Daftar isi Markus (3) · Berita Keenam Puluh Empat · bab 19/25

Berita Keenam Puluh Empat

KEHIDUPAN YANG SEPENUHNYA SESUAI DENGAN DAN BAGI EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH (13)

Pembacaan Alkitab:

Mrk. 1:14-18; 4:26; 9:1-8; 10:23-25; Rm. 14:17

LATAR BELAKANG DAN LOKASI MINISTRI TUHAN

Pembacaan kita akan Injil Markus akan lebih mudah bila kita memahami situasi ketika Tuhan Yesus berada di bumi. Kebudayaan manusia telah ada selama lebih dari empat ribu tahun. Salah satu aspek dari kebudayaan ini adalah agama Yahudi, agama yang kuat, yang khas, yang dibentuk menurut firman kudus Allah. Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, orang Yahudi yang saleh sangat terikat dengan agama ini.

Dengan latar belakang seperti ini, Tuhan Yesus datang dalam ministri-Nya untuk menaburkan diri-Nya sendiri sebagai benih ke dalam umat pilihan Allah. Sesungguhnya, Tuhan Yesus hidup dan menunaikan ministri di pusat populasi dunia. Baik secara geografis maupun secara budaya, bangsa Yahudi adalah pusat dari bumi yang berpenghuni. Ke pusat inilah Tuhan Yesus datang untuk menaburkan diri-Nya sendiri.

Pernahkah Anda tampak bahwa Tuhan Yesus datang ke pusat bumi yang berpenghuni untuk menaburkan diri-Nya sendiri sebagai benih ke dalam umat pilihan Allah? Saya tidak menemukan literatur Kristen mana pun yang membahas tentang Tuhan menaburkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia. Jika Anda bertanya kepada orang Kristen tentang apa yang Tuhan Yesus lakukan, mungkin ada yang menjawab bahwa Dia datang untuk menyelamatkan orang dosa, atau Dia datang dan mati untuk menyelamatkan kita. Memang, Perjanjian Baru mengatakan bahwa Yesus Kristus datang untuk menyelamatkan orang dosa (1 Tim. 1:15). Namun, dalam Injil Markus kita tampak bahwa Tuhan Yesus datang untuk memberitakan Injil Allah (1:14).

INJIL KERAJAAN ALLAH

Frase “Injil Allah” bukan hanya berarti Injil ini milik Allah, karena itu disebut Injil Allah. Arti utamanya ialah Injil ini berasal dari Allah sendiri. Dalam Perjanjian Baru, ungkapan seperti hayat Allah, kasih Allah, dan kebenaran Allah, berarti hayat, kasih, dan kebenaran sesungguhnya adalah Allah itu sendiri. Dalam prinsip yang sama, ungkapan “Injil Allah” menunjukkan bahwa Injil adalah Allah itu sendiri. Karena itu, memberitakan Injil Allah sesungguhnya berarti memberitakan Allah.

Injil yang diberitakan oleh Tuhan Yesus adalah Injil Kerajaan Allah. Apakah Kerajaan Allah? Kerajaan Allah adalah diri Allah sendiri. Lalu apakah Injil Kerajaan Allah? Kita dapat menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan bahwa Injil adalah kerajaan, dan kerajaan adalah Allah. Injil, kerajaan, dan Allah tidaklah terpisah; sebaliknya, ketiganya adalah satu.

Kita sangat perlu tampak bahwa Injil, kerajaan, dan Allah adalah satu. Injil adalah Allah, dan Allah adalah kerajaan. Sama halnya, Injil adalah kerajaan dan kerajaan adalah Allah. Karena itu, menurut Perjanjian Baru, Injil Kerajaan Allah sesungguhnya mengacu kepada Allah itu sendiri. Di sini kita memiliki Allah sebagai kerajaan, dan kerajaan sebagai Injil. Apa yang akan kita beritakan hari ini? Kita seharusnya memberitakan Allah sebagai kerajaan, dan Kerajaan Allah sebagai Injil.

Kita seharusnya tidak berpikir bahwa di samping Kerajaan Allah atau selain Kerajaan Allah, ada sesuatu yang disebut Injil. Tidak, Injil adalah Kerajaan Allah. Kita pun tidak seharusnya berpikir bahwa di samping Allah ada yang disebut kerajaan. Tidak, kerajaan sesungguhnya adalah Allah itu sendiri. Karena itu, Tuhan Yesus datang untuk memberitakan Injil Allah, yang adalah Injil Kerajaan Allah. Sekarang kita harus maju untuk membahas cara Tuhan Yesus memberitakan Injil Kerajaan Allah.

PERLU PEMAHAMAN ROHANI

Pada butir ini saya ingin mengingatkan bahwa ketika membaca Alkitab, kita tidak seharusnya memahaminya secara alamiah. Kita tidak seharusnya memahami setiap perkataan dalam Kitab Suci secara alamiah. Masalah di antara orang Kristen adalah kebanyakan mereka membaca Alkitab menurut pengertian alamiah mereka. Yang kita perlukan adalah pemahaman rohani. Inilah alasan Paulus mengatakan dalam Kolose 1:9 bahwa demi kepentingan kaum beriman dia berdoa agar mereka “dipenuhi dengan segala hikmat dan pengertian rohani untuk mengetahui kehendak Tuhan.” Ini juga alasan Paulus berdoa, “dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar” (Ef. 1:17). Paulus tahu bahwa dalam Surat Kiriman ini misteri (rahasia) rohani akan disingkapkan, dan dia tahu bahwa dia harus menggunakan bahasa manusia. Dia khawatir penerima Surat Kiriman ini mungkin memahami tulisannya hanya secara alamiah menurut huruf hitam di atas kertas putih. Karena itu, Paulus berdoa agar Bapa menganugerahkan kepada kita roh hikmat dan wahyu. Doa ini menunjukkan dengan kuat bahwa kita tidak seharusnya mencoba memahami Alkitab hanya secara harfiah menurut pemahaman alamiah kita.

Memang, karena Alkitab adalah sesuatu yang ditulis, kita memerlukan pemahaman yang tepat tentang kata-kata yang tertulis. Namun, kita tidak sepatutnya menafsirkan apa yang tertulis menurut pemahaman alamiah kita. Sebaliknya, penafsiran kita harus sesuai dengan hikmat dan wahyu rohani. Khususnya, kita perlu pemahaman rohani tentang cara Tuhan Yesus memberitakan Injil.

CARA TUHAN MEMBERITAKAN INJIL

Markus 1:14 mengatakan bahwa Yesus datang ke Galilea, memberitakan Injil Allah. Menurut ayat 15, Dia berkata, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Perkataan Tuhan di sini singkat. Pasal ini tidak mencatat khotbah yang panjang dari Dia. Ketika Dia datang ke Galilea untuk memberitakan Injil, Dia tidak berkata, “Kalian semua harus menyadari bahwa kalian adalah orang berdosa. Kalian telah jatuh di dalam Adam. Sekarang kalian perlu bertobat dan percaya kepada-Ku sebagai Orang yang telah datang untuk mati bagi dosa-dosa kalian. Jika kalian tidak bertobat dan percaya, kalian akan masuk ke neraka.” Dalam Injil Markus tidak ada berita sedemikian yang disampaikan oleh Tuhan.

Hanya satu pasal dalam Injil Markus yang mencatat pemberitaan Tuhan, dan itu adalah pasal 4. Pasal 4 berisi khotbah Tuhan Yesus yang hanya ada dalam Injil Markus. Dia tidak menyampaikan khotbah dalam pasal 1 sampai pasal 3; Dia juga tidak menyampaikan khotbah dalam pasal 5 sampai pasal 16. Khotbah-Nya yang dicatat dalam Injil Markus tidak diberitakan kepada orang dosa. Dengan menggunakan perahu sebagai ruang maha kudus, Dia memberitakan Injil kepada murid-murid-Nya.

Menaburkan Diri-Nya Sendiri sebagai Benih

Apakah pikiran utama dari khotbah Tuhan dalam Markus 4? Pikiran utamanya: Tuhan adalah penabur yang menaburkan diri-Nya sendiri ke dalam kita sebagai benih. Dia memulai khotbah-Nya dalam pasal 4 dengan perkataan-perkataan ini: “Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.” Kemudian, dalam 4:26, Dia berkata, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah.” Di sini kita tampak Tuhan sebagai penabur yang menaburkan diri-Nya sendiri sebagai benih ke dalam umat pilihan Allah.

Ada orang mungkin bertanya, mengapa kita mengatakan bahwa Tuhan Yesus datang untuk menaburkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia? Mereka mungkin heran mengapa kita tidak mengatakan bahwa Yesus datang untuk memberitakan Injil. Alasan kita menekankan penaburan Tuhan adalah pengertian yang tepat mengenai pemberitaan Injil telah rusak. Memang, Perjanjian Baru mengatakan bahwa Tuhan Yesus datang untuk memberitakan Injil. Namun, Dia tidak memberitakan menurut pemahaman kita tentang pemberitaan Injil. Sebaliknya, dalam Markus 4 kita tampak bahwa Tuhan memberitakan Injil melalui menaburkan diri-Nya sendiri sebagai benih ke dalam manusia.

Dalam Markus 1 dikatakan bahwa Tuhan Yesus datang ke Galilea memberitakan Injil Allah. Tetapi bagaimana Dia memberitakan Injil dan Injil apa yang Tuhan beritakan? Kita tidak seharusnya memahami baik Injil itu maupun pemberitaan Injil itu sendiri secara alamiah. Mengenai hal ini, banyak orang Kristen ditutupi oleh selubung tebal tradisi. Mereka menganggap diri mereka sudah tahu apa yang dimaksud memberitakan Injil menurut Perjanjian Baru. Seperti telah kita tampak, Markus 4 mewahyukan bahwa memberitakan Injil adalah menaburkan benih. Seperti yang telah kita tunjukkan dalam berita-berita terdahulu, benih yang ditabur dalam Markus 4 adalah benih kerajaan.

Jika kita ingin memiliki pemahaman yang tepat tentang Injil dan pemberitaan Injil, kita perlu memperhatikan apa yang diwahyukan dalam Injil Markus. Pertama, dalam 1:14 kita tampak bahwa Tuhan memberitakan Injil Allah. Dalam ayat 15 Dia berbicara tentang Kerajaan Allah dan Injil. Dalam Injil Markus tidak ada sebutan lain tentang kerajaan sampai pasal 4. Kita telah tampak bahwa 4:26 mengatakan, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah.” Karena itu, dalam Markus 4 kita tampak apakah Kerajaan Allah, kita juga tampak apa yang dimaksud dengan memberitakan Injil. Menurut pasal ini, memberitakan adalah menabur.

Kerajaan Allah Sudah Dekat

Markus 1:14-15 menunjukkan bahwa Kerajaan Allah adalah Injil. Dalam ayat 14 Tuhan Yesus memberitakan Injil Allah. Dalam ayat 15 Dia berkata, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Karena itu, Injil yang Tuhan beritakan adalah Kerajaan Allah yang sudah dekat, dan Kerajaan Allah yang sudah dekat adalah Injil. Selain itu, bertobat dan percaya kepada Injil sesungguhnya adalah bertobat dan percaya kepada Kerajaan Allah. Karena itu, adalah tepat mengatakan bahwa Kerajaan Allah adalah Injil.

Kita telah menunjukkan dengan penekanan bahwa menurut Injil Markus, memberitakan Injil adalah menaburkan benih. Markus 1:15 mengatakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Tetapi bagaimana Kerajaan Allah sudah dekat? Kerajaan Allah sudah dekat melalui penaburan. Tanpa penaburan, Kerajaan Allah tidak akan dekat. Kerajaan Allah dekat melalui penaburan Yesus, dan penaburan-Nya adalah pemberitaan-Nya.

Memberitakan Melalui Menaburkan

Saya ragu, banyak penginjil yang menyadari bahwa pemberitaan Injil mereka seharusnya adalah suatu penaburan. Memberitakan Injil adalah menaburkan Yesus Kristus sebagai benih ke dalam hati manusia.

Dalam Markus 1 ada pemberitaan, dan dalam Markus 4 ada penaburan. Penaburan dalam pasal 4 sama dengan pemberitaan dalam pasal 1. Penaburan adalah pemberitaan dan pemberitaan adalah penaburan. Selain itu, Kerajaan Allah dalam pasal 4 sama dengan Injil Allah dalam pasal 1. Ini berarti, memberitakan Injil Allah adalah menaburkan benih Kerajaan Allah.

PERKEMBANGAN BENIH KERAJAAN

Tuhan Yesus bukan hanya memberitakan Injil melalui menabur, tetapi juga adalah benih yang ditaburkan. Ini berarti Dia sendiri adalah benih kerajaan. Setelah benih ini ditaburkan ke dalam kita, benih ini berkembang menjadi kerajaan. Jika kita membaca Markus 4 secara teliti, kita akan tampak bahwa benih kerajaan adalah Yesus dan perkembangan benih dalam kumpulan orang beriman adalah kerajaan. Menurut Surat Kiriman Paulus, kumpulan ini adalah gereja.

Perkataan Paulus dalam Roma 14:17 menunjukkan bahwa Kerajaan Allah adalah gereja: “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus.” Jika kita membaca secara cermat Roma 12—14, kita akan tampak bahwa Kerajaan Allah dalam pasal-pasal ini sesungguhnya adalah hidup gereja. Dalam pasal 14 Paulus berbicara mengenai menerima kaum beriman, perihal yang berkaitan dengan hidup gereja. Hal ini menunjukkan bahwa hidup gereja hari ini adalah Kerajaan Allah. Kerajaan ini adalah perkembangan Tuhan Yesus sebagai benih kerajaan dalam kaum beriman.

GANDUM DAN RUMPUT

Karena pengaruh kebudayaan dan agama Yahudi pada hari itu, banyak orang mempedulikan agama, etika, moralitas, dan perbaikan karakter. Tiba-tiba muncullah Orang yang datang untuk menaburkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya. Saat Dia memulai ministri penaburan-Nya, hal pertama yang Tuhan Yesus lakukan adalah membiarkan diri-Nya dibaptis. Ketika Dia dibaptis, hal-hal kebudayaan dan agama dikuburkan bersama Dia. Ini berarti Tuhan Yesus mengakhiri kebudayaan dan agama. Setelah Dia keluar dari air baptisan, Dia mulai menaburkan diri-Nya sendiri ke dalam umat Allah.

Tuhan Yesus menaburkan diri-Nya sendiri sebagai benih ke dalam “tanah” umat pilihan Allah. Tujuan Tuhan adalah agar Dia sebagai gandum yang sejati tumbuh dalam tanah ini. Kita dapat berkata bahwa hal-hal kebudayaan dan agama adalah “rumput” yang juga bertumbuh dalam tanah ini. Pernahkah Anda menganggap agama sebagai rumput, sebagai sesuatu yang tumbuh dan bersaing dengan Kristus sebagai gandum? Kebudayaan, agama, etika, moralitas, filsafat, perbaikan karakter — semuanya itu adalah rumput yang bersaing dengan gandum.

Meskipun kita mungkin sudah menjadi orang Kristen selama bertahun-tahun, kita masih tidak jelas mengenai situasi kita. Kita perlu tampak bahwa banyak hal selain Kristus sebagai gandum masih bertumbuh di dalam kita. Semua hal itu adalah rumput, pengganti Kristus, dan perlu dicabut sampai akar-akarnya. Rumput meliputi kesepuluh hal yang disebutkan dalam berita-berita terdahulu: kebudayaan, agama, etika, moralitas, filsafat manusia, perbaikan karakter, dan usaha untuk menjadi rohani, alkitabiah, kudus, dan menang. Hal-hal itu tidak seharusnya diizinkan untuk menggantikan Kristus; sebaliknya, harus digantikan oleh Kristus. Sebagaimana telah kita tunjukkan, Kristus adalah pengganti kita yang menyeluruh dan universal. Namun, dalam hidup kita yang sesungguhnya kesepuluh hal ini dapat menjadi pengganti Kristus di dalam kita.

TUJUAN ALLAH DAN KENIKMATAN KITA

Dalam berita ini kita telah tampak bahwa hal-hal kebudayaan dan agama diakhiri ketika Tuhan Yesus dibaptis. Kita juga telah tampak bahwa dalam ministri-Nya Dia menaburkan diri-Nya ke dalam umat Allah bagi perkembangan Kerajaan Allah. Kerajaan ini memenuhi tujuan kekal Allah, yaitu membangun gereja bagi ekspresi kekal Allah Tritunggal. Kerajaan Allah juga bagi kenikmatan kita. Karena itu, Kerajaan Allah memenuhi tujuan Allah dan juga memuaskan kita dengan kenikmatan ilahi. Menurut Injil Markus, Tuhan Yesus datang ke pusat bumi yang berpenghuni untuk menaburkan diri-Nya ke dalam umat pilihan Allah agar berkembang menjadi kerajaan bagi tujuan Allah dan kenikmatan kita.