← Daftar isi Markus (2) · bab 3/25

KEMATIAN DAN KEBANGKITAN HAMBA PENYELAMAT BAGI PENGGENAPAN PENEBUSAN ALLAH (3)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 15:16-41

Kita telah nampak bahwa Tuhan Yesus berada di salib selama enam jam, dari jam sembilan pagi sampai jam tiga sore. Selama tiga jam pertama, Dia dianiaya oleh manusia, tetapi selama tiga jam terakhir, Dia dihakimi oleh Allah se-bagai pengganti bagi dosa-dosa kita. Markus 15:33 menun-jukkan bahwa pada jam dua belas siang hari, “kegelapan me-liputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga. Pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring, ‘Eloi, Eloi, lema sabakhtani?’, yang berarti: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (ayat 34). Dalam be-rita ini kita perlu memberi perhatian khusus pada ayat ini.

ALLAH MENINGGALKAN KRISTUS YANG TERSALIB

Ketika kita membahas seruan Tuhan dalam ayat 34, kita perlu mengajukan suatu pertanyaan yang penting: Apakah Allah meninggalkan Kristus? Tuhan berkata bahwa Allah meninggalkan Dia, dan meninggalkan berarti menolak. Karena itu, dalam suatu arti Allah meninggalkan Dia.

Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 5:43 bahwa Dia datang dalam nama Bapa: “Aku datang dalam nama Bapa-Ku.” Selain itu, Bapa selalu bersama Dia: “Ia, yang telah mengutus Aku, menyertai Aku” (Yoh. 8:29). Tidak lama, sebelum Dia mati Tuhan berkata lagi, “Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku” (Yoh. 16:32). Bapa tidak hanya bersama Tuhan Yesus, tetapi juga di dalam Dia, dan Tuhan berada di dalam Bapa: “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa, dan Bapa di dalam Aku? . . . Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yoh. 14:10a, 11a). Mengenai hubungan-Nya dengan Bapa, Tuhan Yesus berkata, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10:30). Tuhan Yesus dan Bapa selalu satu. Se-lain itu, ketika seseorang melihat Tuhan, dia melihat Bapa. Inilah alasan Tuhan Yesus mengatakan, “Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9).

Dari ayat-ayat ini kita nampak bahwa Tuhan datang dalam nama Bapa, bahwa Bapa beserta dengan Dia, bahwa Dia berada di dalam Bapa dan Bapa berada di dalam Dia, bahwa Dia dan Bapa adalah satu, dan siapa pun yang me-lihat Dia, melihat Bapa. Ayat-ayat ini membuktikan bahwa Tuhan tidak pernah dipisahkan dari Allah Bapa. Namun, pa-da jam tiga (kesembilan) Tuhan berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Tidak diragukan lagi, ini menunjukkan bahwa Allah meninggalkan Dia. Tetapi dalam hal apa Allah meninggalkan Tuhan Yesus? Bagaimanakah kita dapat mengerti perkara ini, karena ini melibatkan masalah besar yang berkaitan dengan Allah Tritunggal?

Apakah Allah meninggalkan Kristus berarti bahwa Dia yang tinggal di atas salib hanya seorang manusia dan tidak lagi memiliki sifat ilahi? Jika situasinya demikian, maka kuasa penebusan Tuhan tidak lagi kekal, karena tidak ada unsur ilahi yang kekal di dalamnya. Karena itu, kita harus sangat berhati-hati dalam menjawab pertanyaan mengenai makna pernyataan “Allah meninggalkan Kristus yang tersalib”.

Sangat sulit untuk menjelaskan Allah meninggalkan Tuhan Yesus. Jika kita ingin mengerti hal ini secara tepat, kita perlu pengertian yang menyeluruh dari apa yang Kitab Suci wahyukan mengenai Allah Tritunggal.

DIKANDUNG OLEH ROH KUDUS

Ketika Tuhan Yesus dikandung, Dia dikandung oleh Roh Kudus di dalam seorang perawan (Mat. 1:20). Keterkandung-an-Nya adalah ilahi, karena hal itu berasal dari Roh Kudus, berasal dari Allah. Keterkandungan-Nya yang ajaib adalah keterkandungan Allah dalam manusia. Pengandungan ini mencakup keinsanian maupun keilahian.

Tidak seperti Tuhan Yesus, kita semua dikandung dari ayah dan ibu kita. Apa yang tercakup dalam keterkandung-an kita hanyalah sifat insani. Tetapi keterkandungan Tuhan Yesus adalah keterkandungan Allah dalam perawan manu-sia, keterkandungan yang mencakup keinsanian dan keila-hian. Karena itu, Tuhan Yesus dilahirkan sebagai seorang manusia dengan dua sifat: sifat insani dan sifat ilahi. Hal ini memberi kita dasar untuk berkata bahwa Dia adalah Manusia-Allah. Dia dilahirkan oleh Allah dalam manusia. Dari Allah Dia menerima unsur ilahi, dan dari Maria Ia menerima unsur insani. Kedua unsur ini — keilahian dan keinsanian — membentuk Yesus sebagai Manusia-Allah.

Pada umur 30 tahun, Tuhan Yesus dibaptis. Segera se-telah Dia keluar dari air, terdengarlah suara dari surga me-ngatakan, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat. 3:17). Pada waktu yang sama Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya (Mat. 3:16). Bu-kankah Tuhan dilahirkan dari Roh? Bukankah Roh adalah salah satu esens dari apa ada-Nya? Sebelum Tuhan Yesus dibaptis, bukankah Dia sudah memiliki Roh Kudus di dalam-Nya? Jawaban untuk semua pertanyaan ini adalah “ya”. Tuhan telah dilahirkan dari Roh, Roh adalah salah satu esens apa adanya diri-Nya, dan Dia memiliki Roh Kudus di dalam Dia. Karena Dia telah dikandung dari Roh Kudus dalam seorang perawan, apa adanya diri-Nya tersusun dari dua esens, keilahian dan keinsanian. Karena Dia telah me-miliki Roh Kudus di dalam-Nya, lalu mengapa Roh Kudus perlu turun ke atas Dia? Pertanyaan ini penting.

ROH ITU TURUN KE ATAS TUHAN YESUS

Dalam Matius 3 kita nampak bahwa Roh itu turun ke atas Tuhan Yesus secara jelas dan tegas. Namun, tidak da-pat disangkal bahwa Tuhan Yesus telah memiliki Roh Kudus dalam diri-Nya. Matius 1:20 mengatakan bahwa yang di da-lam kandungan Maria adalah dari Roh Kudus. Roh Kudus bukan hanya berada di dalam Tuhan Yesus; Roh itu juga ada-lah salah satu esens dari apa adanya diri-Nya. Karena itu, kita perlu jalan untuk menggabungkan dua fakta yang penting: pertama, Tuhan Yesus memiliki Roh Kudus di dalam Dia sebagai salah satu dari esens-Nya; kedua, Roh Kudus turun ke atas Dia setelah Dia dibaptis. Kalau Roh Kudus sudah merupakan bagian dari apa adanya Dia, mengapa Roh Kudus perlu turun ke atas Dia?

Sepanjang sejarah kekristenan ada pengertian yang kurang tepat akan Trinitas. Di dalam galeri seni Vatikan ada lukisan yang dianggap sebagai gambaran dari Trinitas. Dalam lukisan itu terdapat seorang tua berjenggot yang me-lambangkan Allah Bapa; seorang muda melambangkan Putra; dan burung merpati membubung tinggi di udara melambang-kan Roh Kudus. Lukisan itu mungkin berdasarkan konsep-si akan Trinitas ilahi yang diekspresikan dalam kredo Nicea. Pengertian itu sebagian benar, karena untuk tahap tertentu hal itu mungkin berdasar pada Matius 3. Dalam pasal ini kita memiliki Putra berdiri, Bapa berbicara dari surga, dan Roh Kudus turun sebagai burung merpati. Ketiganya — Putra, Bapa, dan Roh — seperti disajikan dalam Matius 3, tidak hanya berbeda, tetapi tampaknya ada jarak di antara satu dengan yang lain.

Ketika kita membahas Trinitas yang digambarkan da-lam Matius 3, kita perlu menyadari apa yang dikatakan me-ngenai Roh Kudus dan Tuhan Yesus dalam Matius 1. Kita telah menekankan fakta bahwa Matius 1:20 memberi tahu kita bahwa Tuhan Yesus dikandung dari Roh Kudus. Ka-rena itu, Matius 1 adalah penyeimbang dari Matius 3. Jika kita hanya memiliki wahyu Trinitas dalam Matius 3, kita mungkin berpikir bahwa Trinitas adalah perkara triteisme, ajaran tentang tiga Allah: satu di surga, satu di bumi, dan satu di udara. Namun, Matius 3 berasal dari Matius 1. Dalam Matius 1 penekanannya bukan pada tiga tetapi pada satu. Karena itu, ketika kita menjajarkan Matius 1 dan 3, kita nampak bahwa Allah itu Tritunggal, tiga-satu.

Sesungguhnya, tidak mungkin kita dengan sepenuhnya memadukan dua aspek dari Trinitas, aspek satu dalam Matius 1 dan aspek tiga dalam Matius 3. Alasan kita tidak dapat memadukan aspek-aspek itu karena Allah Tritunggal adalah suatu misteri. Jika kita dapat mengerti Allah Tritunggal secara penuh, Dia tidak akan lagi merupakan misteri. Selain itu, menurut Martin Luther, jika kita dapat mengerti Allah Tritunggal sepenuhnya, berarti kita adalah pengajar Allah.

Hari ini beberapa orang dengan palsu menuduh kita mengajarkan ajaran bidah mengenai Trinitas. Jika sese-orang menuduh Anda seperti ini, Anda mungkin menanyai dia bagaimana dia memadukan wahyu mengenai Allah Tritunggal dalam Matius 1 dan 3.

Butir penting untuk kita lihat mengenai Matius 1 dan 3 adalah ketika Roh Kudus turun sebagai burung merpati ke atas Tuhan Yesus, Dia memiliki sifat insani dan ilahi. Dia telah memiliki sifat ilahi dan sifat insani, karena Roh Kudus adalah salah satu dari esens apa adanya Dia.

KRISTUS MEMPERSEMBAHKAN DIRI-NYA

SENDIRI MELALUI ROH KUDUS

Kitab Ibrani mewahyukan bahwa ketika Tuhan Yesus mati, Dia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kur-ban yang almuhit untuk menggantikan segala kurban da-lam Perjanjian lama. Menurut Ibrani 9:14, Kristus “Yang melalui Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tidak ber-cacat.” Meskipun Kristus adalah insani dan ilahi, Dia mem-persembahkan diri-Nya kepada Allah sebagai kurban almuhit bukan hanya melalui diri-Nya sendiri, persona ilahi-insani, tetapi juga melalui Roh yang kekal.

Tuhan mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah melalui Roh yang kekal dapat dibandingkan dengan ministri-Nya di bumi dengan Roh itu. Sebelum Roh itu turun ke atas Dia, Dia telah memiliki baik keilahian maupun keinsanian. Meskipun Dia ilahi dan insani, ketika Dia memulai ministri-Nya, Allah mengurapi Dia dengan Roh itu. Ini adalah Roh yang turun ke atas Dia. Tetapi sebelum Roh itu turun ke atas Dia, Dia telah memiliki esens keilahian Allah. Namun, untuk ministri-Nya, Dia diurapi dengan Roh Kudus. Selama tiga setengah tahun ministri-Nya, Dia bergerak bukan ha-nya berdasarkan diri-Nya sendiri sebagai Orang yang memi-liki keilahian dan keinsanian, tetapi juga berdasarkan Roh yang mengurapi. Dia bergerak dan melayani berdasarkan Roh ini. Terutama ketika Dia mempersembahkan diri-Nya kepada Allah di atas salib sebagai persembahan yang almu-hit, Dia mempersembahkan diri-Nya melalui Roh yang kekal.

ROH YANG MENGURAPI

MENINGGALKAN TUHAN YESUS

Ketika Tuhan Yesus berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, meng-apa Engkau meninggalkan Aku?”, pada waktu itu, Dia se-dang menanggung dosa-dosa kita (1 Ptr. 2:24), dijadikan dosa karena kita (2 Kor. 5:21), dan mengambil tempat orang dosa (1 Ptr. 3:18). Ini berarti Allah menghakimi Dia sebagai pengganti kita karena dosa-dosa kita. Dalam pandangan Allah, Kristus telah menjadi orang dosa yang besar. Mengenai hal ini, 2 Korintus 5:21 mengatakan, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya da-lam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Kapankah Allah mem-buat Kristus menjadi dosa karena kita? Apakah selama keseluruhan masa tiga puluh tiga setengah tahun dari kehi-dupan Tuhan di bumi? Tidak. Jika Tuhan Yesus telah dibuat menjadi dosa oleh Allah selama hidup-Nya, maka Allah ti-dak akan menyertai Dia, dan Allah tidak dapat berkenan kepada-Nya. Saya percaya bahwa selama tiga jam terakhir Kristus berada di atas salib, dari jam dua belas siang sam-pai jam tiga sore, jam-jam di mana kegelapan meliputi se-luruh daerah itu, saat itulah Allah membuat-Nya menjadi dosa. Allah membuat Kristus bukan hanya menjadi peng-ganti kita; Allah bahkan membuat Dia menjadi dosa karena kita. Karena Kristus adalah pengganti dan dijadikan dosa dalam pandangan Allah, maka Allah menghakimi Dia. Saya percaya bahwa selama waktu ini, sekitar jam kesembilan, Roh yang mengurapi meninggalkan Tuhan Yesus.

Kita telah menunjukkan dengan kuat bahwa sebelum Roh Kudus, Roh yang mengurapi, turun ke atas Tuhan Yesus, Dia telah memiliki esens ilahi di dalam-Nya sebagai salah satu dari dua esens apa ada-Nya Dia. Sekarang kita perlu nampak bahwa esens ilahi tidak pernah meninggalkan Dia. Bahkan ketika Dia di atas salib berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Dia masih memiliki esens ilahi. Kemudian siapa yang meninggalkan Dia? Roh yang mengurapi itu yang melaluinya Dia mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah, itulah yang meninggalkan Dia. Setelah Allah menerima Kristus sebagai persembahan yang almuhit, Roh yang mengurapi mening-galkan Dia. Meskipun Roh yang mengurapi meninggalkan Dia, Dia masih memiliki esens ilahi.

KHASIAT KEKAL KEMATIAN TUHAN

Kematian Tuhan Yesus bukan hanya kematian seorang manusia, juga adalah kematian seorang Manusia-Allah. Karena alasan ini, kematian-Nya memiliki khasiat kekal. Kematian Tuhan memiliki kuasa kekal bagi penebusan kita. Jika tidak, tidak akan mungkin seorang manusia mati bagi begitu banyak orang. Seorang individu terbatas karena seorang manusia tidak kekal. Jika Tuhan telah mati hanya sebagai seorang manusia, kematian-Nya akan terbatas kha-siatnya. Dia dapat menjadi pengganti bagi satu orang, teta-pi tidak bagi jutaan orang. Namun, kematian Tuhan adalah kematian seorang Manusia-Allah dan karena itu adalah ke-matian kekal yang menggenapkan penebusan yang kekal, penebusan dengan kuasa dan khasiat kekal.

Sebelum Roh Kudus turun ke atas Tuhan Yesus, Tuhan telah memiliki esens ilahi. Ketika Dia dibaptis, Dia dibaptis sebagai seorang Manusia-Allah. Setelah dibaptis, Roh Kudus turun ke atas Dia sebagai Manusia-Allah untuk mengurapi Dia bagi ministri-Nya. Selama tiga setengah tahun Dia melakukan ministri oleh Roh itu. Kemudian di atas salib Dia mempersembahkan diri-Nya sebagai seorang Manusia-Allah untuk menjadi kurban yang almuhit melalui Roh yang kekal. Setelah Allah menganggap Dia sebagai orang dosa un-tuk menjadi pengganti kita, bahkan membuat Dia menjadi dosa karena kita, dan telah menerima persembahan-Nya, Allah sebagai Roh Kudus yang telah turun ke atas Dia meninggalkan Dia. Namun, Tuhan masih tetap seorang Manusia-Allah dan mati sebagai Manusia-Allah. Ini berarti meskipun Allah sebagai Roh meninggalkan Tuhan, Tuhan bukan hanya mati sebagai manusia, tetapi juga sebagai Manusia-Allah. Karena itu, dalam kematian-Nya ada unsur ilahi dan kekal. Kematian-Nya telah menggenapkan penebusan kekal dengan keefektifan dan kuasa yang kekal.