi Kerajaan Allah yang kekal sebagai perkembangan yang penuh dari gen kerajaan.