KEHIDUPAN YANG SEPENUHNYA SESUAI DENGAN DAN BAGI EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH (16)
Pembacaan Alkitab:
Yoh. 16:12-15; 20:22; Kis. 1:5, 8; 2:1-4, 17-18;
4:8, 31; 9:17; 13:9, 52; 6:3, 5a; 7:55; 11:24; 8:29, 39; 16:6-7;
Rm. 8:2, 9-11; 1 Kor. 15:45b; 2 Kor. 3:17-18; Flp. 1:19-21a; 3:7-10
Dalam Injil Markus kita nampak Tuhan Yesus sebagai Orang yang menempuh kehidupan yang sepenuhnya sesuai dengan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Orang ini adalah penabur dan benih. Dia menaburkan diri-Nya sendiri seba-gai benih ke dalam murid-murid-Nya. Tuhan mengumpul-kan murid-murid, orang-orang pilihan Allah, sebagai “tanah”-Nya di mana Dia menaburkan diri-Nya sendiri se-hingga Dia bisa bertumbuh di dalam mereka dan mereka bisa menumbuhkan Dia. Tuhan juga membawa murid-mu-rid-Nya ke atas salib dan mengakhiri mereka. Setelah itu, Dia membawa mereka ke dalam kebangkitan. Setelah nam-pak hal-hal ini dalam berita-berita sebelumnya, marilah kita sekarang maju untuk melihat bagaimana murid-murid merupakan kelanjutan dari Tuhan Yesus.
Injil Markus berakhir dengan kenaikan Tuhan. Apa yang Tuhan Yesus kerjakan sekarang setelah Dia bangkit dan naik ke surga? Untuk menemukan apa yang Tuhan ker-jakan setelah kenaikan-Nya, kita perlu Kitab Kisah Para Rasul.
DUA ASPEK ROH KUDUS
Dalam Kisah Para Rasul 1, Kristus yang bangkit ber-pesan kepada para murid-Nya untuk tinggal di Yerusalem menerima baptisan Roh Kudus: “Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis de-ngan Roh Kudus” (Kis. 1:5). Dalam ayat 8, Dia selanjutnya berkata, “Tetapi kamu akan menerima kuasa (kekuatan), bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu.” Di sini kita nampak bahwa baptisan Roh Kudus adalah perkara Roh tu-run ke atas para murid.
Dalam Kisah Para Rasul 1, Tuhan berbicara tentang pengalaman para murid menerima Roh Kudus turun ke atas mereka. Tetapi sudahkah para murid menerima Roh Kudus? Menurut Yohanes 20, pada malam hari kebangkit-an-Nya, Tuhan menampakkan diri kepada para murid-Nya, menghembusi mereka, dan berkata, “Terimalah Roh Kudus” (ayat 22). Dalam ayat ini Roh Kudus diumpamakan seperti nafas. Nafas adalah sesuatu yang di dalam, sesuatu yang berhubungan dengan hayat yang di dalam kita. Karena itu, dalam Yohanes 20:22, murid-murid menerima Roh Kudus sebagai nafas hayat.
Empat puluh hari setelah kebangkitan-Nya, Tuhan menyuruh para murid untuk tinggal di Yerusalem supaya Roh Kudus turun ke atas mereka. Turunnya Roh ke atas murid-murid adalah untuk kuasa, bukan untuk hayat. Dalam Yohanes 20 kita mempunyai Roh yang di batin un-tuk hayat; dalam Kisah Para Rasul 1 kita memiliki Roh yang di luar untuk kekuatan, untuk baptisan. Ketika sese-orang dibaptis, dia tidak minum air, melainkan dicelup ke dalam air. Dalam cara yang sama, baptisan di dalam Roh Kudus adalah perihal Roh turun ke atas kita secara luaran sehingga kita bisa memiliki kekuatan.
Perkataan Tuhan kepada murid-murid mengenai Roh Kudus dalam Kisah Para Rasul 1 digenapi dalam pasal 2. Pada hari Pentakosta “tiba-tiba terdengarlah bunyi dari la-ngit seperti tiupan angin keras” yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk. Kemudian mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus (Kis. 2:1-4). Pada hari kebang-kitan Tuhan, murid-murid menerima Roh Kudus sebagai hembusan hayat. Lima puluh hari kemudian, pada hari Pentakosta, Roh Kudus turun ke atas murid-murid sebagai tiupan angin yang keras. Kita dapat nampak dengan mudah perbedaan antara nafas dengan angin. Nafas adalah untuk hayat dan angin adalah untuk kekuatan. Dalam Yohanes 20 dan Kisah Para Rasul 2 kita memiliki dua lambang Roh Kudus: nafas untuk hayat secara batiniah dan angin untuk kekuatan secara lahiriah.
Dalam Hayat dan Ministri Tuhan Yesus
Pada Tuhan Yesus, kita juga nampak dua aspek dari Roh Kudus ini. Pertama, Tuhan dikandung dari Roh Kudus (Luk. 1:35; Mat. 1:18, 20). Kemudian pada usia tiga puluh, ketika Dia keluar untuk melayani, Roh Kudus turun ke atas Dia, dan Dia dibaptis dalam Roh Kudus (Luk. 3:21-22). Tuhan dikandung oleh Roh adalah perihal Roh itu secara esensial, tetapi dibaptisnya Dia dalam Roh Kudus adalah perihal Roh turun ke atas Dia secara ekonomikal. Karena itu, Roh Kudus bagi pengandungan Tuhan bersifat esensial, sedangkan Roh Kudus bagi ministri-Nya bersifat ekonomikal.
Karena Tuhan Yesus dikandung dari Roh Kudus se-cara esensial, maka Roh itu menjadi esens dari apa adanya Dia. Tuhan memiliki esens ilahi melalui dikan-dung Roh Kudus. Dia juga menerima esens insani dari perawan Maria. Karena Dia dikandung dari esens ilahi dan dilahirkan dari esens insani, maka Dia dilahirkan sebagai seorang Manusia-Allah. Ini berarti bagi apa ada-nya Dia sebagai Manusia-Allah, Dia memiliki dua esens — esens ilahi dan esens insani. Karena itu, Tuhan ada-lah Allah dan Manusia, Allah yang lengkap dan manusia yang sempurna. Ini adalah perihal apa adanya Dia, eksistensi-Nya.
Selama tiga puluh tahun Tuhan Yesus hidup di bumi sebagai Manusia-Allah. Pada umur tiga puluh Dia me-mulai ministri-Nya. Untuk ministri-Nya, Dia memerlu-kan Roh Allah turun ke atas Dia bukan secara esensial, tetapi secara ekonomikal. Turunnya Roh ke atas Tuhan Yesus adalah bagi ekonomi Allah, bukan bagi eksistensi Tuhan. Bagi eksistensi-Nya Dia memerlukan Roh Kudus secara esensial menjadi esens ilahi-Nya. Tetapi untuk melaksanakan ekonomi Allah, Dia memerlukan Roh Kudus turun ke atas Dia secara ekonomikal.
Dalam Pengalaman Murid-murid
Para murid juga menerima Roh Kudus baik secara esensial maupun secara ekonomikal. Mereka menerima Roh itu secara esensial dalam Yohanes 20:22. Penerimaan Roh secara esensial adalah bagi eksistensi rohani mereka, apa adanya kerohanian mereka. Ketika para murid menerima Roh Kudus dalam Yohanes 20, mereka menerima esens ilahi. Setelah menerima Roh dalam aspek ini bagi eksistensi rohani mereka, mereka masih perlu menerima Roh secara ekonomikal sehingga mereka dapat melaksanakan ekonomi Allah sebagai kelanjutan Tuhan Yesus. Para murid harus melaksanakan ekonomi Allah seperti yang dikerjakan Tuhan Yesus. Karena Tuhan melaksanakan ekonomi Allah dengan Roh ekonomikal, para murid juga harus melaksanakan eko-nomi Allah dengan Roh ekonomikal. Sebab itu, setelah me-nerima Roh itu secara esensial, para murid perlu menerima Roh itu secara ekonomikal. Mereka menerima Roh ekonomi-kal dalam Kisah Para Rasul 2.
Kita telah menekankan bahwa dalam Yohanes 20:22 para murid menerima Roh Kudus secara esensial bagi ek-sistensi dan kerohanian mereka. Dalam Kisah Para Rasul 1 kita nampak bahwa para murid hidup dalam apa adanya kerohanian ini. Sebelum Yohanes 20, yaitu sebelum kema-tian dan kebangkitan Tuhan, para murid belum dihidupkan dalam apa adanya kerohanian mereka bagi eksistensi rohani mereka. Sebaliknya, mereka memiliki manusia alamiah yang jatuh dan bersifat daging. Bahkan setelah Tuhan me-wahyukan kepada mereka kematian dan kebangkitan-Nya untuk kali ketiga (Mrk. 10:32-34), para murid masih berde-bat mengenai siapakah yang terbesar (Mrk. 10:35-45). Selain itu, Petrus tentunya berada dalam manusia alamiahnya ke-tika dia menyangkal Tuhan. Tetapi setelah kematian dan kebangkitan Kristus, para murid menerima Roh esensial sebagai sumber dari apa adanya kerohanian mereka. Dalam Kisah Para Rasul 1, meskipun para murid belum menerima Roh Kudus turun ke atas mereka secara ekonomikal, me-reka sudah mengalami Roh secara esensial bagi eksistensi rohani mereka. Karena itu, dalam apa adanya mereka, me-reka menjadi rohani.
Para murid memiliki Roh esensial bagi apa adanya kerohanian mereka, tetapi mereka masih memerlukan Roh Kudus turun ke atas mereka secara ekonomikal. Hal ini terjadi pada hari Pentakosta. Dalam Kisah Para Rasul 2, Roh itu sepenuhnya rampung sempurna bagi pengalaman kaum beriman.
Dalam Pengalaman Kita Hari Ini
Kapan Anda menerima Roh Kudus secara esensial dan secara ekonomikal? Mungkin ada yang mengatakan bahwa mereka menerima Roh Kudus secara esensial ketika mereka dilahirkan kembali dan secara ekonomikal setelah kelahiran kembali. Menurut cara pemahaman yang alkitabiah akan hal ini, kita menerima Roh Kudus secara esensial dan seca-ra ekonomikal lebih dari 1900 tahun yang lalu. Kita semua menerima Roh Kudus secara esensial dalam Yohanes 20. Kemudian kaum beriman Yahudi dalam Kristus menerima Roh Kudus secara ekonomikal dalam Kisah Para Rasul 2, dan kaum beriman bukan Yahudi menerima Roh Kudus secara ekonomikal dalam Kisah Para Rasul 10.
Kita bisa menggunakan pembelian rumah sebagai suatu ilustrasi penerimaan Roh Kudus. Misalkan seorang saudara membeli rumah sebelum dia menikah. Kemudian dia meni-kah dan memiliki anak-anak. Kapankah istri dan anak-anak dari saudara ini membeli rumah? Jawaban yang benar ada-lah mereka membelinya ketika saudara itu membelinya. Prinsip ini sama dengan perihal kita menerima Roh Kudus. Kapan kita menerima Roh Kudus? Kita menerima Roh Kudus ketika para murid sebagai wakil kita menerima Roh itu.
Sepanjang abad banyak orang telah percaya ke dalam Tuhan Yesus. Setiap kali seseorang percaya ke dalam Dia, apakah Tuhan datang kepada orang itu untuk menghem-busi dia dan kemudian membaptis dia dalam Roh Kudus? Tidak, Tuhan Yesus menghembuskan Roh dan membaptis kaum beriman dalam Roh sekali untuk selamanya. Baik hembusan Roh itu maupun baptisan Roh adalah fakta yang sudah rampung. Dalam Yohanes 20, Tuhan menghembus-kan Roh itu secara esensial ke dalam Tubuh-Nya. Hal ini ter-jadi sekali untuk selamanya. Sekarang, sebagaimana istri dan anak-anak seorang saudara menikmati rumah yang dibeli olehnya sebelum dia menikah dan sebelum anak-anaknya dilahirkan, demikian pula, kita berbagian dalam hembusan Roh itu sebagai mereka yang telah menjadi anggota-anggota Tubuh-Nya. Dalam hal ini, istri dan anak-anak saudara tadi tidak perlu membeli rumah itu lagi. Demikian pula, Tuhan tidak perlu menghembuskan Roh itu lagi. Kita cu-kup mengambil bagian dalam Roh yang dihembuskan oleh Tuhan ke dalam Tubuh.
Setelah kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus datang kepada murid-murid-Nya dan menganggap mereka sebagai Tubuh-Nya, menghembuskan Roh Kudus ke dalam mereka secara esensial. Lima puluh hari kemudian, pada hari raya Pentakosta, Dia membaptis bagian Yahudi dari Tubuh-Nya ke dalam Roh Kudus. Setelah itu, dalam rumah Kornelius, Dia membaptis bagian bukan Yahudi dari Tubuh-Nya ke dalam Roh itu. Pada waktu itu perampungan Roh itu bagi Tubuh sudah sepenuhnya tergenapi.
Ketika orang dosa percaya ke dalam Tuhan Yesus, tindakan percayanya menyatukan dia baik kepada Tuhan maupun kepada Tubuh. Dengan jalan ini, Roh itu men-jadi bagiannya. Dia sekarang memiliki bagian dalam hem-busan Roh itu secara esensial ke dalam Tubuh-Nya dan dalam baptisan Roh itu secara ekonomikal.
Kita tidak seharusnya berpikir bahwa ada dua Roh atau bahwa Roh itu boleh dipisahkan. Sebaliknya, hanya ada satu Roh. Tetapi ada dua aspek Roh itu, aspek esen-sial dan aspek ekonomikal. Aspek pertama dari Roh itu adalah esensial dan aspek yang lain adalah ekonomikal. Hari ini dalam pengalaman kita, kita memiliki dua aspek dari Roh Kudus. Kita memiliki Roh yang esensial dan Roh yang ekonomikal.
ROH ESENSIAL DAN ROH EKONOMIKAL
DALAM KITAB KISAH PARA RASUL
Dalam Kitab Kisah Para Rasul kita dapat mengatakan bahwa ada dua garis mengenai Roh itu — garis Roh esensial dan garis Roh ekonomikal. Baiklah pertama-tama kita membahas beberapa ayat yang berhubungan dengan Roh ekono-mikal dan kemudian ayat-ayat yang berkaitan dengan Roh esensial.
Roh Ekonomikal
Kisah Para Rasul 1:5 mengatakan, “Sebab Yohanes mem-baptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibap-tis dengan Roh Kudus.” Hal ini dengan jelas mengacu kepada Roh ekonomikal. Kemudian ayat 8 meneruskan, “Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu.” Roh turun ke atas kita adalah masalah Roh ekonomikal.
Kisah Para Rasul 2:4 mengatakan bahwa murid-murid “semua dipenuhi dengan Roh Kudus”. Di sini kita nampak bahwa murid-murid dipenuhi dengan Roh secara ekonomi-kal bagi ministri mereka.
Kisah Para Rasul 2:17-18 mengatakan, “Akan terjadi pada hari-hari terakhir — demikianlah firman Allah — bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua ma-nusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan pemuda-pemudimu akan mendapat pengli-hatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan men-dapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat.” Ayat-ayat ini membicarakan pencurahan Roh. Hal ini berbeda dengan penghembusan Roh ke dalam murid-murid yang keluar dari mulut Kristus pada hari kebangkitan-Nya. Pencurahan Roh Allah adalah dari langit pada hari kenaikan Kristus. Yang terdahulu adalah aspek esensial dari Roh yang dihembuskan ke dalam murid-murid bagi apa adanya dan eksistensi rohani mereka; yang kemudian adalah aspek ekonomikal dari Roh yang dicurah-kan ke atas mereka sebagai kekuatan bagi pekerjaan me-reka.
Dalam Kisah Para Rasul 4 aspek ekonomikal dari Roh Kudus disebutkan dua kali. Ayat 8 mengatakan bahwa Petrus “penuh dengan Roh Kudus”. Ini adalah pemenuhan Roh se-cara ekonomikal bagi ministri. Ayat 31 mengatakan, “Mere-ka semua dipenuhi oleh Roh Kudus.” Ini juga merupakan pemenuhan ekonomikal dari Roh itu.
Dalam Kisah Para Rasul 9:17 kita nampak bahwa Ana-nias diutus kepada Saulus dari Tarsus sehingga Saulus bisa dipenuhi Roh Kudus secara ekonomikal: “Lalu pergilah Ana-nias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya, ‘Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.’” Sebelum Ananias datang kepadanya, Saulus telah menerima Roh esensial. Ketika Saulus menyeru nama Tuhan, dia mulai berbagian dalam Roh esensial. Tetapi dalam 9:17 Ananias datang untuk meletakkan tangannya ke atas Saulus sehingga Saulus dapat berbagian dalam Roh ekonomikal.
Kisah Para Rasul 13:9 memberi tahu kita bahwa Paulus dipenuhi dengan Roh Kudus. Ini juga mengacu kepada aspek ekonomikal dari Roh itu.
Roh Esensial
Ayat-ayat lain dalam Kitab Kisah Para Rasul mengacu kepada Roh esensial. Salah satu ayat tersebut ada dalam Kisah Para Rasul 6:3: “Karena itu, Saudara-saudara, pilih-lah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik dan penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu.” Ini mengacu kepada dipenuhi dengan Roh itu secara esensial bagi hayat. Untuk melaksanakan pela-yanan yang dibicarakan dalam pasal 6 tidak diperlukan kekuatan; hanya diperlukan hayat dengan hikmat dan ke-sabaran. Bagi pelayanan ini kita perlu dipenuhi Roh hayat, bukan Roh kekuatan. Dipenuhi dengan Roh kekuatan ada-lah bagi ekonomi Allah, sedangkan dipenuhi dengan Roh hayat adalah bagi eksistensi rohani kita. Dalam ayat ini “hikmat” menunjukkan bahwa pemenuhan ini adalah peme-nuhan Roh esensial bagi hayat.
Dalam Kisah Para Rasul 6:5 kita diberi tahu bahwa Stefanus adalah “seorang yang penuh iman dan Roh Kudus.” Sekali lagi, hal ini mengacu kepada aspek esensial Roh itu.
Ketika Stefanus dirajam batu, dia penuh dengan Roh itu secara esensial: “Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah” (7:55). Pemenuh-an Roh di sini adalah perihal hayat, bukan kekuatan. Ka-rena itu, hal ini adalah pemenuhan Roh.
Mengenai Barnabas, Kisah Para Rasul 11:24 menggam-barkan dia sebagai “orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman.” Ayat ini juga berbicara tentang aspek esensial dari Roh itu.
Kisah Para Rasul 13:52 mengatakan, “Murid-murid di Antiokhia tetap penuh dengan sukacita dan dengan Roh Kudus.” Pemenuhan oleh Roh Kudus di sini adalah di aspek esensial, untuk hayat, bukan untuk kekuatan. Dalam ayat ini para murid dipenuhi dengan Roh Kudus secara esensial untuk hayat, bukan untuk kekuasaan.
Ketika kita membahas ayat-ayat ini dalam Kitab Kisah Para Rasul, kita nampak dengan jelas dua aspek Roh Kudus. Di satu pihak, kita nampak aspek esensial dari Roh itu bagi hayat rohani kita; di pihak lain, kita nampak aspek ekonomikal dari Roh itu bagi pekerjaan kita untuk melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru Allah.