KEHIDUPAN YANG SEPENUHNYA SESUAI DENGAN DAN BAGI EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH (17)
Pembacaan Alkitab:
Yoh. 16:12-15; 20:22; Kis. 1:5, 8; 2:1-4, 17-18;
4:8, 31; 9:17; 13:9, 52; 6:3, 5a; 7:55; 11:24; 8:29, 39; 16:6-7;
Rm. 8:2, 9-11; 1 Kor. 15:45b; 2 Kor. 3:17-18; Flp. 1:19-21a; 3:7-10
Dalam berita sebelumnya kita telah menunjukkan bah-wa dalam Kitab Kisah Para Rasul kita memiliki baik Roh esensial maupun Roh ekonomikal. Dalam Kisah Para Rasul 8 kita memiliki baik Roh itu maupun Roh Tuhan. Kisah Para Rasul 8:29 mengatakan, “Lalu kata Roh (itu) kepada Filipus, ‘Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!’” Di sini, Roh bagi eksistensi rohani kita dan Roh bagi ekonomi Allah semuanya disebut “Roh itu”.
Kisah Para Rasul 8:39 kemudian mengatakan, “Setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba membawa Filipus pergi dan pegawai istana itu tidak melihatnya lagi.” Ungkap-an “Roh Tuhan” menunjukkan bahwa Roh itu adalah Tuhan. Sebagaimana ungkapan “kasih Allah” berarti bahwa kasih adalah Allah, dan “hayat Allah” berarti hayat adalah Allah, maka di sini “Roh Tuhan” berarti Roh itu adalah Tuhan. Karena itu, dalam Kitab Kisah Para Rasul kita nampak bah-wa Roh yang memiliki dua aspek, aspek esensial dan aspek ekonomikal, sesungguhnya adalah Tuhan itu sendiri.
ROH YESUS
Kisah Para Rasul 16:6-7 mengatakan, “Mereka melin-tasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus men-cegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. Setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka.” Roh Yesus dan Roh Kudus dalam ayat sebelumnya digunakan secara bergantian mewahyukan bahwa Roh Yesus adalah Roh Kudus. Dalam Perjanjian Baru, Roh Kudus adalah sebutan umum terhadap Roh Allah. Roh Yesus adalah ungkapan khusus terhadap Roh Allah. Ungkapan ini mengacu kepada Roh Juruselamat yang menjadi daging, Juruselamat ini adalah Yesus dalam keinsanian-Nya, melewati kehidupan insani dan kematian di kayu salib. Ini menunjukkan bahwa dalam Roh Yesus tidak hanya ada unsur ilahi Allah, tetapi juga unsur insani Yesus serta unsur kehidupan insani-Nya dan penderitaan kematian-Nya.
ROH PEMBERI-HAYAT
Dalam Kitab Kisah Para Rasul kita nampak bahwa se-telah kebangkitan dan kenaikan, Kristus menjadi Roh (itu), yaitu Roh pemberi-hayat. Dalam 1 Korintus 15:45 Paulus berkata, “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup, tetapi Adam yang terakhir menjadi roh yang meng-hidupkan.” Adam menjadi jiwa yang hidup melalui ciptaan dengan tubuh jiwani. Kristus menjadi Roh pemberi-hayat melalui kebangkitan dengan tubuh rohani. Adam sebagai ji-wa yang hidup bersifat alamiah; Kristus sebagai Roh pem-beri-hayat ada dalam kebangkitan. Mula-mula, dalam pen-ciptaan, Kristus menjadi daging untuk penebusan (Yoh. 1:14,29). Kemudian dalam kebangkitan, Dia menjadi Roh pem-beri-hayat untuk menyalurkan hayat (Yoh. 10:10). Sebagai Roh pemberi-hayat dalam kebangkitan, Dia siap diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya. Ketika kita percaya kepada-Nya, Dia masuk ke dalam roh kita, dan kita bersatu dengan Dia sebagai Roh pemberi-hayat. Karena itu, kita menjadi satu roh dengan Dia (1 Kor. 6:17).
Walaupun dalam 1 Korintus 15:45 Paulus berkata bah-wa Kristus, Adam yang terakhir, dalam kebangkitan men-jadi Roh pemberi-hayat, beberapa orang menganggap hal ini sebagai bidah. Jika Anda berkata kepada mereka bahwa ha-ri ini Kristus adalah Roh, mereka akan berkata, “Pengajaran ini bertentangan dengan doktrin Trinitas, dan ini bi-dah. Mengatakan bahwa Kristus adalah Roh mengacaukan ketiga persona dari Trinitas.” Namun, kita tidak mengikuti doktrin tradisional Trinitas. Sebaliknya, kita mengikuti fir-man Allah. Firman Allah mengatakan dengan jelas bahwa Adam yang akhir menjadi Roh pemberi-hayat.
ROH TUHAN
Dalam 2 Korintus 3:17 Paulus berkata, “Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Tuhan, di situ ada kemer-dekaan.” Di satu pihak, Paulus berkata bahwa Tuhan adalah Roh; di pihak lain, dia berbicara tentang Roh Tuhan. Menurut konteksnya, Tuhan dalam 2 Korintus 3:17 mengacu kepada Kristus Tuhan (2 Kor. 2:12, 14-15, 17; 3:3-4, 14, 16; 4:5). Jadi, ini adalah suatu perkataan yang tegas dalam Alkitab yang memberi tahu kita bahwa Kristus adalah Roh.
Ungkapan “Roh Tuhan” digunakan baik dalam 2 Korintus 3:17 maupun dalam Kisah Para Rasul 8:39. Menurut keseluruhan konteks dari Kitab Kisah Para Rasul, Roh Tuhan mengacu kepada Yesus Kristus. Begitu pula dalam 2 Korintus 3:17, di mana Roh Tuhan mengacu kepada Tuhan sebagai Roh. Karena itu, dalam ayat yang sama Paulus mengatakan bahwa Tuhan adalah Roh.
Dalam 2 Korintus 3:18 Paulus melanjutkan, “Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Tuhan Roh bisa dianggap sebagai sebutan yang majemuk sa-ma seperti Allah Bapa dan Kristus Tuhan. Ungkapan “Tuhan Roh” sekali lagi membuktikan bahwa Kristus Tuhan adalah Roh, dan Roh adalah Tuhan, Dia disebut sebagai Tuhan Roh. Ini adalah Kristus yang pneumatik (adalah Roh).
Dalam Injil Markus kita nampak Yesus, dan dalam Kitab Kisah Para Rasul kita memiliki Roh Tuhan dan Roh Yesus. Kemudian dalam 1 Korintus 15:45 Paulus berbicara mengenai Kristus sebagai Roh pemberi-hayat. Jelas, Adam yang akhir adalah Yesus, Yesus yang dilukiskan dalam Injil Markus. Paulus mengatakan bahwa Adam yang akhir ini telah menjadi Roh pemberi-hayat. Dia menjadi Roh pemberihayat melalui proses kematian dan kebangkitan.
Kita dapat mengatakan bahwa Roh Yesus adalah trans-figurasi Yesus. Tuhan Yesus adalah benih yang melalui proses kematian dan kebangkitan. Dalam kebangkitan-Nya, Adam yang akhir, “mekar” dan menjadi Roh pemberi-hayat. Karena itu, kita dapat mengatakan bahwa Roh pemberi-ha-yat adalah mekarnya Tuhan sebagai benih yang telah mela-lui proses kematian dan kebangkitan. Marilah kita menggu-nakan biji bunga anyelir sebagai suatu ilustrasi. Baik benih maupun bunga itu adalah pohon anyelir. Perbedaannya ada-lah benih itu adalah anyelir dalam bentuk benih, sedangkan bunga adalah anyelir dalam bentuk bunga. Dengan cara yang sama, kita dapat berkata bahwa benih dalam Injil Markus adalah Yesus, dan “bunga” dalam Kitab Kisah Para Rasul adalah Roh Yesus.
Hari ini, apakah kita sudah berbagian dalam Tuhan se-bagai benih atau bunga? Jawaban yang benar untuk perta-nyaan ini adalah kita mengalami Dia baik sebagai benih maupun sebagai bunga. Kita menikmati Dia sebagai benih yang telah menjadi bunga dalam kebangkitan.
ROH KRISTUS
Dalam Roma 8:2 Paulus membicarakan Roh hayat, dan dalam Roma 8:9 membicarakan tentang Roh Kristus. Roh Kristus berkaitan dengan kematian dan kebangkitan Tuhan. Roh Kristus adalah Roh yang sudah melewati kematian dan masuk ke dalam kebangkitan. Sekarang karena kita memi-liki Roh itu di dalam kita, kita tidak hanya memiliki Kristus, tetapi Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya.
Kematian Tuhan adalah pengakhiran yang almuhit, dan kebangkitan-Nya adalah penunasan yang almuhit. Dalam kematian-Nya kita diakhiri, dan dalam kebangkitan-Nya kita ditunaskan. Puji Tuhan bahwa kita memiliki Kristus yang almuhit dengan pengakhiran dan penunasan yang al-muhit! Karena itu, Roh Kristus adalah totalitas, gabungan dari Kristus yang almuhit dengan kematian dan kebangkit-an-Nya yang almuhit. Karena kita memiliki Roh ini se-bagai Kristus yang mekar, kita memiliki Kristus yang almuhit beserta pengakhiran dan penunasan yang almuhit. Sebagai yang diakhiri dan ditunaskan, kita sekarang bera-da dalam Roh yang ajaib ini.
Karena kita telah menerima Roh Kristus yang ajaib, ki-ta seharusnya memuji Dia dan bukan hanya berdoa. Mari-lah kita memuji Dia karena kita telah memiliki Roh itu. Jika kita hanya berdoa tetapi tidak memuji, dalam pengala-man kita sama seperti murid-murid dalam Injil Markus. Di satu aspek, Yakobus dan Yohanes berdoa ketika mereka minta Tuhan menganugerahi mereka tempat di sebelah ka-nan atau kiri-Nya dalam kerajaan-Nya. Kita hari ini tidak berada dalam Markus 10 atau bahkan dalam Markus 16 — kita berada dalam Roma 8. Karena kita berada dalam Roma 8, kita tidak seharusnya memberi tahu Tuhan dalam doa be-tapa kasihannya atau betapa malangnya kondisi kita. Dari-pada minta Tuhan menolong kita dari masalah-masalah kita, kita seharusnya memuji Tuhan bahwa kita berada da-lam Roh yang almuhit. Dalam Roh itu kita memiliki hayat, tenaga, kekuatan, kemampuan, keperkasaan, dan kuasa.
SUPLAI SERBA LIMPAH ROH YESUS KRISTUS
Dalam Filipi 1:19 Paulus berkata, “Karena aku tahu bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan (suplai serba limpah) Roh Yesus Kristus.” Sebagaimana dalam Roma 8, Roh di sini adalah Roh yang majemuk. Karena itu Paulus ber-kata bahwa situasinya akan berubah menjadi kesela-matan melalui suplai serba limpah dari Roh yang maje-muk.
Tidak ada petunjuk dalam Kitab Filipi bahwa Paulus berdoa dengan cara memberi tahu Tuhan betapa lemah-nya dia dan bahwa dia memerlukan Tuhan menguatkan dia. Tidak ada petunjuk bahwa Paulus berdoa, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku dipenjarakan demi Engkau. Aku telah setia terhadap-Mu, Tuhan, tetapi aku lemah, dan aku perlu diri-Mu menguatkanku. Belas kasihanilah aku sehingga aku dapat menanggung pemenjaraan ini.” Paulus tidak berdoa secara demikian dalam Kitab Filipi, dia juga tidak berdoa seperti ini ketika dia dan Silas berada di dalam penjara dalam Kisah Para Rasul 16. Menurut catatan dalam Kisah Para Rasul 16, Paulus dan Silas menyanyikan pujian kepada Tuhan.
Terlalu banyak orang Kristen berdoa dengan cara yang kasihan. Terlalu sedikit orang Kristen yang ber-sukacita, orang Kristen yang memuji. Kita perlu orang Kristen yang bersukacita, memuji, dan penuh dengan su-kacita. Bahkan selagi ada di dalam penjara, Paulus da-pat berbicara tentang bersukacita di dalam Tuhan (Flp. 3:1). Paulus tahu bahwa melalui suplai yang serba limpah dari Roh Yesus Kristus, pemenjaraannya akan menjadi keselamatannya sehingga dia bisa memperbesar Kristus dan memperhidupkan Dia (Flp. 1:20-21).
KELANJUTAN TUHAN YESUS
Dalam Filipi 3:7-10 Paulus berkata,“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap ru-gi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepas-kan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan de-ngan kebenaranku sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berda-sarkan kepercayaan. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam pende-ritaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Di sini kita nampak Paulus menganggap se-gala sesuatu rugi karena Kristus. Hal-hal ini tentunya men-cakup kesepuluh hal yang telah kita sebutkan dalam berita-berita sebelumnya: kebudayaan, agama, etika, moralitas, fil-safat, perbaikan karakter, dan usaha untuk menjadi rohani, alkitabiah, kudus, dan menang. Paulus menganggap segala sesuatu rugi demi Roh majemuk ini sehingga kita bisa ditemukan dalam Kristus, bukan dalam hal-hal yang lain.
Paulus juga ingin mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya dan diserupakan dengan kematian-Nya. Sekali lagi kita memiliki Kristus bersama kematian dan kebangkitan-Nya.
Dalam Surat Filipi kita nampak bahwa Paulus adalah kelanjutan Tuhan Yesus. Sama seperti Tuhan menempuh ke-hidupan yang sepenuhnya sesuai dengan dan bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah, maka Paulus menempuh kehidupan yang sepenuhnya sesuai dengan dan bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah.
ROH YANG ALMUHIT DI DALAM KITA
Dalam Perjanjian Baru, kedua puluh dua kitab dari Kitab Kisah Para Rasul sampai Kitab Yudas mewahyukan Kristus yang pneumatik (adalah roh) dan almuhit. Kita telah nam-pak bahwa kita perlu memuji Tuhan karena kita telah me-nerima Kristus yang pneumatik ini, karena kita telah me-nerima Dia sebagai Roh pemberi-hayat. Namun, seseorang mungkin berkata, “Apakah Anda sungguh-sungguh serius bahwa apa yang kita lakukan hanyalah memuji Tuhan? Bu-kankah ada hal lain yang harus kita kerjakan?” Menjawab pertanyaan yang sedemikian ini berarti memberi tumpuan bagi “rumput” dari kesepuluh hal pengganti Kristus untuk bertumbuh di dalam kita. Semakin kita bertanya apa yang seharusnya kita lakukan, semakin alang-alang ini akan di-taburkan ke dalam kita.
Sebagaimana seperti benih dari sejenis rumput dibawa oleh angin, demikian juga benih dari rumput setani dibawa oleh hembusan angin setani. Seseorang mungkin berkata, “Aku setuju bahwa kita seharusnya memuji Tuhan karena Dia adalah Roh yang almuhit di dalam kita. Tetapi aku ma-sih percaya bahwa kita perlu melakukan sesuatu.” Pembi-caraan semacam ini menunjukkan pengaruh hembusan angin setani. Selama kita berpikir bahwa diri kita sendiri harus melakukan sesuatu, kita akan mengalami kegagalan, dan kita akan disimpangkan dari apa yang kita dengar da-lam berita-berita ini.
Mari kita lupakan usaha kita untuk mengerjakan sesuatu; marilah memuji Tuhan bahwa kita telah menerima Roh yang majemuk. Puji Dia bahwa kita telah menerima hembusan-Nya berupa Roh yang esensial dan menerima pembaptisan-Nya dengan Roh yang ekonomikal. Sekarang kita berada dalam Roh yang almuhit sebagai perampungan sempurna Allah Tritunggal.