← Daftar isi Markus (2) · bab 17/25

KEHIDUPAN YANG SEPENUHNYA SESUAI DENGAN DAN BAGI EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH (11)

Pembacaan Alkitab: Mrk. 8:27-31; 9:2-8

Banyak orang Kristen tidak nampak bahwa Injil Markus memberi kita suatu biografi dari kehidupan yang sepenuh-nya sesuai dengan dan bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah. Ekonomi Perjanjian Baru Allah adalah Allah menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya, agar mereka menjadi anak-anak Allah dan anggota-anggota Kristus bagi pembentukan Tubuh Kristus untuk mengekspresikan Allah Tritunggal. Ini adalah definisi yang singkat dari perkara ajaib ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Untuk memiliki pemahaman yang memadai tentang ekonomi Perjanjian Baru Allah, kita memerlukan seluruh Perjanjian Baru. Injil Markus sendiri tidak cukup untuk hal ini. Sebagaimana telah kita tunjukkan, dalam Surat-surat Kiriman kita memiliki penjelasan dan definisi tentang kehidupan yang disajikan dalam Injil Markus. Karena itu, dalam terang yang diwahyukan dalam Surat-surat Kiriman, kita dapat nampak bahwa kehidupan yang dicatat dalam Injil Markus adalah kehidupan yang sepenuhnya sesuai dengan dan bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah.

KESEDERHANAAN INJIL MARKUS

Ketika saya masih muda, bagi saya Injil Markus ti-daklah semustika Injil Matius, Yohanes, dan Lukas. Kesan saya terhadap Injil Markus adalah Injil Markus terlalu sederhana. Injil Matius, sebaliknya, menyajikan pengajaran yang ajaib dan perumpamaan mengenai Kerajaan Surga. Saya meluangkan banyak waktu untuk mempelajari Injil Matius, dan sejak 1939, saya menerbitkan serangkaian be-rita tentang Kerajaan Surga berdasarkan pengajaran Tuhan dalam pasal 5–7, 13, dan 24–25. Saya juga menyampaikan banyak berita tentang Injil Yohanes. Meskipun saya tidak menyampaikan banyak berita tentang Injil Lukas sebanyak Injil Matius dan Yohanes, dalam buku yang berjudul Garis-garis Besar Injil ada cukup banyak garis besar yang diambil dari Injil Lukas. Garis-garis besar itu berdasar pada berba-gai cerita Injil dan perumpamaan dalam Injil Lukas.

Pada waktu yang lampau, saya mengapresiasi Injil Matius, Yohanes, dan Lukas, tetapi saya hampir tidak memiliki apresiasi bagi Injil Markus. Seolah-olah bagi saya Injil ini dapat dibandingkan dengan secangkir air tawar yang tidak memiliki warna atau cita rasa yang khusus. Namun, belakangan ini, ketika saya sedang menyiapkan berita-berita pelajaran-hayat tentang Markus, terang mulai bersinar dari Injil ini. Sekarang saya nampak bahwa dalam Injil Markus kita memiliki catatan kehidupan yang mutlak sesuai dengan dan bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Saya percaya bahwa Injil Markus adalah kitab yang pa-ling sederhana dalam Perjanjian Baru. Tetapi kesederhana-an Injil Markus sangat menonjol, dan kita perlu memba-hasnya. Kita perlu bertanya mengapa Injil Markus ditulis dengan cara yang demikian sederhana. Kita perlu bertanya, mengapa kelihatannya Injil ini tidak memiliki cita rasa atau warna yang khusus. Saya dapat bersaksi bahwa pertanyaan semacam ini membuka pintu bagi terang untuk bersinar. Kesederhanaan dari Injil Markus sangatlah bermakna.

Semakin kita membaca Injil Markus, kita semakin terkesan dengan kesederhanaannya. Dibandingkan dengan Injil Markus, Injil Matius sangatlah rumit. Bayangkan be-tapa banyak nama yang tercantum dalam keenam belas ayat pertama dari Injil Matius. Namun, Injil Markus dimulai dengan cara yang sangat sederhana: “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah” (1:1).

Seperti Injil Matius, Injil Lukas juga agak rumit. Ba-yangkan, sebagai contoh, catatan panjang tentang keterkan-dungan dan kelahiran Yohanes Pembaptis juga keterkan-dungan dan kelahiran Yesus Kristus. Selain itu, Lukas 1 mencantumkan pujian Maria, Elizabet, dan Zakharia, bapak dari Yohanes Pembaptis. Kemudian dalam Lukas 3 terdapat silsilah yang lebih rumit daripada yang terdapat dalam Injil Matius. Injil Matius hanya berbicara tentang 42 generasi, tetapi dalam Injil Lukas kita memiliki 77 generasi. Me-mang, Injil Lukas itu rumit, sedangkan Injil Markus itu sederhana.

Dalam Injil Yohanes terdapat banyak misteri yang da-lam. Injil Yohanes dibuka dengan cara yang misterius: “Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (1:1). Kita diberi tahu bahwa di dalam Dia ada hayat (1:4), dan kemudian Firman men-jadi daging dan tinggal di antara kita (ayat 14). Karena itu, Injil Yohanes memiliki warna dan cita rasa yang berbeda. Ketika kita membaca Injil Yohanes, kita dapat merasakan cita rasa Injil ini. Tetapi cita rasa apa yang Anda rasakan ketika Anda membaca Injil Markus? Seolah-olah satu-satu-nya cita rasa dalam Injil Markus adalah cita rasa air tawar.

PERMULAAN INJIL

DAN PENGAKHIRAN HAL-HAL LAMA

Kita telah nampak bahwa Injil Markus dibuka dengan perkataan mengenai permulaan Injil Yesus Kristus. Dalam 1:4-8 Yohanes Pembaptis memberitakan baptisan tobat dan memperkenalkan Hamba-Penyelamat. Kemudian dalam 1:9 dikatakan, “Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes.” Setelah Tuhan Yesus dibaptis, Dia diurapi oleh Roh itu. Kemudian Dia memulai ministri-Nya. Seperti yang telah kita tunjukkan, pada diri Tuhan Yesus, kehidupan, pekerjaan, dan ministri semuanya adalah satu. Pada-Nya tidak ada perbedaan antara kehidupan dan pekerjaan.

Sebagaimana telah kita lihat, kata “permulaan” dalam 1:1 menyiratkan suatu permulaan yang baru, dan permula-an yang baru ini meliputi pengakhiran hal-hal yang usang. Dalam berita-berita sebelumnya kita telah mencatat sepuluh hal yang usang: kebudayaan, agama, etika, moralitas, perba-ikan karakter, filsafat manusia, dan usaha untuk menjadi ro-hani, alkitabiah, kudus, dan menang. Semua hal ini sudah ada ketika Yohanes Pembaptis datang untuk memberitakan baptisan tobat. Dalam Markus 1, hal-hal ini sudah diakhiri. Dengan apakah hal-hal yang usang ini diakhiri? Hal-hal ini diakhiri melalui permulaan Injil Yesus Kristus, Anak Allah. Selain itu, hal-hal usang dikubur ketika Tuhan Yesus dibaptis.

Ketika bangsa Israel melewati Laut Merah, Firaun dan tentara Mesir dikubur. Kita bisa berkata bahwa bangsa Israel membawa Firaun dan tentaranya ke dalam laut. Dengan jalan yang sama, ketika Tuhan Yesus melangkah ke dalam air baptisan, Dia membawa kesepuluh hal yang usang ber-sama-Nya. Karena itu, hal-hal yang usang ini diakhiri dan dikubur.

MENEMPUH HIDUP

DALAM KERAJAAN ALLAH

Kehidupan yang Tuhan Yesus tempuh bukanlah kehidupan menurut kebudayaan atau agama, bahkan bukan kehidupan berdasarkan etika, moralitas, filsafat, atau perbaikan karakter. Tuhan Yesus tidak menempuh hidup yang berusaha menjadi rohani, alkitabiah, kudus, dan menang. Dia tidak hidup berdasarkan kesepuluh hal ini, melainkan menempuh hidup yang sepenuhnya sesuai dengan dan bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Kita perlu terkesan secara mendalam terhadap kehidupan yang sepenuhnya sesuai dengan dan bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah. Jika kita terkesan dengan pemikiran dan ungkapan ini ketika kita membaca Injil Markus, kita akan diterangi melalui apa yang dicatat dalam Injil ini.

Tuhan Yesus, yang digambarkan dalam Injil Markus, berbeda dari orang mana pun yang pernah hidup. Dalam Perjanjian Lama, kita nampak kehidupan orang-orang yang hidup sebelum Tuhan Yesus. Banyak dari orang-orang yang hidup sebelum masa Kristus adalah orang-orang yang hidup menurut kebudayaan, agama, etika, dan moralitas. Ada orang memperhatikan filsafat, dan yang lain memperhatikan per-baikan karakter. Ada orang mencoba menjadi rohani, alkitabiah, kudus, dan menang. Tetapi dalam Injil Markus, kita nampak seorang Manusia yang mutlak berada dalam kategori yang berbeda. Orang ini — Tuhan Yesus — hidup dalam Kerajaan Allah. Sesungguhnya, Dia sendiri adalah kerajaan.

PERKEMBANGAN TUHAN SEBAGAI BENIH KERAJAAN

Dalam Markus 1:1 dan 14 kita membaca Injil Yesus Kristus dan Injil Allah. Injil ini juga adalah Injil Kerajaan Allah. Tidak banyak orang Kristen yang nampak bahwa Ke-rajaan Allah adalah satu persona. Kerajaan akhirnya men-jadi persona yang korporat. Benih kerajaan adalah seorang individu, Tuhan Yesus. Sebagai penabur, Dia datang untuk menaburkan diri-Nya sendiri sebagai benih kerajaan ke da-lam murid-murid-Nya. Sekarang benih ini berkembang men-jadi Kerajaan Allah yang korporat. Kerajaan ini sesungguh-nya adalah Tubuh Kristus. Perkembangan Tuhan sebagai benih kerajaan adalah Tubuh-Nya, dan Tubuh-Nya adalah pertambahan-Nya, perluasan-Nya.

Pengertian tentang Kerajaan Allah ini tentunya berbeda dari konsepsi tradisional tentang kerajaan. Menurut Perjanjian Baru, Kerajaan Allah adalah perluasan persona Kristus. Kerajaan adalah perkembangan benih, yang adalah Yesus Kristus. Hari ini perkembangan Kristus ini adalah gereja. Karena itu, gereja sebagai Tubuh Kristus adalah Kerajaan Allah.

PENYALURAN ALLAH TRITUNGGAL

Sebagai Orang yang adalah benih Kerajaan Allah, Tuhan Yesus menempuh hidup yang mutlak berbeda dari hidup menurut kebudayaan, agama, etika, moralitas, perbaikan karakter, filsafat, dan usaha untuk menjadi rohani, alki-tabiah, kudus, dan menang. Kehidupan yang ditempuh-Nya sesuai dengan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Seperti yang telah kita nampak, ekonomi Allah adalah perihal penyalur-an diri-Nya sendiri — Allah Tritunggal — ke dalam kaum beriman-Nya.

Hanya kehidupan yang diperhidupkan oleh Tuhan Yesus adalah kehidupan yang menyalurkan Allah Tritunggal ke dalam umat pilihan Allah. Kehidupan yang ditempuh berda-sarkan kebudayaan, agama, etika, dan moralitas bukanlah kehidupan yang menyalurkan Allah ke dalam manusia. Tidak peduli betapa berbudaya, agamawi, etis, atau bermoral-nya Anda, dalam jenis kehidupan yang demikian tidak ada penyaluran Allah Tritunggal ke dalam orang lain. Kong Hu Cu, sebagai contoh, mengajarkan etika, dan dia berkelakuan penuh moral dan etika. Walaupun demikian, dalam kehidup-annya tidak ada penyaluran Allah Tritunggal ke dalam orang-orang. Hal yang sama berlaku pada mereka yang menem-puh hidup menurut filsafat atau perbaikan karakter, dan bahkan mereka yang mencoba menjadi rohani, alkitabiah, kudus, dan menang. Puji Tuhan karena dalam hayat-Nya ada penyaluran Allah Tritunggal ke dalam umat pilihan-Nya!

BENIH HAYAT PERWUJUDAN ALLAH TRITUNGGAL

Kita telah menekankan fakta bahwa Injil, yang adalah permulaan baru, mengakhiri semua hal yang usang. Ketika Tuhan Yesus dibaptis, hal-hal yang usang dikubur. Kehidup-an Tuhan Yesus setelah baptisan-Nya adalah kehidupan yang sesuai dengan ekonomi Perjanjian Baru Allah; dalam kehidupan ini Dia menaburkan diri-Nya sendiri sebagai benih hayat ke dalam kaum beriman-Nya.

Benih yang ditaburkan oleh Tuhan Yesus, benih yang sesungguhnya adalah Tuhan Yesus sendiri, adalah perwu-judan Allah Tritunggal. Ini berarti Tuhan Yesus tidak lain perwujudan Allah Tritunggal. Ini dibuktikan dalam Injil Yo-hanes. Firman pada mulanya, Firman yang adalah Allah, menjadi daging (Yoh 1:1, 14). Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah. Melalui inkarnasi Dia menjadi benih hayat, dan dalam ministri-Nya Dia menaburkan benih ini ke dalam orang lain. Ini berarti Dia menaburkan diri-Nya sendiri sebagai perwujudan Allah Tritunggal ke dalam para pengikut-Nya.

Jika kita nampak bahwa benih yang sedemikian ditaburkan ke dalam murid-murid Tuhan, kita akan memiliki dasar yang tepat untuk memahami Injil Markus sebagai gambaran kehidupan yang sepenuhnya sesuai dengan dan bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah.