← Daftar isi Markus (2) · bab 1/25

KEMATIAN DAN KEBANGKITAN HAMBA PENYELAMAT BAGI PENGGENAPAN PENEBUSAN ALLAH (1)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 14:43—15:15

Dalam berita ini kita akan mulai membahas kematian dan kebangkitan Hamba-Penyelamat bagi penggenapan penebusan Allah (14:43—16:18).

MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK MATI

Kita dapat mengatakan bahwa kematian Kristus dimu-lai sejak Dia ditangkap. Sebelum Yudas datang dengan me-reka yang menangkap Tuhan Yesus, Tuhan sedang berdoa di Taman Getsemani mengenai kematian-Nya. Sebagaimana telah kita tunjukkan, Tuhan dengan sengaja datang ke Yudea dari Galilea untuk disalibkan. Karena itu, sesungguhnya Dia tidak diserahkan oleh Yudas, melainkan Dia menyerah-kan diri-Nya sendiri kepada mereka yang datang menangkap Dia.

Ketika Tuhan masih berada di Galilea, Dia tahu bahwa diri-Nya perlu pergi ke Yerusalem untuk dibunuh pada hari Paskah. Setelah datang ke Yerusalem, Dia mempersiapkan lingkungan, murid-murid-Nya, bahkan para penentang-Nya untuk kematian-Nya. Para penentang-Nya merencanakan untuk membunuh Dia. Markus 14:1 mengatakan bahwa imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat sedang berusaha menangkap Dia dengan licik dan membunuh Dia. Mereka berkata, “Jangan pada waktu perayaan, supaya jangan tim-bul keributan di antara rakyat” (14:2). Namun, untuk meme-nuhi lambang anak domba Paskah, Tuhan disalibkan pada hari raya Paskah, meskipun para penentang-Nya berusaha menghindari hal ini. Tuhan sendiri mempersiapkan apa yang perlu bagi dirinya untuk dibunuh pada saat yang tepat.

Selama hari raya Paskah yang terakhir, Tuhan Yesus memberi tahu murid-murid-Nya bahwa salah satu dari anta-ra mereka akan mengkhianati Dia: “Sesungguhnya Aku ber-kata kepadamu, seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku, yaitu dia yang makan dengan Aku” (14:18). Kemudian Yudas disingkapkan. Tidak peduli betapa jahatnya Yudas, karena dia masih manusia, dia malu untuk tinggal dengan Tuhan Yesus dan para murid-Nya. Yudas meninggalkan me-reka; ia pergi kepada Imam Besar dan kemudian membawa pasukan ke tempat di mana mereka menangkap Tuhan Yesus.

Setelah Yudas pergi, Tuhan mendirikan perjamuan ma-lam-Nya. Dia tahu bahwa beberapa saat kemudian Dia akan ditangkap, dihakimi, divonis mati, dan disalibkan.

Setelah mendirikan perjamuan malam-Nya, Tuhan membawa murid-murid-Nya ke sebuah taman. Dia pergi ke tempat yang terbaik bagi-Nya untuk ditangkap. Ini menunjukkan bahwa Dia menyerahkan diri-Nya sendiri kepada mereka yang hendak menangkap Dia.

MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH

Di Taman Getsemani Tuhan Yesus berdoa, “Ya Abba, ya Bapa, segala sesuatu mungkin bagi-Mu, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehen-daki, melainkan apa yang Engkau kehendaki” (14:36). Sela-ma beberapa abad, banyak guru Alkitab telah berbicara me-ngenai doa Tuhan tentang kehendak Allah. Tetapi sedikit yang tahu apa sebenarnya kehendak Allah dalam 14:36.

Jika kita ingin mengetahui apa kehendak Allah dalam ayat ini, kita perlu melihat Ibrani 10. Pasal ini memberi tahu kita bahwa Tuhan Yesus datang untuk melakukan kehendak Allah. Umumnya orang mengira bahwa hal ini berarti Tuhan Yesus datang untuk melakukan segala se-suatu menurut kehendak Allah secara umum. Tetapi dari konteks Ibrani 10 kita nampak bahwa kehendak Allah secara khusus mengacu kepada penggantian dari kurban-kurban. Kehendak Allah adalah mengutus Kristus ke bumi untuk melaksanakan penggantian kurban dengan diri-Nya sendiri.

Dalam Perjanjian Lama ada beberapa persembahan atau kurban. Allah mengutus anak-Nya, Yesus Kristus, untuk menggantikan semua hal ini. Allah menghendaki Kristus mati sebagai pengganti dari semua persembahan ini. Tuhan Yesus tahu bahwa Allah menghendaki Dia mati sebagai pengganti kurban. Ini adalah alasan Dia berdoa, “Tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.”

Setelah berdoa di Getsemani, Tuhan Yesus siap untuk ditangkap, diuji, dihakimi, dan dibunuh. Segala sesuatu dan setiap orang telah disiapkan, dan Dia telah memiliki doa yang tuntas dengan Bapa. Dengan doa sedemikian ini, Dia memiliki konfirmasi bahwa Allah menghendaki Dia mati menggantikan kurban-kurban. Karena itu, setelah doa itu, Dia siap untuk ditangkap oleh imam-imam kepala, tua-tua, dan ahli-ahli Taurat.

DITANGKAP DAN DIHAKIMI

Markus 14:43-52 memberi tahu kita bagaimana Tuhan Yesus ditangkap. Dalam ayat 49, Dia berkata kepada me-reka yang datang untuk menangkap Dia, “Tiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi haruslah digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci.” Kaum penentang yang menolak dan melawan Allah itu takut kepada orang-orang yang de-ngan hangat menyambut Hamba-Penyelamat (11:7-11) dan yang menyukai perkataan-Nya (12:37), tidak berani me-nangkap Dia pada siang hari atau di tempat umum seperti di Bait, tetapi dengan licik, di malam hari (14:1), seolah-olah menangkap seorang perampok (14:48).

Markus 14:53—15:15 menggambarkan bagaimana Hamba-Penyelamat dihakimi. Pertama Dia dihakimi oleh pemimpin-pemimpin Yahudi yang mewakili orang Yahudi (14:53-64). Kemudian Dia dihakimi oleh pemerintah Romawi yang mewakili orang bukan Yahudi (15:1-15).

Markus 14:53 mengatakan, “Kemudian Yesus dibawa menghadap Imam Besar. Lalu berkumpullah semua imam kepala, tua-tua dan ahli Taurat di situ.” Hamba-Penyelamat ditangkap seperti seorang perampok (ayat 48) dan dibawa ke pembantaian seolah seekor domba (Yes. 53:7).

Dalam 14:55-60 kita nampak bahwa Tuhan Yesus tidak mengatakan apa-apa untuk menjawab mereka yang dengan palsu bersaksi melawan Dia. “Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya lagi kepada-Nya, katanya, ‘Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?’” (ayat 61). Imam Besar yang ceroboh dari agama tradisional, yang menolak Allah, dan juga yang ditolak Allah, menyebut Allah sebagai “Yang Terpuji” untuk menunjukkan bahwa ia sangat memuja-muja dan menghormati Allah. Mengenai perilaku-Nya, Hamba Penyelamat tidak mau menjawab tu-duhan-tuduhan palsu para penuduh-Nya, tetapi mengenai persona ilahi-Nya, keilahian-Nya, Dia tidak berdiam diri, melainkan menjawab dalam ayat 62. Dia menjawab dengan tegas dan pasti, menegaskan keilahian-Nya dalam keinsani-an-Nya dengan menyatakan bahwa sebagai Anak Manusia, Ia akan duduk di sebelah kanan Allah.

Ayat 63-64 mengatakan, “Lalu Imam Besar itu mengo-yakkan pakaiannya dan berkata, ‘Untuk apa kita perlu sak-si lagi? Kamu sudah mendengar hujat-Nya terhadap Allah. Bagaimana pendapat kamu?’ Dengan suara bulat mereka memutuskan bahwa Dia harus dihukum mati.” Para penen-tang yang buta itu menghakimi Hamba-Penyelamat, sebab Ia dianggap menghujat dalam menegaskan keilahian-Nya. Mereka tidak menyadari bahwa mereka sendirilah yang se-benarnya menghujat Allah, sebab justru Yesus yang mereka fitnah dan ejek itu sesungguhnya adalah Allah itu sendiri.

Ayat 65 mengatakan, “Lalu mulailah beberapa orang me-ludahi Dia dan menutupi muka-Nya dan meninju-Nya sambil berkata kepada-Nya, ‘Hai nabi, cobalah terka!’ Malah para pengawal pun memukul Dia.” Ini adalah penghinaan dan penolakan terberat dari orang-orang Yahudi terhadap Ham-ba-Penyelamat seperti yang dinubuatkan dalam Yesaya 53:3.

DISERAHKAN KEPADA PILATUS

Markus 15:1 mengatakan, “Pagi-pagi benar imam-imam kepala bersama tua-tua dan ahli-ahli Taurat serta para ang-gota Mahkamah Agama lainnya mengadakan pertemuan. Kemudian mereka membelenggu Yesus lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus.” Di bawah kedaulat-an Allah, Hamba-Penyelamat tidak hanya diadili oleh pemim-pin-pemimpin Yahudi, dalam 14:53-65, bagaikan seekor dom-ba di hadapan penggunting bulu (Yes. 53:7), tetapi juga oleh penguasa Romawi, dalam 15:1-15, bagaikan seorang penjahat di hadapan penuduh-penuduh (14:64), supaya Dia boleh mati untuk melayani orang-orang dosa dengan hayat-Nya sebagai suatu tebusan (10:45), tidak saja untuk orang-orang Yahudi, yang diwakili oleh pemimpin-pemimpin Yahudi, tetapi juga untuk orang-orang bukan Yahudi, yang diwakili oleh pengu-asa Romawi.

DIVONIS UNTUK DISALIBKAN

Markus 15:15 memberi tahu kita bahwa Pilatus, karena ingin memuaskan orang banyak, melepaskan Barabas un-tuk mereka dan menyerahkan Yesus untuk disalibkan. Ini menyingkapkan habis-habisan kegelapan dan ketidakadilan politik manusia. Hal ini merupakan penggenapan nubuat mengenai penderitaan Hamba-Penyelamat dalam Yesaya 53:5 dan 8.

Hukuman mati orang Yahudi dilaksanakan dengan me-rajam (Im. 20:2, 27; 24:14; Ul. 13:10; 17:5). Penyaliban ada-lah praktek kafir (Ezr. 6:11), yang diambil oleh pemerintah Romawi untuk menghukum mati budak dan pelaku kejahat-an yang berat saja. Penyaliban Tuhan Yesus bukan hanya menggenapi nubuat Perjanjian Lama (Ul. 21:23; Gal. 3:13; Bil. 21:8-9), tetapi juga menggenapi firman Tuhan tentang cara meninggal-Nya (Yoh. 3:14; 8:28; 12:32). Ini tidak dapat digenapi dengan dirajam.

Dalam 14:43—15:15 kita memiliki catatan pengalaman Tuhan Yesus dan Petrus. Pengalaman-pengalaman ini ter-jadi pada waktu yang sama. Ketika Tuhan Yesus dihakimi, Petrus juga dihakimi. Fakta bahwa Tuhan dihakimi oleh para pemimpin Yahudi dan gubernur Romawi adalah suatu tanda yang kuat bahwa Dia diuji oleh seluruh dunia. Dia di-hakimi oleh orang Yahudi menurut hukum Taurat mereka dan oleh orang bukan Yahudi menurut hukum Romawi.

Pada Tuhan Yesus, tentunya, tidak ada sesuatu yang membuatnya layak dihukum. Sebaliknya, Petrus terungkap mutlak salah. Catatan dalam Injil Markus menggabungkan penghakiman atas Tuhan Yesus oleh orang Yahudi dan orang bukan Yahudi dengan penyingkapan dan penghakiman atas Petrus.

Kita perlu nampak bahwa baik Petrus maupun Tuhan Yesus disalibkan. Kita dapat mengatakan bahwa Petrus dite-tapkan dan ditunjuk menjadi wakil kita.

Segala sesuatu yang terjadi yang berkaitan dengan penyaliban Yesus adalah penggenapan lambang atau nubuat dalam Perjanjian Lama. Kita telah menunjukkan bahwa sebagai penggenapan dari lambang Domba Paskah, Tuhan Yesus disalibkan pada hari Paskah. Dia ditangkap pada waktu malam. Menurut kalender Yahudi, hari tidak mulai pada pagi hari, tetapi pada malam hari. Tuhan Yesus meng-ambil bagian dalam hari raya Paskah pada sore hari Paskah. Ini berarti Dia makan Paskah pada permulaan hari Paskah. Kemudian Dia mendirikan perjamuan malam-Nya dan pergi ke Getsemani untuk berdoa.

Pada malam hari Tuhan ditangkap, dibawa ke dalam halaman Imam Besar dan dihakimi. Kemudian pada pagi hari Tuhan Yesus dibawa kepada Pilatus. Pagi-pagi sekali Tuhan Yesus dijatuhi hukuman mati. Segera setelah Dia dijatuhi hukuman, Dia dibawa ke Golgota, dan pada pukul sembilan pagi hari, Dia disalibkan.

Para penentang Tuhan tidak memberi orang-orang ke-sempatan untuk melakukan apa pun melawan mereka. Para penentang menangkap Tuhan Yesus dengan sembunyi-sem-bunyi, dan Tuhan bekerja sama dengan mereka. Tuhan de-ngan sengaja pergi ke Taman Getsemani, dan Yudas tahu bahwa Dia akan berada di sana. Karena itu, pada larut ma-lam, ketika orang-orang sedang tidur, Yudas memimpin pa-sukan ke Taman Getsemani untuk menangkap Tuhan Yesus. Dengan cepat, tanpa diketahui orang banyak, Tuhan di-hakimi oleh para pemimpin Yahudi. Kemudian Ia dihakimi oleh Pilatus dan dijatuhi hukuman mati. Untuk memuas-kan orang-orang, Pilatus mengambil keputusan dengan cepat untuk menyalibkan Tuhan Yesus.

ANAK MANUSIA

Kita telah menunjukkan bahwa ketika Tuhan Yesus dikenai tuduhan palsu, Dia tetap diam. Tetapi ketika Dia ditanyai mengenai persona-Nya, apakah Dia Kristus, Anak dari Yang Terpuji, Dia menjawab, “Jawab Yesus, ‘Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang dalam awan-awan di la-ngit’” (14:62). Meskipun Dia ditanyai apakah Dia adalah Anak dari Yang Terpuji, Anak Allah, Tuhan menyebut diri-Nya sendiri sebagai Anak Manusia. Tuhan adalah Anak Manusia, tidak hanya ketika berada di bumi sebelum penyaliban-Nya, tetapi juga di langit di sebelah kanan Allah setelah kebang-kitan-Nya (Kis. 7:56), dan bahkan pada kedatangan-Nya kembali di awan. Untuk melaksanakan tujuan Allah, Tuhan harus menjadi seorang manusia. Tanpa manusia, tujuan Allah tidak dapat dilaksanakan di bumi.

Dalam 14:62 Tuhan Yesus seolah-olah berkata kepada para pemimpin Yahudi, “Kalian bertanya apakah Aku Kristus, Anak dari Yang Terpuji. Aku berkata, ‘Ya.’ Aku juga adalah Anak Manusia, dan kalian akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa. Kalian berbicara tentang Yang Terpuji, tetapi Aku berbicara ten-tang Yang Mahakuasa.”

Baik “Yang terpuji” dalam ayat 61 maupun “Yang Ma-hakuasa” dalam ayat 62 mengacu kepada Allah Yang Maha-kuasa. Tuhan menggunakan kata-kata “Yang Mahakuasa” menunjukkan bahwa para pemimpin Yahudi bukan pemerin-tah, tetapi Dialah pemerintah. Kemudian Tuhan menunjuk-kan kepada mereka bahwa Dia akan datang kembali seba-gai Anak Manusia. Tuhan juga seolah-olah berkata, “Kalian menghormati Allah sebagai Yang Terpuji. Tetapi ketahuilah, Dia adalah Yang Mahakuasa yang mengatur segala hal. Kalian akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang dalam awan-awan di langit.”

Ketika Pilatus memeriksa Tuhan Yesus, dia tidak peduli apakah Dia adalah Anak Allah. Malahan, Pilatus menanyai Dia, “Engkaukah raja orang Yahudi?” (15:2). Terhadap per-tanyaan ini Tuhan menjawab, “Engkau sendiri mengata-kannya.” Ini berarti Tuhan mengaku kepada Pilatus bahwa Dia adalah Raja orang Yahudi. Karena itu, Dia adalah Anak Allah juga Raja orang Yahudi. Karena hal ini, Dia dihukum mati. Ini berarti Dia disalibkan sebagai Anak Allah dan sebagai Raja orang Yahudi.

MELEWATI PROSES KEMATIAN

Dalam pasal 14, ketika Tuhan Yesus sedang melalui proses penghakiman di tangan manusia, Petrus gagal. Da-lam kegagalannya dia mengalami kematian Tuhan. Semua pengikut dekat Tuhan juga dibawa ke dalam kematian-Nya.

Kita tidak seharusnya berpikir bahwa Tuhan Yesus sudah meninggalkan Petrus karena kegagalannya. Tidak, kegagalan Petrus adalah penyalibannya, dan penyaliban ini adalah pintu masuk ke dalam kematian Tuhan.

Petrus perlu disalibkan, dibawa ke dalam kematian Kristus, karena dia begitu alamiah. Karena berani, dia selalu menjadi pimpinan. Tentunya orang yang sedemikian perlu disalibkan, dan Petrus dalam faktanya disalibkan. Mes-kipun dia tidak menyadarinya pada waktu itu, dia masuk ke dalam kematian Tuhan. Tidak diragukan, kemudian, setelah kebangkitan dan kenaikan Tuhan, Petrus mulai menyadari bahwa dia telah masuk ke dalam penyaliban Tuhan.

Selama bertahun-tahun saya tidak mengerti mengapa catatan mengenai penghakiman Tuhan Yesus digabungkan dengan catatan pengalaman Petrus. Saya pikir hal ini ha-nya dimaksudkan untuk menyingkapkan Petrus. Sekarang saya nampak bahwa dalam hal ini Petrus tidak hanya di-singkapkan, tetapi sedang melewati proses kematian bersa-ma Tuhan Yesus. Karena Petrus adalah wakil kita, ini ber-arti kita semua masuk ke dalam kematian Tuhan bersama Petrus.

Tuhan Yesus pergi melalui kematian dengan cara yang penuh kemenangan, tetapi Petrus melewati kematian de-ngan kegagalan. Kegagalan ini menyingkapkan alamiah Petrus dan alamiah ini perlu dibereskan.

Tuhan Yesus bukan satu-satunya orang yang melewati proses kematian. Kita semua, yang diwakili oleh Petrus, telah melalui proses ini bersama Tuhan Yesus. Tidakkah Anda berpikir bahwa Anda adalah Petrus? Kita semua adalah Petrus yang perlu disingkapkan, dihakimi, dan disalibkan.