← Daftar isi Markus (2) · bab 2/25

KEMATIAN DAN KEBANGKITAN HAMBA PENYELAMAT BAGI PENGGENAPAN PENEBUSAN ALLAH (2)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 15:16-41

Dalam berita ini kita sampai pada 15:16-41, suatu bagian yang membicarakan penyaliban Hamba-Penyelamat.

MENGEJEK HAMBA-PENYELAMAT

Markus 15:16 mengatakan, “Kemudian serdadu-serdadu membawa Yesus ke halaman istana yang adalah kediaman gubernur, dan memanggil seluruh pasukan berkumpul.” Is-tana di sini adalah kediaman resmi gubernur.

Ayat 17 mengatakan, “Mereka mengenakan jubah ungu kepada-Nya, menganyam sebuah mahkota duri dan mena-ruhnya di atas kepala-Nya.” Duri adalah lambang kutukan (Kej. 3:17-18). Di kayu salib, Tuhan Yesus menjadi kutuk ba-gi kita (Gal. 3:13). Dalam 15:17 mahkota duri, melambang-kan keagungan, digunakan sebagai ejekan atas Hamba-Penyelamat (ayat 20).

Dalam ayat 18-19 serdadu-serdadu melanjutkan ejekan mereka terhadap Tuhan Yesus: “Kemudian mereka mulai memberi hormat kepada-Nya, katanya, ‘Salam, hai raja orang Yahudi!’ Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan me-ludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya.” Sesudah mengo-lok-olok Dia, mereka “menanggalkan jubah ungu yang dipa-kai-Nya dan mengenakan lagi pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian Yesus dibawa ke luar untuk disalibkan” (ayat 20). Tuhan di sini sebagai Anak Domba Paskah, harus dikurban-kan bagi dosa-dosa kita, dibawa seperti anak domba ke pembantaian, menggenapkan Yesaya 53:7-8.

DISALIBKAN DI GOLGOTA

Ayat 21 melanjutkan, “Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.” Kirene adalah kota jajahan Yunani, ibu kota Kirenaika di Afrika Utara. Keli-hatannya Simon adalah orang Yahudi dari Kirene.

Menurut 15:22, “Mereka membawa Yesus ke tempat yang bernama Golgota, yang berarti: Tempat Tengkorak.” Golgota adalah kata Ibrani (Yoh. 19:17) yang berarti tengkorak. Ini sepadan dengan kata Calvaria dalam bahasa Latin, yang di-serap ke dalam bahasa Inggris sebagai Calvary (Luk. 23:33). Kata ini tidak berarti tempat tengkorak orang mati, mela-inkan hanya tengkorak.

Ayat 23 melanjutkan, “Lalu mereka memberi anggur bercampur mur kepada-Nya, tetapi Ia menolaknya.” Anggur yang dicampur dengan mur (dan juga dengan empedu — Mat. 27:34) dipakai sebagai minuman pembius. Namun, Tuhan tidak mau dibius; Dia mau minum cawan pahit itu sampai habis.

Ayat 24 mengatakan, “Kemudian mereka menyalibkan Dia, lalu mereka membagi pakaian-Nya dengan membuang undi atasnya untuk menentukan bagian masing-masing.” Di sini kita nampak bahwa Tuhan dirampok habis-habisan oleh orang dosa, menggenapi Mazmur 22:19. Hal ini juga menyingkapkan kegelapan politik Romawi.

Markus 15:25 mengatakan, “Jam sembilan pagi ketika Ia disalibkan.” Jam sembilan pagi adalah jam ketiga.

DIADILI OLEH MANUSIA DAN DIHAKIMI OLEH ALLAH

Ayat 29 sampai 31 memberi tahu kita bahwa mereka yang lewat “menghujat Dia, dan sambil menggelengkan ke-pala mereka berkata, ‘Hai Engkau yang mau meruntuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!’ Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat mengo-lok-olok Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata, ‘Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak da-pat Ia selamatkan!’” Mereka yang menghujat Tuhan Yesus memutarbalikkan perkataan-Nya, “Rombak Bait Allah ini,” dalam Yohanes 2:19. Mereka yang menghujat Dia juga me-ngatakan orang lain Dia selamatkan, tetapi Dia tidak dapat menyelamatkan diri-Nya sendiri. Kalau Tuhan menyelamat-kan diri-Nya sendiri, Ia tidak dapat menyelamatkan kita.

Menurut 15:33, “Pada jam dua belas, kegelapan meli-puti seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga.” Jam dua belas adalah jam keenam, dan jam tiga adalah jam kesembilan. Tuhan disalibkan mulai jam ketiga, atau jam sembilan. Ia menderita di salib selama enam jam. Dalam ti-ga jam yang pertama, Dia dianiaya oleh manusia karena me-lakukan kehendak Allah; dalam tiga jam yang terakhir, Dia dihakimi oleh Allah untuk merampungkan penebusan bagi kita. Pada saat itulah Allah menganggap Dia sebagai peng-ganti kita, yang menderita karena dosa kita (Yes. 53:10). Sebab itu, kegelapan meliputi seluruh daerah itu karena si-fat dosa dan perbuatan dosa kita, serta segala hal negatif di-bereskan di sana; dan karena dosa kita Allah meninggalkan Dia (ayat 34).

Dalam 15:16-32 kita nampak bagaimana Hamba-Penyelamat diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh manusia. Dia dicemooh, dipukul, dihujat, dan disalibkan. Semua itu adalah tindakan dari para penganiaya-Nya.

Ayat 33 mengatakan bahwa pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu. Mulai jam dua belas siang hari, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga. Kegelapan ini disebabkan oleh Allah, dan ini adalah suatu petunjuk bahwa Allah telah datang untuk menghakimi Orang yang tergantung pada kayu salib.

Kita telah nampak bahwa Hamba-Penyelamat berada di atas salib selama enam jam, dari jam sembilan pagi sampai jam tiga sore. Tiga jam pertama adalah waktu penganiaya-an oleh manusia. Kita dapat mengatakan bahwa selama jam-jam itu, Tuhan Yesus adalah seorang martir. Kemudian pa-da siang hari, ketika kegelapan meliputi seluruh bumi, Allah datang. Kegelapan ini adalah pertanda penghakiman Allah atas dosa-dosa. Manusia menganiaya Hamba-Penyelamat selama tiga jam pertama dari penyaliban-Nya, sedangkan Allah datang selama tiga jam kedua untuk menghakimi Kristus sebagai pengganti kita. Dalam tiga jam ini Allah me-letakkan semua dosa kita di atas Dia dan menganggap Dia sebagai orang dosa yang menggantikan kita. Karena itu, se-lama tiga jam pertama penyaliban-Nya, Tuhan Yesus ada-lah seorang martir. Tetapi selama tiga jam yang kedua, Ia adalah Penebus. Sebagai seorang martir Dia menderita penganiayaan di bawah tangan manusia. Sebagai Penebus kita Dia menderita penghakiman bagi kita di bawah tangan Allah. Kegelapan adalah lambang bahwa Allah telah datang untuk menghakimi Kristus sebagai pengganti kita bagi dosa-dosa kita.

Markus 15:34 mengatakan, “Pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring, ‘Eloi, Eloi, lema sabakhtani?’, yang berarti: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau mening-galkan Aku?” Allah meninggalkan Kristus di kayu salib karena Dia mengambil alih tempat orang dosa (1 Ptr. 3:18), Dia menanggung dosa-dosa kita (1 Ptr. 2:24; Yes. 53:6), dan dijadikan dosa karena kita (2 Kor. 5:21). Kita akan mem-bahas ayat ini lebih terperinci dalam berita selanjutnya.

Ayat 35-36 melanjutkan, “Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata, ‘Lihat, Ia memanggil Elia.’ Kemudian bergegaslah seseorang dan mencelupkan spons ke dalam anggur asam lalu melilitkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum serta berkata, ‘Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia.’” Anggur ini ditawarkan kepada Tuhan untuk melerai-kan dahaga-Nya (Yoh. 19:29-30), tetapi ditawarkan dengan cara yang mencemooh (Luk. 23:36).

Anggur yang bercampur dengan empedu dan mur, dalam Matius 27:34 dan Markus 15:23, diberikan kepada Tuhan sebelum penyaliban-Nya sebagai minuman yang mem-bius; itu tidak Dia minum. Tetapi anggur dalam Markus 15:36 diberikan kepada Dia pada akhir penyaliban-Nya dengan cemoohan.

Ayat 37 melanjutkan, “Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menghembuskan napas terakhir-Nya.” Ini berarti Tuhan berhenti bernapas. Matius 27:50 menga-takan, pada saat ini Tuhan berseru dengan suara yang ke-ras dan “menyerahkan nyawa-Nya”. Ini berarti Tuhan me-nyerahkan roh-Nya (Yoh. 19:30), menunjukkan bahwa Tuhan dengan sukarela menyerahkan hayat-Nya.

TIRAI BAIT TERKOYAK MENJADI DUA

Setelah Tuhan Yesus mati, “tirai Bait Suci terkoyak men-jadi dua dari atas sampai ke bawah” (15:38). Hal ini me-nunjukkan bahwa pemisahan antara Allah dengan manusia telah dilenyapkan karena daging (yang dilambangkan dengan tirai) dosa yang telah dikenakan oleh Kristus (Rm. 8:3) telah disalibkan (Ibr. 10:20). Fakta bahwa tirai terkoyak dari atas sampai ke bawah menunjukkan bahwa pengoyakan tirai adalah perbuatan Allah dari atas.

Bait Allah tingginya 20 hasta. Tidaklah mungkin manusia mengoyak tirai dari atas sampai ke bawah. Ini adalah perbuatan Allah.

Tirai di dalam Bait adalah tanda daging yang telah dikenakan oleh Kristus. Pengoyakan tirai menandakan bahwa keinsanian yang dikenakan oleh Kristus telah disa-libkan. Jika kita mempelajari Alkitab dengan teliti, kita akan menyadari bahwa kerub disulam pada tirai, dan kerub menandakan ciptaan Allah (Yeh. 1:4-14; Why. 4:6-9). Karena itu, kerub pada tirai menandakan ciptaan yang berkaitan dengan keinsanian Yesus. Ketika Tuhan mengenakan kein-sanian kita, Dia mengenakan keinsanian yang menanggung ciptaan. Ini memberi kita dasar yang kuat untuk mengata-kan bahwa ketika Kristus menyalibkan keinsanian-Nya, Dia mengakhiri ciptaan.

SESEORANG HADIR PADA PENYALIBAN TUHAN

Markus 15:39 mengatakan, “Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat-Nya menghembuskan nafas terakhir seperti itu, berkatalah ia, ‘Sungguh, orang ini Anak Allah!’” Kepala pasukan menyadari bahwa manusia ini tidak biasa. Sebaliknya, Dia adalah Anak Allah yang sejati.

Ayat 40-41 memberi tahu kita mengenai perempuan-perempuan yang hadir: “Ada juga beberapa perempuan yang melihat dari jauh, di antaranya Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda dan Yoses, serta Salome. Mereka semuanya telah mengikut Yesus dan melayani-Nya waktu Ia di Galilea. Ada juga di situ banyak perempuan lain yang telah datang ke Yerusalem bersama-sama dengan Yesus.” Maria Magdalena adalah orang yang darinya diusir tujuh setan. Maria ibu Yakobus Muda adalah ibu dari Hamba-Penyelamat (Mat. 13:55). Kata “Muda” di sini berarti muda baik dalam pera-wakan maupun umur. Yakobus Muda adalah orang yang menulis Surat Yakobus. Salome adalah istri Zebedeus dan ibu dari Yakobus dan Yohanes (Mat. 27:56).

Dalam catatan Markus mengenai penyaliban tidak disebutkan adanya saudara-saudara yang hadir. Dia hanya berbicara mengenai para saudari. Kita dapat mengatakan bahwa saudari-saudari ini adalah wakil kita. Ketika Kristus disalibkan, sejumlah saudari ada di sana.

DIKUBUR DENGAN TERHORMAT

UNTUK MENIKMATI SABAT-NYA

Markus 15:42-47 berbicara tentang penguburan Hamba-penyelamat. Ayat 42 mengatakan, “Sementara itu hari mu-lai malam dan hari itu hari persiapan, yaitu hari menjelang Sabat. Karena itu Yusuf, orang Arimatea, seorang anggota Majelis Besar yang terpandang, yang juga menanti-nantikan Kerajaan Allah, memberanikan diri menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus.” Setelah Tuhan menggenapkan ke-matian yang menebus dan menyalurkan hayat, suasana pen-deritaan-Nya segera berubah menjadi suasana kehormatan. Ada orang kaya bernama Yusuf (Mat. 27:57), dan seorang pejabat Yahudi bernama Nikodemus (Yoh. 19:39; 3:1), datang mengurusi penguburan Tuhan melalui merempah-rempahi tubuh-Nya dan mengafaninya, lalu membaringkan-nya di sebuah kubur yang baru, tempat penguburan orang kaya (Yes. 53:9). Pada hari Sabat, Tuhan beristirahat di dalam standar tinggi dan kehormatan insani manusia (Luk. 23:55-56), menunggu saatnya bangkit dari antara orang mati.

Dalam 15:43, Yusuf disebut “orang Arimatea”. Kata sandang yang pasti di sini menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang terkenal. Setelah membeli kain lenan, Yusuf menurunkan Tuhan Yesus dari salib, membungkus Dia dengan lenan, meletakkan Dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu. Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu (ayat 46). Ini adalah penggenapan Yesaya 53:9.

Ketika kita membaca 15:42-46, kita nampak bahwa Tuhan Yesus dikuburkan dengan sangat baik. Dia dikubur-kan dengan lenan yang baru dibeli dan diletakkan untuk beristirahat di dalam kubur yang baru digali di dalam bukit batu. Tuhan Yesus diletakkan di dalam kubur yang sedemi-kian untuk menikmati Sabat-Nya.

Sebagaimana telah kita tunjukkan, Allah menciptakan ciptaan lama dalam enam hari dan kemudian beristirahat pada hari ketujuh. Dalam Perjanjian Baru Tuhan mengge-napkan penebusan-Nya yang penuh, pekerjaan penebusan-Nya, dalam enam hari, dan kemudian Dia beristirahat pada hari ketujuh, hari Sabat.

Markus 15:47 mengatakan, “Maria Magdalena dan Maria ibu Yoses melihat di mana Yesus dibaringkan.” Ini menun-jukkan bahwa baik Maria Magdalena maupun Maria ibu Tuhan Yesus melihat di mana Dia dibaringkan.

Meskipun Tuhan dapat beristirahat pada hari Sabat, setelah menggenapkan pekerjaan penebusan, murid-murid tidak memiliki perhentian. Saya yakin bahwa dua orang Maria ini tidak memiliki perhentian. Saya ragu bahwa me-reka memiliki perhentian yang penuh sampai mereka telah melewati hari kebangkitan dan telah sampai pada hari Pentakosta. Pada hari kebangkitan dan pada hari Pentakosta, mereka menerima Roh yang almuhit, dan Roh ini diterapkan pada kehidupan mereka yang memperhidupkan kematian dan kebangkitan Kristus. Demikian, mereka dapat memaha-mi makna kematian, penguburan, dan kebangkitan Tuhan.