KEHIDUPAN YANG SEPENUHNYA SESUAI DENGAN DAN BAGI EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH (14)
Pembacaan Alkitab:
Mrk. 1:14-18; 4:26; 9:1-8; 10:23-25; Rm. 14:17
Dalam berita sebelumnya kita membahas latar belakang ministri Tuhan dalam Injil Markus. Kita nampak bahwa dalam baptisan-Nya Dia mengakhiri hal-hal agama dan ke-budayaan. Kemudian dalam ministri-Nya Dia menaburkan diri-Nya sebagai benih kerajaan ke dalam umat pilihan Allah. Benih ini berkembang ke dalam Kerajaan Allah. Di satu pihak, Kerajaan Allah adalah bagi penggenapan tujuan kekal Allah; di pihak lain, Kerajaan Allah adalah bagi kenikmatan kita. Sekarang mari kita lanjutkan melihat ba-gaimana umat pilihan Allah yang merupakan tanah yang ke dalamnya Kristus ditaburkan sebagai benih kerajaan, berkembang menjadi Kerajaan Allah.
TANAH UNTUK MENUMBUHKAN KRISTUS
AGAR MENJADI KERAJAAN ALLAH
Umat pilihan Allah adalah tanah untuk menumbuh-kan Kristus agar menjadi Kerajaan Allah. Namun, umat Allah jatuh. Menurut gambaran yang digambarkan oleh pe-ristiwa-peristiwa yang dicatat dalam Injil Markus, mereka sakit, tercemar, lumpuh, mati sebelah, rusak, tuli, bisu, buta, dan bahkan mati secara rohani.
Umat Allah telah ditentukan oleh Dia untuk menjadi tanah di mana Kristus akan ditaburkan sebagai benih dan di mana Dia akan bertumbuh bagi perkembangan Kerajaan Allah. Tetapi “tanah” ini menjadi sakit, tercemar, lumpuh, dan mati sebelah. Tanah ini menjadi rusak, buta, bisu, tuli, dan bahkan dirasuk setan. Sebelum kita beroleh selamat, kita semua adalah tanah jenis ini.
Dalam Markus 1, Tuhan Yesus mulai mengumpulkan tanah. Dalam 1:14-15 dikatakan bahwa Yesus datang ke Galilea, memberitakan Injil Allah dengan berkata, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Segera setelah hal ini kita memi-liki catatan tentang Tuhan memanggil empat orang murid-Nya: Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes (1:16-20). Da-lam berita sebelumnya kita menunjukkan bahwa Tuhan memberitakan Injil dengan menaburkan diri-Nya sebagai benih ke dalam orang. Dalam 1:16-20 kita nampak keempat orang yang Tuhan kumpulkan itu menjadi tanah yang ke dalamnya Dia menaburkan diri-Nya sebagai benih kerajaan.
MENGIKUTI TUHAN
Ketika Tuhan mengumpulkan murid-murid-Nya dalam 1:16-20, Dia menginginkan murid-murid melakukan apa? Ayat 16 memberi tahu kita bahwa Simon dan Andreas se-dang “menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan”. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (ayat 17). Segera mereka meninggalkan jala mereka dan mengikuti Dia (ayat 18). Setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, Ia melihat Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Dia memanggil mereka, dan mereka “meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu meng-ikuti Dia” (ayat 20). Di sini kita nampak bahwa keempat murid-Nya meninggalkan jala mereka, perahu mereka, ayah mereka, dan bahkan laut. Mereka meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Yesus.
Ketika saya membaca kitab Injil semasa muda, saya heran apa yang dimaksud dengan mengikuti Yesus. Saya sangat terkesan dengan perkataan Tuhan, “Ikutlah Aku.” Kemudian saya diajarkan bahwa mengikuti Yesus berarti mengerjakan apa saja yang Yesus lakukan. Sebagai contoh, Yesus mengasihi orang, maka kita seharusnya juga mengsihi orang. Yesus lembut dan baik, maka kita seharusnya juga lembut dan baik. Awalnya saya setuju dengan penger-tian yang demikian terhadap makna mengikut Tuhan Yesus. Tetapi akhirnya saya menemukan bahwa mengikuti Yesus secara demikian dapat dibandingkan dengan mengajarkan monyet untuk berperilaku seperti manusia. Seekor monyet bisa dilatih untuk duduk, berdiri, dan berjalan seperti ma-nusia. Namun, itu tidak lebih dari sekadar peniruan. Wa-laupun demikian, banyak orang Kristen mencoba mengikuti Kristus dengan jalan meniru Dia. Itu adalah pengertian yang salah tentang mengikuti Yesus, dan kita seharusnya menolaknya. Tetapi kita masih menyisakan pertanyaan mengenai apa yang dimaksud dengan mengikuti Tuhan Yesus.
Kita telah menekankan fakta bahwa ketika Tuhan Yesus memanggil murid-murid, Dia mengumpulkan mereka untuk menjadi tanah di mana Dia akan menaburkan diri-Nya sebagai benih. Karena itu, kita dapat berkata bahwa mengikuti Yesus adalah diletakkan ke dalam “kantong”-Nya bagi tujuan penaburan diri-Nya sendiri ke dalam kita.
PENYEMBUHAN TANAH
Dipilih oleh Allah
Kita telah nampak bahwa dalam Injil Markus Tuhan Yesus mengumpulkan tanah dan meletakkannya ke dalam kantong-Nya supaya Dia bisa menaburkan diri-Nya ke dalamnya. Tetapi menurut peristiwa yang dicatat dalam Injil Markus, tanah ini berada dalam kondisi yang menyedihkan. Bagaimana Tuhan dapat menggunakan tanah yang sakit, tercemar, dan rusak ini? Ada orang mungkin mengira bah-wa Tuhan seharusnya membuang tanah yang tidak bergu-na ini. Tetapi Tuhan tidak dapat membuang mereka yang telah dipilih oleh Allah dan ditentukan sebelum dunia dijadi-kan. Dalam satu pengertian yang sangat riil, Tuhan Yesus tidak memiliki pilihan. Murid-murid telah ditandai, telah ditentukan. Bagaimana Tuhan dapat menolak mereka? Bapa telah memilih mereka sebelum dunia dijadikan, dan Tuhan telah datang untuk melakukan kehendak Allah Bapa. Kare-na itu, Dia tidak dapat membuang murid-murid, meskipun sebagai tanah mereka berada dalam kondisi yang begitu ka-sihan. Lalu, apa yang dapat Tuhan lakukan terhadap tanah itu? Sebagaimana ditunjukkan dalam Injil Markus, Dia per-lu menyembuhkan tanah ini dan mengubahnya menjadi tanah yang baik.
Melalui Kematian dan Kebangkitan
Kita telah nampak bahwa menurut Injil Markus, tanah itu berada dalam kondisi yang kasihan. Bagaimana tanah itu dapat disembuhkan? Jalan yang tepat untuk menyembuhkan tanah itu adalah membawanya melewati proses ke-matian dan kebangkitan. Pada prinsipnya, ini adalah cara penyembuhan yang terjadi dalam tubuh jasmani kita. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa dalam menciptakan tubuh manusia, Dia mengatur prinsip sedemikian. Jika tidak, begitu seseorang sakit, dia tidak akan mungkin dipulihkan. Namun, dalam tubuh kita ada prinsip kematian dan ke-bangkitan, prinsip mematikan yang tua dan membangkitkan sesuatu yang baru. Penyakit disembuhkan dalam tubuh ma-nusia melalui prinsip hayat dasar ini di mana hal-hal yang tua mati dan hal-hal yang baru dihasilkan.
Jika kita mengerti prinsip ini, kita akan nampak ba-gaimana Tuhan Yesus menyembuhkan tanah di mana Dia menaburkan diri-Nya sendiri sebagai benih kerajaan. Tanah manusia yang telah dipilih oleh Allah telah tercemar dan menjadi tidak berguna. Tetapi karena Allah Bapa telah memilih tanah ini, Tuhan Yesus tidak dapat membuangnya. Tanah ini bahkan telah ditentukan, ditandai oleh Bapa. Tuhan pasti ada jalan untuk menyembuhkan tanah ini.
Seperti telah kita nampak, mengikuti Tuhan Yesus berarti diletakkan dalam “kantong”-Nya. Tetapi bagaimana Tuhan menyembuhkan tanah, yang ada di dalam kantong-Nya? Dia menyembuhkan tanah itu dengan membawanya ke atas salib dan mematikannya kemudian membawanya ke dalam kebangkitan. Dalam kematian Tuhan, kita mati; mak-sudnya, dalam kematian-Nya kita dimatikan. Kemudian dalam kebangkitan-Nya kita dibangkitkan. Karena itu, kita mati dalam kematian Tuhan dan dibangkitkan dalam ke-bangkitan-Nya. Dengan demikian tanah ini disembuhkan.
Dalam Markus 1, Tuhan Yesus memanggil Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, dan mereka mulai meng-ikuti Dia. Sesungguhnya, mereka mengikuti Tuhan secara buta, tidak tahu ke mana mereka akan pergi atau apa yang akan mereka kerjakan. Fakta bahwa Petrus membuat ba-nyak kesalahan menunjukkan bahwa dia tidak tahu apa yang terjadi. Namun, Tuhan Yesus tahu apa yang ingin Dia kerjakan bersama para murid-Nya.
Setelah mengumpulkan para murid sebagai tanah, Tuhan menyajikan diri-Nya sendiri kepada mereka sebagai pola (teladan). Selama lebih dari tiga tahun, Petrus dan pa-ra murid lainnya mengamati apa yang Tuhan katakan dan lakukan. Akhirnya, Tuhan Yesus membawa para murid dan semua yang telah dipilih oleh Allah ke atas salib. Setelah Dia membawa mereka melalui kematian dan kebangkitan, me-reka disembuhkan. Inilah alasan kita mengatakan bahwa dalam kematian dan kebangkitan Kristus, para pengikut-Nya sebagai tanah yang dipilih oleh Allah, disembuhkan. Semua penyembuhan dalam Injil Markus adalah tanda yang menunjuk kepada penyembuhan yang sejati ini, penyembuh-an yang terjadi melalui kematian dan kebangkitan Kristus.
Para Murid Menjadi Tanah yang Baik
Ketika kita sampai pada Kisah Para Rasul 1, kita nampak bahwa Petrus, Andreas, Yohanes, dan Yakobus, dengan keseratus dua puluh orang yang lainnya, tidak lagi sakit. Mereka tidak lagi sakit demam, tercemar, lumpuh, mati sebelah, buta, bisu, atau tuli. Mereka semua telah disembuhkan melalui kematian dan kebangkitan Tuhan.
Dalam berita sebelumnya dan dalam berita ini kita telah membahas empat hal: latar belakang ministri Tuhan, Tuhan sebagai penabur menaburkan diri-Nya sendiri seba-gai benih, para murid sebagai tanah yang dipilih oleh Allah, dan penyembuhan tanah. Setelah disembuhkan melalui ke-matian dan kebangkitan Kristus, orang-orang pilihan Allah dipulihkan dan menjadi tanah yang baik. Mereka menjadi “tanah yang baik” yang dibicarakan dalam Markus 4:8 dan 20.
PERAMPUNGAN PENABURAN TUHAN
Melalui kematian dan kebangkitan-Nya Tuhan Yesus tidak hanya menyembuhkan tanah, tetapi juga membebas-kan hayat Allah dan menyalurkannya ke dalam tanah. Me-lalui kematian-Nya hayat ilahi yang ada di dalam-Nya dibe-baskan, dan melalui kebangkitan-Nya hayat ini disalurkan ke dalam tanah. Karena itu, kematian dan kebangkitan Tuhan adalah perampungan penaburan diri-Nya sebagai benih ke dalam murid-murid-Nya.
Penaburan ini dimulai dalam Markus 1 dan berlanjut sampai keseluruhan Injil ini rampung dalam pasal 16. Da-lam pasal demi pasal Tuhan Yesus menaburkan diri-Nya ke dalam murid-murid-Nya. Hal ini dengan jelas diwahyukan dalam pasal 4 ketika kita nampak bahwa sebagai penabur, Dia datang untuk menaburkan benih kerajaan. Ketika Tuhan Yesus dibangkitkan, penaburan ini terampungkan. Para murid kemudian menjadi jenis tanah yang lain, tanah yang baik, dan mereka mulai menumbuhkan Kristus. Dalam pa-sal-pasal awal dari Kitab Kisah Para Rasul kita nampak bahwa para murid adalah tanah baik yang menghasilkan Kristus.
MUNCULNYA KEMBALI RUMPUT
Namun, fakta bahwa para murid menjadi tanah yang baik dan mulai menumbuhkan Kristus bukan berarti bah-wa “rumput” tidak dapat bertumbuh di dalam mereka lagi. Dalam Galatia 2 kita nampak bahwa rumput tertentu telah mulai bertumbuh lagi dalam Petrus. Rumput muncul lagi karena Petrus masih berada di bawah pengaruh agama yang usang.
Sesungguhnya, rumput mencoba bertumbuh dalam Petrus dalam Kisah Para Rasul 10. Menurut Kisah Para Rasul 10, Petrus nampak visi surgawi, visi yang berkaitan dengan penaburan benih ke dalam orang bukan Yahudi. Allah bermaksud menggunakan Petrus untuk menaburkan benih kerajaan ke dalam jenis tanah yang lain, ke dalam tanah orang bukan Yahudi. Pada mulanya Petrus menolak menaati visi ini. Penolakan ini menunjukkan bahwa sesuatu selain gandum sedang bertumbuh dalam Petrus. Hal-hal agama yang usang, rumput, sedang bertumbuh dalamnya.
Dalam Kisah Para Rasul 21 kita nampak bahwa Petrus berada di bawah pengaruh Yakobus. Ketika kita membahas Kisah Para Rasul 21 bersama Galatia 2, kita nampak banyak rumput bertumbuh dalam Petrus.
Kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri berapa ba-nyak rumput yang sedang bertumbuh di dalam kita. Apakah rumput itu? Rumput adalah sesuatu yang bukan Kristus, yang sedang bertumbuh di dalam kita untuk menggantikan Kristus. Dalam pengalaman kita rumput ini mungkin ter-masuk kebudayaan, agama, etika, moralitas, filsafat, perba-ikan karakter, dan usaha untuk menjadi rohani, alkitabiah, kudus, dan berkemenangan.
Banyak dari orang beriman yang berada di bawah mi-nistri ini selama bertahun-tahun masih berada di bawah pe-ngaruh latar belakang kebudayaan dan agama mereka. Ka-rena pengaruh ini, pandangan tentang ekonomi Perjanjian Baru Allah tidak jelas bagi mereka. Pengaruh ini dan ke-kurangan penjelasan ini menunda kedatangan Tuhan kem-bali karena hal itu menghalangi perkembangan kerajaan dalam kita.
KITA PERLU NAMPAK JELAS KERAJAAN ALLAH
Pada butir ini kita seharusnya mengajukan lagi pertanyaan ini: apakah Kerajaan Allah? Berlawanan dengan pemahaman yang tradisional, kerajaan bukan hanya suatu ruang lingkup di mana Allah memerintah atas orang dan suatu ruang lingkup yang kita masuki untuk menikmati hayat yang kekal. Banyak orang Kristen tidak memiliki pemahaman yang tepat bahkan mengenai apakah hayat kekal itu. Mereka mengira hayat kekal adalah suatu jenis berkat yang kekal. Kita perlu memiliki pengenalan yang jelas dari Perjanjian Baru mengenai Kerajaan Allah.
Dalam Perjanjian Baru, Kerajaan Allah bukanlah su-atu ruang lingkup materi di mana Allah menerapkan oto-ritas-Nya untuk melaksanakan administrasi pemerintahan-Nya sehingga kita bisa memasuki ruang lingkup ini untuk menikmati berkat yang kekal. Ini bukanlah konsepsi kera-jaan dalam Perjanjian Baru, dan kita seharusnya membu-ang konsepsi ini. Apa yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru mengenai Kerajaan Allah adalah bahwa kerajaan ada-lah satu persona, bukan ruang lingkup materi. Persona ini, Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah, adalah perwujudan Allah Tritunggal. Orang ini, yang adalah perwujudan Allah Tritunggal, datang untuk menjadi kerajaan. Dalam Markus 4 Dia berkata bahwa kerajaan sama seperti seorang penabur yang menaburkan benih. Baik penabur maupun benih ada-lah Tuhan itu sendiri. Tuhan Yesus datang untuk mena-burkan diri-Nya sendiri sebagai benih kerajaan ke dalam umat pilihan Allah. Dalam ministri-Nya Dia tidak menaburkan apa pun selain diri-Nya sendiri sebagai benih kerajaan.